• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS

Dalam dokumen MAKALAH BELANJA DAERAH (Halaman 33-70)

(BELANJA DAERAH PADA PROVINSI JAWA BARAT)

Pengelolahan keuangan daerah merupakan hal yang sangat penting untuk  bagi keberlangsungan keadaan suatu daerah tersebut. Pengelolahan keuangan

yang baik dapat berdampak positif bagi ekonomi, sosial, kesehatan,lingkungan,  pembanguan dan pelayanan publik daerah tersebut. Sebaliknya pengelolahan keuangan daerah yang tidak efektif dan efisien akan memunculkan damapak negatif pada ekonomi, sosial, kesehatan,lingkungan, pembanguan dan pelayanan  publik daerah tersebut. Pada studi kasus kali ini mengangkat tentang belanja

daerah Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat. Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat.

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini. Namun hal ini mendapatkan penentangan dari wilayah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon dimana tokoh masyarakat asal Cirebon menyatakan  bahwa jika nama Jawa Barat diganti dengan nama Pasundan seperti yang berusaha

digulirkan oleh Bapak Soeria Kartalegawa tahun 1947 di Bandung maka Cirebon akan segera memisahkan diri dari Jawa Barat, karena nama "Pasundan" berarti (Tanah Sunda) dinilai tidak merepresentasikan keberagaman Jawa Barat yang sejak dahulu telah dihuni juga oleh Suku Betawi dan Suku Cirebon serta telah

dikuatkan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 yang mengakui adanya tiga suku asli di Jawa Barat yaitu Suku Betawi yang  berbahasa Melayu dialek Betawi. Suku Sunda yang berbahasa Sunda dan Suku

Cirebon yang berbahasa Bahasa Cirebon (dengan keberagaman dialeknya.

Table 1.1

Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014 Rincian 2012 2013 2014 [1] [5] [6] [7] A BELANJA TIDAK LANGSUNG 13.648.410.111 14.724.113.008 16.958.816.394 1 Belanja Pegawai 1.511.157.915 1.535.932.802 1.569.541.693 2 Belanja Bunga - - -3 Belanja Subsidi 15.055 2.940.521 6.805.400 4 Belanja Hibah 6.136.668.844 5.673.020.648 6.179.782.845 5 Belanja Bantuan Sosial 16.685.225 13.600.215 2.871.320 6 Belanja Bagi Hasil 3.161.224.937 3.994.277.232 5.461.539.028 7 Belanja Bantuan Keuangan 2.815.801.802 3.504.341.590 3.738.146.028

8 Pengeluaran Tidak Terduga 6.856.333 - 130.079

B BELANJA LANGSUNG 3.274.067.487 3.672.632.315 3.839.172.021 1 Belanja Pegawai 404.836.267 426.605.110 304.590.204 2 Belanja Barang dan Jasa 1.733.979.983 1.973.247.376 2.174.779.252 3 Belanja Modal 1.135.251.237 1.272.779.829 1.359.802.565 C PEMBIAYAAN DAERAH 2.958.837.956 3.775.496.831 5.007.648.558 JUMLAH 19.881.315.554 22.172.242.154 25.805.636.973

Table 1.2

Persentase Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2015

Rincian 2012 2013 2014

[1] [5] [6] [7]

A BELANJA TIDAK LANGSUNG 68,65% 66,41% 65,72%

1 Belanja Pegawai 7,60% 6,93% 6,08%

2 Belanja Bunga

3 Belanja Subsidi 0,01% 0,03%

4 Belanja Hibah 30,87% 25,59% 23,95%

5 Belanja Bantuan Sosial 0,08% 0,06% 0,01%

6 Belanja Bagi Hasil 15,90% 18,01% 21,16%

7 Belanja Bantuan Keuangan 14,16% 15,81% 14,49% 8 Pengeluaran Tidak Terduga 0,03%

B BELANJA LANGSUNG 16,47% 16,56% 14,88%

1 Belanja Pegawai 2,04% 1,92% 1,18%

2 Belanja Barang dan Jasa 8,72% 8,90% 8,43%

3 Belanja Modal 5,71% 5,74% 5,27%

C PEMBIAYAAN DAERAH 14,88% 17,03% 19,41%

JUMLAH 10 10 10

Table 1.3

Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2015 Rincian 2012 2013 2014 A BELANJA TIDAK LANGSUNG 79,42% 7,88% 15,18% 1 Belanja Pegawai 4,78% 1,64% 2,19% 2 Belanja Bunga 3 Belanja Subsidi -99,83% 19431,86% 131,44% 4 Belanja Hibah 653,11% -7,56% 8,93%

5 Belanja Bantuan Sosial -96,61% -18,49% -78,89%

6 Belanja Bagi Hasil 16,21% 26,35% 36,73%

7 Belanja Bantuan Keuangan 32,35% 24,45% 6,67% 8 Pengeluaran Tidak Terduga 585,63% -10

B BELANJA LANGSUNG 21,77% 12,17% 4,53%

1 Belanja Pegawai 27,43% 5,38% -28,60%

2 Belanja Barang dan Jasa 4,94% 13,80% 10,21%

3 Belanja Modal 57,97% 12,11% 6,84%

C PEMBIAYAAN DAERAH -7,77% 27,60% 32,64%

Total realisasi belanja Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami  peningkatan yang signifikan. Di tambah pada tahun 2014, Pangandaran memekarkan diri dari kabupaten Ciamis. Sudah barang tentu anggaran untuk  provinsi Jawa Barat bertambah.

