II. TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Studi Risiko pada Usaha Pertanian
Just dan Pope (1979) telah mengkritisi fungsi produksi tradisional yang memiliki keterbatasan dalam melihat pengaruh perubahan penggunaan input terhadap produk rata-rata dan variabilitas output. Berdasarkan restriksi ini Just dan Pope membuat model dari fungsi produksi yang terdiri dari 2 (dua) komponen yaitu komponen pertama menjelaskan dampak input terhadap output yang diharapkan dan yang kedua menjelaskan dampak input terhadap variabilitas output. Dengan menggunakan data panel mereka menunjukkan bahwa pupuk nitrogen memiliki dampak meningkatkan variabilitas produktivitas artinya bahwa pemberian pupuk ini dapat meningkatkan risiko produksi (inducing risk).
Beberapa kajian empiris menunjukkan petani pada umumnya berperilaku menghindari risiko produksi (risk averse), seperti yang diungkapkan oleh Binswanger (1980) serta Dillon dan Scandizzo (1978) pada kasus pertanian tradisional, juga pada kasus usahatani padi di Jawa Barat (Hutabarat, 1987). Perilaku tersebut mengindikasikan bahwa petani lebih menyukai perencanaan usahatani yang dapat memberikan rasa aman walaupun harus mengorbankan sebagian pendapatannya. Perilaku petani tersebut sangat penting terutama implikasinya terhadap usaha peningkatan efisiensi usahatani cabai merah.
Hartoyoet al., (2004) menggunakan metode fungsi utilitas kuadratik untuk menganalisis risiko harga output pada usahatani padi di Cisarua dan Kemang, Bogor, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani padi di Cisarua memiliki kecenderungan bersifat penghindar risiko dalam harga output, sedangkan di Kemang petani bersifat netral terhadap risiko dalam harga output,
62 karena sebagian besar produksi padi untuk kasus di Kemang digunakan untuk konsumsi rumahtangga sendiri.
Penelitian tentang perilaku petani padi dalam menghadapi risiko produksi di daerah Jawa Barat telah dilakukan oleh Hutabarat (1987). Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi dampak penggunaan masukan terhadap risiko produksi. Dengan menggunakan model Just dan Pope di peroleh hasil temuan bahwa luas areal lahan, benih, pupuk nitrogen dan pospat bersifat sebagai meningkatkan risiko produksi (risk inducing), sedangkan tenaga kerja manusia bersifat menurunkan risiko produksi (risk reducing).
Syafaat (1990) melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis relatif dan sikap petani dalam menghadapi risiko produksi pada usahatani padi di sawah beririgasi teknis di WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian) Manyeti, Kabupaten Subang dengan pendekatan maksimasi kepuasan harapan (expected utiliy maximation). Hasil penelitian menyimpulkan petani yang sumber pendapatannya berasal dari pertanian dan dari luar pertanian bersikap sebagai berani mengambil risiko produksi (risk taker) dalam penggunaan pupuk, sedangkan petani yang sumber pendapatannya hanya bersumber dari pertanian saja bersikap penghindar risiko produksi (risk averser).
Purwoto (1993) melakukan penelitian tentang sikap petani terhadap risiko produksi padi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Desa Boloh, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah dengan pendekatan model linier regresi berganda koefisien keengganan petani dalam menghadapi risiko produksi. Hasil penelitian menyimpulkan secara umum petani bersikap
menghindari risiko produksi. Faktor sosial-ekonomi yang berpengaruh nyata terhadap sikap tersebut adalah sempitnya lahan dan tersebarnya lahan garapan. Petani dengan sikap menghindari risiko produksi cenderung membudidayakan varietas padi yang telah lama dikenal dan memiliki ketidakstabilan produksi relatif rendah. Sementara itu, petani dengan sikap berani mengambil risiko cenderung menggunakan varietas padi baru, meskipun memiliki ketidakstabilan produksi yang tinggi.
