• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5) Maksud Ketidaksantunan

4.2.2.5 Subkategori Mengancam Cuplikan Tuturan

P : “Awas nek kowe reneh meneh, tak jiwit kowe. Utang lho kowe!” (B10)

MT: (berlari kepada ibunya).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang berada di teras rumah. MT hendak pulang ke rumahnya bersama ibunya. MT berpamitan kepada penutur. Penutur mengatakan tuturannya dengan maksud bercanda, tetapi seperti mengancam. MT merasa diancam hendak dicubit jika datang lagi ke rumah penutur.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan B10 : “Awas nek kowe reneh meneh, tak jiwit kowe. Utang lho kowe!” (Awas kalau kamu ke sini lagi, aku jiwit kamu. Hutang lho kamu!)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan B10 : Penutur berbicara dengan sedikit berteriak. Penutur berbicara tanpa mempedulikan MT yang menangis akibat tuturannya. Penutur bersikap santai setelah memberi ancaman kepada MT.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan B10 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, partikel lho, nada tutur tinggi, tekanan keras pada frasa tak jiwit kowe, serta diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan B10 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang berada di teras rumah. MT hendak pulang ke rumahnya bersama ibunya. MT berpamitan kepada penutur. Penutur mengatakan tuturannya dengan maksud bercanda, tetapi seperti mengancam. MT merasa diancam hendak dicubit jika datang lagi ke rumah penutur. Tuturan terjadi dalam suasana santai. Tuturan terjadi di rumah pada sore hari. Penutur perempuan berusia 70 tahun. MT laki-laki berusia 7 tahun. MT adalah cucu dari penutur. Tujuan dari penutur adalah mengancam MT agar tidak datang lagi ke rumah penutur. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal komisif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT lalu mengadu kepada ibunya.

5) Maksud Ketidaksantunan

4.2.3 Melecehkan Muka

Kategori ketidaksantunan yang melecehkan muka memiliki enam subkategori, yaitu kesal, menyindir, mengejek, menentang, menolak, dan memperingatkan. Keenam subkategori tersebut dianalisis berdasarkan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan. Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara penyampaian penutur yang mengikuti setiap tuturan lisan tidak santun. Penanda ketidaksantunan linguistik dianalisis berdasarkan intonasi, penggunaan partikel, nada tutur, tekanan, dan diksi dalam setiap tuturan. Penanda ketidaksantunan pragmatik berupa konteks yang melingkupi setiap tuturan. Maksud ketidaksantunan berkenaan dengan tujuan dari penutur ketika mengutarakan tuturan tidak santunnya kepada mitra tutur. Berikut adalah analisis tuturan tidak santun dari keenam subkategori tersebut.

4.2.3.1Subkategori Kesal Cuplikan Tuturan 24

P : “Ganti to pak, aku ki ra seneng bal!!!” (C9) MT: (mengganti chanel TV).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. MT menonton acara pertandingan sepak bola. Penutur yang baru keluar dari kamar hendak menonton televisi pula. Penutur tidak menyukai acara pertandingan bola. Penutur kesal ketika mendapati MT justru menonton bola. Penutur menyuruh MT mengganti chanel TV ke acara yang lain. Penutur berbicara dengan keras, padahal jarak MT dengan penutur hanya 2 meter.)

Cuplikan Tuturan 37

P : “Dasar bakul iwak, digoleki nengdi-nengdi ra ketemu, jedule neng kene.” (C22)

MT: “La kowe ki ngopo mbak nggoleki aku ki? P : “Njukuk pesenan to.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sudah berkeliling mencari MT. MT sedang mengambil barang di tempat lain. Penutur hendak mengambil pesanannya. Penutur dan MT bertemu di dekat tanggayang cukup jauh jaraknya dengan lapak MT.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan C9 : “Ganti to pak, aku ki ra seneng bal!!!” (Ganti sih, Pak, aku tidak suka bola!!!)

Tuturan C22 : “Dasar bakul iwak, digoleki nengdi-nengdi ra ketemu, jedule neng kene.” (Dasar penjual ikan, dicari kemana-mana tidak ketemu, ternyata di sini.)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C9 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan keras. Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur menyinggung MT. Tuturan C22 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan ejekan. Penutur menyinggung MT dengan menyebutkan profesi.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan C9 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata ganti, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan C22 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, nada tutur sedang, tekanan: keras pada frasa dasar bakul iwak, dan diksi bahasa nonstandar dalam bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C9 : Tuturan terjadi ketika MT berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. MT menonton acara pertandingan sepak bola. Penutur yang baru keluar dari kamar hendak menonton televisi pula. Penutur tidak menyukai acara pertandingan bola. Penutur kesal ketika mendapati MT justru menonton bola. Penutur menyuruh MT mengganti chanel TV ke acara yang lain. Penutur berbicara dengan keras, padahal jarak MT dengan penutur hanya 2 meter. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur laki-laki berusia 23 tahun. MT laki-laki berusia 50 tahun. MT adalah bapak penutur. Tujua dari penutur adalah menyuruh mengganti chanel TV, karena chanel yang sedang ditonton oleh MT tidak disukai oleh penutur. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT tidak langsung mengganti chanel TV yang dimaksud oleh penutur, tetapi tidak lama kemudian MT mengganti chanel dan meninggalkan penutur menonton sendirian.

