• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Pragmatik Sastra dan Semiotik

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL “SAMURAI

2.3 Studi Pragmatik Sastra dan Semiotik

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan pragmatik sastra untuk menganalisis nilai-nilai yang terkandung dalam cerita novel “Samurai Kazegata” karya Ichirou Yukiyama, penulis mengambil beberapa cuplikan teks yang memiliki nilai di dalam cerita novel tersebut. Pragmatik sastra adalah cabang penelitian ilmu sastra yang mengarah kepada aspek kegunaan sastra. Penelitian ini muncul atas dasar ketidakpuasan terhadap penelitian srtuktural murni yang memandang karya sastra hanya sebagai teks itu saja. Kajian struktural dianggap hanya mampu menjelaskan karya sastra dari permukaannya saja. Maksudnya, kajian struktural sering melupakan aspek pembaca sebagai penerima makna atau pemberi makna terhadap karya satra. Pragmatik sastra lebih menitikberatkan kajiannya terhadap perananan pembaca dalam menerima, memahami dan menghayati karya sastra, karena pembaca sangat berperan dalam menentukan sebuah karya sastra itu merupakan karya sastra atau tidak dan sebagai sebuah keutuhan komunikasi, maka hakikatnya karya sastra yang tidak sampai kepada pembaca bukanlah karya sastra, Siswanto dan Roekhan dalam Endraswara (2008:7)

Pendekatan pragmatik sastra memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca, seperti tujuan pendidikan moral, agama dan tujuan pendidikan lainnya. Dengan kata lain pragmatik sastra bertugas sebagai pengungkap tujuan yang dikemukakan para pengarang untuk mendidik masyarakat pembacanya. Semakin banyak nilai-nilai, ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang diberikan kepada pembaca, maka semakin baik dan bernilai tinggi karya sastra tersebut, Abrams dalam Jabrohim (2012:670).

Menurut Teeuw dalam Endraswara (2008:71) kajian pragmatik selalu memunculkan persoalan yang berkaitan dengan masalah pembaca, yaitu apa yang dilakukan pembaca dengan karya sastra, apa yang dilakukan karya sastra dengan pembaca serta apakah tugas dan batas kemungkinan pembaca sebagai pemberi makna. Hal ini berhubungan dengan manfaat pragmatik sastra terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyarakat, perkembangan dan penyebarluasannya sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan melalui peranan pembaca dalam memahami karya sastra. Dengan indikator pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatik adalah memberikan manfaat terhadap pembaca. Dengan mempertimbangan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik diantaranya adalah berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra.

Di dalam novel“Samurai Kazegata” karya Ichirou Yukiyama, penulis menemukan nilai-nilai pragmatik yang sangat berguna bagi pembaca khususnya penulis. Nilai nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kehidupan berkelompok atau dalam berorganisasi. Nilai pragmatik dimaksud adalah untuk lebih memiliki jiwa rela berkorban kepada orang yang telah menolong dan kepada orang yang disayangi, menyayangi dan menghargai semua orang tanpa terkecuali, penuh kesetiaan, pantang menyerah dan penuh taktik dalam menghadapi kehidupannya sehari-hari artinya tidak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri tetapi juga mengandalkan fikiran.

Selain pendekatan pragmatik, penulis juga menggunakan teori semiotik untuk melihat tanda (makna) nilai-nilai dalam novel dan manfaat novel tersebut bagi para pembaca. Semiotik berasal dari bahasa Yunani yaitu Semeion yang

berarti tanda. Semiotik (semiotika) adalah ilmu tentang tanda-tanda, ilmu ini menganggap bahwa fenomena masyarakat sosial dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Dalam pengertiaan yang lebih luas, semiotika berarti studi sistematis mengenai produksi dan interpretasi tanda, bagaimana cara kerjanya dan apa manfaatnya dalam kehidupan manusia. Kehidupan manusia dipenuhi oleh tanda, dengan perantaraan tanda-tanda menusia dapat berkomunikasi dengan sesamanya.

