• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

STRUKTUR EKONOMI DAN KONVERSI LAHAN

PERTANIAN DI KABUPATEN SAMOSIR

LASRIA RISTAULI PARHUSIP

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Struktur Ekonomi dan

Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir adalah benar karya saya dengan

arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada

perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau diikuti dari karya

yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam

teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut

Pertanian Bogor.

Bogor, April 2014

(3)

ABSTRAK

LASRIA RISTAULI PARHUSIP. Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir. Dibimbing oleh NINDYANTORO.

Kabupaten Samosir memiliki kekayaan alam yang berlimpah baik di sektor pertanian dan non pertanian. Namun, jika pembangunan sektor non pertanian di kabupaten ini tidak terarah akan merusak lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis struktur ekonomi di Kabupaten Samosir, mengestimasi besarnya laju konversi lahan pertanian, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian. Penelitian ini menggunakan metode shift share analysis, laju parsial, analisis regresi linier berganda, analisis regresi logistik, dan content analysis. Sampel diambil dengan purposive sampling. Satu dekade setelah pemekaran menjadi sebuah kabupaten, ternyata Kabupaten Samosir belum mengalami pergeseran struktur ekonomi dan pertumbuhan stuktur ekonomi kabupaten ini mengalami pertumbuhan yang positif. Sektor yang paling besar kontribusinya terhadap PDRB adalah sektor pertanian sebesar 67,35 persen diikuti sektor jasa sebesar 18,62 persen dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,02 persen. Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan Kabupaten Samosir memiliki sektor unggul di sektor pertanian. Oleh karena itu, kabupaten ini harus meningkatkan atau mempertahankan produksi pertaniannya khususnya tanaman pangan. Konversi lahan telah terjadi di Kabupaten Samosir setiap tahun. Rata–rata laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir sebesar 1,1 persen per tahun. Pada penelitian ini, luas lahan bangunan, jumlah industri, dan persentase tenaga kerja sektor pertanian merupakan faktor yang menyebabkan adanya konversi lahan di tingkat wilayah. Faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di tingkat petani yaitu lama tinggal, pengalaman bertani, harga pupuk, dan hasil panen. Berdasarkan hasil content analysisdraft Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) dan media massa, RTRW tampaknya bersifat konservatif dan prasarana pariwisata memiliki keterkaitan yang luas terhadap pertanian, industri, dan jasa. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mendukung pariwisata yang berbasis pertanian sehingga diharapkan dapat mengendalikan konversi lahan yang terjadi.

(4)

ABSTRACT

LASRIA RISTAULI PARHUSIP. Economic Structure and Conversion of Agricultural Land in Samosir Regency. Supervised by NINDYANTORO.

Samosir district has abundant natural resources both in agriculture and non-agriculture. However, if the construction is not directed to destroy the environment. The purpose of the study are to analyze the economic structure of Samosir District, to estimate the magnitude of the rate of conversion of agriculture land, and to identify the factors of agricultural land conversion. This survey used several tools, such as shift share analysis, partial rate, multiple regression analysis, logistic regression analysis, and content analysis. Sample were taken by purposive sample. A decade after separation became a district, in fact Samosir regency has not experienced a shift of economic structure and growth of the economic structure of the district experienced a positive growth. The largest sector contribution to GDP is agricultural sector by 67,35 percent followed by 18,62 percent service sector and trade, hotel and restaurant of 9,02 percent. Based on these results it can be said Samosir regency has a superior sector in the agricultural sector. Therefore, the district must improve or maintain agricultural production, especially food crops. Land conversion has taken place every year in Samosir regency. Average rate of conversion of agricultural land in Samosir regency of 1,1 percent per year. In this thesis, building land area, industrial, and percentage of labor in the agriculture sector are factors that led to the conversion of land at the regional level. Factors affecting the conversion of agricultural land at the farm level are long lived, farming experience, the price of fertilizer, and harvest. Based on content analysis the draft Regulation (RAPERDA), RTRW seems to be conservative and tourism infrastructure have extensive linkages to agriculture, industry, and services. This suggests that local governments pro-agriculture-based tourism that is expected to control agricultural land conversion occurs.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

