DEPOK DESEMBER 2011
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.2 Sub Penyalur Alat Kesehatan
Hasil pengolahan data izin Sub Penyalur Alat Kesehatan di wilayah Jakarta Timur diperoleh data pada tiap tiap kecamatan yang memiliki izin sebagai Sub Peyalur Alat Kesehatan mulai tahun 2003 sampai dengan tahun 2010 dapat
terlihat pada Tabel 4.1.2.1 dan data penyalur alat kesehatan yang dikeluarkan pada tahun 2008 sampai tahun 2010 yang harus beralih ke Penyalur Alat Kesehatan di wilayah Jakarta Timur pada tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 4.1.2.2.
Tabel 4.1.2.1 Rekapitulasi Perizinan Sub Penyalur Alat Kesehatan di wilayah Jakarta Timur periode tahun 2003 s/d tahun 2010
Tabel 4.1.2.2 Rekapitulasi Perizinan Sub Penyalur Alat Kesehatan yang harus beralih ke Penyalur Alat Kesehatan di wilayah Jakarta Timur pada tahun 2011
4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Monitoring Obat Generik
Produk-produk Farmasi Makanan dan Minuman (Farmakmin) erat kaitannya dengan kesehatan manusia, sehingga memerlukan perhatian yang
No Kecamatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 Pulogadung 3 3 3 3 3 5 6 6 2 DurenSawit 1 2 3 3 4 4 3 2 3 Jatinegara 1 2 1 5 2 1 2 1 4 Matraman 3 1 5 2 1 2 3 3 5 Ciracas 1 2 1 1 1 1 5 1 6 Pasar Rebo 2 - 1 - - 2 - 1 7 Cakung 2 - - 2 2 - 2 4 8 Kramat Jati - - 1 2 4 1 1 - 9 Makasar - - - - 1 1 - 2 10 Cipayung - - - 2 - 1 - - Jumlah 13 10 15 20 18 18 22 20
No Kecamatan Izin Tahun
2008 2009 2010 Jumlah 1 Pulogadung 4 6 8 18 2 Duren Sawit 3 3 2 8 3 Jatinegara 1 2 1 4 4 Matraman 2 3 3 8 5 Ciracas 1 5 1 7 6 Pasar Rebo 2 2 1 5 7 Cakung - 2 4 6 8 Kramat Jati 1 - 1 2 9 Makasar 1 - 1 2 10 Cipayung 1 - - 1 Total Jumlah 16 23 22 61
serius karena produk-produk farmasi makanan dan minuman dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan. Untuk menjamin mutu dan keamanan produksi farmasi makanan dan minuman maka diperlukan adanya pengawasan dan pengendalian mutu dari produk farmasi makanan dan minuman tersebut, sesuai dengan tujuan pemerintah, untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara umum dan rakyat kecil pada khususnya.
Produk farmasi yang khusus di produksi adalah obat generik, dimana Suku Dinas kesehatan Jakarta Timur koordinator SDK Farmasi Makanan dan Minuman melakukan monitoring harga jual obat generik pada sarana pelayanan kesehatan di wilayah Jakarta Timur, sehingga dapat dipantau seberapa besar dan banyaknya sarana pelayanan kesehatan, khususnya sarana pelayanan farmasi yang harga jual obat generiknya melebihi harga eceran tertinggi, yang tidak sesuai dengan Permenkes RI No. 146 Tahun 2010 dalam penjualan obat generik.
Monitoring obat generik berdasarkan daftar sebanyak 30 item, yang umum digunakan oleh masyarakat, dilakukan sesuai program kerja bersamaan pemantauan pada sarana pelayanan farmasi, diantaranya Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan Apotek di wilayah Jakarta Timur . Hal ini dilakukan karena untuk mengawasi seberapa banyak sarana pelayanan kesehatan dan berapa item obat generik yang di jual melebihi harga eceran tertinggi.
Pada bulan April sampai dengan Juli 2011 terdapat 20 sarana pelayanan farmasi yang dipantau. Dari 20 sarana tersebut terdapat 17 sarana menjual harga obat generik yang melebihi HET (78,57 %) dan 3(tiga) sarana yang memenuhi sesuai HET (21,43 %). Pada sarana pelayanan kesehatan yang harga jual obat generik melebihi HET berdasarkan 30 item obat generik yang dimonitoring, maka didapat perbedaan persentase sarana yang harga jual obat generik melebihi HET dan memenuhi sesuai HET yaitu, rata- rata sarana yang melebihi HET sebesar 57,67 % dan rata rata yang memenuhi sesuai HET sebesar 42,33 %.
Untuk dapat mengetahui permasalahan dan alasan sarana pelayanan farmasi yang menjual obat generik diatas harga eceran tertinggi (HET), koordinator Farmasi Makanan dan Minuman dapat meminta copy faktur pembelian obat generik yang berasal dari Pedagang Besar Farmasi yang
memberikan harga, atau karena memang sarana pelayanan farmasi tersebut yang menjual obat generik diatas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh Permenkes RI No. HK.03.01./Menkes /146/1/2010.
