R. Ganti Pelatih
3.2.1 Studi Sistem Struktur
Dalam sistem struktur bangunan dibedakan menjadi 3 jenis macam struktur yaitu Sub Structure (Sistem Struktur Bawah), Middle Structure (Sistem Struktur Tengah) dan Upper Structure (Sistem Struktur Atas). Berikut ini beberapa jenis struktur yang akan diterapkan pada bangunan gelanggang remaja di semarang, yaitu:
a. Sistem Struktur Bawah (Sub Structure)
Sistem Struktur Bawah atau Sub Structure merupakan pembahasan mengenai pondasi pada sebuah bangunan. Secara umum pondasi merupakan sistem struktur bagian bawah pada bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah atau yang memiliki fungsi sebagai pemikul beban bangunan di atasnya.
Pondasi sendiri harus dapat menjamin kestabilan dalam sebuah bangunan karena berhubungan dengan beban bangunan, berat bangunan, dan gaya luar bangunan seperti gempa bumi, tekanan angin, dan lain-lain. Dalam pondasi sebuah bangunan dibedakan menjadi dua jenis pondasi yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Berikut ini tabel beberapa jenis pondasi dangkal dan dalam, sebagai berikut:
153
Tabel 3.11 Jenis Pondasi Pada Bangunan Sumber:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/55252/Chapter%20II.pdf;jsessio nid=E0C5483912444E5E95FC332ADBFFFA2A?sequence=2
Jenis pondasi Keterangan
Kelebihan Kekurangan
Pondasi dangkal Pondasi Plat Beton Lajur
Gambar 3.8 Pondasi plat beton lajur
Biaya pekerjaan pondasi plat beton lajur masih
tergolong murah.
Galian tanah pada pondasi plat lajur lebih sedikit hanya sampai titik kolom struktur. Harus mempersiapkan bekesting atau cetakan dahulu Membutuhkan waktu cukup lama karena menunggu cor beton sampai kering.
Pondasi Rakit
Gambar 3.9 Pondasi Rakit
Untuk bangunan bertingkat pondasi ini lebih handal dibandingkan dengan pondasi batu kali. Biaya pekerjaan tidak memakan biaya mahal. Membutuhkan persiapan yang cukup lama. Sedikitnya tukang yang dapat merakit jenis pondasi ini. Pondasi Dalam
Pondasi Sumuran Biasa digunakan jika titik kedalaman tanah keras sekitar 3-5 meter.
Boros dalam penggunaan adukan beton dan sloof yang
154
Gambar 3.10 Pondasi Batu Bata
digunakan harus berukuran besar.
Pondasi Bored Pile
Gambar 3.11 Pondasi Bored Plie
Biaya pekerjaan
tergolong murah.
Ujung pondasi ini
dapat bertumpu
pada tanah keras.
Penggunaan
betonnya relative sedikit.
Pemasangannya
cukup sulit.
Pondasi ini kurang bagus dipakai karena pondasi lama-lama akan mudah keropos karena unsur semen akan larut akibat air tanah.
Pondasi Tiang Pancang Minipile Gambar 3.12 Pondasi Tiang Pancang Memiliki kekuatan yang cukup dibandingkan pondasi bored pile.
Digunakan untuk lapisan tanah kerasnya yang dangkal
Pada saat proses pemancangan akan menimbulkan getaran yanmg cukup
menggangu.
Jenis pondasi yang akan diterapkan Pondasi tiang pancang
Minipile Penggunaan pondasi tiang pancang dapat Apabila saat pelaksanaan tidak benar dapat
155 digunakan dengan berbagai jenis tanah. mengurangi daya dukung secara signifikan.
Pondasi Plat Beton Lajur Galian tanah pada pondasi plat lajur lebih sedikit hanya sampai titik kolom struktur.
