• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5) Maksud Ketidaksantunan

4.2.4.5 Subkategori Meremehkan Cuplikan Tuturan

P : “Kowe ki mbok mengko wae nek arep nonton, aku disek.” (D2) MT: (hanya diam).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang berada di ruang keluarga. MT baru keluar dari kamar hendak menonton televisi. Penutur menyuruh mitra tutur untuk menonton televisi nanti saja. Padahal penutur sejak tadi menonton televisi. Penutur merasa lebih tua dibanding MT, sehingga ia bisa mengatur seenaknya. Di ruangan itu terdapat anggota keluarga yang lain.)

Cuplikan Tuturan 55

MT: “Ket kapan yo awak dewe neng kene, kae umur piro kowe? “ P : “Lah, mboh mbiyen.” (D17)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang tamu. Penutur duduk di samping MT. Selain penutur dan MT, ada pula 3 orang tamu. MT bertanya kepada penutur.Penutur menjawab pertanyaan MT dengan sinis, padahal penutur tahu mereka tinggal di rumahnya sejak ia kecil, tetapi penutur malas menghitung sudah berapa lama.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan D2 : “Kowe ki mbok mengko wae nek arep nonton, aku disek.” (Kamu itu nanti saja kalau mau nonton, aku dulu.)

Tuturan D17 : “Lah, mboh mbiyen.” (Lah, tidak tahu dulu.) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D2 : Penutur berbicara di depan keluarga yang lain. Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur memerintah MT dengan seenaknya. Penutur bersikap senioritas.

Tuturan D17 : Penutur berbicara dengan ketus. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur berbicara di depan tamu. Penutur berbicara tanpa melihat MT. Penutur mempermalukan MT.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan D2 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, partikel ki, nek, nada tutur sedang, tekanan lunak pada frasa mengko wae, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan D17 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel lah, nada tutur sedang, tekanan lunak pada kata mbiyen, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan D2 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang berada di ruang keluarga. MT baru keluar dari kamar hendak menonton televisi. Penutur menyuruh mitra tutur untuk menonton televisi nanti saja. Padahal penutur sejak tadi menonton televisi. Penutur merasa lebih tua dibanding MT, sehingga ia bisa mengatur seenaknya. Di ruangan itu terdapat anggota keluarga yang lain. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur laki- laki berusia 26 tahun. MT laki-laki berusia 15 tahun. MT adalah adik penutur. Tujuan dari penutur adalah melarang MT yang hendak menonton televisi. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT tidak jadi menonton televisi karena merasa sudah dipermalukan di depan anggota keluarga yang lain.

Tuturan D17 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT berada di ruang tamu. Penutur duduk di samping MT. Selain penutur dan MT, ada pula 3 orang tamu. MT bertanya kepada penutur. Penutur menjawab pertanyaan MT dengan sinis, padahal penutur tahu mereka tinggal di rumahnya sejak ia kecil, tetapi penutur

malas menghitung sudah berapa lama. Suasana ketika tuturan terjadi santai. Tuturan terjadi di rumah, pukul 18.00 WIB, tanggal 16 April 2013. Penutur perempuan berusia 30 tahun. MT perempuan berusia 56 tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menanggapi pertanyaan MT tentang berapa lama mereka tinggal di rumah itu. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT lalu menghitung sendiri sudah berapa lama mereka tinggal di rumah itu.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan D2 : penutur bermaksud melarang mitra tutur menonton televisi. Tuturan D17 : penutur hanya bermaksud menanggapi pertanyaan mitra tutur.

4.2.5 Menimbulkan Konflik

Kategori ketidaksantunan yang menimbulkan konflik memiliki empat subkategori, yaitu mengancam, mengejek, menegur, dan kesal. Keempat subkategori tersebut dianalisis berdasarkan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik, serta maksud ketidaksantunan. Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Wujud ketidaksantunan pragmatik berupa cara penyampaian penutur yang mengikuti setiap tuturan lisan tidak santun. Penanda ketidaksantunan linguistik dianalisis berdasarkan intonasi, penggunaan partikel, nada tutur, tekanan, dan diksi dalam setiap tuturan. Penanda ketidaksantunan pragmatik berupa konteks yang melingkupi setiap tuturan. Maksud ketidaksantunan berkenaan dengan tujuan dari penutur ketika mengutarakan tuturan tidak

santunnya kepada mitra tutur. Berikut adalah analisis tuturan dari keempat subkategori tersebut.