Setiap tahun belanja tertinggi dilakukan untuk belanja hibah atau sekitar 28,26% dari total belanja daerah provinsi Jawa Barat, nilai tersebut sangat besar. Idealnya belanja daerah ditujukan untuk peningkatan pelayan publik seperti tertera dalam PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,  pelaksanaan belanja daerah dilaksanakan dengan pendekatan kinerja yang  berorientasi pada prestasi kerja, dengan memperhatikan keterkaitan antara  pendanaan dengan keluaran dan outcome yang diharapkan dari kegiatan dan  program. demikian, pendekatan kinerja sekaligus akan mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Efisien akan diwujudkan dalam kesesuaian antara input (termasuk pendanaan) dengan output yang paling optimal yang bisa dihasilkan. Sedangkan efektifitas akan diwujudkan dengan kesesuaian antara output dengan ekspektasi masyarakat terhadap pemenuhan kualitas dan kuantitas layanan publik yang dihasilkan. Namun belanja daerah yang dilakukan provinsi Jawa Barat menunjukkan angka yang tinggi pada belanja hibah bukan pada  belanja modal pada APBD Jawa Barat. Belanja Modal merupakan belanja  pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan akan memiliki daya ungkit dalam menggerakkan roda  perekonomian daerah. selain itu belanja modal juga dapat dialokasikan untuk

menyediakan dan membangun infrastruktur publik. Dengan belanja hibah yang tinggi, berakibat pada anggaran untuk belanja modal dan belanja barang dan jasa sangat rendah serta porsi pembangunan di provinsi Jawa Barat sangat terbatas, sehingga masih banyak nya daerah tertinggal.

Table 1.4

Realisasi Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014 Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 [1] [2] [3] [4] Bogor 3.674.001.336 4.614.270.730 4.899.883.275 Sukabumi 1.999.104.665 2.442.127.472 2.773.710.012 Cianjur 1.973.180.986 2.152.133.853 2.587.215.696 Bandung 2.850.023.254 3.242.165.133 3.823.064.504 Garut 2.131.967.233 2.934.073.591 3.044.084.138 Tasikmalaya 1.829.410.194 2.165.004.333 2.416.942.285 Ciamis 1.839.000.682 2.184.752.025 2.007.151.406 Kuningan 1.434.011.695 1.624.727.704 1.804.797.895 Cirebon 2.033.136.939 2.324.459.361 2.566.975.328 Majalengka 1.525.924.588 1.727.794.211 2.010.112.734 Sumedang 1.467.551.208 1.685.174.428 2.050.349.912 Indramayu 1.843.450.693 2.120.262.966 2.548.894.651 Subang 1.481.609.293 1.777.946.918 2.169.100.505 Purwakarta 1.138.170.000 1.378.889.639 1.541.016.177 Karawang 2.416.221.176 2.762.122.438 3.151.309.950 Bekasi 2.639.023.961 3.276.762.013 3.761.215.939 Bandung Barat 1.501.192.558 1.680.101.452 1.868.257.939 Pangandaran 517.938.317 Kota Bogor 1.355.492.925 1.422.132.371 1.702.962.476 Kota Sukabumi 674.879.856 837.454.351 917.115.742 Kota Bandung 3.490.035.513 4.027.469.180 4.435.597.296 Kota Cirebon 813.671.540 975.249.677 1.193.110.082 Kota Bekasi 2.499.559.814 2.959.889.955 3.107.838.416 Kota Depok 1.371.444.185 1.883.372.158 2.011.328.640 Kota Cimahi 833.552.564 922.343.622 1.042.608.971 Kota Tasikmalaya 1.035.009.274 1.311.026.243 1.456.076.332 Kota Banjar 513.257.046 646.330.710 640.072.225 JUMLAH TOTAL 46.363.883.178 55.078.036.534 62.048.730.841