Membutuhkan waktu cukup lama karena menunggu cor beton sampai kering.
b. Sistem Struktur Tengah (Middle Structure)
Sistem Struktur Tengah atau Middle Structure merupakan pembahasan mengenai selimut atau dinding dan alas lantai pada sebuah bangunan. Secara umum dinding merupakan pelindung bangunan dari segi konstruksi atau dari segi arsitektur bangunan, sedangkan lantai merupakan penutup lantai untuk mendukung fungsi dan keindahan bangunan. Dinding pada sebuah bangunan memiliki beberapa jenis yang biasa digunakan, yaitu sebagai berikut:
156
Tabel 3.12 Jenis Selimut Bangunan Sumber: E-jornal undip.ac.id
Jenis dinding
Keterangan
Kelebihan Kekurangan
Batu Bata Ringan(Hebel)
Sumber : e-journal unud.ac.id
Memiliki ukuran yang sama sehingga pada saat pemasangan hasilnya rapi. Tidak membutuhkan acian semen yang tebal.
Lebih ringan
dibandingkan batu bata merah.
Dari segi harga batu bata ringan cukup mahal.
Menggunakan
perekat khusus
pada saat
pemasangan.
Dinding Precast Concrete
Sumber: www.scribd.com/beton-precast Proses pemasangan lebih cepat. Lebih ekonomis dan penyelesaian finishing mudah. Membutuhkan lahan yang cukup luas untuk pabrikasi dan penimbunan..
Terbatasnya jarak
transport beton
precast yang akan dikirim.
Panjang dan bentuk juga terbatas.
Dinding Partisi Memiliki sifat lebih praktis dan ringan dibandingkan
dengan bahan
Tidak bisa
digunakan untuk
157 Sumber: www.scribd.com/dinding material dinding lainnya. Dinding ACP Sumber : https://www.scribd.com/ACP-Instalasi Dinding ACP bersifat tahan terhadap cuaca. Kualitas ACP tahan lama.
Dari segi biaya ACP
tergolong cukup mahal. Dinding ACP kurang efektif apabila diterapkan di dinding yang melengkung. Curtain Wall Sumber : https://i0.wp.com/i511.photob ucket.com/albums/s352/calbe ry/curtainwall004.jpg Memberi kesan luas pada ruangan. Proses pemasangan tidak memakan waktu cukup lama. Sistem pembersihan yang cukup sulit karena membutuhkan gondorola.
Dinding Kaca Dinding kaca memberikan kesan luas pada sebuah ruangan.
Jika kualitas kaca
kurang bagus,
maka akan mudah pecah.
158 Sumber : https://www.arsitag.com/articl e/kaca-sebagai-bahan-bangunan Dapat menghemat energi bangunan karena adanya cahaya masuk kedalam bangunan. Dinding Bernafas Sumber: https://www.arsitag.com/articl e/dinding-rooster Dinding bernafas dapat Menghemat energi pada bangunan. Dinding bernafas memiliki beragam motif. Tidak dapat dijadikan dinding utama karena dinding bernafas tidak dapat menahan beban struktur.
Jenis dinding yang akan diterapkan
Dinding ACP Dinding ACP
memiliki sifat tahan api. Dinding ACP memiliki sifat sangat kuat, ringan, tahan lama. -
Dinding Precast Concrete Dinding yang proses
pemasangannya lebih cepat.
159
Lebih ekonomis dan penyelesaian finishing mudah.
Dinding Partisi Dinding partisi lebih fleksibel. Dinding partisi tidak menambah beban struktur. Jika melakukan pembongkaran dinding, tidak akan mempengaruhi dinding struktur. -
Dinding Bernafas Menghemat energi bangunan. Dapat menjadi pertukaran sirkulasi udara. Tidak menambah beban struktur bangunan. -
Dinding Kaca Menghemat energi bangunan.
Memiliki sifat tahan kedap air, kedap suara, dan memberikan kesan luas pada ruangan.
