PERANCANGAN RESORT PANTAI
PENDEKATAN KONSEP NEO VERNAKULAR DI PANGANDARAN
TUGAS AKHIR
Diajukan Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Arsitektur ( S. Ars )
Di Susun Oleh :
DIKRI MUKLIS PIRDAUS NIM : 321410041
PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PELITA BANGSA
BEKASI 2019
LEMBAR PERSETUJUAN TUGAS AKHIR
Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Tugas Akhir untuk disidangkan dengan Judul :
PERANCANGAN RESORT PANTAI PENDEKATAN KONSEP NEO VERNAKULAR
DI PANGANDARAN
Pembimbing I Pembimbing II
( Ahmad Aguswin, S.T., M.M. ) ( Windi, S.Pd., M.M. ) NIDN : 0408087306 NIDN : 0428028504
Mengetahui,
Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Pelita Bangsa
( Retno Fitri Astuti, S.T., M.T ) NIDN : 0413097702
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG TUGAS AKHIR
Telah disidangkan dan disahkan oleh Tim Penguji Tugas Akhir dengan Judul : PERANCANGAN RESORT PANTAI
PENDEKATAN KONSEP NEO VERNAKULAR DI PANGANDARAN
Menyetujui :
Komisi Penguji Tugas Akhir
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Pelita Bangsa
Cikarang, 25 Oktober 2019
Penguji I Penguji II
( Purnama Sakhrial, S.T.,M.T. ) ( A. Akromusyuhada, S.T.,M.Pd. I) NIDN : 0403078303 NIDN : 0427057408
Mengetahui,
Dekan Fakultas Teknik Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Pelita Bangsa Universitas Pelita Bangsa
( Putri Anggun Sari, S. Pt., M. Si. ) ( Retno Fitri Astuti, S.T., M.T ) NIDN : 0424088403 NIDN : 0413097702
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Dikri Muklis Pirdaus
NIM : 321410041
Judul Tugas Akhir : Perancangan Resort Pantai Pendekatan Konsep Neo Vernakular di Pangandaran
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Tugas Akhir ini berdasarkan hasil penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri, baik untuk naskah laporan maupun kegiatan perancangan yang tercantum sebagai bagian dari Tugas Akhir ini. Jika terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidak-benaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini dan sanksi lain sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Pelita Bangsa.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.
Bekasi, 25 Oktober 2019 Yang membuat pernyataan,
( Dikri Muklis Pirdaus )
NIM. 321410041
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Sebagai sivitas akademika Universitas Pelita Bangsa, saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Dikri Muklis Pirdaus NIM : 321410041
Program Studi : Arsitektur Jenis Karya : Tugas Akhir
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pelita Bangsa hak bebas noneksklusif ( non-exclusive royalty-free right ) atas karya ilmiah saya yang berjudul “ Perancangan Resort Pantai Pendekatan Konsep Neo Vernakular di Pangandaran. Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan hak paten royalty noneksklusif ini Universitas Pelita Bangsa berhak menyimpan, mengalih media / format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan hasil Tugas Akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis / pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Bekasi
Pada tanggal : 25 Oktober 2019 Yang menyatakan,
( Dikri Muklis Pirdaus )
ABSTRAK
DIKRI MUKLIS PIRDAUS. 321410041. PERANCANGAN RESORT PANTAI PENDEKATAN KONSEP NEO VERNAKULAR DI PANGANDARAN. Pantai Pangandaran ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yaitu KSPN Pangandaran dengan penekanan terhadap tema pembangunan wisata berdasarkan kearifan lokal budaya setempat. Pada kondisi sekarang ini hunian di Pangandaran Diseluruh destinasi Pangandaran fasilitas akomodasi hunian resort hanya terdapat 2 unit yaitu nyiur indah resort dan laut biru resort, Menurunya citra tempat wisata di karenakan menjamurnya tempat hunian tidak layak di sepanjang pesisir pantai pangandaran dan belum adanya hunian resort yang memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap. Maka dari itu diperlukan hunian resort dengan pendekatan konsep neo vernakular yang dapat menghadirkan kultur kebudayaan sunda yang memiliki fasilitas yang lengkap. Sedangkan penjabaran analisa dilakukan secara deskriptif berdasarkan dari kondisi eksisting setempat. Sehingga dapat menghasilkan konsep bangunan neo vernakular yang menggabungkan konsep modern dan tradisional yang mencerminkan kebudayaan Pangandaran. konsep yang digunakan mengunakan pendekatan arsitektur sunda yang menerapkan konsep konsep filosofi sunda berupa sineger tengah, kaca kaca, uga, pamali dan lemah cai.
Berdasarkan pengamatan kawasan resort yang sangat cocok untuk dibangun terletak di Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan diantaranya pemandangan langsung menghadap ke pantai disebelah selatan dan juga terletak di pusat pariwisata Kabupatan Pangandaran.
Kata Kunci : Resort, Neo Vernakular, Arsitektur Sunda, dan Pesisir Pantai Pangandaran
ABSTRACT
DIKRI MUKLIS PIRDAUS.321410041. RESORT DESIGN BEACH DESIGN NEO VERNAKULAR CONCEPT IN PANGANDARAN Pangandaran Beach is designated as one of the National Tourism Strategic Areas namely KSPN Pangandaran with an emphasis on the theme of tourism development based on local wisdom of local culture. In the current condition in Pangandaran dwellings In all Pangandaran destinations, the resort accommodation accommodation facilities are only 2 units, namely the beautiful resort and blue sea resorts, the decline in the image of tourist attractions due to the mushrooming of unfit residential places along the coast of Pangandaran, the absence of residential resorts that have complete facilities and infrastructure. Therefore a resort resort with a neo vernacular concept approach is needed to bring Sundanese culture that has complete facilities. While the translation analysis is done descriptively based on local existing conditions. So that it can produce neo vernacular building concepts that combine modern and traditional concepts that reflect Pangandaran culture. the concept used is the Sundanese architecture approach which applies Sundanese philosophical concepts in the form of the middle syneger, glass, uga, pamali and weak cai. Based on the observation that the resort area which is very suitable to be built is located in Wonoharjo Village, Pangandaran District, Pangandaran Regency, West Java Province. This location was chosen with consideration of the views directly overlooking the beach to the south and also located in the tourism center of Pangandaran Regency.
Keywords: Resort, Neo Vernacular, Sundanese Architecture, and Pangandaran Beach.
KATA PENGANTAR Bismillahirrohmaanirrohim Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan banyak kenikmatan, kesabaran dan ketabahan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul “ Perancangan Resort Neo Vernakular Sunda di Pesisir Pantai Pangandran. Shalawat beserta salamnya terlimpah curahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW. Nabi akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan Tugas Akhir ini tidak terlepas dari bantuan dari berbagai pihak, baik dalam bentuk fikiran, materil dan non materil dukungan dan motivasinya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Dengan ketulusan dan kerendahan hati. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Putri Anggun Sari, S.Pt., M.Si Selaku Dekan Universitas Pelita Bangsa 2. Ibu Retno Fitri Astuti, S.T., M.T Selaku Dosen dan Kaprodi Arsitektur
Universitas Pelita Bangsa.
3. Ahmad Aguswin, S.T., M.M, Selaku dosen Pembimbing-I Tugas Skripsi Arsitektur di Universitas Pelita Bangsa.
4. Windi, S.Pd.,M.M.. Selaku dosen Pembimbing-II Tugas Skripsi Arsitektur di Universitas Pelita Bangsa.
5. Orang tua tercinta, Ayahanda Wawan (Alm) dan Ibunda Yati.
Terutama ibu saya yang selalu memberikan semangat kepada saya dan do’anya selalu mengiringi kemana saya melangkah.
6. Teman teman Angkatan 2014 Jurusan Arsitektur Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu oleh penulis
Demikianlah laporan Tugas Akhir ini saya buat. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pendidikan khususnya di bidang Arsitektur dan saya sadar bahwa laporan ini masih banyak memiliki kekurangan di dalamnya oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca sangat saya harapkan demi kesempurnaan kedepannya.