4.2.5.1Subkategori Mengancam Cuplikan Tuturan 59

P : “Adek!!! Heh, tak masukke kamar tak kunci kapok kowe!” (E1) MT: (memukul kepala penutur).

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu dan berbincang-bincang. MT bermain-main dengan temannya di sekitar penutur dan tamunya. Penutur sudah menegur MT berkali-kali, tetapi MT tidak mengindahkan teguran penutur yang menyuruh MT bermain agak jauh dari penutur dan tamunya. Penutur merasa sangat terganggu dengan tingkah MT. Penutur menegur lagi dengan marah. MT merasa tidak mengganggu. Mendengar teguran penutur, MT langsung membalas dengan memukul kepala penutur lalu berlari meninggalkan penutur.)

Cuplikan Tuturan 67 P : “Kamu gak kuliah?” MT: “Gak, Mbak.”

P : “Kamu mau kuliah apa enggak, kalo gak manut aturan gak usah kuliah terserah, hidup sendiri, cari uang sendiri.” (E9)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur baru pulang dari pasar. MT berada di dalam kamar sedang bermain gitar. Melihat MT, penutur langsung kesal karena seharusnya MT masih kuliah. Penutur merasa MT tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh penutur yang sudah membiayai kuliahnya. MT tidak terima dengan tuturan penutur karena ia merasa diremehkan.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan E1 : “Adek!!! Heh, tak masukke kamar tak kunci kapok kowe!” (Adek!!! Heh, aku masukkan kamar aku kunci kapok kamu.) Tuturan E9 : “Kamu mau kuliah apa enggak, kalo gak manut aturan gak

usah kuliah terserah, hidup sendiri, cari uang sendiri.” 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E1 : Penutur berbicara dengan berteriak. Penutur berbicara dengan berkacak pinggang. Penutur berbicara dengan sinis. Penutur memberi ancaman kepada MT.

Tuturan E9 : Penutur berbicara dengan sinis. Penutur memberi ancaman kepada MT. Ancaman penutur mengakibatkan MT emosi dan pergi dari rumah. 3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan E1 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, partikel heh, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata adek, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan E9 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, nada tutur sedang, tekanan keras pada frasa kuliah apa enggak, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu mau, enggak, kalo, usah, cari; penggunaan istilah bahasa Jawa manut.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E1 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang menerima tamu dan berbincang-bincang. MT bermain-main dengan temannya di sekitar penutur dan tamunya. Penutur sudah menegur MT berkali-kali, tetapi MT tidak mengindahkan teguran penutur yang menyuruh MT bermain agak jauh dari penutur dan tamunya. Penutur merasa sangat terganggu dengan tingkah MT. Penutur menegur lagi dengan marah. MT merasa tidak mengganggu.

Mendengar teguran penutur, MT langsung membalas dengan memukul kepala penutur lalu berlari meninggalkan penutur. Tuturan terjadi dalam suasana tegang. Tuturan terjadi di halaman rumah pukul 17.00 WIB, tanggal 10 April 2013. Penutur perempuan berusia 35 tahun. MT laki-laki berusia 3 tahun. Penutur adalah ibu dari MT. Tujuan dari penutur adalah memarahi MT tidak mau sekolah. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal komisif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah setelah penutur memarahi MT, MT malah memukul kepala penutur.

Tuturan E9 : Tuturan terjadi ketika penutur baru pulang dari pasar. MT berada di dalam kamar sedang bermain gitar. Melihat MT, penutur langsung kesal karena seharusnya MT masih kuliah. Penutur merasa MT tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh penutur yang sudah membiayai kuliahnya. MT tidak terima dengan tuturan penutur karena ia merasa diremehkan. Tuturan terjadi dalam suasana tegang. Tuturan terjadi di rumah pada siang hari. Penutur perempuan berusia 28 tahun. MT laki-laki berusia 20 tahun. MT adalah adik dari penutur. Tujuan dari penutur adalah memarahi MT yang membolos kuliah. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal komisif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung menghidupkan motor dengan mengeraskan gas motor lalu pergi hingga larut malam.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan E1 : penutur bermaksud menakut-nakuti mitra tutur agar tidak nakal lagi.

