• Tidak ada hasil yang ditemukan

REDESAIN PASAR SENTRAL MAKALE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "REDESAIN PASAR SENTRAL MAKALE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULER"

Copied!
254
0
0

Teks penuh

(1)

REDESAIN PASAR SENTRAL MAKALE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULER

ACUAN PERANCANGAN

Dianjurkan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Bosowa Makassar

OLEH:

INGGRID SARI PUTRI PASAK 45 17 043 005

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BOSOWA

2021/2022

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena Berkat Rahmat dan Karunianya, sehingga skripsi yang berjudul “Redesain Pasar Sental Makale Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakuler di Tana Toraja” ini dapat terselesaikan, yang menjadi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Bosowa.

Penulis menyadari bahwa acuan ini bukanlah sesuatu yang mudah sebab tidak di pungkiri dalam penyusunanya terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu dengan segenap kerendahan hati penulis memohon maaf dan mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun kesempurnaan skripsi ini.

Selama penelitian dan penulisan skripsi ini banyak sekali hambatan yang penulis alami, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang di miliki penulis namun berkat bantuan dan dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pihak lain pada umumnya.

Proses penulisan skripsi ini mulai dari pengumpulan data/ studi litelatur, pengolahan data, hingga sampai pada proses perancangan melibatkan banyak pihak yang memberikan kontribusi yang sangat banyak bagi penulis. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya kepada semua orang yang telah membantu secara langsung masupun tidak langsung selama pembuatan skripsi ini. Terutama kepada keluarga saya yang tercinta, Ibu Selvi Rantepadang, bapak Jacob Ra’da’ selaku kedua orang tua saya, yang selalu mendoakan saya serta memberikan semangat yang luar biasa dan memberikan dukungan moril maupun materi. Untuk kakak saya Indri Saputra Pasak dan adik saya Indra William Saputra Pasak yang selalu memberikan doa dan semangat.

Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan juga kepada yang penulis hormati yaitu

1. Bapak Ridwan, ST., M.Si selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Bosowa Makassar.

(4)

2. Bapak Syamsuddin Mustafa, ST.,MT selaku Dosen Pembimbing Akademik dan sekaligus menjadi Dosen Pembimbing I dalam penyusunan skripsi ini.

3. Bapak Sudarman Abdullah, ST., MT selaku Dosen Pembimbing II.

4. Untuk seluruh Bapak Ibu Dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Bosowa.

5. Untuk seluruh staf akademik Fakultas Teknik Universitas Bosowa dan seluruh intansi yang terlibat.

6. Untuk teman–teman seperjuangan sekaligus sahabat saya di Fakultas Teknik Universitas Bosowa, yang selalu ada dan memberikan semangat dan menghiburku.

7. Untuk sahabat tercinta saya yang selalu memberikan support di SMK dan SMP hingga detik ini yaitu Yulinar, Virda, Agata Nansi.

Akhirnya penulis berharap bahwa apa yang ada di dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan ilmu pengetahuan, terutama dalan bidang arsitektur. Sekian dan terima kasih.

Makassar, 12 September 2021 Penyusun

INGGRID SARI PUTRI PASAK 45 17 043 005

(5)

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Sasaran Pembahasan ... 7

D. Batasan Pembahasan ... 7

E. Metode Pembahasan ... 8

F. Sistematika Penulisan ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Secara Umum ... 11

1. Pengertian Pasar ... 11

2. Peranan Pasar ... 12

3. Fungsi Pasar ... 13

4. Pengguna Pasar... 14

5. Kebutuhan Sarana dan Prasarana Pasar ... 15

6. Jenis-jenis Pasar ... 16

B. Tinjauan Pasar Tradisional ... 20

1. Pegertian Pasar Tradisional ... 20

2. Ciri-ciri Pasar Tradisional ... 21

(6)

v

3. Karasteristik Pasar Tradisional ... 23

4. Karakter/Budaya Konsumen ... 24

5. Syarat-syarat Pasar Tradisional ... 24

6. Tipe Tempat Berjualan Pada Pasar ... 25

7. Permasalahan Umum Yang Dihadapi Pasar Tradisional ... 25

8. Unsur Pasar Tradisional ... 26

C. Tinjauan Pasar Modern ... 27

1. Pegertian Pasar Modern... 27

2. Karakteristik Pasar Modern ... 28

D. Persyaratan,Kebutuhan/Tuntutan, Standar-standar Perencanaan dan Standar-standar Perancangan ... 30

1. Indikator Pengelolaan ... 30

2. Struktur Organisasi Pasar ... 32

3. Standar Operasional Prosedur (SOP) ... 33

4. Peningkatan Mutu dan Pembenahan Sarana Fisik Pasar ... 37

5. Standar-standar Sarana Prasarana Pasar Tradisional ... 41

E. Tinjauan Konsep Pendekatan Arsitektur Neo Vernakuler ... 47

1. Pengertian Arsitektur Neo Vernakuler ... 47

2. Sejarah Perkembangan Arsitektur Neo Vernakuler ... 53

3. Ciri-ciri Gaya Arsitektur Neo Vernakuler ... 57

4. Prinsip Desain Arsitektur Neo Vernakuler ... 58

5. Tinjauan Arsitektur Neo Vernakuler ... 59

6. Contoh Karya Arsitektur Neo Vernakuler ... 61

F. Redesain ... 62

1. Pengertian Redesain ... 62

2. Tinjauan tentang redesain ... 63

G. Kondisi Eksisting Pasar Sentral Makale ... 64

H. Studi Literatur Dan Studi Banding ... 65

1. Studi Literatur... 65

(7)

vi

a. Pasar Seni Sukawati Bali ... 65

b. Pasar Beringharjo Jogja ... 69

2. Studi Banding ... 75

a. Pasar Hartako ... 75

b. Pasar Kampung Baru ... 82

3. Kesimpulan Studi Literatur dan Studi Banding ... 86

BAB III PENDEKATAN ACUAN PERANCANGAN A. Tinjauan Khusus Kabupaten Tana Toraja ... 87

1. Letak Geografis dan Wilayah Administrasi ... 87

2. Kondisi Lingkungan ...90

a. Topografi ...90

b. Geologi ...91

c. Hidrologi ...92

3. Kondisi Non Fisik Kabupaten Tana Toraja ...92

a. Kependudukan ...92

b. Ekonomi ...93

c. Sarana dan Prasarana ...95

4. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Tana Toraja ...97

a. Kawasan Peruntukan Lainnya ...97

b. Kepadatan dan Ketinggian Bangunan ... 97

B. Tinjauan Terhadap Pasar Sentral Makale ... 100

1. Lingkungan Sekitar Tapak ... 101

2. Lingkungan Dalam Tapak ... 102

BAB IV PENDEKATAN ACUAN PERANCANGAN A. Pendekatan Dasar Peranangan ...106

B. Pendekatan Acuan Perancangan Makro ...107

1. Pendekatan Penentuan Lokasi ...107

2. Menentukan Tapak ...107

(8)

vii

3. Analisa Tapak ...107

4. Tata Massa ...110

5. Sistem Sirkulasi ...111

C. Pendekatan Acuan Perancangan Mikro ...109

1. Program Ruang ...111

2. Besaran Ruang ...113

3. Bentuk dan Penampilan Bangunan ...116

4. Struktur Bangunan ...114

5. Utilitas Bangunan ...119

6. Sistem Utilitas ...120

BAB V ACUAN PERANCANGAN ... A. Acuan Perancangan Makro ...123

1. Lokasi ...123

2. Tapak ...124

B. Acuan Perancangan Mikro ...132

1. Program Ruang ...130

2. Prediksi Besaran Ruang ...133

3. Analisa Kebutuhan Ruang ...134

4. Besaran Ruang ...137

5. Rekapitulasi Besaran Ruang ...140

6. Analisa Luas Lahan dan Luas Bangunan ...140

7. Hubungan Ruang ...141

8. Struktur dan Material Bangunan ...144

9. Sistem Utilitas Bangunan ...148

10. Sistem Perlengkapan Bangunan ...153

11. Bentuk dan Tampilan Bangunan ...156

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... A. Kesimpulan ...158

B. Saran ...159

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kondisi Pasar Sentral Makale ...4

