• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH BELANJA DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH BELANJA DAERAH"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.

A. Latar BelakangLatar Belakang

Pengelolahan keuangan daerah merupakan faktor yang penting untuk Pengelolahan keuangan daerah merupakan faktor yang penting untuk melihat kemandirian suatu daerah. Dilihat dari tingkat kemandirian daerah di melihat kemandirian suatu daerah. Dilihat dari tingkat kemandirian daerah di  bidang keuangan belum memperlihatkan

 bidang keuangan belum memperlihatkan kemajuan yang berarti bahkan cenderungkemajuan yang berarti bahkan cenderung menurun selama satu dasawarsa terakhir. Pemerintah daerah masih sangat menurun selama satu dasawarsa terakhir. Pemerintah daerah masih sangat tergantung kepada pusat dan belum memiliki sumber pendapatan asli daerah yang tergantung kepada pusat dan belum memiliki sumber pendapatan asli daerah yang kuat untuk menopang kegiatan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat kuat untuk menopang kegiatan pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat di tingkat lokal.

di tingkat lokal.

Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang diatur dalam Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah telah menunjukkan secara tegas kesepakatan politis yang menetapkan dan Daerah telah menunjukkan secara tegas kesepakatan politis yang menetapkan  bahwa desentralisasi

 bahwa desentralisasi fiskal fiskal di Indonesia di Indonesia lebih melebih menitikberatkan desentralisasi nitikberatkan desentralisasi padapada sisi belanja. Kewenangan yang didelegasikan kepada daerah untuk mendapatkan sisi belanja. Kewenangan yang didelegasikan kepada daerah untuk mendapatkan  penerimaan

 penerimaan masih masih relatif relatif terbatas. terbatas. Sementara Sementara di di sisi sisi lain, lain, daerah daerah diberikandiberikan kewenangan yang cukup besar untuk membelanjakan dana

kewenangan yang cukup besar untuk membelanjakan dana yang dikelolanya.yang dikelolanya. Dengan diskresi belanja daerah yang luas tersebut, maka kualitas belanja Dengan diskresi belanja daerah yang luas tersebut, maka kualitas belanja daerah akan sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang diambil oleh daerah itu daerah akan sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang diambil oleh daerah itu sendiri. Dengan input dana publik yang selalu bersifat terbatas, maka daerah sendiri. Dengan input dana publik yang selalu bersifat terbatas, maka daerah dituntut untuk mempunyai strategi yang jitu dalam mengelola dan dituntut untuk mempunyai strategi yang jitu dalam mengelola dan mengalokasikannya secara efisien, sehingga mampu memberikan output layanan mengalokasikannya secara efisien, sehingga mampu memberikan output layanan  publik yang optimal.

 publik yang optimal. Selanjutnya diharapkan Selanjutnya diharapkan pilihan atas pilihan atas prioritas prioritas output tersebutoutput tersebut akan menghasilkan

akan menghasilkan outcomeoutcome yang signifikan, yang berupa peningkatanyang signifikan, yang berupa peningkatan kesejahteraan masyarakat.

kesejahteraan masyarakat.

Belanja pemerintah daerah secara langsung maupun tidak langsung Belanja pemerintah daerah secara langsung maupun tidak langsung  berdampak pada kualitas

 berdampak pada kualitas pelayanan publik dan mendorong aktivitas pelayanan publik dan mendorong aktivitas sektor swastasektor swasta di daerah yang bersangkutan. Belanja yang tidak optimal dapat mengakibatkan di daerah yang bersangkutan. Belanja yang tidak optimal dapat mengakibatkan

(2)
(3)

rendahnya kualitas pelayanan publik dan menurunnya aktivitas sektor swasta. rendahnya kualitas pelayanan publik dan menurunnya aktivitas sektor swasta. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi  penyediaan

 penyediaan barang barang publik publik dan dan regulasi regulasi lokal, lokal, sehingga sehingga kualitas kualitas pelayanan pelayanan publikpublik semakin baik dan produktivitas ekonomi di daerah semakin meningkat. Berkaitan semakin baik dan produktivitas ekonomi di daerah semakin meningkat. Berkaitan dengan hal tersebut maka peran optimalisasi belanja daerah akan mempengaruhi dengan hal tersebut maka peran optimalisasi belanja daerah akan mempengaruhi  pembangunan eko

 pembangunan ekonomi di daerah.nomi di daerah.

Oleh karena itu, belanja pemerintah daerah yang efisien merupakan isu Oleh karena itu, belanja pemerintah daerah yang efisien merupakan isu  penting

 penting dalam dalam kebijakan kebijakan sektor sektor publik, publik, belanja belanja yang yang efisien efisien diyakini diyakini dapatdapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Isu efisiensi mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Isu efisiensi  belanja

 belanja pemerintah pemerintah ini ini menjadi menjadi sangat sangat penting, penting, khususnya khususnya dalam dalam kontekskonteks  pertumbuhan

 pertumbuhan ekonomi ekonomi dan dan stabilisasi stabilisasi makroekonomi. makroekonomi. Belanja Belanja pemerintah pemerintah yangyang efisien sangat erat kaitannya dengan proses penganggaran baik proses penyusunan efisien sangat erat kaitannya dengan proses penganggaran baik proses penyusunan anggaran pemerintah pusat maupun penyusunan anggaran pemerintah daerah. anggaran pemerintah pusat maupun penyusunan anggaran pemerintah daerah.

B. RUMUSAN MASALAH B. RUMUSAN MASALAH 1.

1. Bagaimana Kebijakan Belanja Daerah ?Bagaimana Kebijakan Belanja Daerah ? 2.

2. Apa Prinsip Manajemen Belanja Daerah?Apa Prinsip Manajemen Belanja Daerah?

C. TUJUAN PENULISAN C. TUJUAN PENULISAN 1.

1. Memahami Kebijakan Belanja Daerah.Memahami Kebijakan Belanja Daerah. 2.

(4)
(5)

rendahnya kualitas pelayanan publik dan menurunnya aktivitas sektor swasta. rendahnya kualitas pelayanan publik dan menurunnya aktivitas sektor swasta. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diharapkan dapat meningkatkan efisiensi  penyediaan

 penyediaan barang barang publik publik dan dan regulasi regulasi lokal, lokal, sehingga sehingga kualitas kualitas pelayanan pelayanan publikpublik semakin baik dan produktivitas ekonomi di daerah semakin meningkat. Berkaitan semakin baik dan produktivitas ekonomi di daerah semakin meningkat. Berkaitan dengan hal tersebut maka peran optimalisasi belanja daerah akan mempengaruhi dengan hal tersebut maka peran optimalisasi belanja daerah akan mempengaruhi  pembangunan eko

 pembangunan ekonomi di daerah.nomi di daerah.

Oleh karena itu, belanja pemerintah daerah yang efisien merupakan isu Oleh karena itu, belanja pemerintah daerah yang efisien merupakan isu  penting

 penting dalam dalam kebijakan kebijakan sektor sektor publik, publik, belanja belanja yang yang efisien efisien diyakini diyakini dapatdapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Isu efisiensi mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Isu efisiensi  belanja

 belanja pemerintah pemerintah ini ini menjadi menjadi sangat sangat penting, penting, khususnya khususnya dalam dalam kontekskonteks  pertumbuhan

 pertumbuhan ekonomi ekonomi dan dan stabilisasi stabilisasi makroekonomi. makroekonomi. Belanja Belanja pemerintah pemerintah yangyang efisien sangat erat kaitannya dengan proses penganggaran baik proses penyusunan efisien sangat erat kaitannya dengan proses penganggaran baik proses penyusunan anggaran pemerintah pusat maupun penyusunan anggaran pemerintah daerah. anggaran pemerintah pusat maupun penyusunan anggaran pemerintah daerah.

B. RUMUSAN MASALAH B. RUMUSAN MASALAH 1.

1. Bagaimana Kebijakan Belanja Daerah ?Bagaimana Kebijakan Belanja Daerah ? 2.

2. Apa Prinsip Manajemen Belanja Daerah?Apa Prinsip Manajemen Belanja Daerah?

C. TUJUAN PENULISAN C. TUJUAN PENULISAN 1.

1. Memahami Kebijakan Belanja Daerah.Memahami Kebijakan Belanja Daerah. 2.

(6)
(7)

BAB II BAB II

LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI

A.

A. Definisi Belanja DaerahDefinisi Belanja Daerah

Beberapa pendapat mengenai belanja daerah, antar lain : Beberapa pendapat mengenai belanja daerah, antar lain :

 Menurut PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi PemerintahanMenurut PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan

Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara / Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara / Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh  pemerintah.

 pemerintah.

 Peraturan pemerintah nomor 105 tahun 2002 tentang pengelolaan danPeraturan pemerintah nomor 105 tahun 2002 tentang pengelolaan dan

 pertanggungjawaban keuangan

 pertanggungjawaban keuangan daerah daerah pada pada pasal pasal 1 1 (ayat (ayat 13) d13) dan an KeputusanKeputusan Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2002 pada pasal (huruf q) Menteri Dalam Negeri nomor 29 tahun 2002 pada pasal (huruf q) menyebutkan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah menyebutkan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi beban daerah.

dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi beban daerah.

 Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004, belanjaMenurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004, belanja

daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran

kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan.yang bersangkutan.

 Menurut Halim (2001), belanja daerah adalah pengeluaran yang dilakukanMenurut Halim (2001), belanja daerah adalah pengeluaran yang dilakukan

oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan wewenang dan tanggung jawab oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan wewenang dan tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah diatasnya.

kepada masyarakat dan pemerintah diatasnya.

 Menurut Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002, belanja daerah adalah semuaMenurut Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002, belanja daerah adalah semua

 pengeluaran kas

 pengeluaran kas daerah daerah dalam periode dalam periode tahun anggaran tahun anggaran tertentu tertentu yang menjadiyang menjadi  beban daerah.

 beban daerah.

 Menurut Sri Lesminingsih (Abdul Halim, 2001:199) bahwa pengeluaranMenurut Sri Lesminingsih (Abdul Halim, 2001:199) bahwa pengeluaran

daerah adalah semua pengeluaran kas daerah selama periode tahun anggaran daerah adalah semua pengeluaran kas daerah selama periode tahun anggaran  bersangkutan yang mengurang

 bersangkutan yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah.i kekayaan pemerintah daerah.

 Menurut Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang perubahan atasMenurut Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang perubahan atas

Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan

(8)
(9)

Daerah diungkapkan pengertian belanja daerah yaitu kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.

 Menurut UU No. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah, belanja daerah

adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaann bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Berdasarkan struktur anggarann daerah, elemen-elemen yang termasuk dalam  belanja daerah terdiri dari belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik,  belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, belanja tidak tersangka.

Jadi dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran yang dilakukan pemerintah daerah dalam  periode anggaran tertentu digunakan untuk melaksanakan kewajiban, wewenang dan tanggung jawab dari pemerintah daerah kepada masyarakat dan pemeritah daerah. Dalam Permendagri No.59 Tahun 2007, belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan  pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang

dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar  pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundangundangan.

B. Tujuan Belanja Daerah

1. Merupakan rasionalisasi atau gambaran kemampuan dan penggunaan sumber-sumber finansial dan material yang tersedia pada suatu negara/daerah.

2. Sebagai upaya untuk penyempurnaan berbagai rencana kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya sehingga hasilnya akan lebih baik.

3. Sebagai alat untuk memperinci penggunaan sumber-sumber yang tersedia menurut objek pembelanjaannya sehingga memudahkan pengawasan atas  pengeluarannya.

4. Sebagai landasan yuridis formal dari penggunaan sumber penerimaan yang dapat dilakukan pemerintah serta sebagai alat untuk pembatasan pengeluaran.

(10)
(11)

5. Sebagai alat untuk menampung, menganalisis, serta mempertimbangkan dalam membuat keputusan seberapa besar alokasi pembayaran program dan  proyek yang diusulkan.

6. Sebagai pedoman atau tolak ukur serta alat pengawasan atas pelaksanaan kegiatan, program dan proyek yang dilakukan pemerintah.

C. Klasifikasi Belanja Daerah

 Klasifikasi Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun

2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

Klasifikasi belanja sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah  Nomor 58 Tahun 2005 tersebut di atas dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, yaitu :

a. Klasifikasi belanja dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan/atau kabupaten/kota yang terdiri dari  belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan.

 b. Klasifikasi belanja menurut fungsi bertujuan untuk keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Menurut klasifikasi ini, belanja terdiri atas: pelayanan umum, ketertiban dan ketentraman, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum kesehatan, pariwisata dan budaya, pendidikan dan perlindungan sosial. Berbeda dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005, Permendagri  Nomor 13 Tahun 2006 tidak memasukkan fungsi “pertahanan” dan “agama” karena kedua fungsi tersebut adalah urusan pemerintahan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh pemerintah pusat dan tidak didesentralisasikan.

c. Klasifikasi menurut kelompok belanja terdiri dari belanja langsung dan  belanja tak langsung. Pengklasifikasian belanja ini berdasarkan kriteria apakah suatu belanja mempunyai kaitan langsung dengan program/kegiatan atau tidak. Belanja yang berkaitan langsung dengan program/kegiatan (misalnya belanja honorarium, belanja barang, belanja modal)

(12)
(13)

Belanja Pemerintah langsung, sedangkan belanja yang tidak secara langsung dengan program/kegiatan (misalnya gaji dan tunjangan pegawai bulanan,  belanja bunga, donasi, belanja bantuan keuangan, belanja hibah, dan

sebagainya) diklasifikasikan sebagai belanja tidak langsung.

D. Belanja Daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD)

Untuk pemerintahan daerah, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 yang kemudian dijabarkan dalam Permendagri 13 Tahun 2006,  belanja diklasifikasikan berdasarkan jenis belanja yaitu Belanja tidak langsung

dan Belanja langsung. Kelompok Belanja Tidak Langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok Belanja Langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Selanjutnya, kelompok Belanja Tidak Langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari :

1. Belanja Pegawai

Penganggaran belanja penghasilan pimpinan dan anggota DPRD, gaji pokok dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta gaji pokok dan tunjangan  pegawai negeri sipil, tambahan penghasilan, serta honor atas pelaksanaan

kegiatan.

2. Belanja Bunga

Penganggaran pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang ( principal outstanding ) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek,  jangka menengah, dan jangka panjang.

3. Belanja Subsidi

Penganggaran subsidi kepada masyarakat melalui lembaga tertentu yang telah diaudit, dalam rangka mendukung kemampuan daya beli masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Lembaga  penerima belanja subsidi wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban

(14)
(15)

4. Belanja Hibah

 penganggaran pemberian bantuan dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pihak-pihak tertentu yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus yang terlebih dahulu dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dengan penerima hibah, dalam rangka peningkatan penyelenggaraan fungsi  pemerintahan di daerah, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, peningkatan layanan dasar umum, peningkatan partisipasi dalam rangka penyelenggaraan  pembangunan daerah.

5. Belanja Bantuan Sosial

Penganggaran pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepa da masyarakat yang tidak secara terus menerus/berulang dan selektif untuk

memenuhi instrumen keadilan dan pemerataan yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat termasuk bantuan untuk PARPOL.

6. Belanja Bagi Hasil

Penganggaran dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi yang dibagihasilkan kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota yang dibagihasilkan kepada pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

7. Bantuan Keuangan

 penganggaran bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

8. Belanja Tidak Terduga

Menurut Paragraf 35 PSAP Nomor 02, istilah “Belanja Lain-lain digunakan oleh  pemerintah pusat, sedangkan istilah “Belanja Tak Terduga” digunakan oleh

 pemerintahan daerah. Penganggaran belanja atas kegiatan yang sifatnya tidak  biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan  bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas

(16)
(17)

Kelompok Belanja Langsung terdiri atas :

1. Belanja Pegawai

Belanja pegawai dalam kelompok belanja langsung tersebut dimaksudkan untuk  pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan  pemerintahan daerah. Belanja Pegawai : Honor : merupaka sesuatu yang harus dibayarkan oleh pemerintah kepada pegawai , tetapi apabila pegawai tidak melakukan pekerjaan maka upah tidak akan dibayarkan (dia bekerja /  produktivitas dan berkaitan dengan tujuan oraganisasi).

2. Belanja Barang dan Jasa

Belanja barang dan jasa ini mencakup belanja barang pakai habis, bahan/material,  jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa  perlengkapan dan peralatan kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari- hari tertentu, perjalanan dinas,  perjalanan dinas pindah tugas, dan pemulangan pegawai

3. Belanja Modal

Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka  pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai

nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan  pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan  bangunan, jalan, irigasi dan jaringan dan aset tetap lainnya.

E. Arahan Pengelolahan Belanja Daerah

Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja untuk

memihak kepentingan publik, disamping tetap menjaga eksistensi

 penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektivitas dan penghematan sesuai dengan  prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan programprogram strategis daerah. Semakin besar belanja daerah diharapkan akan makin meningkatkan kegiatan perekonomian daerah (terjadi ekspansi perekonomian). Di sisi lain, semakin besar pendapatan yang dihasilkan dari pajak-pajak dan retribusi atau

(18)
(19)

 penerimaan yang bersumber dari masyarakat, maka akan mengakibatkan menurunnya kegiatan perekonomian (terjadi kontraksi perekonomian). Untuk mewujudkan sasaran tersebut, maka pengelolaan belanja daerah dilaksanakan dalam kerangka arah kebijakan, sebagai berikut:

1. Memprioritaskan alokasi anggaran belanja daerah pada sektorsektor  peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berkualitas, serta mengembangkan sistem jaminan sosial, terutama bagi mereka yang mengalami ketidakberdayaan (powerless) akibat termarginalisasi (marginalized), terdevaluasi (devalued), dan mengalami keterampasan (deprivation), serta pembungkaman (silencing), sesuai amanat undang-undang, serta visi, misi dan program kepala/wakil kepala daerah.

