• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

DAFTAR PUSTAKA 37 LAMPIRAN

B. Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah pekerjaan yang dilakukan seluruh pekerja di dalam industri bioetanol ini. Subjek akan diteliti melalui pengamatan selama kegiatan dan kuesioner.

33 C. Instrumen Penelitian

Suardi (2005), menjelaskan bahwa sebuah organisasi dapat menerapkan metode pengendalian resiko apapun sejauh metode tersebut mampu mengidentifikasi, mengevaluasi dan memilih prioritas resiko dan mengendalikan resiko dengan melakukan pendekatan jangka pendek dan jangka panjang.

Variabel yang akan dievaluasi, diukur menggunakan metode Identifikasi dan Pengendalian Resiko Kecelakaan atau Hazard Identification and Risk Assessment

(HIRA). Tahap ini sangat penting, terutama bagi industri yang belum menerapkan sistem manajemen K3. Menurut Suardi (2005), identifikasi sumber bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan :

1. Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya

2. Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin dapat terjadi

Bahaya yang akan dievaluasi dikelompokkan dahulu berdasarkan jenis kegiatannya. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses penentuan bahaya yang ada di industri. Identifikasi bahaya yang sudah ditentukan akan dinilai atau dianalisa sejauh mana bahaya dapat terjadi, pada tahap penilaian resiko. Metode yang digunakan adalah penggunaan rating setiap resiko. Level atau tingkatan resiko ditentukan oleh hubungan antara nilai hasil identifikasi bahaya dan konsekuensi. Penilaian resiko yang akan dilakukan menggunakan 3D model. Selanjutnya akan diuraikan penilaian resiko yang sudah dilakukan pada setiap kegiatan dan resiko sesuai dengan identifikasi bahaya di atas. Contoh tabel penilaian resiko model 3D dapat dilihat pada Tabel 5.

Nilai-nilai yang dicantumkan di tabel penilaian resiko memiliki arti tertentu. Arti nilai atau angka yang dicantumkan pada setiap penilaian memiliki arti yang berbeda satu sama lain. Definisi nilai pada paparan, peluang, konsekuensi dan nilai resiko disajikan pada Tabel 6.

Hasil perhitungan nilai resiko (ExLxK) akan menentukan tingkat resiko dan cara pengendalian yang sesuai berdasarkan literatur dan kondisi di lokasi. Cara pengendalian resiko kecelakaan akan menjadi hasil dari penelitian ini yang kemudian menjadi rekomendasi untuk pelaksanaan K3 di industri bioetanol skala rumah.

34 Tabel 5. Lembar Penilaian Resiko – 3D Model

No. Kegiatan Bahaya Resiko Penilaian Resiko Tingkatan

Resiko Tindak Lanjut Paparan (E) Peluang (L) Konsekuensi (K) Nilai Resiko (ExLxK)

Sumber : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Suardi, Agustus 2005 : 83)

Tabel 6. Definisi Nilai pada Penilaian Resiko

Definisi

Paparan Peluang Konsekuensi Nilai Resiko*

Terus Menerus 10 Sangat Sering 1 Fatal 20 E>20 Berkala 6 Sering 0,6 Major 10 H>10 Tertentu 3 Sedang 0,3 Sedang 5 M 3-10 Tidak Teratur 2 Jarang 0,1 Minor 2 L<3 Jarang 1 Sangat Jarang 0,05 Tidak Signifikan 1

Sumber : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Suardi, Agustus 2005 : 83) * E : Ekstrim/Signifikan H : Resiko tinggi M : Resiko sedang L : Resiko rendah D. Analisis Data

Analisa data pada penelitian ini tidak menggunakan analisa statistik. Data yang didapat akan dianalisa menggunakan rumus nilai resiko 3D.

35 Nilai resiko akan menunjukkan tindak lanjut yang harus dilakukan berdasarkan tingkat resiko yang diperoleh. Ketentuan tindak lanjut terhadap tingkat (ranking) resiko dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Ketentuan tindak lanjut

Tingkat Resiko Tindak Lanjut

Resiko Rendah Pengendalian tambahan tidak

diperlukan. Hal yang perlu diperhatikan adalah jalan keluar yang lebih menghemat biaya atau peningkatan yang tidak memerlukan biaya tambahan besar. Pemantauan diperlukan untuk memastikan bahwa pengendalian dipelihara dan diterapkan dengan baik dan benar.

