BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Profil Subjek Penelitian
1. Subjek
perempuan dan 2 subjek laki-laki. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, pengambilan data pada penelitian ini menggunakan tes
proyektif CAT-Human dengan 3 kartu yang telah dipilih berdasarkan studi
pendahluan yang dilakukan oleh peneliti, yaitu kartu 2, kartu 3, dan kartu
2. Proses Analisis Data
Analisis data diawali dengan melakukan analisis tematik pada
setiap kartu yaitu menentukan tema deskriptif, interpretif, dan tema
diagnostik. Selanjutnya analisis diperdalam melalui 10 variabel Bellak
yaitu tema utama, tokoh utama, kebutuhan dan dorongan pokok pada
tokoh utama, konsepsi tentang lingkungan, konsepsi tentang orang sekitar,
konflik yang signifikan, hakikat kecemasan, mekanisme pertahanan diri,
adekuasi ego, dan integrasi ego. Analisis tematik dilakukan untuk
mengetahui kecenderungan kebutuhan yang dimiliki oleh subjek dalam
penelitian ini. Kemudian, 10 variabel Bellak digunakan untuk melihat
dinamika kebutuhan secara lebih mendalam yang meliputi integrasi ego,
peranan super ego, mekanisme pertahanan diri, konflik-konflik yang
dialami oleh subjek, hakikat kecemasan, cara penyelesaian masalah dan
mengetahui pandangan subjek tentang lingkungan dan orang-orang
disekitarnya. Dengan demikian, peneliti tidak hanya mengetahui tentang
kebutuhan-kebutuhan apa saja yang muncul, tetapi dapat memperoleh
gambaran lebih mendalam mengenai pola pemenuhan kebutuhan anak
yang orang tuanya bercerai. Sementara itu, hasil wawancara yang
dilakukan dengan subjek dan orang tua subjek, digunakan sebagai latar
B. Profil Subjek Penelitian 1. Subjek 1
Subjek merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini subjek
tinggal bersama ibu dan kakak perempuan subjek yang berusia 13 tahun.
Subjek memiliki saudara kembar, tetapi ia tidak tinggal bersama karena
saudara kembar subjek berada di Nabire, tinggal bersama orang tua dari
ayah subjek. Mereka bertemu 1 kali dalam setahun.
Berdasarkan pengakuan ibu subjek, subjek tidak begitu menyukai
saudara kembarnya karena subjek merasa orang tua ayahnya (kakek dan
nenek subjek) selalu membandingkan dirinya dengan saudara kembarnya.
Subjek seringkali disebut sebagai anak yang nakal oleh kakek dan
neneknya ketika mereka bertemu, sedangkan suadara kembar subjek selalu
dianggap sebagai anak yang manis. Ketika terjadi hal demikian, ibu
subjek selalu membesarkan hati subjek dengan cara mengajak subjek
jalan-jalan dan mengatakan bahwa subjek adalah anak yang manis, pintar
dan cakap.
Sehari-hari subjek tinggal bersama ibu dan kakaknya, ayah dan ibu
subjek sudah lama bercerai sejak subjek berusia 3 tahun. Kini ayah subjek
tidak diketahui keberadaannya, sejak bercerai, orang tua subjek tidak
berkomunikasi lagi, Ibu subjek membuka salon di rumah untuk bekerja
dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap hari subjek selalu meminta
uang jajan maka subjek akan marah dan mengamuk. Ketika subjek marah,
ia menangis sambil melempar barang yang berada di dekatnya, hal ini
dilakukan subjek agar ia mendapatkan uang jajan seperti yang dia
inginkan. Ketika subjek sudah berlaku demikian maka ibu subjek tidak
bisa menolak untuk memberi uang jajan pada subjek. Ibu subjek bekerja
dari pagi hingga sore, lalu menyelesaikan pekerjaan rumah seperti
mencuci, memasak, menyapu, dan sebagainya.