Table 1.5

Kontribusi (Share) Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014

Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 AVERAGE

[1] [2] [3] [4] [5] Bogor 7,92% 8,38% 7,90% 8,14% Sukabumi 4,31% 4,43% 4,47% 4,45% Cianjur 4,26% 3,91% 4,17% 4,04% Bandung 6,15% 5,89% 6,16% 6,02% Garut 4,60% 5,33% 4,91% 5,12% Tasikmalaya 3,95% 3,93% 3,90% 3,91% Ciamis 3,97% 3,97% 3,23% 3,60% Kuningan 3,09% 2,95% 2,91% 2,93% Cirebon 4,39% 4,22% 4,14% 4,18% Majalengka 3,29% 3,14% 3,24% 3,19% Sumedang 3,17% 3,06% 3,30% 3,18% Indramayu 3,98% 3,85% 4,11% 3,98% Subang 3,20% 3,23% 3,50% 3,36% Purwakarta 2,45% 2,50% 2,48% 2,49% Karawang 5,21% 5,01% 5,08% 5,05% Bekasi 5,69% 5,95% 6,06% 6,01% Bandung Barat 3,24% 3,05% 3,01% 3,03% Pangandaran 0,83% 0,42% Kota Bogor 2,92% 2,58% 2,74% 2,66% Kota Sukabumi 1,46% 1,52% 1,48% 1,50% Kota Bandung 7,53% 7,31% 7,15% 7,23% Kota Cirebon 1,75% 1,77% 1,92% 1,85% Kota Bekasi 5,39% 5,37% 5,01% 5,19% Kota Depok 2,96% 3,42% 3,24% 3,33% Kota Cimahi 1,80% 1,67% 1,68% 1,68% Kota Tasikmalaya 2,23% 2,38% 2,35% 2,36% Kota Banjar 1,11% 1,17% 1,03% 1,10% JUMLAH TOTAL 10 10 10 10

Pada tahun 2012, Ciamis menjadi kabupaten dengan penyerapan anggaran tertinggi yaitu sebesar 34,92%, dan yang paling rendah adalah, Kota Cirebon (-0,57%). Setiap tahun biasanya kota/kabupaten yang memiliki anggaran belanja terburuk, pada tahun berikutnya akan naik menjadi yang tertinggi, namun pada tahun 2013, tidak demikian. Garut menjadi kabupaten dengan realisasi anggaran

tertinggi yaitu 37,62%, dengan Kota Bogor yang duduk pada peringkat terbawah sebesar 4,92%, dan pada tahun ini pula, tidak ada satupun kota/kabupaten di Jawa Barat yang realisasi anggaran belanjanya minus. Baru pada tahun 2014, kota Cirebon menjadi kota dengan realisasi anggaran belanja tertinggi sekitar 22,34%, dan yang terendah adalah Ciamis dengan (-8,13%). Pada tahun 2014, baru  pertama kalinya kabupaten pangandaran mendapat kucuran dana dari APBD.

Table 1.6

Pertumbuhan (Growth) Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014

Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 Average

[1] [2] [3] [4] [5] Bogor 13,47% 25,59% 6,19% 15,09% Sukabumi 8,04% 22,16% 13,58% 14,59% Cianjur 11,00% 9,07% 20,22% 13,43% Bandung 15,79% 13,76% 17,92% 15,82% Garut 6,01% 37,62% 3,75% 15,79% Tasikmalaya 21,24% 18,34% 11,64% 17,07% Ciamis 34,92% 18,80% -8,13% 15,20% Kuningan 11,96% 13,30% 11,08% 12,11% Cirebon 16,21% 14,33% 10,43% 13,66% Majalengka 18,38% 13,23% 16,34% 15,98% Sumedang 14,73% 14,83% 21,67% 17,08% Indramayu 17,33% 15,02% 20,22% 17,52% Subang 9,60% 2% 22,00% 17,20% Purwakarta 15,36% 21,15% 11,76% 16,09% Karawang 29,58% 14,32% 14,09% 19,33% Bekasi 13,59% 24,17% 14,78% 17,51% Bandung Barat 19,94% 11,92% 11,20% 14,35% Pangandaran Kota Bogor 26,14% 4,92% 19,75% 16,94% Kota Sukabumi 9,00% 24,09% 9,51% 14,20% Kota Bandung 13,39% 15,40% 10,13% 12,97% Kota Cirebon -0,57% 19,86% 22,34% 13,88% Kota Bekasi 26,15% 18,42% 5,00% 16,52% Kota Depok 1,58% 37,33% 6,79% 15,23% Kota Cimahi 12,90% 10,65% 13,04% 12,20% Kota Tasikmalaya 12,80% 26,67% 11,06% 16,85% Kota Banjar 5,94% 25,93% -0,97% 10,30% TOTAL 15,28% 18,80% 12,66% 15,27%

23 Tabel 1.7

Kontribusi (Share) Tiap Kota/Kabupaten Terhadap Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

