• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Studi Literatur Dan Studi Banding

1. Studi Literatur

a) Pasar Seni Sukawati Bali

Gambar 26. Pasar Seni Sukawati Bali (Sumber : www.google.com)

Pasar Seni Sukawati terletak di kabupaten Gianyar, Bali yang berada di jalan raya Desa Sukawati, pada dimana di awal tahun 1983 beberapa pengerajin yang merangkap menjadi pedagang yang mengacung kerajinannya ke Denpasar tepatnya di Desa Balun sering ditertibkan oleh petugas keamanan (Trantib) Pemda setempat, yang akhirnya pedagang acung tersebut mencoba menghimpun diri dan selanjutnya menyampaikan hal ini kepada pihak Desa dan Kecamatan Sukawati karena kebanyakan pedagang tersebut berasal dari wilayah Sukawati. Atas usulan dan musyawarah di tingkat Desa dan Kecamatan, dipinjamkan tempat sementara di Banjar Tebuana dan Banjar Dlodtangluk Desa Sukawati sebagai tempat berjualan

66

bagi para pengrajin, dimana lokasi ini milik Desa Adat Sukawati.

Baru pada pertengahan tahun 1983, atas prakarsa Pemerintah Kabupaten Gianyar, sebagai wujud perhatian terhadap para pengrajin diadakanlah pembebasan tanah dan dibangun 1 unit bangunan / gedung Pasar Seni Sukawati (yang sekarang berlokasi di Blok B), dimana gedung tersebut diresmikan langsung oleh Gubernur bali pada saat itu Bapak Prof.Dr.Ida Bagus Mantra tepatnya tanggal 25 Mei 1985.

Setelah Pasar Seni diresmikan dan banyaknya pengrajin yang berkeinginan untuk berjualan di Pasar Seni, maka diawal tahun 1990 Pemerintah Kabupaten Gianyar kembali membangun 2 blok gedung lagi yaitu Blok A dan Blok C yang berfungsi efektif pada tahun 1991. Adapun maksud didirikannya Pasar Seni Sukawati ini adalah :

1) Menampung para pengerajin.

2) Membantu pengadaan pemasaran.

3) Membuka lowongan pekerjaan.

Dan tujuannya adalah :

1) Meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat.

2) Peningkatan pendapatan daerah khususnya di Pos Retribusi Pasar

3) Mengurangi pengangguran.

67

Saat ini Pasar Seni Sukawati yang telah berdiri selama 29 tahun biasa beroperasi mulai pukul 09.00 – 17.00 Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) ini telah mengalami perkembangan yang pesat semenjak berdiri, hampir setiap wisatawan domestik maupun internasional yang berlibur ke Bali pasti menyempatkan diri untuk mengunjungi

Pasar Seni Sukawati untuk mencari cinderamata sebagai buah tangan untuk kerabatnya di daerah asal, Pasar Seni Sukawati banyak menyediakan souvenir-souvenir khas pulau Bali seperti patung ukiran, lukisan, pernak-pernik khas Bali, pakaian, dan sebagainya.

Pasar Seni Sukawati mempunyai gedung dengan luas bangunan 1137,12 meter persegi, dan jumlah seluruh stand 770 meja dan masing - masing stand luasnya 1,20 meter.

Pasar Seni Sukawati mempunyai 3 blok dan masing - masing blok mempunyai dua lantai masing-masing blok tersebut adalah :

1) Blok A terletak di sisi paling depan dengan luas bangunan 281,52 meter persegi dengan jumlah total stand 167 meja dengan luas 199,30 meter.

2) Blok B terletak di tengah antara blok A dan C dengan luas bangunan 507,6 meter persegi dengan jumlah total stand 406 meja dengan luas 489,8 meter.

68

3) Blok C terletak di belakang Blok B dengan luas bangunan 348 meter persegi dengan jumlah total stand 197 meja dengan luas 235,20 meter.