Tuturan E9 : penutur bermaksud memperingatkan mitra tutur agar mengikuti aturan dari penutur.

4.2.5.2Subkategori Mengejek Cuplikan Tuturan 60

P : “Halah, ibu ki silit, silit!!!” (E2) MT: “Heh, gak boleh ngomong gitu.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika MT sedang menerima tamu di ruang tamu bersama dengan anggota keluarga yang lainnya. Tiba-tiba, penutur yang sebelumnya berada di ruang keluarga sedang menonton televisi keluar ke ruang tamu dan meneriaki MT dengan tuturan yang mengejek MT. Tuturan penutur sangat membuat terkejut tamu dan anggota keluarga yang lain. MT lalu menarik penutur masuk ke ruang keluarga dan memarahinya. MT menghukum penutur dengan tidak memperbolehkan penutur menonton televisi lagi.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan E2 : “Halah, ibu ki silit, silit!!!” (Halah, ibu itu ‘silit, silit’!!!) 2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E2 : Penutur berbicara dengan sedikit berteriak. Penutur berbicara dengan orang yang lebih tua. Penutur memberi ejekan kepada MT. Penutur membuat MT marah.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan E2 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, partikel halah, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata silit, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E2 : Tuturan terjadi ketika MT sedang menerima tamu di ruang tamu bersama dengan anggota keluarga yang lainnya. Tiba-tiba, penutur yang sebelumnya berada di ruang keluarga sedang menonton televisi keluar ke ruang tamu dan meneriaki MT dengan tuturan yang mengejek MT. Tuturan penutur sangat membuat terkejut tamu dan anggota keluarga yang lain. MT lalu menarik penutur masuk ke ruang keluarga dan memarahinya. MT menghukum penutur dengan tidak memperbolehkan penutur menonton televisi lagi. Tuturan terjadi dalam suasana santai. Tuturan terjadi di rumah, pukul 18.00 WIB, tanggal 16 April 2013. Penutur laki-laki, anak berusia 5 tahun. MT perempuan, ibu berusia 30 tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur adalah ingin mencari perhatian MT. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi MT langsung memarahi dan menghukum penutur karena tuturan tersebut sangat tidak sopan.

5) Maksud Ketidaksantunan

4.2.5.3Subkategori Memperingatkan Cuplikan Tuturan 63

P : “Pak, kowe opo-opo anak ditukukke. Ngono kuwi marai tuman.” (E5)

MT: “Wong nggolek duit ki yo pancen ngge anak lho, Bu.”

P : “Yo, tapi kwi kan marai tuman, Pak. Kwe ki manjakke anak tenan.” MT: “Halah, Bu. Kwe ki opo-opo mung nyalahke.”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang berada di ruang keluarga. Penutur menegur MT yang dengan mudahnya menuruti permintaan anaknya. MT merasa dipojokkan oleh tuturan penutur. MT lalu membela diri, tetapi penutur masih saja menyalahkan MT yang terlalu memanjakan anak. MT semakin kesal dan membalas tuturan penutur dengan ketus.)

Cuplikan Tuturan 65

P : “Aku juga butuh makan, cepetan!!!” (E7) MT: “Sabar kenapa sih!”

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang bersiap mengerjakan tugas masing-masing. MT yang bertugas mengantar penutur ke pasar tidak cepat-cepat bersiap. Penutur mulai terpancing emosi dan meneriaki MT. MT yang tersinggung dengan tuturan penutur langsung menanggapi dengan kesal pula lalu masuk ke kamar sambil menutup pintu kamar dengan keras.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan E5 : “Pak, kowe opo-opo anak ditukukke. Ngono kuwi marai tuman.” (Pak, kamu apa-apa untuk anak dibelikan. Seperti itu membuat kebiasaan.)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E5 : Penutur berbicara dengan sinis. Penutur berbicara sambil mengerjakan pekerjaan lain. Penutur berbicara tanpa melihat MT. Penutur memancing emosi dan adu mulut dengan MT.

