94
Perancangan Villa Resort di Pantai Utara Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku Tenggara
(Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular)
Anselmus Reyaan*1, Anton Topan1, Henry Soleman Raubaba 1
1jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Musamus Jl. Kamizaun Mopah Lama, Merauke, Papua 996111
*Email: [email protected] Info Artikel
____________________
Sejarah Artikel:
Diterima (april) (2022) Disetujui (april) (2022) Dipublikasikan (april) (2022)
____________________
Keywords:
Villa Resort; Pulau Ohoieuw; Neo Vernakular
Abstrak
____________________________________________________________
Kabupaten Maluku Tenggara mempunyai akar budaya dan adat istiadat yaitu filosofi adat hukum Larvul Ngabal. Nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum Larvul Ngabal mampu memelihara ketertiban dan hubungan keakraban antar penduduk, menanamkan rasa gotong royong ( Budaya Maren), serta memupuk kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan alam melalui system “Hawear” yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak & berkelanjutan.Villa Resort merupakan sebuah fasilitas tempat tinggal sementara yang terletak di daerah yang berhawa sejuk, misalnya seperti di pegunungan, pinggiran kota, ditepi pantai dan dipulau. Perancangan villa resort ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan proses pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari hasil observasi atau pengamatan langsung ke lokasi penelitian dan data sekunder diperoleh melalui studi pustaka berupa buku, jurnal, laporan, dan studi literatur proyek sejenis yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan jenis kegiatan dan ruang-ruang.
Abstract
____________________________________________________________
Southeast Maluku Regency has cultural roots and customs, namely the philosophy of customary law of Larvul Ngabal. The values contained in Larvul Ngabal's law can maintain and close friendly relations between residents, instill a sense of cooperation (Maren Culture), and foster public awareness to maintain natural harmony through the "Hawear" system, which optimizes the use of natural &
sustainable resources.Villa Resort is a temporary residential facility located in a cool area, such as in the mountains, suburbs, the beach, and the island.This villa resort design uses qualitative and quantitative methods with the data collection process in the form of primary and secondary data. Primary data is obtained from observations or direct observations of the research location. Secondary information is obtained through library research in the form of books, journals, reports, and literature studies of similar projects, which are used as a reference to determine the types of activities and spaces.
ISSN 2622-9161 (online)
ISSN 2622-9153(cetak)
95 1. Pendahuluan
Kabupaten Maluku Tenggara mempunyai akar budaya dan adat istiadat yaitu filosofi adat hukum Larvul Ngabal.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam hukum Larvul Ngabal mampu memelihara ketertiban dan hubungan keakraban antar penduduk, menanamkan rasa gotong royong ( Budaya Maren), serta memupuk kesadaran masyarakat untuk menjaga keharmonisan alam melalui system “Hawear” yang mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijak & berkelanjutan.
Karakteristik wilayah Kabupaten Maluku Tenggara yang tersusun dari kepulauan yang berjumlah 68 pulau serta memiliki wilayah dengan luas 4.212,34 kilometer persegi
2. Metode Penelitian 1. Lokasi Penelitian a. Lokais Penelitian
Lokasi penelitian berada di Pulau
Ohoieuw, Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara dengan luas Pulau ± 17,86 ha.
Gambar 1. Lokasi Penelitian Pulau Ohoieuw
Lokasi perancangan Villa Resort direncanakan akan dibangun pada Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku Tenggara, sesuai dengan potensi yang terdapat pada lokasi pulau Ohoieuw.
2. Jenis dan Sumber Data
Sumber data merupakan acuan atau sumber dari data tersebut yang diambil untuk mendukung penelitian. Seperti pada tabel berikut:
Table 2.1. Data Primer dan Sekunder
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a. Observasi
Pada proses observasi atau studi banding langsung di objek yang terkait bertujuan untuk melihat keadaan objektif di lokasi penelitian. Hal ini guna membuka dan memperkaya wawasan dan membandingkan beberapa data yang diperoleh untuk dapat dikaji.
