• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.019.688 100,00 100,00 Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

HASIL DAN PEMBAHASAN Strukur Ekonomi Kabupaten Samosir

PDRB 1.196.465 2.019.688 100,00 100,00 Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

2006 2012 2006 2012 1 Pertanian 745.804 1.192.116 62,33 59,02 2 Pertambangan dan Penggalian 677 1.277 0,06 0,06 3 Industri Pengolahan 15.893 35.409 1,33 1,75 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1.765 3.448 0,15 0,17

5 Bangunan 3.206 8.131 0,27 0,40

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran

122.068 195.362 10,20 9,67 7 Pengangkutan dan

Komunikasi

13.290 29.726 1,11 1,47 8 Keuangan, Real Estat dan

Jasa Perusahaan

26.019 48.922 2,17 2,42

9 Jasa-jasa 267.743 505.297 22,38 25,02

PDRB 1.196.465 2.019.688 100,00 100,00 Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

Berdasarkan Tabel 11, terlihat bahwa perekonomian Kabupaten Samosir terdiri dari 9 (sembilan) sektor/lapangan usaha, seperti kondisi perekonomian nasional. Secara umum, menurut harga berlaku sektor yang mendominasi perekonomian Kabupaten Samosir adalah sektor pertanian dan jasa. Sementara itu sektor yang peranannya paling kecil adalah sektor pertambangan dan penggalian. Begitu juga PDRB menurut harga konstan tahun 2000. Sektor yang mendominasi adalah sektor pertanian dan jasa. Sementara sektor yang paling kecil adalah pertambangan dan penggalian. Pada Tabel 12 dapat dilihat, jumlah output dan distribusi setiap sektor menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan. Pada tahun 2006, sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Samosir, yakni sebesar Rp 589.088.000.000 (67,82%), diikuti dengan sektor jasa yaitu Rp 159.903.000.000 (18,41%), perdagangan, hotel dan restoran

sebesar Rp 75.685.000.000 (8,7%). Pola yang sama terjadi pada tahun 2012, dimana sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Samosir.

Tabel 12 PDRB Kabupaten Samosir Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2006 dan 2012

No Lapangan Usaha

Nilai output Distribusi

(Juta Rupiah) (%) 2006 2012 2006 2012 1 Pertanian 589.088 805.337 67,82 67,69 2 Pertambangan dan Penggalian 292 419 0,03 0,04 3 Industri Pengolahan 13.069 15.576 1,50 1,31

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1.086 1.774 0,13 0,15 5 Bangunan 2.633 4.688 0,30 0,39 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 75.685 104.645 8,71 8,8 7 Pengangkutan dan Komunikasi 9.625 13.234 1,11 1,11 8 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan

17.203 24.323 1,98 2,04

9 Jasa-jasa 159.903 219.695 18,41 18,47

PDRB 868.584 1.189.691 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator dalam melakukan analisis mengenai pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi akan menunjukkan bagaimana kegiatan perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode. Pada dasarnya, kegiatan perekonomian adalah suatu tahap penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output. Oleh karena itu, adanya pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat juga.

Analisis dengan shift-share merupakan salah satu alat analisis yang memiliki kelebihan dalam melihat pola ataupun potensi pertumbuhan daerah dan besarnya angka pertumbuhan yang seharusnya dapat dicapai atau terjadi. Potensi pertumbuhan ekonomi per sektor dapat dianalisis dengan menggunakan metode

shift share analysis, dengan fungsi dari regional share (R), proportional shift

(Sp), dan differential shift (Sd). Analisis dengan metode ini merupakan salah satu alat analisis yang memiliki kelebihan dalam melihat pola pertumbuhan daerah dan besarnya angka pertumbuhan yang seharusnya dapat dicapai atau terjadi. Analisis ini dilakukan dengan membandingkannya terhadap perekonomian Provinsi Sumatera Utara.

