Kasus:
An.M (perempuan , 2 bulan 4 hari) dibawa ke RSUA dengan keluhan 1 bulan pasca kelahiran sedikit demi sedikit kulit tampak berwarna kuning dan badannya panas . Tinja berwarna pucat, airn kencing berwarna gelap, demam, perut membesar dan selalu rewel. Dari hasil pemeriksaan diketahui adanya hipertensi vena portal, peningkatan kadar bilirubin dan hasil rontgen didapatkan adanya pembesaran hati.
4.1 Pengkajian Anak 4.1.1 Anamnesa
a.Data Demografi klien:
1) Nama : An. M 6) Agama :Islam
2)Usia : 2 bulan 4 hari 7)Tgl MRS :11-10-2015 3) Jenis Kelamin : Laki-laki 8)Jam MRS :16.00 4) Suku/Bangsa :Jawa/ Indonesia 9)Diagnosa:Atresia Billier
5) Alamat :Mulyorejo, Surabaya b.Identitas penanggung jawab
1)Nama : Tn E
2)Umur :40 Tahun
3)Jenis kelamin :Laki-laki
4)Pendidikan/pekerjaan:SLTA/Wiraswata 5)Hubungan dg klien: Ayah klien
c.Keluhan utama: ayah klien mengatakan anak M mengalami demam (38,4C)
d. Riwayat penyakit sekarang: Demam selma4 hari, rewel . perut klien buncit dank eras, kulit tampak kuning, kencing berwana gelap, dan feses pucat.
e.Riwayat penyakit sebelomnya: tidak ada f.Riwayat tumbuk kenang anak
- Imunisasi : Hepatitis B-1 diberikan waktu 12 jam setelah lahir, BCG diberikan saat lahir, Polio oral diberikan bersamaan dengan DPT -Status gizi : Kekurangan gizi akibat gangguan penyerapan makanan terutama vitamin larut lemak (A, D, E,K)
-Tahap Perkembangan anak menurut teori psikososial:
Klien An M mencari kebutuhan dasarnya seperti kehangatan, makanan, minuman serta kenyamanan dari orang tua sendiri.
-Tahap kepribadian anak menurut teori psikoseksual
Klien An. M menunjukkan karakter awal kepribadiannya dengan mengenali siapa yang mengasuhnya . Klien menyukai saat di gendong dan di ayun-ayun. Perilaku kegiatan motorik sederhana terkoordinasi, dengan menggerakkan jari tangan, menggenggam ibu-ibu jari yang berhubungan dengan emosi dengan orang tua, saudara dan orang lain 9. Riwayat Kesehatan keluarga
-Komposisi keluarga : Keluarga berperan aktif terutama merawa klien -Lingkungan dan komunitas: Lingkungan sekitar rumah berada di area perindustrian kimia
-Persepsi keluarga tentang penyakit anak merupakan cobaab tuhan 4.1.2 Pemeriksaan fisik
a.B1: RR meningkat >40 x/mnt, suhu 38,4C, penggunaan otot bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, napas pendek
b.B2 : TD meningkat 100/150 Mmhg, HR: meningkat 130 x/,mt(tacicardi)
c.B3 : gelisah, rewel
d.B4 : perubahan urine warna gelap, feses warna dempul, stetorea,diare
e.B5: adanya anoreksia, mual, muntah, tidak toleran terhadap lemak dan makanan pembentuk gas, penurunan BB, dehidrasi, distensi abdomen
d.B6 : Letargi atau kelemahan , ikterik, kulit berkeringat (pruritus), jaundice, kerusakan kulit
4.1.3 Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium
Bilirubindirek dalam serum meninggi nilai normal bilirubin total < 12 mg/dl