Sehingga dapat diperluas dan dicari jawabannya pada saat wawancara mendalam. Pengamatan ini dilakukan dengan mencatat, membuat sketsa atau gambar dan foto. Pada proses
Jenis Data Sumber Data
Jumlah
Wisatawan Dinas Pariwisata 2. Potensi Wilayah
Pariwisata Dinas Pariwisata 3. Jumlah Wisata
Kabupaten Maluku Tenggara
Dinas Pariwisata 4. Wisatwan Per
Obyek Wisata Dinas Pariwisata Sekunder Sumber data
Studi Pustaka Buku,Jurnal
Studi Literatur Internet 7. Wawancara Dinas Pariwisata
96 observasi kita dapat mengumpulkan data terkait dari objek Pulau Ohoiew maupun tema arsitektur yang digunakan.
b. Wawancara
Wawancara merupakan proses pengambilan data dengan bertanya langsung kepada narasumber dari obyek penelitian yang dilaksanakan dengan cara mengajak para informan untuk berbicara bebas dan mendalam.
Informan yang dimaksudkan antara lain kepada pengelola dan penghuni agar mendapatkan sample yang sesuai dengan objek dan tema penelitian. Hasil catatan, rekaman suara, dan gambar yang mendukung atau bermanfaat bagi penelitian dijadikan acuan utama, sedangkan yang lainnya disimpan dalam dokumen atau arsip.
Tabel 3.1. Jenis Lokasi Pulau Ohoeuw
3. Hasil dan Pembahasan 1. Analisa Site
Lokasi tapak merupakan lokasi dimana tapak dari Villa Resort berada, oleh karena itu lokasi tapak merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam perancanaan.
Sesuai dengan judul perancangan, maka lokasi tapak berada di Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku Tenggara dengan dasar pertimbangan sebagai berikut :
a. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 23/PERMEN- KP/2016 tentang Perencanaan Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai berikut : b. Pulau Ohoieuw ini Memiliki luas
lahan yang cukup untuk digunakan sebagai obyek pariwisata baru dan pengembangan fasilitas wisata.
c. Lokasi pulau merupakan salah satu pulau yang tidak berpenghuni dengan memiliki akses yang sangat dekat dengan pemukiman masyarakat.
d. Mayoritas masyarakat setempat merupakan masyarakat nelayan sehingga dapat mendukung keberadaan Villa Resort.
e. Pulau ohoieuw merupakan salah satu pulau yang memiliki ekosistim bawah laut yang secara alami terwat dengan baik.
f. Lokasi pulau ohoieuw sangat mudah dijangkau.
g. Pulau Ohoieuw memiliki arah pandang dan garis pantai yang sangat baik dalam mendukung obyek Pariwisata kedepan.
h. Lokasi pulau ohoieuw saat ini merupakan tempat wisata bagi masyarakat setempat, domestik dan juga mancanegara.
Observasi Data 1. Pulau
Ohoiew 2. Penginapan
Ohoiew
a. Luas Lokasi b. Jumlah
pengelola c. Fasilitas yang
tersedia di penginapan ohoiew d. Jumlah
Pengunjung e. Potensi yang
dimiliki pulau ohoiew
97 Berdsarkan pada pertimbangan diatas maka, Pulau Ohoieuw memiliki potensi pariwisata yang sangat baik dan daya dukung lahan yang memadai serta memiliki ekosistem laut dan darat yang cukup jika dilihat pada poin-point diatas. Sehingga Pulau Ohoieuw menjadi lokasi tapak terpilih yang terletak di Kei Kecil Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.
Gambar 2. Lokasi Site
2. Analisa Garis Sempadan Pantai Dalam menentukan GSP pada Perancangan Villa Resort Pantai Utara Pulau Ohoieuw menggunakan radius
± 40 – 60 meter dari titik pasang tertinggi, hal ini terjadi karena bibir pantai tidak proposional dengan bentuk dan kondisi fisik pulau ohoieuw.
Gambar 3. Garis Sempadan Pantai
3. Analisa Pencapaian
Akses pencapaian kedalam dan keluar pulau di pisahkakn menjadi dua
bagian yaitu dermaga tamu pengunjung dan dermaga khusus logistik/pengelola (servis).
Gambar 4. Pencapaian ke Site
4. Analisa Orientasi Matahari
Kawasaan Pulau merupakan kawasan pulau-pulau dengan skala sedang dan skala kecil, sehingga zona pulau ohoieuw yang mendapat sinar matahari pagi terbanyak yaitu bagian timur dan yang terkena sinar matahari sore terbanyak yaitu zona bagian barat dari area pantai.