Adapun rincian data jumlah pedagang tetap pada Pasar Seni Sukawati menurut data tahun 2012 yaitu :

1. Blok A lantai I dan II : 167 pedagang 2. Blok B lantai I : 208 pedagang 3. Blok B lantai II : 198 pedagang 4. Blok C lantai I dan II : 197 pedagang 5. Kios (luar gedung) : 22 pedagang 6. Pedagang Senggol : 37 pedagang

Total 829 pedagang

Seperti pasar tradisional pada umumnya, para pedagang di Pasar Seni Sukawati memberikan harga jual yang berbeda-beda pada setiap kiosnya, dan jika harga yang ditawarkan terlalu mahal para wisatawan dapat melakukan tawar menawar sampai harga yang di sepakati oleh kedua belah pihak. Pada Pasar Seni Sukawati ini selain para pedagang tetap yang berjualan di sekitar area yang telah ditetapkan, ada juga para pedagang-pedagang kerajinan lepas atau pedagang acung yang biasanya datang pada saat musim liburan-liburan tiba dan saat-saat banyak wisatawan yang sedang berkunjung ke sana. Para pedagang-pedagang lepas atau pedagang acung ini juga mendapatkan perhatian dari pengelola Pasar Seni

69

Sukawati dan di tempatkan pada area sekitar luar gedung Pasar Seni serta setiap pedagang lepas atau pedagang acung ini dikenai biaya retribusi harian sebagaimana juga dengan pedagang tetap lainnya.

b. Pasar Beringharjo Jogja

Gambar 27. Pasar Beringharjo Jogja (Sumber : www.google.com)

Pasar Beringharjo adalah pasar tertua dengan nilai historis dan filosifis yang tidak dapat dipisahkan dengan Kraton Yogyakarta. Pasar Beringharjo adalah salah satu ikon sekaligus destinasi wisata utama di kota Yogyakarta. Cikal bakal pasar ini diawali dari aktivitas jual beli yang sudah ada sejak tahun 1758. Beringharjo memiliki makna harafiah hutan pohon beringin yang diharapkan memberikan kesejahteraan bagi warga Yogyakarta.

Sebuah fragmen bagian dari Malioboro. Pasar Beringharjo terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 16, Yogyakarta. pasar

70

ini telah menjadi sentra ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Sebagai salah satu pilar Catur Tunggal yang terdiri dari Kraton, Alun-alun Utara, Masjid Agung dan Pasar Beringharjo senidiri.

Jika mengunjungi Pasar Beringharjo terdapat banyak jenis barang yang dapat dibeli, mulai dari batik, jajanan pasar, uang kuno, pakaian anak dan dewasa, makanan cepat saji, bahan dasar jamu tradisional, sembako hingga barang antik. Wilayah Pasar Beringharjo pada awalnya ialah hutan pohon beringin.

Tiga tahun setelah Perjanjian Gianti, wilayah pasar ini menjadi tempat transaksi ekonomi bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya. Pembangunan Pasar Beringharjo secara permanen di mulai pada awal tahun 1920 yang ditandai adanya bangunan yang sudah jadi pada tahun 1925. Keraton Yogyakarta menugaskan Nederlansch Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda) untuk membangun los-los pasar.

Pada akhir Agustus 1925, 11 kios telah terselesaikan dan yang lainnya menyusul secara bertahap. Asal mula nama Beringharjo diberikan oleh Sri Sultan HB IX yang artinya membawa kesejahteraan. Tidak lama setelah berdirinya Kraton Yogyakarta pada tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Jika dilihat dari ciri khas bangunan Pasar Beringharjo, pada interior bangunan yang merupakan perpaduan antara arsitektur

71

colonial dan tradisional jawa. Secara umum Pasar Beringharjo terdiri dari dua bangunan yang terpisah, yaitu bagian barat dan bagian timur. Bangunan utama di bagian barat terdiri dari dua lantai.

Adapun bangunan yang kedua di bagian timur terdiri dari tiga lantai.

Pada pintu masuk utama pasar ini terletak di bagian barat dan tepat menghadap Jalan Malioboro.

Pintu gerbang ini merupakan bangunan dengan ciri khas colonial bertuliskan Pasar Beringharjo dengan aksara Latin dan Aksara Jawa. Pada sisi kanan dan kiri pintu utama terdapat dua buah ruangan berukuran 2,5 x 3,5 meter yang digunakan untuk kantor pengelola pasar. Pintu utama ini berhubungan langsung dengan jalan utama pasar yang dibangun lurus dari arah barat ke timur.

Lebar jalan utama di dalam pasar ini berkisar 2 meter dengan los-los terbuka di sisi kanan dan kiri. Di samping pintu utama, terdapat pula pintu-pintu masuk yang lainnya di bagian utara, timur dan selatan dengan ukuran lebih kecil dibandingkan pintu utama.