Resiko Sedang Perlu tindakan untuk mengurangi

resiko, tetapi biaya pencegahan yang diperlukan perlu diperhitungkan dengan teliti dan dibatasi. Pengukuran pengurangan resiko perlu diterapkan dengan baik dan benar.

Resiko Tinggi Pekerjaan tidak dilaksanakan sampai resiko telah direduksi. Perlu dipertimbangkan sumber daya yang akan dialokasikanuntuk mereduksi resiko. Bilamana resiko ada dalam pelaksanaan pekerjaan, maka tindakan segera dilakukan.

Resiko Ekstrim Pekerjaan tidak dilaksanakan atau

dilanjutkan sampai resiko telah direduksi. Jika tidak memungkinkan untuk mereduksi resiko dengan sumber daya yang terbatas, maka pekerjaan tidak dapat dilaksanakan.

Sumber : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Suardi, Agustus 2005 : 84)

36

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Profil Perusahaan

Industri kecil dan menengah bioetanol di Jampangkulon ini, mengumpulkan ubi kayu dari petani di daerah sekitar sejumlah minimal 2800 Kg ubi kayu per hari. Dalam sehari plant bioetanol ini diharapkan dapat menghasilkan 400 l ethanol 95% per hari dan 100 l, etanol 99% per hari. Proses produksi menggunakan metode yang pada umumnya, yaitu fermentasi dan distilasi. Peralatan yang digunakan dalam proses produksi dapat dilihat pada Lampiran 8, 9, 10 dan 11. Pendistribusian produk tidak dilakukan, karena penduduk setempat yang akan langsung datang ke lokasi pabrik untuk mendapatkan bioetanol. Diagram aliran proses di dalam pabrik dapat dilihat pada Lampiran 6.

B. Uji Validitas dan Reliabilitas

Langkah pertama dalam proses manajemen resiko adalah melakukan identifikasi bahaya tempat kerja atau tempat yang berpeluang mengalami kerusakan. Hal yang harus diperhatikan adalah bahaya akibat pekerjaan tidak saja terjadi pada saat kejadian, tetapi bisa juga terjadi dalam kurun waktu yang lama (Santoso, 2004). Identifikasi bahaya pada IKM (Industri Kecil dan Menengah) bioetanol ini dikelompokkan per lini produksi, yaitu persiapan bahan baku (pencucian dan pengecilan ukuran), pemasakan (hidrolisis), fermentasi, distilasi dan dehidrasi. Kuesioner disusun mengadaptasi tabel identifikasi bahaya dan resiko tipe 3D. Kuesioner tersebut dapat dilihat pada Lampiran 1.

Hasil kuesioner diolah dalam tabel penilaian resiko model 3D. Hasil nilai resiko masing-masing responden dibuat pembobotannya untuk digunakan dalam uji validitas dan reliabilitas data. Contohnya, untuk bahaya terkena benda panas pada aktivitas pemasakan. Nilai resiko pada bahaya adalah sebagai berikut.

37

R1 R2 R3 R4 R5

4 6 1.8 30 12

Rata-rata nilai resiko adalah 10,36 = 10 (Resiko sedang) Pembobotan Nilai

4 4 2 1 3

Nilai rata-rata adalah 10, yaitu termasuk kategori resiko sedang. Nilai resiko dari setiap responden dibandingkan dengan nilai rata-rata. Nilai yang juga termasuk resiko sedang mendapat nilai 4, resiko tinggi mendapat nilai 3 karena nilai resiko rata-rata mendekati resiko tinggi. Resiko rendah mendapat nilai 2, diikuti ekstrim dengan nilai 1 karena berbeda dua tingkat dari resiko sedang. Pembobotan ini diterapkan pada setiap bahaya dari masing-masing aktivitas.

