MANGROVE MUARA ANGKE
5.2 Profil Responden
5.2.5 Suaka Margasatwa Muara Angke
Suaka Margasatwa Muara Angke merupakan salah satu kawasan lindung dibawah pengelolaan BKSDA DKI Jakarta. Kawasan ini tidak banyak pengunjung yang datang karena kondisi dan fasilitas penunjang kegiatan pariwisata sangat terbatas. Kawasan ini juga dalam kondisi yang sangat buruk dimana membutuhkan rekonstruksi dan rehabilitasi bangunan.
Lokasi kawasan ini yang berhadapan langsung dengan jalan raya menjadikan kawasan ini kurang diminati oleh pengunjung. Kawasan ini juga tidak memiliki lokasi parkir kendaraan bermotor bagi pengunjungnya sehingga mampu mempengaruhi persepsi dan motivasi masyarakat untuk mengunjunginya. Selain itu, kawasan suaka margasatwa Angke Kapuk yang bersebelahan dengan sungai Angke juga tercium bau tidak sedap. Polusi udara di sekitar kawasan ini juga mempengaruhi masyarakat untuk datang mengunjunginya.
Gambar 24 Tingkat pendidikan responden TCM Suaka Margasatwa Muara Angke.
Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas dan pengelola Suaka Margasatwa Muara Angke bahwa pengunjung dalam 3 tahun terakhir semakin menurun jumlahnya. Hal ini disebabkan oleh semakin rendahnya kualitas wisata
Suaka Margasatwa Muara Angke. Minimnya dana pemeliharaan dan pengelolaan menjadikan kawasan ini kondisinya semakin memburuk.
Banyak bangunan yang sudah rusak dan rapuh. Pada beberapa titik juga membahayakan para pengunjung untuk menikmati lokasi wisata ini. Apalagi ditambah kondisi lingkungan sekitar. Hal yang sangat menganggu kenyamanan pegunjung lokasi ini adalah polusi udara yang ditandai dengan bau tidak sedap dari Sungai Kali Angke. Sungai Angke yang berwarna hitam dan ditutupi oleh sampah pada permukaannya mengurangi nilai estetika dari lokasi ini. Hal ini pada akhirnya akan mempengaruhi persepsi pengunjung terhadap lokasi ini.
Gambar 25 Persepsi responden terhadap lokasi wisata Suaka Margasatwa Muara Angke.
Hasil wawancara dengan petugas dan pengelola kawasan wisata ini juga sesuai dengan hasil wawancara dengan responden dalam penelitian ini yang tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Gambar 24. Responden di kawasan wisata ini memberikan penilaian yang relatif rendah. Hal ini ditunjukkan dengan jawaban persepsi responden yang menyatakan lokasi wisata ini hanya “biasa saja”, sebaliknya responden tidak ada satupun yang menyatakan ketertarikannya terhadap lokasi wisata ini (Gambar 25).
5.3 Analisis Nilai Ekonomi Total
Nilai ekonomi total kawasan mangrove Muara Angke, merupakan jumlah dari keseluruhan nilai penggunaan langsung, nilai penggunaan tidak langsung. Dan nilai non-penggunaan. Nilai penggunaan langsung meliputi nilai pemanfaatan
ikan, cacing, wisata alam, obat-obatan. Nilai penggunaan tidak langsung adalah nilai pemijahan, nilai penahan abrasi, penahan interusi, serta nilai penyerapan karbon. Sedangkan nilai non penggunaan adalah nilai keberadaan.