STRUKTUR EKONOMI DAN KONVERSI LAHAN

PERTANIAN DI KABUPATEN SAMOSIR

LASRIA RISTAULI PARHUSIP

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)

Judul Skripsi : Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir Nama : Lasria Ristauli Parhusip

NIM : H44100012

Disetujui oleh

Ir Nindyantoro, MSP Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Aceng Hidayat, MT Ketua Departemen

(7)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih, rahmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Samosir”.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ir. Nindyantoro, MSP selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan serta arahan kepada penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Adi Hadianto, S.P, MSi dan Ibu Hastuti, S.P, M.P, M.Si selaku dosen penguji atas saran dan masukannya dalam penulisan karya ilmiah ini. Disamping itu, terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Tommy Naibaho dan Bapak Rikardo Hutajulu dari BAPPEDA Kabupaten Samosir, Bapak Antoni Silalahi dan Bapak Sumarlan Malau dari Dinas Tata Ruang dan Pemukiman, serta para penyuluh pertanian dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Samosir. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orangtua yaitu Bapak Peniel Parhusip dan Ibu Rumintang Sihombing serta abang dan kedua adik penulis yaitu Wesly Boy Josua, Immanuel Dwi Putra dan Yogi Sarjoko yang selalu setia membantu dan memberikan semangat kepada penulis. Begitu juga kepada sahabat penulis Margaretha Situmorang yang selalu memberikan semangat dan menemani penulis dalam mengerjakan skripsi ini dan keluarga besar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB khususnya dosen-dosen ESL dan rekan-rekan ESL 47 atas semua

dukungan dan bantuannya. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada semua orang yang turut berpartisipasi dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan dalam karya ilmiah ini dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari teman-teman agar karya ilmiah ini dapat menjadi lebih baik. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, April 2014

(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... ii

DAFTAR LAMPIRAN ... ii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Perumusan Masalah ... 4

Tujuan Penelitian ... 8

Manfaat Penelitian ... 9

Ruang Lingkup Penelitian ... 9

TINJAUAN PUSTAKA Lahan Pertanian ... 10

Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertani ... 11

Faktor Konversi Lahan Pertanian ... 13

Tata Ruang ... 14

Penelitian Terdahulu ... 15

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Teoritis ... 17

Pertumbuhan dan Pergeseran Sektor Ekonomi ... 17

Konversi Lahan ... 18

Kerangka Operasional ... 20

METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21

Jenis dan Sumber Data ... 21

Metode Pengambilan Sampel ... 21

Analisis Data ... 22

Shift Share Analysis ... 22

Laju Parsial... 25

Analisis Regresi Berganda ... 26

Analisis Regresi Logistik ... 31

(9)

Letak Geografis ... 34

Kependudukan ... 34

Keadaan Lahan ... 35

Karakteristik Responden ... 36

Jenis Kelamin dan Usia ... 36

Pendidikan ... 47

Lama Menetap ... 37

Luas Lahan yang Dimiliki ... 38

HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Ekonomi di Kabupaten Samosir ... 39

Laju Konversi Lahan ... 44

Faktor-Faktor di Tingkat Wilayah ... 48

Faktor-Faktor di Tingkat Petani ... 51

Kebijakan RTRW ... 55

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ... 60

Saran ... 60

DAFTAR PUSTAKA ... 62

LAMPIRAN ... 66

(10)

DAFTAR TABEL

1. Peranan sektor terhadap PDRB Kabupaten Samosir atas dasar harga

berlaku menurut lapangan usaha tahun 2006-2012 ... 3

2. Statistik ketenagakerjaan Kabupaten Samosir tahun 2006-2012 ... 4

3. Luas lahan pertanian tahun 2004-2010 ... 5

4. Kontribusi sektor terhadap PDRB Kabupaten Samosir atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha tahun 2006-2012 ... 6

5. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Samosir ... 7

6. Hasil estimasi shift share analysis Kabupaten Toba Samosir tahun 2003-2010 ... 16

7. Matriks metode analisis data ... 22

8. Banyaknya desa/kelurahan menurut kecamatan di Kabupaten Samosir ... 34

9. Luas wilayah, penduduk, dan kepadatan penduduk di Kabupaten Samosir menurut kecamatan tahun 2012 ... 35

10. Luas penggunaan lahan di Kabupaten Samosir tahun 2011... 36

11. PDRB Kabupaten Samosir menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2006-2012... 39

12. PDRB Kabupaten Samosir menurut lapangan usaha atas dasar harga konstan tahun 2006-2012 ... 40

13. Hasil estimasi shift share analysis Kabupaten Samosir tahun 2006-2012 ... 41

14. Total pertumbuhan hasil shift share analysis Kabupaten Samosir tahun 2006-2012 ... 43

15. Luas dan laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir tahun 2004-2012 ... 45

16. Jumlah penduduk dan kepadatan wilayah Kabupaten Samosir tahun 2004-2012 ... 45

17. Persentase tenaga kerja pertanian dan luas lahan pertanian Kabupaten Samosir tahun 2006-2012 ... 46

18. Korelasi luas lahan pertanian terhadap tenaga kerja pertanian Kabupaten Samosir tahun 2006-2012 ... 47

19. Luas dan laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Toba Samosir tahun 2004-2012 ... 47

20. Hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di tingkat wilayah Kabupaten Samosir... 49

21. Omnibus test of model coefficients... 52

22. Uji Likelihood ... 52

(11)

24. Hasil estimasi regresi logistik terhadap konversi lahan pertanian di

tingkat petani ... 53

25. Content analysis RAPERDA Kabupaten Samosir ... 57

26. Content analysis terhadap RTRW ... 58

27. Content analysis terhadap media massa ... 59

DAFTAR GAMBAR 1. Jumlah penduduk di Kabupaten Samosir tahun 2009-2013 ... 2

2. Hubungan land rent dengan land use ... 11

3. Diagram alur berpikir ... 20

4. Karakteristik responden di Kabupaten Samosir berdasarkan usia tahun 2014 ... 37

5. Karakteristik responden di Kabupaten Samosir berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2014 ... 37

6. Karakteristik responden di Kabupaten Samosir berdasarkan lama tinggal tahun 2014 ... 38

DAFTAR LAMPIRAN 1. Peta Kabupaten Samosir ... 67

2. Hasil analisis regresi linier berganda ... 68

3. Hasil analisis regresi logistik ... 72

4. Kuesioner penelitian... 74

(12)
(13)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Lahan adalah suatu lingkungan fisik mencakup iklim, relief tanah, hidrologi, dan tumbuhan yang sampai batas-batas tertentu akan mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan. Sebagai sumberdaya alam, lahan merupakan wadah bagi kegiatan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Sumberdaya lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki banyak manfaat dalam memenuhi berbagai kegiatan manusia. Bagi petani, lahan merupakan sumber produksi pangan dan keberlangsungan hidup. Bagi pihak swasta, lahan adalah aset untuk mengakumulasikan modal. Bagi pemerintah, lahan merupakan suatu kedaulatan suatu negara dan untuk mensejahterakan rakyatnya. Dengan kata lain, lahan merupakan faktor produksi paling penting karena sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan pokok manusia. Perkembangan kebutuhan lahan untuk setiap stakeholder akan ditentukan oleh perkembangan jumlah permintaan setiap komoditas (Irawan 2005).

Secara fisik lahan merupakan aset yang mempunyai keterbatasan dan tidak dapat bertambah besar. Lahan secara fisik tidak dapat dipindahkan, walaupun fungsi dan penggunaan lahan (land function and use) dapat berubah tetapi lahannya sendiri bersifat stationer (tetap). Dengan kata lain, kualitas sumberdaya lahan sewaktu-waktu dapat berubah, namun kuantitasnya relatif tetap meskipun permintaan terhadap lahan meningkat. Perkembangan sektor-sektor ekonomi bukan pertanian menyebabkan permintaan sumberdaya lahan meningkat. Selain perkembangan sektor-sektor ekonomi bukan pertanian, jumlah penduduk yang semakin meningkat juga menyebabkan meningkatnya permintaan akan sumberdaya lahan.

