RE-DESAIN PASAR TRADISIONAL ALOK DI KABUPATEN SIKKA
DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR
LAPORAN
PENGEMBANGAN KONSEP TUGAS AKHIR
MARTINO YUANDRI SETU RAJA 5180911207
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA 2024
i
ii Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal
iii
PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN
iv
KATA PENGANTAR
v
ABSTRAK
Kabupaten Sikka memiliki berbagai jenis pasar salah satunya yaitu Pasar Tradisional Alok yang terletak di Jalan Litbang. Pasar ini merupakan pasar tradisional tertua di Kota Maumere yang sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan, dan papan. Pasar Tradisional Alok memiliki keunggulan bersaing yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Selain lokasi yang strategis, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, dan sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan dari Pasar Tradisional Alok.
Namun adapun permasalahan dari pasar ini yang kemudian perlu adanya redesain kembali Pasar Alok sehingga keberadaan dan fungsi dari pasar tradisional tetap terjaga sebagai mana mestinya. Berangkat dari permasalahan yang ada diupayakan meredesain kembali pasar tradisional alok dengan pendekatan arsitektur Neo vernakular. Redesain pasar tradisional alok diharapkan mampu memperbaiki sistem pengolahan pasar, utilitas bangunan, menambah fasilitas-fasilitas penunjang sesuai standar yang berlaku, memperbaiki Fasilitas Pelayanan dan kenyamanan dengan mengaplikasikan arsitektur Neo vernakuler dalam rangka mempertahankan dan menyegarkan kembali lingkungan budaya yang mungkin telah lama hilang dari masyarakat sehingga perlunya nilai-nilai budaya yang berkembang pada masa kini.
Kata Kunci : Pasar Tradisional, Budaya, Kabupaten Sikka, Arsitektur Neo Vernakular
i
DAFTAR ISI
JUDUL
PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... v
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR TABEL & GRAFIK ... viii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. LATAR BELAKANG ... 1
1.1.1. Pengertian Judul ... 1
1.1.2. Pendekatan Perancangan ... 2
1.1.3. Latar Belakang Lokasi ... 2
1.1.4. Potensi Wisata Di Provinsi Nusa Tenggara Timur ... 4
1.1.5. Prediksi Jumlah Pedagang Dan Pengunjung ... 14
1.1.6. Dasar Pemilihan Kasus ... 16
1.1.7. Dasar Pemilihan Pendekatan ... 18
1.2. PERMASALAHAN ... 19
1.2.1. Permasalahan Umum ... 19
1.2.2. Permasalahan Khusus ... 20
1.3. TUJUAN DAN SASARAN ... 20
1.3.1. Tujuan ... 20
1.3.2. Sasaran ... 20
1.4. METODE DAN LINGKUP PEMBAHASAN ... 20
1.4.1. METODE PENGUMPULAN DATA ... 20
1.4.2. METODE ANALISIS DATA ... 20
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN ... 21
1.6. KEASLIAN PENULISAN ... 21
BAB II ... 23
TINJAUAN PUSTAKA ... 23
2.1. TINJAUAN PASAR TRADISIONAL ... 23
2.1.2. Pengertian umum dan karakteristik Pasar Tradisional ... 23
ii
2.1.2. Ciri Pasar Berdasarkan Tingkatnya ... 23
2.1.3. Syarat-syarat Pasar Tradisional ... 24
2.1.4. Teori ruang dan modul pasar ... 25
2.1.5. Perencanaan tapak pasar tradisional ... 30
2.1.6. Peraturan umum syarat Pasar Tradisional ... 31
2.1.7. Studi Kasus Berdasarkan Fungsi Bangunan ... 32
2.2. TINJAUAN KHUSUS ... 36
2.2.1. Sejarah Perkembangan dan Dasar Pengertian Arsitektur Neo Vernakular ... 36
2.2.2. Ciri-ciri Lain Arsitektur Neo-Vernakular ... 37
2.2.3. Perinsip Arsitektur Neo Vernakular ... 37
2.2.4. Perinsip Arsitektur Neo Vernakular ... 38
REVIEW STUDI KASUS ... 44
2.3. REVIEW STUDI KASUSU ... 44
BAB III ... 46
METODE PERANCANGAN ... 46
3.1. METODE PERANCANGAN ... 46
3.2. METODE PENGUMPULAN DATA ... 46
3.2.1. Data primer ... 46
3.2.2. Data Sekunder ... 47
3.3. METODE ANALISIS DATA ... 48
3.3.1. Analisis Fungsi Bangunan ... 48
3.3.2. Analisis sebuah fungsi pendekatan ... 48
3.3.3. Analisis Ruang Dalam Bangunan ... 48
3.3.4. Analisis Area Luar Bangunan ... 49
3.3.5. Analisis Standar dan Fasilitas Bangunan ... 49
3.3.6. Analisis Tapak ... 49
3.4. METODE KONSEP PERANCANGAN ... 49
3.4.1. Konsep Fungsi Bangunan ... 49
3.4.2. Konsep Pendekatan ... 49
3.4.3. Konsep Ruang Dalam Bangunan ... 50
3.4.4. Konsep Ruang Luar Bangunan ... 50
3.4.5. Konsep Standar dan Fasilitas Bangunan ... 50
3.4.6. Konsep Perancangan Tapak ... 50
3.5. SKEMA METODE PERANCANGAN ... 51
BAB IV ... 52
ANALISIS DAN PEMBAHASAN... 52
iii
4.1. LOKASI DAN PEMILIHAN SITE ... 52
4.2. ANALISIS SITE ... 56
4.2.1. Data site dan peraturan pembangunan ... 56
4.2.2. Peraturan Pembangunan ... 61
4.2.3. Analisis Skala Makro ... 62
4.2.4. Analisis Skala Messo ... 62
4.2.5. Analisis Fungsi Bangunan Pada Tapak ... 64
4.2.6. Analisis Mikro ... 68
4.3. ANALISIS PROGRAM RUANG ... 78
4.3.1. Analisis Pengguna dan Kegiatan Pasar ... 78
4.3.2. Analisis Kebutuhan Ruang dan Aktifitas Pengguna ... 81
4.3.3. Analisis Besaran Ruang ... 83
4.3.4. Analisis Pola Tata Atur Ruang ... 90
4.3.5. Analisis Struktur ... 91
4.3.6. Analisis Utilitas ... 97
BAB V ... 106
KESIMPULAN ... 106
5.1 KONSEP TRANSFORMASI GUBAHAN MASSA ... 106
5.2 KONSEP GUBAHAN MASSA ... 108
5.3 KONSEP FASAD BANGUNAN ... 109
5.4 KONSEP LANDSCAPE ... 110
5.5 KONSEP STRUKTUR ... 110
5.6 KONSEP UTILITAS BANGUNAN ... 111
5.7 KONSEP DASAR PERANCANGAN ... 113
DAFTAR PUSTAKA ... 115
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Gerbang masuk Pasar Tradisional Alok
Gambar 1.2. Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Sikka Gambar 1.3. Peta Rencana Kawasan Strategis Kabupaten Sikka Gambar 1.4. Perhitungan Jumlah Pengunjung
Gambar 1.5. Situasi Pasar Senja Wuring di Kabupaten Sikka
Gambar 1.6. Pertemuan Penjual Pasar Wuring dan Pejabat Bupati Sikka Gambar 2.1. Layout Ukuran Ruang Kerja
Gambar 2.2. Layout Ukuran Interior Ruang Kerja Gambar 2.3. Layout Ruang Pertemuan
Gambar 2.4. Skema lalu-lintas dan penataan los toko ikan