Jika seluruh nilai sudah didapat dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas menggunakan teknik korelasi product moment, didapatkan hasil pada Lampiran 3. Nilai korelasi tertinggi adalah 0,969231313 pada bahaya terkena benda panas aktivitas dehidrasi dan nilai terendah adalah 0,028835492 pada bahaya terkena bahan kimia pada aktivitas pemasakan. Nilai korelasi pada setiap bahaya tidak seluruhnya signifikan, tetapi tidak ada nilai negatif. Hal ini menunjukkan mayoritas pertanyaan tersebut mengukur aspek yang sama dan tidak terjadi pertentangan antara pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.

Data yang telah dinyatakan valid, kemudian diuji reliabilitasnya. Uji reliabilitas yang digunakan adalah teknik test retest. Pengambilan data melalui kuesioner dilakukan kembali setelah 16 hari. Perhitungan uji reliabilitas dapat dilihat pada Lampiran 4. Hasil perhitungan uji reliabilitas menunjukkan nilai yang signifikan, yaitu 0,966052998 dan hasil ini menunjukkan bahwa pengukuran pertama dan kedua konsisten.

C. Penilaian Resiko

Data telah diuji validitas dan reliabilitasnya, berikutnya dapat dibahas mengenai penilaian resiko. Pertama yang dilakukan adalah melihat tingkat resiko

38 dari penilaian resiko. Penilaian resiko pertama yang akan digunakan dalam penentuan tindak lanjut dan pengendalian bahaya. Uji reliabilitas test retest

mengharuskan dua kali pengukuran data, maka didapat dua hasil pengukuran penilaian resiko. Penilaian resiko dari dua kali pengukuran relatif sama, oleh karena itu kedua pengukuran dapat digunakan untuk penentuan tindak lanjut dan pengendalian. Penilaian resiko akan menentukan dimana tingkat resiko dari masing-masing bahaya. Hasil dari penilaian dan tingkat resiko dapat dilihat pada Lampiran 2.

a. Persiapan Bahan Baku

Proses persiapan bahan baku antara lain mencakup aktivitas pencucian, pengecilan ukuran dan pemasakan. Masing-masing aktivitas memiliki bahaya dan resiko. Bahaya yang terjadi dan tingkat resikodapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Bahaya dan Penilaian Resiko Aktivitas Persiapan Bahan Baku

No. Aktivitas Bahaya Nilai

Resiko

Tingkat Resiko 1 Pencucian Terkena cipratan air

pencucian 8 Sedang 2 Pengecilan ukuran (Pemotongan) Tergores 10 Sedang Terpotong atau Tersayat 10 Sedang Kebisingan (dari crusher) 14 Tinggi Tersengat aliran listrik 4 Sedang 3 Pemasakan Terkena benda panas 10 Sedang

Lingkungan pada suhu tinggi (uap panas)

14 Tinggi Terkena bahan kimia 2 Rendah Kebakaran atau ledakan 13 Tinggi

39 Pada proses pencucian terdapat bahaya terkena cipratan air pencucian. Tinggi washer kurang lebih 1,2 meter atau setara dengan dada orang dewasa. Aktivitas putaran dalam kecepatan sedang menyebabkan air terciprat dengan radius 1 meter dari alat. Air ini dapat melukai mata dan mengganggu pekerja selama melakukan aktivitas persiapan bahan baku selanjutnya. Aktivitas ini memiliki nilai resiko sedang karena efek dari bahaya tersebut dapat mengiritasi organ mata walaupun tidak permanen.

Proses pengecilan ukuran mempunyai lebih dari satu bahaya. Bahaya tergores atau tersayat pisau pemotong pada crusher bisa terjadi jika pekerja memasukkan tangan untuk memperlancar masuknya bahan baku atau jika alat tersebut tiba-tiba rusak dan berhenti. Resiko yang dihasilkan dari bahaya ini adalah sedang. Efek terparah dari luka dapat menimbulkan cacat permanen dan peluang bahaya ini terjadi cukup sering karena banyaknya bahan baku yang harus dihancurkan pada proses ini.