5.3.1 Direct Use Value (Nilai Manfaat Langsung)
Nilai ekonomi langsung/direct use value adalah sumberdaya mangrove yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan ekonomi, misalnya untuk memenuhi kebutuhan ikan masyarakat, kayu bakar, pangan, obat-obatan dan pendapatan berupa uang. Lokasi survei untuk mengetahui estimasi nilai manfaat langsung dari kawasan hutan mangrove Muara angke adalah: Hutan Lindung Angke, Suaka Margasatwa, Tol Sedyatmo, Taman Wisata Alam, Arboretum, Transmisi PLN dan Cengkareng Drain dengan luas total 327,7 ha.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa manfaat langsung yang dihasilkan dari kawasan hutan mangrove Muara Angke saat ini adalah pemanfaatan cacing, ikan dan kepiting, memancing, wisata serta pendidikan dan penelitian, serta tambak bandeng dengan hasil ikutan udang alam. Estimasi nilai total pemanfaatan langsung di kawasan hutan mangrove Muara Angke adalah Rp. 19.103.256.000. Rincian untuk masing-masing bentuk pemanfaatan disajikan pada penjelasan dibawah ini.
a. Pemanfaatan Cacing
Pemanfaatan cacing di kawasan hutan mangrove Muara Angke hanya ditemukan pada lokasi Hutan Lindung Angke. Metode yang dipergunakan untuk menghitung estimasi nilai ekonomi pemanfaatan kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat mengambil cacing adalah metode penghitungan nilai pasar aktual. Jenis cacing yang dimanfaatkan adalah cacing laut yang akan dimanfaatkan sebagai umpan memancing. Jumlah pencari cacing yang diwawancara adalah 6 orang, dengan hasil tangkapan 1,75 gelas/orang/hari setara dengan 70 cup/orang/hari, dengan frekuensi penangkapan cacing setiap hari. Harga untuk satu cup cacing adalah Rp. 2000, yang dijual kepada para pemancing. Dengan mengalikan jumlah cacing yang diambil selama satu tahun
dengan harga cacing maka diketahui estimasi nilai ekonomi dari pemanfaatan cacing di kawasan hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp. 306.600.000/tahun atau Rp. 6.849.866/ha/tahun. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada lampiran 3.
b. Pemanfaatan Ikan dan Kepiting
Sama halnya dengan pemanfaatan cacing, pemanfaatan ikan dan kepiting di kawasan hutan mangrove Muara Angke hanya terdapat di lokasi sekitar Hutan Lindung Angke. Metode yang dipergunakan untuk menghitung estimasi nilai ekonomi pemanfaatan kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat pemanfaatan ikan dan kepiting adalah metode penghitungan nilai pasar aktual. Jumlah nelayan yang diwawancara sebanyak 4 orang dengan hasil tangkapan ikan rata-rata sebanyak 1,5 kg/hari dengan frekuensi penangkapan ikan setiap hari. Jumlah pencari kepiting yang diwawancarai sebanyak 2 orang dengan hasil tangkapan rata-rata 6 ekor (1,2 kg)/orang per hari dengan frekuensi penangkapan setiap hari. Harga jual ikan adalah Rp.20.000/hari sedangkan harga kepiting adalah Rp.35.000/kg. Dengan mengalikan jumlah ikan dan kepiting yang diperoleh selama satu tahun, maka dapat diketahui estimasi nilai ekonomi pemanfaatan ikan dan kepiting dari kawasan hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp. 74.460.000/tahun atau Rp.1.663.539/ha/tahun. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 4.
c. Pemanfaatan Untuk Memancing
Pemanfaatan kawasan hutan mangrove Muara Angke untuk tempat memancing ikan hanya ditemui di lokasi Tol Sedyatmo. Metode yang dipergunakan untuk menghitung estimasi nilai ekonomi pemanfaatan kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat memancing adalah Travel Cost Method (Biaya Perjalanan). Kegiatan memancing dilakukan di kolam-kolam yang ada di areal Tol Sedyatmo yang dikelola oleh masyarakat. Jumlah kolam tersebut adalah 10 unit, dengan jumlah rata-rata pemancing 3 orang pada hari biasa, sedangkan jumlah pemancing pada hari libur berjumlah 6 orang. Harga tiket rata-rata untuk mesuk ke pemancingan tersebut adalah Rp. 10.000. Mayoritas
pemancing berasal dari sekitar Kecamatan Penjaringan, dengan moda transportasi yang digunakan sepeda motor. Rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh para pemancing adalah Rp.18.000/satu kali memancing. Estimasi nilai ekonomi di duga dengan cara mengalikan jumlah pemancing dalam satu tahun dengan pengeluaran/biaya yang dikeluarkan oleh pemancing. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp. 393.120.00 per tahun atau Rp.4.116.440/ha/tahun. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 5.
