60
9
Menristekdikti di Science Techno Park Bengkulu Bersama Menteri Kordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan,
Puan Maharani pada peluncuran program Nasional 100 STP
Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti cq. Direktur Kawasan Sains dan Teknologi dan Penunjang Lainnya, mendapat tugas untuk memfasilitasi pengembangan/pembangunan SP/TP di sembilan lokasi, yaitu di Papua Barat, Kalimantan Utara, Solo, Sragen, Kaur-Bengkulu, Palembang, Sumbawa, Riau dan Jepara. Selain Kemenristekdikti, enam Kementerian/Lembaga Pemerintah (K/L) lain bertugas membangun SP/STP/NSTP di lokasi lainnya.
Pada tahun 2015 ditargetkan 77 SP/TP yang berdiri, namun baru 60 yang terealisasi, hal ini disebabkan beberapa K/L menunda pembangunan SP/TP/NSTP, ditargetkan pada tahun 2016 target 100 SP/TP/NSTP terpenuhi.
Pengembangan/Pembangunan sembilan SP/TP yang menjadi tanggung jawab Kemenristekdikti cq. Direktorat Kawasan Sain & Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya, Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptekdikti telah berlangsung dengan berbagai variasi kegiatan, tergantung dari kesiapan masing-masing lokasi. ke sembilan lokasi setersebu diantaranya:
1. Papua Barat
Koordinasi awal yang dilaksanakan oleh Kementerian Ristekdikti dengan Bappeda Prov Papua Barat diusulkan untuk lokasi Techno Park. Kemenristekdikti bekerjasama dengan Pemprov. Papua Barat dan Universitas Papua (UNIPA) menyelenggarakan Seminar Pengembangan SP Bidang Fokus Sagu dan Kayu di Prov. Papua Barat
• Science Techno Park Bidang Fokus Sagu di Provinsi Papua Barat perlu dibangun sebagai penggerak perekonomian lokal dan untuk mengembangkan pemanfaatan serta pelestarian potensi dan sumberdaya genetik sagu;
• Lokasi lahan pembangunan gedung
pengelola Science Park sudah tersedia di Universitas Papua, sedangkan untuk lokasi kebun percobaan atau kebon koleksi sagu telah mendapat komitmen dari pemerintah
Kabupaten Sorong Selatan, Perum
Perhutani dan Unipa,
• Bidang Fokus Teknologi Kayu masih perlu memikirkan kembali produk prioritas apa
yang akan dihasilkan berdasarkan potensi dan produksi kayu lokal.
2. Kalimantan Utara
Rencana pembangunan Sains Park (SP) Kaltara disepakati berlokasi berada di lingkungan kampus UBT. Salah satu pertimbangan pemilihan lokasi tersebut adalah dekatnya dengan source of technology yang merupakan salah satu pilar dalam pengembangan STP. Pada tahun 2015, Tim Pengembangan SP Kaltara menghasilkan dokumen pendukung antara lain :
• Kesepakatan lokasi untuk SP Kaltara berada di lingkungan kampus UBT, yang didukung dengan dokumen kesediaan lahan yang ditandanganni oleh Rektor dan Senat UBT.
• Disepakati fokus kegiatan Sains Park (SP) Kaltara pada 2 (dua) bidang yaitu: pertanian dan peternakan, untuk itu perlu dipersiapkan dokumen lengkap terkait rencana pengembangan dan pemanfaatan teknologi serta perencanaan bisnis.
3. Solo
Solo Techno Park adalah Techno Park yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Surakarta, yang dalam tahap awal pembangunannya didukung oleh ATMI Solo. Saat ini Solo Techno Park, adalah Unit Pengelola Teknis (UPT) dibawah Bappeda Kota Surakarta yang dikelola sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLU-D). Fokus teknologi dari Solo TP ini adalah manufaktur.
Menristekdikti berbaur dengan warga saat berkunjung ke Science Technology Park Bengkulu
Laporan Tahunan 2015 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi 76
4.Sragen
Kabupaten Sragen merupakan salah satu lokasi yang dijadikan lokus pengembangan TechnoPark (TP) oleh Kemenristekdikti. Techno Park yang dikembangkan di Kabupaten Sragen adalah merupakan pengembangan dari UPT-LK Techno Park Kabupaten Sragen, yang selama ini telah beroperasi namun kegiatannya berfokus pada latihan kerja (sebagai UPT Latihan Kerja dibawah Dinas Tenaga Kerja kabupaten Sragen).