Wilayah Provinsi

Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung

belanja tidak langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga belanja langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Bogor 7,22% 6,24% 10,10% 4,71% 20,54% 17,39% 5,47% 10,83% 10,22% 9,20% 12,30% Sukabumi 4,10% 4,03% 3,62% 3,04% 6,25% 5,50% 2,35% 3,80% 4,36% 5,28% 2,34% Cianjur 5,15% 3,86% 3,99% 9,98% 3,70% 0,29% 4,68% 1,26% 2,88% 1,84% 3,15% 2,87% Bandung 6,01% 5,82% 2,75% 2,54% 24,37% 9,79% 4,61% 5,66% 5,06% 6,64% 4,90% Garut 5,69% 6,13% 1,56% 1,47% 0,01% 3,66% 2,52% 4,71% 4,26% 4,67% 4,76% Tasikmalaya 4,16% 4,12% 4,04% 2,99% 2,15% 6,16% 1,07% 1,72% 1,43% 1,53% 1,94% Ciamis 4,00% 3,94% 3,67% 1,94% 1,81% 6,63% 1,42% 1,95% 2,37% 1,65% 2,08% Kuningan 3,56% 3,83% 0,92% 0,90% 0,56% 3,20% 2,04% 1,89% 2,45% 1,99% 1,64% Cirebon 4,91% 4,99% 3,62% 3,84% 0,06% 5,32% 5,46% 3,90% 4,45% 4,76% 2,97% Majalengka 3,92% 4,30% 0,60% 0,06% 0,80% 3,54% 0,18% 2,87% 2,87% 2,46% 3,20% Sumedang 3,78% 3,99% 1,93% 2,09% 1,51% 1,51% 3,04% 2,10% 2,49% 4,24% 2,46% 2,04% Indramayu 4,46% 4,82% 0,86% 1,05% 4,78% 0,60% 3,33% 1,89% 4,99% 2,21% Subang 3,61% 3,50% 0,04% 3,69% 4,23% 5,57% 3,86% 2,27% 1,56% 2,15% 2,53% Purwakarta 2,96% 2,96% 4,34% 1,86% 8,05% 0,77% 0,49% 2,06% 2,54% 2,07% 1,92% Karawang 4,69% 4,47% 5,27% 8,86% 11,42% 5,79% 0,80% 6,40% 8,25% 5,92% 4,25% Bekasi 3,62% 4,50% 3,92% 2,92% 22,11% 3,85% 19,65% 7,02% 2,64% 6,56% 8,47% Bandung Barat 2,97% 2,60% 4,76% 3,78% 8,04% 1,66% 2,72% 2,35% 2,86% 2,66% Pangandaran Kota Bogor 2,66% 2,78% 13,21% 2,28% 7,15% 0,02% 2,19% 3,29% 3,65% 3,19% 3,26% Kota Sukabumi 1,07% 1,55% 1,59% 2,32% 0,04% 0,60% 1,70% 1,65% 2,47% 1,02% Kota Bandung 7,83% 7,23% 95,97% 18,17% 20,85% 0,06% 1,32% 9,68% 6,92% 8,05% 11,72% Kota Cirebon 1,89% 2,03% 1,46% 3,08% 0,18% 0,23% 1,81% 2,16% 2,46% 3,57% Kota Bekasi 4,49% 4,68% 0,93% 5,56% 8,00% 0,55% 1,81% 7,63% 9,84% 6,46% 7,86%

24 Kota Bandung 7,83% 7,23% 95,97% 18,17% 20,85% 0,06% 1,32% 9,68% 6,92% 8,05% 11,72% Kota Cirebon 1,89% 2,03% 1,46% 3,08% 0,18% 0,23% 1,81% 2,16% 2,46% 3,57% Kota Bekasi 4,49% 4,68% 0,93% 5,56% 8,00% 0,55% 1,81% 7,63% 9,84% 6,46% 7,86% Kota Depok 2,28% 2,37% 4,49% 1,26% 4,66% 0,07% 6,04% 5,03% 4,87% 3,99% 5,94% Kota Cimahi 1,97% 2,14% 3,60% 1,88% 0,16% 0,08% 0,04% 0,44% 2,04% 2,58% 2,45% 1,52% Kota Tasikmalaya 2,12% 2,21% 75,85% 1,46% 2,19% 31,57% 1,23% 4,14% 1,68% 0,84% Kota Banjar 0,88% 0,88% 0,57% 2,18% 1,34% 0,27% 1,10% 1,41% 0,91% 1,17%

25 Tabel 1.8

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

Tabel 1.9

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

II I JENUH DOMINAN BOGOR BANDUNG SUKABUMI GARUT CIANJUR TASIKMALAYA CIREBON INDRAMAYU

KOTA BANDUNG KARAWANG

Tabel 1.9

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

II I JENUH DOMINAN BOGOR BANDUNG SUKABUMI GARUT CIANJUR TASIKMALAYA CIREBON INDRAMAYU

KOTA BANDUNG KARAWANG

BEKASI KOTA BEKASI III IV RENDAH POTENSIAL CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN SUMEDANG

BANDUNG BARAT SUBANG

KOTA SUKABUMI PURWAKARTA

KOTA CIREBON KOTA BOGOR

KOTA DEPOK KOTA TASIKMALAYA

KOTA CIMAHI KOTA BANJAR

Pada tabel 1.9 menunjukan posisi setiap kota/kabupaten yang ada di Jawa Barat sesuai besaran anggaran yang di realisasikannya pada periode 2010-2015. Ada tujuh kabupaten kota pada kuadran I, lima berada di kuadran II, delapan  berada pada kuadran III dan enam kota kabupaten di kuadran IV.