Sebagai ilmu semiotika berfungsi untuk mengungkapkan secara ilmiah keseluruhan tanda dalam kehidupan manusia, baik tanda verbal maupun nonverbal (Ramadhani, 2013:20)

Junus dalam Jabrohim (2012.86) mengemukakan bahwa karya sastra merupakan struktur sistem tanda yang bermakna, tanpa memperhatikan sistem tanda-tanda dan maknanya, maka struktur karya sastra atau karya sastra itu sendiri tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal. Penelitian menggunakan teori semiotik juga dapat mengarahkan hubungan teks sastra dengan pembaca. Tanda yang dapat pada karya sastra menghubungkan antara penulis, karya sastra dan pembaca. Dalam hubungan ini teks sastra adalah sarana kounikasi sastra antara pengarang dengan pembacanya. Jika pengarang dalam merefleksikan kary menggunakan kode atau tanda tenentu yang mudah dipahami oleh pembaca, maka karya tersebut akan mudah dipahami, tetapi sebaliknya jika tanda yang digunakan pengarang masih asing bagi pembaca, maka karya sastra tersebut akan sulit dipahami dan dapat menimbulkan makna baru bagi pembaca.

BAB III

ANALISIS PRAGMATIK TERHADAP CERITA NOVEL “SAMURAI KAZEGATANA” KARYA ICHIROU YUKIYAMA

3.1 Sinopsis Cerita Novel “Samurai Kazegatana” karya Ichirou Yukiyama Novel “Samurai Kazegatana” karya Ichirou Yukiyama ini bercerita tentang kisah hidup tokoh Akazawa yang merupakan seorang saudagar kaya di Desa Shirozora yang mewarisi usaha keluarganya di usianya yang ke 20 tahun.

Ketika kedua orang tuanya meninggal, tak ada pilihan lain bagi Akazawa selain harus melanjutkan usaha keluarganya diusia yang masih muda. Tinggal dia dan adiknya Tsubame yang masih hidup. Sang adik yang terlihat sangat lembut dari luar tetapi sebenarnya Tsubame adalah sosok perempuan pemberani dengan kecerdasan yang luar biasa. Selain Akazawa dan Tsubame, mereka tinggal bersama seorang samurai kepercayaan keluarga Akazawa bernama Gorou yang setia menjaga mereka sejak kecil. Selain Gorou mereka juga tinggal bersama Hanmaru, seorang bawahan yang sudah dianggap saudara oleh Akazawa dan Tsubame.

Saudagar muda ini mampu bekerja keras dan belajar dengan cepat, sehingga perusahaan kain Sutra milik ayahnya berkembang dengan pesat bahkan melebihi pencapaian sebelumnya. Namun sayang, muncul sekelompok perampok yang selalu berhasil menggagalkan pengiriman barang ke ibu kota. Begitu juga dengan barang dagangan Akazawa. Sekalipun Akazawa sudah menyewa lebih banyak pengawal dalam pengantaran barang dagangan itu, tetap saja para

pengawal itu terpukul kalah oleh para perampok Chigatana. Bahkan, Gorou seorang samurai kepercayaan keluarga Akazawa meninggal dalam peristiwa itu.

Peristiwa tersebut mengguncang Akazawa dan Tsubame. Gorou bukan hanya sekedar pengawal setia namun juga pengganti orang tua bagi mereka berdua.

Beruntungnya, Hanmaru yang ikut dalam pengawalan barang itu diselamatkan oleh Ninja bernama Satoru. Setelah peristiwa tersebut, ternyata kabar para perampok Chigatana sampai ke telinga Daimyou. Sehingga Daimyou mengutus beberapa pasukan untuk menumpas para perampok yang dipimpin oleh Hirokatsu Shinnosuke. Ternyata strategi yang disusun oleh Shinnosuke tidak berhasil untuk menumpas para perampok, sehingga mengakibatkan para utusan Daimyou ini terpukul kalah oleh kelompok Chigatana. Shinnosuke yang berhasil melarikan diri pergi ke rumah masyarakat desa sekitar dan berlindung disana.