Wassalamu alaikum Wr., Wb.,
Bekasi, 25 Oktober 2019 Penulis
Dikri Muklis Pirdaus
DAFTAR ISI
ABSTRAK………...v
ABSTRACT……….…vi
KATA PENGANTAR………….………..vii
DAFTAR ISI………..ix
DAFTAR GAMBAR………....xvii
DAFTAR TABEL……….xxiii
DAFTAR DIAGRAM………..…xxv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang……….………..1
1.2 Identifikasi Masalah……….………..3
1.3 Perumusan Masalah……….………..3
1.4 Batasan Pembahasan……….…...4
1.5 Tujuan dan Manfaat Perancangan………...4
1. 5. 1 Tujuan Perancangan………….………...4
1. 5. 2 Manfaat Perancangan……….………4
1. 6 Sistematika Penulisan………..………...6
1. 6. 1 Bab I Pendahuluan………..…………6
1. 6. 2 Bab II Landasan Teori dan Metodologi………8
1. 6. 3 Bab III Gambaran Umum Wilayah Studi / Tinjauan Wilayah Rancangan………...6
1. 6. 4 Bab IV Analisa Perancangan………7
1. 6. 5 Bab V Produk Rancangan Arsitektur………...7
1. 6. 5 Bab VI Penutup………7
BAB II LANDASAN TEORI DAN METODOLOGI 2. 1 Tinjauan Umum Perancangan 2. 1. 1 Pengertian Perancangan………8
2. 1. 2 Proses Perancangan……….………...10
2. 2 Tinjauan Umum Arsitektur Sunda 2. 2. 1 Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda………...14
2. 2. 2 Kosmologi Arsitektur Sunda……….…………..17
2. 2. 3 Tipologi Rumah Tradisional Sunda………19
2. 2. 4 Akulturasi Budaya dan Tradisi Sunda Terhadap Konsep Bangunan……….. 22
2. 3 Pola Penataan Kampung 2. 3. 1 Pola Linear…….……….……23
2. 3. 2 Pola Terpusat…..……….…..23 2. 3. 3 Pola Radial………..……..25 2. 4 Struktur Dalam Pola Arsitektur Sunda……….….26 2. 5 Tinjauan Umum Resort
2. 5. 1 Pengertian Resort………..………29 2. 5. 2 Jenis Jenis Resort………..……….……..….29 2. 6 Tinjauan Umum Arsitektur Neo Vernakular
2. 6. 1 Pengertian Arsitektur Neo-Vernakular……….….34 2. 6. 2 Ciri Ciri Arsitektur Neo- Vernakular……….….…35 2. 6. 3 Prinsip Prinsip Desain Arsitektur Neo-Vernakular.…………37 2. 6. 4 Tinjauan Perbandingan Arsitektur Neo-Vernakular………....37 2. 7 Tinjauan Kebijakan
2. 7. 1 Letak Administratif……….39 2. 7. 2 Kebijakan Penataan Ruang Wilayah
Kab. Pangandaran Tahun 2015-2035………..42 2. 7. 3 Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan
Kab Pangandaran……….………46 2. 7. 4 Berdasarkan kepada RIPPARNAS
( PP No. 5 Tahun 2011 )………..……...46 2. 7. 5 Berdasarkan pada Draft Rencana Tata Ruang Pulau Jawa Bali
Tahun 2008-2028 ………...48 2. 7. 6 RTRW Tahun 2009-2029 (Peraturan Daerah)………49 2. 7. 7 Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 Provinsi Jawa
Barat)……...………50 2. 7. 8 Berdasarkan pada Draft RTRW Kabupaten Pangandaran
Tahun 2014-2034……….………....52 2. 8 Metodologi
2. 8. 1 Metodologi
perancangan……….………....57 2. 8. 2 Diagram Alur Studi………...………..…....…59 BAB III GAMBARAN UMUM
3. 1 Deskripsi Umum……….…60
3. 2 Alasan Pemilihan Lokasi………...61 3. 3 Pemilihan Lokasi
3. 3. 1. View Yang Indah……….…63 3. 3. 2. Belum Adanya Resort Pesisir Pantai………...65 3. 3. 3. Wisatawan Terus Bertambah Dari Tahun ke Tahun……..…66 3. 3. 4. Kaya Akan Kesenian Tradisional………..….…67 3. 3. 5. Jarak Resort Dengan Wisata Lain Saling Terintegrasi...68 3. 4 Peta Lokasi
3. 4. 1 Rencana Lokasi Resort………...…....70
3. 4. 2 Lokasi Yang Di Pilih………..………...71
3. 4. 3 Luas Lahan………..……….….…72
3. 5 Lokasi………..………..…72
3. 6 Analisa Makro………..……….73
3. 7 Analisa Mikro………...………....77
3. 8 Analisa S. W. O. T………..…...…79
3. 9 Studi Preseden ( Nihiwatu Resort Lombok )………..…80
BAB IV
Analisa
4. 1 Orientasi Tapak……….………..…824. 2 Orientasi Arah Matahari……….83
4. 3 Orientasi Arah Mata Angin……….………84
4. 4 Penetapan Entrance……….………85
4. 5 Sirkulasi Pejalan Kaki………....86
4. 6 Sirkulasi Kendaraan………87
4. 7 Drainase………..88
4. 8 Akses Menuju Lokasi……….89
4. 9 Kebisingan………...…90
4. 10 Vegetasi……….……..91
4. 11 Analisa Pencapaian ( Accessibility )………..…93
4. 12 Analisa Tren Pengembangan Wilayah……….…..93
4. 13 Analisa Karakteristik Lokasi Sekitar……….94
4. 14 Analisa Kedekatan ( Proximity )………...95
4. 15 Analisa Karakter Fisik………...…95
4. 16 Analisa Kapasitas Lahan………96
4. 17 Analisa Zonning Fungsi……….98
4. 17.1 Organisasi Massa Bangunan……….…100
4. 17.2 Organisasi Massa dan Ruang………101
4. 17.3 Hirarki Massa dan Ruang………..…101
4. 17.4 Sistem Sirkulasi disekitar tapak………104
4. 18 Program Ruang………105
4. 19 Analisa pelaku dan kegiatan………107
4. 20 Analisa Diagram Kegiatan Pelaku ( Flow of Activity ) 4. 20. 1 Tamu Resort………...…111
4. 20. 2 Pengunjung Area Pertemuan………..111
4. 20. 3 Pengunjung Fitnes Centre………...…112
4. 20. 4 Pengunjung Spa & Sauna……….……….……..…112
4. 20. 5 Pengunjung Area Komersial………...113
4. 20. 6 Pengunjung Restaurant………...…113
4. 20. 7 Pengunjung Area Pertemuan……….….…114
4. 20. 8 Pegawai Front Office……….….114
4. 20. 9 Pegawai Pengantar Barang……….115
4. 20. 10 Pegawai Private Dinning……….……..115
4. 20. 20 Pegawai Restoran………..…116
4. 20. 21 Pegawai Kantor Pengelola……….…116
4. 20. 22 Pegawai Fasilitas Komersial………..…117
4. 20. 23 Pegawai Perawatan………...…117
4. 20. 24 Pegawai Mekanikal, elektrikal & Plumbing…………180
4. 20. 25 Pegawai Keamanan………..180
4. 20. 26 Pegawai Fitnes Centre………..…189
4. 20. 27 Pegawai Pengelola………..…..189
BAB V
KONSEP PERANCANGAN
5. 1 Konsep Perancangan Tapak 5. 1. 1 Konsep Filosofi………1205. 2 Konsep Tata Masa………123
5. 3 Konsep Sirkulasi Pencapaian………...…124
5. 4 Konsep Sirkulasi Kendaraan………124
5. 5 Konsep Sirkulasi Manusia………125
5. 6. Konsep Perancangan Bangunan………126
5. 6. 1 Konsep Hotel & Resort……….…126
5. 6. 2 Konsep Cinderamata………..130
5. 6. 3 Konsep Restaurant……….…135
5. 6. 4 Kosnep Tipe Julang Ngapak………..138
5. 6. 5 Konsep Entrance………...…144
5. 6. 6 Konsep Tipe Bumi Leuit………147
5. 7 Interior 5. 7. 1 Interior Cinderamata……….…….……151
5. 7. 2 Interior Kamar Resort………...151
5. 7. 3 Interior Restaurant………152
5. 7. 4 Interior Tipe Bumi Leuit………..…152
5. 7. 5 Interior Tipe Julang Ngapak………...153
5. 8 Konsep Utilitas Resort 5. 8. 1 Konsep Jaringan Air Bersih………..154
5. 8. 2 Konsep Jaringan Air Kotor………...…154
5. 8. 3 Konsep Jaringan Transportasi………...155
5. 8. 4 Konsep Jaringan Listrik………155
5. 8. 5 Konsep Penanganan Kebakaran………...…156
5. 8. 6 Konsep Tata Udara………...157
5. 8. 7 Konsep Penangkal Petir………157
5. 8. 8 Konsep Tata Hijau ………...…157
5. 8. 9 Konsep Sistem Persampahan………158
DAFTAR PUSTAKA………...159
LAMPIRAN DAN GAMBAR………...….…160
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Peta Wilayah dan Peta Lingkungan………...…....10
Gambar 2. 2 Peta Survey Tapak dan Daerah Yang Dapat Dibangun……..11
Gambar 2. 3 Analisa potensial dan Pandangan………..….11
Gambar 2. 4 Analisa Diagram Konsep………...12
Gambar 2. 5 Diagram Gelembung………..13
Gambar 2. 6 Diagram Konsep………13
Gambar 2. 7 Modifikasi Konsep……….…13
Gambar 2. 8 Sketsa Gambar Perancangan………..14
Gambar 2. 9 Rumah Panggung Adat Sunda……..……….16
Gambar 2. 10 Organisasi Ruang Rumah Adat Sunda………...16
Gambar 2. 11 Suhunan Jolompong……….20
Gambar 2. 12 Suhunan Julang Ngapak………...20
Gambar 2. 13 Suhunan Buka Palayu………..….21
Gambar 2. 14 Suhunan Perahu Kumerep…...………...21
Gambar 2. 15 Pola Penataan Linear………...………...24
Gambar 2. 16 Pola Penataan Terpusat……...………...24
Gambar 2. 17 Pola Penataan Radial……...………...…...25
Gambar 2. 18 Mountain Resort………..30
Gambar 2. 19 Heath and Spa Resort………...………...31
Gambar 2. 20 Beach Resort………...………....32
Gambar 2. 21 Maritus Resort amd Spa………...………….…..33
Gambar 2. 22 Maritus Resort amd Spa………..……...…33