1. Posisi Dominan

Pada kuadran satu terdapat tujuh. Kuadran I menunjukan bahwa rata-rata realisasi anggaran belanja kabupaten kota yang bersangkutan cukup tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini ditunjukan dengan besarnya nilai share disertai nilai

growth yang tinggi. Bandung, Karawang, dan Bekasi, beanja tertinggi pada Belanja Bagi Hasil. Untuk Garut, belanja pegawai tidak langsung, tasikmalaya  belanja tertinggi pada belanja keuangan dan kota bekasi belanja tertinggi pada  belanja pegawai langsung.

2. Posisi Jenuh

Pada kuadran dua terdapat lima kabupaten/kota. Kuadran II menunjukan peran realisasi anggaran belanja kota kabupaten yang besar dalam realisasi anggaran  belanja total Jawa Barat punya peluang mengecil karena pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupatennya kecil. Disini sumbangan realisasi anggaran  belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat tinggi,

namun pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupatennya rendah. Bogor dan Sukabumi belanja tertinggi adalah belanja bagi hasil. Cianjur belanja hibah, cirebon belanja tidak terduga, dan kota bandung belanja subsidi.

3. Posisi Rendah

Realisasi anggaran belanja kota kabupaten belum mengambil peran yang besar dalam realisasi anggaran belanja total Jawa Barat dan daerah belum punya kemampuan dalam mengembangkan potensi lokal. Sumbangan realisasi anggaran  belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat

rendah dan pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupaten rendah. Kota  bogor dan kota tasikmalaya belanja paling tinggi adalah belanja bunga. Majalaya  belanja pegawai. Sumedang belanja pegawai langsung, subang belanja keuangan,  purwakarta belanja hibah.

4. Posisi Potensial

Daerah mempunyai kemampuan untuk mengeembangkan potensi lokal sehingga realisasi anggaran belanja kota kabupaten berpeluang memiliki peran besar dalam realisasi anggaran belanja total Jawa Barat. Sumbangan realisasi anggaran belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat masih rendah namun pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupaten tinggi. Ciamis  belanja tertinggi pada belanja keuangan, kuningan belanja pegawai tidak langsung, bandung barat pada belanja bantua keuangan, kota sukabumi pada  belanja barang dan jasa, kota cirebon pada belanja modal, kota depok pada

 belanja tidak terduga, kota cimahi pada belanja bunga, dan kota banjar pada  belanja sosial.

Tabel 1.10

Tingkat Share Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014 Dari Tinggi Ke Rendah Pada Setiap Jenis Belanja

Belanja Tidak Langsung belanja tidak

langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Kota Bandung 7,83% Kota Bandung 7,23% Kota Tasikmalaya 75,85% Kota Bandung 95,97% Kota Bandung 18,17% Bogor 7,22% Bogor 6,24% Kota Bogor 13,21% Cianjur 3,99% Bogor 10,10% Bandung 6,01% Garut 6,13% Kota Depok 4,49% Subang 0,04% Cianjur 9,98% Garut 5,69% Bandung 5,82% Kota Cimahi 3,60% Bogor 0,00% Kota Bekasi 5,56% Cianjur 5,15% Cirebon 4,99% Sumedang 1,93% Sukabumi 0,00% Karawang 5,27%

Cirebon 4,91% Indramayu 4,82% Kota Bekasi 0,93% Bandung 0,00%

Bandung

Barat 4,76%

Karawang 4,69% Kota Bekasi 4,68% Bogor 0,00% Garut 0,00% Purwakarta 4,34% Kota Bekasi 4,49% Bekasi 4,50% Sukabumi 0,00% Tasikmalaya 0,00% Tasikmalaya 4,04% Indramayu 4,46% Karawang 4,47% Cianjur 0,00% Ciamis 0,00% Bekasi 3,92% Tasikmalaya 4,16% Majalengka 4,30% Bandung 0,00% Kuningan 0,00% Subang 3,69% Sukabumi 4,10% Tasikmalaya 4,12% Garut 0,00% Cirebon 0,00% Ciamis 3,67% Ciamis 4,00% Sukabumi 4,03% Tasikmalaya 0,00% Majalengka 0,00% Cirebon 3,62% Majalengka 3,92% Sumedang 3,99% Ciamis 0,00% Sumedang 0,00% Sukabumi 3,62% Sumedang 3,78% Ciamis 3,94% Kuningan 0,00% Indramayu 0,00% Bandung 2,75% Bekasi 3,62% Cianjur 3,86% Cirebon 0,00% Purwakarta 0,00% Kota Bogor 2,28% Subang 3,61% Kuningan 3,83% Majalengka 0,00% Karawang 0,00% Sumedang 2,09% Kuningan 3,56% Subang 3,50% Indramayu 0,00% Bekasi 0,00% Kota Cimahi 1,88% Bandung