160
Tabel 3.13 Material Penutup Lantai
Sumber: http://scdc.binus.ac.id/jenis-material-lantai/
Nama Material Lantai Keterangan
Keramik Memiliki beragam tekstur
Memiliki sifat keras, tahan api, dan tahan gores
Batu alam Memiliki sifat keras, tahan api, dan tahan gores
Tegel Memiliki sifat keras, tahan api dan tahan terhadap zat kimia keras
Parquet Memiliki sifat kedap suara
Membutuhkan perawatan khusus
Rentan terhadap zat kimia
Marmer Memiliki ukuran yang beragam
Memiliki sifat tahan api dan mampu menahan beban berat dibandingkan bahan penutup lainnya
Homogenous tile Memiliki sifat tidak mudah tergores atau terkikis
Memiliki beragam ukuran
Memiliki beragam motif dan warna
Terraso Memiliki sifat keras, tahan api, dan kuat
Memiliki beragam motif dan warna
Granit Memiliki sifat anti gores dan kuat
Memberi kesan luas pada ruangan
Epoxy Memiliki sifat kedap air dan tidak licin
Memiliki beragam warna dan motif
Memiliki kesan mengkilap pada
permukaan lantai
161
Memiliki beragam motif dan warna
Ramah lingkungan
Karpet Memiliki beragam warna
Vinyl Memiliki sifat lunak, tahan benturan, dan kedap suara
Anti terhadap serangan serangga
Glass floor Memiliki sifat kuat, tahan lama dan anti goresan
Walaupun berbahan material kaca, tetapi dapat menahan beban berat dari pemain karena kaca didesain secara khusus.
Jenis penutup lantai yang akan diterapkan Keramik
- Memiliki beragam tekstur
- Memiliki sifat keras, tahan api, dan tahan gores
Gambar 3.13 Lantai Keramik
Parquet
- Memiliki sifat kedap suara
- Membutuhkan perawatan khusus - Rentan terhadap zat kimia
Gambar 3.14 Lantai Parquet
Terraso
- Memiliki sifat keras, tahan api, dan kuat
- Memiliki beragam motif dan warna
162 Karpet
- Memiliki beragam warna
Gambar 3.16 Lantai Karpet
Glass floor
- Memiliki sifat kuat, tahan lama dan anti goresan
- Walaupun berbahan material kaca, tetapi dapat menahan beban berat dari pemain karena kaca didesain secara khusus.
Gambar 3.17 Glass Floor
Epoxy
- Memiliki sifat kedap air dan tidak licin
- Memiliki beragam warna dan motif - Memiliki kesan mengkilap pada
permukaan lantai Gambar 3.18 Lantai Epoxy
c. Sistem Struktur Atas (Upper Structure)
Sistem Struktur Atas atau Upper Structure merupakan pembahasan mengenai elemen bangunan yang berada diatas permukaan tanah. Sistem struktur atas terdiri atas atap, kolom, pelat, balok, balok anak, dan tangga. Berikut ini beberapa sistem struktur atas yang akan digunakan untuk bangunan gelanggang remaja, yaitu sebagai berikut:
163 Penggunaan material atap
Dalam bangunan gelanggang remaja akan menggunakan dua sistem struktur yaitu sistem struktur rangka dan sistem struktur bentang lebar. Penggunaan sistem struktur bentang lebar akan digunakan untuk bangunan olahraga, sedangkan untuk bangunan gedung seni pertunjukan akan menggunakan sistem struktur rangka.
Jenis struktur bentang lebar yang akan digunakan untuk bangunan gedung olahraga yaitu menggunakan sistem struktur cangkang dan space frame.
Sistem Struktur Cangkang (shell)
Dalam buku KBK PTSB VI hal. 33 , Sistem struktur cangkang (shell) adalah suatu shell yang tidak boleh merupakan bidang datar tetapi harus memiliki kelengkungan yang terbuat dari bahan yang tipis dibandingkan luas permukaan yang dilingkupi serta memiliki kekuatan bahan yang mampu menahan tarikan dan tekanan.