Tuturan C22 : Tuturan terjadi ketika penutur sudah berkeliling mencari MT. MT sedang mengambil barang di tempat lain. Penutur hendak mengambil pesanannya. Penutur dan MT bertemu di dekat tanggayang cukup jauh jaraknya dengan lapak MT. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di pasar pukul 14.00 WIB, tanggal 21Mei 2013. Penutur perempuan

berusia 48 tahun. MT perempuan berusia 35 tahun. Tujuan dari penutur adalah mengungkapkan kekesalan karena sudah mencari MT kemana-mana. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT mengajak penutur ke lapaknya.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan C9 : penutur bermaksud memerintah mitra tutur untuk mengganti chanel televisi.

Tuturan C22 : penutur bermaksud mengungkapkan kekesalannya kepada mitra tutur yang sulit ditemui.

4.2.3.2Subkategori Menyindir Cuplikan Tuturan 18 MT: “Aku njaluk susu.”

P : “Wong ra sekolah kok njaluk susu.” (C3)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur berada di halaman rumah bersama seorang ibu, tetangga rumahnya. MT bersama dengan temannya bermain di halaman rumah. Penutur menanggapi permintaan MT. MT merengek minta susu. MT tidak mau berangkat ke sekolah jika belum dibuatkan susu. Penutur menyindir MT agar sekolah terlebih dahulu, setelah itu baru meminta susu.)

Cuplikan Tuturan 21

P : “Heh, flashdisc-mu tu banyak banget virusnya, gudang virus ya?” (C6)

MT: “Duh, ngece tenan kamu tu.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT berada di dalam kamarnya dalam keadaan pintu terbuka. Penutur juga berada di kamarnya. Kamar penutur dan MT bersebelahan. Sebelumnya, penutur meminjam flashdisc MT untuk memindahan data kuliahnya yang hendak dikumpulkan kepada dosennya. Penutur meminjam flashdisc MT karena miliknya sedang

dipinjam oleh temannya. Tanpa menyebutkan nama MT, penutur meneriaki MT dalam kamarnya. MT yang merasa sudah berbaik hati meminjamkan flashdisc-nya kepada penutur tersinggung dengan tuturan penutur.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan C3 : “Wong ra sekolah kok njaluk susu.” (Tidak sekolah kok minta susu.)

Tuturan C6 : “Heh, flashdisc-mu tu banyak banget virusnya, gudang virus ya?”

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C3 : Penutur berbicara dengan sinis. Penutur berbicara dengan santai. Penutur menyinggung MT dengan sindiran. Penutur berbicara tanpa melihat MT.

Tuturan C6 : Penutur berbicara dengan keras. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur tidak berterima kasih telah diberi pinjaman. Penutur menyinggung MT.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan C3 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel wong, kok, nada tutur sedang, tekanan lunak pada frasa njaluk susu, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan C6 : tuturan dikatakan dengan intonasi tanya, partikel heh, nada tutur tinggi, tekanan keras pada frasa banyak banget, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu tu, banget.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan C3 : Tuturan terjadi ketika penutur berada di halaman rumah bersama seorang ibu, tetangga rumahnya. MT bersama dengan temannya bermain di halaman rumah. Penutur menanggapi permintaan MT. MT merengek minta susu. MT tidak mau berangkat ke sekolah jika belum dibuatkan susu. Penutur menyindir MT agar sekolah terlebih dahulu, setelah itu baru meminta susu. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di halaman rumah, pukul 17.00 WIB, tanggal 10 April 2013. Penutur perempuan, nenek berusia 55 tahun. MT laki-laki, anak berusia 3 tahun. Tujuan dari penutur adalah menanggapi MT sebagai cucunya yang minta dibuatkan susu. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT tetap meronta-ronta minta dibuatkan susu.

Tuturan C6 : Tuturan terjadi ketika MT berada di dalam kamarnya dalam keadaan pintu terbuka. Penutur juga berada di kamarnya. Kamar penutur dan MT bersebelahan. Sebelumnya, penutur meminjam flashdisc MT untuk memindahan data kuliahnya yang hendak dikumpulkan kepada dosennya. Penutur meminjam flashdisc MT karena miliknya sedang dipinjam oleh temannya. Tanpa menyebutkan nama MT, penutur meneriaki MT dalam kamarnya. MT yang merasa sudah berbaik hati meminjamkan flashdisc-nya kepada penutur tersinggung dengan tuturan penutur. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pukul 09.00 WIB, tanggal 23 April 2013. Penutur dan MT perempuan berusia 22 tahun. Tujuan dari penutur adalah memberi tahu MT bahwa flashdisc MT banyak virus. Tindak verbal

yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung meminta flashdisc-nya untuk dikembalikan.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan C3 : penutur hanya bermaksud mengomentari permintaan mitra tutur.

Tuturan C6 : penutur bermaksud mengejek mitra tutur akan banyaknya virus di flashdisc-nya.

4.2.3.3Subkategori Mengejek