Model Just dan Pope (1979) juga telah digunakan oleh Eggert dan Tveteras (2004) untuk menganalisis pilihan risiko produksi pada penggunaan Gear oleh Nelayan Komersial di Swedia. Fungsi penerimaan stokastik diestimasi dan digunakan untuk memprediksi rata-rata dan standar deviasi dari penerimaan untuk setiap perjalanan (trip) melaut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan bersifat menghindari risiko produksi (risk averter), hal ini bisa dilihat dari respon nelayan terhadap rata-rata nilai output yang dihasilkan setelah sandar bersifat positif ataukah bersifat negatif terhadap variabilitasnya.
Kumbhakar (2002) telah mengembangkan Model Just dan Pope dengan menggunakan model frontier stokastik dengan struktur error yang bersifat heterokestisitas. Kumbakhar mencoba mengembangkan model dengan mengaitkan antara risiko produksi, pilihan terhadap risiko produksi dan inefisiensi teknis. Penelitiannya menggunakan data cross section dari budidaya Salmon di Norwegia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan bersifat penghindar risiko produksi. Pakan ikan memiliki potensi untuk
64 meningkatkan risiko produksi, sedangkan tenaga kerja manusia dapat menurunkan risiko produksi.
Model yang dibuat oleh Kumbhakar telah digunakan oleh Bokusheva dan Hockmann (2005). Studi ini melihat dampak risiko produksi dan inefisiensi teknis dari produsen pertanian di Rusia. Hasil yang didapat dari analisis terhadap data panel sebanyak 443 menunjukkan bahwa inefisiensi teknis menjadi penyebab variabilitas produksi pertanian di Rusia. Selanjutnya risiko produksi juga memberikan kontribusi terhadap ketidakstabilan output pertanian Rusia. Hampir di semua usahatani pada semua lokasi (Krasnodar, Oroel, dan Samara) menunjukkan bahwa variabilitas output dapat dijelaskan oleh risiko produksi. Sehingga dengan mengabaikan risiko bisa menyebabkan estimasi efisiensi teknis menjadi bias. Selanjutnya, analisis menunjukkan bahwa respon usahatani terhadap risiko produksi sangat lemah. Sebagian besar faktor-faktor produksi meningkatkan ketidakstabilan produksi. Ini berimplikasi bahwa pemberian masukan yang tidak disesuaikan dengan kondisi produksi akan meningkatkan risiko usahatani.
Penelitian tentang risiko produksi, preferensi terhadap risiko dan efisiensi teknis pada usahatani padi pada lahan sawah tadah hujan dataran rendah di Pilipina telah dilakukan oleh (Villano et al., 2005; serta Villano dan Fleming, 2006). Mereka menggunakan model fungsi produksi frontier stokastik dengan menambahkan struktur error yang heteroskedastik yang telah dibangun oleh Kumbhakar (2002). Dengan menggunakan data panel selama 8 tahun dari 46 petani padi, disimpulkan bahwa rata-rata efisiensi teknis produksi sebesar (0,88
atau 88 %) pada kajian pertama dan (0,79 atau 79 %) pada kajian yang ke dua. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat variabilitas yang cukup tinggi dalam estimasi efisiensi teknis dan dapat diartikan bahwa kondisi usahatani padi di dataran rendah dan pada saat musim hujan tidak stabil, di mana petani adalah berperilaku menghidari risiko produksi. Dikemukakan bahwa luas lahan, tenaga kerja dan jumlah pupuk yang digunakan bersifat meningkatkan risiko produksi, sementara herbisida yang digunakan memiliki kemampuan untuk menurunkan risiko.
Hasil kajian Fauziyah (2010) memberikan beberapa kesimpulan pokok sebagai berikut : (1) perilaku risiko produksi petani tembakau pegunungan yang menggunakan sistem kemitraan tergolong sebagai petani yang berani mengambil risiko produksi (risk taker); (2) Sedangkan pada petani tembakau pegunungan dengan sistem swadaya, petani tembakau tegal dengan sistem kemitraan, petani tembakau sawah dengan sistem kemitraan dan swadaya, semuanya berperilaku menghindari risiko produksi (risk averse); dan (3) Sementara itu, petani tembakau tegal sistem swadaya bersikap netral terhadap risiko produksi (risk neutral); serta (4) Semakin berani mengambil risiko produksi maka semakin besar alokasi penggunaan input dan semakin tinggi produktivitas yang dicapainya.