Tabel 13 Hasil Analisis Shift-Share Kabupaten Samosir Tahun 2006-2012

No Lapangan Usaha Komponen Pergeseran Struktur Ekonomi Pertumbuhan Regional Pertumbuhan Proporsional Keunggulan Kompetitif Pertumbuhan R Sp Sd G 1 Pertanian 259.474,56 -50.685,60 7.459,82 216.248,78 2 Pertambangan dan Penggalian 128,63 -22,80 21,14 126,97 3 Industri Pengolahan 5.756,81 -2.823,88 -426,67 2.506,25 4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 478,63 -128,67 337,41 687,37 5 Bangunan 1.159,91 251,86 642,87 2.054,64 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 33.337,00 3.460,33 -7.837,73 28.959,60 7 Pengangkutan dan Komunikasi 4.239,90 2.283,73 -2.915,52 3.608,11 8 Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan 7.577,76 7.198,10 -7.656,75 7.119,11 9 Jasa-jasa 70.432,44 20.913,44 -31.554,50 59.791,38 PDRB 382.585,64 -19.553,49 -41.929,94 321.102,21 Sumber: Data diolah (2014)

Dari analisis seperti yang terlihat pada Tabel 13, didapatkan hasil bahwa sektor yang memiliki pertumbuhan paling cepat di Kabupaten Samosir bila dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata Provinsi Sumatera Utara adalah sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki angka komponen pertumbuhan provinsi sebesar 259.474,56 dan diikuti sektor jasa sebesar 70.432,44. Sektor yang

memiliki pertumbuhan provinsinya paling lambat adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 128,63. Berdasarkan hasil analisis ini maka dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional Kabupaten Samosir yang lebih tinggi di masa yang akan datang adalah dengan mendorong sektor pertanian dan sektor jasa lebih besar dibandingkan saat sekarang. Sektor pertanian merupakan sektor yang pertumbuhannya paling besar di Kabupaten Samosir. Namun berdasarkan hasil shift share analysis (Tabel 13), Sektor pertanian bukan merupakan sektor yang maju. Hal ini terlihat dari nilai komponen pertumbuhan proportional (Sp) yang bernilai negatif sebesar -50.685,60. Oleh karena itu, pemerintah harus memajukan sektor pertanian di masa yang akan datang.

Dari hasil shift share analysis diperoleh bahwa sektor ekonomi di Kabupaten Samosir yang memiliki daya saing tinggi adalah sektor pertanian. Hal ini tercermin dari nilai Differential Shift (Sd) sektor pertanian bernilai positif yaitu sebesar 7.459,82. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang paling unggul di Kabupaten Samosir. Sektor ini mampu bersaing dengan produk pertanian yang dihasilkan dari luar yang masuk ke Kabupaten Samosir. Pemerintah daerah perlu meningkatkan produktivitas produk pertanian dan membudidayakan pertanian organik seperti beras SRI.

Pada tabel 14 dapat dilihat pertumbuhan (G) Kabupaten Samosir adalah 321.102,21 sejak 2006 hingga 2012. Perubahan itu secara umum memiliki pertumbuhan yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara dalam periode yang sama. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara sebesar 382.585,64. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Provinsi Sumatera Utara lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Samosir dengan selisih 61.483,43.

Dilihat dari pertumbuhan (G) setiap sektor, jumlah pertumbuhan untuk sektor pertanian sebesar 67,35 persen. Artinya bahwa pertumbuhan sektor pertanian relatif jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi. Jumlah pertumbuhan (G) sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,04 persen. Artinya bahwa pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian relatif sangat lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi.

Tabel 14 Total Pertumbuhan Hasil Analisis Shift-Share Kabupaten Samosir Tahun 2006-2012

No Lapangan Usaha Pertumbuhan

G %

1 Pertanian 216.248,78 67,35

2 Pertambangan dan Penggalian 126,97 0,04

3 Industri Pengolahan 2.506,25 0,78

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 687,37 0,21

5 Bangunan 2.054,64 0,64

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 28.959,60 9,02

7 Pengangkutan dan Komunikasi 3.608,11 1,12

8 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 7.119,11 2,22

9 Jasa-jasa 59.791,38 18,62

Total 321.102,21 100

Sumber : Data diolah (2014)

Jumlah pertumbuhan (G) sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan berturut-turut adalah sebesar 0,78 persen, 0,21 persen, dan 0,64 persen. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ketiga sektor relatif lambat dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi. Jumlah pertumbuhan (G) sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 9,02 persen. Artinya bahwa pertumbuhan sektor perdagangan, hotel, dan restoran relatif cepat dibandingkan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi.