Gambar 2. 23 Peta Administratif Kabupaten Pangandaran………42
Gambar 2. 24 Peta Rencana Pola Ruang Kab. Pangandaran………..44
Gambar 2. 25 Tingkatan Daerah Yang Terkena Dampak Tsunami………44
Gambar 2. 26 Peta Zonasi Kabupaten Pangandaran………..……45
Gambar 2. 27 Lahan Pengembangan Di Desa Wonoharjo………46
Gambar 2. 28 Kab Pangandaran sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional……….…48
Gambar 2. 29 Peta Pola Ruang RTR Jawa-Bali bagi Kab Pangandaran…49 Gambar 2. 30 Kawasan Strategis Pertumbuhan Ekonomi Pangandaran…51 Gambar 2. 31 Kajian Growth Center Pangandaran BAPPEDA JABAR ………...………..………51
Gambar 2. 32 RTRW Kabupaten Pangandaran Tahun 2014-2034 ……...54
Gambar 2. 33 Peruntukan Ruang dan Kawasan Pariwisata Kab. Pangandaran…….……….….55
Gambar 3. 34 Visualisasi Lokasi Resort………..………...64
Gambar 3. 35 Pantai Barat
Pangandaran……….………...64
Gambar 3. 36 View kebun kelapa, area pesawahan dan gunung…..…...65
Gambar 3. 37 Pantai Indah……….…66
Gambar 3. 38 Hotel Malabar………...66
Gambar 3. 39 Kebudayaan Pangandaran………...68
Gambar 3. 40 Visualisasi Peta Lokasi Kawasan Resort………..71
Gambar 3. 41 Visualisasi Rencana Lokasi Resort Pangandaran……..…71
Gambar 3. 42 Visualisasi Lokasi Resort Pangandaran………...…72
Gambar 3. 10 Visualisasi Luas Lahan Resort Pangandaran ………....…73
Gambar 3. 11 Lokasi resort ………..………...74
Gambar 3. 12 Peta Sebaran Daya Tarik Kecamatan Pangandaran…..…79
Gambar 4. 1 Akses Pencapaian Ke lokasi………95
Gambar 4. 2 Area Pengembangan Lahan Sekitar………..…95
Gambar 4. 3 Area Pengembangan Pesisir Pantai………..……96
Gambar 4. 4 Karakteristik Hunian Sekitar………..………....96
Gambar 4. 5 Analisa Kedekatan……….………...97
Gambar 4. 6 Lokasi Resort……….………...…97
Gambar 4. 7 Kapasitas Lahan………...……98 Gambar 4. 8 Batas Lahan……….99 Gambar 4. 9 Lokasi tanah yang dapat dibangun……….100 Gambar 4. 10 Organisasi masa bangunan………100 Gambar 4. 11 Pola linear bumi leuit………...101 Gambar 4. 12 Pola radikal pada plaza dan julang ngapak………102 Gambar4. 13 Organisasi masa bangunan……….……….102 Gambar 4. 14 Hirarki massa dan ruang………103 Gambar 4. 15 Area Semi Privat………104 Gambar 4. 16 Resort tipe julang ngapak dan bumi leuit………..105 Gambar 4. 17 Jalur sirkulasi………...106 Gambar 5. 1 Sineger Tengah……….…...122 Gambar 5. 2 Konsep Filosofi Pamali……….…..122 Gambar 5. 3 Kaca kaca………..………..123 Gambar 5. 4 Konsep Uga……….124 Gambar 5. 5 Konsep Lemah Cai………...125 Gambar 5. 6 Konsep Tata Bangunan………..…..125 Gambar 5. 7 Konsep Sirkulasi Pencapaian ………..126 Gambar 5. 8 Sirkulasi Kendaraan……….……… 127
Gambar 5. 9 Konsep Sirkulasi Manusia………..… 128 Gambar 5. 10 Resort……… 129 Gambar 5. 11 Bumi Leuit ……….… 129 Gambar 5. 12 Hotel Modern……… …. 129 Gambar 5. 13 Final……….… 129 Gambar 5. 14 Resort Hotel……….…… 131 Gambar 5. 15 Tagog Anjing………...… 133 Gambar 5. 16 Bata Modern……… 133 Gambar 5. 17 Penggunaan bahan material Cinderamata……… 134 Gambar 5. 18 Tampak Bangunan……… 135 Gambar 5. 19 Denah Cinderamata……… 135 Gambar 5. 20 Potongan……….………...136 Gambar 5. 21 Final Restaurant……… 139 Gambar 5. 22 Arsitektur Julang Ngapak………. 140 Gambar 5. 23 Saung Sawah………. 140 Gambar 5. 24 Bentuk Final………..… 141 Gambar 5. 25 Tampak Julang Ngapak……… 144 Gambar 5. 26 Denah Lantai 1 & 2 Julang Ngapak……… 145 Gambar 5. 27 Penggunaan Materian Entrance……… 147
Gambar 5. 28 Denah Entrance……… 148 Gambar 5. 29 Potongan Entrance……… 148 Gambar 5. 30 Penggunaan Material Bumi Leuit……….150 Gambar 5. 31 Bentuk Final Bumi Leuit………...…151 Gambar 5. 32 Tampak Bumi Leuit………...151 Gambar 5. 33 Tampak Bumi Leuit 2………...…….152 Gambar 5. 34 Denah Bumi Leuit……….…152 Gambar 5. 35 Interior Cinderamata……….….153 Gambar 5. 36 Interior Kamar Resort………....153 Gambar 5. 37 Interior Restaurant……….154 Gambar 5. 38 Tipe Bumi Leuit………154 Gambar 5. 39 Interior Julang Ngapak………..……155 Gambar 5. 40 Konsep Tata Hijau……….………159 Gambar 5. 41 Glodokan………...160 Gambar 5. 42 Ketapang……….………...160 Gambar 5. 43 Trembesi……….………...160 Gambar 5. 44 Bungur………...160 Gambar 5. 45 Pohon Kelapa……….……160
Gambar 5. 46 Palm………161 Gambar 5. 47 Semak Pengarah……….……161 Gambar 5. 48 Taman Plaza………...………161 Gambar 5. 49 : Taman Bunga………...………161 Gambar 5. 50 Bunga adenium………...……161 Gambar 5. 51 Pohon Flamboyan………...……161
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Persyaratan dan Tingkatan Hotel Resort………..34 Tabel 2. 2 Arsitektur Ttradisional, Vernakular dan Neo Vernakular……...38 Tabel 3. 1 Data Pengunjung Tahun 2013 – 2018 ……….67 Tabel 3. 2 Wisata Alam Kabupaten Pangandaran……….69 Tabel 3. 3 Analisa S. W. O. T. Rencana Pembangunan
Resort Pangandaran...80 Tabel 3. 4 Program Ruang Nihiwatu Resort……….81 Tabel 4. 1 Orientasi Tapak………84 Tabel 4. 2 Orientasi Arah Matahari………..85 Tabel 4. 3 Orientasi Arah Mata Angin……….86 Tabel 4. 4 Penetapan Entrance……….87 Tabel 4. 5 Sirkulasi Pejalan Kaki……….88 Tabel 4. 6 Sirkulasi Kendaraan………89 Tabel 4. 7 Drainase 1………90 Tabel 4. 8 Drainase 2………91 Tabel 4. 9 Kebisingan………...92 Tabel 4. 10 Kebisingan……….93 Tabel 4. 11 Progam Ruang………...107
Tabel 5. 1 Proses Desain………...129 Tabel 5. 2 Konsep Desain Terurai………132 Tabel 5. 3 Konsep Awal Desain………...133 Tabel 5. 4 Konsep Pemikiran Desain………...137 Tabel 5. 5 Konsep Ide Bentuk………..140 Tabel 5. 6 Konsep Material………..142 Tabel 5. 7 Konsep Desain……….149 Tabel 5. 8 Konsep Tipe Bumi Leuit……….149 Tabel 5. 9 Proses Ide Bentuk………150
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 2. 1 Alur Studi………..60 Diagram 4. 1 Analisa Kegiatan Tamu Hotel……….113 Diagram 4. 2 Analisa Pengunjung Area Pertemuan ………... .113 Diagram 4. 3 Analisa Pengunjung Fitnes Centre……….………..114
Diagram 4. 4 Analisa Pengunjung Spa dan Sauna……….…………114 Diagram 4. 5 Analisa Pengunjung Area Komersial………….………..115 Diagram 4. 6 Analisa Pengunjung Restaurant………...115 Diagram 4. 7 Analisa Pengunjung Area Pertemuan……….….116 Diagram 4. 8 Analisa Pegawai Front Office……….116
Diagram 4. 9 Analisa Pengantar Barang………...117 Diagram 4. 10 Analisa Pegawai Private Dinning………..117 Diagram 4. 11 Analisa Pegawai Restoran………...118 Diagram 4. 12 Analisa Pegawai Kantor Pengelola………..118
Diagram 4. 13 Analisa Fasilitas Komersial………...119 Diagram 4. 14 Analisa Pegawai Perawat………...119 Diagram 4. 15 Analisa Pegawai ME……….120 Diagram 4. 16 Analisa Pegawai Keamanan………..120
Diagram 4. 17 Analisa Pegawai Fitnes Centre………..121 Diagram 4. 18 Analisa Pegawai Pengelola………...121
Diagram 5. 1 Konsep Jaringan Air Bersih………156 Diagram 5. 2 Konsep Jaringan Air Kotor……….157 Diagram 5. 3 Konsep Jaringan Pribadi……….158 Diagram 5. 4 Penanganan Kebakaran………...158 Diagram 5. 5 Sistem Persampahan………...162
BAB I
PENDAHULUAN
1.6 Latar Belakang
Kabupaten Pangandaran adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang Ibukotanya terletak Parigi. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar di utara, Kabupaten Cilacap di Timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Tasikmalaya disebelah Barat. Kabupaten Pangandaran merupakan daerah otonomi hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis yang wilayahnya di dominasi dengan potensi wisata alam yang terbilang banyak dimulai dari wisata pesisir pantai, wisata danau, wisata sungai, wisata hutan lindung dan masih banyak lagi.