2. Meningkatkan anggaran belanja daerah untuk program-program

 penanggulangan kemiskinan.

3. Mengarahkan alokasi anggaran belanja daerah pada pembangunan infrastruktur pedesaan yang mendukung pembangunan sektor pertanian, dan  pencegahan terhadap bencana alam, serta sekaligus yang dapat memperluas

lapangan kerja di pedesaan melalui pendekatan program padat karya.

4. Memberi alokasi anggaran belanja daerah pada sektor pembangunan  pedesaan dalam bentuk pemberian bantuan operasional kepada perangkat

desa.

5. Menyediakan bantuan dana bergulir bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam rangka memberdayakan UMKM.

6. Meningkatkan kepedulian terhadap penerapan prinsip-prinsip efisiensi  belanja dalam pelayanan publik sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, yang meliputi manfaat ekonomi, faktor eksternalitas, kesenjangan potensi ekonomi, dan kapasitas administrasi, kecenderungan masyarakat terhadap pelayanan publik, serta pemeliharaan stabilitas ekonomi makro.

7. Meningkatkan efektivitas kebijakan belanja daerah melalui penciptaan kerja sama yang harmonis antara eksekutif, legislatif, serta partisipasi masyarakat dalam pembahasan dan penetapan anggaran belanja daerah.

(20)
(21)

F. Kebijakan Belanja Daerah dan Manajemen Belanja Daerah

Dalam kaitannya dengan belanja daerah, terdapat dua aspek yang secara konseptual berbeda tetapi memiliki keterkaitan yang erat, yaitu kebijakan belanja dan manajemen belanja. Kebijakan belanja terkait dengan penentuan apa yang akan dilakukan yang berimplikasi pada kebutuhan pengeluaran atau belanja. Sedangkan manajemen belanja terkait dengan bagaimana melaksanakan anggaran untuk membiayai aktivitas secara ekonomis, efisien dan efektif. Kebijakan belanja daerah ditentukan pada tahap perencanaan anggaran, sedangkan manajemen  belanja daerah dilakukan pada tahap implementasi anggaran. Pada dasarnya

manajemen belanja akan menyesuaikan kebijakan belanja yang diambil pemda.

Kebijakan Belanja Daerah

Kebijakan belanja daerah biasanya dituangkan dalam dokumen  perancanaan daerah, yaitu pada Kebijakan Umum APBD, Prioritas dan Plafon Anggaran, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dalam di dokumen  perencanaan daerah kebijakan belanja daerah merupakan salah satu aspek penting

yang selalu ditekankan. Berikut adalah garis besar dokumen perencanaan daerah yang secara ekplisis di dalamnya memuat kebijakan anggaran belanja daerah:

A.Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) a. Strategi Pemerintah Daerah

 b. Kebijakan Umum

c. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

d. Program SKPD, lintas SKPD, kewilayahan, lintas kewilayahan yang memuat kegiatan dalam Kerangka regulasi dan Kerangka Anggaran.

B.Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) berisi: a. Prioritas Pembangunan Daerah

 b. Rancangan Kerangka Ekonomi Makro Daerah c. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

d. Program SKPD, lintas SKPD, kewilayahan dan lisntas kewilayahan yang memuat kegiatan dalam Kerangka Regulasi dan Kerangka Anggaran.

(22)
(23)

C.Kebijakan Umum APBD (KUA) berisi:

a. Target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemda untu setiap urusan pemda

 b. Proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan  penggunaan pembiayaan dengan asumsi yang mendasarinya

c. Asumsi yang mendasari kebijakan anggaran dengan mempertimbangkan  perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan

fiskal yang ditetapkan pemerintah

d. Kerangka ekonomi makro dan implikasinya terhadap sumber pendanaan, meliputi:

 Penjelasan tentang asumsi anggaran, kondisi yang telah terjadi dan diperkirakan akan terjadi yang menjadi dasar penyusunan KUA. Contoh asumsi dan kondisi makro: laju inflasi, pertumbuhan ekonomi regional, tingkat penganggaran regional, dan asumsi lainnya yang relevan dengan kondisi daerah setempat;

 Dalam rangka implementasi asumsi dan kondisi yang menjadi dasar

 pencapaian sasaran KUA harus mampu menjelaskan kebijakan

 penganggaran sesuai kebijakan pemerintah. Kondisi yang bebeda akan menghasilkan target/sasaran yang berbeda;

 Juga diuraikan tentang perkiraan penerimaan untuk menandai seluruh  pengeluaran pada tahun yang akan dating, baik dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Khusus , maupun dari pinjaman atau hibah.

Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA) berisi: 1. Ringkasan kebijakan umum APBD;

2. Proyeksi Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah. Proyeksi anggaran ini memuat penjelasan yang ditempuh dalam upaya peningkatan pendapatan daerah, faktor-faktor yang mempengaruhi tidak terjadinya atau terjadinya  peningkatan belanja daerah dan kebijakan pemerintah daerah di bidang  pembiayaan daerah

(24)
(25)

3. Prioritas Program dan Plafon Anggaran 4. Plafon Anggaran Menurut Organisasi.

Arah kebijakan anggaran banyak dipengaruhi kebijakan ekonomi yang diambil  pemerintah daerah. Pada prinsipnya kunci kebijakan ekonomi secara klasik  bertujuan pada tiga hal, yaitu:

a. Pertumbuhan ekonomi  b. Pemerataan ekonomi

c. Stabilitas ekonomi.

Manajemen Belanja Daerah

Manajemen belanja daerah memiliki tiga tujuan pokok yang hendak dicapai yaitu menjamin dilakukannya disiplin fiskal melalui pengendalian belanja, dilakukannya alokasi anggaran sesuai dengan kebijakan dan prioritas anggaran, menjamin efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran. Manajemen belanja akan menyesuaikan arah kebijakan anggaran, khususnya kebijakan ekonomi yang ditempuh pemda yaitu pertumbuhan, pemerataan dan stabilitas ekonomi. Manajemen belanja daerah juga mengacu kepada prinsip tranparansi dan akuntabilitas, disiplin anggaran, keadilan anggaran serta efisiensi dan efektifitas anggaran seperti dalam manajamen pendapatan daerah. Dari segi disiplin anggaran, anggaran belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi. Penganggaran belanja daerah secara keseluruhan harus juga didukung dengan adanya kepastian tersediaanya penerimaan. Ini bermakna bahwa daerah sebaiknya menghindari anggaran defisit yang melebihi cadangan yang tersedia sehingga terhindar dari penciptaan utang daerah. Prinsip keadilan anggaran mewajibkan  belanja daerah, khususnya dalam pemberian pelayanan umum harus dialokasikan secara adil dan merata agar dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi. Dengan prinsip efisiensi dan efektifitas anggaran, belanja harus menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan yang optimal untuk kepentingan masyarakat. Ini bermakna bahwa setiap pos belanja daerah harus dapat diukur kinerjanya. Pengalaman pengelolaan keuangan Pemerintah Daerah

(26)
(27)

dalam program efisiensi pengeluaran daerah di masa lalu sering mengalami hambatan karena beberapa sebab yaitu:

a. Pengeluaran tidak berorientasi pada kepentingan public  b. Pengeluaran tidak berorientasi pada kinerja

c. Pengeluaran berorientasi jangka pendek

d. Pemerintah Daerah, tidak proaktif dan hanya bersifat reaktif untuk melenyapkan sumber pemborosan keuangan daerah

e. Tidak adanya pengetahuan yang memadai mengenai sifat-sifat biaya. Prinsip Manajemen Belanja Daerah

Terdapat beberapa prinsip manajemen belanja daerah yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Perencanaan Belanja Daerah

Belanja daerah yang tercermin dalam APBD harus terencana dengan baik.  P erencanaan belanja yang baik ditandai dengan:

a. adanya koherensi antara perencanaanaan belanja dalam APBD dengan dokumen perencanaan daerah;

 b. adanya standar satuan harga (SSH) yang merupakan standar biaya per unit input;

c. adanya analisis standar belanja (ASB) untuk menentukan kewajaran belanja suatu program atau kegiatan;

d. adanya harga perkiraan sendiri untuk menentukan kewajaran belanja modal yang pengadaannya ditenderkan;

e. rendahnya tingkat senjangan belanja (budgetary slack ).