Bilirubin indirek serum meninggi karena kerusakan parenkim hati akibat bendungan empedu yang luas
Tidak ada urobilinogen dalam urine
Pada bayi yang sakit berat terdapat
peningkatantransaminasealkalifosfatase (5-20 kali lipat nilainormal) serta traksi-traksi lipid (kolesterol fosfolipidtrigiliserol)
b. Pemeriksaan diagnostik
USG yaitu untuk mengetahui kelainan congenitalpenyebab kolestasis ekstra hepatic (dapat berupadilatasi kristik saluran empedu)
Memasukkan pipa lambung cairan sampai duodenumlalu cairan duodenum di aspirasi. Jika tidak ditemukancairan empedu dapat berarti atresia empedu terjadi
Sintigrafi radio kolophepatobilier untuk mengetahuikemampuan hati memproduksi empedu danmengekskresikan ke saluran empedu sampai tercurahke duodenum. Jika tidak ditemukan empedu diduodenum, maka dapat berarti terjadi katresiaintrahepatik
Biopsy hati perkutan ditemukan hati berwarna coklatkehijauan dan noduler. Kandung empedu mengecilkarena kolaps. 75% penderita tidak ditemukan lumen yang jelas
4.2 Analisa Data
No Data Etiologi Masalah Keperawatan
1. DS :Pasien menangis, rewel
DO: suhu tubuh meningkat , Takikardi, RR meningkat . S:38 C, RR: 24x/mt, N: 103x/mnt Inflamasi yg progresiv Kerusakan progresif pada duktus billier ekstrahepatik Mekanisme tubuh u meningkatak suhu tubuh Hipertermi Hipertermi
2 DS: Pasien terlihat sesak DO: RR:35 x/mt
-Penggunan otot bantu pernapasan -Napas pendek Cairan asam empedu balik ke hati Peradanagan sel hati Hepatomegali ( pembesaran hepar) Distensi abdomen Menekan diafragma Peningkatan kerja paru Kebutuhan O2 meningkat Frekuensi nafas meningkat
Pola Nafas tidak efektif
minum susu , rewel, mual/muntah
DO:
Berat badan turun( 6 kg-5,1 kg) , muntah, konjungtiva anemis Albumin 3,27 gr/dl
hati ke dalam usus Gangguan
penyerapan lemak dan vitamin larut lemak ( A,D,E dan K)
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
kebutuhan nutrisi kurang dari tubuh
4. DS:
DO:Anak tampak tidak nyaman dengan posisi tidurnya , terdapat pruritus di daerah pantat dan punggung anak Albumin 3,27 gr/dl Cairan asam empedu balik ke hati Itching dan akumulasi toksik Tersebar ke dalam darah dan kulit Pruritus (gatal) pada kulit
Kerusakan integritas kulit
4.3 Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi akibat kerusakan progresif pada duktusbillier ekstrahepatik
2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan distensi abdomen 3.Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, gangguan penyerapan lemak
4.Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dalam jaringan
4.4 Intervensi Keperawatan
I Tujuan: suhu akan normal kembali dalam waktu 1x24 jam Kriteria hasil:
Suhu normal 36,5-37,5
Nadi dan pernapasan dalam batas normal N=<100 x/mt, RR : 30-40 x/mt
1.Berikan kompres air biasa pada aksila, kening, leher dan lipatan paha.