5. Palembang
Agro Techno Park di Prabumulih Palembang ditujukan untuk menjadi pusat transfer teknologi dan pusat percontohan pusat agro yang unggul di kawasan regional maupun nasional yang telah dibangun sejak tahun 2003 yang diinisiasi oleh Kemenristekdikti. Sejak tahun ini ATP Palembang menjadi bagian dari STP yang akan dikembangkan menjadi STP yang mandiri. Pengembangan ATP didukung oleh Universitas Sriwijaya, BPPT, LIPI dan BATAN dengan memfokuskan kegiatannya pada pertanian, perikanan, transfer teknologi dan Biocyclofarming yang tertuang dalam Master Plan Science Techno Park Provinsi Sumatera Selatan yang disusun pada tahun ini.
6. Kaur
Kabupaten Kaur adalah satu kabupaten yang telah memiliki payung hukum yang cukup untuk mendukung pengembangan Techno Park karena didukung oleh penerbitan SK Bupati tentang Pengelola Techno Park
Pondok Pusaka yang didanai oleh SKPD terkait yang memberikan kemudahan dalam perencanaan anggaran yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan TP Kaur. Dari hasil review terhadap Pondok Pusaka,
direkomendasikan penyusunan Master
Plan Techno Park, dan hal ini dilaksanakan pada tahun ini. Pengembangan TP Kaur yang pengembangannya didukung oleh Universitas Bengkulu, berkonsentrasi pada pengembangan dua komoditi unggul, yaitu Mocaf dan Kopi.
7. Sumbawa
Pembangunan Sumbawa Techno Park
dimotori oleh Kemenristekdikti yang bekerja sama dengan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan Pemda setempat. Sebagai salah satu daerah yang memiliki akses transportasi yang minim, Sumbawa memiliki potensi lahan yang luas untuk pembangunan pusat transfer teknologi bagi masyarakat (luas wilayah 6.643,98 Km²). Berdasarkan potensi-potensi yang terdapat di Kabupaten Sumbawa, Master Plan yang disusun memiliki konsentrasi pada pangan dan pertambangan (emas, bijih besi, logam dan batuan).
8. Riau
Lokasi STP Riau ini secara administrasi berada di wilayah Desa Baru, Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, 20 km dari Kota Pekanbaru. Pangan merupakan Fokus pengembangan STP Riau bertemakan pangan secara detail dibagi menjadi empat kelompok besar yaitu produk berbasis: (1) perikanan (dan microalgae); (2) kelapa; (3) sagu; dan; (4) nanas.
9. Jepara
Kabupaten Jepara merupakan salah
satu lokasi pengembangan Techno Park
yang berbasis kemaritiman. Konsep
Maritime Science Technology Park (MSTP) dapat dideinisikan sebagai kawasan yang memfasilitasi perkembangan Iptek Kemaritiman dari Lembaga Litbang/ Universitas dan Industri agar tejadi proses inkubasi dan inovasi bagi industri kecil menengah (IKM) kemaritiman.
Kunjungan ke Puribangtek Siak Hulu [kanan bawah]
Akademi Komunitas, Siapkan Tenaga Terampil untuk Kebutuhan Lokal. Dunia usaha dan industri membutuhkan pasokan tenaga kerja siap pakai dan terampil. Sayangnya, tenaga yang dikehendaki seringkali tidak tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga terpaksa menggunakan tenaga kerja lokal walaupun tidak sesuai dengan kebutuhannya, atau mencarinya dari daerah lain. Cara ini tentu kurang eisien dan mahal.
Dibutuhkan lembaga pendidikan yang cocok untuk mengatasinya. Cara yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mendirikan sumber pemasuk tenaga kerja terampil di tempat dunia usaha dan industri berada. Akademi Komunitas (AK) adalah salah satu terobosan yang dilakukan Kemenristekdikti dalam menjawab persoalan ini, Akademi Komunitas (AK) adalah gabungan dari demand driven curriculum dan jalur pendidikan alternatif. Konsepnya adalah bentuk perguruan tinggi yang menjalankan program pendidikan vokasi tingkat diploma satu dan diploma dua, dengan kekhususan pada cabang ilmu pengetahuan dan teknologi tertentu berbasis keunggulan lokal serta memenuhi kebutuhan khusus di berbagai lokasi pertumbuhan ekonomi.
Harapannya, lulusan Program Akademi Komunitas dapat langsung dierap oleh dunia usaha dan industri. Hal ini sejalan dengan Program Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dicanangkan pemerintah. Tujuan lain dari program ini adalah meningkatkan APK (angka partisipasi kasar) pendidikan tinggi yang masih sangat rendah.