Di beberapa daerah, seperti Provinsi Sumatera Utara ketersediaan lahan semakin sedikit akibat peningkatan jumlah pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan. Demikian halnya dengan Kabupaten Samosir yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara, memiliki peningkatan pertumbuhan penduduk setiap tahun.

(14)

Pembangunan ekonomi cenderung meningkatkan permintaan lahan di luar sektor pertanian, sehingga pertumbuhan ekonomi memacu terjadinya alih fungsi lahan atau yang sering disebut konversi lahan khususnya lahan pertanian ke penggunaan non pertanian.

Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Samosir (2013) Gambar 1 Jumlah Penduduk di Kabupaten Samosir tahun 2009-2013.

Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah yang mengalami konversi lahan dengan faktor pendukungnya adalah jumlah penduduk tiap tahun semakin meningkat. Pada Gambar 1 terlihat peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Peningkatan yang sangat drastis terjadi pada tahun 2010 dan belum diketahui penyebab terjadinya peningkatan tersebut. Sejak 2004 hingga 2013 laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Samosir sebesar 1,74 persen. Nilai ini lebih besar dari laju pertumbuhan penduduk nasional yaitu sebesar 1,49 persen (BPS Indonesia 2014).

Konversi lahan pertanian juga dipicu oleh transformasi struktur ekonomi yang awalnya didominasi oleh sektor pertanian menjadi sektor ekonomi yang bersifat industri. Proses transformasi ekonomi tersebut memicu terjadinya migrasi penduduk ke daerah pusat kegiatan bisnis sehingga lahan pertanian yang lokasinya mendekati kawasan tersebut akan dikonversi untuk pembangunan pemukiman, industri rumah tangga, dll. Berdasarkan hal itu maka konversi lahan pertanian dapat dikatakan pasti terjadi selama proses pembangunan masih berlangsung (Kustiawan 1997).

(15)

berbagai faktor. Ukuran yang umum digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan struktur ekonomi suatu daerah adalah pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) dari daerah yang bersangkutan. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa PDRB Kabupaten Samosir mengalami peningkatan tiap tahun. Pada tahun 2012 PDRB kabupaten ini sebesar 2.019.688 (dalam satuan juta rupiah), nilai ini mengalami peningkatan dibandingkan PDRB Kabupaten Samosir pada tahun 2006 sebesar 1.196.465 (dalam satuan juta rupiah).

Tabel 1 Peranan Sektor terhadap PDRB Kabupaten Samosir Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006 dan 2012 (Juta Rupiah)

No Lapangan Usaha Tahun

2006 2012

1 Pertanian 745.804 1.192.116

2 Pertambangan dan Penggalian 677 1.277

3 Industri Pengolahan 15.893 35.409

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1.765 3.448

5 Bangunan 3.206 8.131

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 122.068 195.362

7 Pengangkutan dan Komunikasi 13.290 29.726

8 Keuangan, Real Estat dan Jasa

Perusahaan 26.019 48.922

9 Jasa-jasa 267.743 505.297

PDRB 1.196.465 2.019.688

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Samosir (2013)

Dari keseluruhan peranan struktur ekonomi terhadap PDRB Kabupaten Samosir, sektor pertanian merupakan sektor yang memberikan peranan paling besar terhadap PDRB tiap tahunnya (Tabel 1). Pada tahun 2012 peranan sektor pertanian sebesar 1.192.116, disusul oleh sektor jasa-jasa 505.297 dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 195.362. Sektor yang memberikan peranan terkecil adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu 1.277.

(16)

kerajinan dan rumah tangga semakin diminati pada periode 2007-2012. Hal ini terlihat dari peningkatan persentase ketenagakerjaan yang bekerja di sektor ini yaitu dari 1,19 persen menjadi 7,02 persen. Demikian juga pada sektor jasa yang mengalami peningkatan pada periode yang sama dari 16,21 persen menjadi 22,03 persen.