d. Pemanfaatan untuk Wisata
Kawasan hutan mangrove Muara Angke yang dimanfaatkan untuk wisata berlokasi di Tol Sedyatmo dan Taman wisata Alam (TWA). Metode yang dipergunakan untuk menduga estimasi nilai ekonomi manfaat kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat wisata adalah Travel Cost Method
(TCM). Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengelola, jumlah pengunjung objek wisata Tol Sedyatmo adalah 12.000 orang pertahun, sedangkan jumlah pengunjung objek wisata TWA adalah 16.517 per tahun. Mayoritas pengunjung ke dua objek wisata tersebut berasal dari Jabotabek. Rata-rata jumlah pengeluaran pengunjung TWA adalah Rp. 97.222/orang/hari, sedangkan rata-rata pengeluaran pengunjung objek wisata Tol Sedyatmo adalah Rp. 124.433/orang/hari. Pengeluaran-pengeluaran tersebut dipergunakan untuk biaya tiket, transportasi, makan minum, pendamping, dokumentasi dan biaya menggunakan atraksi khusus (khusus TWA). Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke yang berlokasi di di TWA adalah Rp.1.605.848.181/ tahun atau Rp. 16.087.439/ha/tahun. Sedangkan untuk objek wisata Tol Sedyatmo adalah Rp. 1.493.200.000 atau Rp. 15.635.602 /ha/tahun. Dengan demikian estimasi nilai ekonomi total kawasan hutan mangrove Muara Angke dari pemanfaatan wisata adalah Rp. 3.099.048.181/tahun, atau Rp. 31.723.041/ha/th. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat Lampiran 6.
e. Pendidikan dan Penelitian
Kawasan hutan mangrove Muara Angke yang dimanfaatkan untuk pendidikian dan penelitian berlokasi di Suaka Margasatwa (SM) Muara Angke. Metode yang dipergunakan untuk menduga estimasi nilai ekonomi manfaat kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat pendidikan dan penelitian adalah Travel Cost Method (TCM). Jumlah pengunjung SM Muara Angke pada tahun 2011 adalah 2.735 orang. Dari jumlah pengunjung tersebut, 99% berasal dari Jabotabek, sedangkan sisanya berasal dari Jawa Tengah. Biaya untuk tiket masuk adalah Rp. 3000 per orang/kunjungan, biaya makan dan minum rata-rata Rp. 15.000 dan biaya transportasi yang diperlukan rata-rata Rp. 15.000 untuk pengunjung dari Jakarta, Rp. 20.000 untuk pengunjung dari Tangerang, Rp. 25.000 untuk pengunjung dari Bekasi/Depok, Rp. 35.000 untuki pengunjung dari Bogor dan Rp. 400.000 untuk pengunjung yang berasal dari Jawa Tengah. Berdasarkan data tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke dari pemanfaatan pendidikan dan penelitian sebesar Rp. 120.891.250/tahun atau 4.831.785/ha/tahun.
f. Pemanfaatan untuk Tambak
Disamping kawasan hutan mangrove Muara Angke (327,7 ha) juga terdapat kawasan tambak yang dimanfaatkan sebagai areal budidaya ikan bandeng dengan hasil ikutan udang alam. Luas tambak yang di kelola oleh BRKP DKP adalah 57,3 ha dengan jumlah pemilik/pengelola sebanyak 20 orang, sedangkan luas tambak yang dikelola masyarakat (tambak rakyat) berjumlah 93 ha dengan jumlah pemilik/pengelola sebanyak 45 orang. Metode untuk menghitung estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara angke untuk pemanfaatan tambak adalah metode pasar aktual. Dengan demikian, estimasi nilai ekonomi dihitung dengan cara mengalikan keuntungan bersih dari budidaya tambak/ha dengan luasan kawasan hutan mangrove Muara Angke yang dijadikan sebagai lahan tambak.