Barat 2,97% Purwakarta 2,96% Subang 0,00%

Bandung

Barat 0,00%

Kota

Sukabumi 1,59% Purwakarta 2,96% Kota Bogor 2,78% Purwakarta 0,00% Pangandaran 0,00% Garut 1,56%

Kota Bogor 2,66%

Bandung

Barat 2,60% Karawang 0,00% Kota Bogor 0,00% Kota Cirebon 1,46%

Kota Depok 2,28% Kota Depok 2,37% Bekasi 0,00% Kota Sukabumi 0,00% Kota Tasikmalaya 1,46% Kota Tasikmalaya 2,12% Kota Tasikmalaya 2,21% Bandung

Barat 0,00% Kota Cirebon 0,00% Kota Depok 1,26% Kota Cimahi 1,97% Kota Cimahi 2,14% Pangandaran 0,00% Kota Bekasi 0,00% Kuningan 0,92%

Kota Cirebon 1,89% Kota Cirebon 2,03% Kota

Sukabumi 0,00% Kota Depok 0,00% Indramayu 0,86% Kota

Sukabumi 1,07% Kota

Sukabumi 1,55% Kota

Bandung 0,00% Kota Cimahi 0,00% Majalengka 0,60%

Kota Banjar 0,88% Kota Banjar 0,88% Kota Cirebon 0,00% Kota

Tasikmalaya 0,00% Kota Banjar 0,57% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Kota Banjar 0,00% Kota Banjar 0,00% Pangandaran 0,00%

Belanja Tidak Langsung Belanja Bantuan

Sosial Belanja Bagi Hasil

Belanja Bantuan Keuangan

Belanja Tidak Terduga belanja langsung JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Kota

Bandung 20,85% Bandung 24,37% Bogor 17,39% Kota

Tasikmalaya 31,57% Karawang 8,86% Bekasi 22,11% Bandung 9,79% Bekasi 19,65% Kota Bekasi 8,00% Bogor 20,54%

Bandung

Barat 8,04% Kota Depok 6,04% Kota Bogor 7,15% Karawang 11,42% Ciamis 6,63% Bogor 5,47% Bogor 4,71% Purwakarta 8,05% Tasikmalaya 6,16% Cirebon 5,46% Kota Depok 4,66% Sukabumi 6,25% Karawang 5,79% Bandung 4,61% Subang 4,23% Tasikmalaya 2,15% Subang 5,57% Subang 3,86% Cirebon 3,84% Ciamis 1,81% Sukabumi 5,50% Garut 2,52% Bandung

Barat 3,78% Sumedang 1,51% Cirebon 5,32% Sukabumi 2,35% Cianjur 3,70% Majalengka 0,80% Indramayu 4,78% Kota Bogor 2,19% Kota

Cirebon 3,08% Kuningan 0,56% Cianjur 4,68% Sumedang 2,10% Sukabumi 3,04% Cianjur 0,29% Bekasi 3,85% Kuningan 2,04% Tasikmalaya 2,99% Kota Cimahi 0,08% Garut 3,66% Kota Bekasi 1,81% Bekasi 2,92% Cirebon 0,06% Majalengka 3,54%

Bandung

Barat 1,66%

Bandung 2,54% Garut 0,01% Kuningan 3,20% Ciamis 1,42% Kota

Sukabumi 2,32% Indramayu 0,00% Sumedang 3,04% Kota

Bandung 1,32% Kota

Tasikmalaya 2,19% Subang 0,00% Kota Banjar 1,34% Cianjur 1,26% Kota Banjar 2,18%

Bandung

Barat 0,00% Purwakarta 0,77% Tasikmalaya 1,07% Ciamis 1,94% Pangandaran 0,00% Kota Bekasi 0,55% Karawang 0,80% Purwakarta 1,86% Kota Bogor 0,00%

Kota Cirebon 0,18% Kota Sukabumi 0,60% Sumedang 1,51% Kota

Sukabumi 0,00% Kota Depok 0,07% Indramayu 0,60%

Garut 1,47% Kota Bandung 0,00% Kota Bandung 0,06% Purwakarta 0,49% Indramayu 1,05% Kota Cirebon 0,00% Kota

Sukabumi 0,04% Kota Cimahi 0,44% Kuningan 0,90% Kota Bekasi 0,00% Kota Cimahi 0,04% Kota Banjar 0,27% Kota Cimahi 0,16% Kota Depok 0,00% Kota Bogor 0,02%

Kota

Cirebon 0,23% Majalengka 0,06%

Kota

Tasikmalaya 0,00% Pangandaran 0,00% Majalengka 0,18% Pangandaran 0,00% Kota Banjar 0,00%

Kota

BELANJA LANGSUNG

belanja langsung Belanja Pegawai

Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Bogor 10,83% Bogor 10,22% Bogor 9,20% Bogor 12,30% Kota