Pantai Pangandaran ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yaitu KSPN Pangandaran dengan penekanan terhadap tema pembangunan wisata berdasarkan kepada kebijakan RIPPARNAS yang mengedepankan aktivitas wisata bahari, minat khusus dan pembangunan hunian di pesisir pantai. Penetapan KSPN juga menjadi momentum bagi Kabupaten Pangandaran mendapat dukungan pembangunan kepariwisataan dari pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian Pariwisata dan juga Provinsi Jawa Barat, sehingga pembangunan kepariwisataan di Kabuapten Pangandaran diharapkan mampu mempercepat akselerasi pembangunan dan berkontribusi dalam pembangunan pariwisata nasional, khususnya Provinsi Jawa Barat.
Dari data statistik pengunjung pantai Pangandaran mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dengan rincian pada tahun 2016 Wisman sebanyak 10.776 Wisnus Sebanyak 1.977.614 dengan total pengunjung 1.988.390, pada tahun 2017 Wisman sebanyak 10.332 Wisnus sebanyak 2.905.809 dengan total pengunjung 2.961. 809 dan pada tahun 2018 Wisman sebanyak 5.685 Wisnus sebanyak 3.096.157 dengan total pengunjung 3.101.842. Berdasarkan dari data statistik diatas parawisatawan membutuhkan akomodasi hunian, karena hunian didaerah Pangandaran pada saat ini untuk hunian kelas menengah belum memiliki fasilitas yang lengkap sedangkan untuk hunian kelas atas hanya terdapat sedikit yang memiliki fasilitas yang lengkap.
Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Pangandaran terdapat 311 unit hunian yang di dalamnya termasuk hotel, resort, villa, pondok dan terdapat 39 unit homestay.
Khusus untuk hunian resort terdapat hanya terdapat 2 unit yaitu nyiur indah resort dan laut biru resort
Pada daerah hunian pesisir pantai Pangandaran gaya bangunan sebagai tempat hunian sebagian besar cenderung memiliki pola yang berkesan monoton ( bangunan berbentuk kotak ) sehingga bangunan tersebut sama sekali tidak menampilkan culture kebudayaan daerah setempat yang dapat dijadikan daya tarik utama bagi wisatawan untuk berkunjung ke Pangandaran. Bila suatu hunian memiliki ciri khas kebudayaan akan memiliki hubungan yang erat dengan wisatawan disebabkan karena memiliki suasana emosional yang berbeda sehingga membuat para wisatawan tertarik akan daearah tersebut. Bangunan hunian di sekitar existing juga tidak sesuai dengan standar hunian yang sebagian bangunan hunian tersebut terkesan kumuh dan tidak tertata, seperti halnya hunian kelas bawah dan
kelas menengah sedangkan untuk kelas atas bangunan tersebut cenderung menampilkan bentuk yang monoton.
Berdasarkan pengamatan kawasan resort yang sangat cocok untuk dibangun terletak di Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan diantaranya pemandangan langsung menghadap ke pantai disebelah selatan dan juga terletak di pusat pariwisata Kabupatan Pangandaran
1. 2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan pada latar belakang perancangan resort diatas dapat disimpulkan identifikasi masalah yaitu :
1. Belum adanya hunian resort yang memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap.
2. Rendahnya pengawasan bangunan liar dan hunian yang tidak layak di daerah wisata pantai pangandaran.
3. Menurunya citra tempat wisata di karenakan menjamurnya tempat hunian tidak layak di sepanjang pesisir pantai pangandaran.
4. Diseluruh destinasi Pangandaran fasilitas akomodasi hunian resort hanya terdapat 2 unit yaitu nyiur indah resort dan laut biru resort
1. 3 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas dapat dirumuskan masalah yaitu bagaimana merancang hunian resort dengan mengunakan pendekatan konsep neo-
vernakular yang kental akan kultur kebudayaan sunda dan sesuai standar hunian resort ?
1. 4 Batasan Pembahasan
Penulis membatasi masalah ini hanya pada perancangan resort yang mengedepankan konsep neo vernacular yang kental akan kebudayaan sunda.
1. 5 Tujuan dan Manfaat Perancangan 1. 5. 1 Tujuan Perancangan
Penelitian / tugas akhir ini bertujuan untuk merancang hunian resort dengan pendekatan konsep neo vernacular yang dapat menghadirkan kultur kebudayaan sunda yang memiliki fasilitas yang lengkap.
1. 5. 2 Manfaat Perancangan
1. Manfaat Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran a. Dapat memperkenalkan kebudayaan Sunda
b. Dapat menambah penghasilan ekonomi bagi masyarakat setempat
c. Meningkatkan pengembangan kualitas atraksi wisata d. Membantu visi pemerintah yaitu mewujudkan pangandaran
sebagai daerah tujuan wisata yang berbasis lingkungan, alam dan budaya
2. Manfaat Bagi Pengunjung / Wisatawan
a. Mengakomodasi akan kebutuhan hunian persinggahan sementara
b. Memberikan fasilitas yang lengkap sehingga liburan terasa menyenangkan
3. Manfaat Bagi Penulis
a. Dapat memenuhi syarat kelulusan S1 Arsitektur Di Universitas Pelita Bangsa
b. Dapat mempelajari lebih dalam mengenai perancangan resort
c. Dapat memperdalam pengetahuan mengenai penulisan perancangan resort
d. Dapat mengamalkan ilmu yang telah di dapat untuk diaplikasikan di dunia kerja nanti
4. Manfaat Bagi Institusi
a. Dapat menambah koleksi literatur perancangan resort untuk perpustakaan
b. Membantu perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang perancangan resort
1. 6 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika dari penyusunan data laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat, penetapan lokasi studi, sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI DAN METODOLOGI
Teori, landasan, paradigma, cara pandang, metode metode yang telah ada atau yang akan digunakan. Seperti kajian teori tentang resort neo vernacular, jenis jenis resort, karakteristik resort, klasifikasi resort, kebutuhan ruang pada resort dan lain lain sesuai standarisasi yang sudah ditentukan.
BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI / TINJAUAN WILAYAH RANCANGAN
1. Tinjauan pelaku dan aktifitas, kebutuhan ruang, standar besaran ruang, hubungan ruang, persyaratan ruang dari target group pengguna bangunan yang akan dirancang.