Gambar 3.19 Struktur Cangkang Sumber : Data Arsitek Jilid 1 hal. 40
Sistem Struktur Space Frame
Dalam buku KBK PTSB VI hal. 109 sistem struktur space frame yaitu
suatu konfigurasi batang-batang tarik dan tekan yang
164
dapat menutup suatu permukaan yang luas. Prinsip kerja dari batang-batang pembentuknya adalah serupa dengan prinsip yang diterapkan pada konstruksi rangka batang dua dimensi seperti kuda-kuda atap, dan lain-lain. Elemen batang-batang disusun sedemikian rupa, sehingga gaya-gaya hanya bekerja pada garis normal batang sebagai gaya tarik dan gaya tekan. Untuk itu hubungan antara batang-batang haruslah disusun sehingga menjadi pertemuan-pertemuan garis normal dan menghindari terjadinya momen baik pada elemen batang atau elemen sambungan (joint).
Gambar 3.20 Struktur Space Frame Sumber : KBK PTSB VI hal. 109
Sistem struktur space frame tersusun dari batang-batang yang dikonfigurasikan secara beraturan. Konfigurasi ini sangat bervariatif yang pada dasarnya tetap memperhatikan tercapainya kekakuan pada struktur yang terbentuk. Pola-pola konfigurasi tersebut adalah: 1. Komposisi prisma rectangular
Terdiri dari beberapa jenis rangka diagonal tunggal, ganda dan bersilangan.
165
2. Komposisi prisma triangular posisi tidur
Terdiri dari beberapa jenis rangka diagonal tunggal dan ganda. 3. Komposisi prisma posisi berdiri
Terdiri dari beberapa jenis rangka diagonal tunggal dan ganda. 4. Komposisi tetahedra dan semi oktahedra
5. Komposisi tetahedra dan oktahedra 6. Komposisi piramida hexagonal
Gambar 3.21 contoh pola konfigurasi space frame Sumber : KBK PTSB VI hal. 112
Penggunaan Pelat Lantai
Pelat lantai terdiri dari beberapa jenis yang akan digunakan atau diterapkan dalam sebuah bangunan. Macam-macam konstruksi pelat lantai tersebut yaitu sebagai berikut:
(Sumber : KBK PTSB IV hal.108)
1. Konstruksi Slab 1 Arah (One Way Slab)
One way slab yaitu slab dengan penopang rangka horizontal dikenal sebagai single directional plate, didukung oleh 1 sisi balok
166
berseberangan, keluasan bentang disarankan 1:1 s/d 1:6. Pada bentang keluasan persegi panjang balok penopang sebaiknya pada bentang panjang. Bahan slab beton bertulang atau dengan landasan steel deck. Konstruksi slab 1 arah juga memiliki beberapa jenis lainnya yaitu one way joist slab yang memiliki arti pengembangan dari one way slab dengan rusuk lebih rapat dilengkapi balok penopang untuk bentang lebih panjang dan jenis slab beton cetak setempat (case in situ) yang memiliki arti teknologi cast in situ dapat dilakukan pengecoran bersama antara rangka-rangka balok dengan slab, atau pengecoran slab terpisah setelah pembalokan matang demikian pula sama bila menggunakan steel deck, kemudian sistem slab beton pracetak (precast) yang memiliki arti tipe slab pracetak dapat berupa slab rata atau slab dengan rib yang berfungsi sebagai balok rusuk.
2. Konstruksi Slab Balok Pembagi-Balok Induk (Slab Beam Girder) Sistem sama dengan one way slab tetapi diberlakukan sistem penopang bertingkat karena keluasan bentang. Slab didukung oleh balok penopang yang didukung oleh balok induk. Dapat pula slab yang didukung oleh rib dan rib didukung oleh rib yang lebih besar dan rib yang lebih besar didukung oleh balok tepi.