Gambar 2. Antropometrik pos kerja yang berdekatan/tata letak bentuk Garis ...39

Gambar 3. Antropometrik Pos Kerja Yang Berdekatan/Bentuk U ...39

Gambar 4. Standar Perabot Penjualan Daging Dan Ikan ...42

Gambar 5. Standar Lapak Kecil ...42

Gambar 6. Skema Lalu-Lintas Dan Penataan Los Toko Buah-Buahan Dan Sayuran ...42

Gambar 7. Sirkulasi Dalam Pasar ...43

Gambar 8. Standar Lapak Sedang ...43

Gambar 9. Standar Lapak Sedang ...43

Gambar 10. Sirkulasi Dalam Pasar ...44

Gambar 11. Antropometrik Konter Makanan ...44

Gambar 12. Antropometrik Konter Makanan ...44

Gambar 13. Antropometrik Konter Untuk Makan/ Jarak Bersih Antara Kursi (Stool) ...45

Gambar 14. Antropometrik Konter Untuk Makan/ Jarak Bersih Meja ...45

Gambar 15. Antropometrik Meja Makan...46

Gambar 16. Antropometrik Tata Letak Urinal ...46

Gambar 17. Antropometrik Kukus/WC ...46

Gambar 18. Antropometrik Tata Letak Lavatory ...47

Gambar 19. Istana Budaya, Malaysia ...49

Gambar 20. Mapungubwe Interpretation Center, Afrika Selatan ...50

Gambar 21. Bandara Soekarno-Hatta ...61

(10)

ix

Gambar 22. Asakusa Tourist Information Center ...62

Gambar 23. Kondisi Pasar Sentral Makale ...64

Gambar 24. Kondisi Pasar Sentral Makale ...64

Gambar 25. Kondisi Pasar Sentral Makale ...64

Gambar 26. Pasar Seni Sukawati Bali ...65

Gambar 27. Pasar Beringharjo Jogja ...69

Gambar 28. Pasar Hartaco ( Parang Tambung) ...75

Gambar 29. Site pasar Hartaco (Parang Tambung) ...76

Gambar 30. Analisa Lingkungan Dan Tapak Hartaco (Parang Tambung) ...77

Gambar 31. Analisa Di Dalam Pasar Hartaco (Parang Tambung) ...79

Gambar 32. Analisa di dalam Pasar Hartaco (Parang Tambung) ...79

Gambar 33. Pasar kampung baru ...82

Gambar 34. Losd Khusus Daging Pasar Kampung Baru ...83

Gambar 35. Losd Sayuran Dan Sembako ...83

Gambar 36. Kios Pasar kampung baru ...84

Gambar 37. Peta Administrasi Kabupaten Tana Toraja ...87

Gambar 38. Batas pasar sentral Makale ...100

Gambar 39. Batas dan Kondisi Lingkungan Tapak ...101

Gambar 40. Kondisi Lingkungan dalam pasar ...103

Gambar 41. Kondisi Lingkungan dalam pasar ...104

Gambar 42. Peta Kecamatan Makale ...123

Gambar 43. Lokasi Pasar Sental Makale ...123

Gambar 44. Orientasi Matahari...125

(11)

x

Gambar 45. Arah Angin ...127

Gambar 46. Kebisingan Sekitar Tapak ...128

Gambar 47. Pencapaian dan Sirkulasi ...130

Gambar 48. Pencapaian dan Sirkulasi ...131

Gambar 49. Hubungan Ruang Perdagangan ...141

Gambar 50. Hubungan Ruang Pengelola ...142

Gambar 51. Hubungan Ruang Fungsi Utilitas ...143

Gambar 52. Sistem Jaringan Air Bersih ...148

Gambar 53. Sistem Pembuangan Air Kotor ...149

Gambar 54. Jaringan Listrik ...150

Gambar 55. Close Circuit Televisoin (CCTV) ...151

Gambar 56. Fire Hydrant dan Fire Extinguisher ... 151

Gambar 57. Sistem Pencahayaan Alami ...152

Gambar 58. Sistem Pencahayaan Buatan...154

Gambar 59. Sistem Penghawaan Buatan ...153

Gambar 60. Bantuk dan Tampilan Bangunan ...155

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan Tradisional, Vernakuler dan Neo Vernakuler ...57

Tabel 2. Rekapitulasi Pedagang resmi Pasar Hartaco ...78

Tabel 3. Pedagang kaki lima & Radius 100 M ...79

Tabel 4. Rekapitulasi Pedagang resmi Pasar Kampung Baru ...83

Tabel 5. Pedagang kaki lima & Radius 100 M ...83

Tabel 6. Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kabupaten Tana Toraja Tahun ...86

Tabel 7. Perkembangan PDRB Kabupaten Tana Toraja ...91

Tabel 8. Kebutuhan Ruang ...133

Tabel 9. Besaran Ruang ...136

Tabel 10. Rekapitulasi Besaran Ruang ...138

DAFTAR PUSTAKA

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa pengaruh besar terhadap penyebaran jumlah penduduk, fenomena ini dapat dilihat dari perbandingan jumlah masyarakat yang tinggal di kota dengan masyarakat tinggal di desa, dimana sekarang sudah mencapai angka seimbang.

Jika tidak diimbangi dengan pembangunan pedesaan maka dapat menyebabkan merosotnya interaksi desa dengan kota, yang pada hakikatnya daerah pedesaan merupakan produsen kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari bagi kebutuhan masyarakat kota.

Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek pendukungnya adalah diperlukannya suatu wadah yang akomodatif sebagai pendukung kelancaran pendistribusian barang dari desa ke kota, dan dalam hal kedudukan desa sebagai produsen sebagian kebutuhan primer masyarakat kota, maka diperlukan sebuah pasar sebagai pusat distribusi barang yang secara langsung maupun tidak langsung yang pada nantinya akan dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum.

Pasar adalah tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan transaksi jual beli.

Pasar dalam artian luas adalah tempat tertentu dan tetap, pusat memperjual belikan barang-barang keperluan sehari-hari. Selain itu pasar sebagai pusat pertemuan produsen dan konsumen yang sudah banyak dikenal sejak jaman dahulu kala ketika sifat perdagangan masih berupa pertukaran

(14)

2

barang (barter). Adanya penyediaan sarana kehidupan yang baik dan layak sangat mendukung terciptanya tatanan kehidupan masyarakat yang kondusif.

Salah satunya dengan adanya sarana dan prasarana yang memadai bagi masyarakat.

Di Kabupaten Tana Toraja terdapat beberapa pasar dengan konsep tradisional. Pasar tradisional umumnya terbentuk karena aktivitas yang berlangsung secara turun temurun atau dalam jangka waktu tertentu.

Keberadaan pasar ini sangat membantu, tidak hanya bagi pemerintah daerah ataupun pusat tetapi juga para masyarakat yang menggantungkan hidupnya dalam kegiatan berdagang, karena didalam pasar tradisional terdapat banyak faktor yang memiliki arti penting dan berusaha untuk mensejahterakan kehidupannya baik itu pedagang, pembeli, pekerja panggul dan sebagainya.

Pemerintah Kabupaten Tana Toraja telah berusaha untuk memenuhi segala tuntutan masyarakatnya, salah satu usaha pemerintah untuk memenuhi tuntutan masyarakat adalah dengan menyediakan berbagai macam fasilitas umum yang memadai. Salah satu fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah adalah pasar yang digunakan oleh masyarakat untuk aktifitas jual beli barang ataupun jasa. Sebagai respon terhadap hal tersebut Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menyediakan tempat melakukan aktifitas jual perekonomian berupa pemenuhan berbagai macam kebutuhan masyarakat yaitu Pasar sentral Makale.

Pasar sental Makale ini berada terletak di Tondon Mamullu, Kecamatan Makale Kabupaten Tana Toraja. Pasar ini adalah yang terbesar di Kabupaten

(15)

3

Tana Toraja, dan berada di kota Makale. Pasar masih berupa pasar yang masih tradisional dimana sebagian para pedagang membuka lapak di tanah terbuka atau dengan kata lain masih terdiri dari para pedagang sembraut. Sebagian bangunan yang ada di pasar ini sudah di lakukan perbaikan dan masih ada bangunan lama.

Pasar sentral Makale saat ini sudah dirasa kurang layak pakai, banyak sekali permasalahan yang ada di pasar ini. Permasalahan yang dihadapi yaitu akses untuk keluar masuk pasar sempit, apalagi jalan masuk dan jalan keluar pengunjung tergabung dalam satu jalur. Kondisi ini menyebabkan terganggunya lalu lintas pengunjung. Jalan depan pasar tersebut juga digunakan sebagai tempat parkir, sehingga arus lalu lintas depan pasar menjadi macet serta para pejalan kaki merasa terganggu dengan kondisi seperti ini dan para pedagang yang sembraut berjualan di jalan masuk pasar.