Pengeluaran daerah yang direncanakan harus memiliki keterkaitan logis dengan dokumen perencanaan yang dituangkan dalam Renja SKPD. Renja Pemda. RPJMD dan RPJPD. Azas penting dalam manajemen belanja daerah adalah dipenuhinya konsep value for money yaitu pengeluaran belanja harus 3E yaitu ekonomis, efisien dan efektif. Untuk menjamin dilakukannya anggaran  belanja yang memenuhi unsur 3E, pada tahap belanja perlu ditetapkan standar

(28)
(29)

satuan harga (SSH), sebagai standar biaya per unit input yang wajib digunakan sebagai dasar penganggaran oleh satker.penetapan standar satuan harga ini  penting untuk menghindari terjadinya mark up anggaran. Selain standar satuan harga, juga perlu dimiliki analisis standar belanja. Analisis standar belanja lebih tepat digunakan untuk menilai kewajaran belanja khususnya belanja nonmodal, sedangkan untuk katagori belanja modal diperlukan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk menemukan kewajarannya.

2. Pengendalian Belanja Daerah

Sistem anggaran harus menjamin dilakukannya pengendalian belanja secara memadai.Setiap pengeluaran harus dapat dilacak prosesnya mulai dari adanya kelengkapan dokumen anggaran , otorisasi dari pejabat yang berwenang dan adanya bukti transaksi yang valid. Anggaran belanja seharusnya dilaksanakan tepat waktu. Pergeseran anggaran dimungkinkan asal tidak mengubah prioritas  program dan mengganggu proses anggaran. Anggaran belanja harus digunakan sesuai peruntukannya. Fungsi verifikasi anggaran sangat penting untuk

 pengendalian anggaran mulai dari pengajuan anggaran hingga

 pertanggungjawabannya. Penyerapan anggaran yang terlalu cepat atau lambat dari target atau jadwal yang direncanakan mengindikasikan kurang bagusnya  pelaksanaan anggaran.

3. Akuntabilitas Belanja Daerah

Belanja daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas publik, yaitu setiap belanja harus dapat dipertanggungjawabkan dan dilaporkan kepada publik baik langsung maupun melalui DPRD. Akuntabilitas publik atas belanja daerah setidaknya meliputi:

1) akuntabilitas hokum

Akuntabilitas hukum mengandung arti bahwa setiap belanja daerah harus ada dasar hukumnya, yaitu Perda APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang  penjabaran APBD. Pemerintah daerah tidak boleh melakukan pengeluaran

(30)
(31)

2) akuntabilitas financial

Belanja daerah harus memenuhi prinsip akuntabilitas finansial yaitu setiap rupiah yang dibelanjakan harus dapat dipertanggungjawabkan dan dilaporkan dalam laporan keuangan pemda.

3) akuntabilitas program

Jika belanja daerah yang dikeluarkan terkait dengan pelaksanaan program, maka selain memenuhi prinsip akuntabilitas hukum dan finansial juga harus memenuhi prinsip akuntabilitas program. Program yang dibiayai dengan APBD harus dapat dipertanggungjawabkan melalui laporan kinerja program. 4) akuntabilitas manajerial

Secara kelembagaan, belanja daerah juga harus memenuhi prinsip akuntabilitas manajerial artinya manajer publik yang terlibat dalam proses  pengeluaran belanja daerah harus bertanggungjawab atas terjadinya  pengeluaran tersebut

4. Auditabilitas Belanja Daerah

Auditabilitas belanja daerah mengandung arti bahwa setiap pengeluaran belanja yang mengakibatkan beban APBD harus dapat diverifikasi atau diaudit. Verifikasi atau audit belanja daerah mencakup:

a. kelengkapan dokumen anggaran, seperti DPA-SKPD, SPD, SPP,SPM,SPJ dan dokumen pendukung lainnya yang diperlukan

 b. adanya dokumen transaksi yang valid c. dilakukannya pencatatan yang memadai

d. dapat diuji silang antara catatan dengan keberadaan. Aspek audit belanja daerah antara lain untuk memeriksa:

a. ada/tidak ada mark up dalam pengadaan barang/jasa  b. ada/tidak ada bukti belanja yang tidak sah (fiktif)

c. ada/tidak ada penitipan anggaran ke satuan kerja lain

d. ada/tidak ada kesalahan pembebanan belanja ke rekening yang tidak sesuai e. ada/tidak ada ketidakwajaran dalam belanja modal, belanja pegawai,

 belanja barang dan jasa

(32)
(33)

BAB III STUDI KASUS

(BELANJA DAERAH PADA PROVINSI JAWA BARAT)

Pengelolahan keuangan daerah merupakan hal yang sangat penting untuk  bagi keberlangsungan keadaan suatu daerah tersebut. Pengelolahan keuangan

yang baik dapat berdampak positif bagi ekonomi, sosial, kesehatan,lingkungan,  pembanguan dan pelayanan publik daerah tersebut. Sebaliknya pengelolahan keuangan daerah yang tidak efektif dan efisien akan memunculkan damapak negatif pada ekonomi, sosial, kesehatan,lingkungan, pembanguan dan pelayanan  publik daerah tersebut. Pada studi kasus kali ini mengangkat tentang belanja

daerah Kota dan Kabupaten yang ada di Jawa Barat. Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat.

Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini. Namun hal ini mendapatkan penentangan dari wilayah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon dimana tokoh masyarakat asal Cirebon menyatakan  bahwa jika nama Jawa Barat diganti dengan nama Pasundan seperti yang berusaha

digulirkan oleh Bapak Soeria Kartalegawa tahun 1947 di Bandung maka Cirebon akan segera memisahkan diri dari Jawa Barat, karena nama "Pasundan" berarti (Tanah Sunda) dinilai tidak merepresentasikan keberagaman Jawa Barat yang sejak dahulu telah dihuni juga oleh Suku Betawi dan Suku Cirebon serta telah

(34)
(35)

dikuatkan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 yang mengakui adanya tiga suku asli di Jawa Barat yaitu Suku Betawi yang  berbahasa Melayu dialek Betawi. Suku Sunda yang berbahasa Sunda dan Suku

Cirebon yang berbahasa Bahasa Cirebon (dengan keberagaman dialeknya.

Table 1.1

Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014 Rincian 2012 2013 2014 [1] [5] [6] [7] A BELANJA TIDAK LANGSUNG 13.648.410.111 14.724.113.008 16.958.816.394 1 Belanja Pegawai 1.511.157.915 1.535.932.802 1.569.541.693 2 Belanja Bunga - - -3 Belanja Subsidi 15.055 2.940.521 6.805.400 4 Belanja Hibah 6.136.668.844 5.673.020.648 6.179.782.845 5 Belanja Bantuan Sosial 16.685.225 13.600.215 2.871.320 6 Belanja Bagi Hasil 3.161.224.937 3.994.277.232 5.461.539.028 7 Belanja Bantuan Keuangan 2.815.801.802 3.504.341.590 3.738.146.028

8 Pengeluaran Tidak Terduga 6.856.333 - 130.079

B BELANJA LANGSUNG 3.274.067.487 3.672.632.315 3.839.172.021 1 Belanja Pegawai 404.836.267 426.605.110 304.590.204 2 Belanja Barang dan Jasa 1.733.979.983 1.973.247.376 2.174.779.252 3 Belanja Modal 1.135.251.237 1.272.779.829 1.359.802.565 C PEMBIAYAAN DAERAH 2.958.837.956 3.775.496.831 5.007.648.558 JUMLAH 19.881.315.554 22.172.242.154 25.805.636.973

(36)
(37)

Table 1.2

Persentase Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2015

Rincian 2012 2013 2014

[1] [5] [6] [7]

A BELANJA TIDAK LANGSUNG 68,65% 66,41% 65,72%

1 Belanja Pegawai 7,60% 6,93% 6,08%

2 Belanja Bunga

3 Belanja Subsidi 0,01% 0,03%

4 Belanja Hibah 30,87% 25,59% 23,95%

5 Belanja Bantuan Sosial 0,08% 0,06% 0,01%

6 Belanja Bagi Hasil 15,90% 18,01% 21,16%

7 Belanja Bantuan Keuangan 14,16% 15,81% 14,49% 8 Pengeluaran Tidak Terduga 0,03%

B BELANJA LANGSUNG 16,47% 16,56% 14,88%

1 Belanja Pegawai 2,04% 1,92% 1,18%

2 Belanja Barang dan Jasa 8,72% 8,90% 8,43%

3 Belanja Modal 5,71% 5,74% 5,27%

C PEMBIAYAAN DAERAH 14,88% 17,03% 19,41%

JUMLAH 10 10 10

Table 1.3

Pertumbuhan Realisasi Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2015 Rincian 2012 2013 2014 A BELANJA TIDAK LANGSUNG 79,42% 7,88% 15,18% 1 Belanja Pegawai 4,78% 1,64% 2,19% 2 Belanja Bunga 3 Belanja Subsidi -99,83% 19431,86% 131,44% 4 Belanja Hibah 653,11% -7,56% 8,93%

5 Belanja Bantuan Sosial -96,61% -18,49% -78,89%

6 Belanja Bagi Hasil 16,21% 26,35% 36,73%

7 Belanja Bantuan Keuangan 32,35% 24,45% 6,67% 8 Pengeluaran Tidak Terduga 585,63% -10

B BELANJA LANGSUNG 21,77% 12,17% 4,53%

1 Belanja Pegawai 27,43% 5,38% -28,60%

2 Belanja Barang dan Jasa 4,94% 13,80% 10,21%

3 Belanja Modal 57,97% 12,11% 6,84%

C PEMBIAYAAN DAERAH -7,77% 27,60% 32,64%

(38)
(39)

Total realisasi belanja Provinsi Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami  peningkatan yang signifikan. Di tambah pada tahun 2014, Pangandaran memekarkan diri dari kabupaten Ciamis. Sudah barang tentu anggaran untuk  provinsi Jawa Barat bertambah.