Mendengar bahwa utusan Daimyou pun tidak berhasil menumpas para perampok Chigatana, Akazawa terpaksa harus turun tangan. Dia berniat membentuk kelompok baru secara diam-diam tanpa harus diketahui orang lain untuk menumpas para perampok Chigatana. Sehingga Akazawa menyuruh Hanmaru untuk mencari beberapa anggota yang bisa menjaga rahasia dan mau bekerjasama. Setelah Hanmaru berhasil mengumpulkan beberapa orang, akhirnya Kelompok yang dibentuk ini beranggotakan 6 orang yaitu Akazawa sebagai pemimpin dan penyusun strategi yang hebat, Tsubame sebagai penasehat dan pemberi dukungan, Hanmaru seorang anak muda yang masih belajar menjadi samurai, Satoru sebagai seorang ninja yang mengumpulkan semua informasi tersembunyi dari Kelompok Chigatana, Hironobu yang rela ikut untuk menyelamatkan dirinya dari kelaparan, dan Shinnosuke yang ikut dalam

kelompok Kazegata karena merassa malu pulang membawa kekalahan kepada Daimyou yang telah menyuruhnya.

Atas usulan Tsubame, para anggota ini mengangkat Kazegatana sebagai nama kelompok mereka. Setelah semua informasi yang dibutuhkan terkumpulkan, tibalah waktunya untuk menumpas para perampok ini. Atas masukan dan strategi dari Akazawa, keempat anggota Kazegatana yaitu Hanmaru, Satoru, Hironobu, dan Shinnosuke pergi ke lembah Toraguchi dengan berpura-pura sebagai seorang pengelana dengan penutup kepala yang menyembunyikan wajah dan bungkusan kain yang cukup besar di punggung masing-masing yang berisi senjata didalamnya. Ternyata strategi tersebut mampu membuat para perampok Chigatana tertipu sehingga perampok ini hanya mengutus beberapa orang saja untuk menumpas mereka. Peperangan tersebut selesai dan menewaskan Saburou pemimpin anggota penyerang dan sekitar 10 orang anggota dari Chigatana.

Ternyata strategi yang dibuat oleh Akazawa membuahkan hasil. Sehingga keempat anggota Kazegatana ini pulang dengan membawa kabar yang melegakan.

Yukino Heihachi yang merupakan seorang pemimpin utama dari kelompok perampok Chigatana ini memandang tajam wajah Saburou yang telah beku oleh kematian. Perasaan benci, marah, dan sedih berkecambuk membuat hatinya terdorong untuk berteriak meluapkan kemarahan karena telah kehilangan tangan kanannya. Lalu Yukino menyuruh Kenji untuk lebih memperhatikan Akazawa dan mengawasi gerak gerik serta kediamannya. Ternyata beberapa strategi dilaksanakan oleh para kelompok Akazawa, hampir semuanya berhasil.

Sehingga hal tersebut membuat para anggota Chigatana tinggal sedikit, dan

membuat Yukino merasa gentar dan khawatir sewaktu-waktu kazegatana menghabisi kelompoknya.

