• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI ATAS PEMIKIRAN DAN KARYA KIAI SAHAL MAHFUDH DALAM TRANSFORMASI HUKUM ISLAM

Muhadi Zainuddin dan Miqdam Makfi

Fakultas Ilmu Agama Islam, UII Yogyakarta

*

[email protected]

ABSTRAK

Dalam jagad studi keislaman di Indonesia, Fiqh Sosial merupakan gagasan orisinil yang berusaha mengetengahkan fiqh yang berdialog dengan zaman. Gagasan Fiqh Sosial di Indonesia lahir dari arus besar pemikiran Kiai Sahal Mahfudh. Gagasan Fiqh Sosial Kiai Sahal lahir dari pergulatan keilmuan Islam yang berefleksi dengan persoalan sosial di masyarakat. Jejaring keilmuan dan intelektualitas Kiai Sahal turut berperan dalam merumuskan Fiqh Sosial sebagai basis epistemik pemberdayaan masyarakat yang dikerjakan beliau. Artikel berbasis riset ini mencoba menelusuri jejaring keilmuan Kiai Sahal serta pengaruhnya bagi perumusan Fiqh Sosial, disamping koneksi intelektual serta organisasi masyarakat yang memperluas pengaruh dari gagasan Fiqh Sosial. artikel ini, menjawab tiga pertanyaan kunci: (1) Bagaimana genealogi pemikiran Kiai Sahal Mahfudh? (2) Bagaimana rumusan Fiqh Sosial Kiai Sahal dalam peta pemikiran hukum Islam di Indonesia? (3) Bagaimana aplikasi pemberdayaan masyarakat yang diusung Kiai Sahal? Dengan melihat Kiai Sahal sebagai figur sentral, akan menjadi salah satu pintu dalam membaca dinamika fiqh di kalangan pesantren maupun mimbar akademik kampus. Tulisan ini masih terbatas pada satu figur dan gugusan pemikiran dari Kiai Sahal, yang berusaha menjenguk discourse yang terkait dengan perumusan epistemologi Fiqh Sosial. Kata kunci:Fiqh Sosial, genealogi intelektual, Kiai Sahal, Pemberdayaan Masyarakat.

ABSTRACT

In the field of Islamic studies in Indonesia, social fiqh is an original idea that tries to offer a fiqh concept can hold dialogues with the times. The idea of social fiqh in

Indonesia was born from the great currents of Kyai Sahal Mahfudh’s thought. His social

fiqh idea was born from the struggle of Islamic scholarship that reflect the social problems in the society. His scientific and intellectual networking has played a role in formulating social fiqh as a basic epistemic ofsociety empowerment which he worked. This research-

based article tries to search Kyai Sahal’sintellectualityandits effect on formulating social

fiqh idea, in addition to the intellectual connection as well as community organizations that extend the influence of social fiqh idea. This article will answer three key questions: 1. how is the thought genealogy of Kyai Sahal Mahfudh? 2. How is the formulation of Kyai Sahal’s social fiqh idea in the map of Islamic legal thought in Indonesia? 3 how is the application of society empowerment workedby Kiai Sahal? By seeing Kyai Sahal as a central figure, it will be one of the doors in reading fiqh dialectics inPesantren and campus academic forum. This article is limited to one figure and thought cluster of Kyai Sahal,it tried to visit the discourses that isrelated with the formulation of fiqh social epistemology. Keywords: Social Fiqh, Intelectual Genealogy, Kyai Sahal, Society Empowerment

PENDAHULUAN

Ide fiqh sosial yang dilontarkan oleh Kiai Sahal Mahfudh (1933-2014) tidak lahir dari ruang kosong sejarah. Fiqh sosial mempunyai riwayat panjang dalam perenungan, diskusi, penulisan hingga perdebatan di pelbagai forum ilmiah. Kiai Sahal tampil sebagai salah satu pengusung pembaruan fiqh di Indonesia, yang diaplikasikan dalam konteks NU maupun ruang pemberdayaan sosial di masyarakat.