Asumsi yang digunakan dalam perhitungan tersebut adalah periode panen sebanyak 3 kali per tahun, produksi rata-rata bandeng pertahun 458,4 ton untuk tambak DKP dan 744 ton/tahun untuk tambak milik rakyat. Produksi rata-rata udang alam dari tambak DKP adalah 111,45 ton/tahun, sedangkan dari tambak
rakyat sebanyak 180,89 ton. Harga rata-rata bandeng adalah Rp. 15.000/kg dan harga rata-rata udang adalah Rp. 50.000/kg. Biaya investasi Rp. 114.666.667/ha dan biaya operasional Rp. 71.920.000/ha/tahun. Berdasarkan asumsi tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke sebagai
tempat tambak sebesar Rp. 5.541.196.500 untuk tambak DKP dan Rp. 8.993.565.000 untuk tambak milik rakyat. Dengan demikian estimasi nilai
total dari hutan mangrove Muara Angke dari pemanfaatan sebagai lokasi tambak adalah Rp. 14.534.761.500.
5.3.2 Indirect Use Value (Nilai Manfaat Tidak Langsung)
Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove adalah manfaat yang tidak secara langsung dapat memberikan manfaat dalam bentuk uang atau pemenuhan kebutuhan manusia. Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove Muara Angke yang diukur atau di nilai manfaat ekonominya adalah: manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi, penahan intrusi air laut, penyerap karbondioksida, penjerap (filter) limbah, penyedia unsur hara, spawning dan nursery ground, juga manfaat hutan mangrove sebagai penghasil oksigen. Berdasarkan hasil perhitungan estimasi nilai ekonomi manfaat tidak langsung untuk manfaat-manfaat diatas diperoleh nilai sebesar Rp. 79.732.453.719 per tahun. Rekapitulasi estimasi nilai ekonomi untuk masing-masing manfaat tidak langsung yang dihasilkan oleh hutan mangrove Muara Angke disajikan pada Tabel 48-56. Berikut ini adalah penjelasan tentang estimasi nilai ekonomi dari manfaat tidak langsung kawasan hutan mangrove Muara Angke secara terperinci.
a. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Mangrove Muara Angke Sebagai
Penahan Abrasi
Kawasan hutan mangrove Muara Angke yang mempunyai nilai manfaat sebagai penahan abrasi berada di lokasi Hutan Lindung Angke, Suaka Margasatwa, TWA dan Cengkareng Drain. Metode yang dipergunakan untuk menduga nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove sebagai penahan abrasi adalah replacement cost (biaya pengganti) berupa biaya pembangunan beton/tembok penahan gelombang yang setara dengan fungsi mangrove sebagai penahan abrasi. Berdasarkan standar biaya pembuatan tembok pemecah
gelombang yang bersumber dari Sub Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Utara tahun 2011, biaya pembuatan tembok penahan gelombang adalah Rp. 1.460.000/ meter, biaya pemeliharaan Rp. 1 Milyar/km dan biaya operasional Rp. 500. Juta/tahun. Berdasarkan hasil pengukuran, panjang garis pantai/sungai yang ditumbuhi mangrove di hutan lindung adalah sepanjang 5 km, di TWA sepanjang 2 km, di Suaka Margasatwa sepanjang 1 km dan di Cengkareng Drain sepanjang 3 km. Dengan demikian, total nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke setara dengan biaya pembangunan, biaya pemeliharaan dan biaya operasional tembok pemecah gelombang sepanjang 11 km. Asumsi umur pakai tembok penahan gelombang yang digunakan adalah 20 tahun. Dengan perhitungan tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp. 4.959.000.000/ tahun. Data selengkapnya bisa dilihat pada Tabel 48. Sedangkan perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 48 Estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke sebagai penahan abrasi Komponen Hutan Lindung Suaka Margasatwa TWA Cengkareng Drain Total Luas (ha) 44,76 25,02 99,82 28,39 Nilai Ekonomi Rp/th 1.845.000.000 769.000.000 1.038.000.000 1.307.000.000 4.959.000.000 Rp/ha/th 73.800.000 38.450.000 25.950.000 48.407.407 186.607.407
b. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Mangrove Muara Angke Sebagai
Penahan Intrusi Air Laut
Salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah menekan laju intrusi air laut, sehingga kerusakan hutan mangrove merupakan salah satu penyebab masuknya air laut ke dalam akuifer sehingga air tawar menjadi payau atau asin. Hal ini berdampak pada menurunnya konsumsi air tanah, dan kebutuhan air masyarakat di subsitusi dengan cara membeli air dari penjual air keliling. Berdasarkan data neraca air Jakarta tahun 2005, sumber air utama masyarakat adalah air tanah (46%) dan sisanya berasal dari PDAM. Kebutuhan rata-rata air bersih di wilayah Jakarta adalah 150 liter/orang/hari. Untuk menghitung estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara Angke dalam mencegah/mengurangi intrusi air laut digunakan metode perubahan konsumsi air masyarakat. Dengan kata lain, berapa
biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk membeli air, akibat dari intrusi air laut yang terjadi.
Perhitungan nilai ekonomi manfaat hutan mangrove sebagai penahan intrusi air laut mencakup wilayah yang terpengaruh, yaitu Kecamatan Penjaringan, Cengkareng dan Kalideres. Berdasarkan data BPS tahun 2010, jumlah penduduk di ketiga wilayah tersebut adalah 655.476 jiwa terdiri dari 184.738 Kepala Keluarga (KK). Asumsi yang digunakan dalam perhitungan adalah: Skenario penurunan konsumsi air tanah memakai dua asumsi, yaitu penurunan sebesar 5% (rendah) dan tinggi (15%), harga air Rp.1000/derigen (20 liter), dan kemampuan mangrove dalam mengurangi intrusi air laut sama (tanpa memperhitungkan kerapatan). Berdasarkan asumsi tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi total manfaat kawasan hutan mangrove sebagai pencegah intrusi air laut sebesar Rp. 61.905.643.208/tahun atau Rp. 188.909.500/ha/th. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 49. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 8.
Tabel 49 Estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke sebagai penahan intrusi
Komponen Hutan lindung Suaka
Margasatwa Tol Sedyatmo TWA Arboretum PLN
Cengkareng draine Luas (ha) 44,76 25,02 95,5 99,82 10,51 23,7 28,39 Nilai Ekonomi Rp/th 8.455.589.228 4.726.515.694 18.040.857.267 18.856.946.308 1.985.438.847 4.477.155.154 5.363.140.710 Rp/ha/th 188.909.500 188.909.500 188.909.500 188.909.500 188.909.500 188.909.500 188.909.500 Total Rp/th 61.905.643.208 Total Rp/ha/th 188.909.500
c. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Muara Angke
Sebagai Penyerap Karbon
Estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke di hitung dengan menggunakan metode transfer benefit. Asumsi yang digunakan adalah potensi mangrove di lokasi-lokasi kawasan hutan mangrove Muara Angke sebesar 20% dari potensi karbon di hutan mangrove Batu Ampar Kalimantan Tengah, kecuali di lokasi TWA hanya 5% dari potensi karbon hutan mangrove di Batu Ampar. Potensi karbon di hutan mangrove Batu Ampar adalah 82,3 ton/ha,
asumsi potenisi harga karbon ditingkat Internasional sebesar US$ 15 ton, nilai tukar Rp. 9400/1US$. Daur pengelolaan dihitung selama 20 tahun. Estimasi nilai ekonomi penyerapan karbon dihitung dengan cara mengalikan potensi serapan karbon per tahun dengan harga karbon. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara Angke dalam menyerap karbon sebesar Rp. 29.339.723/tahun atau Rp. 727.000/ha/tahun. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 50. Perhitungan secara terpeerinci bisa dilihat pada Lampiran 9.