Wajah-wajah gembira telah cukup mewakili suasana hati para anggota Kazegatana yang sedang cerah. Akazawa menyediakan sake dan merayakan saat yang menyenangkan itu. Setelah semua anggota Kazegatana pulang ketempatnya masing-masing, Shinnosuke yang merasa haus pada tengah malam, keluar untuk mencari minum. Diperjalanan, Shinnosuke bertemu dengan kenji anggota Chigatana yang sangat licik. Dengan kelicikannya, dia berpura-pura bergabung dengan Kazegatana. Tipuan tersebut tidak membuat kelompok Kazegatana yang lain terhasut. Sehingga hanya Shinnosuke pergi bersama Kenji untuk Menumpas Yukino. Dengan panduan Kenji, Shinnosuke berlari menyusuri hutan sepanjang Jalan Ryuujin. Ketika mendekati bukit disekitar lembah Toraguchi, mereka terus mendaki sambal terus mengendap-endap dalam gelap, sampai akhirnya tiba di dekat sebuah tanah terbuka yang dibanjiri cahaya bintang, sehingga Shinnosuke dapat melihat gubuk tua yang tampak hamper rubuh serta beberapa api unggun kecil disekitarnya. Namun dia tidak menemukan seorangpun.

Ninja itu mendekati gubuk tadi dengan langkah tanpa suara, ketika menempuh setengah jarak kenji langsung memacu kecepatannya dan memanggil Shinnosuke dengan menggunakan isyarat tangan. Kenji menunjuk ke arah salah satu api unggun yang agak jauh dari gubuk. Kini teerlihat seseorang sedang duduk membelakangi mereka di depan api unggun. Tanpa menunda lebih lama lagi, Shinnosuke maju sambal menarik pedangnya perlahan, saat mengangkat pedang keatas dan bersiap untuk menyerang, tiba-tiba seseorang menyapanya dan dia berbalik. Seseorang berdiri didekat gubuk tadi bersama Kenji. Shinnosuke

menatap wajah Yukino untuk yang pertama kali. Dia merasa seperti seekor tikus ditengah ular, terlebih ketika perampok yang lain bermunculan dan mengepungnya.Yukino segera mengibaskan tangan sebagai isyarat, memerintahkan 7 orang untuk melawan Shinnosuke. Shinnosuke tak punya pilihan, kecuali menerima kekalahannya yang kedua dari para perampok itu dan terpaksa mundur demi menyelamatkan nyawa. Sekonyong-konyong sesuatu menusuk dibelakang bahunya itu adalh tusukan racun yang ditiup oleh Kenji.

Setelah dipermainkan perampok, Shinnosuke kelelahan dan kemudian Hironobu dan Hanmaru muncul, membuat para Chigatana merasa sangat terkejut.

Hanmaru mengayunkan pedang sekuat tenaga terlebuh dahulu sebelum melompat tinggi keudara dan memmbuat Kenji kehilangan kendali. Kenji langsung menyerang kembali dengan ganas tanpa memberinya sesaatpun kesempatan mengambil nafas. Hanmaru berhasil menangkis dua serangan pertama dan ketika Kenji hendak menendang, Hanmaru mendaratkan kaki dengan keras diperut Kenji, hingga mendorongnya cukup jauh kebelakang. Mendadak Kenji tak terlihat dimanapun sehingga Hanmaru mendadak kebingungan sesaat . seolah dituntun oleh sesuatu yang tidak terlihat, dia memutar pedang sampai mengarah kebawah lalu menusukkan kebelakang, Terdengar pekikan tertahan. Setelah menarik kembali pedangnya Hanmaru berbalik dan menemukan sang ninja jatuh berlutut sambal memegangi perutnya yang mengucurkan darah. Melihat Kenji terpukul kalah oleh Hanmaru, Yukino pun merasa takut dan melarikan diri.

Kemudian setelah pertempuran selesai dan seluruh anggota Chigatana tertumpas, dari kejahuan terlihat maya Shinnosuke tertelungkup. Dan akhirnya satu orang anggota Kazegatana telah gugur.