Bahaya lain pada proses pengecilan ukuran adalah kebisingan. Kebisingan ini berasal dari crusher. Crusher tidak digunakan terus-menerus, maksimal 6 kali per hari. Durasi penggunaan pun relatif singkat, hanya satu jam. Bahaya jenis ini memiliki tingkat resiko tinggi. Bahaya selanjutnya adalah sengatan aliran listrik, karena mesin dioperasikan menggunakan listrik. Resiko bahaya ini sedang, karena efek yang ditimbulkan adalah kematian dan cacat permanen, walaupun peluang dan paparan dari bahaya ini rendah.

Proses pemasakan termasuk tahapan produksi yang banyak menggunakan suhu tinggi dan bahan kimia seperti alpha amilase dan gluko amilase. Suhu yang digunakan pada proses pemasakan mencapai 90°C. Suhu ini cukup tinggi dan uap dari proses ini pun dapat mengakibatkan suhu ruangan naik. Suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada kulit bahkan kerusakan permanen pada kulit. Lingkungan dengan suhu tinggi mengakibatkan tidak optimalnya pekerjaan yang dilakukan. Oleh karena itu, pada aktivitas pemasakan, bahaya terkena benda panas beresiko sedang dan bahaya lingkungan pada suhu tinggi beresiko tinggi.

Bahan kimia yang digunakan dalam proses ini adalah enzim alpha amilase dan gluko amilase. Zat kimia ini tidak relatif berbahaya, tapi harus dihindari

40 agar tidak tertelan tanpa sengaja. Bahaya ini memiliki tingkat resiko rendah. Peluang bahaya kebakaran atau ledakan di proses ini tidak besar, tetapi karena menggunakan suhu tinggi peluang tersebut tetap ada. Efek dari kebakaran yang fatal menjadi faktor tingkat resiko pada bahaya ini tetap tinggi.

b. Fermentasi

Proses fermentasi tidak memiliki resiko yang cukup tinggi. Identifikasi bahaya pada tahap ini adalah terkena benda panas, lingkungan suhu tinggi, bahaya biologis dari S. cerevisae, polusi dari limbah dan keluarnya produk samping seperti CO2. Tingkat resiko pada bahaya terkena benda panas

beresiko sedang karena suhu dari dalam tangki hanya dalam kisaran 32°C. Suhu yang tidak terlalu tinggi maka dapat dikatakan proses ini tidak mempengaruhi suhu lingkungan secara signifikan, oleh karena itu bahaya lingkungan pada suhu tinggi beresiko rendah.

Penggunaan S. cerevisae tidak mempengaruhi pekerja, tetapi resiko bersifat sedang karena peluang terjadinya bahaya ini relatif sedang . Polusi udara atau bau dari limbah sangat mudah terhirup karena ruangan yang relatif sempit. Selain itu gas buangan berupa CO2, juga kurang baik bila terhirup

dalam waktu lama. Bahaya jenis ini memiliki resiko sedang. Penilaian resiko bahaya pada proses fermentasi dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Bahaya dan Penilaian Resiko Aktivitas Fermentasi

No. Aktivitas Bahaya Nilai

Resiko Tingkat Resiko 1. Fermentasi Terkena benda panas 4 Sedang

Lingkungan pada suhu tinggi (uap panas)

2 Rendah

Bahaya biologis (dari S.cerevisae)

4 Sedang

Polusi udara (bau dari limbah)

3 Sedang

Menghirup gas CO2

dalam waktu lama

41 c. Distilasi dan Dehidrasi

Proses distilasi dan dehidrasi adalah tahapan proses yang menggunakan suhu tinggi dan dalam waktu yang cukup lama. Tiga titik bahaya bernilai ekstrim terdapat pada proses distilasi. Bahaya tersebut adalah kontak dengan benda panas, lingkungan pada suhu tinggi dan resiko terjadinya kebakaran atau ledakan. Bahaya terkena benda panas dan lingkungan pada suhu tinggi bernilai ekstrim karena peluang terjadinya bahaya sangat sering dan bahaya dapat terjadi secara berkala.