Gambar 2.5. Skema lalu lintas dan penataan los toko buah-buahan dan sayuran Gambar 2.6. Penataan Los Toko Daging
Gambar 2.7. Penataan Los Toko Swalayan
Gambar 2.8. Penurunan Barang (Bongkar Muatan) Gambar 2.9. Jenis dan Ukuran Mobil Truk
Gambar 2.10. Jenis dan ukuran Parkiran mobil Gambar 2.11. Jenis dan ukuran Parkiran motor Gambar 2.12. Pola Pembagian Los/Kios
Gambar 2.13. Tampak Depan Pasar Sentul Yogyakarta Gambar 2.14. Area Lantai 3 dan Area Roof top
Gambar 2.15. Pasar tradisional sarijadi
Gambar 2.16. Ruang Terbuka Pasar Tradisional Sarijadi Gambar 2.17. Interior Pasar Sarijadi
Gambar 2.18. Tampak Samping Masjid Raya, Sumatra Barat Gambar 2.19. Fasad Bangunan Masjid, Sumatra Barat
v Gambar 2.20. Iterior Masjid Raya, Sumatra Barat
Gambar 2.21. Konstruksi Interior Masjid Raya Gambar 2.22. Ornamen Dinding Masjid Raya
Gambar 2.23. Prespektif Bngunan Teater Nasional Malaysia Gambar 2.24. Interior Gedung Istana Budaya
Gambar 2.25. Area Loby Gedung Istana Budaya Gambar 2.26. Area Teater Gedung Istana Budaya Gambar 3.1. Kerangka Pola Pikir
Gambar 4.1. Site Perancangan Pasar Alok Gambar 4.2. Pemukiman Penduduk Gambar 4.3. Kantor Dinas Pertanian Gambar 4.4. Pasar Bambu
Gambar 4.5. Dinas Pertanian Dan perkebunan Gambar l 4.6. Lahan Kosong
Gambar 4.7. Perkebunan Jagung Gambar 4.8. Pemukiman Penduduk Gambar 4.9. Toko Bahan Bangunan
Gambar 4.10. Toko Bahan Bangunan dan Pemukiman Penduduk Gambar 4.11. Peta Adminitrasi Kabupaten Sikka
Gambar 4.12. Konteks Sekitar Site Gambar 4.13. Pembagian Ruang Pasar Gambar 4.14. Kios Sembako (Blok A) Gambar 4.15. Kios Sembako (Blok B) Gambar 4.16. Kios Sembako (Blok C) Gambar 4.17. Kios Sembako (Blok D) Gambar 4.18. Area Los (Buah-buahan) Gambar 4.19. Area Los (Sayuran)
vi Gambar 4.20. Area Los (Pakaian)
Gambar 4.21. Area Los (Kain Tenun) Gambar 4.22. Area Warung tenda Gambar 4.23. Pedagang kaki lima (PKL) Gambar 4.24. Site Perancangan
Gambar 4.25. Respon Regulasi Site Gambar 4.26. Analisis Topografi Gambar 4.27. Respon Topografi Gambar 4.28. Analisis Matahari
Gambar 4.29. Respon penataan gubahan masa Gambar 4.30. Analisis Angin
Gambar 4.31. Respon Analisis Angin Gambar 4.32. Analisis Sirkulasi
Gambar 4.33. Respon Analisis Sirkulasi Gambar 4.34. Skema Sirkulasi Manusia Gambar 4.35. Skema Sirkulasi Kendaraan
Gambar 4.36. Skema Sirkulasi Kendaraan Bongkar Muat Barang Gambar 4.37. Foto Bersama Kepala Pasar Alok (Pak. Yohanes Ifery) Gambar 4.38. Hubungan Ruang Penjual/pedagang
Gambar 4.39. Hubungan Ruang Pengunjung Gambar 4.40. Hubungan Ruang Pengelola Gambar 4.41. Hubungan Ruang Penunjang Gambar 4.42. Hubungan Ruang Servis Gambar 4.43. Hubungan Ruang Area Parkir
Gambar 4.44. Rumah Adat Kabupaten Sikka (Lepo Gete) Kediaman Para Raja-raja Sikka Gambar 4.45. Pondasi Tiang Pancang
Gambar 4.46. Pondasi Foot Plat Gambar 4.47. Kolom Struktur
vii Gambar 4.48. Balok Struktur
Gambar 4.49. Plat Lantai
Gambar 4.50. Prinsip Penulangan Kantilever Gambar 4.51. Silinder Kubah (Barrel Vault) Gambar 4.52. Skema Sistem panel surya Gambar 4.53. Skema Sistem Genset dan PLN Gambar 4.54. Skema down feed system Gambar 4.55. Skema Jaringan Air Bersih Gambar 4.56. Skema Jaringan Air Kotor Gambar 4.57. Skema Jaringan Air Hujan Gambar 4.58. Skema Cross Ventilation
Gambar 4.59. Skema Sistem penghawaan Alami Gambar 4.60. Skema Sistem penghawaan Buatan Gambar 4.61. Skema Sistem Jaringan Telpon Gambar 4.62. Skema Sistem Jaringan Internet Gambar 4.63. Skema Sistem Alarm kebakaran Gambar 4.64. Skema Sistem Sprintkler
Gambar 4.65. Skema Sistem Hydrant
Gambar 4.66. Skema Transportasi Vertikal (Travelator) Gambar 4.67. Skema Transportasi Vertikal (Tangga darurat) Gambar 4.68. Analisis Transportasi Vertikal
Gambar 4.69. Studi kasus perencanaan jalur evakuasi Gedung dan Rambu Jalur Evakuasi
Gambar 4.70. Skema Jaringan dan Tahap Pembuangan Sampah
Gambar 5.1. Konsep Transformasi Gubahan massa pada badan bangunan Gambar 5.2. Konsep Transformasi Gubahan massa pada atap bangunan Gambar 5.3. Konsep Gubahan Massa
Gambar 5.4. Pembagian Fungsi dari zona pada gubahan Massa Gambar 5.5. Penerapan Konsep Fasad Bangunan
Gambar 5.6. Konsep Landscape Gambar 5.7. Konsep Struktur Gambar 5.8. Konsep Elektrikal
viii Gambar 5.9. Konsep Drainase dan Air Kotor
Gambar 5.10. Konsep Air Bersih
Gambar 5.11. Konsep Dasar Perancangan
DAFTAR TABEL & GRAFIK
Tabel 1.1. Luas Kabupaten Sikka Menurut Kecamatan Tabel 1.2. Daftar Pasar Tradisional di kabupaten Sikka Tabel 1.3. Jumlah Sarana Perdagangan di Kabupaten Sikka
Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Kabupaten Sikka Menurut Kecamatan Tabel 2.1. Kesimpulan studi kasus
Tabel 2.2. Penerapan studi kasus
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Sikka 2020,2021 dan 2022 Tabel 3.1. Kerangka Pola Pikir
Grafik 4.2. Luas Daerah Menurut Kecamatan Di Kabupaten Sikka Tabel 4.3. Kerangka Pola Pikir
Tabel 4.4. Jumlah Wisatawan Tahun 2020-2024, dan Proyeksinya s/d Tahun 2030 Tabel 4.5. Jumlah Daya Tarik Wisata Menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Nusa TenggaraTimur, 2019*
Tabel 4.6. Objek dan Daya Tarik Wisata Kabupaten Sikka Tabel 4.7. Suhu dan Kecepatan Angin di Kabupaten Sikka Tabel 4.8. Sarana dan prasarana di Pasar Alok
Tabel 4.9. Jumlah Pengguna Pasar Alok Tabel 4.10. Analisis Kebutuhan Ruang
Tabel 4.11. Aktifitas Pengguna dan Fasilitas Pasar Alok Tabel 4.12. Besaran Ruang Utama
Tabel 4.13. Besaran Ruang Penunjang
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG 1.1.1. Pengertian Judul
Keberadaan pasar tradisional di Indonesia bukan semata urusan ekonomi, namun mencakup isi ruang dan relasi sosial, warisan dan budaya. Bahkan kehadiran pasar tradisional merupakan bukti peradaban yang berlangsung sejak lama mengingat nilai historinya begitu melekat. Pasar Tradisional seringkali dianggap sebagai salah satu prasarana yang membawa citra buruk bagi estetika kota.
Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, mall, plaza, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya (Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor: 53/M-DAG/PER/12/2008).
Gambar 1.1. Gerbang masuk Pasar Tradisional Alok (Sumber : Dokumentasi Lapangan, 2024)
2 1.1.2. Pendekatan Perancangan
Di era modern ini, masyarakat sudah mulai melupakan budaya lokal dan lebih condong ke arah tersebut budaya asing dengan alasan budaya lokal sudah ketinggalan jaman atau kuno.Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan Arsitektur Neo Vernakular dengan tujuan melestarikan unsur-unsur lokal yang ada pada suatu tempat kemudian mengalami pembaharuan menjadi karya yang lebih maju.
Arsitektur Neo Vernakular muncul dengan karakteristik yang khas menggunakan bahan lokal dan konsep kebudayaan sebagai ungkapan perwujudannya telah mengambil bagian dalam suasana arsitektur. Merupakan karya arsitektur asli yang dibangun oleh masyarakat setempat.
Penerapan pendekatan arsitektur Neo vernakular pada Redesain Pasar Tradisional Alok ini adalah menciptakan solusi arsitektural untuk membangun kekerabatan antara pedagang dan pembeli agar prinsip keseimbangan (timbal balik) semakin optimal dan diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah bagi masyarakat Kabupaten Sikka.
Hasil Redesain Pasar Tradisional Alok memfokuskan pada menyelesaikan permasalahan Penataan Bangunan, Peningkatan Perekonomian daerah dan memperbaiki sistem pengelolahan pasar.
1.1.3. Latar Belakang Lokasi
Kabupaten Sikka, terdiri dari 18 pulau dengan 9 pulau yang merupakan pulau yang tidak berpenghuni dan 9 pulau dihuni.
Sumber : Kabupaten Sikka dalam angka 2023 Tabel 1.1. Luas Kabupaten Sikka Menurut Kecamatan
3 Kabupaten Sikka memiliki luas wilayah 1.731,91 Km2 dan berbatasan dengan, Sebelah Utara: Laut Flores; Sebelah Timur: Kab. Flores Timur; Sebelah Barat:
Kabupaten Ende; Sebelah Selatan: Laut Sawu. Terdapat 21 kecamatan pada wilayah kabupaten. Dari 21 kecamatan tersebut terdapat 147 desa, dan 13 kelurahan di Kecamatan Alok, Alok Barat, dan Alok Timur.
Gambar 1.2. Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Sikka Sumber : BAPPEDA Kabupaten Sikka, 2023
Gambar 1.3. Peta Rencana Kawasan Strategis Kabupaten Sikka Sumber : BAPPEDA Kabupaten Sikka, 2023
4 Dari 160 desa/kelurahan tersebut, 22 diantaranya adalah hasil pemekaran pada tahun 2001, dan 5 diantaranya adalah hasil pemekaran pada tahun 2007.
Kecamatan yang mempunyai jumlah Desa terbanyak adalah Talibura dengan 12 Desa dan Kecamatan yang paling sedikit Desanya adalah Mapitara dengan 4 Desa.
Sebelum
Tahun 2007, Kabupaten Sikka terdiri dari 12 Kecamatan, seiring dengan diberlakukan UU Otonomi
Daerah terjadi pemekaran wilayah Kecamatan menjadi 21 Kecamatan.Sesuai dengan data yang diperoleh dari Dinas Perindag Kabupaten Sikka terdapat beberapa penggolongan sarana perdagangan yang tersebar yakni pasar tradisional.
1.1.4. Potensi Wisata Di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Jumlah Wisatawan yang mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2020 adalah sebanyak 713.720 orang, terdiri atas 113.595 wisatawan Mancanegara dan 605.534 wisatawan Domestik. Peningkatan jumlah wisatawan selama kurun waktu 5 tahun sekitar 10-15 %. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 dengan total 679.733 wisatawan. Kabupaten atau kota dengan kunjungan wisatawan terbanyak tahun 2021 adalah Kota Kupang dengan 267.181 wisatawan, diikuti Kabupaten Manggarai Barat dengan 134.181 wisatawan.