Sebagai pasar tradisional kelas 1, Pasar Beringharjo memiliki layanan transaksi ekonomi berskala nasional. Pada saat ini, Pasar Beringharjo menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang besar untuk kawasan Malioboro. Bangunan bertingkat yang setiap lantainya diisi oleh bebagai macam komoditas perdagangan mulai dari konveksi, aksesoris, sembako, dan rempah-rempah. Pasar beringharjo sudah menjadi salah satu tujuan wisata belanja bagi wisatawan yang berkunjung di Kota Yogyakarta.

72

Berbasiskan pasar tradisional serta berkolaborasikan dengan gaya modern membuat pasar ini membawa banyak cerita bagi para pengunjungnya untuk kembali dan membawa teman-teman atau 2 keluarganya berkunjung ke Pasar Beringharjo lagi. Puncak kepadatan yang terjadi di Pasar Beringharjo biasanya pada saat musim liburan, dimana banyak wisatawan berbondong-bondong mengunjungi Pasar Beringharjo dengan berbagai macam kepentingan atau hanya sekedar berjalanjalan.

Pasar Beringharjo bisa dikatakan memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan jaman. Dengan ditandainya banyak perubahan dalam aktifitas masyarakat termasuk dalam hal berbelanja. Pasar Beringharjo berdiri diantara pusat perbelanjaan modern, pasar ini mampu bertahan dan memberikan sentuhan tradisional yang unik ketika bertransaksi antara penjual dan pembelinya. Tawar menawar harga menjadi semacam bentuk komunikasi yang terjalin mulai dari cara menawar yang ringan hingga sistem tembak langung harga yang diinginkan.

Tidak dapat di pungkiri bahwa citra yang kuat melekat pada Pasar Beringharjo adalah sebagai pusat penjualan batik baik yang berupa lembaran kain maupun pakaian jadi. Batik memang menjadi etalase utama di Pasar Beringharjo. Puluhan los dengan ratusan penjual batik menjadi pengisi dari bagian depan pasar. Bahkan ketika wisatawan meginjakan kaki pertama kali memasuki pintu utama Pasar Beringharjo, pengunjung sudah langsung dihadapkan

73

dengan barisan kios penjaja batik yang siap memanjakan mata dan hasrat anda untuk memburu batik sesuai selera masing-masing.

Begitu kuatnya citra Pasar Beringharjo sebagai sentra penjualan batik membuat banyak orang termasuk wisatawan menjadikan belanja batik sebagai agenda utama jika berkunjung ke Yogyakarta atau Malioboro. Harganya yang dikenal murah dengan pilihan corak dan bentuk yang beragam, membuat pengunjung sangat dimanjakan di pasar ini. Tetapi tak jarang pembeli kecewa ketika berbelanja di Pasar Beringharjo.

Transportasi Pasar

Beringharjo berada diposisi yang sangat strategis karena berada di pusat keramaian daerah Jalan Malioboro dan Stasiun Kereta Api Tugu. Penumpang Kereta Api yang berhenti di Stasiun Tugu, langsung bisa menuju Pasar Beringharjo yang berada di Jalan Malioboro dengan cara berjalan kaki atau memanfaatkan kendaraan yang ada disekitar Stasiun Tugu seperti taksi, becak ojek, andong dan lainnya.

Disekitar Statiun Tugu banyak sekali alat transportasi yang akan mengantar anda kemana saja. Tinggal memilih saja kendaraan yang kita inginkan.

Untuk pelancong yang turun di Terminal Bus Giwangan, bisa memanfaatkan Bus Kota atau Trans Jogja dengan trayek Jl Malioboro. Begitupun wistawan dari bandara bisa memanfaatkan taksi bandara maupun Trans Jogja karena lokasi ini dipusat kota

74

sehingga cukup terjangkau dari manapun. Tarif yang ditawarkan relatif terjangkau bagi para wisatawan.

Jam Operasional

Pasar Beringharjo Pasar Beringharjo buka setiap hari mulai sekitar pukul 05.00 pagi dan resmi tutup pada sore hari pukul 17.00 wib. Tapi denyut Pasar Beringharjo tidak lantas mati. Karena mulai pukul 18.00 hingga tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan aneka makanan kikil dan varian oseng-oseng.

Sembari menyantap makanan gudeg yang anda beli, anda bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab para wisatawan yang sedang menyantap hidangan. Memang Pasar Beringharjo tidak ada matinya karena bersebelahan langsung dengan Benteng Vlederberg dan Jalan Malioboro yang setiap harinya pasti di kunjungi oleh wisatawan local maupun mancanegara.

75

Dokumen terkait