Bahaya kebakaran dan ledakan memiliki efek yang sangat fatal walaupun peluang dan paparan resiko tidak tinggi. Oleh karena itu resiko pada bahaya ini bersifat ekstrim. Polusi udara dari pembuangan limbah cair dapat menghambat pekerjaan karena baunya yang sangat menyengat. Pusing dapat terjadi jika terlalu lama menghirup bau dari limbah. Peluang terjadinya bahaya ini sering dan terjadi secara terus menerus selama proses distilasi berjalan, oleh karena itu bahaya bersifat sedang.

Peralatan distilasi pada industri ini cukup tinggi sekitar 5-6 meter. Untuk mencapai bagian atas dapat digunakan tangga vertikal pada sisi alat distilasi. Tangga ini sangat berbahaya karena posisinya yang vertikal dan mudah terkena panas dari alat. Efek bahaya yang dapat berupa cacat permanen menyebabkan bahaya ini beresiko tinggi. Proses dehidrasi menggunakan suhu cukup tinggi berkisar 80-90°C. Oleh karena itu resiko terkena benda panas dan suhu lingkungan tinggi memiliki tingkat resiko tinggi. Penilaian Resiko bisa dilihat pada Tabel 10.

42 Tabel 10. Bahaya dan Penilaian Resiko Aktivitas Distilasi dan Dehidrasi

No. Aktivitas Bahaya Nilai

Resiko Tingkat Resiko 1. Distilasi Terkena benda panas 23 Ekstrim

Lingkungan pada suhu tinggi (uap panas)

23 Ekstrim

Kebakaran atau ledakan

21 Ekstrim

Polusi udara

(bau dari limbah cair)

10 Sedang

Kontak dengan limbah

4 Sedang

Terjatuh dari tangga unit distilasi 19 Tinggi 2. Dehidrasi Terkena benda panas 15 Tinggi

Lingkungan pada suhu tinggi (uap panas)

18 Tinggi

D. Penentuan Pengendalian

Mayoritas dari bahaya pada produksi bioetanol mempunyai resiko sedang. Tingkat resiko ini memerlukan tindakan pengurangan resiko yang sederhana dan tidak menggunakan sumber daya serta biaya yang tinggi. Tingkat resiko tinggi memerlukan tindakan reduksi segera dan pekerjaan tidak dilakukan sampai resiko direduksi. Tingkat resiko ini juga harus mempertimbangkan alokasi sumber daya dan biaya dalam mereduksi resiko. Resiko ekstrim atau signifikan adalah tingkat tertinggi dengan diperlukannya reduksi resiko yang tepat dan cepat. Pekerjaan tidak dapat dilakukan jika sumber daya terbatas.

Tindak lanjut dari setiap bahaya telah ditentukan, berikutnya dibutuhkan pengendalian dalam mereduksi resiko. Menurut Suardi (2005), dalam melakukan pengendalian, hal yang harus dilakukan adalah memulai dari tindakan yang terbesar. Jika tidak dapat dilakukan maka diturunkan ke tingkat pengendalian yang lebih rendah atau mudah. Semakin tinggi tingkat kendali yang dipilih semakin tinggi biaya yang dibutuhkan dan tingkat resiko semakin besar reduksinya. Tahap pertama dalam pengendalian adalah menghilangkan penyebab

43 bahaya. Jika tidak memungkinkan, maka harus dilakukan salah satu atau kombinasi dari tahapan di bawah ini :

a. Mengganti peralatan atau mesin tersebut (substitusi).

b. Melakukan desain ulang dari perangkat kerja (engineering). c. Melakukan isolasi sumber bahaya.

Jika ketiga alternatif tersebut tidak dapat juga digunakan, maka dapat dilakukan dua alternatif berikut ini :

a. Pengendalian secara administrasi, seperti prosedur, instruksi kerja, supervisi pekerjaan.

b. Penggunaan alat pelindung diri (APD) atau safety equipment.