Setiap tahun belanja tertinggi dilakukan untuk belanja hibah atau sekitar 28,26% dari total belanja daerah provinsi Jawa Barat, nilai tersebut sangat besar. Idealnya belanja daerah ditujukan untuk peningkatan pelayan publik seperti tertera dalam PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah,  pelaksanaan belanja daerah dilaksanakan dengan pendekatan kinerja yang  berorientasi pada prestasi kerja, dengan memperhatikan keterkaitan antara  pendanaan dengan keluaran dan outcome yang diharapkan dari kegiatan dan  program. demikian, pendekatan kinerja sekaligus akan mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Efisien akan diwujudkan dalam kesesuaian antara input (termasuk pendanaan) dengan output yang paling optimal yang bisa dihasilkan. Sedangkan efektifitas akan diwujudkan dengan kesesuaian antara output dengan ekspektasi masyarakat terhadap pemenuhan kualitas dan kuantitas layanan publik yang dihasilkan. Namun belanja daerah yang dilakukan provinsi Jawa Barat menunjukkan angka yang tinggi pada belanja hibah bukan pada  belanja modal pada APBD Jawa Barat. Belanja Modal merupakan belanja  pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan akan memiliki daya ungkit dalam menggerakkan roda  perekonomian daerah. selain itu belanja modal juga dapat dialokasikan untuk

menyediakan dan membangun infrastruktur publik. Dengan belanja hibah yang tinggi, berakibat pada anggaran untuk belanja modal dan belanja barang dan jasa sangat rendah serta porsi pembangunan di provinsi Jawa Barat sangat terbatas, sehingga masih banyak nya daerah tertinggal.

(40)
(41)

Table 1.4

Realisasi Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014 Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 [1] [2] [3] [4] Bogor 3.674.001.336 4.614.270.730 4.899.883.275 Sukabumi 1.999.104.665 2.442.127.472 2.773.710.012 Cianjur 1.973.180.986 2.152.133.853 2.587.215.696 Bandung 2.850.023.254 3.242.165.133 3.823.064.504 Garut 2.131.967.233 2.934.073.591 3.044.084.138 Tasikmalaya 1.829.410.194 2.165.004.333 2.416.942.285 Ciamis 1.839.000.682 2.184.752.025 2.007.151.406 Kuningan 1.434.011.695 1.624.727.704 1.804.797.895 Cirebon 2.033.136.939 2.324.459.361 2.566.975.328 Majalengka 1.525.924.588 1.727.794.211 2.010.112.734 Sumedang 1.467.551.208 1.685.174.428 2.050.349.912 Indramayu 1.843.450.693 2.120.262.966 2.548.894.651 Subang 1.481.609.293 1.777.946.918 2.169.100.505 Purwakarta 1.138.170.000 1.378.889.639 1.541.016.177 Karawang 2.416.221.176 2.762.122.438 3.151.309.950 Bekasi 2.639.023.961 3.276.762.013 3.761.215.939 Bandung Barat 1.501.192.558 1.680.101.452 1.868.257.939 Pangandaran 517.938.317 Kota Bogor 1.355.492.925 1.422.132.371 1.702.962.476 Kota Sukabumi 674.879.856 837.454.351 917.115.742 Kota Bandung 3.490.035.513 4.027.469.180 4.435.597.296 Kota Cirebon 813.671.540 975.249.677 1.193.110.082 Kota Bekasi 2.499.559.814 2.959.889.955 3.107.838.416 Kota Depok 1.371.444.185 1.883.372.158 2.011.328.640 Kota Cimahi 833.552.564 922.343.622 1.042.608.971 Kota Tasikmalaya 1.035.009.274 1.311.026.243 1.456.076.332 Kota Banjar 513.257.046 646.330.710 640.072.225 JUMLAH TOTAL 46.363.883.178 55.078.036.534 62.048.730.841

(42)
(43)

Table 1.5

Kontribusi (Share) Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014

Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 AVERAGE

[1] [2] [3] [4] [5] Bogor 7,92% 8,38% 7,90% 8,14% Sukabumi 4,31% 4,43% 4,47% 4,45% Cianjur 4,26% 3,91% 4,17% 4,04% Bandung 6,15% 5,89% 6,16% 6,02% Garut 4,60% 5,33% 4,91% 5,12% Tasikmalaya 3,95% 3,93% 3,90% 3,91% Ciamis 3,97% 3,97% 3,23% 3,60% Kuningan 3,09% 2,95% 2,91% 2,93% Cirebon 4,39% 4,22% 4,14% 4,18% Majalengka 3,29% 3,14% 3,24% 3,19% Sumedang 3,17% 3,06% 3,30% 3,18% Indramayu 3,98% 3,85% 4,11% 3,98% Subang 3,20% 3,23% 3,50% 3,36% Purwakarta 2,45% 2,50% 2,48% 2,49% Karawang 5,21% 5,01% 5,08% 5,05% Bekasi 5,69% 5,95% 6,06% 6,01% Bandung Barat 3,24% 3,05% 3,01% 3,03% Pangandaran 0,83% 0,42% Kota Bogor 2,92% 2,58% 2,74% 2,66% Kota Sukabumi 1,46% 1,52% 1,48% 1,50% Kota Bandung 7,53% 7,31% 7,15% 7,23% Kota Cirebon 1,75% 1,77% 1,92% 1,85% Kota Bekasi 5,39% 5,37% 5,01% 5,19% Kota Depok 2,96% 3,42% 3,24% 3,33% Kota Cimahi 1,80% 1,67% 1,68% 1,68% Kota Tasikmalaya 2,23% 2,38% 2,35% 2,36% Kota Banjar 1,11% 1,17% 1,03% 1,10% JUMLAH TOTAL 10 10 10 10

Pada tahun 2012, Ciamis menjadi kabupaten dengan penyerapan anggaran tertinggi yaitu sebesar 34,92%, dan yang paling rendah adalah, Kota Cirebon (-0,57%). Setiap tahun biasanya kota/kabupaten yang memiliki anggaran belanja terburuk, pada tahun berikutnya akan naik menjadi yang tertinggi, namun pada tahun 2013, tidak demikian. Garut menjadi kabupaten dengan realisasi anggaran

(44)
(45)

tertinggi yaitu 37,62%, dengan Kota Bogor yang duduk pada peringkat terbawah sebesar 4,92%, dan pada tahun ini pula, tidak ada satupun kota/kabupaten di Jawa Barat yang realisasi anggaran belanjanya minus. Baru pada tahun 2014, kota Cirebon menjadi kota dengan realisasi anggaran belanja tertinggi sekitar 22,34%, dan yang terendah adalah Ciamis dengan (-8,13%). Pada tahun 2014, baru  pertama kalinya kabupaten pangandaran mendapat kucuran dana dari APBD.

Table 1.6

Pertumbuhan (Growth) Belanja Daerah Kabupaten/ Kota di Provinsi Jawa Barat Tahun 2012-2014

Wilayah Provinsi 2012 2013 2014 Average

[1] [2] [3] [4] [5] Bogor 13,47% 25,59% 6,19% 15,09% Sukabumi 8,04% 22,16% 13,58% 14,59% Cianjur 11,00% 9,07% 20,22% 13,43% Bandung 15,79% 13,76% 17,92% 15,82% Garut 6,01% 37,62% 3,75% 15,79% Tasikmalaya 21,24% 18,34% 11,64% 17,07% Ciamis 34,92% 18,80% -8,13% 15,20% Kuningan 11,96% 13,30% 11,08% 12,11% Cirebon 16,21% 14,33% 10,43% 13,66% Majalengka 18,38% 13,23% 16,34% 15,98% Sumedang 14,73% 14,83% 21,67% 17,08% Indramayu 17,33% 15,02% 20,22% 17,52% Subang 9,60% 2% 22,00% 17,20% Purwakarta 15,36% 21,15% 11,76% 16,09% Karawang 29,58% 14,32% 14,09% 19,33% Bekasi 13,59% 24,17% 14,78% 17,51% Bandung Barat 19,94% 11,92% 11,20% 14,35% Pangandaran Kota Bogor 26,14% 4,92% 19,75% 16,94% Kota Sukabumi 9,00% 24,09% 9,51% 14,20% Kota Bandung 13,39% 15,40% 10,13% 12,97% Kota Cirebon -0,57% 19,86% 22,34% 13,88% Kota Bekasi 26,15% 18,42% 5,00% 16,52% Kota Depok 1,58% 37,33% 6,79% 15,23% Kota Cimahi 12,90% 10,65% 13,04% 12,20% Kota Tasikmalaya 12,80% 26,67% 11,06% 16,85% Kota Banjar 5,94% 25,93% -0,97% 10,30% TOTAL 15,28% 18,80% 12,66% 15,27%