Jumlah pertumbuhan (G) sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan secara berturut-turut adalah sebesar 1,12 persen dan 2,22 persen. Hal ini menunjukkan pertumbuhan kedua sektor ini lebih cepat dibandingkan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi. Jumlah pertumbuhan (G) sektor jasa-jasa sebesar 18,62 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor jasa-jasa lebih cepat dibandingkan pertumbuhan PDRB sektor yang sama pada tingkat provinsi.

Dari keseluruhan total pertumbuhan setiap sektor dapat dilihat bahwa belum terjadi pergeseran struktur ekonomi di Kabupaten Samosir namun pertumbuhan ekonomi kabupaten ini mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan paling cepat adalah sektor pertanian diikuti dengan sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Oleh karena itu, dapat dikatakan kabupaten ini

memiliki sektor unggul di sektor pertanian yang diikuti dengan sektor jasa-jasa dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini dikarenakan kabupaten ini masih mengandalkan produktivitas pertanian sebagai pendapatan daerah dan sektor jasa-jasa dimana kabupaten ini memiliki potensi pariwisata yang cukup besar seperti budaya, adat-istiadat, dan keindahan alam Danau Toba. Fenomena tersebut yang membuat ketiga sektor yang memiliki pertumbuhan paling cepat dibandingkan sektor lainnya.

Beda halnya dengan pertumbuhan sektor ekonomi di Kabupaten Toba Samosir. Kabupaten ini merupakan kabupaten induk sebelum Samosir menjadi sebuah kabupaten. Dari hasil perhitungan shift share PDRB Kabupaten Toba Samosir tahun 2003-2010 seperti yang terlihat pada tabel 6 halaman 17 diperoleh sektor yang paling cepat pertumbuhannya adalah sektor industri sebesar 1.201.268,47 dan sektor pertanian sebesar 663.073,27. Besarnya nilai pertumbuhan sektor industri merupakan dua kali besarnya nilai pertumbuhan sektor pertanian. Nilai tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran sektor primer di kabupaten ini.

Dari pertumbuhan ekonomi setiap sektor di Kabupaten Toba Samosir selama kurun waktu 8 tahun (2003-2010) diperoleh total pertumbuhan sebesar 2.845.945. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Toba Samosir jauh lebih cepat dibandingkan dengan Kabupaten Samosir. Hal ini wajar dikarenakan Kabupaten Samosir merupakan sebuah kabupaten baru.

Laju Konversi Lahan

Alih fungsi lahan atau yang sering disebut konversi lahan terjadi mengikuti pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, dan pembangunan wilayah. Pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi, dan pembangunan wilayah yang semakin tinggi akan menyebabkan permintaan terhadap lahan meningkat sementara ketersediaan lahan terbatas. Hal inilah yang harus dijaga agar penggunaan lahan dapat berkelanjutan di masa yang akan datang.

Penelitian yang dilakukan dengan melakukan data sekunder dari tahun 2004 hingga 2012 dimaksudkan untuk mengetahui laju konversi lahan di Kabupaten Samosir secara parsial. Laju secara parsial merupakan analisis yang memperlihatkan perubahan penggunaan lahan pertanian dari tahun ke tahun.

Perubahan penggunaan lahan tersebut menjadi pemukiman, industri, maupun sarana prasarana lainnya.