3. Konstruksi Slab 2 Arah Balok (Two Way Slab)
Slab dengan penopang rangka horizontal dikenal sebagai 2 direction plate, didukung langsung oleh 2 sisi balok berseberangan.
167
Ketebalan slab lebih kecil dari pada one way slab. Keluasan bentang yang disarankan 1:1 s/d 1:5.
4. Konstruksi Flat Slab (Slab With Drop Panels)
Slab dengan penopang rangka horizontal sebagai 2 direction plate tanpa balok, berupa slab dengan drop panel atau bell type column capital. Ukuran column capital 2% x panjang panel, ukuran drop panel > 1/3 panjang panel parallel.
5. Konstruksi Flate Plate
Slab dengan penopang rangka horizontal sebagai 2 directional plate tanpa balok tepi. Ketebalan sangat dangkal, berat slab cukup besar, stabilitas lateral kecil, disarankan untuk beban ringan. Tebal slab >12,70cm.
6. Konstruksi Waffel (Waffle Slab)(Two Way Joist Dome Floor Slab) Slab dengan rib 2 arah dilengkapi column capital berupa beton solid. Perkiraan kedalaman adalah slab + semua rib adalah ½ bentang. 7. Konstruksi Inter Koneksi Plat Lantai Balok
Slab dengan bahan beton bertulang dalam kaitannya dengan balok harus diperhatikan konfigurasi penataan tulangan beton sehingga merupakan satu kesatuan ikatan yang saling berhubung. Sistem koneksi antar tulangan slab dan balok dipengaruhi oleh teknologi pelaksanaan, apakah kedua elemen tersebut dicor secara bersama atau terpisah.
168
Jenis plat lantai yang akan digunakan untuk bangunan gelanggang remaja ini yaitu menggunakan plat lantai jenis slab beton pracetak.
Gambar 3.22 Slab Beton Precast Sumber : KBK PTSB IV hal.116
169 3.2.2 Studi Sistem Utilitas
a. Sistem Jaringan Air Bersih
Sistem jaringan air bersih merupakan suatu kebutuhan dalam sebuah bangunan. Kebutuhan sumber air bersih bisa didapatkan melalui air permukaan (sungai, air hujan, danau), air tanah dangkal (sumur dangkal), air tanah dalam (sumur artesis) dan industri pengolahan air bersih (PDAM). Sistem pendistribusian air bersih dapat dilakukan dengan 2 sistem yaitu downfeed system dan upfeed system. Pengertian downfeed system yaitu pendistribusian air bersih dengan cara menampung air bersih dari sumbernya ke reservoir air bawah, memompanya ke reservoir atas dan mendistribusikan air ke bawah melalui jaringan pemipaan ke setiap lantai dan outlet dengan mengandalkan gaya gravitasi. Sedangkan sistem upfeed system yaitu pendistribusian air bersih dengan cara menampung air bersih dari sumbernya ke reservoir bawah dan mendistribusikan air langsung atas melalui jaringan pemipaan setiap lantai dan outlet dengan mengandalkan pompa.
Gambar 3.23 Instalasi Air Bersih Sumber : Buku KBK PTSB IV hal. 148
170 b. Sistem Jaringan Air Kotor
Sistem jaringan air kotor adalah sistem air buangan yang berasal dari kamar mandi, wastafel, pantry, tempat wudhu, dan air yang mengandung bahan polutan sederhana (air sabun, kotoran tinja, dan lain-lain yang harus dilakukan pembersihan terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran lingkungan/perkotaan). Rangkaian air kotor dari setiap inlet terhubung pada pipa horizontal setiap lantai, mengarah ke pipa vertikal yang diletakkan pada shaft. Dari setiap lantai dihubungkan pula pipa menuju ke atas untuk memperlancar aliran air dan kotoran yang menuju ke septik tank dan resapan.