(46)
(47)

23 Tabel 1.7

Kontribusi (Share) Tiap Kota/Kabupaten Terhadap Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

Wilayah Provinsi

Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung

belanja tidak langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga belanja langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Bogor 7,22% 6,24% 10,10% 4,71% 20,54% 17,39% 5,47% 10,83% 10,22% 9,20% 12,30% Sukabumi 4,10% 4,03% 3,62% 3,04% 6,25% 5,50% 2,35% 3,80% 4,36% 5,28% 2,34% Cianjur 5,15% 3,86% 3,99% 9,98% 3,70% 0,29% 4,68% 1,26% 2,88% 1,84% 3,15% 2,87% Bandung 6,01% 5,82% 2,75% 2,54% 24,37% 9,79% 4,61% 5,66% 5,06% 6,64% 4,90% Garut 5,69% 6,13% 1,56% 1,47% 0,01% 3,66% 2,52% 4,71% 4,26% 4,67% 4,76% Tasikmalaya 4,16% 4,12% 4,04% 2,99% 2,15% 6,16% 1,07% 1,72% 1,43% 1,53% 1,94% Ciamis 4,00% 3,94% 3,67% 1,94% 1,81% 6,63% 1,42% 1,95% 2,37% 1,65% 2,08% Kuningan 3,56% 3,83% 0,92% 0,90% 0,56% 3,20% 2,04% 1,89% 2,45% 1,99% 1,64% Cirebon 4,91% 4,99% 3,62% 3,84% 0,06% 5,32% 5,46% 3,90% 4,45% 4,76% 2,97% Majalengka 3,92% 4,30% 0,60% 0,06% 0,80% 3,54% 0,18% 2,87% 2,87% 2,46% 3,20% Sumedang 3,78% 3,99% 1,93% 2,09% 1,51% 1,51% 3,04% 2,10% 2,49% 4,24% 2,46% 2,04% Indramayu 4,46% 4,82% 0,86% 1,05% 4,78% 0,60% 3,33% 1,89% 4,99% 2,21% Subang 3,61% 3,50% 0,04% 3,69% 4,23% 5,57% 3,86% 2,27% 1,56% 2,15% 2,53% Purwakarta 2,96% 2,96% 4,34% 1,86% 8,05% 0,77% 0,49% 2,06% 2,54% 2,07% 1,92% Karawang 4,69% 4,47% 5,27% 8,86% 11,42% 5,79% 0,80% 6,40% 8,25% 5,92% 4,25% Bekasi 3,62% 4,50% 3,92% 2,92% 22,11% 3,85% 19,65% 7,02% 2,64% 6,56% 8,47% Bandung Barat 2,97% 2,60% 4,76% 3,78% 8,04% 1,66% 2,72% 2,35% 2,86% 2,66% Pangandaran Kota Bogor 2,66% 2,78% 13,21% 2,28% 7,15% 0,02% 2,19% 3,29% 3,65% 3,19% 3,26% Kota Sukabumi 1,07% 1,55% 1,59% 2,32% 0,04% 0,60% 1,70% 1,65% 2,47% 1,02% Kota Bandung 7,83% 7,23% 95,97% 18,17% 20,85% 0,06% 1,32% 9,68% 6,92% 8,05% 11,72% Kota Cirebon 1,89% 2,03% 1,46% 3,08% 0,18% 0,23% 1,81% 2,16% 2,46% 3,57% Kota Bekasi 4,49% 4,68% 0,93% 5,56% 8,00% 0,55% 1,81% 7,63% 9,84% 6,46% 7,86%

(48)
(49)

24 Kota Bandung 7,83% 7,23% 95,97% 18,17% 20,85% 0,06% 1,32% 9,68% 6,92% 8,05% 11,72% Kota Cirebon 1,89% 2,03% 1,46% 3,08% 0,18% 0,23% 1,81% 2,16% 2,46% 3,57% Kota Bekasi 4,49% 4,68% 0,93% 5,56% 8,00% 0,55% 1,81% 7,63% 9,84% 6,46% 7,86% Kota Depok 2,28% 2,37% 4,49% 1,26% 4,66% 0,07% 6,04% 5,03% 4,87% 3,99% 5,94% Kota Cimahi 1,97% 2,14% 3,60% 1,88% 0,16% 0,08% 0,04% 0,44% 2,04% 2,58% 2,45% 1,52% Kota Tasikmalaya 2,12% 2,21% 75,85% 1,46% 2,19% 31,57% 1,23% 4,14% 1,68% 0,84% Kota Banjar 0,88% 0,88% 0,57% 2,18% 1,34% 0,27% 1,10% 1,41% 0,91% 1,17%

(50)
(51)

25 Tabel 1.8

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

Tabel 1.9

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

II I JENUH DOMINAN BOGOR BANDUNG SUKABUMI GARUT CIANJUR TASIKMALAYA CIREBON INDRAMAYU

KOTA BANDUNG KARAWANG

(52)
(53)

Tabel 1.9

Posisi Kota/Kabupaten Pada Setiap Kuadran Dalam Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014

II I JENUH DOMINAN BOGOR BANDUNG SUKABUMI GARUT CIANJUR TASIKMALAYA CIREBON INDRAMAYU

KOTA BANDUNG KARAWANG

BEKASI KOTA BEKASI III IV RENDAH POTENSIAL CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN SUMEDANG

BANDUNG BARAT SUBANG

KOTA SUKABUMI PURWAKARTA

KOTA CIREBON KOTA BOGOR

KOTA DEPOK KOTA TASIKMALAYA

KOTA CIMAHI KOTA BANJAR

Pada tabel 1.9 menunjukan posisi setiap kota/kabupaten yang ada di Jawa Barat sesuai besaran anggaran yang di realisasikannya pada periode 2010-2015. Ada tujuh kabupaten kota pada kuadran I, lima berada di kuadran II, delapan  berada pada kuadran III dan enam kota kabupaten di kuadran IV.

1. Posisi Dominan

Pada kuadran satu terdapat tujuh. Kuadran I menunjukan bahwa rata-rata realisasi anggaran belanja kabupaten kota yang bersangkutan cukup tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini ditunjukan dengan besarnya nilai share disertai nilai

(54)
(55)

growth yang tinggi. Bandung, Karawang, dan Bekasi, beanja tertinggi pada Belanja Bagi Hasil. Untuk Garut, belanja pegawai tidak langsung, tasikmalaya  belanja tertinggi pada belanja keuangan dan kota bekasi belanja tertinggi pada  belanja pegawai langsung.

2. Posisi Jenuh

Pada kuadran dua terdapat lima kabupaten/kota. Kuadran II menunjukan peran realisasi anggaran belanja kota kabupaten yang besar dalam realisasi anggaran  belanja total Jawa Barat punya peluang mengecil karena pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupatennya kecil. Disini sumbangan realisasi anggaran  belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat tinggi,

namun pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupatennya rendah. Bogor dan Sukabumi belanja tertinggi adalah belanja bagi hasil. Cianjur belanja hibah, cirebon belanja tidak terduga, dan kota bandung belanja subsidi.

3. Posisi Rendah

Realisasi anggaran belanja kota kabupaten belum mengambil peran yang besar dalam realisasi anggaran belanja total Jawa Barat dan daerah belum punya kemampuan dalam mengembangkan potensi lokal. Sumbangan realisasi anggaran  belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat

rendah dan pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupaten rendah. Kota  bogor dan kota tasikmalaya belanja paling tinggi adalah belanja bunga. Majalaya  belanja pegawai. Sumedang belanja pegawai langsung, subang belanja keuangan,  purwakarta belanja hibah.

4. Posisi Potensial

Daerah mempunyai kemampuan untuk mengeembangkan potensi lokal sehingga realisasi anggaran belanja kota kabupaten berpeluang memiliki peran besar dalam realisasi anggaran belanja total Jawa Barat. Sumbangan realisasi anggaran belanja kota kabupaten terhadap realisasi anggaran belanja total Jawa Barat masih rendah namun pertumbuhan realisasi anggaran belanja kota kabupaten tinggi. Ciamis  belanja tertinggi pada belanja keuangan, kuningan belanja pegawai tidak langsung, bandung barat pada belanja bantua keuangan, kota sukabumi pada  belanja barang dan jasa, kota cirebon pada belanja modal, kota depok pada

(56)
(57)

 belanja tidak terduga, kota cimahi pada belanja bunga, dan kota banjar pada  belanja sosial.