Subjek memandang ibunya adalah orang yang baik, dan selalu
menemani subjek ketika subjek belajar, subjek juga mengatakan bahwa
ibunya selalu memberikan subjek uang ketika subjek ingin membeli
makanan yang ia sukai. Di sisi lain, ketika ditanya tentang ayahnya,
subjek diam sejenak kemudian mengatakan bahwa ayah adalah orang yang
jahat, menakutkan dan senang berteriak. Sampai saat ini subjek tidak
pernah mau bermain dirumah temannya karena ia takut bertemu dengan
sosok ayah. Setiap akan bermain ke rumah temannya subjek selalu
bertanya “ada ayah nya nggak?”. Ketika ditanya mengapa subjek selalu
bertanya demikian, subjek hanya tersenyum dan mengatakan “takut”. Ibu
subjek mengatakan bahwa subjek takut pada sosok laki-laki dewasa
kecuali dengan kakeknya. Menurut ibu subjek, hal tersebut mungkin
dikarenakan subjek sering melihat ibu dan ayahnya bertengkar sebelum
mereka bercerai. Ibu subjek mengakui bahwa mantan suaminya adalah
membeli minuman keras sehingga tidak jarang setiap terjadi pertengkaran,
ayah subjek kerap memukul ibu subjek dan membanting barang-barang.
Hubungan subjek dengan kakaknya dapat dikatakan cukup dekat,
subjek mengatakan bahwa kakaknya adalah kakak yang baik tetapi
kadang-kadang nakal. Subjek mengatakan kakaknya sering membantu dan
menemani subjek ketika subjek belajar dan ketika subjek bermain.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, subjek dan kakaknya
terlihat dekat dan sering bermain bersama. Terkadang kakak subjek suka
usil menggoda subjek, dan membuat subjek marah dan menangis. Ibu
subjek kerap memarahi kakak subjek bila terlalu sering menggoda subjek
secara berlebihan.
Relasi subjek dengan teman-temannya cukup baik, subjek bercerita
bahwa setiap sore hari dia dan teman-temannya selalu bermain bola di
lapangan dekat rumah subjek, tetapi subjek tidak suka dengan
teman-teman di sekolahnya, karena menurut subjek teman-teman-teman-temannya di
sekolahnya adalah anak yang nakal, mereka selalu berbicara kotor dan
tidak sopan. Teman-teman subjek kerap kali berbuat jahil pada subjek,
namun subjek tidak pernah membalasnya. Tetapi sepulang sekolah, ketika
subjek sudah sampai di rumah, subjek kerap marah-marah pada ibunya
karena kejadian yang subjek alami di sekolah. Menanggapi hal tersebut,
ibu subjek mencoba memahami karena subjek memang kurang berani
sekolah. Subjek merupakan anak yang sangat penurut terhadap
teman-temannya, subjek selalu mengalah dengan teman-temannya.
Ibu subjek mengatakan, menjalani dua peran dalam membimbing
anak-anaknya merupakah hal yang tidak mudah, terkadang ibu subjek
lebih sering berfokus pada pekerjaan yang ia lakukan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari sehingga ia merasa kurang memberikan
waktu untuk anak-anaknya. Kakak subjek yang saat ini duduk di bangku
SMP sedikit demi sedikit mampu memahami kondisi keluarganya,
terkadang kakak subjek juga membantu ibu subjek bekerja di salon. Ibu
subjek menuturkan, bahwa subjek adalah anak yang kerap kali meminta
perhatiannya, misalnya ketika belajar subjek harus ditemani oleh ibunya,
ketika ibunya sedang bekerja di salon, subjek kerap kali menganggu,
namun ibu subjek dapat memahami bahwa hal-hal seperti itu adalah cara
subjek untuk menarik dan meminta perhatiannya.
2. Subjek 2
Subjek merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Saat ini subjek
duduk di bangku kelas 3 SD. Saat ini subjek tinggal bersama ibu dan
kedua kakaknya di sebuah rumah susun di daerah Sleman, Yogyakarta.
Ayah dan ibu subjek sudah bercerai 5 tahun yang lalu, sekarang ayah
subjek telah menikah lagi dan tinggal di Jakarta. Sejak orang tua subjek
secara psikologis ibu subjek menjalankan peran ganda yaitu sebagai ibu
sekaligus sebagai ayah bagi anak-anaknya.