Matahari belum tinggi ketika Yukino menghentikan langkah. Dia berniat untuk pergi sejauh mungkin dari lembah Toraguchi, tetapi ternyata kakinya berlari ke Shirozora. Akazawa menyuruh Hanmaru untuk membawa Tsubame untuk mencari tempat berlindung. Setelah Akazawa tinggal sendiri dirumah bersama pengawal-pengawalnya, tiba-tiba Yukino muncul dan membunuh Akazawa serta penjaga-penjaganya. Cukup lama Yukino diam dan memandangi kepala Akazawa yang sudah terpisah dengan tubuhnya. Ketika dia hendak keluar dia melihat Hironobu memegang bedang yang siap untuk dihunus, kemudian Yukino merasa terpancing untuk melawannya, setelah bertempur beberapa lama pedang Hironobu yang mengenai bahu Yukino, sedangkan kepala perampok itu berhasil menikam jantung lawan dan pedang itupun jatuh bersamaan dengan tubuh Hironobu.

Akhirnya Hanmaru yang tidak tenang meninggal Akazawa, dia kembali dan melihat Akazawa sudah mati, kemudian dia mencari Yukino dan bermaksut untuk balas dendam, tapi ternyata Hanmaru kalah dan dia gugur dalam melawan Yukino. Satoru yang juga masih dipengaruhi oleh racun dari kenji mencoba melawan Yukino, tiba-tiba fikiran Yukino mendadak berubah dan berfikir untuk menyerah. Kemudian Yukino berterimakasih kepada Satoru lalu segera berlutut dan menundukkan wajah sambal memutar pedang hingga mengarah keperutnya sendiri. Ternyata Yukino masih dapat melawan dan mengayunkan pedang dan berputar laksana angina dan menusukkan tepat di jantung Satoru. Akhirnya Satoru dan Yukino gugur pada malam itu juga.

Dalam waktu yang singkat Tsubame kehilangan segalanya. Termasuk kehilangan kakaknya Akazawa, Gorou, Hanmaru dan semua pengawalnya. Hanya Tsubame yang tersisa dari kelompok Kazegatana. Beberapa hari kemudian

Tsubame kembali ke Shirozoa dan orang-orang bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan menanyakan alasan gadis itu tidak tirhat sedih, namun gadis itu hanya tersenyum dan menjawab singkat “Agar taka da penyesalan.”

Walaupun tak punya banyak pengalaman, Tsubame dengan tekun melanjutkan perdagangan keluarganya dengan bantuan Motojiro yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Semua menganggapnya sangat tegar, hingga musim semi tiba. Tsubame sering terlihat sendirian berdiri di bawah pohon sakura. Ia bergumam, “Aku tidak bersedih. Tak perlu ada penyesalan.”

3.2 Analisis Nilai Pragmatik dalam Novel “Samurai Kazegatana” Karya Ichirou Yukiyama

Untuk mengetahui nilai-nilai pragmatik sastra yang terkandung dalm novel

“Samurai Kazegatana” karya Ichirou Yukiyama maka penulis akan menganalisis beberapa cuplikan teks yang mengandung nilai-nilai tersebut. Berikut adalah analisis nilai-nilai pragmatik dalam novel Samurai Kazegatana Karya Ichiroou Yukiyama:

1. Cuplikan 1 ( Hal 59)

Erangannya ternyata telah membangunkan Tsubame. Gadis itu langsung berseri gembira ketika pandangan mereka bertemu.

"Kau sudah sadar! Akhirnya kau sadar!"

"Maaf," kata Hanmaru sambil menahan sakit dan berusaha duduk, namun Tsubame segera mendorongnya kembali berbaring. Wajahnya tampak begitu khawatir.

“Jangan terlalu banyak bergerak dulu, kau masih harus istirahat. Lukamu terlihat begitu parah ketika kami menemukanmu di pintıu gerbang. Aku kira ...kau sudah...." Gadis itu tak mampu meneruskan, hanya memejamkan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Saya tidak apa-apa, Nona Tsubame," kata Hanmaru berusaha menenangkan.

"Tidak! Kau harus tetap berbaring. Kau harus patuh karena itu adalah perintahku," tegas Tsubame tiba-tiba. Kemudian, gadis itu bangkit dan keluar dari kamar sambil memanggil-manggil kakaknya.