Tabel 1.10

Tingkat Share Realisasi Anggaran Belanja Jawa Barat 2012-2014 Dari Tinggi Ke Rendah Pada Setiap Jenis Belanja

Belanja Tidak Langsung belanja tidak

langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Kota Bandung 7,83% Kota Bandung 7,23% Kota Tasikmalaya 75,85% Kota Bandung 95,97% Kota Bandung 18,17% Bogor 7,22% Bogor 6,24% Kota Bogor 13,21% Cianjur 3,99% Bogor 10,10% Bandung 6,01% Garut 6,13% Kota Depok 4,49% Subang 0,04% Cianjur 9,98% Garut 5,69% Bandung 5,82% Kota Cimahi 3,60% Bogor 0,00% Kota Bekasi 5,56% Cianjur 5,15% Cirebon 4,99% Sumedang 1,93% Sukabumi 0,00% Karawang 5,27%

Cirebon 4,91% Indramayu 4,82% Kota Bekasi 0,93% Bandung 0,00%

Bandung

Barat 4,76%

Karawang 4,69% Kota Bekasi 4,68% Bogor 0,00% Garut 0,00% Purwakarta 4,34% Kota Bekasi 4,49% Bekasi 4,50% Sukabumi 0,00% Tasikmalaya 0,00% Tasikmalaya 4,04% Indramayu 4,46% Karawang 4,47% Cianjur 0,00% Ciamis 0,00% Bekasi 3,92% Tasikmalaya 4,16% Majalengka 4,30% Bandung 0,00% Kuningan 0,00% Subang 3,69% Sukabumi 4,10% Tasikmalaya 4,12% Garut 0,00% Cirebon 0,00% Ciamis 3,67% Ciamis 4,00% Sukabumi 4,03% Tasikmalaya 0,00% Majalengka 0,00% Cirebon 3,62% Majalengka 3,92% Sumedang 3,99% Ciamis 0,00% Sumedang 0,00% Sukabumi 3,62% Sumedang 3,78% Ciamis 3,94% Kuningan 0,00% Indramayu 0,00% Bandung 2,75% Bekasi 3,62% Cianjur 3,86% Cirebon 0,00% Purwakarta 0,00% Kota Bogor 2,28% Subang 3,61% Kuningan 3,83% Majalengka 0,00% Karawang 0,00% Sumedang 2,09% Kuningan 3,56% Subang 3,50% Indramayu 0,00% Bekasi 0,00% Kota Cimahi 1,88% Bandung

Barat 2,97% Purwakarta 2,96% Subang 0,00%

Bandung

Barat 0,00%

Kota

Sukabumi 1,59% Purwakarta 2,96% Kota Bogor 2,78% Purwakarta 0,00% Pangandaran 0,00% Garut 1,56%

Kota Bogor 2,66%

Bandung

Barat 2,60% Karawang 0,00% Kota Bogor 0,00% Kota Cirebon 1,46%

Kota Depok 2,28% Kota Depok 2,37% Bekasi 0,00% Kota Sukabumi 0,00% Kota Tasikmalaya 1,46% Kota Tasikmalaya 2,12% Kota Tasikmalaya 2,21% Bandung

Barat 0,00% Kota Cirebon 0,00% Kota Depok 1,26% Kota Cimahi 1,97% Kota Cimahi 2,14% Pangandaran 0,00% Kota Bekasi 0,00% Kuningan 0,92%

Kota Cirebon 1,89% Kota Cirebon 2,03% Kota

Sukabumi 0,00% Kota Depok 0,00% Indramayu 0,86% Kota

Sukabumi 1,07% Kota

Sukabumi 1,55% Kota

Bandung 0,00% Kota Cimahi 0,00% Majalengka 0,60%

Kota Banjar 0,88% Kota Banjar 0,88% Kota Cirebon 0,00% Kota

Tasikmalaya 0,00% Kota Banjar 0,57% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Kota Banjar 0,00% Kota Banjar 0,00% Pangandaran 0,00%

(58)
(59)

Belanja Tidak Langsung Belanja Bantuan

Sosial Belanja Bagi Hasil

Belanja Bantuan Keuangan

Belanja Tidak Terduga belanja langsung JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Kota

Bandung 20,85% Bandung 24,37% Bogor 17,39% Kota

Tasikmalaya 31,57% Karawang 8,86% Bekasi 22,11% Bandung 9,79% Bekasi 19,65% Kota Bekasi 8,00% Bogor 20,54%

Bandung

Barat 8,04% Kota Depok 6,04% Kota Bogor 7,15% Karawang 11,42% Ciamis 6,63% Bogor 5,47% Bogor 4,71% Purwakarta 8,05% Tasikmalaya 6,16% Cirebon 5,46% Kota Depok 4,66% Sukabumi 6,25% Karawang 5,79% Bandung 4,61% Subang 4,23% Tasikmalaya 2,15% Subang 5,57% Subang 3,86% Cirebon 3,84% Ciamis 1,81% Sukabumi 5,50% Garut 2,52% Bandung

Barat 3,78% Sumedang 1,51% Cirebon 5,32% Sukabumi 2,35% Cianjur 3,70% Majalengka 0,80% Indramayu 4,78% Kota Bogor 2,19% Kota

Cirebon 3,08% Kuningan 0,56% Cianjur 4,68% Sumedang 2,10% Sukabumi 3,04% Cianjur 0,29% Bekasi 3,85% Kuningan 2,04% Tasikmalaya 2,99% Kota Cimahi 0,08% Garut 3,66% Kota Bekasi 1,81% Bekasi 2,92% Cirebon 0,06% Majalengka 3,54%

Bandung

Barat 1,66%

Bandung 2,54% Garut 0,01% Kuningan 3,20% Ciamis 1,42% Kota

Sukabumi 2,32% Indramayu 0,00% Sumedang 3,04% Kota

Bandung 1,32% Kota

Tasikmalaya 2,19% Subang 0,00% Kota Banjar 1,34% Cianjur 1,26% Kota Banjar 2,18%

Bandung

Barat 0,00% Purwakarta 0,77% Tasikmalaya 1,07% Ciamis 1,94% Pangandaran 0,00% Kota Bekasi 0,55% Karawang 0,80% Purwakarta 1,86% Kota Bogor 0,00%

Kota Cirebon 0,18% Kota Sukabumi 0,60% Sumedang 1,51% Kota

Sukabumi 0,00% Kota Depok 0,07% Indramayu 0,60%

Garut 1,47% Kota Bandung 0,00% Kota Bandung 0,06% Purwakarta 0,49% Indramayu 1,05% Kota Cirebon 0,00% Kota

Sukabumi 0,04% Kota Cimahi 0,44% Kuningan 0,90% Kota Bekasi 0,00% Kota Cimahi 0,04% Kota Banjar 0,27% Kota Cimahi 0,16% Kota Depok 0,00% Kota Bogor 0,02%

Kota

Cirebon 0,23% Majalengka 0,06%

Kota

Tasikmalaya 0,00% Pangandaran 0,00% Majalengka 0,18% Pangandaran 0,00% Kota Banjar 0,00%

Kota

(60)
(61)

BELANJA LANGSUNG

belanja langsung Belanja Pegawai

Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% JUMLAH TOTAL 100,00% Bogor 10,83% Bogor 10,22% Bogor 9,20% Bogor 12,30% Kota

Bandung 9,68% Kota Bekasi 9,84%

Kota

Bandung 8,05%

Kota

Bandung 11,72% Kota Bekasi 7,63% Karawang 8,25% Bandung 6,64% Bekasi 8,47% Bekasi 7,02%

Kota

Bandung 6,92% Bekasi 6,56% Kota Bekasi 7,86% Karawang 6,40% Bandung 5,06% Kota Bekasi 6,46% Kota Depok 5,94% Bandung 5,66% Kota Depok 4,87% Karawang 5,92% Bandung 4,90% Kota Depok 5,03% Cirebon 4,45% Sukabumi 5,28% Garut 4,76% Garut 4,71% Sukabumi 4,36% Indramayu 4,99% Karawang 4,25% Cirebon 3,90% Garut 4,26% Cirebon 4,76%

Kota

Cirebon 3,57% Sukabumi 3,80% Sumedang 4,24% Garut 4,67% Kota Bogor 3,26% Indramayu 3,33%

Kota

Tasikmalaya 4,14% Kota Depok 3,99% Majalengka 3,20% Kota Bogor 3,29% Kota Bogor 3,65% Kota Bogor 3,19% Cirebon 2,97% Cianjur 2,88% Majalengka 2,87% Cianjur 3,15% Cianjur 2,87% Majalengka 2,87% Bekasi 2,64% Bandung Barat 2,86% Bandung Barat 2,66% Bandung

Barat 2,72% Kota Cimahi 2,58%

Kota

Sukabumi 2,47% Subang 2,53% Sumedang 2,49% Purwakarta 2,54% Sumedang 2,46% Sukabumi 2,34% Subang 2,27% Kuningan 2,45% Majalengka 2,46% Indramayu 2,21% Purwakarta 2,06% Ciamis 2,37%

