• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sub Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan

C. Tatanan Rumah Tangga

1. Limbah Domestik

2.2.4. Sub Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan

Tujuan penataan ruang Kota Pematangsiantar mencerminkan arah spesifik yang akan dituju dalam proses penataan ruang di masa mendatang. Tujuan penataan ruang tersebut juga dirumuskan berdasarkan isu pokok kota sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan pertimbangan tersebut maka tujuan penataan ruang Kota Pematangsiantar adalah Mewujudkan Kota Pematangsiantar sebagai Pusat Perdagangan dan Jasa bagi wilayah tengah Provinsi Sumatera Utara dengan dukungan sektor pendidikan, kesehatan, dan pariwisata dalam ruang kota yang aman, nyaman dan produktif secara berkelanjutan.

Berdasarkan tujuan penataan ruang yang ingin dicapai di atas, maka kebijakan penataan ruang Provinsi Sumatera Utara dirumuskan, sebagai berikut:

Pengembangan sistem pusat pelayanan kota yang memperkuat kegiatan perdagangan dan jasa skala wilayah dan kota. Peningkatan aksesibilitas dan transportasi yang dapat mengarahkan peningkatan fungsi dan keterkaitan antar pusat kegiatan dan keterkaitan dengan eksternal.

2-52 Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan prasarana perkotaan. Peningkatan daya dukung lingkungan melalui upaya mempertahankan kualitas lingkungan. Pengembangan kawasan budidaya yang mendorong pemerataan pembangunan. Penetapan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi dan sosial budaya.

Adapun strategi perwujudan kebijakan penataan ruang Kota Pematangsiantar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Strategi pengembangan sistem pusat pelayanan kota yang memperkuat kegiatan perdagangan dan jasa skala wilayah dan kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

 Menetapkan hirarkhi pusat pelayanan kota

 Mengarahkan kawasan pusat kota menjadi pusat kegiatan perdagangan dan jasa, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan dan pusat pemerintahan kota

 Mendorong perkembangan kegiatan perekonomian baru, fasilitas olah raga dan

perumahan baru di kawasan sub pusat kota

 Mengembangkan pusat pelayanan lingkungan

Strategi peningkatan aksesibilitas dan transportasi yang dapat mengarahkan peningkatan fungsi dan keterkaitan antar pusat kegiatan dan keterkaitan dengan eksternal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b meliputi:

 Menciptakan pola pergerakan kendaraan yang efektif dan efisien di kawasan pusat kota;  Memfasilitasi pergerakan regional melalui pembangunan jalan lingkar luar (outer ring

road)

 Menata kembali sistem angkutan umum kota;

 Meningkatkan efektivitas jaringan jalan kolektor dan lokal.

 Mengembangkan sistem jaringan perkeretaapian

Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan prasarana perkotaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c meliputi:

 Mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi pada wilayah yang akan dikembangkan

 Meningkatkan jangkauan pelayanan air minum

 Mengembangkan jaringan energi/kelistrikan sampai secara menyeluruh

 Meningkatkan kualitas sumber daya air kota

2-53 2.2.5. Sub Bidang Pengembangan Permukiman

Perumahan dan permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang memiliki fungsi strategis sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya dan peningkatan kualitas generasi yang akan datang. Terwujudnya kesejahteraan masyarakat dapat ditandai dengan meningkatnya kualitas kehidupan yang layak, antara lain melalui pemenuhan perumahan. Dengan demikian unpaya menempatkan bidang perumahan dan permukiman sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan di daerah adalah sangat strategis. Pertumbuhan penduduk telah menimbulkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan untuk kebutuhan perumahan permukiman. Masih banyaknya masyarakat yang tinggal di permukiman yang kurang layak huni.

Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan kegiatan yang bersifat multi sektor, hasilnya langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Demikian pula Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah mengisyaratkan bahwa pembangunan perumahan dan permukiman akan menjadi salah satu urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Demikian halnya dengan pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Pematang Siantar, sesungguhnya tidak terlepas dari dinamika kehidupan masyarakat yang semakin komplek sehingga perlu pengaturan dan penanganan yang lebih terintegrasi sebagai satu kesatuan dengan sektor lainnya.

