Bab III : METODE PENELITIAN
2.9 Studi Sejenis (Literatur)
Dalam penelitian Siti Muhajaroh dalam skripsi yang berjudul Kesesuaian Agroklimat Hortikultura Jenis Manggis dengan Pendekatan Analisis Spasial tahun 2010 lebih menggunakan pendekatan iklim sebagai salah satu faktor penting yang mempengaruhi produksi tanaman. Metode yang digunakan dalam penelitiannya menggunakan Analisis Spasial dan sistem kerja ModelBuilder dengan metode Weighted Overlay (Pembobotan) dan Scoring pada peta digital yang dilakukan dalam software ArcView GIS 3.2. Sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode pengembangan sistem SDLC (System Development Life Cycle).
2.10 SDLC (System Development Life Cycle)
SDLC (System Development Life Cycle) adalah suatu proses rasional dan sistem analis yang digunakan untuk mengembangkan sistem informasi. Metode SDLC adalah keseluruhan proses dalam membangun sistem melalui beberapa langkah. Ada beberapa model SDLC. Model yang cukup populer dan banyak digunakan adalah Waterfall. Model Waterfall berisi rangkaian aktivitas proses
digunakan adalah Waterfall. Model Waterfall berisi rangkaian aktivitas proses seperti spesifikasi kebutuhan dalam tahap perencanaan (planning), proses menghimpun, menganalisis, mengakurasi dan menspesifikasikan kebutuhan dalam tahap analisis (analysis), implementasi desain perangkat lunak dalam tahap perancangan (design) dan terakhir tahap penerapan (implementation). Setiap tahapan didefinisikan, lalu tahapan tersebut di sign off dan pengembangan dilanjutkan pada tahapan berikutnya. Model ini menawarkan cara pembangunan sistem informasi secara lebih nyata.
Model Waterfall menggambarkan proses pengembangan sistem dalam sebuah alur urutan linier. Dalam model Waterfall tiap tahap dalam pengembangan sistem dilakukan hanya jika tahap-tahap sebelumnya telah selesai. Contoh jika kita ingin memulai proses design harus dipastikan bahwa proses sebelumnya yakni proses analysis telah selesai dilakukan, jika tidak kita tidak boleh memulai tahap design atau tahap selanjutnya.
Selain itu dalam model Waterfall, ketika langkah pengembangan proyek maju ke tahap berikutnya, kita tidak bisa kembali ke tahap yang sebelumnya. Model Waterfall mendefinisikan proses pengembangan sistem ke dalam lima tahapan (Al fatta, 2008: 32):
a. Perencanaan (Planning) b. Analisis (Analysis) c. Perancangan (Design) d. Evaluasi (Evaluation) e. Penerapan (Implementation)
Model Waterfall umumnya digunakan dalam pembuatan proyek sederhana dan berskala kecil dimana kebutuhan-kebutuhan didefinisikan di awal. Model ini mengasumsikan bahwa kebutuhan bersifat stabil dan tidak berubah sepanjang pengerjaan proyek. Hal ini umumnya menyebabkan model Waterfall tidak dapat digunakan untuk kasus proyek skala besar dimana kebutuhan kemungkinan selalu berubah dan bertambah selama proses pengembangan.
Beberapa model lain SDLC adalah Fountain, Spiral, Rapid, Prototyping, Incremental, Build and Fix, Synchronize dan Stabilize.
Gambar 2.8 Siklus Metode SDLC Model Waterfall
(Sumber: Al fatta, 2008: 33)
Adapun tahapan-tahapan SDLC dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini dimulai dengan menentukan proyek sistem yang akan dikembangkan, kemudian mendifinisikan masalah dan pelaksanannya berupa
1. Perencanaan
2. Analisis
3. Perancangan
4. Evaluasi
inventarisasi data yang diperlukan dalam proyek sistem yang akan dibuat, serta dimana mendapatkan informasi tentang data tersebut bisa diperoleh.
Perencanaan sistem menyangkut estimasi dari kebutuhan-kebutuhan fisik, tenaga kerja dan dana yang dibutuhkan untuk mendukung operasi. Termasuk mendefinisikan tujuan dan ruang lingkup proyek tersebut (Al fatta, 2008: 34). 2. Analisis (Analysis)
Analisis sistem dapat didefinisikan sebagai penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan dan hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikan dan memahami kembali sistem kerja yang digunakan. Contohnya pemilihan perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang digunakan (Al fatta, 2008: 34).
Menganalisis teknologi apa yang digunakan dalam proyek ini, misalkan proyek analisis agroklimat hotikultura dalam SIG, maka memerlukan aplikasi seperti ArcView 3.2.Memerlukan pengolahan dan penyimpanan data secara informasi produk, informasi berita digunakan database seperti Microsoft Excel atau Microsoft Acces.