Tabel 15 Luas dan Laju Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir Tahun 2004-2012

Tahun Lahan Pertanian Luas terkonversi (Ha) Laju Konversi (%) 2003 128.556 - - 2004 121.857 6.699 -5,21 2005 120.559 1.298 -1,07 2006 118.461 2.098 -1,74 2007 117.101 1.360 -1,15 2008 116.230 871 -0,74 2009 116.228 2 0,00 2010 116.137 91 -0,08 2011 116.123 14 -0,01 2012 116.083 40 -0,03 Total 12.473 -10,03 Rata-rata 1.386 -1,11

Sumber : Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Samosir (diolah)

Penggunaan lahan di Kabupaten Samosir sebelum Samosir menjadi sebuah kabupaten yaitu tahun 2003 didominasi oleh lahan pertanian. Luas lahan pertanian mengalami penurunan sebesar 12.473 ha dalam kurun waktu 2004-2012. Penurunan luas lahan pertanian secara besar-besaran terjadi pada tahun 2004-2007. Ini disebabkan terjadinya pembangunan sarana dan prasarana untuk perkantoran pemerintahan Kabupaten Samosir pada tahun tersebut.

Pada Tabel 15 nilai laju penyusutan luas lahan yang diperoleh bertanda negatif. Hal ini menggambarkan adanya penyusutan luas lahan pertanian akibat adanya konversi lahan. Ini berarti selama 9 tahun luas lahan pertanian berkurang sebesar 10,03 persen dan rata-rata penyusutan per tahunnya sebesar 1,11 persen.

Penurunan luas lahan pertanian akibat terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian juga diikuti dengan pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Hal ini menyebabkan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal seperti pemukiman. Seperti yang terlihat pada Tabel 16, peningkatan penduduk terjadi setiap tahun. Jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 151.983 jiwa. Nilai ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2004 sebanyak 130.078 jiwa. Hal ini sejalan dengan kepadatan wilayah Kabupaten Samosir yang semakin padat setiap tahunnya.

Tabel 16 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Wilayah Kabupaten Samosir Tahun 2004-2013

Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan (Jiwa/km2)

2004 130.078 90,07 2005 130.568 90,41 2006 130.652 90,46 2007 131.205 90,85 2008 131.549 91,08 2009 132.023 91,41 2010 144.843 100,29 2011 145.119 100,48 2012 148.629 102,91 2013 151.983 105,23

Sumber : Dinas Catatan Sipil dan BPS Kabupaten Samosir (diolah)

Turunnya luas lahan pertanian akibat konversi yang diikuti pertumbuhan penduduk yang meningkat berdampak pada jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. Lahan pertanian merupakan tempat para tenaga kerja pertanian mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dengan penurunan luas lahan pertanian, maka jumlah tenaga kerja di sektor pertanian juga menurun (Tabel 17).

Tabel 17 Persentase Tenaga Kerja dan Luas Lahan Pertanian Kabupaten Samosir Tahun 2006-2012

Tahun Tenaga Kerja Pertanian (%) Lahan Pertanian (ha)

2006 84,3 118.461 2007 82,6 117.101 2008 84,26 116.230 2009 80,18 116.228 2010 78,48 116.137 2011 74,17 116.123 2012 70,09 116.083

Sumber : Data diolah (2014)

Menurut Colton, nilai korelasi (r) sama dengan 0,51-0,75 termasuk dalam kategori yang memiliki hubungan korelasi yang kuat. Pada Tabel 18 dapat dilihat bahwa terdapat korelasi antara luas lahan pertanian dengan persentase tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 0,57. Nilai tersebut berada diantara 0,50-0,75, artinya bahwa terdapat hubungan korelasi yang kuat antara luas lahan pertanian dengan tenaga kerja. Hal ini dikarenakan seiring terjadinya penurunan luas lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian menjadi non pertanian tenaga kerja di sektor pertanian pun menurun.

Samosir Tahun 2006-2012

Lahan Pertanian Tenaga Kerja

Lahan Pertanian 1 0.576

Tenaga Kerja 0.576 1

Sumber : Data Diolah (2014)

Secara umum konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian yang terjadi sangatlah terpola. Konversi yang terjadi mulai dari pusat Kabupaten kemudian bergerak ke arah luar menjauh dari pusat kota. Konversi juga terjadi mulai dari 50 meter jarak dari danau. Ini terjadi karena Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah tujuan wisata. Sehingga dari tahun ke tahun pembangunan hotel ataupun sarana prasarana lainnya yang menunjang aktivitas wisata di daerah ini semakin banyak.

