• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN CEREBROVASKULAR : CVA (STROKE)

1. Pengkajian

a. Identitas pasien

Nama : Tn. A

Umur : 50 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Jl. Gubeng Airlangga Surabaya Tanggal MRS : 30 Maret 2016

Diagnosa medik : CVA hemoragik Identitas penanggung jawab

Nama : Tn. S

Umur : 27 tahun

Alamat : Jl. Gubeng Airlangga Surabaya Hubungan : Anak pasien

b. Riwayat kesehatan 1) Keluhan utama

Penurunan kesadaran, dengan tingkat kesadaran soporocoma GCS : E2M2V2 2) Riwayat penyakit sekarang

2 hari sebelumnya pasien demam, kemudian dibawa berobat ke dokter umum dan dikatakan ISK. ± 2 jam yang lalu pasien tiba-tiba tidak sadar, tidak bisa dibangunkan, saat tidur dalam kondisi ngorok. Sebelumnya tidak ada keluhan nyeri kepala, tidak ada muntah dan tidak ada kejang. Keluarga membawa pasien ke Rumah Sakit Kasih Ibu pukul 00.15 WIB. Kemudian dari RS tersebut dirujuk ke IGD RSU Dr. Soetomo Surabaya pukul 13.00 WIB. Klien datang di IGD RS Dr. Soetomo Surabaya dalam keadaan tidak sadar dengan GCS E2M2V2. Kemudian klien dirujuk ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif dengan ventilator. Saat pengkajian di ICU klien soporokoma dengan GCS E1M2VET, terpasang Ventilator dengan mode SIM V, FiO2 70%, PEEP + 5, VT 487, RR 38x/menit. Vital Sign : TD 140/90 mmHg, Heart rate 160x/menit, Suhu : 38,5⁰C, dan SaO2 97 %. Kondisi pupil keduanya miosis, reflek cahaya +/- . Ada akumulasi secret di mulut dan di selang ET, tidak terpasang mayo dan lidah tidak turun. Terdapat retraksi otot interkosta dengan RR 38 x/menit dan terdengar ronkhi basah di basal paru kanan. CRT < 3 detik. Di ICU klien sudah

mendapatkan Brainact /12 jam, Alinamin F/12 jam, Ranitidin /12 jam, dan infuse RL 20 tpm.

3) Riwayat penyakit dahulu

Klien memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu 4) Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga klien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarga klien yang mengalami penyakit yang sama seperti klien.

c. Primary survey 1) Airway

Pada jalan napas terpasang ET, ada akumulasi secret di mulut dan selang ET, lidah tidak jatuh ke dalam, dan tidak terpasang OPA.

2) Breathing

RR 30 x/menit, terdengar ronchi basah di basal paru kanan, terdapat retraksi otot intercosta, tidak menggunakan otot bantu pernapasan, tidak ada wheeing,. Klien terpasang ventilator dengan mode SIM V, FiO2 70 %, PEEP +5, VT 487, suara dasar vesikular.

3) Circulation

TD 140/90 mmHg, MAP 112, HR 160 x/menit, SaO2 97 %, CRT <3 detik. 4) Disability

Kesadaran soporokoma GCS E1M2VET, reaksi pupil +/-, pupil miosis dan besar pupil 2 mm.

5) Eksposure

Tidak ada luka pada bagian tubuh klien dari kepala sampai kaki, suhu 38 . d. Pemeriksaan fisik

1) Tanda-tanda vital

Kesadaran soporokoma GCS E1M2VET

TD : 140/90 mmHg HR : 160 x/menit

RR : 30 x/menit T : 38

MAP : 112 SaO2 : 97 %

2) Kepala

Bentuk kepala bulat, normocepali, tidak ada lesi kepala, rambut berwarna hitam, distribusi merata, tidak ada kelainan.

3) Mata

Kedua mata simetris, konjungtiva anemis (-),reaksi pupil +/-, pupil miosis dan besar pupil 2 mm.

4) Telinga

Kedua telinga simetris, tidak ada jejas, bersih, terdapat serumen, tidak ada pengeluaran darah dan cairan.

5) Hidung

Posisi septum nasal simetris, klien terpasang NGT, tidak ada secret di hidung, tidak ada pernapasan cuping hidung.

6) Mulut

Klien terpasang ET, terdapat akumulasi secret pada mulut dan selang ET, mulut tampak kotor.