Untuk menghasilkan peta agroklimat hotikultura menggunakan proses kerja Spatial Analyst yang ada dalam extentions ArcView GIS 3.2 dan sistem kerja ModelBuilder yang terdapat dalam software ArcView GIS 3.2.
3. Perancangan (Design)
Setelah mendapatkan gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tiba waktunya untuk membentuk sistem tersebut. Tahap ini disebut dengan perancangan sistem (design). Tahap perancangan (design) meliputi kegiatan pemrosesan data yang dibutuhkan oleh sistem yang baru dengan konfigurasi dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) yang telah ditentukan yang akan membantu dalam proses perancangan (design) (Al fatta, 2008: 35). 4. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan salah satu aspek penting yang diperlukan untuk menentukan keberhasilan implementasi suatu sistem informasi. Evaluasi dilakukan untuk menentukan kriteria evaluasi, parameter evaluasi dalam membangun kerangka kerja evaluasi. Contohnya evaluasi paramater iklim dan evaluasi produksi tanaman.
Evaluasi perlu dilakukan untuk menghasilkan bahwa pelaksanaan pengembangan sistem sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan (Al fatta, 2008: 35). Evaluasi yang dimaksud disini adalah evaluasi yang dilakukan oleh user (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor) contohnya evaluasi produksi tanaman, sedangkan evaluasi yang dilakukan tim koordinasi/analisis bersifat lebih teknis contohnya evaluasi parameter iklim untuk tanaman di daerah tertentu.
5. Penerapan (Implementation)
Tahap penerapan sistem merupakan tahap meletakkan sistem agar siap untuk dioperasikan. Tahap ini masuk kedalam proses design review dari sistem
yang telah dibuat. Design review adalah proses integrasikan property (view, table, chart) kedalam satu window tunggal sebagai hasil akhirnya. Secara umum design review bertujuan agar sistem lebih menarik, mudah dipahami dan informatif (Al fatta, 2008: 36).
Design review untuk peta agroklimat pisang dapat dilakukan proses penataan peta serta merancang letak-letak property peta seperti judul, logo, legenda, orientasi, skala, sumber dan sebagainya. Design review dapat dilihat pada Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Design Review Peta Agroklimat Pisang
Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah kelima. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang untuk memastikan bahwa langkah telah dikerjakan dengan benar dan sesuai harapan. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi. Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi sistem.
Logo UIN
Legenda
Sumber Data Peta Kesesuaian Agroklimat
untuk Tanaman Pisang Judul Peta
9 2.1 Tanaman Pisang
Asal-usul nama pisang masuk kedalam marga Musa, suku Musaceae. Beberapa ahli botani berpendapat bahwa nama Musa diambil dari nama Antonius Musa, salah seorang dokter kaisar Octavius Augustus dari Roma, sementara itu beberapa ahli botani lainnya berpendapat bahwa nama Musa berasal dari bahasa Arab yaitu mouz atau mouwz yang berarti pisang. Pisang dikelompokkan menjadi pisang liar dan pisang budidaya. Pisang liar pada umumnya ditemukan tumbuh liar di alam, mempunyai banyak biji dan bersifat diploid. Sedangkan pisang budidaya pada umumnya tumbuh di pekarangan, bijinya sedikit dan bersifat triploid atau kadang diploid. Jenis pisang budidaya inilah yang sering kita manfaatkan secara ekonomi (Rismunandar, 2009: 14).
Menurut literatur, pisang merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara, yaitu berasal dari Semenanjung Malaysia dan Filipina. Ada juga yang menyebutkan bahwa pisang berasal dari Brasil dan India. Dari sini kemudian menyebar hingga ke daerah Pasifik (Rismunandar, 2009: 16).
Umumnya performance tanaman pisang antara lain tinggi tanaman pisang dewasa berkisar antara 2-8 m, dengan daun-daun yang panjangnya ada yang mencapai 3,5 m. Setiap batang (pseudostem) tanaman pisang akan menghasilkan satu tandan buah pisang sebelum dia mati dan digantikan oleh batang pisang baru (Haryadi, 2009: 11).
a. Perangkat lunak: Microsoft Windows XP Profesional SP2, ArcView 3.2 dengan ekstensi JPEG (JFIF) Image Support, Spatial Analyst untuk penginputan dan pengolahan data spasial maupun data atribut dan Polygon Thiessen untuk membuat peta kesesuaian atau peta agroklimat. Microsoft Excel untuk pengolahan data atribut dan Global Mapper 8 untuk digitasi peta yang digunakan oleh Bakosurtanal.
b. Perangkat keras: komputer Pc Pentium(R) IV 1.80 HGz dengan memori 256 MB DDR, Harddisk 1.79 GHz, Thermometer, penakar hujan tipe Obsevatorium, Psychrometer.
3.3 Metode Pengumpulan Data