Tuturan E7 : Penutur berbicara dengan suara keras. Penutur berbicara tanpa melihat ke MT. Penutur berbicara dengan ketus.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan E5 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, nada tutur sedang, tekanan lunak pada frasa marai tuman, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan E7 : tuturan dikatakan dengan intonasi perintah, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata cepetan, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata tidak baku, yaitu butuh, cepetan.

4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E5 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang berada di ruang keluarga. Penutur menegur MT yang dengan mudahnya menuruti permintaan anaknya. MT merasa dipojokkan oleh tuturan penutur. MT lalu membela diri, tetapi penutur masih saja menyalahkan MT yang terlalu memanjakan anak. MT semakin kesal dan membalas tuturan penutur dengan ketus. Tuturan terjadi dalam suasana serius. Tuturan terjadi di rumah pada malam hari. Penutur perempuan berusia 37 tahun. MT laki-laki berusia 40 tahun. MT adalah suami dari penutur. Tujuan dari penutur adalah menegur MT yang selalu menuruti permintaan anaknya. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif.

Tindak perlokusi yang terjadi MT balas marah kepada penutur karena ia merasa dipojokkan.

Tuturan E7 : Tuturan terjadi ketika penutur dan MT sedang bersiap mengerjakan tugas masing-masing. MT yang bertugas mengantar penutur ke pasar tidak cepat-cepat bersiap. Penutur mulai terpancing emosi dan meneriaki MT. MT yang tersinggung dengan tuturan penutur langsung menanggapi dengan kesal pula lalu masuk ke kamar sambil menutup pintu kamar dengan keras. Tuturan terjadi dalam suasana tegang. Tuturan terjadi di rumah pada pagi hari. Penutur perempuan berusia 25 tahun. MT laki-laki berusia 20 tahun. MT adalah adik penutur. Tujuan dari penutur adalah memarahi MT yang sangat lambat dalam mengerjakan sesuatu. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal direktif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung menutup pintu kamar dengan keras.

5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan E5 : penutur bermaksud melarang mitra tutur menuruti setiap permintaan anaknya.

Tuturan E7 : penutur bermaksud memperingatkan mitra tutur agar lebih bertindak cepat.

4.2.5.4Subkategori Kesal Cuplikan Tuturan 62

P : “Bu, aku njaluk dolanan anyar yo!”

MT: “Yo, tapi mengku yo, Le, ibu lagek ra ndwe duit.” P : “Halah, ibu ki pelit tenan, ra koyo bapak.” (E4)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur sedang memainkan mainannya.MT sedang membersihkan rumah.Penutur merasa mainannya kurang, ia meminta mainan baru kepada MT.MT menyuruh penutur untuk bersabar karena MT belum memiliki uang lebih untuk membelikan mainan baru untuk penutur. Penutur justru menanggapi nasihat MT dengan marah. Penutur membanding-bandingkan MT dengan ayahnya yang tidak pelit. Karena dibanding-bandingkan, MT langsung memarahi penutur yang tidak bisa memahami keadaan orang tuanya.)

Cuplikan Tuturan 64 P : “Kowe ra sekolah?” MT: “Ora bu, loro weteng.”

P : “Anak kok bandel, nakal, kurangajar!!!” (E6)

(Konteks tuturan: Tuturan terjadi ketika penutur baru saja pulang dari pasar. Sesampai di rumah, penutur mendapat laporan dari nenek MT bahwa MT membolos dari sekolah. Penutur langsung menghampiri MT yang berada di meja makan hendak mengambil makan. Penutur langsung memarahi MT yang bandel tidak mau sekolah. Mendengar tuturan penutur, MT tidak jadi mengambil makanan, tetapi justru membanting piring yang dipegangnya. Tanpa membalas tuturan penutur, MT langsung pergi meninggalkan penutur dengan kesal. Sebenarnya MT izin pulang dari sekolah karena sakit, tetapi ia belum sempat menjelaskan kepada penutur, penutur sudah marah dahulu.)