2.Pantau suhu minimal setiap jam sekali, sesuai kebutuhan
3.Berikan pasien pakaian tipis
4.Manipulasi lingkungan seperti
penggunaan AC/ kipas angin
5.Kolaborasi:
Berikan obat anti piretik sesuai kebutuhan 1.Dapat membantu mengurangi demam. 2. Mengetahui kemungkinan adanya kenaikan suhu secara mendadak 3. Membantu mengurangi panas di tubuh 4.Memberikan rasa nyaman dengan mengurangi keadaan panas akibat suhu pengaruh lingkungan 5.Digunakan untuk mengurangi
demam dengan aksi sentralnya
II Bayi akan mempertahankan Keseimbangancairan dan elektrolit yang ditandai dengan pengisian kembali dengan kapiler kurang dari 3 detik,turgor kulit baik,produksi urine 1-2ml/kgBB/jam 1. Memantauasupan dan cairan bayipejam (cairaninfuse, susu per NGT, ataujumlah ASI yang diberikan, (timbangpopok) 6. Periksa fesestiap hari
7.Memantau lingkar perutbayi setiap hari 8. Observasitanda-tandadehidrasi(oliguria, kuiltkering, turgorkulit buruk,ubun-ubun danmata cekung 9. Kolaborasi untukPemeriksaanelektroli t, kadarprotein total,albumin,nitrogen ureadarah dankreatinin sertadarah lengkap 6. Memungkinan evaluasikeseimbangan cairanbayi dan tindakanlebih lanjut 7. Mengetahui kadar PHfeces untukmenentukan absorpsi lemak dankarbohidrat bayi. (PH normal 7-7,5) 8. Untuk mendeteksi asites 9. Tanda dehidrasimengindikasi kanintervensi segeradalam mengatasaikekuranga n cairanpada bayi. 10. Mengevaluasi keseimbangan dan elektrolit
III Bayi akan menunjukkan peningkatan berat badan progresif,mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal 5. Ukur masukan diet harian(MCT) 6. Timbang sesuaiindikasi. 7. Bandingkanperubahan
status cairan,riwatyat berat badan 8. Berikanperawatanmulut sering 4.Memberikan informasi tentang kebutuhanpemasukan/ defisiensi 5.Mungkin sulit untukmenggunakan berat badan sebagai indicator langsungstatus nutrisi karena ada gambaranedema/asites 6.Pasien cenderung mengalami luka/perdarahan gusi dan rasa tak enak mulut, menambah anoreksia
IV Bayi akan
mempertahankan kelembapan kulit yang ditandai dengan kulit tidak kering, tidak ada pruritus, jaringankulit utuh danbebas lecet
6. Mandikandengan
airhangat sehari dua kali 7. Pertahankansprei kering
dan bersih
8. Rubah posisi tidur sesuai jadwal, 2 jam sekali.
9. Gunting kuku jarihingga pendek,berikan sarungtangan bilamemungkinkan 10. Berikan obatsesuai indikasi (antihistamin) 6. Mencegah kulit kering dan
penghilang rasa gatal 7. Kelembapan
meningkatkan
pruritus dan resiko kerusakan kulit 8.Pengubahan posisimenurunkan tekananpada jaringan danuntuk memperbaikisirkulasi 9.Mencegah dari cidera tambahan pada kulit khususnya bila tidur
dapat mengurangi rasagatal
VII Meningkatkan
pemahaman orang tua tentang perawatan pada anak sakit
Dengan menyatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan , serta berpartisipasi dengan pengobatan 1.Identifikasi tingkat
pemahaman pasien tentang penyakit yang dialami anaknya
2.Jelaskan tentang penyakit yang dialaminya
3.Jelaskan pengobatann yang diberikan, dosis, reaksi obat dan tujuannya.
4.Jelaskan pentingnya
stimulasi anak, pendengaran, visual, sentuhan
5.Evaluasi pengetahuan ibu tentang penyakit dan pengobatan pada anaknya
1.Mengetahui sejauh mana pengetahuan orang tua teerhadap penyakit tentang di alami anaknya 2.Memberikan informasi pengetahuan tentang penyakit yg dialami anaknya 3.Mengidentifikasi dan memberikan informasi tentang prose pengobatan 4.Stimulasi dapat meningkatkan
kebutuhan tubuh klien 5.Mengetahui out put dari penjelasan yang sdh diberikan
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN
Atresiabillier merupakan obliterasi atau hipoflasi satu komponen atau lebih dari duktusbiliaris akibat terhentinya perkembangan janin, menyebabkan ikteruspersisten dan kerusakan hati yang bervariasi dari stasis empedu sampai sirosisbillliaris dengan spenomegali bila berlanjut menjadi hipertensi porta.
Tujuan dari pengobatan atresia bilier adalah untuk membuat suatu lintasan bagi empedu bila tidak dilakukan penatalaksanaan secara memadai maka prognosis akan buruk dan kematian akan terjadi dalam 2 tahun kehidupan.