Tabel 2 Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Samosir Tahun 2007-2012 (%)

Sektor Tahun

2007 2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian 82,60 84,26 80,18 78,48 74,17 70,96

Manufaktur 1,19 1,55 4,37 3,50 5,99 7,02

Jasa 16,21 14,19 15,45 18,02 19,84 22,03

Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

Penurunan tenaga kerja di sektor pertanian dikarenakan adanya transformasi struktur ekonomi yang terjadi dari sektor pertanian ke sektor manufaktur dan sektor jasa. Penurunan ketenagakerjaan sektor pertanian diikuti dengan peningkatan ketenagakerjaan sektor manufaktur dan sektor jasa (Tabel 2). Transformasi diakibatkan pembangunan daerah Kabupaten Samosir yang sedang terjadi. Dalam menghadapi pembangunan, sektor pertanian memiliki berbagai persoalan, salah satunya adalah permasalahan tentang konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Permasalahan ini bukan suatu masalah baru. Hal tersebut terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan sarana dan prasarana perkantoran Kabupaten Samosir. Pembangunan tersebut diikuti meningkatnya kebutuhan infrastruktur seperti perumahan, jalan, industri, dan bangunan lain yang menyebabkan kebutuhan akan lahan meningkat sementara ketersediaan lahan tetap.

Pada umumnya, konversi lahan pertanian berdampak besar dalam bidang sosial dan ekonomi yang dapat dilihat dari adanya perubahan fungsi lahan. Selain itu, konversi lahan pertanian menyebabkan perubahan pola penguasaan lahan, pergeseran tenaga kerja terutama pada sektor pertanian serta perubahan sosial dan menyebabkan kemunduran ekonomi pada sektor pertanian.

Perumusan Masalah

(17)

Kabupaten Toba Samosir yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir yang diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004 oleh Menteri Dalam Negeri (Kemendagri, diakses 4 Desember 2013).

Sebelum dimekarkan menjadi sebuah kabupaten, penggunaan lahan di daerah Samosir didominasi oleh sektor pertanian. Setelah pemekaran Kabupaten Samosir, penggunaan lahan untuk sektor pertanian berkurang. Hal ini terlihat dari luas lahan pertanian yang semakin berkurang. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 luas lahan pertanian ini menjadi 121.857 ha. Namun, pada tahun 2012 luas lahan pertanian seluas 108.316 ha. Nilai tersebut menunjukkan terjadi pengurangan luas lahan pertanian di Kabupaten Samosir.

Tabel 3 Luas Lahan Pertanian Kabupaten Samosir Tahun 2004-2012 (Ha)

Tahun Lahan Pertanian Lahan Non Pertanian

2004 121.857 22.568

Sumber: Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Samosir (2013)

(18)

Pembangunan suatu daerah diikuti dengan pertumbuhan struktur ekonomi daerah tersebut. Pertumbuhan struktur ekonomi daerah merupakan resultante dari berbagai faktor. Hal yang dapat menggambarkan pertumbuhan struktur ekonomi suatu daerah dilihat dari nilai produk domestik regional bruto (PDRB) dari daerah yang bersangkutan. Pertumbuhan nilai PDRB akan diikuti dengan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi. Pertumbuhan sektor tersebut akan membutuhkan lahan yang lebih luas. Apabila lahan pertanian letaknya lebih dekat dengan sumber ekonomi maka akan menggeser penggunaannya (konversi) ke bentuk lain seperti pemukiman, industri manufaktur dan fasilitas infrastruktur. Keadaan ini akan memicu untuk terjadinya penurunan luas lahan pertanian.

Tabel 4 Kontribusi Sektor terhadap PDRB Kabupaten Samosir Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2006 dan 2012 (Juta Rupiah)

No Lapangan Usaha Tahun

2006 2012

1 Pertanian 62,33 59,02

2 Pertambangan dan Penggalian 0,06 0,06

3 Industri Pengolahan 1,33 1,75

4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,15 0,17

5 Bangunan 0,27 0,40

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 10,20 9,67

7 Pengangkutan dan Komunikasi 1,11 1,47

8 Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan 2,17 2,42

9 Jasa-jasa 22,38 25,02

PDRB 100 100

Sumber : BPS Kabupaten Samosir (2013)

Penurunan luas lahan pertanian menjadi salah satu penyebab menurunnya distribusi sektor pertanian terhadap PDRB. Seperti yang terlihat pada Tabel 4 kontribusi sektor pertanian mengalami penurunan dalam kurun waktu 2006-2012. Pada tahun 2012 kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Samosir sebesar 59,02 persen. Kontribusi ini menurun dibandingkan dengan kontribusi sektor yang sama pada tahun 2006 yaitu sebesar 62,33 persen.