Bandung 9,68% Kota Bekasi 9,84%

Kota

Bandung 8,05%

Kota

Bandung 11,72% Kota Bekasi 7,63% Karawang 8,25% Bandung 6,64% Bekasi 8,47% Bekasi 7,02%

Kota

Bandung 6,92% Bekasi 6,56% Kota Bekasi 7,86% Karawang 6,40% Bandung 5,06% Kota Bekasi 6,46% Kota Depok 5,94% Bandung 5,66% Kota Depok 4,87% Karawang 5,92% Bandung 4,90% Kota Depok 5,03% Cirebon 4,45% Sukabumi 5,28% Garut 4,76% Garut 4,71% Sukabumi 4,36% Indramayu 4,99% Karawang 4,25% Cirebon 3,90% Garut 4,26% Cirebon 4,76%

Kota

Cirebon 3,57% Sukabumi 3,80% Sumedang 4,24% Garut 4,67% Kota Bogor 3,26% Indramayu 3,33%

Kota

Tasikmalaya 4,14% Kota Depok 3,99% Majalengka 3,20% Kota Bogor 3,29% Kota Bogor 3,65% Kota Bogor 3,19% Cirebon 2,97% Cianjur 2,88% Majalengka 2,87% Cianjur 3,15% Cianjur 2,87% Majalengka 2,87% Bekasi 2,64% Bandung Barat 2,86% Bandung Barat 2,66% Bandung

Barat 2,72% Kota Cimahi 2,58%

Kota

Sukabumi 2,47% Subang 2,53% Sumedang 2,49% Purwakarta 2,54% Sumedang 2,46% Sukabumi 2,34% Subang 2,27% Kuningan 2,45% Majalengka 2,46% Indramayu 2,21% Purwakarta 2,06% Ciamis 2,37%

Kota

Cirebon 2,46% Ciamis 2,08% Kota Cimahi 2,04%

Bandung

Barat 2,35% Kota Cimahi 2,45% Sumedang 2,04% Ciamis 1,95%

Kota

Cirebon 2,16% Subang 2,15% Tasikmalaya 1,94% Kuningan 1,89% Indramayu 1,89% Purwakarta 2,07% Purwakarta 1,92% Kota

Cirebon 1,81% Cianjur 1,84% Kuningan 1,99% Kuningan 1,64% Tasikmalaya 1,72%

Kota

Sukabumi 1,65%

Kota

Tasikmalaya 1,68% Kota Cimahi 1,52% Kota

Sukabumi 1,70% Subang 1,56% Ciamis 1,65% Kota Banjar 1,17% Kota

Tasikmalaya 1,23% Tasikmalaya 1,43% Tasikmalaya 1,53%

Kota

Sukabumi 1,02% Kota Banjar 1,10% Kota Banjar 1,41% Kota Banjar 0,91%

Kota

Tasikmalaya 0,84% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00%

Tabel 1.11

Ranking setiap kota/kabupaten pada setiap kuadran pada Realisasi Anggaran 2012-2014

Wilayah Provinsi

Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung

Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Kuadran I Bandung 3 4 14 15 1 2 6 6 5 3 6 Garut 4 3 19 22 15 13 8 8 9 10 7 Tasikmalaya 10 11 8 13 7 5 18 23 25 25 20 Indramayu 9 6 24 23 10 21 11 21 8 17 Kerawang 7 9 5 2 4 6 19 5 3 6 8 Bekasi 15 8 9 14 2 12 2 4 14 4 3 Kota Bekasi 8 7 6 4 3 19 13 3 2 5 4 Kuadran II Bogor 2 2 2 5 3 1 4 1 1 1 1 Sukabumi 11 12 13 12 6 8 9 10 8 7 16 Cianjur 27 15 2 3 10 12 11 17 13 22 13 13 Cirebon 6 5 12 8 14 9 5 9 7 9 12 Kota Bandung 1 1 1 1 1 22 16 2 4 2 2 Kuadran III Ciamis 12 14 11 19 8 4 15 20 18 18 Kuningan 17 16 23 24 11 15 12 21 17 23 22 Bandung Brat 18 20 6 9 3 14 15 19 14 14 Kota Sukabumi 25 25 18 16 23 20 24 23 15 25 Kota Cirebon 24 24 20 11 20 25 22 20 18 9 Kota Depok 21 21 3 22 6 21 3 7 6 11 5 Kota Cimahi 23 23 4 17 25 13 24 23 19 15 20 23 Kota Banjar 26 26 26 18 17 24 26 26 26 24 Kuadran IV Majaengka 13 10 25 26 10 14 26 14 13 17 11 Sumedang 14 13 5 16 21 9 16 11 16 10 16 19 Subang 16 17 3 10 7 7 7 17 24 21 15 Purwakarta 19 18 7 20 5 18 22 18 16 22 21 Kota Bogor 20 19 2 15 4 25 10 12 12 12 10 Kota Tasikmalaya 22 22 1 21 17 1 25 11 24 26

Selama ini, pelaksanaan pemerintahan di daerah sebagian besar di biayai oleh pusat atau subsidi daerah otonomi. Tetapi justru yang terjadi saat ini  penyerapan anggaran di beberapa daerah terbilang cukup minim. Ada bermacam  penyebab yang menimbulkan seretnya penyerapan anggaran di daerah, mulai dari

masih:

1) adanya kegamangan aparat pengelola anggaran di tingkat instansi, 2) lambatnya proses tender,

3) lambatnya pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran, 4) kurangnya SDM yang bersertifikat, sampai dengan: 5) kelemahan dalam perencanaan awal,

6) kelemahan dalam sistem pengendalian intern di bidang pengadaan barang dan  jasa, serta

7) lambatnya penerbitan juklak dan juknis pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK.