Kota

Cirebon 2,46% Ciamis 2,08% Kota Cimahi 2,04%

Bandung

Barat 2,35% Kota Cimahi 2,45% Sumedang 2,04% Ciamis 1,95%

Kota

Cirebon 2,16% Subang 2,15% Tasikmalaya 1,94% Kuningan 1,89% Indramayu 1,89% Purwakarta 2,07% Purwakarta 1,92% Kota

Cirebon 1,81% Cianjur 1,84% Kuningan 1,99% Kuningan 1,64% Tasikmalaya 1,72%

Kota

Sukabumi 1,65%

Kota

Tasikmalaya 1,68% Kota Cimahi 1,52% Kota

Sukabumi 1,70% Subang 1,56% Ciamis 1,65% Kota Banjar 1,17% Kota

Tasikmalaya 1,23% Tasikmalaya 1,43% Tasikmalaya 1,53%

Kota

Sukabumi 1,02% Kota Banjar 1,10% Kota Banjar 1,41% Kota Banjar 0,91%

Kota

Tasikmalaya 0,84% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00% Pangandaran 0,00%

(62)
(63)

Tabel 1.11

Ranking setiap kota/kabupaten pada setiap kuadran pada Realisasi Anggaran 2012-2014

Wilayah Provinsi

Belanja Tidak Langsung Belanja Langsung

Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal Kuadran I Bandung 3 4 14 15 1 2 6 6 5 3 6 Garut 4 3 19 22 15 13 8 8 9 10 7 Tasikmalaya 10 11 8 13 7 5 18 23 25 25 20 Indramayu 9 6 24 23 10 21 11 21 8 17 Kerawang 7 9 5 2 4 6 19 5 3 6 8 Bekasi 15 8 9 14 2 12 2 4 14 4 3 Kota Bekasi 8 7 6 4 3 19 13 3 2 5 4 Kuadran II Bogor 2 2 2 5 3 1 4 1 1 1 1 Sukabumi 11 12 13 12 6 8 9 10 8 7 16 Cianjur 27 15 2 3 10 12 11 17 13 22 13 13 Cirebon 6 5 12 8 14 9 5 9 7 9 12 Kota Bandung 1 1 1 1 1 22 16 2 4 2 2 Kuadran III Ciamis 12 14 11 19 8 4 15 20 18 18 Kuningan 17 16 23 24 11 15 12 21 17 23 22 Bandung Brat 18 20 6 9 3 14 15 19 14 14 Kota Sukabumi 25 25 18 16 23 20 24 23 15 25 Kota Cirebon 24 24 20 11 20 25 22 20 18 9 Kota Depok 21 21 3 22 6 21 3 7 6 11 5 Kota Cimahi 23 23 4 17 25 13 24 23 19 15 20 23 Kota Banjar 26 26 26 18 17 24 26 26 26 24 Kuadran IV Majaengka 13 10 25 26 10 14 26 14 13 17 11 Sumedang 14 13 5 16 21 9 16 11 16 10 16 19 Subang 16 17 3 10 7 7 7 17 24 21 15 Purwakarta 19 18 7 20 5 18 22 18 16 22 21 Kota Bogor 20 19 2 15 4 25 10 12 12 12 10 Kota Tasikmalaya 22 22 1 21 17 1 25 11 24 26

(64)
(65)

Selama ini, pelaksanaan pemerintahan di daerah sebagian besar di biayai oleh pusat atau subsidi daerah otonomi. Tetapi justru yang terjadi saat ini  penyerapan anggaran di beberapa daerah terbilang cukup minim. Ada bermacam  penyebab yang menimbulkan seretnya penyerapan anggaran di daerah, mulai dari

masih:

1) adanya kegamangan aparat pengelola anggaran di tingkat instansi, 2) lambatnya proses tender,

3) lambatnya pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran, 4) kurangnya SDM yang bersertifikat, sampai dengan: 5) kelemahan dalam perencanaan awal,

6) kelemahan dalam sistem pengendalian intern di bidang pengadaan barang dan  jasa, serta

7) lambatnya penerbitan juklak dan juknis pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK.

Lambatnya pengesahan DPA, terutama petunjuk pelaksanaan (juklak) dan  petunjuk teknis (juknis) dari pusat, juga menyebabkan rendahnya tingkat realisasi anggaran belanja. Keterlambatan biasanya terjadi pada kegiatan-kegiatan yang didanai pusat. Itu pun biasana lebih dikarenakan belum adanya juklak dan juknis dari instansi pusat sebagai penyandang dana. Biasanya daerah tidak berani melangkah sebelum ada petunjuk dari pusat. Sebaiknya kucuran dana harus dibarengi dengan regulasi yang jelas. Dilain sisi, kualitas penyerapan anggaran utamanya melihat lebih jauh apakah realisasi hasil serapan itu memang benar- benar berguna bagi masyarakat luas yang juga memenuhi kriteria tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jumlahnya. Dengan kata lain, hal ini juga untuk mengevaluasi apakah output/outcome dari suatu kegiatan berdasarkan anggaran  berbasis kinerja (ABK) telah benar-benar mencapai manfaatnya atau belum.

Mengenai fenomena yang sudah umum terjadi di setiap unit kerja terkait  percepatan penyerapan anggaran di akhir tahun, unit kerja harusnya telah lama

menyiapkan administrasinya dan walaupun dalam waktu yang sempit unit kerja  bisa melaksanakan pekerjaan tersebut. Disitulah tantangan bagi aparat  pengawasan teknis seperti BPKP dan BPK. Disamping itu, Pemerintah Provinsi

(66)
(67)

Jawa Barat harusnya memanfaatkan SDM BPKP yang memang kompeten di  bidang pengelolaan anggaran, keuangan, dan audit serta bersinergi dengan BPKP

dalam berbagai penugasan khususnya inspektorat provinsi.

E-Procurement

Lambatnya penyerapan anggaran sering dikaitkan dengan berlarutnya  proses pengadaan barang dan jasa. Oleh karena itu untuk memercepat pelaksanaan anggaran, LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah) mendorong instansi pemerintah untuk menerapkan pengadaan barang/jasa secara elektronis atau yang lebih dikenal dengan e-procurement (e-proc).

Terkait dengan hal ini, Pemprov Jawa Barat mulai tahun 2008 telah melaksanakan e-proc. Di samping itu lelang dilaksanakan sebelum DPA-nya terbit, sehingga ketika DPA terbit para pihak tinggal menandatangani kontrak. Hal ini dilakukan agar proses tender menjadi lebih cepat dan efektif. Bahkan Jawa Barat mendapat penghargaan, Penghargaan tersebut merupakan penghargaan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang diterima Jawa Barat untuk keenam kalinya. Memulai LPSE pada 2008, Jawa Barat merupakan provinsi yang menggunakan sistem tersebut paling awal.

(68)
(69)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari studi kasus yang telah dibahas menujukkan bahwa belanja merupakan  pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan wewenang dan tanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah pusat. Belanja yang dilakukan diharapkan dapat berdampak positif pada pembangunan dan  pelayanan publik pada masyarakat. Berdasarkan struktur anggaran daerah,

elemen-elemen yang termasuk dalam belanja daerah terdiri dari belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan,  belanja tidak tersangka. Dilihat dari studi kasus provinsi Jawa Barat menunjukkan  bahwa belanja daerah yang dilakukan sudah menunjukan nilai yang efetif dari tahun ke tahun yang di buktikan dengan mendapatkan penghargaan e- procurement   dalam peningkatan pelayan publik dan pembanguan didaerahnya.

Penganggaran yang efektif dan efisien itu hendaknya dilakukan berdasarkan azas efisiensi, tepat guna, tepat pelaksanaanya dan dapat dipertanggung jawabkan.

Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan masyarakat bukan hanya menguntungkan satu atau beberapa pihak saja.

B. Saran

 Menekan belanja hibah yang terlalu besar dengan cara memperbaiki sistem

alokasi dananya.

 Provinsi Jawa Barat diharapakan dapat memprioritaskan alokasi anggaran

 belanja daerah pada sektor-sektor peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang berkualitas, serta mengembangkan sistem jaminan sosial secara menyeluruh kepada semua

(70)

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

PENJABARAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH.. TAHUN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja belanja daerah dalam laporan realisasi anggaran mengenai selisih antara realisasi belanja dengan anggaran belanja,

Halaman 6 LAMPIRAN II PENJABARAN PERTANGGUNGJAWABAN - PENJABARAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN

Hasil dari penelitian yang dilakukan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Samarinda mengenai analisis laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja

LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DECEMBER 2015 DAN 2014.. PEMERINTAH

LAMPIRAN II PENJABARAN PERTANGGUNGJAWABAN - PENJABARAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH.. REALISASI ANGGARAN 2018 Nomor

Uraian Jumlah Dalam Rupiah LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Realisasi Anggaran PEMERINTAH KABUPATEN AGAM 2017 SKPD : 3.02.02.01... WELFIZAR, M.Si Kepala

Laporan realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Gorontalo untuk urusan pemerintahan Sekretariat Daerah tahun