(19)

sektor pertanian terhadap PDRB menurun dan diikuti dengan peningkatan kontribusi sektor lainnya seperti sektor jasa, sektor industri pengolahan, sektor pengangkutan dan komunikasi. Namun penurunan kontribusi sektor pertanian yang terjadi dalam kurun waktu 2006-2012 tidak terlalu siginifikan dan sektor pertanian masih memberikan kontribusi yang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Samosir.

Konversi lahan pertanian juga ditentukan oleh persepsi masyarakat. Lahan yang memiliki tingkat kesuburan yang baik dan lokasi yang strategis menjadi sebuah kompetisi dalam pemanfaatannya. Kompetisi yang terjadi tergantung persepsi atau penilaian dan orientasi yang ingin dicapai pemilik lahan. Secara umum, sumberdaya lahan akan dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk tujuan yang memberikan penghasilan yang tinggi.

Tabel 5 Banyaknya Wisatawan yang Berkunjung ke Kabupaten Samosir Tahun 2005-2012

Tahun Wisatawan Jumlah

Mancanegara Domestik

Sumber: Dinas Pariwisata, Budaya, dan Seni Kabupaten Samosir (2013)

Selain sektor pertanian, Kabupaten Samosir memiliki sektor yang menarik bagi para pemilik lahan pertanian dan investor dalam pemanfaatan lahannya yaitu sektor pariwisata. Hal ini didukung dengan peningkatan jumlah wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang datang ke kabupaten ini (Tabel 5).

(20)

faktor penyebab terjadinya konversi lahan pertanian karena pemanfaatan lahan untuk sektor pemukiman dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran mampu memberikan penghasilan yang lebih tinggi daripada sektor pertanian.

Masalah konversi lahan semakin kompleks pada era otonomi daerah. Pemerintah daerah semakin intensif melakukan berbagai upaya untuk mendorong investor berinvestasi di daerahnya. Hal ini mempercepat konversi lahan potensial menjadi penggunaan non pertanian. Peraturan dan keputusan pemerintah daerah tentang arah pembangunan daerah juga menjadi faktor terjadinya konversi lahan pertanian. Kebijakan pemerintah jika tidak dipertimbangkan dengan baik akan semakin mempercepat konversi lahan pertanian menjadi non pertanian (Sihaloho 2004).

Apabila konversi lahan pertanian terus berlanjut akan menjadi persoalan lingkungan, keanekaragaman hayati dan dalam pencapaian ketahanan pangan di kabupaten Samosir. Dengan demikian, jelaslah bahwa konversi lahan pertanian menjadi persoalan penting dalam perkembangan wilayah itu sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, beberapa masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur ekonomi daerah Kabupaten Samosir berdasarkan

analysis shift share? Apakah sudah mengalami pergeseran struktur dan apa sektor unggul Kabupaten Samosir?

2. Berapa laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir?

3. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir?

4. Bagaimana kebijakan pemerintah daerah terkait arah pembangunan tata ruang Kabupaten Samosir?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk:

(21)

2. Mengestimasi seberapa besar laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir.

3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan pertanian.

4. Menganalisis kebijakan pemerintah daerah terkait arah pembangunan tata ruang Kabupaten Samosir.

Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka hasil penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Penulis, sebagai media pembelajaran dan penerapan ilmu ekonomi dan sumberdaya lingkungan.

2. Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir dan para pengambil keputusan, sebagai informasi dan bahan evaluasi terkait struktur ekonomi dan juga dalam menentukan kebijakan terkait konversi lahan.

3. Para akademisi, sebagai bahan tambahan dan bahan rujukan untuk penulisan dalam bidang sejenis untuk bahan penelitian berikutnya.