Gambar 3.24 Instalasi Sawage Disposal System Sumber : Buku KBK PTSB IV hal. 151
c. Pengcahayaan
Sistem pengcahayaan dalam sebuah bangunan sangat diperlukan. Sistem pengcahayaan dapat dibedakan menjadi dua yaitu dengan sistem pengcahayaan alami dan buatan. Pengcahayaan alami sangat berpengaruh terhadap sebuah ruangan atau bangunan karena dengan
171
adanya pengcahayaan alami sebuah bangunan dapat menghemat energi yang digunakan. Sedangkan pengcahayaan buatan seperti penggunaan lampu akan digunakan sebagai penerangan dimalam hari.
Gambar 3.25 Sistem Pengcahayaan Bangunan Sumber : Data Arsitek Jilid 1 hal. 102&131
d. Penghawaan
Sistem penghawaan dalam sebuah bangunan sangat diperlukan karena demi kenyamanan baik pengguna atau bangunan itu sendiri. Sistem penghawaan dalam sebuah bangunan dibedakan menjadi dua yaitu sistem penghawaan alami dan buatan. Sistem penghawaan alami berupa dengan adanya bukaan seperti jendela atau dinding bernafas, sedangkan penghawaan buatan seperti menggunakan pendingin ruangan. Sistem penghwaan pada bangunan gelanggang remaja akan menerapkan kedua sistem penghawaan alami atau buatan.
Gambar 3.26 Sistem Penghawaan Bangunan Sumber : Data Arsitek Jilid 1 hal. 102
172
Gambar 3.27 Sistem Penghawaan AC Central Sumber :
https://reader001.docslide.net/reader001/html5/20170729/55cf8ebe55 0346703b952681/bge.png
e. Sistem Jaringan Listrik
Dalam sebuah bangunan memerlukan energi listrik untuk
memfungsikan semua peralatan agar bangunan dapat berfungsi dengan maksimal. Sumber energi listrik berasal dari PLN atau sumber energi listrik mandiri yaitu berupa generator, solar photovoltaic, dan lain-lain.
Gambar 3.28 Sistem Main Distribution Panel Sumber : KBK PTSB IV hal. 161
173 f. Sistem Keamanan
Sistem keamanan dalam sebuah bangunan terbagi menjadi sistem keamanan dari segi pencegahan kebakaran dan dari segi pencurian. Jika dari ksegi pencegahan kebakaran, ada beberapa yang biasa diterapkan dalam sebuah bangunan yaitu hydran box indoor dan outdoor, sprinkler, atau tabung portable fire extinguisher, dan tangga darurat. Sedangkan dari segi pencurian yang biasa diterapkan yaitu dengan menggunakan CCTV baik indoor ataupun indoor dan pos security indoor atau outdoor.
Gambar 3.29 Skema Sistem Hydran dan Sprinkler Sumber :
http://4.bp.blogspot.com/-WwqaiMQix7c/U3u0WVjBB4I/AAAAAAA AAEc/NOfUrhRaNB0/s1600/hydran+sprin
174
Gambar 3.30 Skema Sistem CCTV Sumber :
g. Penangkal Petir
Penangkal petir pada sebuah bangunan merupakan suatu rangkaian instalasi yang terdiri atas konduktor penangkap petir, konduktor penyalur energi listrik dari petir dan elektroda yang mengalirkan muatan listrik dari udara ke tanah. Sistem konstruksi yang diterapkan pada rangkaian instalasi penangkal petir harus aman dan terlindungi terhadap bangunan dan penghuni/pemakai bangunan. Menghindari terjadinya distribusi arus listrik yang salah, menghindari bahaya yang timbul karena kebakaran akibat kalor energi listrik.
http://3.bp.blogspot.com/-tFD8E-
vZXeQ/U3y-Ym00dYI/AAAAAAAAAG4/_H2XemAA6N Y/s1600/skematik+cctv+btg.jpg
175
Gambar 3.31 Sistem Penangkal Petir Bangunan Sumber : KBK PTSB IV hal 120
3.3. Analisa Konteks Lingkungan