Tempat bongkar muat yang kurang memadai dimana akses jalan kendaraan pengangkut barang kurang lebar dan parkir yang tidak teratur sehingga menyebabkan terjadinya antrian bongkar muat. Jumlah pedagang yang melebihi daya tampung. Masalah yang lain adalah banyaknya pedagang yang menjual dagangannya melebihi ukuran los yang dimiliki, sehingga pada waktu terjadi transaksi perdagangan akan mengganggu dan menghalangi jalan pengunjung untuk masuk ke los-los lainnya. Bahkan ada pedagang yang menjual barang dagangannya di jalan penghubung antara satu los dengan los lainnya, hal ini menyebabkan hilangnya kenyamanan berdagang dan berbelanja.

Jumlah pedagang yang bertambah setiap tahunnya menyebabkan pasar ini memenuhi kapasitas.

(16)

4

Gambar 1. Kondisi Pasar Sentral Makale (Sumber : google.come,20 Maret 2021)

Dari beberapa permasalahan diatas, maka di simpulkan bahwa diperlukan adanya Redesain Pasar Sentral Makale sebagai pasar terbesar di Kabupaten Tana Toraja yang mampu mengakomodir kebersihan, keamanan, dan kenyamanan dalam bertransaksi, sehingga dapat mewujudkan Pasar Sentral Makale sebagai pasar tradisional yang sehat, aman, dan nyaman.

Pasar Sentral Makale ini juga diharapkan mampu menyediakan kembali fasilitas perdagangan demi kelancaran aktivitas perdagangan di Kabupaten Tana Toraja, sehingga dalam perkembangan selanjutnya, diharapkan Pasar Sentral Makale dapat menjadi ikon kebanggaan di Kabupaten Tana Toraja.

Berdasarkan pembahasan di atas maka Redesain pasar Sentral Makale ini menggunakan konsep pendekatan Arsitektur Neo Vernakuler. Penerapan konsep pendekatan ini di aplikasikan dengan menggabungkan antara arsiterktur vernakuler dengan modern. Dengan pendekatan ini mampu

(17)

5

mempertahankan dasar dasar bangunan yang masih tradisional namun mengukuti perkembangan zaman yang modern dan menciptakan suasana bangunan yang lebih hidup menarik dan berbudaya, dan berbeda dengan bangunan pada umumnya.

Tana Toraja memiliki kebudayaan dan adat istiadat dari suku Toraja yang menarik yang dapat dijadikan potensi untuk lebih mengenalkan kepada dunia. Potensi tersebut sayangnya kurang dipromosikan dengan optimal baik domestik maupun mancanegara. Keberadaan pasar dapat menjadi media pengenalan awal dari potensi Toraja karena menjadi pusat destinasi wisata dan penjualan kerajinan sovenir. Kebudayaan serta adat istiadat yang ada dikombinasikan dengan modernisasi, mengikuti perkembangan jaman. Oleh karena itu konsep neo vernakular dirasa sesuai untuk digunakan pada redesain Pasar Sentral Makale

Di Indonesia, arsitektur vernakular berkembang karena kritik dari seorang arsitek Belanda terhadap bangunan di Indonesia yang sangat menjiplak arsitektur Eropa. Beliau menghimbau kepada para arsitek di Hindia Belanda (Indonesia) untuk mulai menaruh perhatian pada arsitektur inlander.

Arsitektur neo-vernakular berkembang pada era postmodern, dimana merupakan pengembangan dari arsitektur modern yang dianggap sudah tidak dapat berkembang lagi. Menurut Charles Jenks (1990) dalam bukunya berjudul “Language of Post-Modern Architecture” menjelaskan terdapat 5 ciri dari arsitektur neo-vernakular sebagai berikut:

(18)

6

a. Penggunaan atap bumbungan diibaratkan sebagai pelindung dan penyambut dibanding tembok yang dianggap sebagai permusuhan b. Penggunaan batu bata pada era Victorian abad ke 19 (arsitektur

barat)

c. Penggunaan kembali bentuk tradisional ramah lingkungan

d. Kesatuan antara interior yang terbuka dengan ruang terbuka pada eksterior

e. Penggunaan warna yang kontras (Indarti, 2015)

Arsitektur neo-vernakular mulai berkembang di Indonesia, salah satunya adalah arsitektur Toraja. Arsitektur Toraja sendiri mulai ada dan berkembang sejak para pelayar Cina datang ke Indonesia tepatnya ke Sulawesi Selatan. Dalam buku “Toraja Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional” arsitektur Toraja terdiri dari 5 bagian sebagai berikut (Said, 2004):

a. Pandangan kosmologi secara horisontal b. Pandangan kosmologi secara vertikal c. Pola peruangan Tongkonan

d. Ragam hias

e. Elemen pelengkap

Arsitektur Neo-Vernakular tidak menerapkan kaidah vernakular secara utuh tetapi menampilkan visual lebih modern dan tetap melestarikan unsur lokal (Saputra, 2019).

(19)

7 B. Rumusan Masalah

Non arsitektur

1. Bagaimana menciptakan sebuah pasar yang fungsional Arsitektur

1. Bagaimana cara menerapkan konsep neo vernakuler pada pasar

2. Bagaimana system penataan sirkuasi pasar yang dapat mendukung ketertiban, kenyamanan dan keamanan pada pengguna pasar.

3. Bagaimana mendesain penampilan bangunan yang mencerminkan sebuah bangunan pasar.

C. Tujuan dan Sasaran Pembahasan a. Tujuan

Mendapatkan konsep Redesain pasar dengan pendekatan arsitektur neo vernakuler di Tana Toraja sesuai dengan fungsi.

b. Sasaran

Tersusunnya dasar-dasar Redesain Pasar sentral Makale di Kabupaten Tana Toraja berdasarkan atas aspek-aspek panduan perancangan.

D. Batasan Pembahasan

Pembahasan dibatasi dalam lingkup disiplin ilmu arsitektur, yaitu mendapatkan konsep redesain pasar neo vernakuler berdasarkan fungsi yang terdapat di pasar. Hal-hal yang di luar disiplin ilmu arsitektur jika mendasari dan menentukan redesain, akan dibahas dengan asumsi dan logika serta mengacu pada hasil studi dan referensi lain yang sesuai dengan permasalahan.

(20)

8 E. Metode Pembahasan

Metode pembahasan acuan redesain ini menggunakan metode analisi deskriktif dan komparatif, yaitu dengan memberikan gambaran langsung segala permasalahan dan keadaan yang ada, selanjutnya dilakukan analisis, perbandingan, serta dinilai dari sudut pandang yang relevan untuk mendapatkan kriteria desain.

1. Selanjutnya metode dalam pengumpulan data yang diperlukan, yaitu menggunakan teknik pengumpulan data untuk mencari data-data primer seperti studi pustaka, yaitu mencari data yang diperlukan melalui studi literatur, studi banding serta melalui media online dengan mencantumkan sumbernya.

2. Teknik wawancara, yaitu melakukan wawancara terhadap berbagai pihak terkait topik permasalahan sesuai dengan judul Tugas Akhir untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan.

3. Observasi lapangan, yaitu memperoleh data yang diperlukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek dilapangan.

(21)

9 F. Sistematika Pembahasan

BAB I : PENDAHULUAN

Mengemukakan pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran pembahasan, batasan pembahasan, metode pembahasan dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Mengemukakan studi pustaka atau studi literatur yang meliputi: tinjauan teori umum, studi literatur dan studi banding.

BAB III : TINJAUAN LOKASI

Pembahasan terkait tinjauan lokasi perencanaan Pasar Sentral Makale, yang meliputi; Tinjauan Khusus Kabupaten Tana Toraja, Tinjauan Terhadap Pasar Sentral Makale.

BAB IV : PENDEKATAN KONSEP PERANCANGAN

Menguraikan tentang pendekatan konsep perancangan sebagai acuan dalam desain fisik bangunan Pasar Sentral Makale.

BAB V : ACUAN DASAR PERANCANGAN

Menguraikan tentang acuan dasar perancangan yang meliputi konsep makro dan mikro yang akan digunakan dalam perancangan fisik bangunan Pasar Sentral Makale di Kabupaten Tana Toraja.

(22)

10 BAB VI : KESIMPULAN

Menguraikan kesimpulan dari tahap pembahasan sebelumnya.