Tahun (Year)
Wisatawan (Visitors)
Jumlah (Total) Mancanegara
(Foreign)
Domestik (Domestic)
2013 45.107 318.658 363.765
2014 65.939 331.604 397.543
2015 66.860 374.456 441.316
2016 65.499 430.582 496.081
2017 93.455 523.083 616.538
2018 98.128 549.237 647.365
2019 103.034 576.699 679.733
2020 108.186 605.534 713.720
2021 113.595 635.811 749.406
2022 119.275 667.601 786.876
2023 125.239 700.981 826.220
2024 131.501 736.030 867.531
2025 138.076 772.831 910.907
Tabel 4.3. Jumlah Wisatawan Tahun 2020-2024, dan Proyeksinya s/d Tahun 2030
5
2026 144.980 811.473 956.453
2027 152.229 852.047 1.004.276
2028 159.840 894.649 1.054.489
2029 167.832 939.381 1.107.213
2030 176.224 986.351 1.162.575
Kabupaten/Kota (Regency/Municipality)
Wisatawan (Visitors)
Jumlah (Total) Mancanegara
(Foreign)
Domestik (Domestic)
Sumba Barat 514 3.556 4.070
Sumba Timur 401 14.858 15.259
Kupang - 366 366
Timor Tengah Selatan 62 11.717 11.779
Timor Tengah Utara 277 6.758 7.035
Belu 3.750 24.445 28.195
Alor 94 4.051 4.145
Lembata 14 6.796 6.810
Flores Timur 160 20.356 20.516
Sikka 108.186 605.534 713.720
Ende 7.621 22.713 30.334
Ngada 4.240 4.513 8.753
Manggarai 3.375 11.660 15.035
Rote Ndao 608 422 1.030
Manggarai Barat 57.536 76.645 134.181
Sumba Tengah - - -
Sumba Barat Daya 378 5.164 5.542
Nagekeo 47 7.259 7.306
Manggarai Timur 118 1.766 1.884
Sabu Raijua 13 1.215 1.228
Malaka - 1.999 1.999
Kota Kupang 6.530 260.651 267.181
Nusa Tenggara Timur 93.455 523.083 616.583
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Timur / BPS, NTT dalam angka 2020
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Timur / BPS, NTT dalam angka 2020 Tabel 4.4. Jumlah Wisatawan Tahun 2020-2024, dan Proyeksinya s/d Tahun 2030
6 Kabupaten/Kota
(Regency/Municipality)
Daya Tarik Wisata (Tourist Attraction)
Jumlah (Total) Alam
(Nature)
Budaya (Culture)
Minat Khusus (Special Interst Tourism)
Buatan (Artificial)
Sumba Barat 12 16 1 - 29
Sumba Timur 13 7 - - 20
Kupang 11 5 10 2 28
Timor Tengah Selatan 8 3 4 1 16
Timor Tengah Utara 2 7 - - 9
Belu 10 10 2 - 22
Alor 7 9 2 - 18
Lembata 13 4 1 - 18
Flores Timur 15 8 5 - 28
Sikka 9 17 4 - 30
Ende 15 9 8 - 32
Ngada 7 12 5 - 24
Manggarai 6 9 1 - 16
Rote Ndao 11 4 3 - 18
Manggarai Barat 12 4 1 - 17
Sumba Tengah 4 4 - - 8
Sumba Barat Daya 15 15 1 - 31
Nagekeo 4 3 2 - 9
Manggarai Timur 16 13 1 - 30
Sabu Raijua 6 9 2 - 17
Malaka 2 2 - - 4
Kota Kupang 6 2 10 1 19
Nusa Tenggara Timur 204 172 63 4 443
Tabel 1.3 Jumlah Daya Tarik Wisata Menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Nusa tenggaraTimur, 2019*
Sumber : Badan Pusat Statistik Propinsi Nusa Tenggara Timur / BPS, NTT dalam angka 2020
Tabel 4.5. Jumlah Daya Tarik Wisata Menurut Kabupaten/Kota di Propinsi Nusa tenggaraTimur, 2019*
7 No. Objek dan Daya
Tarik Wisata Lokasi
Jarak dari Kota/Kabu
paten
Jenis Daya Tarik
Wisata Foto Objek Wisata
I. Wilayah Kabupaten Sikka
1.
Kawasan Taman Wisata Alam Laut Gugus Pulau Teluk Maumere
Kecamatan Alok Timur,Alok,Kewapante, Kangae, dan Talibura
50 Km
Variasi
Koral/Terumbu Karang, Ikan hias,Konservasi Hutan Pantai.
2.
Perumahan Tradisional Suku Bajo
Wuring, Kel.
Wolomarang, Kec. Alok Barat
3 Km
Perumahan di atas laut dan Pasar Rakyat
3. Patung Kristus Raja
Kel. Kota Uneng, Kec.
Alok 700 M
Tempat Ziarah umat Khatolik,Patung Yesus yang di Berkati oleh Paus Yohanes Paulus II
4. Regalia Kerajaan Sikka
Kel. Kota Uneng, Kec.
Alok 700 M
Tempat penyimpanan pakaian kebesaran Raja Sikka
5. Gereja Tua Sikka Desa Sikka, Kec. Lela 27 Km
Gereja tua berarsitektur tradisional Eropa peninggalan Portugis dari abad ke-16 dan 17, Menino, Senhor, dan berbagai
Tabel 4.6. Objek dan Daya Tarik Wisata Kabupaten Sikka
8 perlengkapan
misa/ibadah umat Khatolik.
6. Wisung Fatima
Lela Desa Lela, Kec. Lela 24 Km
Patung Bunda Maria,Bukit Golgota,Relief peristiwa Rosario dan Stasi Jalan Salib Umat Khatolik.
7. Gereja Tua Lela Desa Lela, Kec. Lela 24 Km
Gereja Tua berarsitektur Eropa warisan Belanda
8.
Miniatur Perahu Perunggu “Jong Dobo”
Desa Hewokloang, Kec.
Hewokloang 17 Km
Warisan jaman Dongson dari Siam Sina yang memiliki nilai Magis
9. Rumah Adat
“Lepo Kirek”
Desa Hewokloang, Kec.
Hewokloang 17 Km
Bangunan tradisional dengan Arsitektur Lokal, dua buah Gading gajah,
mangkuk,tempayan keramik, piring, dan patung kerbau
10.
Patung Bunda Maria Segala Bangsa Nilo
Desa Wuliwutik, Nilo,
Kec. Nita 14 Km
Patung setinggi 27 meter, terletak di atas bukit Nilo
9 12. Museum Bikon
Blewut
Desa Takaplager,
Kec.Nita 9 Km
Berbagai jenis peninggalan purbakala dan hasil temuan binatang langka dan gading gajah purba
13. Pantai Waturia Desa Kolisia, Kec.
Magepanda 13 Km Pantai Pasir Hitam,
dan Panorama alam
14. Wairnokerua Desa Kolisia, Kec.
Magepanda 22 Km
Mata Air dalam batu yang memiliki sejarah Kerohanian, Jejak Santo
Fransiskus Xaverius
15. Tanjung Kajuwulu
Desa Magepanda, Kec.
Magepanda 27 Km
Bukit Sabana dengan salib besar di bukit menyajikan panorama yang indah ke arah sekitar pantai teluk
maumere
16. Pantai Wair Terang
Desa Wair Terang, Kec.
Waigete 29 km
Pantai Pasir putih dan Panorama alam yang memikat dan ada air terjun
17. Mata Air Panas Blidit
Desa Egon, Kec.
Waigete 26 km
Mata Air Panas dan Kawasan Hutan Lindung
10 18. Gua Alam
Patiahu
Desa Runut, Kec.
Waigete 30 km
Stalaktik dan Stalakmit yang menawan
21. Pantai Paga Desa Paga, Kec. Paga 45 Km
Pantai berpasir dan gulungan ombak yang jauh dari bibir pantai
22.
Rumah Adat dan Kubur Batu Nuabari
Desa Lenandareta, Kec.
Paga 54 Km Kubur Batu dan
Rumah Adat
23. Pantai Koka Desa Wolowiro, Kec.
Paga 49 Km
Pantai berpasir dan panorama ombak yg tenang
24.
Pantai Pasir Putih Pulau Pangabatang
Desa Permaan, Kec.
Alok 17 Mil
Pantai Pasir putih dan Panorama alam yang memikat
25. Air Terjun Murusobe
Desa Poma, Kec.
Tanawawo 50 Km
Air terjun Kembar dengan ketinggian 80 meter
11 27. Danau
Semparong
Desa Semparong, Kec.
Alok 47 Mil
Danau Air Asin dengan kadar garam yang tinggi dan memiliki panorama alam yang memukau
28. Penyulingan Uap Panas Bumi
Desa Rokirole, Kesokoja, Ladolaka, Nitunglea, Taunggeo, Kec. Palue
41 Mil
Penyulingan Uap Panas Bumi secara manual untuk memenuhi kebutuhan air minum II. Wilayah Kabupaten Ende
1. Kampung Adat Saga
Desa Saga, Kecamatan
Detusoko, Kab. Ende 25 Km
Kampung Tradisional yang memiliki Bangunan Tradisional Khas yang disebut Sa’o
2.