Gambar 5. Orientasi Matahari
5. Analisa Air Hujan
Untuk memnfaatkan air hujan maka di bagian entrance bangunan villa dibuat bak penampung sementara dibawa lantai dan saluran got air hujan disamping kiri dan kanan bangunan yang nantinya di salurkan ke bak sementara/watter tank sementara dan dilanjutkan ke bak penampung.
98 Gambar 5. Curah Hujan
6. Analisa Orientasi Angin
Pergerakan angin pada kawasan pulau terbagi dua jenis yaitu angin darat dan angin laut.
Gambar 6. Orientasi Angin
7. Analisa Pola dasar Bangunan
Bentuk atau pola dasar dari pulau Ohoieuw merupakan dasar dari perancangan bentuk yang kemudian ditransformasikan sehingga menghasilan bentuk tapak permukiman yang tertata dan aksesibel.
Gambar 7. Pola Dasar Bangunan
8. Analisa View
Untuk mendapat view yang maksimal, maka pada tapak dilakukan penataan
pada vegetasi maupun elemen luar tapak lainnya
Gambar 8. View Arah Pandang
9. Analisa Vegetasi
Jenis vegetasi yang ada sesuai dengan eksisting pulau ohoieuw berupa pohon kelapa, pohon bakau, pohon cemara, hutan semak dan tanaman lainnya.
Gambar 9. Vegetasi
Vegetasi-vegetasi tersebut mempunyai manfaat yang banyak untuk kawasan tapak yang berada disekitar tepian pantai. Jenis-jenis vegetasi ini tetap dipertahankan dan lebih dilestraikan keberadaanya.
Gambar 10. Vegetasi
99 10. Analisa Kebutuhan Ruang
NO KEBUTUHAN RUANG
BESARAN RUANG 1 KANTOR
PENGELOLA
741.92 2 HUNIAN VILLA
TYPE SUITE
2,291.52 3 HUNIAN VILLA
TYPE COUPLE
990.45 4 HUNIAN VILLA
TYPE STANDART
1,069.32 5 COTTAGE TYPE A 3,182.14 6 COTTAGE TYPE B 1,223.90 7 MENARA
PANDANG
25.50
8 RESTORAN 184.15
9 CAFÉ + KAROKE 54.00
10 KLINIK P3K 89.25
11 KAPELA SANTA MARIA
83.26
12 MUSHOLA 96.00
13 POS SECURITY 22.32
14 RUMAH JAGA 68.00
15 RUMAH GENSET 94.50
16 RUMAH MESIN POMPA AIR
21.00 17 PENANGNANAN
SAMPAH/LIMBAH
240.00 18 BANGUNAN
DESALINASI AIR ASIN
325.55
Jumlah Total Luas Bangunan
10,802.78
11. Analisa Struktur
Sistem struktur pada bangunan sarana prasarana terdiri atas tiga bagian yakni
; Sub Structure ( Struktur Atas ), Mid
Structure ( Struktur Tengah ), Upper Structure ( Struktur Atas) meliputi ; a. Sub Struktur
Sub structure adalah stuktur bawa bangunan atau pondasi yang sesuai dengan jenis tanah, dimana bangunan tersebut berdiri.
Gambar 11. Pondasi Menerus Biasa
Gambar 12. Pondasi Menerus Beton Bertulang
Gambar 13. Pondasi Tiang Pancang
b. Mid Struktur
Mid struktur adalah struktur bagian tengah bangunan yang terdiri atas struktur rangka, struktur dinding dan
100 struktur lantai pada bangunan 2 lantai.
Gambar 13. Kolom
Gambar 14. Dinding partisi
Gambar 15. Lantai
c. Upper Struktur
Upper structure adalah struktur bagian atas bangunan/atap. Struktur yang di gunakan untuk rangka/material atap adalah rangka atap baja berat (Baja WF) untung bangunan tinggi dan bentangan lebar, serta rangka atap baja ringan untuk bangunan pendukung.