IKM bioetanol di Jampangkulon ini memiliki sumber daya yang terbatas. Maka, penghilangan penyebab bahaya sulit untuk dilakukan. Alternatif pencegahan adanya resiko akan banyak dilakukan untuk mereduksi resiko. Berikut adalah penentuan pengendalian pada IKM bioetanol sesuai urutan tingkat bahaya.

a. Tingkat Resiko Rendah

Bahaya pada resiko rendah terdapat pada aktivitas pemasakan dan fermentasi. Bahaya tersebut adalah terkena bahan kimia pada pemasakan dan suhu lingkungan tinggi pada aktivitas fermentasi. Bahaya yang terjadi dan penentuan pengendaliannya dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Penentuan Pengendalian Bahaya dengan Resiko Rendah

Aktivitas Bahaya Pengendalian

Pemasakan Terkena bahan kimia Pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) dan

pemantauan Fermentasi Lingkungan pada

suhu tinggi

Indikator suhu (termometer) pada mesin dan pembuatan SOP

Proses pemasakan termasuk tahapan produksi yang banyak menggunakan bahan kimia seperti alpha amilase dan gluko amilase. Bahan kimia ini bersifat

44 tidak berbahaya dan hanya sedikit digunakan. Pengendalian untuk bahaya ini bisa diterapkan melalui Standard Operation Procedure (SOP) yang dapat dilihat pada Lampiran 6 dan Lampiran 7.

Suhu dari dalam tangki fermentasi yang hanya dalam kisaran 32°C, tidak mempengaruhi suhu lingkungan secara signifikan. Pemantauan melalui termometer yang ada pada tangki tetap harus dilakukan untuk mencegah suhu yang belum sesuai untuk proses ini.

b. Tingkat Resiko Sedang

Bahaya dengan resiko sedang berjumlah 11 bahaya yang terdapat pada seluruh tahap produksi, kecuali tahap dehidrasi. Tahap persiapan bahan baku, resiko rendah terdapat pada aktivitas pencucian, pengecilan ukuran dan pemasakan. Tahapan fermentasi empat dari lima bahaya bersifat sedang. Tahap distilasi, bahaya dari limbah cair juga beresiko sedang. Bahaya resiko sedang diperlukan tindakan untuk mengurangi resiko, tetapi biaya pencegahan yang diperlukan perlu diperhitungkan dengan teliti dan dibatasi. Tindakan dapat berupa pengunaan alat pengaman diri dan penggunaan SOP. Penghilangan bahaya tidak diperlukan pada kondisi ini. Penentuan pengendalian bahaya dengan tingkat resiko sedang dapat dilihat pada Tabel 12.

45 Tabel 12. Penentuan Pengendalian Bahaya dengan Tingkat Resiko Sedang

Aktivitas Bahaya Pengendalian

Pencucian Terkena cipratan air pencucian

Pembuatan kawat penghalang pada sisi washer

Pengecilan Ukuran (Pemotongan)

Tergores Penggunaan Sarung Tangan

Terpotong atau Tersayat

Penggunaan Sarung Tangan, SOP

Tersengat aliran listrik Sumber listrik diletakkan pada posisi tertutup

Pemasakan Terkena benda panas Penggunaan isolator (glass wool) pada cooking tank, SOP Fermentasi

Terkena benda panas Penggunaan tangki yang tidak mudah menghantarkan suhu. Bahaya biologis (dari

S.cerevisae)

Pembuatan SOP Polusi udara (bau dari

limbah)

Penggunaan masker Menghirup gas CO2

dalam waktu lama

Penggunaan masker Distilasi Polusi udara (bau dari

limbah cair)

Penggunaan masker Kontak dengan limbah Pengunaan sarung tangan

c. Tingkat Resiko Tinggi

Terdapat 6 bahaya yang beresiko tinggi. Bahaya ini terdapat pada proses pengecilan ukuran, pemasakan, distilasi dan dehidrasi. Pekerjaan pada resiko tinggi tidak dapat dilaksanakan sampai resiko telah direduksi. Perlu dipikirkan disediakannya sumber daya yang akan dialokasikan untuk mengaw asi aktivitas tersebut setelah pengendalian diterapkan. Penggunaan alat pengaman diri seperti earplug pada kondisi kerja yang bising sangat penting. Sepatu boot yang digunakan pada kondisi suhu tinggi, licin atau basah dan terdapat kontak dengan listrik adalah sepatu boot jenis non-steel yang bersifat tahan air, isolator terhadap panas dan listrik (Anonim, 2008). Jika resiko masih ada dalam pekerjaan, maka penghilangan resiko segera dilakukan. Penentuan pengendalian bisa dilihat pada Tabel 13.