Taman Nasional Danau Tiga Warna Kelimutu
Woloara, Kelimutu,
kab.Ende 64 Km
Wisata Alam yang memiliki danau tiga warna dan memiliki unsur magis menurut cerita masyarakat adat setempat III. Wilayah Kabupaten Manggarai
1. Liang Bua Rahong Utara,
Kab.Manggarai 39 Km
Wisata Alam Edukasi Penelitian Kepurbakalaan, Manusia Purba
“Homo Florensis” di temukan
12 2. Kampung Adat
Waerebo
Satar Lenda, Satar Mese
Barat, Kab. Manggarai 7 Km
Sebuah Kampung Adat Kuno yang dihuni oleh 19 Generasi berturut- turut, dan memiliki Ciri Bangunan Arsitektur Tradisional yang unik
3. Pink Beach
Kawasan Pulau Komodo, Labuanbajo, Kab. Manggarai barat
687 Km
Wisata Pantai dengan ciri pasir pantai berwarna merah muda
4. Sawah Lodok Kab. Manggarai Tengah 20 Km
Wisata Alam, yang menyajikan Pesona Sawah dengan bentuk Jaring Laba- laba, adalah pembagian petak sawah berdasarkan strata social masyarakat adat setempat
5. Pulau Padar- Pulau Komodo
Kawasan Pulau Komodo, Labuanbajo, Kab. Manggarai barat
687 Km
Salah satu Taman Nasional yang di terima sebagai salah satu warisan dunia Unesco dan menjadi salah satu pulau yang tidak di huni oleh Komodo IV. Wilayah Kabupaten Ngada
13 1. Kampung Adat
Bena
Desa Tiworiwu, Kec.
Jerebuu, Kab.Ngada 21 Km
Wisata Budaya Kampung Adat Tradisional yang belum pernah tersentu kemajuan teknologi dan memiliki ciri Bangunan berarsitektur Tradisional
2.
Taman Wisata Alam (TWA) 17 Pulau Riung
Kec. Riung, Kab. Ngada 70 Km
Wisata Alam dengan Variasi Koral dan Terumbu Karang Taman laut
3.
Wisata Alam Air Panas
Mangeruda
Mangeruda, Kec. Soa,
Kab. Ngada 25 Km
Wisata Alam menyuguhkan Keindahan dan Mata Air Panas alami.
4. Ekowisata Lekodolo
Keligejo, Kec. Aimere,
Kab. Ngada 45 Km
Wisata Budaya yang menyuguhkan Pentas Seni (Tarian Ja’i) dan Upacara Adat (Sagi atau Adat Tinju)
V. Wilayah Kabupaten Flores Timur
1. Istana Raja Larantuka
Kel. Pohon Siri, Kab.
Larantuka 0 Km
Wisata
Budaya,Regalium Peninggalan Kerajaan Larantuka
14 2. Pulau Solor Ongalereng, Solor Barat,
Kab. Flores Timur 25 mil
Wisata Budaya dan Edukasi berupa peninggalan Bangsa Portugis
3.
Wisata Religi Prosesi Samana Santa
Kota Larantuka, Kab.
Flores Timur 0 Km
Wisata Rohani yang di adakan setiap masa Paskah yang di ikuti oleh setiap umat Khatolik di seluruh dunia
1.1.5. Prediksi Jumlah Pedagang Dan Pengunjung
Pasar Tradisional terdiri dari 16 Unit yang dikelolah oleh pemerintah, sedangkan selebihnya secara swadaya dikelolah oleh masyarakat setempat. Uraiannya terdapat pada table dibawah ini:
NO KECAMATAN PASAR TRADISIONAL
RESMI DARURAT
1 Alok Pasar Alok
Pasar Senja Kabor Tuanggeo 2 Alok Timur Pasar Maumere
Pasar Senja Wairotang -
3 Kewapante Pasar Wairkoja -
4 Waigete Pasar Waigete Runut,Holak & Watudiran 5 Talibura Pasar Talibura Boganatar , Wailamung & Nebe
6 Waiblama Pasar Tanarawa -
7 Bola Pasar Bola Natakoli
8 Paga PPI Paga & Pasar Woloweo Renggarasi & Ghera
9 Mapitara Pasar Halehebing -
10 Mego Pasar Lekebai Wolosaga
11 Nita Pasar Nita Nirangkliung & Nangablo
12 Palue Pasar Palue Pasar Tuanggeo
13 Lela Pasar Lela -
Tabel 1.2. Daftar Pasar Tradisional di kabupaten Sikka
Sumber : Dinas Perdagangan dan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sikka Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sikka, 2024
15 Jumlah sarana perdagangan di Kabupaten Sikka sebanyak 447 unit pada tahun 2023 dan fasilitas terbanyak ialah kios dengan 351 unit.
1. Jumlah Pedagang
Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2022 menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Sikka adalah 326.999 jiwa, dengan jumlah penduduk yang memiliki pekerjaan sebagai pedagang sebanyak 12% atau 39.239 Pedagang.
2. Jumlah Pengunjung
Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2021 (BPS Kabupaten Sikka) mengenai jumlah penduduk Kecamatan Alok, Alok Timur dan Alok Barat pada tahun 2021 sebanyak 55.758 jiwa.
Kecamatan
Proyeksi Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan (Jiwa)
2020 2021 2022
Paga 16.399 16474 16579
Mego 12939 13043 13172
Tanawawo 8926 8946 8982
Lela 11596 11621 11610
Bola 10797 10814 10812
Doreng 12002 12079 12180
Mapitara 6672 6706 6754
Talibura 22424 22618 22854
Waigete 24931 25208 25532
Waiblama 8074 8179 8300
Kewapante 14775 14906 15063
Hewokloang 8998 9072 9163
Kangae 18055 18220 18419
Palue 9497 9512 9508
Koting 6526 6540 6566
Tabel 1.4. Jumlah Penduduk Kabupaten Sikka Menurut Kecamatan
Sumber : Dinas Perdagangan dan jasa Kabupaten Sikka, 2020-2023 Tabel 1.3. Jumlah Sarana Perdagangan di Kabupaten Sikka
16 Lanjutan Tabel 1.4
Nelle 6147 6180 6226
Nita 22748 22895 23083
Magepanda 12727 12848 12993
Alok 32629 32633 32668
Alok Barat 22.294 22.906 23.575
Alok Timur 32.797 32.852 32.960
Sikka 321953 324252 326999
dengan jumlah kelurahan sebanyak 13 kelurahan, maka perkembangan jumlah pengunjung pasar dengan asumsi 10 tahun ke depan dapat diketahui dengan menggunakan rumus oleh ahli matematika Perancis Pimeon D Poisson. Rumus ini digunakan untuk menghitung prediksi jumlah penduduk :
Keterangan :
Pn = Jumlah pedagang setelah n tahun ke depan Po = Jumlah pedagang pada tahun akhir
r = Angka pertumbuhan pedagang n = Jangka waktu dalam 10 tahun 1.1.6. Dasar Pemilihan Kasus
1. Global Issue
Untuk merealisasi idealnya peningkatan setiap kota dalam sektor perekonomian guna medukung peningkatan pendapatan asli daerah maka pemerintah daerah kabupaten Sikka mendirikan pasar alok sebagai pasar tradisional yang memiliki lahan
Gambar 1.4. Perhitungan Jumlah Pengunjung Sumber : Analisis Penulis, 2024
(Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sikka)
Pn = Po { 1 + r . n }
17 seluaas ± 4000m2 pemilihan lokasi pembangunan pasar tradisional alok didasarkan pada pertimbangan agar lebih representative dan sesuai rencana tata ruang wilaya kabupaten dan rencana devinitif wilayah kabupaten, hal ini disebabkan peran peerintah daerah kabupaten sikka yang terus berupaya menggali setiap potensi pendapatan yang ada di wilayah kabupaten sikka baik dalam bentuk tindakan nyata maupun kebijakan- kebijakan atau regulasi.