2. Tinjauan lokasi tapak dan luas tapak rancangan, berisikan data eksisting tapak berkaitan dengan lingkungan fisik, iklim (sehubungan dengan faktor- faktor alam), utilitas, aksesibilitas (pencapaian dari fungsi-fungsi utama kota), peraturan pemerintah terkait KDB/KLB/GSB/GSS, elemen-elemen fisik buatan dan alami, tata guna lahan.
3. Tinjauan tampilan bentuk bangunan, berisikan pertimbangan- pertimbangan, rumusan bentuk raut (shape) bangunan, kontekstualitas (selaras/kontras).
4. Tinjauan struktur, berisikan tentang daya dukung tanah, jenis pondasi,
sistem struktur, bentuk struktur, material struktur dan konstruksi bangunan.
5. Tinjauan kelengkapan bangunan (utilitas) BAB IV ANALISA PERANCANGAN
Berisikan tanggapan perancangan terhadap bab III dari judul skripsi, yang hasilnya akan digunakan sebagai arahan (guidance) dalam merancang.
Tanggapan fungsi, tanggapan lokasi, tanggapan tampilan bentuk bangunan, tanggapan struktur bangunan, tanggapan kelengkapan bangunan ( utilitas ) BAB V PRODUK RACANGAN ARSITEKTUR
Berisikan gambar-gambar hasil rancangan beserta penjelasannya, meliputi : gambar rencana tapak ( siteplan ), gambar denah ( plan ), denah tata letak perabot ( layout ), gambar tampak ( elevation ), gambar potongan ( section ), gambar rencana rencana, gambar detail, gambar perspektif interior dan exterior, gambar sequence.
BAB VI PENUTUP
Kesimpulan ( Rangkuman keseluruhan isi yang sudah dibahas ), saran ( saran perluasan, pengembangan, pendalaman, pengkajian ulang )
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN DAN GAMBAR CURRICULUM VITAE
BAB II
LANDASAN TEORI DAN METODOLOGI 2. 1 Tinjauan Umum Perancangan
2. 1. 1 Pengertian Perancangan
Perancangan merupakan suatu tahapan yang dilakukan bagi seorang arsitek mengenai rincian prosedural dari hal hal yang berkaitan dengan kebutuhan informasi dan analisa.
Rizky, Soetam ( 2011 : 140) mendefinisikan bahwa :
“Perancangan adalah sebuah proses untuk mendefinisikan sesuatu yang akan dikerjakan dengan mengunakan teknik yang bervariasi serta didalam nya melibatkan deskripsi mengenai arsitektur serta detail mengenai komponen dan juga keterbatasan yang akan dialami dalam proses pengerjaan nya”.
Demikian pula menurut Pressman, Roger (2010 : 291) mendefinisikan bahwa :
“ Perancangan yang sesungguhnya merupakan suatu aktivitas rekayasa perangkat lunak yang dimaksud untuk membuat keputusan-keputusan utama seringkali bersifat structural “
Mansueto, Joseph ( 2005 : 5) menyatakan bahwa :
“ Perancangan adalah suatu proses untuk membuat keputusan tentang apa yang perlu dilakukan oleh organisasi ”.
Pengertian perancangan menurut Lassey, William ( 1977 )
60
Perencanaan merupakan suatu proses menyusun konsepsi dasar suatu rencana yang meliputi kegiatan-kegiatan:
1. Mengidentifikasi. menentukan komponen-komponen yang menunjang terhadap objek, yang merupakan kompleksitas fakta-fakta yang memiliki kontribusi terhadap kesatuan pembangunan.
2. Mengadakan studi. mencari hubungan-hubungan dari faktor faktor terkait, yang memiliki pengaruh spesifik.
3. Mendeterminasi menentukan setepat mungkin faktor-faktor yang dominan dengan memperhatikan kekhususan dari unit perubahan yang spesifik yang memberikan perubahan terhadap faktor lain.
4. Memprediksi mengadakan ramalan bagaimana suatu faktor akan berubah sehingga mencapai keadaan lebih baik di masa depan.
5. Melakukan tindakan berdasarkan prediksi di atas, melakukan tindakan terstruktur untuk mencapai tujuan pembangunan.
Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perancangan adalah :
1. mendefinisikan sesuatu yang akan dikerjakan dengan mengunakan teknik yang bervariasiserta
2. aktivitas rekayasa perangkat lunak.
3. membuat keputusan tentang apa yang perlu dilakukan oleh organisasi 4. proses menyusun konsepsi dasar suatu rencana
60 2. 1. 2 Proses Perancangan
Menurut Thomas ( 1996 : 14 ) dalam buku “ Gambar Denah dan Potongan
“ Proses Perancangan adalah sebagai berikut :
1. Peta wilayah
Peta wilayah adalah peta yang memperlihatkan seluruh wilayah sedangakan peta lingkungan dalah peta yang menunjukan penggunaan tanah di sekitar lingkungan daerah studi biasanya mencakup batas air dan batas kota.
Gambar 2. 1 Peta Wilayah dan Peta Lingkungan Sumber : Thomas C. Wan
2. Peta Informasi
Peta Informasi adalah peta yang memuat informasi latar belakang yang penting mengenai tapak. Data ini sering tersedia dari beberapa sumber seperti survei pertanahan atau Departement Pekerjaan Umum. Peta data yang seringkali dipergunakan oleh perancang lingkugan adalah peta
60
tanah, peta penggunaan lahan, dan peta tumbuh tumbuhan.
Gambar 2. 2 Peta Survey Tapak dan Daerah Yang Dapat Dibangun Sumber : Thomas C. Wan
3. Analisa Tapak
Analisa tapak mencangkup pendataan tapak sebuah proses perekaman kondisi tapak yang ada dan secara grafis menggambarkanya menurut kebutuhan untuk program perancangan dan tujuannya.
Gambar 2. 3 Analisa potensial dan Pandangan Sumber : Thomas C. Wan
60
Gambar 2. 4 Analisa Diagram Konsep Sumber : Thomas C. Wan 4. Gambar Konsep
Merupakan embrio diagram perancangan yang terdiri dari garis dan symbol, yang sedikit demi sedikit berubah menjadi suatu citra yang berbentuk sesuai dengan program perancangan.
a. Diagram Gelembung : Berupa corat coret steno grafik yang merekam proses pemikiran perancang. Diagram diagram itu sangat abstrak dan simbolis dibutuhkan uraian tertulis untuk membantu orang lain memahami.
60
Gambar 2. 5 Diagram Gelembung Sumber : Thomas C. Wan b. Diagram Konsep
Merupakan diagram yang di dapat dari diagram gelembung
Gambar 2. 6 Diagram Konsep Sumber : Thomas C. Wan
Gambar 2. 7 Modifikasi Konsep Sumber : Thomas C. Wan
60 5. Gambar Perancangan
Gambar yang mendokumentasi kemajuan fase pengembangan perancangan.
Gambar ini mencangkup denah dan potongan serta persfektif dan maket
Gambar 2. 8 Sketsa Gambar Perancangan Sumber : Thomas C. Wan
2. 2 Tinjauan Umum Arsitektur Sunda
2. 2. 1 Arsitektur Tradisional Masyarakat Sunda
Menurut Garna dalam Nuryanto ( 2006 : 3 ) Rumah dalam Bhs. Sunda disebut imah, sedangkan dalam Bhs. Sunda halus disebut bumi yang tidak saja berarti rumah tetapi juga memiliki arti lain yaitu tanah (taneuh) dan dunia (dunya).
Bumi mengandung arti lebih jauh lagi, yaitu rumah sebagai pusat dan sumber asal seseorang ( Garna, 1984 ). Bentuk rumah masyarakat Sunda pada umumnya adalah panggung. Panggung yaitu rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak.
Panggung berasal dari dua kata, yaitu pang dan agung artinya paling tinggi atau menduduki posisi paling atas (Nuryanto, 2006). Organisasi ruang pada rumah panggung Masyarakat Sunda berdasarkan fungsinya dibedakan ke dalam tiga jenis;
60
untuk wanita (belakang dan dalam), laki-laki (depan dan samping) dan ruang di antara keduanya (tengah). Sedangkan berdasarkan tata letak ruangnya dibagi ke dalam tiga bagian :
1. Tepas Imah
Tepas imah yaitu bagian depan rumah terdiri dari: halaman dan teras yang biasanya disediakan tempat duduk sementara (amben), dan bangku panjang (dipan). Tepas imah merupakan daerah laki-laki, karena laki-laki bersifat di luar, terlibat politik dan hubungan eksternal, demikian juga ruang tempat kerja laki-laki bersifat di luar.
2. Tengah Imah
Tengah imah yaitu bagian tengah rumah terdiri dari: ruang keluarga, tamu dan kamar tidur untuk anak. Tengah imah bersifat netral, terbuka bagi laki- laki dan perempuan, mereka dapat berkumpul bersama keluarga, bahkan dengan tamu.