Ruang Lingkup Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian Kabupaten Samosir diperlukan batasan penelitian agar lebih fokus dalam penelitian. Adapun batasan penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. 2. Analisis struktur ekonomi dilihat dari PDRB Kabupaten Samosir terhadap

PDRB Provinsi Sumatera Utara tahun 2006-2012.

3. Laju konversi lahan yang dihitung berupa konversi lahan pertanian menjadi non pertanian baik itu perumahan ataupun industri, dll dalam kurun waktu 2004-2012.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian dilihat dari faktor di tingkat wilayah dan di tingkat petani.

5. Kebijakan pemerintah daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Samosir dan wawancara yang akan dilakukan kepada

(22)

TINJAUAN PUSTAKA

Lahan Pertanian

Lahan merupakan sumberdaya alam strategis bagi pembangunan. Hampir seluruh sektor pembangunan fisik memerlukan lahan seperti sektor pertanian, kehutanan, perumahan, industri, pertambangan, dan transportasi. Menurut Irawan (2005), lahan merupakan sumberdaya alam yang memiliki fungsi yang sangat luas dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Dari sisi ekonomi, lahan merupakan input tetap yang utama bagi berbagai kegiatan produksi komoditas pertanian dan non pertanian.

Manfaat lahan pertanian dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, use value yaitu manfaat yang dihasilkan dari hasil eksploitasi atau kegiatan usahatani yang dilakukan pada sumberdaya lahan pertanian. Contohnya adalah hasil panen yang dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Kedua, non use value yaitu manfaat yang dihasilkan tercipta dengan sendirinya walaupun bukan merupakan tujuan dari eksploitasi dari pemilik lahan pertanian. Contohnya adalah lahan pertanian untuk mencegah banjir dan erosi (Sumaryanto 2005).

Lahan merupakan aset ekonomi yang tidak dipengaruhi oleh kemungkinan penurunan nilai dan harga serta tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. Harga lahan ataupun sewa lahan (land rent) dipengaruhi oleh lokasi dan tingkat kesuburan lahan. Barlow (1978) menggambarkan hubungan antara nilai land rent dan alokasi sumber daya lahan diantara berbagai kompetisi penggunaan kegiatan sektor yang komersial dan strategis mempunyai land rent yang tinggi, sehingga sektor tersebut berada pada kawasan strategis mempunyai land rent yang tinggi, sehingga sektor tersebut berada pada kawasan strategis, sebaliknya sektor yang kurang mempunyai nilai komersial maka mempunyai land rent yang semakin kecil (Gambar 2). Land rent diartikan sebagai locational rent. Lahan termasuk didalamnya lahan pertanian, dalam kegiatan produksi merupakan salah satu faktor produksi tetap.

(23)

1. Sewa lahan (contract rent) sebagai pembayaran dari penyewa kepada pemilik dimana pemilik melakukan kontrak sewa dalam jangka waktu tertentu.

2. Keuntungan usaha (economic rent atau land rent) yang merupakan surplus pendapatan di atas biaya produksi atau harga input lahan yang memungkinkan faktor produksi lahan dapat dimanfaatkan dalam proses produksi.

Sumber : Barlow (1978)

Gambar 2 : Hubungan Land Rent dengan Land Use

Struktur Ekonomi dan Konversi Lahan Pertanian

Menurut Rintuh (1995), struktur ekonomi merupakan komposisi atau susunan sektor-sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Sektor yang dominan mempunyai kedudukan paling atas dalam struktur tersebut dan menjadi ciri khas dari suatu perekonomian. Sektor ekonomi yang dominan berarti sektor yang memberikan sumbangan terbesar terhadap produk nasional dengan laju pertumbuhan yang tinggi.

(24)

pasar, meningkatkan produktivitas, dan memberikan insentif bagi sektor swasta untuk berinvestasi.

Menurut Rostow (1960), proses pembangunan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap yaitu mesyarakat tradisional (the traditional society), prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off), tinggal landas (the take-off), menuju kedewasaan (the drive to maturity), dan masa konsumsi tinggi (the age of higt mass-consumtion).