2. Local Issue
• Para petugas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sikka membongkar dan menertibkan puluhan lapak milik para pedagang di pasar Alok Kota Maumere. Bangunan bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang sangat mengganggu akses bagi para pembeli untuk datang berbelanja di area pasar ini. Dan kami menerima banyak laporan atau keluhan dari masyarakat yang datang belanja di pasar ini, sehingga mereka lebih memilih belanja di pinggir jalan.
• Kabupaten Sikka telah menutup aktivitas di Pasar Wuring karena bertentangan dengan regulasi dan tidak sesuai dengan peruntukan berdasarkan tata ruang wilayah. Semua penjual di Pasar Wuring diarahkan untuk segera pindah ke Pasar Alok, yang merupakan pasar milik pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sikka, Tetapi Banyak keluhan dari masyarakat tentang semrawutnya tata kelola Pasar Alok, sehingga orang lebih suka berbelanja di Pasar Wuring.
Rencana penutupan Pasar Wuring sesuai dengan surat Nomor B.Ekon.511/104/XI/2023, tertanggal 16 November 2023, yang diterbitkan Penjabat Bupati Sikka dan ditujukan kepada pimpinan CV Bengkunis Jaya untuk menghentikan aktivitas di Pasar Wuring.
Gambar 1.5. Situasi Pasar Senja Wuring di Kabupaten Sikka Sumber : sikkakab.go.id
18 Dalam surat itu dijelaskan, regulasi yang dipakai untuk menghentikan aktivitas Pasar Wuring adalah Pasal 6 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha di Daerah Juncto Pasal 79 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perdagangan dan Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 5 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Sarana Perdagangan yang menetapkan bahwa lokasi pendirian pasar rakyat harus mengacu pada Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota dan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota.
Penjabat Bupati Sikka dalam pertemuan ini didampingi oleh Kadis Perindag UKM Kabupaten Sikka Yoseph Benyamin, SH, Kasat Pol PP dan Damkar Kabupaten Sikka Verdy Lepe, S.Sos, dan Kabag Ekonomi setda Kabupaten Sikka Kandidus Latang,SE selaku moderator. Pertemuan ini dihadiri juga utusan dari perangkat daerah terkait Pemerintah Kabupaten Sikka melalui Dinas Perindag akan melakukan pembenahan fasilitas dan penataan Pasar Alok demi kenyamanan dan ketertiban aktivitas jual beli masyarakat.
1.1.7. Dasar Pemilihan Pendekatan
Pengambilan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular juga berdasarkan dengan sejalannya visi misi dari daerah Kabupaten sikka yaitu “Mewujudkan Masyarakat
Gambar 1.6. Pertemuan Penjual Pasar Wuring dan Pejabat Bupati Sikka Sumber : sikkakab.go.id Di akses 14 Desember 2023
19 Kabupaten Sikka yang Bersatu , berkeadilan sehat, cerdas dan bermartabat dengan berbasis pada latar belakang Sejarah dan budaya melalui system pemerintahan yang baik dan bersih”. Sehingga dapat disimpulkan menjadi suatu objek bangunan Arsitektural yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sikka dalam bentuk Pasar Tradisional.
1.2. PERMASALAHAN
Kabupaten Sikka memiliki berbagai jenis pasar salah satunya yaitu Pasar Tradisional Alok yang terletak di jalan Litbang. Pasar ini merupakan pasar tradisional tertua di Kota Maumere yang sangat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan, dan papan. Pasar Tradisional Alok memiliki keunggulan bersaing yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern.
Selain lokasi yang strategis, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, dan sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan dari Pasar Tradisional Alok. Namun adapun permasalahan dari pasar ini yang kemudian perlu adanya redesain kembali Pasar alok sehingga keberadaan dan fungsi dari pasar tradisional tetap terjaga sebagai mana mestinya. Permasalahan tersebut antara lain :
1.2.1. Permasalahan Umum
Melekatnya stigma buruk pada pasar tradisional, seringkali mengakibatkan sebagian dari para pengunjung mencari alternatif tempat belanja lain, di antaranya mengalihkan tempat berbelanja ke pedagang kaki lima dan pedagang keliling yang lebih relatif mudah dijangkau (tidak perlu masuk ke dalam pasar). Berikut ini ada beberapa permasalahan klasik yang sering dijumpai pada pasar tradisional :
1. Banyaknya pedagang yang tidak tertampung.
2. Pasar tradisional mempunyai kesan kumuh.
3. Dagangannya yang bersifat makanan siap saji mempunyai kesan kurang higienis.
4. Pasar modern yang banyak tumbuh dan berkembang merupakan pesaing serius pasar tradisional.
5. Rendahnya kesadaran pedagang untuk mengembangkan usahanya dan menempati tempat dasaran yang sudah ditentukan.
6. Banyaknya pasar yang berstatus sebagaian tanah milik Pemerintah Daerah dan sebagian milik Pemerintah Desa.
20 1.2.2. Permasalahan Khusus
Bagaimana membuat dan meredesain ulang Pasar Tradisional Alok Maumere dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakuler yang dapat menunjang aktifitas pengguna ?
1.3. TUJUAN DAN SASARAN 1.3.1. Tujuan
Meredesain Pasar Alok di Kabupaten Sikka dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Neo Vernakular dengan penataan ulang kembali Ruangyang berada di dalam area pasar Alok.
1.3.2. Sasaran
Redesain Pasar Tradisional Alok di Kabupaten Sikka ini diharapkan mampu mengoptimalkan kembali fungsi pasar yang masih ada. Penerapan Arsitektur Neo Vernakular dalam rangka mempertahankan dan menyegarkan kembali lingkungan budaya yang perlahan-lahan hilang dari masyarakat sehingga perlunya nilai-nilai Budaya yang berkembang pada masa kini.
1.4. METODE DAN LINGKUP PEMBAHASAN 1.4.1. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang diterapkan dalam perencanaan dan perancangan Pasar Tradisional Alok ini adalah Metode ini dilakukan dengan cara mencari di internet dan mengutip dari beberapa buku baik Softcopy ataupun Hardcopy yang menyangkut tentang materi pembahasan bangunan Pasar.