3. Pawon
Pawon yaitu bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur, terdiri dari:
goah (gudang), padaringan (tempat menyimpan beras), dan hawu (tungku api). Pawon merupakan area khusus wanita, karena menjadi pusat aktifitas wanita seperti memasak, mencuci, dan sejenisnya. Goah dan padaringan menjadi simbol kewanitaan, bahkan menurut adat kebiasaan ruang ini merupakan bagian dalam rumah yang terlarang bagi kaum pria, karena tempat menyimpan beras yang erat hubungannya dengan Sanghyang Sri Pohaci atau Dewi Padi (Wessing, 1978 dan Garna, 1984).
60
Gambar 2. 9 Rumah Panggung Adat Sunda Sumber : Nuryanto
Gambar 2. 10 Organisasi Ruang Rumah Adat Sunda Sumber : Nuryanto
Lantai rumah panggung terbuat dari talupuh atau palupuh, yaitu bambu yang dirajam halus. Dindingnya terbuat dari bilik bambu dengan sistem anyaman kepang, sedangkan bahan penutup atapnya terbuat dari injuk kawung (ijuk pohon aren) dilapis daun kiray (pohon nipah). Bentuk atap rumah panggung secara umum adalah jolopong (pelana) dengan bagian ujungnya berbentuk capit gunting (silang) sebagai penolak bala. Di samping itu, terdapat juga jenis atap lain seperti badak heuay, tagog anjing, jangga wirangga, julang ngapak, dan sulah nyanda
60 2. 2. 2 Kosmologi Arsitektur Sunda
Menurut ( Nuryanto 2014 ) dalam “ Kajian Hubungan Kosmologi Arsitektur Tradisonal Sunda Dengan Masyarakat Bali “ Kosmologi arsitektur Sunda Masyarakat Sunda memiliki sistem kosmologi tentang alam semesta (dunia).
Terdapat pembagian tiga jenis dunia, yaitu:
a. Buana nyungcung atau ambu luhur
dunia atas sebagai tempat tinggal Sanghyang, para dewa, batara, atau leluhur yang sangat disucikan (surga/sakral).
b. Buana panca tengah atau ambu tengah
dunia tengah sebagai tempat tinggal manusia atau kehidupan bagi makhluk ciptaan Sanghyang.
c. Buana larang atau ambu handap
dunia bawah sebagai tempat kembalinya manusia ke asalnya yaitu tanah; kematian (neraka/profan)
Apabila seseorang meninggal dan dikubur, bukan semata-mata mengubur jasadnya saja, tetapi dianggap sebagai salah satu cara untuk menyampaikan orang tersebut kepada ambu luhur yang jalannya harus melalui ambu handap yang menguasai tanah. Kuburan merupakan tempat roh si mati menyimpan jasadnya selama dia menghadap ambu handap. Apabila roh tersebut telah menghadap ambu luhur di buana nyungcung, maka jasad dan rohnya pergi menghilang dari tanah.
Mencangkul tanah dipandang tindakan atau perbuatan buyut (tabu), karena membalikkan bumi, begitu juga menggunakan penutup atap dari genteng sama
60
artinya mengubur diri hidup-hidup. Termasuk lantai rumah tidak boleh menempel langsung ke tanah, karena itu harus dipisahkan oleh batu umpak sebagai pemisah antara dunia atas dengan dunia bawah, dengan demikian manusia menempatkan dirinya sebagai pusat (pancer) ketiga dunia tersebut (Nuryanto, 2006).
Kosmologi Masyarakat Sunda juga memandang bahwa tubuh manusia merupakan perwujudan dari alam semesta yang dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Hulu, artinya bagian kepala yang menduduki posisi paling tinggi, agung, mulia, dan terhormat yang menjadi tempat tinggal para Hyang (area sakral);
b. Awak, artinya bagian badan yang berada di tengah menyimbolkan keseimbangan (area netral) dan kehidupan, sebagai tempat tinggal manusia sekaligus sebagai pusat dunia.
c. Suku, artinya bagian kaki yang menduduki posisi paling bawah (tanah) sebagai tempat tinggal makhluk-makhluk gaib, roh-roh jahat yang mengganggu manusia (area profan); tanah menyimbolkan kematian Oleh karena itulah, rumah disusun berdasarkan kosmologi tersebut dengan sistem panggung terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Pondasi merupakan bagian paling bawah=suku/buana larang/ambu handap
b. Dinding merupakan bagian tengah=awak/buana panca tengah/ambu tengah
60
c. Atap merupakan bagian paling atas=hulu/buana nyungcung/ambu luhur. Lantai rumah tidak boleh menempel langsung dengan tanah, karena tanah adalah simbol kematian, sehingga harus ditinggikan dengan menggunakan umpak. Menggunakan penutup atap dari genteng (tanah) juga dilarang, karena sama artinya mengubur diri hidup-hidup.
Dengan demikian, rumah bagi Masyarakat Sunda adalah penghubung antara dunia bawah dengan dunia atas, sehingga terjalin harmonisasi keseimbangan yang indah antara manusia dengan alam.
2. 2. 3 Tipologi Rumah Tradisional Sunda
Menurut Deny ( 2007 : 11 ) Tipologi Rumah Tradisional Sunda Memiliki 4 Jenis yaitu :
1. Suhunan Jolopong
Bentuk jolopong merupakan bentuk yang cukup tua karena bentuk ini ternyata terdapat pada bentuk atap bangunan saung (dangau) yang diperkirakan bentuknya sudah tua sekali. Memiliki dua bidang atap saja.
Kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. bahkan jalur suhunan itu sendiri merupakan sisi bersama (rangkap) dari kedua bidang atap yang sebelah menyebelah.
60
Gambar 2. 11 Suhunan Jolompong Sumber : Google.com 2. Suhunan Julang Ngapak
Bentuk atap yang melebar di kedua sisi bidang atapnya. Jika dilihat dari arah muka rumahnya, bentuk atap demikian menyerupai sayap dari burung julang (nama sejenis burung) yang sedang merentangkan sayapnya.
Gambar 2. 12 Suhunan Julang Ngapak Sumber : Google.com
3. Suhunan Buka Palayu
Buka palayu menunjukkan letak pintu muka dari rumah tersebut menghadap ke arah salah satu sisi dari bidang atapnya. Jika dilihat dari arah muka rumah, tampak dengan jelas keseluruh garis suhunan yang melintang dari
60
kiri ke kanan, Potongan buka palayu pada umumnya mempergunakan bentuk atap suhunan panjang.
Gambar 2. 13 Suhunan Buka Palayu Sumber : Google.com
4. Suhunan Perahu Kumerep
Bentuk atap ini memiliki empat buah bidang atap. Sepasang bidang atap sama luasnya, berbentuk trapesium sama kaki. Letak kedua bidang atap lainnya berbentuk segitiga sama kaki dengan kedua titik ujung suhunan merupakan titik- titik puncak segitiga itu. Kaki-kakinya merupakan sisi bersama dengan kedua bidang atap trapezium.
Gambar 2. 14 Suhunan Perahu Kumerep Sumber : Google.com
60
2. 2. 4 Akulturasi Budaya dan Tradisi Sunda Terhadap Konsep Bangunan Menurut Gatot ( 2014 : 513 ) Pengaruh dari berbagai keragaman tradisi dan budaya lokal, maka terbentuklah beberapa hal yang biasa terdapat pada hunian tradisonal Jawa Barat yang dapat dirangkum dalam bentuk bentuk sebagai berikut:
1. Menggunakan unsur bambu yang biasanya dibuat anyaman, sebagai penutup bangunan maupun penyekat ruangan.
2. Bentuk rumah panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu, atap rumah dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang.
3. Genteng tanah liat, lantai rumah terbuat dari bambu atau papan kayu.
4. Rumah menghadap ke sebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah Barat-Timur
5. Bercirikan bentuk atap yang mencuat di kedua ujungnya, bentuk atap julang ngapak, biasanya di halaman terdapat kolam ikan, atau setidaknya ada unsur penampungan air (kolam), langit-langit tidak menggunakan plafon, sehingga ventilasi udara mengalir dengan lebih baik.
Secara umum konsep dasar rancangan arsitektur tradisional masyarakat Sunda adalah menyatu dengan alam. Alam merupakan sebuah potensi atau kekuatan yang mesti dihormati serta dimanfaatkan secara tepat di dalam kehidupan sehari-hari.
Ungkapan rasa hormat tersebut tercermin pada sebutan bumi bagi alam yang menunjukan pula bahwa alam adalah tempat tinggal bagi masyarakat Sunda karena istilah bumi juga digunakan untuk menyebut secara halus rumah atau tempat tinggal orang Sunda ( Gatot, 2014 )
60
Cara penataan bangunan kompleks yang melingkar membentuk huruf U atau disebut ngariung (berkumpul, menyatu) juga menunjukan sistem tatanan sosial atau kekerabatan yang erat antara para penghuninya. Menurut Mangunwijaya rumah yang kita bangun ialah rumah manusia. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang sebenarnya selalu dinapasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh nafsu dan cita-citanya.