(23)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Secara Umum 1. Pengertian Pasar

Pasar adalah tempat di mana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli (Kurnianto, 2011). Pengertian pasar dapat dititik beratkan dalam arti ekonomi yaitu untuk transaksi jual dan beli. Pada prinsipnya, aktivitas perekonomian yang terjadi di pasar didasarkan dengan adanya kebebasan dalam bersaing, baik itu untuk pembeli maupun penjual. Penjual mempunyai kebebasan untuk memutuskan barang atau jasa apa yang seharusnya untuk diproduksi serta yang akan di distribusikan. Sedangkan bagi pembeli atau konsumen mempunyai kebebasan untuk membeli dan memilih barang atau jasa yang sesuai dengan tingkat daya belinya. Pasar menurut kajian ilmu ekonomi adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan. Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan pasar sangatlah penting. Hal ini dikarenakan apabila ada kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan sendiri, maka kebutuhan tersebut dapat diperoleh di pasar. Para konsumen atau pembeli datang ke pasar untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhannya dengan membawa sejumlah uang guna membayar harganya. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah yaitu uang. Pasar bervariasi dalam ukuran, jangkauan, skala geografis, lokasi jenis dan berbagai komunitas manusia, serta jenis

(24)

12

barang dan jasa yang diperdagangkan. Beberapa pengertian pasar menurut beberapa para ahli:

a. William J.Stanton dalam Wildan 2018, berpendapat bahwa pengertian pasar adalah sekumpulan orang yang memiliki keinginan untuk puas, uang yang digunakan untuk berbelanja, serta memiliki kemauan untuk membelanjakan uang tersebut.

b. Wikipedia 2011, Pasar merupakan institusi, sistem, hubungan sosial, prosedur, serta infrastruktur di mana terdapat usaha untuk menjual barang, tenaga kerja serta jasa untuk sekumpulan orang dengan imbalan uang.

c. Kotler dan Amstrong berpendapat bahwa pengertian pasar merupakan seperangkat pembeli aktual dan juga potensial dari suatu produk atau jasa. Ukuran dari pasar itu sendiri tergantung dengan jumlah orang yang menunjukkan kebutuhan, mempunyai kemampuan dalam bertransaksi.

d. Menurut KBBI, pengertian pasar merupakan tempat sekumpulan orang melakukan transaksi jual-beli. Dan merupakan sebuah tempat untuk jual beli yang diadakan oleh sebuah organisasi atau perkumpulan dan sebagainya dengan maksud untuk dapat mencari derma.

2. Peranan Pasar

Dalam Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 378/KPTS/1987 tentang Pengesahan 33 Standar Bangunan Indonesia, peranan pasar dijabarkan sebagai berikut :

(25)

13

a. Pasar sebagai tempat pemenuhan kebutuhan

Pasar menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari yaitu sandang dan pangan. Dengan demikian dapat diartikan bahwa di dalam pasar dapat ditemukan kebutuhan pokok sehari-hari atau kebutuhan pada waktu- waktu tertentu.

b. Pasar sebagai tempat rekreasi

Pasar menyediakan beraneka ragam kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan untuk waktu yang akan datang. Barang-barang tersebut ditata dan disajikan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pengunjung. Orang-orang yang datang ke pasar kadang-kadang hanya sekedar berjalan-jalan sambil melihat-lihat barang dagangan untuk melepaskan ketegangan atau mengurangi kejenuhan.

c. Pasar sebagai sumber pendapatan daerah/kota

Kegiatan pasar akan mengakibatkan terjadinya perputaran uang. Dari besarnya penarikan retribusi akan menambah pendapatan daerah.

Besarnya penarikan retribusi akan tergantung pada kondisi pasar, skala pelayanan dan pengelolaan pasar.

d. Pasar sebagai tempat pencaharian atau kesempatan kerja

Berdagang juga merupakan pelayanan jasa, sehingga dalam kegiatan pasar, tidak lagi sekedar tempat jual beli, tetapi juga tempat kerja.

3. Fungsi Pasar

Fungsi pasar ialah sebagai tempat atau wadah terkait pelayanan bagi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu :

(26)

14 a. Ekonomi

Pasar berfungsi sebagai tempat transaksi antara produsen dan konsumen yang mewadahi kebutuhan sebagai demand dan supply.

b. Sosial budaya

Pasar berfungsi sebagai sarana interaksi sosial yang bersifat informal dan formal antara individu satu dengan yang lain secara langsung.

c. Arsitektur

Pasar dapat berfungsi sebagai media untuk menunjukan ciri khas arsitektur kedaerahan yang menampilkan bentuk fisik ataupun ornament lokal daerah.

d. Rekreasi

Pasar dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi karena ada beberapa orang yang datang ke pasar hanya untuk melihat – lihat dan berwisata untuk memuaskan keinginannya.

4. Pengguna Pasar

a. Pengunjung, yaitu seseorang atau lebih yang datang ke pasar tanpa mempunyai tujuan untuk melakukan pembelian terhadap suatu barang atau jasa.

b. Pembeli, yaitu seseorang atau lebih yang datang ke pasar dengan maksud untuk membeli sesuatu barang atau jasa tetapi tidak memiliki tujuan ke (di) mana akan membeli.

c. Pelanggan, yaitu seseorang atau lebih yang datang ke pasar dengan maksud membeli suatu barang atau jasa dan memiliki arah dan tujuan yang pasti ke (di) mana akan membeli.

(27)

15

5. Kebutuhan Sarana dan Prasarana Pasar

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, Perencanaan fisik pasar tradisional meliputi:

a. Penentuan lokasi;

b. Penyediaan fasilitas bangunan dan tata letak pasar; dan c. Sarana pendukung.

Dari pasal di atas fasilitas bangunan dan tata letak pasar antara lain:

a. Bangunan toko/kios/los dibuat dengan ukuran standar ruang tertentu;

b. Petak atau blok dengan akses jalan pengunjung ke segala arah;

c. Pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup;

d. Penataan toko/kios/los berdasarkan jenis barang dagangan;

e. Dan Bentuk bangunan pasar tradisional selaras dengan karakteristik budaya daerah.

Dari pasal di atas sarana pendukung antara lain:

a. Kantor pengelola;

b. Areal parkir;

c. Tempat pembuangan sampah sementara/sarana pengelolaan sampah;

d. Air bersih;

e. Sanitasi/drainase;

f. Toilet umum;

g. Pos keamanan;

h. Tempat pengelolaan limbah/instalasi pengelolaan air limbah;

i. Hidran dan fasilitas pemadam kebakaran;

(28)

16 j. Penteraan;

k. Sarana komunikasi; dan l. Area bongkar muat dagangan.

6. Jenis-jenis Pasar a. Pasar Tradisional

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor : 70/M- DAG/PER/12/2013, Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar.

Pasar lokal adalah pasar yang berdiri secara alamiah berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat, dan atau pasar yang dibangun dan dikelolah oleh pemerintah daerah atau swasta, BUMN dan BUMD.

Usaha-usaha pasar lokal/tradisional digolongkan menjadi beberapa bentuk, sebagai berikut berdasarkan menjadi beberapa bentuk, sebagai berikut:

1) Pasar Induk

Pasar induk adalah pasar yang merupakan pusat distribusi yang menampung hasil produksi petani yang dibeli oleh para pedagang tingkat grosir kemudian dijual kepada para pedagang tingkat eceran

(29)

17

untuk selanjutnya diperdagangkan di pasar- pasar eceran di berbagai tempat mendekati para konsumen.

2) Pasar Penunjang

Pasar penunjang adalah bagian dari pasar induk yang membeli dan menyalurkan hasil produksi petani dari pasar induk untuk kemudian di distribusikan ke pedagang tingkat eceran.

3) Pasar Khusus

Pasar khusus adalah pasar dimana barang yang diperjual belikan bersifat khusus atau spesifik seperti pasar hewan, pasar ikan hias, pasar tanaman hias, pasar keramik, pasar burung, dan sejenisnya.

4) Pasar Lingkungan

Pasar lingkungan adalah yang berdiri secara alamiah berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat dan dikelola oleh pemerintah daerah, badan usaha, atau kelompok masyarakat yang ruang lingkup pelayanannya meliputi satu lingkungan pemukiman, dengan jenis barang yang diperdagangkan meliputi kebutuhan pokok sehari-hari.

5) Pasar Darurat

Pasar darurat adalah pasar yang dikelola oleh kelompok masyarakat dan atau pemerintah daerah yang waktu pelayanannya antara pukul 06.00-11.00 Wita dan jenis barang yang di perdagangkan meliputi kebutuhan pokok sehari-hari.

(30)

18 b. Pasar Modern

1) Pasar Modern yaitu pasar dimana penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang jual, selain bahan makanan seperti buah, sayuran, daging sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan hypermarket, supermarket, dan minimarket. (sumber: Peraturan Daerah Kota Makassar No. 15 Tahun 2009).

2) Toko Modern adalah toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk minimarket, supermarket, department store, hypermarket ataupun grosir yang berupa perkulakan. (Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 53/M- DAG/PER/12/2008 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern Pasal 1 ayat 5).