Tabel 18 Luas dan Laju Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2003-2012

Tahun Luas Lahan Pertanian (ha)

Perubahan

(ha) Laju Konversi (%)

2003 136.509 0 0 2004 136.509 0 0 2005 91.165 -45.344 -33,2169 2006 91.155 -10 -0,01097 2007 92.285 1.130 1,239647 2008 99.027 6.742 7,305629 2009 120.052 21.025 21,23158 2010 123.330 3.278 2,730483 2011 123.330 0 0 2012 108.316 -15.014 -12,1738 Total -28.193 -12,8943 Rata-rata -2819,3 -1,28943

Sumber : BPS Kabupaten Toba Samosir (diolah)

Selain di Kabupaten Samosir, luas lahan pertanian juga menurun di Kabupaten Toba Samosir seperti yang terlihat pada Tabel 18. Toba Samosir merupakan ibukota kabupaten Samosir sebelum Samosir menjadi sebuah kabupaten yang baru. Seperti yang terlihat pada Tabel 18, laju konversi lahan pertanian yang terjadi selama 9 tahun adalah sebesar 12,8943 persen dengan rata-rata laju konversi lahan pertanian yang terjadi selama 9 tahun adalah sebesar 12,8943 persen dengan rata-rata per tahun adalah 1,2893 persen.

Laju konversi lahan pertanian selama tahun 2004 hingga 2012 di Kabupaten Samosir dan Kabupaten Toba Samosir tidak jauh berbeda dengan rata-rata laju

konversi secara berturut-turut sebesar 1,11 persen per tahun dan 1,29 persen per tahun. Jika dilihat secara langsung, konversi yang terjadi di Kabupaten Toba Samosir selain dikarenakan penduduk kabupaten tersebut semakin meningkat yang berdampak pada peningkatan pemukiman, kabupaten tersebut juga merupakan jalur lalu lintas antar daerah dan antar provinsi. Hal tersebut menyebabkan permintaan akan sumberdaya lahan semakin meningkat.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan di Tingkat Wilayah Konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir pada tahun 2004-2012 dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat membawa konsekuensi terhadap perubahan alokasi sumberdaya lahan. Perubahan tersebut tentunya dari sektor primer ke sekunder/tersier yaitu sektor pertanian ke sektor non pertanian.

Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel dependent adalah penurunan luas lahan pertanian (konversi lahan pertanian). Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penurunan luas lahan pertanian di Kabupaten Samosir yang digunakan sebagai variabel independent adalah luas bangunan, jumlah industri, dan tenaga kerja di sektor pertanian.

Analisis dalam menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di tingkat wilayah Kabupaten Samosir menggunakan analisis regresi linier berganda. Data yang digunakan dalam menentukan model tersebut merupakan data time series pada tahun 2004-2012. Pada penelitian ini, data tersebut diolah menggunakan software Eviews 6.

Hasil estimasi memperlihatkan bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini baik. Berdasarkan Tabel 20 diperoleh koefisien determinasi (Adj R-Squared) sebesar 0,8356. Artinya keragaman yang mampu dijelaskan oleh faktor-faktor penjelas dalam model sebesar 83,56 persen sedangkan sisanya 16,44 persen dijelaskan oleh faktor-faktor di luar model. Nilai perluang uji F statistik (Prob f-statistic) yang diperoleh sebesar 0,006628 atau sebesar 0,6628 persen. Nilai prob f-statistic ini lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu 20 persen. Artinya bahwa dari hasil estimasi regresi minimal ada satu variabel independen yang mempengaruhi variabel dependennya.

Untuk melihat signifikan atau tidaknya pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel dependennya dapat dilihat dari probabilitas setiap variabel independennya. Berdasarkan Tabel 18 kedua variabel berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan luas lahan pertanian. Artinya luas bangunan dan

jumlah penduduk berpengaruh nyata pada taraf α = 20 persen.