Rumah adalah citra sang manusia pembangunnya ( Mangunwijaya, 1995 ).
2. 3 Pola Penataan Kampung
Menurut Hendi Anwar dan Hafizh Achmad Nugraha ( 2013 ) Setiap perkampungan yang ada di tanah Sunda memiliki pola pemukiman yang berbeda beda. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan fungsi dan keadaan kondisi alam yang ada. Pola kampung tradisional sunda dibagi menjadi tiga bagian yaitu pola linear, pola terpusat dan pola radial.
2. 3.1 Pola Linear
Pola linear adalah kelompok pemukiman yang setiap rumah nya berdiri sejajar lurus. Bentuk ini bersifat fleksibel karena mengikuti berbagai macam keadaan. Penempatan posisi setiap rumah pada pola linear disesuaikan dengan kondisi alam sekitar, seperti keadaan topografi atau sistem masyarakat yang berlaku. Posisi rumah rumah pada kampung berpola linear memanjang mengikuti kondisi yang sudah ada, seperti mengikuti aliran sungai, alur jalan raya, atau tepi pantai.
2. 3. 2 Pola Terpusat
60
Pola terpusat adalah kelompok pemukiman yang mengelilingi sebuah area terpusat yang luas dan dominan seperti alun alun, balai desa, lapangan terbuka dan lainnya. Area ini berupa ruang publik sebagai penyatu perumahan penduduknya berkelompok di sekitar alun alun atau lapangan terbuka dapat membentuk pola kampung yang terpusat.
2. 3. 3 Pola Radial
Pola radial memadukan kelompok pemukiman linear dan terpusat.
Kelompok pemukiman ini menempatkan rumahnya seperti jari jari.
Perancangannya disesuaikan dengan kebutuhan, fungsi, dan kondisi di sekitarnya.
Biasanya rumah diletakan memanjang tetapi memiliki titik yang dijadikan pusat arah.
2. 4 Struktur dalam pola arsitektur sunda
Menurut Purnama Salura dalam buku “ Menelusuri Arsitektur Masyarakat Sunda
“ ( 2007 ) Struktur Pola Arsitektur Sunda adalah sebagai berikut :
1. Konsep Lemah Cai
Konsep lemah cai sangat berperan menentukan pemilihan lokasi. Adanya cai nyusu ( mata air ) cukup bersih dalam jumlah cukup serta tanah relatif subur dan biasanya ditandai oleh hutan yang dipenuhi tumbuhan lebat. Merupakan factor yang sangat menentukan pemilihan lokasi. Sampai sekarang cai nyusu dan lemah ( tanah untuk perumahan dan lading di kampung sunda tetap terjaga dengan baik.
60
Kampung cigenclang berada di lingkungan pengunungan yang sebelumnya telah ada kegiatan kehidupan berupa perkebunan karet, keberadaaan konsep lemah cai juga menjadikan pertimbangan pada awal pembentukan kampung, tetapi dalam perkembangan perkebunan karet semakin meluas mendekati perkampungan, justru berakibat negatif yakni berkurangnya lahan ladang. Dampak positifnya warga yang semula hanya mendapatkan air dari dari sumber yang terletak relatif jauh, kini dapat mengambil air dari bak penampugan perkebunan karet yang letaknya relatif lebih dekat.
Bagi kampung palaestra yang berada di daerah pesisir dan memiliki perbedaan kontur relatif datar, tanah subur ( lemah ) untuk berladang awalnya memang merupakan pertimbangan pemilihan lokasi selain posisi dilewati jalur perdagangan.
2. Konsep Luhur Handap
Konsep yang secara literal berarti atas bawah pada kampung tongoh dan kampung cigenclang menjadi sangat penting dimanifestasikan secara fisik. Lokasi untuk pemukiman harus mempunyai beda ( tinggi – rendah ) kontur signifikan.
Sehingga dapat membedakan penempatan fasilitas penting dan kurang penting secara hirarkis. Fasilitas yang paling tinggi hirarkinya ( makam ) selalu diletakan di tepat yang lebih tinggi dibandingan dengan fasilitas pemukiman. Penataan zonasi elemen dasar kampung sampai sekarang masih selalu berdasar pada konsep luhur handap.
3. Konsep Kaca kaca
60
Perbedaan kontur dianggap sebagai batas antara rumah dalam tatanan kampung. Jarak rumah tidak diukur antara rumah ke rumah tetapi dari batas kontur ke masing masing rumah. Tatanan rumah selalu dimulai dari daerah netral yang merupakan pertemuan.
Kaca kaca merupakan daerah penyambung sekaligus pembatas yang selalu menjadi landasan bagi tatanan kampung. Pintu masuk dimulai dari area yang menyambung kegiatan lintas kampung dengan rumah. Dalam kontruksi cara menyambung dua dinding merupakan hal yang penting. Di kampung tonggoh dimensi bamboo sebagai penyambung menentukan kedua dinding yang akan disatukan. Rumah tidak dimulai dari berapa luas ruangan ( berupa Panjang dan lebar ) tetapi dari ketersediaan bahan penyambung pelingkup ruanganya.
4. Konsep Uga
Uga atau ramalan nenek moyang yang diturunkan secara lisan masih banyak mempengaruhi kegiatan ritual di kampung tonggoh. Membakar kemenyan pada malam jumat masih dilakukan warga. Ini sering didasarkan pada uga ( ramalan ) bahwa hanya pada malam itu komunikasi dengan karuhun dapat terjalin. Tetapi di kampung uga sudah kurang dikenal dan tidak lagi diceritakan atau diturunkan secara lisan dan telah berubah menjadi persayaran biasa.
5. Konsep Sineger – Tengah
Sebagai penghubung antara dunia nyata dan dunia ghaib. Upacara ritual berdasarkan tradisi sering dianggap sebagai cara untuk masuk ke zona tengah agar
60
dapat melakukan komunikasi dengan kekuatan lain. Di zona tengah tersebut kegiatan komunal dilakukan ( dilakukan Bersama sama ) seperti berkumpul, merawat, dan mempebaiki fasilitas fasilitas Bersama.
6. Konsep Pamali
Di kampung sunda terdapat konsep pamali seperti jangan menanam pada waktu dan kondisi tertentu kareana akan berakibat negatif bagi hasil produksi dan pada giliranya juga akan berakibat negatif bagi kehidupan warga. Arah hadap bangunan tidak boleh menghadap kea rah barat dan timur tetapi harus menghadap kea rah utara dan selatan. Tetapi pada masa sekarang ini konsep pamali sudah mulai hilang dan tidak lagi diteraokan oleh warga, warga sekarang lebih memperhatikan pertimbangan pertimbangan pragmatis.
7. Konsep Nadran
Konsep nadran sangat berkaitan erat dengan konsep uga. Nadran biasanya dilakukan menjelang mengawali bulan puasa ( Ramadhan ) dan waktu sebelum idul fitri ( 1 syawal ) namun pada waktu tertentu nadran pun dilakukan antara lain ketika hendak memohon sesuatu pada karuhun. Harfiahnya nadran ialah berziarah ke makam ( kuburan ), membaca doa, umumnya sekaligus menabur bunga dan air putih di pusaran.
2. 5 Tinjauan Umum Resort 2. 5. 1 Pengertian Resort
Berikut ini adalah pengertian resort antara lain :
60
1. Resort adalah tempat peristirahatan di musim panas, di tepi pantai/di pegunungan yang banyak dikunjungi. (John M. Echols, Kamus Inggris- Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1987).
2. Resort adalah tempat wisata atau rekreasi yang sering dikunjungi orang dimana pengunjung datang untuk menikmati potensi alamnya. (A.S.
Hornby, Oxford Leaner’s Dictionary of Current English, Oxford University Press, 1974).
3. Sebuah resort sebaiknya mempunyai lahan yang ada kaitannya dengan obyek wisata, oleh sebab itu sebuah resort berada pada perbukitan, pegunungan, lembah, pulung kecil dan juga pinggiran pantai. (Nyoman S. Pendit. Ilmu Pariwata. Jakarta: Akademi Pariwisata Trisakti, 1999).
Berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan pengertian resort adalah tempat peristirahatan dimana para pengunjung dapat menikmati potensi alam dan juga objek wisata yang terdapat disekitar Kawasan resort tersebut.
2. 5. 2 Jenis jenis Resort
Berdasarkan letak dan fasilitasnya (Lowson, 1995), resort dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Mountain Resort Hotel
Resort hotel ini terletak di daerah pegunungan. Pemandangan khas daerah pegunungan yang indah menjadi komoditi utama yang di jadikan sebagai daya tarik. Fasilitas yang disediakan lebih ditekankan pada hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan alam pegunungan dan rekreasi yang
60
bersifat kultural dan natural seperti mendaki gunung, hiking,dan aktifitas lainnya yang berhubungan dengan aktifitas wisata yang ada digunung.