Lambatnya pengesahan DPA, terutama petunjuk pelaksanaan (juklak) dan  petunjuk teknis (juknis) dari pusat, juga menyebabkan rendahnya tingkat realisasi anggaran belanja. Keterlambatan biasanya terjadi pada kegiatan-kegiatan yang didanai pusat. Itu pun biasana lebih dikarenakan belum adanya juklak dan juknis dari instansi pusat sebagai penyandang dana. Biasanya daerah tidak berani melangkah sebelum ada petunjuk dari pusat. Sebaiknya kucuran dana harus dibarengi dengan regulasi yang jelas. Dilain sisi, kualitas penyerapan anggaran utamanya melihat lebih jauh apakah realisasi hasil serapan itu memang benar- benar berguna bagi masyarakat luas yang juga memenuhi kriteria tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jumlahnya. Dengan kata lain, hal ini juga untuk mengevaluasi apakah output/outcome dari suatu kegiatan berdasarkan anggaran  berbasis kinerja (ABK) telah benar-benar mencapai manfaatnya atau belum.

Mengenai fenomena yang sudah umum terjadi di setiap unit kerja terkait  percepatan penyerapan anggaran di akhir tahun, unit kerja harusnya telah lama

menyiapkan administrasinya dan walaupun dalam waktu yang sempit unit kerja  bisa melaksanakan pekerjaan tersebut. Disitulah tantangan bagi aparat  pengawasan teknis seperti BPKP dan BPK. Disamping itu, Pemerintah Provinsi

Jawa Barat harusnya memanfaatkan SDM BPKP yang memang kompeten di  bidang pengelolaan anggaran, keuangan, dan audit serta bersinergi dengan BPKP

dalam berbagai penugasan khususnya inspektorat provinsi.

E-Procurement

Lambatnya penyerapan anggaran sering dikaitkan dengan berlarutnya  proses pengadaan barang dan jasa. Oleh karena itu untuk memercepat pelaksanaan anggaran, LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) mendorong instansi pemerintah untuk menerapkan pengadaan barang/jasa secara elektronis atau yang lebih dikenal dengan e-procurement (e-proc).

Terkait dengan hal ini, Pemprov Jawa Barat mulai tahun 2008 telah melaksanakan e-proc. Di samping itu lelang dilaksanakan sebelum DPA-nya terbit, sehingga ketika DPA terbit para pihak tinggal menandatangani kontrak. Hal ini dilakukan agar proses tender menjadi lebih cepat dan efektif. Bahkan Jawa Barat mendapat penghargaan, Penghargaan tersebut merupakan penghargaan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang diterima Jawa Barat untuk keenam kalinya. Memulai LPSE pada 2008, Jawa Barat merupakan provinsi yang menggunakan sistem tersebut paling awal.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari studi kasus yang telah dibahas menujukkan bahwa belanja merupakan  pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan wewenang dan tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah pusat. Belanja yang dilakukan diharapkan dapat berdampak positif pada pembangunan dan  pelayanan publik pada masyarakat. Berdasarkan struktur anggaran daerah,

elemen-elemen yang termasuk dalam belanja daerah terdiri dari belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan,  belanja tidak tersangka. Dilihat dari studi kasus provinsi Jawa Barat menunjukkan  bahwa belanja daerah yang dilakukan sudah menunjukan nilai yang efetif dari tahun ke tahun yang di buktikan dengan mendapatkan penghargaan e- procurement   dalam peningkatan pelayan publik dan pembanguan didaerahnya.

Penganggaran yang efektif dan efisien itu hendaknya dilakukan berdasarkan azas efisiensi, tepat guna, tepat pelaksanaanya dan dapat dipertanggung jawabkan.

Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan masyarakat bukan hanya menguntungkan satu atau beberapa pihak saja.

B. Saran

Menekan belanja hibah yang terlalu besar dengan cara memperbaiki sistem alokasi dananya.

Provinsi Jawa Barat diharapakan dapat memprioritaskan alokasi anggaran  belanja daerah pada sektor-sektor peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berkualitas, serta mengembangkan sistem jaminan sosial secara menyeluruh kepada semua

Dalam dokumen MAKALAH BELANJA DAERAH (Halaman 33-70)

Dokumen terkait