3) Mall atau super mall atau plaza adalah sarana atau tempat usaha untuk melakukan perdagangan, rekreasi, dan sebagainya yang diperuntukkan bagi kelompok, perorangan, perusahaan, atau koperasi untuk melakukan penjualan barang-barang atau jasa yang terletak pada bangunan/ruangan yang berada dalam suatu kesatuan wilayah atau tempat.

(31)

19

Syarat batasan luasan lantai penjualan toko modern Pasal 9 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia nomor 53/M- DAG/PER/12/2008 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern Pasal 1 ayat 5.

Batasan luas lantai penjualan Toko Modern adalah sebagai berikut : a) Minimarket, kurang dari 400 m2

b) Supermarket, 400 m2 sampai dengan 5.000 m2 c) Hypermarket, lebih dari 5000 m2

d) Departement Store, lebih dari 400 m2 e) Perkulakan, lebih dari 5.000 m2

4) Usaha-usaha Pusat perbelanjaan dan Toko Modern digolongkan berdasarkan jenis dan skala barang yang diperdagangkan, Rancangan Peraturan Daerah Kota Makassar Tentang Perlindungan, Pemberdayaan Pasar Lokal dan Penataan Pusat Perbedaan dan Toko Modern Pasal 5 ayat 2.

a) Golongan pertama dengan jenis barang untuk kebutuhan primer, sekunder, dan tersier, dengan skala penjualan eceran dan kemasan.

b) Golongan kedua dengan jenis barang untuk kebutuhan primer dan sekunder, dengan skala penjualan eceran dan kemasan.

c) Golongan ketiga dengan jenis barang untuk kebutuhan primer dan sekunder, dengan skala penjualan grosir dan kemasan.

(32)

20 B. Tinjauan Pasar Tradisonal

1. Pengertian Pasar Tradisional

Pasar tradisional sebagian dibangun dan dikelola oleh pemerintah.

Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah. Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya.

Menurut Hendar (2010) Pasar tradisional merupakan tempat pertemuannya penjual dan pembeli serta ditandai adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar. Pasar tradisional kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan berupa ikan, buah, sayuran, telur dan daging, kain, pakaian, barang elektronik, jasa , dll.

Menurut Geertz, 1963 (dalam Wildan Alghiffari, 2018:9), bahwa pasar tradisional menunjukkan suatu tempat yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat indigenos market trade, sebagaimana telah dipraktikkan sejak lama (mentradisi). Pasar tradisional lebih bercirikan bazar type economis skala kecil. Karenanya, pasar tradisional secara langsung melibatkan lebih banyak pedagang yang saling berkompetisi satu sama lain di tempat tersebut. Selain itu, pasar ini menarik pengunjung yang lebih beragam dari berbagai wilayah. Tidak kalah pentingnya, pasar tradisional terbukti memberikan kesempatan bagi sektor informal untuk terlibat di dalamnya.

(33)

21

Menurut Sumijanto (1992) Menulis tiga sudut pandang yang harus dilihat untuk memahami pasar sebagai berikut :

a) Pola aliran barang dan jasa

b) Suatu kumpulan mekanisme ekonomi yang mempertahankan dan mengatur aliran-aliran tersebut.

c) Suatu sistem sosial kultural tempat mekanisme itu berada. Definisi lainnya yang diungkapkan mengenai pasar tradisional yaitu gabungan dari lembaga ekonomi dan suatu cara hidup yakni suatu bentuk umum kegiatan perdagangan yang mencakup segi kehidupan masyarakat disamping merupakan suatu alam kebudayaan yang hamper merupakan suatu kebulatan yang lengkap.

2. Ciri-ciri Pasar Tradisional

Ciri-ciri pasar tradisional adalah sebagai berikut:

a) Adanya sistem tawar menawar antara penjual dan pembeli. Tawar menawar mampu memberikan dampak psikologi yang penting bagi masyarakat. Setiap orang yang berperan pada transaksi jual beli akan melibatkan seluruh emosi dan perasaannya, sehingga timbul interaksi sosial dan persoalan kompleks. Penjual dan pembeli saling bersaing mengukur kedalaman hati masing-masing, lalu muncul pemenang dalam penetapan harga. Tarik tambang psikologi itu biasanya diakhiri perasaan puas pada keduanya. Hal ini yang dapat menjalin hubungan sosial yang lebih dekat. Konsumen dapat menjadi langganan tetap stan pada pasar tradisional. Kelancaran komunikasi sosial antar pembeli dan penjual dalam pasar tradisional tersebut menunjang ramainya stan

(34)

22

tersebut. (kasdi, 1995) maka, dibutuhkan ruang sirkulasi berupa ruang pendestrian dengan lebar yang cukup.

b) Pedagang di pasar tradisional berjumlah lebih dari satu, dan pedagang tersebut memiliki hak atas stan yang telah dimiliki, dan memiliki hak penuh atas barang dagangan pada stan masing-masing, sehingga tidak terdapat satu manajemen seperti yang ada di pasar modern.

c) Ciri pasar berdasarkan pengelompokan dan jenis barang pasar, yakni:

Menurut Lilananda (dalam Galuh Oktaviana, 2011 : 34), jenis barang di pasar umumnya dibagi dalam empat kategori :

1) Kelompok bersih (kelompok jasa, kelompok warung, toko) 2) Kelompok kotor yang tidak bau (kelompok hasil bumi dan buah

buahan)

3) Kelompok kotor yang bau dan basah (kelompok sayur dan bumbu) 4) Kelompok bau, basah, kotor, dan busuk (kelompok ikan basah dan

daging).

d) Ciri pasar berdasarkan tipe tempat berjualan menurut Lilananda,1994 (dalam Galuh Oktaviana, 2011) ,

Tempat berjualan atau lebih sering disebut stan, dipilih dengan cara undian (stan yang ada adalah stan milik sendiri dengan membayar biaya retribusi per m2 /hari sesuai dengan biaya yang telah ditetapkan). Jenis barang yang telah dikelompokkan, dilihat jenis barang dagangan apa yang paling banyak diperdagangkan dan paling diminati. Bagian atau blok-blok yang telah di tetapkan tempat-tempat yang strategis di

(35)

23

utamakan diundi dahulu untuk pengurus setiap bagian, setelah itu sisanya diundi untuk pedagang lainnya.

Tempat-tempat yang strategis selalu diminati oleh pedagang karena terlebih dahulu terlihat atau dikunjungi oleh pembeli. Tempat staregis yang dimaksud adalah sirkulasi utama, dekat pintu masuk, dekat tangga, atau dekat hall.

1) Kios

Merupakan tipe tempat berjualan yang tertutup, tingkat keamanan lebih tinggi dibanding dengan yang lain. Dalam kios dapat ditata dengan berbagai macam alat display. Pemilikan kios, tidak hanya satu saja tetapi dapat beberapa kios sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.

2) Los

Merupakan tipe tempat berjualan yang terbuka, tetapi telah dibatasi secara pasti (dibatasi dengan barang-barang yang sukar bergerak, misalnya lemari, meja, kursi, dan sebagainya) atau bersifat tetap.

3) Oprokan / Pelataran

Merupakan tipe tempat berjualan yang terbuka atau tidak dibatasi secara tetap. Tetapi mempunyai tempatnya sendiri. Yang termaksud pedagang oprokan di pasar adalah pedagang asongan yang berjualan di dalam pasar maupun yang di luar pasar tetapi masih menempel di dinding pasar.

3. Karakteristik Pasar Tradisional

Berdasarkan Permendagri No.20 Tahun 2012 tentang Peraturan dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, menyatakan karakteristik dari pasar tradisional adalah sebagai berikut:

(36)

24

a) Pasar Tradisional dimiliki, dibangun atau dikelola oleh pemerintah daerah.

b) Transaksi dilakukan secara tawar menawar.

c) Tempat usaha beragam dan menyatu dalam lokasi yang sama.

d) Sebagian besar barang dan jasa yang ditawarkan berbahan baku local.

4. Karakter/Budaya Konsumen

Meskipun informasi tentang gaya hidup modern dengan mudah diperoleh, tetapi tampaknya masyarakat masih memilih budaya untuk tetap berkunjung dan berbelanja ke pasar tradisional. Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara pasar tradisional dan pasar modern. Perbedaan itulah adalah di pasar tradisional masih terjadi proses tawar-menawar harga, sedangkan di pasar modern harga sudah pasti ditandai dengan label harga.

Dalam proses tawar menawar terjalin kedekatan personal dan emosional antara penjual dan pembeli yang tidak mungkin didapatkan ketika berbelanja di pasar modern.