46 Tabel 13. Penentuan Pengendalian Bahaya dengan Resiko Tinggi

Aktivitas Bahaya Pengendalian

Pengecilan Ukuran (Pemotongan)

Kebisingan (dari

crusher)

Penggunaan earplug

pada saat crusher

beroperasi Pemasakan Lingkungan pada suhu

tinggi (uap panas)

Isolasi area sementara pada saat mesin beroperasi Kebakaran atau

ledakan

Indikator suhu (thermometer) pada mesin dan pembuatan SOP

Distilasi Terjatuh dari tangga unit distilasi

Penggunaan sepatu boot (safety shoes)

Dehidrasi

Terkena benda panas Penggunaan isolator (glass wool) dan sarung tangan anti panas, SOP Lingkungan pada suhu

tinggi (uap panas)

Penggunaan isolator (glass wool), SOP

d. Tingkat Resiko Ekstrim

Aktivitas dengan resiko ekstrim, tidak dapat dilaksanakan atau dilanjutkan jika resiko belum direduksi atau dihilangkan. Reduksi resiko dapat dilakukan dengan menggunakan isolator pada proses dengan suhu sangat tinggi dan sarung tangan anti panas untuk menghindari kontak. Isolator yang dapat digunakan untuk menahan panas dan tahan terhadap api adalah glass wool

(Anonim, 2006). Sarung tangan yang dapat digunakan adalah jenis yang tahan terhadap suhu ekstrim. Penggunaan indikator suhu dan tekanan juga diperlukan agar pekerja dapat mengontrol suhu yang digunakan selama proses produksi. Penentuan pengendalian bisa dilihat pada Tabel 14.

47 Tabel 14. Penentuan Pengendalian Bahaya dengan Resiko Ekstrim

Aktivitas Bahaya Pengendalian

Distilasi

Terkena benda panas

Penggunaan isolator (glass wool) dan sarung tangan anti panas, SOP

Lingkungan pada suhu tinggi (uap panas)

Penggunaan isolator (glass wool), SOP

Kebakaran atau ledakan

Penggunaan indikator suhu (termometer) dan indikator tekanan (gaugemeter) pada boiler, SOP

Tindakan penanggulangan lain dapat dilakukan jika kondisi darurat terjadi. Jenis kecelakaan dan cara penanggulangannya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Jenis kecelakaan dan tindakan penanggulangan

Jenis Kecelakaan Tindakan Penangulangan Kebakaran Tingkat 1 dan 2 Padamkan kebakaran menggunakan alat

pemadam yang disediakan

Dinginkan luka bakar menggunakan aliran air dingin

48 Kebakaran Tingkat 3 Padamkan segera sumber kebakaran dan

dinginkan wilayah sekitar kebakaran

Luka bakar ditutup menggunakan kain bersih Menghirup alkohol dalam

waktu yang cukup lama

Bawa pekerja ke daerah dengan udara terbuka, lalu biarkan istirahat dalam keadaan hangat dan jangan biarkan berjalan

Kontaminasi pada kulit Lepaskan baju dan sepatu, cuci kulit dengan air dan sabun berikan salep jika ada luka

Kontaminasi pada mata Bersihkan mata dengan air hangat selama 15 menit setelah itu bawa ke dokter terdekat Konsumsi langsung Jika pekerja dalam keadaan sadar, bersihkan

mulut dengan air, hindari terjadinya muntahan, berikan 1 atau 2 butir pil yang mengandung karbon aktif, hancurkan dan larutkan dalam air Jika pekerja tidak sadarkan diri, jangan berikan pil atau obat lain dan segera bawa ke dokter

Dokumen terkait