1.4.2. METODE ANALISIS DATA
Data yang diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan lingkup pembahasan, diantaranya :
1. Analisis Site/Tapak.
2. Analisis Pengguna.
3. Analisis Sirkulasi dan Tatanan Massa.
4. Analisis Material Bangunan.
5. Analisis Utilitas.
21 1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan dibagi menjadi 4 Bab yang saling keterkaitan. Untuk mempermudah dalam penyampaian proposal ini, maka ditulis dalam sub-sub materi, pembagian tersebut diantaranya sebagai berikut :
BAB I PENDAULUAN : Bab ini berisikan tentang pengertian judul, dasar pemilihan kasus, latar belakang permasalahan baik Permasalahan umum maupun permasalahan khusus, potensi daerah, tujuan dan sasaran perancangan Redesain Pasar Tradisional Alok di Kabupaten Sikka dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular. Bab ini juga menjelaskan tentang latar belakang pengambilan judul, pendekatan konsep desain, dan lingkup pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA : Bab ini berisikan tentang pengertian dan fungsi bangunan, dan berisikan teori – teori tentang kutipan buku dan sumber – sumber ilmiah yang berkaitan dengan Redesain Pasar Tradisional Alok di Kabupaten Sikka dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular.
BAB III METODE PERANCANGAN : Bab ini berisikan tentang metode yang digunakan dalam perancangan dilengkapi dengan metode pengumpulan data dan analisis data.
BAB IV ANALISIS PEMBAHASAN : Bab ini berisi tentang Analisa site eksisting secara makro, messo dan mikro, serta menjelaskan tentang tahapan perancangan mulai dari fungsi, standar ruang, program ruang, konsep dasar, gubahan masa dan desain.
BAB V KESIMPULAN : Bab ini berisi penjelasan tentang hasil Analisa dan perancangan yang di jadikan sebagai dasar dalam merancang Redesain Pasar Tradisional Alok di Kabupaten Sikka dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular.
1.6. KEASLIAN PENULISAN
Untuk menghindari adanya duplikasi terhadap penekanan dalam penulisan pengembangan konsep tugas akhir dengan judul“Re-desain Pasar Tradisional Alok, Di Kabupaten Sikka Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular Kontemporer”, maka penulis melampirkan beberapa presedent penulisan pengembangan konsep tugas akhir mahasiswa sebelumnya yang digunakan sebagai referensi, sebagai berikut:
1. Judul Penulisan : REDESAIN PASAR TRADISIONAL BENTENG KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR
Tahun : 2020
22
Nama : MUSTAFAINAL AKHYAR
Nim : 4513043058
Jurusan : Arsitektur Jenis Karya : Tugas Akhir
2. Judul Penulisan : REDESAIN PASAR TRADISIONAL MODERN DI KOTA MAKASSAR ( PASAR LELONG ) Tahun : 2019/2020
Nama : REYNOLD PAPULING
Nim : 4513043028
Jurusan : Arsitektur Jenis Karya : Tugas Akhir
3. Judul Penulisan : PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR TRADISIONAL DWIKORA PARLUASAN
DI KOTA PEMATANGSIANTAR Tahun : 2018/2019
Nama : ELIZABETH CHRISTINA SIHOMBING
Nim : 03061181419039
Jurusan : Arsitektur Jenis Karya : Tugas Akhir
Dari beberapa referensi diatas perancangan yang penulis buat adalah “Re-design Pasar Tradisional Alok, Di Kabupaten Sikka Dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular Kontemporer” dengan fungsi bangunan yang sama namun dengan isu permasalahan yang berbeda. Pada Pasar Tradisional Alok Di Kabupaten sikka direncanakan sebagai bangunan yang menjadi wadah untuk pelaku ekonomi di kabupaten sikka dan menjadi bangunan yang dapat memberi nilai positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
23
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. TINJAUAN PASAR TRADISIONAL
2.1.2. Pengertian umum dan karakteristik Pasar Tradisional
Pengertian Pasar Tradisional Tempat yang merupakan pusat pengumpulan, penjualan,penyimpanan barang untuk disalurkan kepada grosir dan pusat pembelian yang lebih kecil dan jangkauan pelayanannya pun tidak hanya melayani lingkup regional saja tetapi sampai ke mancanegara (Mukhlas, 2007:15).
Pada saat sekarang system jual beli sangat pesat dikalangan masyarakat,pasar tradisional merupakan tempat yang masih menjadi kunjungan utama konsumen membeli kebutuhan pokoknya sehari-hari. Beberapa karakteristik pasar tradisional dapat dilihat sebagai berikut:
a) Pasar tradisional dimiliki, dibangun dan atau dikelola oleh pemerintah daerah.
b) Adanya sistem tawar menawar antara penjual dan pembeli. Hal ini yang dapat menjalin hubungan sosial antara pedagang dan pembeli yang lebih dekat.
c) Tempat usaha beragam dan menyatu dalam lokasi yang sama. Meskipun semua berada pada lokasi yang sama, barang dagangan setiap penjual menjual barang yang berbeda-beda. Selain itu juga terdapat pengelompokan dagangan sesuai dengan jenis dagangannya seperti kelompok pedagang ikan, sayur, buah, bumbu, dan daging.
d) Sebagian besar barang dan jasa yang ditawarkan berbahan lokal. Barang dagangan yang dijual di pasar tradisonal ini adalah hasil bumi yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Meskipun ada beberapa dagangan yang diambil dari hasil bumi dari daerah lain yang berada tidak jauh dari daerah tersebut namun tidak sampai mengimport hingga keluar pulau atau negara.
2.1.2. Ciri Pasar Berdasarkan Tingkatnya
Pasar Rakyat (Pasar Tradisional) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 diprioritaskan dibangun dengan berpedoman pada Purwarupa Pasar Rakyat. Purwarupa Pasar Rakyat sebagaimana dimaksud pada ayat terdiri atas :
a) Purwarupa Pasar Rakyat utama; atau b) Purwarupa Pasar Rakyat pilihan.
24 Purwarupa Pasar Rakyat utama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a merupakan Purwarupa Pasar Rakyat yang memiliki kriteria :
a) beroperasi setiap hari.
b) memiliki jumlah pedagang paling sedikit 300 (tiga ratus) orang.
c) luas bangunan paling sedikit 4.400 m2 (empat ribu empat ratus meter persegi) dan d) luas lahan paling sedikit 10.000 m2 (sepuluh ribu meter persegi).
Pasar Rakyat (Pasar Tradisional) Alok di Kabupaten Sikka merupakan pasar tipe B dengan kriteria:
1. Beroperasi paling sedikit 3 (tiga) hari dalam 1 (satu) pekan.
2. Memiliki jumlah pedagang paling sedikit 375 (dua ratus tujuh puluh lima) orang.
3. Memiliki luas lahan paling sedikit 4.000 m2 (empat ribu meter persegi).
2.1.3. Syarat-syarat Pasar Tradisional
Syarat-syarat Pasar Tradisional menurut peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 112 tahun 2007, tentang pembangunan, penataan dan pembinaan Pasar Tradisional.
a) Aksebilitas, yaitu kemungkinan pencapaian dari dan ke kawasan, dalam kenyataannya ini berwujud jalan dan transportasi atau pengaturan lalu lintas.
b) Kompatibilitas, yaitu keserasian dan keterpaduan antara kawasan yang menjadi lingkungannya.
c) Fleksibilitas, yaitu kemungkinan pertumbuhan fisik atau pemekaran kawasan pasar dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan dan keterpaduan prasarana.
d) Ekologis, yaitu keterpaduan antara tatanan kegiatan alam yang mewadahinya.