Tabel 2.28 Penetapan Kawasan Kumuh Kota Pematang Siantar

No. Lokasi Luas (Ha) Keterangan

1 Kecamatan Siantar Utara Kel. Martoba 32 10.089 Jiwa

2 Kecamatan Siantar Barat Kel. Banjar 36 6390 Jiwa

2-54 2.3. Isu - Isu Strategis

Isu pengembangan wilayah merupakan rangkuman dari berbagai potensi dan permasalahan, serta mencerminkan berbagai fenomena yang muncul di wilayah Kota Pematangsiantar, yaitu:

Sebagai Kota Pusat Kegiatan Wilayah dan Kota Sekunder di Provinsi Sumatera Utara, menjadi

penyeimbang pengembangan wilayah Provinsi Sumatera Utara yang memiliki hinterland

wilayah dataran tinggi Danau Toba;

Memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang dataran tinggi bukit barisan dalam wujud kesamaan iklim, kondisi alam, kegiatan produktif, dan sosial budayanya yang berarti. Berbagai potensi kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan serta dan pemerintahan dengan pelayanan skala wilayah dan nasional sudah berlangsung sejak dahulu, yaitu kegiatan perdagangan dan jasa (komersial) perbankan, supermarket, telekomunikasi, dan pelayanan imigrasi yang memiliki jangkauan pelayanan regional ketersediaan kegiatan pendidikan menengah dan tinggi dan dukungan fasilitas kesehatan yang berskala regional yang menciptakan kualitas SDM yang dapat bersaing secara nasional dan internasional, kantor pusat 4 (empat) gereja berskala nasional dan internasional memiliki sejarah yang panjang di kota ini. Bangunan bersejarah budaya adat Simalungun, kegiatan industri pengolahan beberapa produk pertanian/perkebunan yang sudah memiliki brand dan skala pemasaran nasional dan ekspor. Fasilitas dan kegiatan pertahanan dan keamanan Kawasan Rindam yang sekaligus pusat pelatihan militer.

Di samping sudah terbangun infrastruktur nasional dan wilayah, seperti: jalur Kereta Api dan jalan nasional, sudah ada rencana pengembangan infrastruktur baru lainnya, yaitu: rencana pembangunan jalur KA baru rute Merek - Pematang Siantar, pembangunan jalan bebas hambatan Medan - Tebing Tinggi - Parapat yang menambah fungsi distribusi dan koleksi bagi Kota terhadap wilayah hinterland berupa angkutan barang produk-produk pertanian dari Daerah Tinggi Bukit Barisan dan transportasi transit menuju daerah tujuan wisata Danau Toba dan sekitarnya. Pengembangan Kawasan Ekonomi Nasional Industri Hilir Produk Sawit berskala internasional di Kawasan Sei Mangkei Kecamatan Perdagangan Kabupaten Simalungun yang berjarak hanya sekitar 40 Km dari Kota Pematangsiantar diharapkan mendorong perkembangan

2-55 perekonomian kota melalui kegiatan jasa pendidikan, jasa konsumtif konsumsi, jasa otomotif/transportasi dan industri turunannya, dan kegiatan lainnya.

Rencana pembangunan jalan lingkar luar kota sebelah Timur dan Barat, yang dapat dikaitkan sebagai pendorong pengembangan wilayah pinggiran kota. Kemudian terdapat lahan ex HGU di tepi kota (Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba) menambah kawasan potensi lahan pengembangan didominasi oleh lahan pertanian (perkebunan, lading dan sawah) yang sebagian besar diantaranya dialiri oleh jaringan prasarana irigasi teknis.

Tantangan pengembangan Kota Pematangsiantar dalam waktu mendatang adalah mengendalikan dan mengarahkan pertumbuhan fisik kota sehingga berlangsung pada lokasi yang direncanakan dengan intensitas yang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Arahan pengembangan fisik wilayah kota yang mempertimbangkan:

- perkembangan fisik di kawasan pusat kota berlangsung secara intensif dengan orientasi pada sektor perdagangan dan jasa. Dengan demikian dituntut kebijakan yang dapat mengakomodasi perkembangan tersebut sekaligus merevitalisasi kawasan pusat kota. - perkembangan fisik di pinggiran berlangsung secara ekstensif dan sporadis. Dengan

demikian dituntut kebijakan yang dapat mengarahkan perkembangan fisik secara optimal sekaligus mempertahankan lahan terbuka hijau secara terpadu.

Dokumen terkait