Menurut subjek, dirinya adalah anak yang baik dan tidak pernah
berbuat nakal pada teman-temannya, subjek mengakui bahwa dirinya
adalah anak yang susah diberitahu (ngeyel) terlebih pada ibu dan
kakaknya, ketika subjek menginginkan sesuatu, hal tersebut harus
dipenuhi dalam waktu itu juga, bila tidak subjek akan menangis dan
sengaja membuat ibu dan kakaknya merasa kesal. Hal tersebut dibenarkan
oleh ibu subjek, yang mengatakan bahwa subjek adalah anak yang manja
dan keras kepala, ketika menginginkan sesuatu harus dituruti saat itu juga,
namun ibu subjek memahami hal itu, dan ibu subjek mengaku bahwa
dirinya lebih memanjakan subjek dibanding dengan kedua kakak subjek,
hal tersebut dilakukan ibu subjek karena keadaan subjek yang masih
berusia 7 tahun berbeda dengan keadaan kakak subjek dulu ketika mereka
masih kecil. Orang tua subjek bercerai ketika subjek berusia 2 tahun, sejak
itu ibu subjek hidup sendiri dengan 3 anak. Hal itulah yang membuat ibu
subjek lebh memanjakan subjek, karena di usia subjek yang masih sangat
kecil, subjek tidak merasakan kasih sayang dari figur seoarang ayah, untuk
itulah ibu subjek mencoba untuk dapat memenuhi semua keinginan subjek
dan kebutuhan subjek. .
Dalam hal akademik, subjek termasuk siswa yang biasa saja, subjek
menurut subjek pelajaran yang menurutnya paling sulit adalah bahasa
inggris dan matematika, setiap kali ulangan pada kedua mata pelajaran
tersebut, subjek selalu mendapatkan nilai dibawah 70. Untuk mengatasi
hal tersebut, subjek kerap kali meminta kakak perempuannya untuk
mengajarkan kedua mata pelajaran tersebut. Subjek mengaku diriya adalah
anak yang dapat belajar sendiri, ketika belajar atau mengerjakan pekerjaan
rumah, ibu nya jarang menemani karena ibu subjek bekerja hingga malam
hari ketika subjek sudah selesai belajar. Ketika mendapatkan nilai yang
kurang memuaskan, ibu subjek tidak memarahi subjek tetapi hanya
memberikan nasehat agar subjek belajar lebih giat lagi.
Dalam keluarga, subjek mengaku bahwa dirinya sangat dekat dengan
ibu nya. Subjek mengatakan bahwa dirinya sangat sayang pada ibu nya,
selain dekat dengan ibu subjek juga dekat dengan kedua kakaknya, tetapi
subjek lebh dekat dengan kakak perempuannya karena kakak perempuan
subjek tidak pernah berbuat nakal pada subjek, tidak seperti kakak
laki-laki subjek yang setiap hari selalu menganggu subjek dan mereka selalu
bertengkar setiap harinya. Ketika ditanya mengenai ayahnya, subjek
tampak terdiam dan tersenyum sejenak, subjek mengatakan bahwa
ayahnya adalah ayah yang baik, suka mengajak subjek jalan-jalan dan
membelikan subjek mainan sebelum ayah subjek pindah ke Jakarta.
Subjek mengatakan bahwa ayahnya sekarang sudah pergi dan tidak pernah
Ibu subjek bercerita bahwa pada tahun ini, genap 5 tahun setelah
terjadinya perceraian dalam keluarganya. Ibu dan ayah subjek bercerai
ketika subjek berusia 4 tahun. Perceraian yang terjadi dipicu oleh adanya
orang ketiga dalam hubungan ayah dan ibu subjek, ayah subjek pergi dan
menikah dengan wanita lain. Pada awal setelah ibu dan ayah subjek
bercerai, subjek sering menangis dan mencari ayahnya, subjek menangis
karena ia tidak melihat dan bertemu ayahnya di rumah. Bulan-bulan
pertama setelah perceraian menjadi masa yang sangat sulit bagi ibu
subjek, begitupun dengan subjek. Subjek lebih sering menangis dan marah
karena ia tidak mengetahui keberadaan ayahnya. Ketika di sekolah, subjek
mengaku bahwa dirinya suka merasa iri pada teman-temannya ketika saat
pulang sekolah mereka dijemput oleh ayahnya sedangkan subjek tidak
pernah dijemput oleh ayahnya. Subjek sering marah dan menangis pada
ibunya karena ia ingin seperti teman-temannya. Ibu subjek mengatakan
kejadian tersebut terjadi ketika subjek masuk ke TK hinggal SD kelas 1.