Perawatan pra bedah dan pasca bedah dilakukan sesuai dengan jenis pada umumnya. Hal penting lain adalah dukungan bagi orangtua. Orangtua harus mendapat penjelasan secara detail dengan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka, serta diberikan dorongan untuk menangani dan merawat anak karena prognosis sering kali buruk maka mereka juga memerlukan dukungan emosional yang besar. Deteksi dini dari kemungkinan adanya atresiabilier sangat penting sebab efikasi pembedahan hepatik-pontoeterostomi (operasi Kasai) akan menurun bila dilakukan setelah umur 2 bulan. Bagi penderita atresiabilier prosedur yang baik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedu ke usus. Selain itu, terdapat beberapa intervensi keperawatan yang penting bagi anak yang menderita atresiabilier. Penyuluhan yang meliputi semua aspek rencana penanganan dan dasar pemikiran bagi tindakan yang akan dilakukan harus disampaikan kepada anggota keluarga pasien. Segera sesudah pembedahan portoenterostomi, asuhan keperawatannya serupa dengan yang dilakukan pada setiap pembedahan abdomen yang berat. Penyuluhan yang diberikan meliputi pemberian obat dan terapi gizi yang benar, termasuk penggunaan formula khusus, suplemen vitamin serta mineral, terapi nutrisi enteral atau parenteral. Pruritus mungkin menjadi persoalan signifikan namun dapat dikurangi dengan obat atau tindakan seperti mandi rendam atau memotong kuku jari-jari tangan.
4.2 SARAN
Kita sebagai perawat sebaiknya dapat memahami dan mengaplikasikan segala sesuatu yang terjadi tentang penyakit Atresia Bilier yang telah dibahas pada makalah ini agar dapat tercipta perawat yang profesional dalam menerapkan asuhan keperawanan secara komprehensif karena diperlukan tindakan deteksi dini kasus atresia bilier dan penatalksanaanya yang tepat demi tercapainya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang optimal bagi penderita atresia bilier.
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Jakarta : EGC
DSA Gulton, Eric. 1994. Ikhtisar Penyakit Anak jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara
Oldham, Keith T.et all(eds).Billiary Atresia at Principles and Practice of Pediatric Surgery, 4th Edition.
Ringoringo, Parlin. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: RS Dr. Cipto Mangunkusumo
R. Taylor, Clive dan CandrasumaParakrama. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Jakarta : EGC
Suddarth dan Brunner. 2001. Buku Ajar keperawatanMedikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : EGC
Suriadi dan Yulianni Rita. 2006. AsuhanKeperawatan Pada Anak Edisi 2. Jakarta : Penebar Swadaya
Sodikin. 2007. Asuhan Keperawatan Gangguan SistimGastrointestinalDan Hepatobilier. Salemba Medika
---, 2008. Buku Ajar KeperawatanPediatrik Wong Edisi 6 Volume 2,Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medial bedah 2. (Ed 8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Tjokronegoro dan Hendra Utama. (1996). Ilmu penyakit dalam jilid 1.Jakarta: FKUI.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
MK : Ansietas Kurang informasi MK : Kerusakan integritas kulit Ikterus Pruritus Keluar ke aliran darah dan kulit Peningkatan bilirubin Kerusakan sel ekskresi Kerusakan ductus empedu sel hepatik
MK : Pola nafas tidak efektif Menekan diafragma Distensi abdomen Gg supply darah pd sel hepar Hepatomegali Proses peradangan pada hati
Empedu kembali ke hati
Obstruksi saluran empedu intra hepatik Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh malnutrsi MK: Gangguan pertumbuhan Atresia BiLier Jalan masuk kuman MK: Resiko Infeksi MK: Nyeri Luka Insisi Pembedahan operasi kasai /transplantasi hati MK : Ansietas Kekurangan vit larut
lemak A, D,E,dan K Lemak dan vit larut lemak tdk dapat diabsorbsi
Obstruksi aliran dari hati ke dalam usus
Inflamasi progresif