1) Wujud Ketidaksantunan Linguistik

Wujud ketidaksantunan linguistik berupa transkrip tuturan lisan tidak santun. Berikut adalah wujud ketidaksantunan linguistik dari cuplikan tuturan di atas.

Tuturan E4 : “Halah, ibu ki pelit tenan, ra koyo bapak.” (Halah, ibu itu pelit sekali, tidak seperti bapak.)

2) Wujud Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E4 : Penutur berbicara dengan sinis. Penutur menyindir MT dengan membandingkan MT dengan ayahnya. Penutur berbicara dengan orang tua. Penutur tadinya masih bersabar menjadi marah.

Tuturan E6 : Penutur berbicara dengan suara keras Penutur berbicara dengan berkacak pinggang. Penutur berbicara menggunakan kata-kata kasar.

3) Penanda Ketidaksantunan Linguistik

Tuturan E4 : tuturan dikatakan dengan intonasi berita, partikel halah, nada tutur sedang, tekanan keras pada kata pelit, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan bahasa Jawa.

Tuturan E6 : tuturan dikatakan dengan intonasi seru, partikel kok, nada tutur tinggi, tekanan keras pada kata bandel, nakal, kurangajar, dan diksi bahasa nonstandar dengan menggunakan kata umpatan bandel, nakal, kurangajar. 4) Penanda Ketidaksantunan Pragmatik

Tuturan E4 : Tuturan terjadi ketika penutur sedang memainkan mainannya. MT sedang membersihkan rumah. Penutur merasa mainannya kurang, ia meminta mainan baru kepada MT. MT menyuruh penutur untuk bersabar karena MT belum memiliki uang lebih untuk membelikan mainan baru untuk penutur. Penutur justru menanggapi nasihat MT dengan marah. Penutur membanding-bandingkan MT dengan ayahnya yang tidak pelit. Karena dibanding-bandingkan, MT langsung memarahi penutur yang tidak bisa memahami keadaan orang tuanya. Tuturan terjadi dalam suasana santai. Tuturan terjadi di rumah pada sore hari. Penutur laki-laki berusia 11 tahun. MT

perempuan berusia 37 tahun. MT adalah ibu dari penutur. Tujuan dari penutur adalah marah kepada MT karena tidak dibelikan mainan. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT langsung memarahi penutur yang tidak mau mengerti keadaan orang tuanya. Tuturan E6 : Tuturan terjadi ketika penutur baru saja pulang dari pasar. Sesampai di rumah, penutur mendapat laporan dari nenek MT bahwa MT membolos dari sekolah. Penutur langsung menghampiri MT yang berada di meja makan hendak mengambil makan. Penutur langsung memarahi MT yang bandel tidak mau sekolah. Mendengar tuturan penutur, MT tidak jadi mengambil makanan, tetapi justru membanting piring yang dipegangnya. Tanpa membalas tuturan penutur, MT langsung pergi meninggalkan penutur dengan kesal. Sebenarnya MT izin pulang dari sekolah karena sakit, tetapi ia belum sempat menjelaskan kepada penutur, penutur sudah marah dahulu Tuturan terjadi dalam suasana tegang. Tuturan terjadi di rumah pada sore hari. Penutur perempuan berusia 40 tahun. MT laki-laki berusia 13 tahun. MT adalah anak dari penutur. Tujuan dari penutur adalah memarahi MT yang bolos sekolah. Tindak verbal yang terjadi adalah tindak verbal ekspresif. Tindak perlokusi yang terjadi adalah MT tidak membalas perkataan itu, tetapi membanting piring yang sedang dipegangnya lalu pergi sampai larut malam. 5) Maksud Ketidaksantunan

Tuturan E4 : penutur bermaksud protes kepada mitra tutur yang tidak membelikannya mainan.

Tuturan E6 : penutur bermaksud mengungkapkan kekesalannya kepada mitra tutur yang tidak berangkat sekolah.

4.3 Pembahasan

Data yang telah dianalisis pada bagian sebelumnya akan dibahas secara mendalam pada subbab ini. Secara berurutan, data akan dibahas berdasarkan kategori ketidaksantunan berbahasa dan subkategaori ketidaksantunan berbahasa. Berikut pembahasan dari penelitian ini.