Gagasan Fiqh Sosial Kiai Sahal dipengaruhi oleh jejaring intelektual beliau, yakni perjumpaan dengan Kiai-kiai di beberapa pesantren, Kiai Mansyur (pesantren an-Nur Lasem), Kiai Muhajir (Pesantren Bendo, Pare, Kediri), Mbah Mad dan Kiai Zubair (Sarang), Syech Yasin al- Fadani (Makkah). Di samping itu kiai Sahal juga dibimbing oleh paman beliau, Kiai Abdullah Zain bin Salam, Kajen Pati. Selain jejaring Kiai dan pesantren yang menjadi fondasi keilmuan Kiai Sahal, kiprah organisasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang digeluti Kiai Sahal juga berperan untuk menghantarkan pencapaian gagasana Fiqh Sosial. Tanpa perbenturan dengan realitas sosial masyarakat, Fiqh hanya akan menjadi teks yang tak mampu berkomunikasi dengan zaman.

Jejak organisasi Kiai Sahal, diantaranya ketika membina madrasah Mathali’ul Falah,

mengurus NU dari tingkat Ranting, MWC Margoyoso, PCNU Pati, hingga kemudian ia mendapat amanah sebagai wakil Rais PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriah PWNU Jateng, hingga kemudian

menjadi Rais ‘Am PBNU (Muktamar Lirboyo, Kediri, dan Muktamar Makassar). Selain itu, Kiai

Sahal juga berperan sebagai Ketua Umum MUI.

Dasar keilmuan kokoh yang berasal dari penguasaan teks klasik, kiprah sosial di bidang pendidikan dan organisasi sosial, hingga keterlibatannya dengan sejumlah LSM dan NGO menghantarkan Kiai Sahal pada pemikiran yang original, yang lahir dari akar sejarah dan menapak pada realitas sosial. Kiai Sahal, tentu sejalan dengan apa yang ada dalam angan-angan Gramsci, sebagai intelektual organik.1

Menurut Kiai Sahal, “Fiqh sosial tidak sekedar sebagai alat untuk melihat setiap peristiwa

dari kacamata hitam putih, sebagaimana cara pandang fiqh yang kita temukan, tetapi fiqh sosial

1

Intelektual organik dalam bayangan Gramci adalah intelektual yang tidak hanya berada di menara gading, namun juga berani melakukan perubahan sosial, diantaranya dengan melawan hegemoni. “whereas previous intellectual relied on their sophistication and eloquence, the organic intellectual must actively participate in practical life, ‘as constructor, organizer, ‘permanent persuader’ and not just a simple orator”, simak dalam Steve Jones, Antonio Gramsci, New York: Routledge, 2006. hal. 85.

juga menjadikan fiqh sebagai paradigma pemaknaan sosial”.2

Hal inilah yang menjadi perspektif Kiai Sahal dalam merumuskan Fiqh Sosial sebagai fondasi pemberdayaan masyarakat yang ia lakukan selama ini.

KH Sahal Mahfudh dilahirkan di Pati 17 Desember 1933. Hampir seluruh hidupnya dijalani di pesantren, mulai dari belajar, mengajar, dan mengembangkannya. Latar belakang kesejarahan yang kaya nilai tradisi inilah yang menjadikan figur kiai Sahal peka dengan problem sosial dan menghargai kearifan lokal. Kiai Sahal meruapakan intelektual sekaligus aktifis yang mengusung pemberdayaan masyarakat. Jejak pemikiran utamanya terekam dalam buku "Nuansa Fiqh Sosial (1994)3. Selain itu, Kiai Sahal juga menulis Thariqat al Hushul ila Ghayah al Ushul (2000), Al Bayan al Mulamma an Alfaz al Luma (1999), Telaah Fiqh Sosial, Dialog dengan KH. MA. Sahal Mahfudh (1997), Pesantren Mencari Makna, (1990), Ensiklopedi Ijma’ (terjemah bersama KH. Mustofa Bisri dari kitab Mausu’ah al Hajainiyah, 1960 (1987), Ensiklopedi Ijma’ (1985), Faidhu Al Hijai (1962), Al Tsamarah al Hajainiyah (1960), Intifakhu Al Wadajaini Fi Munadohorot Ulamaai Al Hajain (1959), Luma al Hikmah ila Musalsalat al Muhimmat, Al Faraid al Ajibah dan beberapa mahakarya lainnya.