Model yang dihasilkan dari regresi linear berganda haruslah baik, sehingga harus memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Untuk memenuhi kriteria BLUE, penelitian ini melihat bagaimana uji normalitas, autokorelasi, multikolinearitas dan heteroskedastisitas dari model ini. Sehingga model ini dapat dikatakan baik.

Tabel 20 Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan Pertanian di Tingkat Wilayah Kabupaten Samosir

Variable Coefficient t-Statistic Prob. VIF

C 81784,71 3,115952 0,0264

LUAS BANGUNAN -6,444829 -2,275992 0,0719 5,432

JUMLAH INDUSTRI 22,91195 2,296194 0,0701 4,947

TENAGAKERJA

PERTANIAN 534,5732 2,124503 0,0870 6,726

R-squared 0,897299 Mean dependent var 116779,1

Adjusted R-squared 0,835679 S.D. dependent var 3809,153

S.E. of regression 1544,099 Akaike info criterion 17,82337

Sum squared resid 11921215 Schwarz criterion 17,91103

Log likelihood -76,20517 Hannan-Quinn criter. 17,63421

F-statistic 14,56171 Durbin-Watson stat 2,381549

Prob(F-statistic) 0,006628

Sumber: Data Sekunder (diolah)

Pertama, untuk memeriksa normalitas model ini maka digunakan nilai probabilitas pada histogram of normality test. Dalam model ini nilai probabilitasnya diperoleh sebesar 0,8583 atau sebesar 85,83 persen. Nilai ini lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 20 persen (0,2). Sehingga dapat dikatakan bahwa model ini residual menyebar secara normal.

Kedua, berdasarkan hasil pengolahan data dapat kita lihat apakah model memiliki korelasi antar variabel. Untuk memeriksa adanya autokolerasi, dilihat dari nilai Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test. Hasil yang diperoleh adalah nilai Prob. Chi-square sebesar 0,310 atau sebesar 31,0 persen. Nilai ini lebih besar dari taraf nyata 20 persen, artinya bahwa tidak terjadi autokolerasi di dalam model.

Ketiga, dalam membuktikan ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model kita dapat melihat dari nilai VIF. Apabila nilai VIF yang dihasilkan di bawah 10 maka dapat disimpulkan bahwa di dalam model tidak terjadi multikolinearitas. Berdasarkan hasil pengolah data dihasilkan nilai VIF dari luas bangunan dan jumlah penduduk berkisar antara 0 sampai 7. Itu artinya tidak terjadi multikolinearitas di dalam model.

Keempat, untuk melihat apakah suatu model homokedastitsitas atau heterokedastisitas dapat dilihat dari uji Breusch-Pagan-Godfrey dan uji Glejser. Dari uji Breusch-Pagan-Godfrey diperoleh nilai Prob. Chi-square sebesar 0,5456 (54,56%) dan dari uji Glejser diperoleh nilai Prob. Chi-square sebesar 0,2520 (25,20%). Nilai tersebut lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu sebesar 20 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada model ini tidak ditemukan masalah heteroskedastisitas.

Model hasil estimasi regresi faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di tingkat wilayah Kabupaten Samosir tahun 2004-2012, sbb:

Ln Y = 81785 - 6,44 X1 + 22,9 X2 + 535 X3

Berdasarkan hasil estimasi koefisien luas lahan bangunan (X1) berpengaruh negatif terhadap luas lahan pertanian. Dimana nilai probabilitas lahan bangunan 0,0701 lebih kecil dari taraf nyata sebesar 0,2 (20 persen). Untuk nilai elastisitas luas lahan bangunan adalah sebesar 6,44. Hal ini berarti peningkatan luas lahan bangunan sebesar 1 persen akan diikuti oleh penurunan luas lahan pertanian sebesar 6,44 hektar (cateris paribus). Adanya peningkatan luas lahan bangunan menyebabkan kebutuhan akan lahan meningkat dengan ketersediaan lahan yang tetap, sehingga akan terjadi konversi lahan pertanian.