5. Syarat-syarat Pasar Tradisional

Syarat-syarat Pasar Tradisional menurut peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007, tentang pembangunan, penataan dan pembinaan Pasar Tradisional

a) Aksebilitas, yaitu kemungkinan pencapaian dari dan ke kawasan, dalam kenyataannya ini berwujud jalan dan transportasi atau pengaturan lalu lintas.

b) Kompatibilitas, yaitu keserasian dan keterpaduan antara kawasan yang menjadi lingkungannya.

(37)

25

c) Fleksibilitas, yaitu kemungkinan pertumbuhan fisik atau pemekaran kawasan pasar dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana.

d) Ekologis, yaitu keterpaduan antara tatanan kegiatan alam yang mewadahinya.

6. Tipe Tempat Berjualan Pada Pasar

Dalam Reski Rahayu (2011:24). Tempat berjualan atau lebih sering disebut stan dipilih dengan cara undian. Jenis barang yang sudah dikelompokkan dilihat jenis barang dagangan apa yang paling banyak diperdagangkan dan paling diminati. Bagian atau blok-blok yang telah ditetapkan tempat-tempat yang strategis diutamakan diundi dahulu untuk mengurus setiap bagian, setelah itu sisanya kembali diundi untuk pedagang lainnya. Demikian pula sistem undian yang dilakukan untuk memilih stan pada tempat penampungan sepanjang jalan pada saat renovasi dikerjakan.

Tempat-tempat yang strategis sangat diminati oleh pedagang karena terlebih dahulu dapat terlihat atau dikunjungi pembeli. Tempat strategis yang dimaksud adalah sirkulasi utama, dekat pintu masuk, dekat tangga, atau dekat hall.

7. Permasalahan Umum yang dihadapi Pasar Tradisional a) Banyaknya pedagang yang tidak tertampung

b) Pasar tradisional mempunyai kesan kumuh dan semrawut

c) Dagangannya yang bersifat makanan siap saji mempunyai kesan kurang higienis.

(38)

26

d) Pasar modern yang banyak tumbuh dan berkembang merupakan pesaing serius pasar tradisional

e) Rendahnya kesadaran pedagang untuk mengembangkan usahanya dan menempati tempat dasaran yang sudah ditentukan

f) Banyaknya pasar yang berstatus sebagaian tanah milik Pemerintah Daerah dan Sebagian milik Pemerintah Desa.

g) Banyaknya pasar yang sampai saat ini tidak beroperasi secara maksimal, karena adanya pesaing pasar lain sehingga perlu pemanfaatan lokasi secara efektif.

h) Masih rendahnya kesadaran pedagang dalam membayar retribusi.

8. Unsur Pasar Tradisional

Meletakkan unsur‐unsur pasar dengan melihat pembagian kerja yang membedakan pedagang berdasarkan penggunaan dan pengelolaan pendapatan yang dihasilkan dari perdagangan dan hubungannya dengan ekonomi keluarga. Pedagang dibedakan menjadi empat:

a) Pedagang profesional, yaitu pedagang yang menganggap aktivitas perdagangan merupakan pendapatan dari hasil perdagangan merupakan sumber utama dan satu‐satunya bagi ekonomi keluarga.

b) Pedagang semi profesional, yaitu pedagang yang mengakui aktivititasnya untuk memperoleh uang, tetapi pendapatan dari hasil perdagangan merupakan sumber tambahan bagi ekonomi keluarga.

c) Pedagang subsistensi, yaitu pedagang yang menjual produk atau barang dari hasil aktivitas atau subsistensi untuk memenuhi ekonomi rumah tangga.

(39)

27

d) Pedagang semu, yaitu pedagang yang melakukan perdagangan karena hobi atau untuk mendapatkan suasana baru atau mengisi waktu luang.

Menurut damsar, pedagang juga didefinisikan sebagai orang atau institusi yang memperjual‐belikan produk atau barang kepada konsumen, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam kegiatan ekonomi, pedagang dibedakan menurut jalur distribusi yang dilakukan:

1) Pedagang distributor (tunggal) yaitu pedagang yang memegang hak distribusi satu produk dari perusahaan tertentu.

2) Pedagang partai besar, yaitu pedagang yang membeli produk dalam jumlah besar yang dimaksud untuk dijual kepada pedagang lain.

3) Pedagang eceran, yaitu pedagang yang menjual produk, langsung ke konsumen. Oleh karena pasar merupakan salah satu lembaga yang paling penting dalam institusi ekonomi, maka pasar merupakan salah satu yang menggerakkan dinamika kehidupan ekonomi. Berfungsinya lembaga pasar sebagai institusi ekonomi yang menggerakkan kehidupan ekonomi tidak lepas dari aktivitas yang dilakukan oleh pembeli dan pedagang.

C. Tinjauan Pasar Modern 1. Pengetian Pasar Modern

Pasar modern adalah pasar yang dibanguan dan dikelolah oleh pemerintah, swasta, atau koprasi yang dalam bentuknya berupa pusat perbelanjaan, seperti mall, plaza, dan shopping center serta sejenisnya

(40)

28

dimana pengelolaanya dilaksanakan secara modern, dengan megutamakan pelayanan kenyamanan berbelanja dengan manajemen bereda di satu tangan, bermodal relatif kuat, dan dilengkapi label harga yang pasti.

(Sumber : Peraturan Daerah Kota Makassar No. 15 Tahun 2009)

2. Karakteristik Pasar Modern

Dalam Ossya Errikayasa (2010:8) Beberapa karakteristik pasar modern dapat dilihat sebagai berikut :

Lokasi, Fasilitas, Tata Letak, dan Sarana Pelayanan

• Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi berkaitan erat dengan target pasar yang akan dicapai.

Setiap pasar modern mempunyai sasaran pasar yang berbeda, seperti Keris Gallery, Metro, dan Sogo yang mengincar masyarakat kelas menengah ke atas. Sementara itu aneka busana Matahari dan Rino mengincar masyarakat menengah ke bawah.

• Adanya Berbagai Fasilitas

Yang utama dari fasilitas gedung adalah Air Conditioning (AC).

Suasana sejuk oleh adanya AC ini kini telah umum ditemui di pasar- pasar modern seperti Department Store, baik yang berada di kota-kota besar maupun di daerah-daerah. Fasilitas gedung lainnya cukup vital dan telah melengkapi gedung gedung department store yang ada antara lain elevator, lift, dan area parkir. Elevator dan Lift sangat membantu bagi para konsumen untuk mempercepat dan mempermudah mobilitas di dalam department store dalam mencari barang-barang yang dibutuhkannya. Selain itu, dengan dilengkapi area parkir yang cukup

(41)

29

luas akan semakin memudahkan konsumen baik yang telah maupun belum membawa hasil belanjaannya sehingga proses belanja para konsumen benar-benar nyaman, aman, dan tanpa hambatan. Dalam perkembangan, di samping fasilitas-fasilitas utamanya seperti yang disebutkan diatas, gedung department store dilengkapi oleh fasilitas lainnya, seperti arena bermain untuk anak-anak dan arena makanan jajanan (Food Court).

• Tata Letak Barang dan Desain

Pengaturan barang di pasar-pasar modern seperti department store umumnya dikelompokkan menurut jenis produknya, misalnya kelompok kemeja, celana, dan pelengkap pakaian lainnya seperti celana dalam, dasi, dan singlet, kelompok-kelompok tersebut kembali dikelompokkan menurut mereknya. Sekelompok produk dan merek yang sama menempati suatu counter yang terdiri dari rak dan gantungan. Pada gantungan, dipajang produk yang mewakili setiap macam, ukuran, motif, dan bahan baku produk. Sementara itu produk yang ada di rak merupakan Stock daripada produk yang dipajang digantungan.

• Sarana Pelayanan Berbelanja

Pelayanan yang diberikan di pasar modern dimulai dengan adanya pramuniaga, dan sarana belanja. Sarana tersebut antara lain cashier machine, pass room, dan bag. Ketiga sarana pelayanan ini umumnya dimiliki oleg Pasar Modern yaitu department store, seperti Matahari, Pasaraya, dan Metro.

(42)

30

D. Syarat dan Standar Perencanaan dan Perancangan Pasar 1. Indikator Pengelolaan

Pasar yang berhasil menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, (Mari Eka Pangestu dalam Galuh Oktaviana, 2011:40), indikator pengelolaan pasar yang berhasil adalah sebagai berikut :

a) Manajemen yang transparan

Pengelolaan manajemen pasar yang transparan dan profesional.