Analisis

Dari cuplikan teks diatas kalimat ini “Jangan terlalu banyak bergerak dulu, kau masih harus istirahat. Lukamu terlihat begitu parah ketika kami menemukanmu di pintıu gerbang. Aku kira ...kau sudah...." Gadis itu tak mampu meneruskan, hanya memejamkan mata yang mulai berkaca-kaca. Menunjukkan indeksikel perhatian dari seorang tuan putri yang merupakan adik dari saudagar kaya bernama Tsubame kepada bawahannya Hanmaru. Terlihat bahwa Tsubame sangat khawatir atas luka yang dialami Hanmaru, sampai Tsubame tak mampu meneruskan kata-katanya dan hanya bisa memejamkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Cuplikan ini menjelaskan bahwa hubungan antara Tsubame sebagai

seorang adik dari saudagar kaya (atasan) dan Hanmaru sebagai mantan Samurai (bawahan) saling memperhatikan dan tidak harus memiliki jarak yang sangat jauh.

Dalam kenyataan yang sebenarnya hal tersebut jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari penulis. Namun Tsubame menunjukkan bahwa seorang atasan itu harus memperhatikan dan mengayomi bawahannya, dan itu merupakan sesuatu yang dilakukan oleh adik dari saudagar (Tsubame) yang mencoba mengambil kebiasaan sikap dari seorang Samurai.

Cuplikan diatas menunjukkan bahwa penulis menemukan nilai positif yaitu bagaimana memperlakukan bawahan dengan selayaknya, memeperhatikan dan mengayomi bawahan. Manakala nanti penulis menjadi seorang pimpinan, penulis akan mencoba untuk bertindak seperti apa yang dilakukan oleh Tsubame.

2. Cuplikan 2 (Hal 60-61)

"Baguslah kau sudah sadar, Hanmaru. sangat khawatir melihat luka di perutmu yang tampak begitu parah. Untunglah dokter memastikan lukamu tidak fatal," kata Akazawa kemudian. "Dan coba lihat dirimu sekarang. Sudah jauh lebih baik!"

"Berapa lama saya tak sadarkan diri?" tanya Hanmaru. "Pagi ini, berarti sudah satu setengah hari. Kau kehilangan cukup banyak darah sewaktu kami menemukanmu. Menurut dokter, mungkin karena itu kau pingsan cukup lama.

"Lalu bagaimana dengan pengiriman itu?" tanya nya lagi. Mungkin belum saatnya mengangkat masalah itu, namun dia tidak kuasa menahan desakan rasa ingin tahu.

Tuan Akazawa tampalk enggan menjawab, tetapi keengganan itu saja sudah lebih dari cukup bagi Hanmaru sebagai jawaban. Tsubame menggeleng perlahan sambil menatap kakaknya dengan pandangan memohon. Tuan Akazawa mengangguk.

“Aku setuju dengan Tsubame, kau jangan terlalu memaksakan diri, Hanmaru. Gunakan hari ini sepenuhnya untuk beristirahat dan memulihkan tenagamu. Besok baru kita bicarakan masalah itu, itu pun kalau kau sudah merasa lebih baik."

Analisis

Dari cuplikan teks diatas kalimat ini “"Baguslah kau sudah sadar, Hanmaru. sangat khawatir melihat luka di perutmu yang tampak begitu parah.