Pasar Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilakukan Pembangunan/Revitalisasi berdasarkan usulan perencanaan daerah yang disusun dan/
atau dikoordinasikan bersama organisasi perangkat daerah yang membidangi pekerjaan umum daerah setempat. Pembangunan/Revitalisasi Pasar Rakyat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk bangunan utama pasar yang meliputi atap, selasar /koridor / gang, toko /kios, los, dan/ atau hamparan/ dasaran/ jongko
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Perdagangan adalah tatanan kegiatan yang terkait dengan transaksi Barang dan/
atau Jasa di dalam negeri dan melampaui batas wilayah negara dengan tujuan pengalihan hak atas Barang dan/ atau Jasa untuk memperoleh imbalan atau kompensasi.
2. Pasar Rakyat (Pasar Tradisional) adalah tempat usaha yang ditata, dibangun, dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik negara,
25 dan atau badan usaha milik daerah, dapat berupa toko / kios, los, dan tenda yang dimiliki/ dikelola oleh pedagang kecil dan menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi serta UMK-M dengan proses jual beli Barang melalui tawar-menawar.
2.1.4. Teori ruang dan modul pasar
Adapun standar-standar sarana prasarana dalam pasar tradisional menurut Ernst Neufert dalam bukunya yang berjudul “Data Arsitek”, 2002:8 sebagai berikut :
1. Ruang Pengelola
Ruang Pengelola sebagai tempat karyawan atau staf yang mengelola pusat industri kreatif. Memiliki ukuran standar ruang 8 – 10 m2 .
2. Ruang Pertemuan atau Meeting Room
Tempat untuk berkumpul atau berdiskusi di sebuah kantor dengan karyawan atau klien membicarakan tentang bisnis atau permasalahan dan ide yang ada.
Gambar 2.1. Layout Ukuran Ruang Kerja
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024
Gambar 2.2. Layout Ukuran Interior Ruang Kerja
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024
26 3. Toko Ikan
Karena ikan mudah membusuk, ikan disimpan ditempat dingin dimana ikan yang diasap mutlak harus disimpan ditempat kering, berbeda dengan ikan segar.
Ikan mempunyai bau yang sangat tajam, karena itu toko harus dikelilingi pintu udara atau bukaan. Dinding dan lantai dapat dicuci. Lalulintas pengiriman yang besar harus diperhitungkan. Jika perlu disediakan akuarium (sarana promosi untuk ikan).
(Neufert,E.).
4. Toko buah-buahan dan sayuran segar.
Buah-buahan dan sayuran segar disimpan di tempat yang sejuk, tetapi tidak didinginkan, dalam keadaan utuh siap masak. Kentang ditempatkan diruangan gelap. Biasanya sering dengan wadah-wadah yang dapat dibawabawa atau ditukar,
Gambar 2.3. Layout Ruang Pertemuan
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
Gambar 2.4. Skema lalu-lintas dan penataan los toko ikan (Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29
Februari 2024)
27 kotak-kotak dan sebagainya. Dibawah tempat penyimpanan yang berkarat disediakan laci-laci pengaman. Toko buah-buahan dan sayuran jika perlu mirip
dengan toko bunga. Swalayan melayani barang siap saji dalam kemasan yang transparan.
5. Toko daging
Urutan kerja: 1. Penyerahan, 2. Pemotongan, 3. Dipotong potong, 4. Pengolahan, 5.
Pendinginan, 6. Penjualan. Lebih menguntungkan bila diletakaan ditempat datar, jika perlu memakai rel yang berjalan atau kereta dorong, karena ukuran daging yang besar.
Ruangan 1,5 sampai 2 kali luas ruang toko. Dinding-dinding: porselen, mosaic, dan sebagainya yang dapat dicuci bidang penyimpanan terbuat dari marmer, kaca, atau keramik.
Gambar 2.5. Skema lalu lintas dan penataan los toko buah-buahan dan sayuran Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
Gambar 2.6. Penataan Los Toko Daging
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
28 6. Toko Swalayan
Merupakan toko bahan makanan, pegawai toko hanya memberikan konsultasi, pertolongan,pemrosesan, pelayanan pada bagian daging,sosis, buah-buahan dan sayuran.
Semua barang jualan di kemas dalam pak dan di letakan secara jelas menurut persediaan barang. Rak-rak menempel pada dinding yang memungkinkan orang dapat meraihnya, Bidang tempat meletakan barang di bagian paling atas setinggi maksimal 1,80 m, terbawah 0,30 m dari lantai.
7. Loading Dock
Merupakan tempat untuk menurunkan barang yang dibawah oleh kendaraan seperti truk, mobil box dan lainnya. Serta sebgai tempat pemberhentian barang sementara untuk nantinya di masukan kedalam gudang penyimpanan barang.
Gambar 2.7. Penataan Los Toko Swalayan
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
Gambar 2.8. Penurunan Barang (Bongkar Muatan)
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
29 8. Parkiran Kendaraan
Merupakan tempat untuk menetapkan kendaraan seperti mobil dan motor, dan tempat parkir untuk sepeda.
Gambar 2.9. Jenis dan Ukuran Mobil Truk
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
Gambar 2.10. Jenis dan ukuran Parkiran mobil
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024) Gambar 2.11. Jenis dan ukuran Parkiran motor
Sumber : Ernst Neufert Data Arsitek Jilid 2 (Di akses 29 Februari 2024)
30 2.1.5. Perencanaan tapak pasar tradisional
Menurut Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Mari Elka Pangestu dalam Galuh Oktavina (2011:47), perencanaan tapak yang baik adalah sebagi berikut :
1. Kios
Setiap kios adalah tempat strategis, sehingga setiap blok hanya terdiri dari 2 (dua) deret yang menjadikan kios memiliki 2 (dua) muka. Kios paling luar menghadap keluar, sehingga fungsi etalase menjadi maksimal. Pola pembagian kios diatas (hanya 2 deret kios) terkadang terkendala oleh keterbatasan lahan dan harga bangunan menjadi tinggi. Solusinya adalah dapat dibuat 4 (empat) deret yang memungkinkan bagi pemilik kios yang lebih dari 1 (satu) kios dapat bersebelahan.
2. Koridor
Untuk mengoptimalkan strategisnya kios, terdapat selasar yang dapat juga sebagai koridor antar kios.
3. Jalan
Tersedia jalan yang mengelilingi pasar. Sehingga semua tempat memberikan kesan bagian depan/dapat diakses dari segala arah. Lebar jalan minimal 5 (lima) meter.
Sehingga dapat dihindari penumpukan antrian kendaraan. Disamping itu kendaraan dapat melakukan bongkar muat pada tempat yang tersebar sehingga makin dekat dengan kios yang dimaksud. Tujuan dari adanya jalan yang mengelilingi pasar adalah meningkatkan nilai strategis kios, mempermudah penanggulangan bahaya kebakaran, memperlancar arus kendaraan di dalam pasar, mempermudah bongkar muat.
Gambar 2.12. Pola Pembagian Los/Kios Sumber : Olah Data Penulis, 2024