Konsekuen dengan peraturan yang ditegakkannya dan tegas dalam menegakkan sanksi jika terjadi pelanggaran.

b) Keamanan

Satuan pengamanan pasar bekerja dengan penuh tanggung jawab dan bisa melakukan koordinasi dan kerjasama dengan para penyewa/pedagang. Para penghuni memiliki kesadaran yang tinggi untuk terlibat dalam menjaga keamanan bersama.

c) Sampah

Sampah tidak bertebaran di sembarang tempat. Para pedagang membuang sampah pada tempatnya. Tong sampah tersedia di berbagai tempat, sehingga memudahkan bagi pengunjung untuk membuang sampahnya. Pembuangan sampah sementara selalu tidak menumpuk dan tidak membusuk karena selalu diangkut oleh armada pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir secara berkala.

d) Ketertiban

Tercipta ketertiban di dalam pasar. Ini terjadi karena para pedagang telah mematuhi semua aturan main yang ada dan dapat menegakkan disiplin

(43)

31

serta bertanggung jawab atas kenyamanan para pengunjung atau pembeli.

e) Pemeliharaan

Pemeliharaan bangunan pasar dapat dilakukan baik oleh pedagang maupun pengelola. Dalam hal ini telah timbul kesadaran yang tinggi dari pedagang untuk membantu manajemen pasar memelihara sarana dan prasarana pasar seperti saluran air, ventilasi udara, lantai pasar, kondisi kios dan lain sebagainya.

f) Pasar sebagai sarana/fungsi interaksi sosial

Pasar yang merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai suku di tanah air menjadi sarana yang penting untuk berinteraksi dan berekreasi. Tercipta suasana damai dan harmonis di dalam pasar.

g) Pemeliharaan pelanggan

Para penjual memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga agar para pelanggan merasa betah berbelanja dan merasa terpanggil untuk selalu berbelanja di pasar. Tidak terjadi penipuan dalam hal penggunaan timbangan serta alat ukur lainnya. Harga kompetitif sesuai dengan kualitas dan jenis barang yang dijual, serta selalu tersedia sesuai kebutuhan para pelanggan.

h) Produktivitas pasar cukup tinggi

Pemanfaatan pasar untuk berbagai kegiatan transaksi menjadi optimal.

Terjadi pembagian waktu yang cukup rapi dan tertib :

1) Pukul 05.00 s/d 09.00 aktifitas pasar diperuntukkan bagi para pedagang kaki lima khusus makanan sarapan/jajanan pasar.

(44)

32

2) Pukul 04.00 s/d 17.00 aktifitas pasar diperuntukkan bagi para pedagang kios & lapak dan penjualan makanan khas.

3) Pukul 06.00 s/d 24.00 aktifitas pasar diperuntukkan bagi para pedagang ruko.

4) Pukul 16.00 s/d 01.00 aktifitas pasar diperuntukkan bagi para pedagang cafe tenda.

i) Penyelenggaraan kegiatan (event)

Sering diselenggarakan kegiatan peluncuran produk-produk baru dengan membagikan berbagai hadiah menarik kepada pengunjung. Ini dilakukan bekerja sama dengan pihak produsen.

j) Promosi dan “Hari Pelanggan”

Daya Tarik pasar tercipta dengan adanya karakteristik dan keunikan bagi pelanggan. Daya tarik ini harus dikemas dalam berbagai hal, mulai dari jenis barang dan makanan yang dijual hingga pada berbagai program promosi. Manajemen pasar bekerjasama dengan para pedagangnya menentukan hari-hari tertentu sebagai “Hari Pelanggan“, dimana dalam satu waktu tertentu para pedagang melakukan kegiatan yang unik seperti berpakaian seragam daerah atau menyelenggarakan peragaan pakaian atau makanan daerah tertentu dan lain sebagainya.

2. Struktur Organisasi Pasar

Menurut Peraturan Daerah Kota Makassar nomor 9 Tahun 2009, untuk menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi perlu dibentuk suatu struktur. Struktur organisasi juga berfungsi untuk membagi tugas agar tujuan organisasi dapat tercapai secara optimal. Berikut merupakan

(45)

33 struktur organisasi Dinas Pasar.

Bagan 1. Struktur Organisasi Pasar

(Sumber:http://dinaspasar.slemankab.go.id/strukturorganisasi/)

3. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Manajemen Pasar Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, tahun 2004 (Mari Elka Pangest dalam Galuh Oktaviana, 2011:40) agar semua tugas dapat dilaksanakan secara tertib dan menghindari terjadinya penyimpangan yang tidak diinginkan, maka diperlukan adanya SOP yang bisa diuraikan sebagai berikut:

a) Manajemen keuangan yang terpusat, khususnya dalam hal collecting fee dari pedagang/penyewa.

1) Pedagang membayar kewajiban secara langsung kepada petugas yang ditunjuk, tidak ada petugas lain dilapangan yang boleh

(46)

34 menerima uang dari penyewa.

2) Hanya terdapat 1 (satu) jenis fee yang dibebankan kepada penyewa, di dalamnya sudah meliputi biaya sewa, kebersihan, keamanan dan pemeliharaan. Besarnya fee telah disetujui bersama antara manajemen dan penyewa.

b) Hak Pakai

1) Untuk tempat usaha dalam bentuk kios, hak pakai idealnya tidak lebih dari 5 (lima) tahun. Hal ini untuk mempermudah melakukan upaya-upaya dalam hal apabila pemegang hak tidak membuka kiosnya.

2) Untuk tempat usaha dalam bentuk los, hak pakai idealnya tidak lebih dari 3 (tiga) bulan, dikarenakan biasanya pedagang los sifatnya musiman.

c) Keamanan dan Ketertiban

1) Agar lebih terjamin, pemeliharaan dan peningkatan ketertiban di lingkungan pedagang harus melibatkan semua penyewa untuk meringankan tugas para petugas keamanan.

2) Tugas keamanan dan ketertiban secara umum dilakukan oleh Security.

3) Setiap blok kios terdapat petugas keamanan yang bertanggung jawab melakukan pengawasan secara reguler.

4) SDM bidang keamanan adalah orang terlatih yang direkrut dari lingkungan sekitar maupun ekspreman yang terikat kontrak.

d) Kebersihan dan Sampah

(47)

35

1) Pembersihan tempat dilakukan secara terus menerus, tidak berdasarkan jadwal, tetapi situasional berdasar keadaan di tempat.

2) Setiap kelompok kios terdapat tempat penampungan sampah sementara, kemudian secara berkala dipindahkan ke tempat penampungan akhir oleh petugas yang disewa oleh manajemen pasar.

3) Sampah akhir yang terkumpul pada tempat penampungan akhir di angkut ke luar pasar 2 (dua) kali sehari.

e) Perparkiran

Tidak ada tempat parkir yang diblok/direserved untuk pelanggan sehingga semua memiliki hak yang sama atas tempat parkir. Tempat parkir harus tersedia cukup luas untuk menampung kendaraan para pengunjung.

f) Pemeliharaan Sarana Pasar

Secara rutin, manajemen pasar harus melakukan pengecekan terhadap kondisi fisik bangunan dan sarana fisik lainnya. Pada saat melakukan pengecekan, petugas harus mengisi checklist yang dibawanya dan langsung melakukan pelaporan begitu pengecekan selesai dilakukan.

Setelah menerima laporan, bagian Pemeliharaan harus segera melakukan tindakan.

g) Penteraan

Secara berkala, dilakukan penteraan terhadap alat ukur di pasar khususnya timbangan. Tujuannya disamping menjamin kepastian ukuran di pasar juga untuk membangun kepercayaan konsumen. Ini

(48)

36

dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama dengan dengan Dinas Metrologi setempat.

h) Penanganan Distribusi barang

Manajemen pasar harus menyiapkan lokasi khusus untuk penanganan distribusi dan delivery barang masuk ke pasar. Ini juga akan memudahkan dilakukannya pengawasan terhadap barang yang masuk ke pasar. Untuk barang yang masuk, terlebih dahulu harus dilakukan penyortiran atau pengolahan awal sebelum dijajakan di tempat penjualan:

i. Untuk komoditi pertanian diakukan penyortiran terhadap barang yang sudah busuk.

ii. Untuk ayam potong disediakan tempat pengolahan/pemotongan dan pembersihan di luar area dagangan.

iii. Untuk bahan makanan (bakso, mie basah, dll) dilakukan pengetesan (kertas lakmus) untuk mengetahui kandungan bahan aditif.

iv. Untuk makanan kemasan dilakukan pengawasan terhadap masa kadaluwarsanya (expired date). Selain itu, harus tersedia tempat penyimpanan atau gudang yang aman dan bisa membuat barang dagangan tahan lama atau tidak cepat rusak: harus ada gudang dengan suhu normal dan tidak ada tikus atau binatang perusak lainnya, harus ada cold storage untuk bahan yang tidak tahan lama.