Subjek sering marah, dan rewel ketika berada dilingkungan rumah..
Bagi ibu subjek, cukup berat untuk menjelaskan pada subjek mengenai
hal yang sebenarnya terjadi, ibu subjek menyadari bahwa saat itu subjek
masih sangat kecil untuk mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, tidak
seperti kedua kakak subjek yang saat itu sudah mengerti keadaan keluarga.
Hampir setiap malam subjek menanyakan “mengapa ayah tidak pernah
sebelum bercerai dan sesudah bercerai adalah berkaitan dengan emosi
subjek, setelah ayah dan ibunya bercerai, subjek menjadi anak yang lebih
rewel, mudah menangis, mudah marah dan susah untuk diajak berdiskusi
sehingga subjek sering bertingkah sesuai keinginannya. Tetapi saat ini
subjek sudah mengerti dan terbiasa dengan ketidakhadiran sosok ayah
dalam keluarganya.
3. Subjek 3
Subjek merupakan anak keempat dari 4 bersaudara. Subjek memiliki
dua kakak perempuan dan satu kakak laki-laki. Saat ini subjek duduk di
kelas 3 SD Kartirejo, Sleman. Subjek memandang dirinya adalah anak
yang baik dan suka menolong, hal ini subjek ungkapkan karena dirinya
sering membantu ibu ketika dirumah, dan subjek kerap menemani ibunya
bekerja. Selain itu, subjek menganggap dirinya memiliki sifat yang kurang
baik seperti ceroboh dan mudah menangis. Sikap ceroboh subjek yaitu
seperti subjek mudah lupa menaruh barang-barang yang telah ia ambil
untuk dikembalikan ketempat semula sehingga keadaan menjadi
berantakan. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu subjek, yang mengatakan
bahwa subjek adalah anak yang kurang penurut dan bertindak sesuka hati
subjek sendiri. Subjek sering menangis ketika dirinya merasa terganggu
oleh kakak-kakak nya, menurut subjek kakak-kakaknya suka menganggu
Subjek memandang keluarga adalah tempat yang baik untuk dirinya.
Saat ini subjek tinggal bersama ibu dan ketiga kakaknya. Ayah dan ibu
subjek sudah lama bercerai sejak subjek berusia 1 tahun. Subjek
memandang ibunya adalah orang yang baik, lembut, dan suka mengajak
anak-anaknya jalan-jalan ketika ada waktu luang dan ketika ada anggota
keluarga yang sedang berulang tahun, sehari-hari ibu subjek bekerja
sebagai agen kacamata, subjek kerap menemani ibunya pergi ke
rumah-rumah pelanggan yang membeli kacamata milik ibu subjek. Tetapi subjek
juga menganggap ibunya kerap memarahi dirinya, terlebih ketika subjek
tidak mau belajar. Subjek mengaku bahwa ia sangat sayang pada ibunya.
Di sisi lain, subjek memandang ayahnya adalah orang yang jahat karena
tidak pernah mengurus anak-anaknya dan orang tidak peduli dengan
keluarganya. Subjek mengaku tidak terlalu sering bertemu dengan
ayahnya, ayah subjek hanya datang sesekali untuk meminta uang pada ibu
subjek. Subjek mengaku dirinya dilarang untuk bertemu ayahnya oleh ibu
subjek, hal tersebut dikarenakan ayah subjek ingin membawa subjek pergi
ke Purwokerto (rumah nenek dan kakek subjek).
Selain relasi subjek dengan ayah dan ibunya, subjek juga memiliki
relasi yang dekat dengan ketiga kakaknya. Subjek merasa dirinya lebih
dekat dengan kakak kedua, dibanding dengan kakak pertama dan ketiga.