Gambar 16. Rangka Atap Baja Ringan
Gambar 17. Atap Baja
12. Analisa utilitas
Pada perancangan villa resort pantai utara pulau ohoieuw ini terdapat 2 sumber listrik yang di gunakan, hal ini karena tapak berlokasi pada pulau yang tidak berpenghuni dan berada di tengah laut sehingga memungkinkan untuk menggunakan jaringan listrik dari PLN dengan pertimbangan site berada di tengah laut dan dari segi biaya yang cukup tinggi.
a. Jaringan Listrik
sumber listrik pertama yakni; Sumber listrik yang berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) atau photovoltaic dan generator set (Genset) sebagai sumber listrik cadangan yang digunakan khusus
101 untuk penerangan pada bangunan dan penerangan akses jalan dalam tapak.
Gambar 18. Jaringan Air Bersih Instalasi dalam bangunan dibagi menjadi dua bagian yaitu instalasi untuk penerangan dan instalasi untuk power ( AC dan Pompa), sedangkan jenis lampu yang digunakan adalah jenis lampu hemat energy.
b. Jaringan Air Bersih
Sistem distribusi air bersih pada Villa Resort Pantai Utara Pulau Ohoieuw bersumber dari pengolahan air asin menjadi air tawar (Desalinasi). Prinsipnya yaitu dengan memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air , yang selanjutnya di kondensasi untuk menghasilkan air bersih.
Gambar 19. Sistem Desainasi Air Asin
c. Jaringan Air Kotor
Berikut ini adalah penerapan sistem jaringan air kotor atau limbah domestik yang ada pada perancangan Villa Resort Pantai Utara Pulau Ohoieuw
Gambar 20. Jaringan Air Kotor
d. Sistem Pengolahan Sampah
Perubahan paradigma sampah yang baru mengitu standar Dinas Lingkungan Hidup Kota atau Kabupaten (DLHK) yaitu kumpul,pilah,olah,angkut,buang.
Gambar 20. Sistem Pengolahan Sampah
e. Sistem pencegahan Kebakaran Demi menjaga kenyamanan dan keamanan pada kawasan pulau dari bahaya penyimpangan kebakaran
102 dan hal-hal yang tidak di inginkan maka berikut ini adalah penerapan sistem pencegahan kebakaran pada Villa Resort Pantai Utara Pulau Ohoieuw.
Gambar 21. Sistem Pencegahan Kebakaran
f. Sistem Penangkal Petir
Penangkal petir yang digunakan yaitu, penangkal petir flash verton v6. Sistem penangkal ini merupakan penangkal petir modern yang berbasis kerja kerja ESE (Early Streamer Emision) sistem ESE bekerja secara aktif dengan cara mengumpulkan ion dan melepaskan ion dalam jumlah besar ke lapisan udara sebelum terjadinya sambaran petir.
Gambar 22. Sistem Penangkal petir
g. Sistem Penghawaan
Sistem penghawaan di bedakan menjadi penghawaan alami dan penghawaan buatan. Sistem penghawaan alami di terapkan dengan menempatkan bukaan ventilasi dan jendela pada
bangunan sedemikian rupa guna memungkinkan terjadinya ventilasi silang.
Gambar 22. Sistem Penghawaan
13. Hasil Perancangan
Gambar 23. Master Plan
Gambar 24. Ville Type Suite
Gambar 25. Ville Type Couple
103 Gambar 26. Ville Type Standar
Gambar 27. Cottage
Gambar 28. Kantor Pengelola
Gambar 29. Fasilitas Klinik P3K dan Sistem Listrik Photovoltaic
Gambar 30. Fasilitas Desalinasi Air Asin
Gambar 31. Fasilitas Ibadah
Gambar 32. Fasilitas Resto, Securty dan Sampah
4. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan latar belakang perancangan dan rumusan masalah yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, tujuan dalam penelitian ini adalah Merancang Villa Resort di Pantai Utara Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku Tenggara dengan pendekatan Arsitektur Neo- Vernakular. Dalam perancangan Villa Resort ini lebih menitik beratkan pada
104 nilai-nilai non fisik seperti “makna”
rumah tradisional Adat Kei (Rumahaian Sidhun) dan upacara penyambutan tamu dari luar kampung (Ohoi) dan luar daerah yang akan berkunjung.
2. Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian adalah dengan dirancangannya Villa Resort di Pantai Utara Pulau Ohoieuw Kabupaten Maluku tenggara, maka perlu adanya kerja sama antara pemerintah kabupaten, dinas terkait dan warga setempat demi menciptakan sebuah kawasan hunian pariwisata baru yang tertata dengan baik, modern dan nyaman tanpa menghilangkan unsur budaya Kei, yang nantinya menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawaan domestic dan mancanegara untuk datang berkunjung dan menikmati keindahan salah satu surge tersembunyi di Indonesia yang berada di Kabupaten Maluku Tenggara.
References
[1] B. K. M. Tenggara, “KABUPATEN MALUKU TENGGARA TAHUN 2008 – 2028 BUKU
RENCANA KABUPATEN MALUKU
TENGGARA,” 2008.
[2] BPS Maluku Tenggara 2020, KabupatenKabupaten MALUKU TENGGARA DALAM ANGKA. 2002.
[3] G. Goldra and L. Prayogi, “Konsep Arsitektur Neo Vernakular pada Bandar Udara Soekarno Hatta dan Bandar Udara Juanda,” J. LINEARS, vol. 4, 2021.
[4] A. E. S.T.H., S. H. Laksono, and W. W.
Widjajanti, “Arsitektur Neo Vernakular sebagai Salah Satu Aspek Penunjang Pelestarian Kebudayaan Lamaholot,” Tekstur (Jurnal Arsitektur), vol. 1, no. 2, 2020, doi:
10.31284/j.tekstur.2020.v1i2.1152.
[5] “BOLAANG MONGONDOW CULTURAL CENTER. Arsitektur Neo Vernakular,”
BOLAANG MONGONDOW Cult. CENTER.
Arsit. Neo Vernakular, vol. 8, no. 1, 2019.
[4] C. Widi and L. Prayogi, “Penerapan Arsitektur Neo-Vernakular pada Bangunan Buday dan Hiburan,” J. Arsit. Zo., vol. 3, no. 3, 2020, doi:
10.17509/jaz.v3i3.23761.
[5] A. Wekabury and A. Tungka, “FASILITAS REKREASI PANTAI DI PULAU
MANSINAM (ARSITEKTUR NEO
VERNAKULAR),” Daseng J. Arsit., vol. 5, no.
1, 2016.
[6] G. Suharjanto, “Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular: Studi Kasus Bangunan Minangkabau dan Bangunan Bali,” ComTech Comput. Math. Eng. Appl., vol. 2, no. 2, p. 592, 2011, doi: 10.21512/comtech.v2i2.2808.
[7] D. Untuk et al., “RESORT PANTAI DENGAN PENDEKATANARSITEKTUR VERNAKULER DI PULAU SEMBILAN KABUPATEN SINJAI ACUAN,” 2017.
[8] M. J. Renjaan, H. Purnaweni, and D. D.
Anggoro, “STUDI KEARIFAN LOKAL SASI KELAPA PADA MASYARAKAT ADAT DI DESA NGILNGOF KABUPATEN MALUKU TENGGARA,” J. Ilmu Lingkung., vol. 12, no.
2, 2013, doi: 10.14710/jil.11.1.23-29.
[9] “Potensi Wilayah Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara 2019.”
[10] P. P. No.51, “Peraturan Presiden Republik Indonesia No.51 Tahun 2016 Tentang Batas Sempadan Pantai.” p. 21, 2016.
[11] E. Neufert, “Data Arsitek (terjemahan),” p. 278, 1997.
[12] J. Panero and M. Zelnik, Dimensi Manusia dan Ruang Interior : Buku Panduan untuk Standar Pedoman Perancangan / Julius Panero, Martin Zelnik. Penerbit Erlangga, 2003.
[13] “Data Arsitek Jl. 2 Ed. 33 - Google Books.”
https://www.google.co.id/books/edition/Data_
Arsitek_Jl_2_Ed_33/_wtaJXW_Fd0C?hl=id&
gbpv=1&dq=er+nst+neufert+arsitektur&pg=P R7&printsec=frontcover (accessed Jan. 24, 2022).
[14] I. Haryadi, “Arsitektur, lingkungan, dan perilaku : pengantar ke teori, metodologi, dan aplikasi,” p. 157, 2010.