(49)

37

Dengan demikian, kios di dalam pasar dapat secara optimal hanya berfungsi sebagai tempat menjajakan dagangan, bukan tempat penumpukan barang.

4. Peningkatan Mutu dan Pembenahan Sarana Fisik Pasar

Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Elka Pangestu dalam Galuh Oktavina (2011:42) yang harus diperhatikan dalam peningkatan mutu dan pembenahan sarana fisik pasar adalah sebagai berikut :

a) Perencanaan Tata Ruang Pola perletakan berbagai prasarana dan sarana yang ada telah mempertimbangkan beberapa pendekatan antara lain : 1) Memiliki pengaturan yang baik terhadap pola sirkulasi barang dan

pengunjung di dalam pasar dan memiliki tempat parkir kendaraan yang mencakupi. Keluar masuknya kendaraan kendaraan tidak macet.

2) Dari tempat parkir terdapat akses langsung menuju kios di pasar.

3) Distribusi pedagang merata atau tidak menumpuk di satu tempat.

4) Sistem zoning sangat rapi dan efektif sehingga mempermudah konsumen dalam menemukan jenis barang yang dibutuhkan.

5) Penerapan zoning mixed-used, menggabungkan perletakan los dan kios dalam satu area, yang saling menunjang.

6) Fasilitas bongkar muat (loading-unloading) yang mudah dan meringankan material handling

7) Jalan keliling pasar, mencerminkan pemerataan distribusi aktifitas perdagangan.

(50)

38

8) Memiliki tempat penimbunan sampah sementara (TPS) yang mencukupi.

9) Terdapat berbagai fasilitas umum : ATM Centre, Pos Jaga Kesehatan, Toilet, dll.

10) Tempat pemotongan ayam yang terpisah dari bangunan utama 11) Memiliki bangunan kantor pengelola pasar, keamanan, organisasi

pedagang.

b) Arsitektur Bangunan Dibutuhkan lahan atau ruang yang besar dengan rencana bangunan sebagai berikut:

1) Bangunan pasar yang ideal terdiri dari 1 lantai namun dapat dibuat maksimal 3 lantai. Diupayakan lantai dasarnya bersifat semi- basement sehingga untuk naik tangga ke lantai atas (lantai 3) tidak terasa tinggi

2) Tersedia banyak akses keluar msuk sehingga sirkulasi pembeli/pengunjung menjadi lancar dan semua areal dapat mudah terjangkau.

3) Sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik sehingga dapat meningkatkan kenyamanan bagi para pengunjung dan dapat menghemat energi karena tidak diperlukan penerangan tambahan.

c) Pengaturan Lalu Lintas Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan bagi para pengunjung pasar maka pengaturan lalu lintas dilakukan sebagai berikut :

1. Kendaraan pengunjung harus dapat parkir di dalam area pasar.

(51)

39

2. Terdapat jalan yang mengelilingi pasar dan mencukupi untuk keperluan bongkar muat dan memiliki 2 lajur guna menghindari penumpukan/antrian.

d) Kualitas Konstruksi

1) Prasarana jalan menggunakan konstruksi grid

2) Konstruksi bangunan menggunakan bahan yang tahan lama dan mudah dalam maintenacenya.

3) Lantai pasar keramik

4) Rolling door untuk kios dan dinding plester aci dengan finishing cat.

5) Drainase dalam menggunakan buis beton sedangkan di luar dengan saluran tertutup.

e) Air Bersih dan Limbah

1) Pengadaan air bersih menggunakan sumur dalam dan di tampung di reservoir.

2) Memiliki sumur resapan di berbagai tempat sebagai antisipasi terhadap melimpahnya buangan air hujan.

f) Pembuangan limbah terdiri dari :

1) Buangan air kotor dapat disalurkan menuju drainase biasa.

2) Buangan limbah kotoran oleh karena pertimbangan higienis harus ditampung dalam septic tank, baru kemudian cairannya dialirkan pada resapan.

(52)

40

3) Pembuatan saluran pembuangan air rembesan dengan desain khusus pada kios/los yang menjual dagangan yang harus selalu segar/basah (ikan dan daging)

g) Sistem Elektrikal

Sumber daya listrik menggunakan daya dari PLN, dengan demikian seluruh sistem mengikuti standar (PUTL). Untuk mempermudah pengontrolan saat darurat, dibuat sistem sub sentralisasi fase dan panel utama listrik dimana panel utama ditempatkan di dekat kantor pengelola. Hal ini dimaksudkan agar daya listrik untuk peralatan perdagangan maupun pencahayaan ruangan dalam kondisi yang memadai.

h) Pencegahan Kebakaran

Pencegahan dan perangkat penanggulangan kebakaran dilakukan dengan penyediaan tabung pemadam pada setiap grup kios. Hidran untuk armada pemadam kebakaran harus tersedia di tempat yang mudah dijangkau.

i) Penanggulangan Sampah

Pada setiap kelompok mata dagangan disediakan bak penampungan sampah sementara. Petugas kebersihan secara periodic mengumpulkan sampah dari setiap blok untuk diangkut menuju tempat penampungan utama. Dari tempat penampungan utama ini, pengangkutan sampah keluar pasar dilakukan oleh pihak terkait dengan menggunakan truk/container.

(53)

41

5. Standar-standar Sarana Prasarana Pasar Tradisional 1. Kantor publik

Antropometrik kantor publik digunakan sebagai acuan standar penataan kantor pengelolah pasar.

Gambar 2 : antropometrik pos kerja yang berdekatan/tata letak bentuk garis Sumber : julis panero danmartin zelnik, dimensi manusia dan ruang intrior,1979

Gambar 3 : antropometrik pos kerja yang berdekatan/bentuk U Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(54)

42 2. Ruang retail

Antropometrik ruang retail digunakan sebagai acuan standar pengaturan layout kios/retail atau toko pada pasar.

Gambar 4 : standar perabot penjualan daging dan ikan Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar 5 : standar lapak kecil Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar 6 : Skema lalu-lintas dan penataan los toko buah-buahan dan sayuran Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(55)

43

Gambar 7 : sirkulasi dalam pasar Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar 8 : standar lapak sedang Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar : standar lapak sedang Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(56)

44

Gambar 10: sirkulasi dalam pasar Sumber : Wildan Alghiffari,2018

3. Bangunan penunjang (konter makanan)

Gambar 11 : antropometrik konter makanan Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar 12 : antropometrik konter makanan Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(57)

45

Gambar 13: antropometrik konter untuk makan/ jarak bersih antara kursi (stool) Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar 14 : antropometrik konter untuk makan/ jarak bersih meja Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(58)

46

Gambar 15 : antropometrik meja makan Sumber : Wildan Alghiffari,2018

4. Toilet Umum

Gambar 16 : antropometrik tata letak urinal Sumber : Wildan Alghiffari,2018

Gambar17 : antropometrik kukus/WC Sumber : Wildan Alghiffari,2018

(59)

47

Gambar17 : antropometrik tata letak lavatory Sumber : Wildan Alghiffari,2018

E. Tinjauan Konsep Pendekatan Arsitektur Neo Vernakuler 1. Pengertian Arsitektur Neo Vernakuler

Arsitektur Neo Vernakular adalah salah satu konsep arsitektur yang berkembang pada era Post Modern. Post modern adalah aliran arsitektur yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an, adanya post modern dikarenakan adanya sebuah Gerakan yang dilakukan oleh beberapa arsitek salah satunya adalah Charles Jencks untuk mengkritisi arsitektur modern.

Hal tersebut dilakukan dikarenakan arsitek – aritek ingin memberikan sebuah konsep baru yang lebih menarik dari arsitektur modern yang mempunyai bentuk – bentuk yang monoton (Fajrine et al., 2017).

Dimana menurut (Budi A Sukada, 1988) terdapat enam aliran yang ada di zaman arsitektur post modern salah satunya adalah arsitektur neo- vernakular. Dari semua aliran yang berkembang pada Era Post Modern ini memiliki 10 (sepuluh) ciri-ciri arsitektur sebagai berikut.

a. Mengandung unsur komunikatif yang bersikap lokal atau populer

Referensi

Dokumen terkait

Secara fisik, bentuk bangunan resort di kawasan hutan mangrove Pasar Banggi Rembang menerapkan pendekatan konsep arsitektur neo- vernakular, yaitu bangunan yang

Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat dan karunia-Nya karya tulis Konsep Perencanaan dan Perancangan Redesain Pasar Panggungrejo Surakarta

Pada pasar terdapat berbagai macam kegiatan usaha selain penjualan barang, di pasar juga menjual jasa sebagai pengangkut barang yang memiliki tugas untuk mengangkut barang belanjaan