Subjek merasa kakak keduanya lebih perhatian terhadap dirinya, hal
makanan untuk subjek ketika ia pulang dari sekolah. Selain itu, ia juga
sering membantu subjek ketika subjek mengalami kesusahan ketika
belajar dan melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, menurut kakak
pertama subjek kurang memperhatikan subjek karena kakak pertama
subjek disibukkan oleh kegiatan kuliah dan bekerja untuk membantu ibu
subjek. Subjek sering merasa kesal dengan kakak ketiganya, kakak ketiga
subjek sering menganggu subjek dan sering membuat subjek menangis.
Subjek menganggap kakak ketiganya adalah anak yang nakal.
Relasi subjek dengan teman-teman sekolahnya dapat dikatakan dekat,
subjek mengatakan bahwa teman perempuannya adalah
teman-teman yang baik dan suka menemani subjek. Namun, subjek memandang
teman laki-laki adalah teman yang jahat, licik dan tidak bisa menjadi
panutan bagi teman-teman yang lain, subjek bercerita bahwa ketika di
sekolah, teman laki-laki subjek banyak yang nakal dan sering membuat
teman yang lain menangis sehingga subjek tidak terlalu suka dengan
teman-temannya yang berjenis kelamin laki-laki.
Dalam hal akademik, subjek merasa kesulitan mengikuti pelajaran
yang diajarkan oleh gurunya, menurut subjek pelajaran yang ia rasa berat
adalah Bahasa Jawa. Ibu subjek mengatakan bahwa subjek sangat susah
bila diminta untuk belajar ataupun mengerjakan tugas. Subjek selalu
mencari alasan ketika ibunya meminta subjek belajar, seperti menangis
dirinya sering diminta datang ke sekolah bertemu dengan wali kelas
subjek karena prestasi akademik subjek yang terus menurun dan hampir
tidak naik kelas. Untuk mengatasi hal tersebut, ibu subjek memberikan les
di luar jam sekolah subjek. Menanggapi hal demikian, ibu subjek
menyadari bahwa dirinya tidak dapat sepenuhnya memantau
perkembangan anak-anaknya karena kesibukan pekerjaan yang harus ia
jalani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam waktu dekat ini, ibu
subjek berencana membuka warung makan di depan rumahnya untuk
menambah pendapatan keluarga.
Kondisi keluarga subjek saat ini dapat dikatakan sudah lebih baik
menurut ibu subjek, terlebih secara ekonomi, saat ini ibu subjek dan
keempat anaknya sudah menempati rumah sendiri. Sebelumnya mereka
tinggal di rumah kontrakan. Kedua kakak subjek yang sudah beranjak
dewasa kian dapat membantu ibu subjek dalam hal mengurus rumah,
sebagai tempat berkeluh kesah ibu subjek, karena mereka sudah mulai
mengerti kondisi keluarganya. Menurut ibu subjek, subjek sudah mulai
memahami kondisi keluarganya, tidak adanya kehadiran sosok ayah di
rumah membuat subjek mengerti bahwa ia hanya tinggal bersama ibunya.
Pada saat subjek mulai bersekolah hingga ia duduk di kelas 1 SD, subjek
sering menanyakan tetang ayahnya yang tidak pernah tinggal satu rumah
dengan mereka. Subjek mengaku sering merasa iri pada teman-teman
jalan-jalan dengan ayah, dan dibantu mengerjakan PR oleh ayahnya. Hal
tersebut sering subek tanyakan kepada ibunya, terkadang subjek marah
dan meminta ibu subjek untuk mencari ayahnya agar ia dapat seperti
teman-teman lainnya.
Bagi ibu subjek, menjelaskan tentang perceraian yang terjadi dalam
rumah tangganya merupakan hal yang tidak mudah ia lakukan. Ibu subjek
berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan anak-anaknya baik secara fisik
dan psikologis, tetapi ibu subjek mengaku hal tersebut susah dilakukan
karena ia terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
sehingga ketika ia tiba dirumah, waktu yang ada ia gunakan untuk
beristirahat.