Total sarana yang telah dimonitoring harga jual obat generik sejumlah 20 sarana, yang terdiri dari 13 (tiga belas) instalasi farmasi rumah sakit, 7 (tujuh) apotek. Dari sarana yang telah dipantau harga jual obat generiknya, didapat data 13 (tiga belas) sarana instalasi farmasi rumah sakit dan 4 (empat) sarana apotek yang menjual obat generik tidak sesuai, yang melebihi Harga Eceran Tertinggi. Hasil analisa dari data laporan tersebut sebagian besar tidak melampir foto copy faktur pembelian, sehingga tidak didapatkan alasan kenapa sarana tersebut menjual obat generik melebihi HET. Dari data analisa dapat dimonitor berapa item tiap sarana yang melebihi HET obat generik, yang berdasarkan daftar item obat generik yang dimonitoring. Sarana yang persentase melebihi HET terbesar yaitu IFRS RS.Bunda Aliyah dan sarana yang memenuhi harga jual sesuai HET yaitu Apotek Rakyat Bersama, Apotek Setia Budi dan Apotek Harmonis.
4.2.2 Sub Penyalur Alat Kesehatan
Perizinan Sub Penyalur Alat Kesehatan berdasarkan Permenkes RI No. 1184/MENKES/PER/X/2004 tentang Pengamanan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dimana kebijakan sistem perizinan dari Kota Administrasi Jakarta Timur adalah melalui seksi koordinator farmasi makanan dan minuman. Dimana seluruh berkas permohonan masuk melalui
Costumer Service yang berada di seksi koordinasi farmasi makanan dan minuman,
Agar proses perizinan dapat terkontrol maka dibuatkan lembar kendali. Dalam lembar kendali tertera tanggal terima berkas dari costumer service dan tanggal proses pembuatan izin di seksi yang bersangkutan serta tanggal persetujuan Kepala Suku Dinas Kesehatan sampai dengan tanggal surat izin diberikan kepada pemohon.
Semua proses perizinan dilakukan tidak melebihi 12 hari kerja dengan syarat seluruh persyaratan administrasi lengkap. Semua alur proses perizinan tercatat dalam buku kendali perizinan, yang mencantumkan tanggal terima dan diserahkannya berkas perizinan dari satu bagian ke bagian lainnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi keterlambatan maka dapat ditelusuri.
Pemohon dapat melakukan konsultasi dengan seksi yang bersangkutan agar dapat melengkapi berkas permohonan yang belum lengkap sesuai persyaratan ketika dimasukkan ke customer service, sehingga proses pembuatan izin berjalan lancar. Batas waktu 12 hari kerja dapat digunakan sebagai pedoman bagi petugas dalam menyelesaikan setiap permohonan izin. Dalam proses izin Sub Penyalur Alat Kesehatan dilakukan, kepa la D inas Kes ehat an P ro vins i se la mbat -la mbat nya 12 (dua be -las) har i ker ja, se jak me ner ima t e mbus a n permohonan, berkoordinasi dengan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk membentuk tim pemeriksa bersama untuk melakukan pemeriksaan setempat.
Tim p e mer iksa bersa ma se la mbat -la mbat nya 12 (dua be la s) har i ker ja me lakuka n pe mer iksaa n set e mpat dan membuat berita acara pemeriksaan. Apa bila t e la h me me nu hi p ers yarat an, kepa la D ina s Ke se hat an P ro vins i se la mbat -la mbat nya 6 (ena m) har i kerja setelah menerima hasil pemeriksaan dari tim pemeriksa bersama, meneruskan kepada Direktur Jenderal. Selain itu, bagi pemohon batasan 12 hari kerja ini merupakan suatu kepastian bahwa izin dapat diperoleh dalam jangka waktu tersebut.
Hasil rekapitulasi izin Sub Penyalur Alat Kesehatan di wilayah Jakarta Timur mulai tahun 2003 sampai tahun 2010 terdapat Sub Penyalur Alat Kesehatan (Sub PAK) sebanyak 141 sarana, dan 1(satu) cabang PAK pada tahun 2011. Pada hasil analisa terdapat berkas data yang masih belum terlampir diantaranya banyak sarana Sub Penyalur Alat Kesehatan tidak melampirkan fotocopy ijazah penanggung jawabnya dari tahun 2003 sampai tahun 2007, hal ini dapat terjadi kemungkinan terlepasnya fotocopy tersebut pada saat berkas pindah tempat, dari gedung yang lama ke gedung yang baru. Dari 141 sarana Sub PAK terdapat 93 sarana Sub Penyalur Alat Kesehatan yang tidak melakukan perpanjangan izin sebagai Penyalur Alat Kesehatan, yaitu izin terbit Sub Penyalur Alat Kesehatan tahun 2003 sampai 2007. Untuk sarana Sub PAK ini kemungkinan masih melakukan aktivitasnya atau tidak belum dapat dipastikan, karena tidak adanya pemantauan rutin sesuai dengan Permenkes RI. No. 1184 Tahun 2004 dan atau Permenkes RI. No.1191 Tahun 2010, yaitu dilakukan pemantauan melalui laporan aktivitas tiap satu tahun setelah izin terbit.
Prosedur permohonan dan pemberian izin Sub Penyalur Alat Kesehatan mulai tahun 2008 sampai tahun 2010 dilakukan sesuai prosedur dan persyaratan perizinan Sub Penyalur Alat Kesehatan, juga ada satu cabang PAK yang membuat izin tahun 2011. Dari data rekapitulasi terdapat 61 sarana di wilayah Jakarta Timur yang dapat memperpanjang izin sesuai dengan persyaratan Permenkes RI. No.1191 Tahun 2010. Prosedur izin Sub PAK sejak bulan September tahun 2010 dilakukan di Dinas Kesehatan Provinsi berdasarkan Permenkes RI. No. 1191 Tahun 2010. Untuk selanjutnya semua Sub PAK diubah menjadi PAK dengan badan hukum tidak lagi CV tetapi menjadi PT.
18 Universitas Indonesia BAB 5