Resort hotel ini dibangun di daerah pegunungan dan memanfaatkan pemandangan dan iklim sejuk pegunungan sebagai daya Tarik utamanya.
Untuk menambah daya tarik pengunjung, biasanya resort semacam ini dilengkapi dengan fasilitas kolam renang di luar ruangan agar pengunjung dapat sekaligus menikmati pemandangan alam yang ada disekitar sambil berenang.
2. Health Resort and Spas
Resort jenis ini biasanya dibangun pada daerah yang memiliki potensi alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana penyehatan, misalnya melalui aktifitas spa. Rancangan bangunan resort semacam ini harus diengkapi dengan fasilitas untuk pemulihan kesegaran, baik jasmani (fisik) maupun rohani (batin) dengan kegiatan yang berhubungan dengan kebugaran dan pemandangan yang juga mendukung dalam proses relaksasi.
3. Beach Resort Hotel
Resort jenis ini terletak di daerah pantai, mengutamakan potensi alam dan pemandangan khas pantai dan laut sebagau daya tarik utamanya.
Pemandangan lepas menuju ke arah lautan, keindahan pantai, dan fasilitas olah raga air yang lengkap dan terbaru, seringkali dimanfaatkan sebagai pertimbangan utama perancangan bangunan.
4. Marina Resort Hotel
60
Resort hotel jenis ni terletak dikawasan marina (pelabuhan laut). Karena terletak di kawasan marina, rancangan resort ini memanfaatkan potensi utama kawasan tersebut sebagai kawasan perairan. Biasanya respon dari rancangan resort semacam ini di wujudkan dengan melengkapi fasilitas berupa dermaga serta mengutamakan penyediaan fasilitas yang berhubungan dengan kegiatan air, pemandangan tepi pantai dan fasilitas unutk menikmati sinar matahri yang berlimpah.
5. Rural Resort and Country Hotels
Trend pergeseran pariwisata saat ini yang mengarah kepada aktifitas wisata yang dilakukan di daerah-daerah yang masih alami dengan potensi alam yang menarik membuka peluang dibangunnya resort berjenis ini. Rural ressort and country hotels adalah resort hotel yang dibangun di daerah pedesaan jauh dari area bisnis dan keramaian. Daya tarik utama dari resort ini adalah lokasinya yang masih alami, diperkuat dengan fasilitas olahraga dan rekreasi yang jarang ada di kota kota seperti berburu, bermain golf, tenis, berkuda, panjat tebing, memanah, atau aktifitas khusus lainnya.
2. 6 Tinjauan Umum Arsitektur Neo Vernakular 2. 6. 1 Pengertin Arsitektur Neo – Vernacular
Menurut Yusuf dalam Dikri ( 2015 : 31 ) Arsitektur Neo Vernakular adalah salah satu paham atau aliran yang berkembang pada era Post Modern yaitu aliran arsitektur yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an, Post Modern lahir disebabkan pada era modern timbul protes dari para arsitek terhadap pola-pola yang berkesan monoton (bangunan berbentuk kotak-kotak). Oleh sebab itu, lahirlah
60
aliran-aliran baru yaitu Post Modern.Ada 6 (enam) aliran yang muncul pada era Post Modern menurut Charles A. Jenck diantaranya, historiscism, straight revivalism, neovernakular, contextualism, methapor dan post modern space.
Charles Jenks seorang tokoh pencetus lahirnya post modern menyebutkan tiga alasan yang mendasari timbulnya era post modern, yaitu :
1. Kehidupan sudah berkembang dari dunia serba terbatas ke dunia tanpa batas, ini disebabkan oleh cepatnya komunikasi dan tingginya daya tiru manusia.
2. Canggihnya teknologi menghasilkan produk-produk yang bersifat pribadi 3. Adanya kecenderungan untuk kembali kepada nilai-nilai tradisional atau
daerah, sebuah kecenderungan manusia untuk menoleh ke belakang.
2. 6. 2 Ciri ciri Arsitektur Neo – Vernacular
Menurut Charles Jencks dalam bukunya “ language of Post-Modern Architecture (1990) ” maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernakular sebagai berikut :
1. Selalu menggunakan atap bumbungan
Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah sehingga lebih banyak atap yang diibaratkan sebagai elemen pelidung dan penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan yang menyimbolkan permusuhan.
2. Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen kontruksi local )
Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang merupakan budaya dari arsitektur barat.
60
3. Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan proporsi yang lebih vertikal.
4. Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan ruang terbuka di luar bangunan.
5. Warna-warna yang kuat dan kontras.
Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo-Vernakular tidak ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lelbih pada keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan jelas dan tepat oleh Neo-Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan pemakaian kembali.
1. Pemakaian atap miring
2. Batu bata sebagai elemen lokal 3. Susunan masa yang indah.
Mendapatkan unsur-unsur baru dapat dicapai dengan pencampuran antara unsur setempat dengan teknologi modern, tapi masih mempertimbangkan unsur setempat, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Bentuk-bentuk menerapkan unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural (tata letak denah, detail, struktur dan ornamen).
2. Tidak hanya elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi juga elemen non-fisik yaitu budaya, pola pikir, kepercayaan, tata letak yang
60
mengacu pada makro kosmos, religi dan lainnya menjadi konsep dan kriteria perancangan.
3. Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip bangunan vernakular melainkan karya baru (mangutamakan penampilan visualnya).
2. 6. 3. Prinsip – prinsip Desain Arsitektur Neo-Vernakular
Beberapa prinsip-prinsip desain arsitektur Neo-Vernakular secara terperinci menurut Sonny Susanto, Joko Triyono, Yulianto Sumalyo adalah sebagai berikut : 1. Hubungan Langsung, merupakan pembangunan yang kreatif dan adaptif terhadap arsitektur setempat disesuaikan dengan nilai-nilai/fungsi dari bangunan sekarang.
2. Hubungan Abstrak, meliputi interprestasi ke dalam bentuk bangunan yang dapat dipakai melalui analisa tradisi budaya dan peninggalan arsitektur.
3. Hubungan Landscape, mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim. Hubungan Landscape, mencerminkan dan menginterprestasikan lingkungan seperti kondisi fisik termasuk topografi dan iklim.
4. Hubungan Kontemporer, meliputi pemilihan penggunaan teknologi, bentuk ide yang relevan dengan program konsep arsitektur.
5. Hubungan masa depan, merupakan pertimbangan mengantisipasi kondisi yang akan datang.
60
2. 6. 4. Tinjauan Perbandingan Arsitektur Neo Vernakular
Tabel 2. 2 Perbandingan Arsitektur Ttradisional, Vernakular dan Neo Vernakular Perbandingan Tradisional Vernakular Neo Vernakular
Ideologi Terbentuk oleh tradisi yang
diwariskan secara turun-
temurun, berdasarkan
kultur dan kondisi lokal.
Terbentuk oleh tradisi turun temurun tetapi terdapat pengaruh dari luar baik fisik maupun nonfisik,
bentuk perkembangan
arsitektur tradisional.
Penerapan elemen arsitektur yang
sudah ada dan kemudian sedikit
atau banyaknya mengalami pembaruan menuju
suatu karya yang modern.
Prinsip Tertutup dari perubahan zaman, terpaut pada satu kultur kedaerahan, dan
mempunyai peraturan dan norma-norma
Berkembang setiap waktu untuk
merefleksikan lingkungan,
budaya dan sejarah dari daerah
dimana arsitektur tersebut berada.
Transformasi dari
Arsitektur yang bertujuan melestarikan unsur-unsur lokal
yang telah terbentuk secara empiris oleh tradisi
dan mengembang- kannya menjadi
60 keagamaan
yang kental
situasi kultur homogen ke situasi yang lebih
heterogen.
suatu langgam yang modern.
Kelanjutan dari arsitektur vernakular Ide Desain Lebih
mementingkan fasat atau
bentuk, ornamen sebagai suatu
keharusan.
Ornamen sebagai pelengkap, tidak
meninggalkan nilai- nilai setempat tetapi dapat melayani
aktifitas masyarakat
didalam.
Bentuk desain lebih modern.
Sumber : Sonny Susanto, Joko Triyono, Yulianto Sumalyo 2. 7 Tinjauan Kebijakan
2. 7. 1 Letak Administratif
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2012, batas-batas wilayah Kabupaten Pangandaran sebagai berikut :
• Sebelah Utara : Desa Ciulu, Desa Pasawahan, Desa Cikupa Kecamatan Banjarsari, Desa Sidarahayu Kecamatan Purwadadi, Desa Sidamulih Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis dan