Keadaan Kabupaten Samosir yang sedang berkembang dan daerah tujuan wisata merupakan salah satu faktor luas lahan bangunan akan meningkat. Hal ini terjadi dikarenakan adanya pembangunan infrastruktur perkantoran, restoran, perhotelan dan pemukiman. Untuk memenuhi pembangunan tersebut, maka konversi lahan sulit untuk dihindari.

Selain pengaruh luas lahan bangunan yang meningkat, konversi lahan di tingkat wilayah Kabupaten Samosir juga dipengaruhi oleh jumlah industri. Dari hasil estimasi koefisien jumlah industri (X2) diperoleh bahwa X2 berpengaruh

positif terhadap penurunan luas lahan pertanian. Nilai probabilitasnya sebesar 0,0701 atau sebesar 7,01 persen, nilai ini lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu 0,2 atau sebesar 20 persen. Nilai elastisitasnya adalah 22,91. Hal ini berarti bahwa peningkatan jumlah industri sebesar 1 persen akan mengakibatkan penurunan luas lahan pertanian sebesar 22,91 persen (cateris paribus). Banyaknya industri akan menurunkan luas lahan pertanian. Harga sewa yang diberikan oleh sektor industri lebih besar dibandingkan harga sewa dari lahan pertanian itu sendiri.

Faktor tenaga kerja di sektor pertanian memiliki hubungan positif dan berpengaruh nyata terhadap penurunan luas lahan pertanian. Variabel tenaga kerja (X3) memiliki probabilitas sebesar 0,0870 atau sebesar 8,70 persen. Nilai ini lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu 0,2 atau sebesar 20 persen. Untuk nilai elastisitasnya sebesar 534,57 dan memiliki hubungan yang positif terhadap penurunan luas lahan pertanian. Hal ini berarti peningkatan tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 1 persen akan mengakibatkan peningkatan luas lahan pertanian sebesar 534,57 persen (cateris paribus). Tenaga kerja di sektor pertanian yang semakin meningkat akan mempertahankan luasan lahan pertanian yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa konversi lahan pertanian terjadi pada tenaga kerja di sektor pertanian yang semakin sedikit.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konversi Lahan di Tingkat Petani Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan tidak hanya dilihat di tingkat wilayah saja namun juga dilihat dari sisi petani itu sendiri. Hal ini dilakukan untuk melihat penyebab petani mengkonversi sendiri atau menjual lahannya sehingga terjadi konversi lahan.

Keputusan petani dalam melakukan konversi lahan dipengaruhi oleh lama tinggal, pengalaman bertani, harga benih, harga pupuk dan hasil panen. Variabel

dependent yang digunakan terdapat 2 kemungkinan. Bagi responden yang melakukan konversi lahan pertanian diberi nilai 1 (Y=1) dan bagi responden yang tidak melakukan konversi lahan diberi nilai 0 (Y=0). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik dengan menggunakan software

Berdasarkan hasil analisis logistik diperoleh nilai Sig. pada Omnimbus test

(tabel 21) yaitu sebesar 0.000 (0 persen). Nilai tersebut lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan yaitu 20%. Artinya adalah bahwa variabel yang digunakan mempengaruhi keputusan petani untuk menjual/mengkonversi lahannya.

Tabel 21 Omnibus Test of Model Coefficients

Chi-square Df Sig.

Step 59,465 5 0

Block 59,465 5 0

Model 59,465 5 0

Sumber: Data Primer (diolah)

Pada Tabel 22 dapat dilihat bahwa nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,846 atau 84,6 persen. Artinya variabel yang berpengaruh nyata sudah mampu menjelaskan alasan petani menjual/mengkonversi lahannya. Dengan kata lain, model ini sangat baik.

Tabel 22 Uji Likelihood

Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square

1 22,039 0,629 0,846

Sumber : Data Primer (diolah)

Dalam pengujian goodness of fit (uji akurasi model) dilakukan dengan memperhatikan nilai sebaran chi-square. Nilai chi-square yang diperoleh dari

Hosmer and Lemeshow Test sebesar 0,998. Nilai tersebut lebih besar dari taraf nyata yang digunakan yaitu 0,2. Ini menunjukkan bahwa model yang dihasilkan

Dokumen terkait