Tabel 50 Estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke sebagai penyerap karbon Komponen Hutan lindung Suaka Margasatwa Tol Sedyatmo
TWA Arboretum PLN Cengkareng draine Total Luas (ha) 44,76 25,02 95,5 99,82 10,51 23,7 28,39 327,7 Nilai Ekonomi Rp/th 5.194.085 2.903.396 11.082.107 2.895.853 1.219.612 2.750.219 3.294.461 29.339.732 Rp/ha/th 116.043 116.043 116.043 29.011 116.043 116.043 116.043 727.000
d. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Muara Angke
Sebagai Penjerap Limbah
Hutan mangrove yang terjaga dengan baik memiliki kemampuan yang tinggi dalam menjerap atau sebagai filter polutan atau limbah yang berasal dari berbagai aktivitas industri/manusia. Rusaknya hutan mangrove akan berdampak pada menurunnya peran tersebut, sehingga akan menyebabkan peningkatan akumulasi limbah/zat pencemar di laut yang menyebabkan menurunnya kualitas perairan. Menurunnya kualitas perairan akan berdampak negatif terhadap kelangsungan budidaya perairan, salah satunya budidaya kerang hijau. Beberapa kajian ilmiah menyebutkan bahwa kerang hijau di Perairan Jakarta telah tercemar oleh logam berat, sehingga produktivitasnya berkurang dan bahkan berbahaya untuk dikonsumsi. Berdasarkan fakta tersebut, maka estimasi nilai manfaat ekonomi mangrove sebagai penjerap karbon akan dihitung dengan menggunakan pendekatan perubahan produktivitas kerang hijau di Perairan Jakarta. Pengepul kerang hijau tersebar di daerah Angke, Cilincing, Kalibaru dan Dadap. Jumlah produksi kerang hijau dihitung berdasarkan jumlah kerang yang dikumpulkan
oleh para pengepul, dengan asumsi bahwa kerang tersebut berasal dari bagan-bagan yang ada disekitar kawasan hutan mangrove Muara Angke.
Jumlah pengepul nyang diwawancarai sebanyak 30 orang, dengan produksi 155 kg/hari untuk pengepul kecil dan 1,2 ton/hari untuk pengepul besar. Biaya untuk memproduksi berupa biaya perebusan, pengupasan, kayu, es dan tawas sebesar Rp. 4.167/kg, sedangkan harga jual Rp.15.000/kg. Dengan adanya limbah diasumsikan bahwa produksi kerang hijau berkurang 85% dan terjadi selama 2 kali per bulan. Estimasi nilai ekonomi mangrove sebagai penjerap limbah diperoleh dengan cara mengalikan penurunan produksikerang hijau akibat limbah dengan harga jual kerang hijau setelah dikurangi dengan biaya produksi. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp.3.798.873.064per tahun. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 51. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 10.
Tabel 51 Estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove Muara Angke sebagai penjerap limbah
Komponen lindung Hutan Margasatwa Suaka Sedyatmo Tol TWA Arboretum PLN Cengkareng draine Total Luas (ha) 44,76 25,02 95,5 99,82 10,51 23,7 28,39 327,7 Nilai
Ekonomi
Rp/th 518.881.777 290.045.176 1.107.086.902 1.157.166.644 121.837.522 274.743.032 329.112.012 3.798.873.064 Rp/ha/th 11.592.533 11.592.533 11.592.533 11.592.533 11.592.533 11.592.533 11.592.533
e. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Muara Angke
Sebagai Penyedia Unsur Hara
Salah satu fungsi dari hutan mangrove adalah menyediakan unsur hara (nutrisi) yang berguna bagi stabilitas siklus makanan di perairan sekitarnya. Estimasi nilai ekonomi manfaat hutan mangrove sebagai penyedia unsur hara dilakukan dengan pendekatan biaya pengganti. Biaya pengganti yang digunakan adalah biaya pengganti untuk membeli pupuk yang setara dengan unsur Nitrogen dan Phospor yang terkandung di dalam mangrove. Hasil kajian Soekarjo (1995) menyebutkan bahwa guguran serasah di kawasan mangrove Muara Angke sebesar 13,08 ton/ha/th, yang setara dengan nilai Phospor 2 kg/ha/tahun dan Nitrogen 148 kg/ha/tahun. Nilai manfaat ekonomi penyedia unsur hara dihitung dalam bentuk
urea dan pupuk Sp-36. Faktor konversi yang unsur Nitrogen menjadi Pupuk Urea sebesar 2,221714, sedangkan faktor konversi Phospor menjadi Pupuk SP-36 sebesar 2,776949. Harga non subsidi Pupuk Urea diasumsikan Rp. 4.000/kg sedangkan harga Pupuk SP-36 diasumsikan Rp. 3.750/kg.
Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh estimasi nilai ekonomi hutan mangrove Muara Angke sebesar Rp. 491.710.245 per tahun. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 52. Perhitungan secara terperinci bisa dilihat pada Lampiran 11.
Tabel 52 Estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai penyedia unsur hara
Komponen Hutan lindung Suaka Margasatwa Tol Sedyatmo TWA Arboretu m PLN Cengkareng draine Total Luas (ha) 44,76 25,02 95,5 99,82 10,51 23,7 28,39 327,7 Nilai Ekonomi Rp/th 67.161.888 37.542.235 143.296.700 149.778.812 15.770.139 35.561.589 42.598.883 491.710.245 Rp/ha/th
f. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Muara Angke
Sebagai Tempat Pemijahan dan Asuhan
Estimasi nilai ekonomi mangrove sebagai daerah pemijahan dan asuhan menggunakan metode atau pendekatan biaya pengganti, yaitu dihitung berdasarkan nilai pembuatan dan pemeliharaan budidaya perikanan tambak. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah bahwa tambak seluas 1 hektar memiliki fungsi pemijahan dan asuhan biota laut yang setara nilainya dengan 1 hektar lahan hutan mangrove. Biaya pembuatan dan pemeliharaan tambak sebesar Rp. 31,4 juta mencakup biaya perbaikan tambak, pembangunan pintu air, pembuatan rumah jaga dan biaya peralatan budidaya. Pembuatan 1 hektar tambak di hutan mangrove akan menghasilkan 287 kg ikan atau udang, namun hilangnya 1 hektar mangrove menyebabkan kerugian 480 kg ikan atau udang/tahun. Berdasarkan asumsi yang dibangun tersebut, diperoleh estimasi nilai ekonomi kawasan hutan
mangrove Muara Angke sebagai tempat pemijahan dan asuhan sebesar Rp. 12.276.761.822/tahun. Data selengkapnya disajikan pada Tabel 53.
Tabel 53 Estimasi nilai ekonomi kawasan hutan mangrove Muara Angke sebagai tempat pemijahan
Komponen lindung Hutan Margasatwa Suaka Sedyatmo Tol TWA Arboretum PLN Cengkareng draine Total Luas (ha) 44,76 25,02 95,5 99,82 10,51 23,7 28,39 327,7 Nilai
Ekonomi
Rp/th 1.676.862.439 937.334.659 3.577.756.289 3.739.598.348 393.740.530 887.883.045 1.063.586.512 12.276.761.822 Rp/ha/th 37.463.415 37.463.416 37.463.417 37.463.418 37.463.419 37.463.420 37.463.421
g. Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan Hutan Mangrove Muara Angke
Sebagai Penghasil Oksigen
Metode yang dipergunakan untuk menghitung nilai ekonomi mangrove sebagai penghasil oksigen adalah metode transfer benefit Estimasi nilai ekonomi mangrove sebagai penghasil oksigen didekati dengan potensi oksigen yang