Untunglah dokter memastikan lukamu tidak fatal," kata Akazawa kemudian. "Dan coba lihat dirimu sekarang. Sudah jauh lebih baik!”. menunjukkan indeksikel dari perhatian dari seorang tuan yang bernama Akazawa kepada bawahannya Hanmaru. Tidak hanya Tsubame, Akazawa juga menunjukkan perhatiannya kepada Hanmaru, ditunjukkan dalam kalimat ini ““Aku setuju dengan Tsubame, kau jangan terlalu memaksakan diri, Hanmaru. Gunakan hari ini sepenuhnya untuk beristirahat dan memulihkan tenagamu. Besok baru kita bicarakan masalah itu, itu pun kalau kau sudah merasa lebih baik.” Bahwa Akazawa juga datang ke kamar Hanmaru untuk melihat keadaannya, dan membiarkan Hanmaru untuk berisirahat sampai lukanya sembuh total. Akazawa dan Tsubame membuktikan bahwa atasan dan bahawahan tidak selalu memiliki hubungan yang jauh dan kaku

seperti hubungan atasan dan bawahan yang biasanya penulis lihat dalam kehidupannya sehari-hari, tapi seharusnya memiliki hubungan yang lebih akrap dan saling perhatian satu dengan yang lain, layaknya keluarga ataupun saudara kandung.

Cuplikan diatas menunjukkan bahwa penulis menemukan nilai positif yaitu bagaimana memperlakukan bawahan dengan selayaknya dan memberi perhatian serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan bawahan layaknya keluarga. Hal ini mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari penulis.

Seperti dalam cuplikan teks yang berisi ketika seorang atasan memberikan perhatian kepada bawahan yang dalam kondisi sebenarnya bahwa sangat jarang ditemukan seorang atasan yang memperhatikan kondisi bawahannya dalam kehidupan sehari-hari penulis. Namun dalam novel ini, seorang atasan menunjukkan bahwa memberikan perhatian kepada bawahan dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan bawahan tersebut.

3. Cuplikan 3 (Hal 124)

"Memang benar." Akazawa menyetujui. "Apakalh Anda bisa mengusulkan seseorang, Tuan Satoru? Saya dan Hanmaru tidak mengenal orang lain yang bisa di ajak bergabung.

"Benarkah? Bagaimana dengan orang yang bernama Hironobu itu?"

“Tidak," jawab Hanmaru segera. "Kemampuannya memang bagus, tapi dia tidak cocok untuk Kazegatana."

"Mengapa begitu?"

"Karena dia pengecut! Dalam keadaan bahaya, dia tidak segan melarikan diri dan menelantarkan rekan- rekannya. Orang itu sendiri yang mengatakannya kepada saya, dan telah membuktikan kata-katanya itu ketika kami diserang di Toraguchi."

Analisis

Dalam cuplikan diatas kalimat ini "Karena dia pengecut! Dalam keadaan bahaya, dia tidak segan melarikan diri dan menelantarkan rekan- rekannya.

Orang itu sendiri yang mengatakannya kepada saya, dan telah membuktikan kata-katanya itu ketika kami diserang di Toraguchi." Menunjukkan ketidak setujuan Hanmaru ketika Satoru mengusulkan Hironobu untuk bergabung dengan Kazegatana. Karena Hironobu telah berkhianat dengan melarikan diri dari perang ketika pertama kali berperang bersama Hanmaru melawan perampok Chigatana.

Ketidak setujuan Hanmaru terhadap pendapat dari Satoru dalam mengusulkan Hironobu untuk bergabung dengan Kazagatana ini adalah sebagai awal untuk melihat nilai pengorbanan dari seorang bawahan bernama Hanmaru yang akan ditampilkan dalam cuplikan berikutnya.

4. Cuplikan 4 (Hal 131-132)

Ketika Hanmaru pulang dengan wajah tertunduk, dan meminta maaf atas kegagalannya mengajak Hironobu.

Apakah dia tidak memberikan syarat atau semacamnya, seperti Tuan Satoru?"

“Tidak. Dia menolaknya mentah-mentah."

Penolakan Hironobu sungguh mengecewakan Akazawa. Setelah menyewanya beberapa kali, dia mengira orang itu akan langsung bergabung

Penolakan Hironobu sungguh mengecewakan Akazawa. Setelah menyewanya beberapa kali, dia mengira orang itu akan langsung bergabung

Dokumen terkait