7) Leher

Leher simetris, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada jejas pada leher, tidak ada tanda-tanda kaku kuduk. 8) Thoraks

a. Paru-paru

a) Inspeksi : Paru kanan dan kiri simetris, terdapat retraksi dinding dada, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan RR 30 x/menit.

b) Palpasi : Tidak terdapat massa,

c) Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru

d) Auskultasi : suara dasar vesikular, terdapat suara napas tambahan ronchi pada basal paru kanan.

b. Jantung

a) Inspeksi : Tidak ada palpitasi, ictus cordis tidak tampak b) Palpasi : HR 160 x/menit, ictus cordid tidak teraba c) Perkusi : Pekak

d) Auskultasi : Bunyi jantung I – II normal, tidak ada bunyi jantung tambahan.

9) Abdomen

a. Inspeksi : Datar, tidak ada lesi atau massa b. Palpasi : tidak ada distensi abdomen c. Perkusi : Timpani

d. Auskultasi : Bising usus 13 x/menit 10)Genitelia

Tidak ada kelainan. 11)Ekstremitas

Klien mengalami kelemahan pada ekstermitas kanan, kekuatan otot 1/2/1/3. Aktivitas klien dibantu.

2. Diagnosa Keperawatan Analisa Data

Data Fokus Etiologi Problem

DS : DO :

a. Tingkat kesadaran soporokoma

b. GCS E1M2VET c. Klien tampak lemah d. Klien memiliki

riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu

Gangguan aliran darah arteri dan vena

Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

e. Reaksi pupil +/-, pupil miosis dan besar pupil 2 mm.

DS : DO :

a. Klien terpasang ET b. Terdapat secret pada

mulut dan ET

c. Terdengar bunyi ronchi basah pada basal paru kanan d. Klien tidur dalam

kondisi ngorok

Akumulasi secret di jalan napas Ketidakefektifan bersihan jalan napas DS : DO : a. Klien mengalami penurunan kesadaran b. Klien mengalami kelemahan pada ekstremitas kanan c. Kekuatan otot 1/2/1/3 d. Aktivitas klien dibantu

Gangguan neuromuskular hemiparese/hemiplegia

Hambatan mobilitas fisik

Berdasarkan analisa data di atas maka, diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien adalah :

1. Resiko ketidakefektifan jaringan otak berhubungan dengan gangguan aliran darah arteri dan vena.

2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi secret di jalan napas

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular hemiparase/hemiplegia.

3. Intervensi Keperawatan

1) Resiko ketidakefektifan jaringan otak berhubungan dengan gangguan aliran darah arteri dan vena.

NOC

a. Neurological status

b. Circulation status

c. Tissue perfusion

NIC

1. Monitoring tingkat kesadaran.

3. Memantau GCS pasien.

4. Monitor status pernapasan : ABG, pulse oximetry, kedalaman pernapasan, frekuensi dan pola pernapasan.

5. Monitor tekanan darah, HR, suhu dan status pernapasan. 6. Catat tanda dan gejala peningkatan tekanan darah

7. Monitor warna kulit, suhu dan kelembaban 8. Identifikasi penyebab perubahan tanda-tanda vital 9. Monitor kekuatan otot dan gerakan motorik

2) Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan akumulasi secret di jalan napas

NOC

a. Respiratory status

b. Respiratory status: Airway patency

c. Respiratory status : ventilation

d. Vital signs

NIC

1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi. 2. Bersihkan secret dengan mekanisme batuk atau suction. 3. Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah suction 4. Bantu dengan spirometer insentif.

5. Auskultasi suara napas, catat area peningkatan/penurunan ventilasi dan adanya suara napas tambahan.

6. Monitor irama, frekuensi, kedalaman dan pola pernapasan.

7. Catat pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernapasan dan retraksi dinding dada.

8. Monitor saturasi oksigen secara berkesinambungan. 9. Gunakan bronkodilator

10.Berikan humidifier atau oksigen

3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskular hemiparase/hemiplegia.

NOC

a. Ambulation

b. Mobility

c. Neurogical status : spinal sensory/motor function

NIC

1. Monitor kekuatan otot dan gerakan motorik

2. Monitor adanya paresthesia : mati rasa dan kesemutan. 3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat. 4. Bantu pasien untuk mngubah posisi secara berkala. 5. Ajarkan latihan ROM aktif dan pasif.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait