• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN DATA OBJEK PAJAK

B. Subjek dan Objek Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23

1. Subjek Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23

Subjek Pajak Penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan Pajak Penghasilan (Resmi, 2008 : 81). Subjek Pajak yang telah memenuhi kewajiban pajak secara objektif maupun subjektif dalam Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak disebut sebagai Wajib Pajak. Pasal 2 ayat (1) dan (2) Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008 menyebutkan bahwa :

1.1 Yang menjadi Subjek Pajak adalah:

a. 1. Orang Pribadi

2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak

b. Badan; dan

c. Bentuk Usaha Tetap

1.2 Subjek pajak dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek pajak luar negeri.

Yang menjadi Subjek Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah Subjek Pajak dalam negeri, yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia, Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

2. Objek Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23

Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat ( 1 ) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2008, yang menjadi Objek Pajak Penghasilan adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan. Yang menjadi Objek Pajak Penghasilan Pasal 23 adalah:

2.1 Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil koperasi.

2.2 Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang.

2.3 Royalti.

2.4 Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

2.5 Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang

telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

2.6 Imbalan sehubungan dengan jasa teknnik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong pajak penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 Undang- undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang pajak Penghasilan .

2.7 Jenis jasa lain selain jasa sebagaimana dimaksud diatas diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008.

C. Pengecualian Objek Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23

Beberapa jenis penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 (bukan Objek Pajak Penghasilan Pasal 23) sesuai dengan Pasal 23 ayat (4) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008, yaitu:

1. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank.

2. sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi.

3. dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalm Pasal 17 ayat (2c).

4. bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i.

5. sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya.

6. penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

D. Cara Perhitungan Pemotongan dan Pengkreditan PPh Pasal 23

Untuk menghitung Pajak Penghasilan Pasal 23 yang telah dipotong oleh pihak yang memberikan penghasilan atas penghasilan yang berupa dividen, bunga, royalti, hadiah penghargaan, bonus dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e, dipotong pajak sebesar 15% dari jumlah bruto.

Sedangkan untuk pengkreditannya yang merupakan pengurangan pajak terutang bagi Wajib Pajak itu, langsung saja dikurangkan dengan pajak terutang untuk satu Tahun Pajak setelah dikalikan dengan tarif Pasal 17 sebagaimana

dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008.

Contoh :

PT. Serdaduo membayarkan Bunga kepada Tuan Anton pada bulan Januari 2010 sebesar Rp 300.000.000. Sedangkan Tuan Anton pada Tahun Pajak yang bersangkutan mempunyai penghasilan neto (PKP) sebesar Rp 900.000.000.

PPh Pasal 23 dipotong PT. Serdaduo adalah :

15% × Rp 300.000.000 = Rp 45.000.0000

Atas PPh Pasal 23 yang telaag dipotong oleh PT. Serdaduo, bisa dikreditkan terhadap pajak terutang Tuan Anton.

PPh terutang Tuan Anton Tahun Pajak 2010 :

5% × Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000 15% × Rp 200.000.000 = Rp 30.000.000 25% × Rp 250.000.000 = Rp 62.500.000 30% × Rp 400.000.000 = Rp 120.000.000 + PPh terutang = Rp 215.000.000 Kredit Pajak :

- PPh Pasal 23 = Rp 45.000.000 _

PPh yang masih harus dibayar Tuan Anton = Rp 170.000.000

Contoh :

CV. Makan Besar membayar Royalti atas pemakaian merk Ayam Goreng ”Bu Tini” sebesar Rp 150.000.000. Penghasilan Neto (PKP) Tahun Pajak 2010 pemilik merk Ayam Goreng ” Bu Tini” adalah Rp 550.000.000

PPh yang dipotong oleh CV. Makan Besar :

15% × Rp 150.000.000 = Rp 22.500.000

Atas PPh Pasal 23 yang telah dipotong oleh CV. Makan Besar, bisa dikreditkan terhadap pajak terutang pemilik Ayam Goreng ”Bu Tini”.

PPh terutang pemilik Ayam Goreng ”Bu Tini” Tahun Pajak 2010 adalah :

5% × Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000

15% × Rp 200.000.000 = Rp 30.000.000

25% × Rp 250.000.000 = Rp 62.500.000

30%× Rp 50.000.000 = Rp 15.000.000 +

Kredit Pajak :

- PPh Pasal 23 = Rp 22.500.000 _

PPh yang masih harus dibayar = Rp 87.500.000

Sedangkan atas penghasilan berupa sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, serta imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa lain selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dikenakan pajak sebesar 2% dari jumlah Bruto.

Untuk pengkreditannya sama dengan pengkreditan objek pajak deviden, royalti, hadiah dan objek pajak penghasilan pasal 23 lainnya.

Contoh :

CV. Sejahtera Selalu menyewa sebuah mesin genset pada UD. Generation dengan nilai sewa Rp 30.000.000

PPh Pasal 23 yang dipotong oleh CV. Sejahtera Selalu adalah:

Maka Pajak Penghasilan pasal 23 yang telah dipotong oleh CV. Sejahtera Selalu sebesar Rp 600.000, boleh dikreditkan oleh UD. Generation sebesar Rp 600.000,

terhadap pajak terutangnya setahun.

Contoh :

PT. Pilar Utama yang baru berdiri meminta jasa dari CV. Konsultindo untuk membuat sistem akuntansi perusahaan dengan imbalan sebesar Rp 50.000.000.

PPh Pasal 23 Yang dipotong oleh PT. Pilar Utama adalah:

2% × Rp 50.000.000 = Rp 1.000.000

Maka Pajak Penghasilan Pasal 23 yang telah dipotong oleh PT. Pilar Utama sebesar Rp 1.000.000, boleh dikreditkan oleh CV. Konsultindo sebesar Rp 1.000.000 terhadap pajak terutangnya setahun.

E. Pendaftaran dan Penilaian PPh Pasal 23

Setiap Badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, perwakilan perusahaan diluar negeri lainnya, dan orang pribadi sebagai wajib pajak dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh kepala Kantor Pelayanan Pajak telah melakukan pemotongan kepada wajib pajak, maka atas pemotongan tersebut si pemotog wajib membuat atau mengisi Bukti Pemotongan.

Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dibuat rangkap ke- 3, lembar ke- 1 untuk Wajib Pajak, lembar ke- 2 untuk Kantor Pelayanan Pajak, dan lembar ke- 3 untuk pemotong pajak. Daftar Bukti Pemotongan merupakan salah satu lampiran Surat Pemberitahuan (SPT) Masa yang diserahkan oleh pemotong Pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak. Sedangkan Bukti Pemotongan yang diterima oleh Wajib Pajak merupakan Lampiran pada saat penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan yang nantinya akan diperhitungkan sebagai Kredit Pajak.

Pajak- pajak yang sudah dipotong oleh si pemotong pajak disetorkan dengan dibuatkan Surat Setoran pajak (SSP). Surat Setoran Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara melalui Kantor Penerima Pembayaran. Kantor Penerima Pembayaran adalah Kantor Pos dan atau Bank Badan Usaha Milik Negara atau Bank Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai penerima pembayaran atau penyetoran pajak.

BAB IV

ANALISIS DAN EVALUASI

A. Tata Cara Pemotongan dan Pengkreditan PPh Pasal 23

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, penghasilan yang diberikan oleh Badan Pemerintah, Subjek Pajak Badan dalam Negeri, Penyelenggara kegiatan, Bentuk usaha tetap, Perwakilan perusahaan diluar negeri lainnya, dan Orang pribadi sebagai Wajib Pajak dalam negeri tertentu yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama kepada penerima penghasilan, baik Wajib Pajak Dalam Negeri (Orang Pribadi dan Badan) maupun Bentuk Usaha Tetap (BUT) akan dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 23. Pajak yang dipotong adalah sesuai dengan tarif sebagaimana dalam Undang- undang Pajak penghasilan Nomor 36 Tahun 2008 pasal 23, yaitu 15% untuk dividen, bunga, royalti, hadiah, serta 2% untuk sewa dan jasa. Pemotong pajak langsung saja mengalikan tarif dengan penghasilan Bruto Wajib Pajak.

Pajak yang sudah dipotong bisa dikreditkan oleh Wajib pajak, hal ini agar penghasilan Wajib pajak tidak dikenakan pajak sebanyak dua kali. Untuk pengkreditannya, Wajib Pajak yang sudah dipotong Pajak Penghasilan pasal 23 harus melampirkan Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 pada saat penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Dengan demikian Wajib Pajak bisa

memperhitungkan pajak yang sudah dipotong itu sebagai pengurang pajak terutangnya untuk satu Tahun Pajak. Bukti Potong Pajak Penghasilan Pasal 23 yang lebih dari satu harus dilampirkan semuanya.

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan yang berasal dari modal, penyerahan jasa, atau hadiah dan penghargaan, selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21.

Pemotong dan Penerima Penghasilan yang Dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23:

1. Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23: a. Badan pemerintah;

b. Subjek Pajak badan dalam negeri; c. Penyelenggaraan kegiatan;

d. Bentuk Usaha Tetap (BUT);

e. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya;

f. Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri tertentu, yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Pajak.

2. Penerima penghasilan yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23: a. WP dalam negeri;

B. Mekanisme Penyetoran dan Pelaporan PPh Pasal 23

Saat Terutang, Penyetoran dan Pelaporan :

1. Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 terutang pada akhir bulan dilakukannya pembayaran atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan;

2. Pajak Penghasilan Pasal 23 harus disetorkan oleh Pemotong Pajak selambat-lambatnya tanggal 10 bulan takwim berikutnya setelah bulan saat terutangnya pajak;

3. Pemotong Pajak Pajak Penghasilan Pasal 23 diwajibkan menyampaikan surat Pemberitahuan Masa selambat-lambatnya 20 hari setelah Masa Pajak berakhir;

4. Pemotong Pajak Pajak Penghasilan Pasal 23 harus memberikan tanda bukti pemotongan kepada orang pribadi atau badan yang dibebani membayar Pajak Penghasilan yang dipotong.

Mekanisme Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 23 di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan adalah berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010 tanggal 1 April 2010 yang merupakan perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007, Pajak

Penghasilan Pasal 23 yang dipotong oleh Pemotong Pajak Penghasilan harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.

Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Dalam pengertian hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Pembayaran dan penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran Pajak. Surat Setoran Pajak ini berfungsi sebagai bukti pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi. Surat Setoran Pajak dianggap sah jika telah divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). Adapun tempat pembayaran adalah Kantor Pos atau Bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai tempat pembayaran pajak.

Pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 wajib memberikan tanda bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 kepada orang pribadi atau badan yang dipotong setiap melakukan pemotongan atau pemungutan. Bagi penerima penghasilan, bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 ini adalah bukti pelunasan

Pajak Penghasilan terutang dalam tahun tersebut yang nantinya akan dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunannya.

Apabila masa pajak telah berakhir, pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 wajib melaporkan pemotongan yang telah dilakukan dalam masa pajak tersebut. Pelaporan ini dilakukan dengan menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 23/26 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak pemotong Pajak Penghasilan Pasal 23 terdaftar.

Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan Pasal 23/26 harus disampaikan paling lama 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. Contoh, untuk pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 bulan Agustus 2012, SPT Masa Pajak Penghasilan Pasal 23 harus disampaikan paling lambat tanggal 20 September 2012.

Dalam hal batas akhir pelaporan di atas bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya. Pengertian hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

C. Wajib Pajak Terdaftar dan Yang Menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Penghasilan Tahun 2012.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, maka penulis akan menyajikan tabel yang berhubungan dengan Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan , baik dari jumlah Wajib Pajak yang terdaftar, jumlah SPT Pajak Penghasilan Pasal 23 yang masuk, pada Tahun 2012. Adapun Tabel tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1

JUMLAH WAJIB PAJAK TERDAFTAR DAN PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 23 TAHUN 2012 PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN BELAWAN

No. Wajib Pajak

Jumlah Wajib Pajak Terdaftar Jumlah SPT yang disampaikan Nilai (Rp) 1 Orang Pribadi 18. 589 483 12.276.155 2 Badan 608 410 12.739.760.143 3 Bendaharawan 142 138 870.756.869 TOTAL 19.339 1.031 13.622.793.167

Berdasarkan uraian tabel di atas terlihat jelas bahwa dari sekian banyak wajib pajak yang terdaftar, jumlah wajib pajak terdaftar yang menyampaikan SPT. Berdasarkan data yang di dapat penulis dari hasil penelitian pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, hanya ada keterangan mengenai jumlah pelaporan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 23 tanpa ada keterangan jumlah bukti potongnya. Pada saat penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan itu, Wajib Pajak harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan beserta lampiran berupa Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23. Dengan demikian akan berpengaruh pada pengurangan Pajak terutang Wajib Pajak bersangkutan.

Berikut ini, penulis juga memberikan laporan pencapaian penerimaan pajak penghasilan dan pajak lainnya pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Belawan.

Tabel 4.2

DATA PENCAPAIAN PAJAK PENGHASILAN DAN PAJAK LAINNYA PADA TAHUN 2012

PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA MEDAN BELAWAN

Kanwil DJP Sumatera Utara I

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan

Jenis Pajak

Pencapaian

% Capai Rencana SPMKP Valas Penerimaan

YTD All 102,06% 170.658.000.000 141.828329.609 315.998.308.580 A. PPh Non Migas 87,67% 199.639.820.000 127.128.773 175.148.016.879 411121. PPh Pasal 21 194,76% 42.512.480.000 82.797.907.269 411122. PPh Pasal 22 66,24% 2.474.484.361 1.639.105.833 411123. PPh Pasal 22 Impor 90,31% 22.451774.000 20.275.217.222 411124. PPh Pasal 23 90,88% 14.990.429.469 13.622.793.167 411125. PPh Pasal 25/ 29 OP 162,71% 2.080.770.000 300.000 3.385.996.155 411126. PPh Pasal 25/ 29 Badan 79,78% 27.905.806.947 126.828.773 22.385.996.155 411127. PPh Pasal 26 93,65% 8.865.021.515 8.301.746.208

411128. PPh Final 28,97% 78.359.053.708 22.700.378.050 411129. PPh Non Migas Lainnya 0 B. PPN dan PPnB M 196,53% -28.995.120.000 141.701.200.836 140.694.009.319 PPN Dalam Negeri 152,61% -76.898.667.998 141.701.200.836 105.256.639.677 PPN Impor 73,03% 47.903.547.998 34.984.647.365 PPN Lain - 40.761.546.500,00% 0 407.615.466 PPnBM Dalam Negeri -54.551.000,00% 0 545.511 PPnBM Impor -4.456.129.900,00% 0 44.561.300 C. PBB -1.549.705.800, 00% 0 15.497.059 D. Pajak Lainn ya 767,74% 13.300.000 102.108.875 563,91% 13.300.000 75.000.000 0 -1.972.250.500.000% 0 19.722.506 0 E. PPh Migas 38.676.448 38.676.448 Sumber : KPP Pratama Medan Belawan

Berdasarkan tabel pencapaian penerimaan pajak diatas, terlihat jelas bahwa penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Belawan masih belum teratur. Ada beberapa pencapaian penerimaan dari beberapa jenis pajak yang melebihi target atau rencana yang diharapkan. Namun, ada pula yang masih belum mencapai rencana pencapaian penerimaan pajaknya. Pada pencapaian Pajak

Penghasilan Pasal 23 jelas terlihat bahwa pencapaian penerimaan dari Pajak Penghasilan Pasal 23 belum mencapai target yang telah di rencanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan dari 100% target pencapaian, dengan rencana penerimaan Rp. 14.990.429.469,- namum pada Pajak Penghasilan Pasal 23 hanya mencapai 90,88% dengan jumlah penerimaan Rp. 13.622.793.167,-.

D. Sanksi Yang Diberikan Kepada Wajib Pajak Yang Dipotong PPh Pasal 23 Tidak Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.

Setiap Wajib Pajak yang dipotong Pajak Penghasilan Pasal 23, tetapi Wajib Pajak tersebut tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang merupakan tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak, maka tarif pemotongannya lebih tinggi 100%.

Contoh :

PT. Tiara merupakan perusahaan penerbitan dan percetakan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012, beralamat di Jl. Yos Sudarso Nomor 28 Medan. Nomor Pokok Wajib Pajak 01.555.444.1.122.000. Membayarkan jasa perbaikan mesin produksi yang telah rusak sebesar Rp 30.000.000 kepada Tuan hamdan, yang beralamat di Jl. Patimura Nomor 4 Medan, dan Tuan Hamdan Tidak mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Besarnya sanksi yang diberikan adalah :

100% × 2 % × Rp 30.000.000 = Rp 600.000

Maka besarnya Pajak Penghasilan Pasal 23 yang dipotong oleh PT. Perdana adalah sebesar :

2% × Rp 30.000.000 + Rp 600.000 = Rp 1.200.000

Adapun tujuan penerapan sanksi ini, agar setiap Wajib Pajak mengetahui begitu pentingnya peranan Nomor Pokok Wajib Pajak. Selain untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran Pajak juga sebagai pengawasan administrasi perpajakan.

F. Pelayanan Yang Diberikan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan Dalam Hal Masyarakat Berkonsultasi.

Masyarakat yang ingin berkonsultasi mengenai masalah perpajakan, baik mengenai Pajak Penghasilan, maupun jenis pajak yang lain akan dibimbing oleh

Account Representative (AR) dibawah naungan seksi Pengawasan dan Konsultasi

(Waskon) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama. Masyarakat yang kurang jelas mengenai Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 dan bagaimana pengkreditannya juga bisa datang untuk berkonsultasi. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelayanan yang diberikan kepada Masyarakat. Untuk mempermudah masyarakat yang ingin berkosultasi, masyarakat bisa telepon langung ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan masyarakat bisa menyampaikan surat yang di alamatkan kepada

Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan KL. Yos Sudarso KM 8,2 Tanjung Mulia, Medan Belawan, masyarakat juga masyarakat langsung datang ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan atau dengan menghubungi

Setiap Wilayah khususnya Kelurahan akan dipimpin oleh seorang AR, AR inilah yang nantinya akan memberikan bimbingan kepada masyarakat yang datang berkonsultasi.

Dari Tabel di atas dapat penulis jelaskan bahwa untuk satu wilayah Kelurahan, hanya dibawahi oleh satu Orang AR (Account Representative). Masyarakat yang ingin berkonsultasi akan di tanya mengenai tempat wilayah tempat dimana ia tinggal, atau juga ditanya mengenai dimana Wajib Pajak itu terdaftar, sehingga dengan demikian memudahkan AR untuk memberikan penjelasan.

G. Sosialisasi Yang Dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan Kepada Wajib Pajak

Kegiatan penyuluhan dan pelayanan pajakdalam upaya memasyarakatkan pajak sebagai bagian penting daam kehidupan berbangsa dan bernegara. Negara dalam hal ini memberikan mandate kepada pemerintah teleh menjalankan kewajiban pemungutan pajak kepada masyarakat . Namun proses pemungutan pajak ini sendiri tidaklah mudah tanpa kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pajak bagi pembiayaan negara.

Sosialisasi merupakan bentuk penyampaian informasi, oleh sebab itu sosialisasi sangatlah diperlukan untuk menyampaikan informasi yang sedang berkembang. Penyampaian informasi ini akan sangat berpengaruh besar terhadap apa yang disosialisasikan. Begitupula halnya dengan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, berbagai hal dilakukan untuk pencapaian penerimaan, untuk pemahaman peraturan terbaru, dan lain sebagainya. Salah satunya sosialisasi yang dilakukan adalah tantang Tata Cara pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi atau Badan, yang di dalamnya juga terkait dengan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23.

Pada saat penulis melakukan penelitian di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan, sosialisasi juga telah dan sedang banyak dilakukan, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. ”Kelas Pajak” Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Wilayah Kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan .

Mekanisme pelaksanaannya adalah Peserta (Wajib Pajak) dapat terlebih dahulu mendaftarkan diri sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan melalui pemesanan yang dapat dilakukan melalaui Tempat Pelayanan Terpadu (TPT), melalui telepon atau langsung datang pada acara Sosialisasi ” Kelas Pajak” yang dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan.

2. Sosialisasi Perpajakan

Sosialisasi perpajakan merupakan suatu upaya dari Direktorat Jenderal Pajak untuk memberikan pengertian, informasi dan pembinaan kepada masyarakat pada umumnya dan wajib pajak pada khususnya mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan perpajakan dan perundang-undangan.

Sosialisasi yang lebih kepada simpatisan mengenai perpajakan, misalnya mengadakan seminar yang diwakili staf – staf dari Seksi Pengawasan dan Konsultasi (WASKON) di suatu Badan baik pemerintah maupun swasta. Dengan diadakannya seminar perpajakan tersebut masyarakat dan pekerja yang ada di suatu Badan yang menyelenggarakan acara tersebut diharapkan bisa lebih paham mengenai pentingnya pajak serta mekanisme, yang mana diberikan juga sesi tanya jawab.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari penelitian yang penulis lakukan, dan telah dijelasakan pada Bab- bab sebelumnya, maka dalam penulis mengambil beberapa kesimpulan mengenai Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 23 sebagai hasil akhir dari keseluruhan Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) yang dilaksanakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Belawan adalah sebagai berikut :

1. Atas Pajak Penghasilan Pasal 23 yang telah dipotong oleh pihak ketiga harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 23/26 harus disampaikan paling lama 20 (Dua puluh) hari setelah Masa Pajak Berakhir.

Dokumen terkait