Dasar pembedaan tahap pembangunan ekonomi menjadi 5 tahap tersebut adalah karakteristik perubahan keadaan ekonomi, sosial dan politik yang terjadi. Pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern merupakan proses yang multi-dimensional. Pembangunan ekonomi bukan hanya berarti perubahan struktur ekonomi suatu negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sektor pertanian dan peningkatan peranan sektor lainnya. Disamping perubahan seperti itu, pembangunan ekonomi berarti pula sebagai suatu proses yang menyebabkan antara lain:

1. Perubahan orientasi organisasi ekonomi, politik, dan social yang pada mulanya perorientasi kepada suatu daerah menjadi perorientasi keluar 2. Perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga,

yaitu dari menginginkan banyak anak menjadi keluarga kecil.

3. Perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat, dari melakukan investasi yang tidak produktif (menumpuk emas, membeli rumah, dan sebagainya) menjadi investasi yang produktif.

4. Perubahan sikap hidup dan adat istiadat yang terjadi, merangsang pembangunan ekonomi (Rostow 1960).

Tambunan (2001), menyatakan bahwa pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang, mengikuti pertumbuhan pendapatan nasional akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama, ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor non primer, khususnya industri manufaktur dengan

(25)

ekonomi. Adanya perubahan di dalam struktur ekonomi akan menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan yang semula didominasi sektor pertanian menjadi sektor non pertanian atau sering disebut dengan konversi lahan.

Konversi lahan yang sedang terjadi bukanlah hal yang baru terjadi di Indonesia. Konversi lahan pada umumnya dipengaruhi oleh transformasi struktur ekonomi yang semula bertumpu pada sektor pertanian menjadi sektor non pertanian, khususnya di negara ataupun daerah yang sedang berkembang. Konversi lahan erat kaitannya dengan kepadatan penduduk yang semakin meningkat. Meningkatnya jumlah penduduk, rasio antara manusia dan lahan menjadi semakin besar. Selain itu, taraf hidup masyarakat yang semakin meningkat dan terbukanya kesempatan menciptakan lapangan pekerjaan menyebabkan kesempatan para investor-investor mengkonversikan lahan pertanian menjadi non pertanian. Hal tersebut dapat terjadi karena jumlah lahan yang terbatas (Rusli 1995).

Faktor-Faktor Konversi Lahan Pertanian

Proses terjadinya konversi lahan pertanian ke non pertanian disebabkan oleh beberapa faktor. Kustiawan (2007) mengatakan bahwa ada tiga faktor penting yang menyebabkan terjadinya konversi lahan pertanian yaitu:

1. Faktor Eksternal, yaitu faktor-faktor dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi maupun ekonomi yang mendorong konversi lahan pertanian ke non pertanian.

2. Faktor Internal, yaitu kondisi sosial ekonomi rumah tangga petani yang mendorong terjadinya konversi lahan pertanian.

3. Faktor Regulasi, yaitu kebijakan pemerintah yang dikeluarkan terkait arah pembangunan tata ruang wilayah.

(26)

Tata Ruang

Ruang merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia yang ketersediaannya terbatas. Ruang itu sendiri dapat dibedakan menjadi ruang darat, laut, ruang udara dan ruang dalam bumi (UU No. 26 tahun 2007). Ruang dikatakan sebagai elemen penting dikarenakan ruang merupakan wadah dari segala aktivitas dan kepentingan yang dilakukan oleh manusia. Disisi lain aktivitas yang dilakukan oleh manusia sangat beragam yang kemungkinan besar dapat terjadi konflik kepentingan dan dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, untuk menghindarinya diperlukan suatu kegiatan penataan ruang agar dapat mewadahi segala aktivitas dan kepentingan tanpa menimbulkan dampak negatif (Nugroho 2009).

Dalam perspektif penataan ruang, pemanfaatan lahan perlu diatur agar secara keseluruhan memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat sekaligus menekan eksternalitas yang mungkin timbul. Dalam perspektif ini, peranan pemerintah pusat maupun daerah sangat diperlukan untuk membentuk struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang atau yang sering disebut rencana tata ruang wilayah (RTRW).

RTRW merupakan dasar bagi pemanfaatan lahan di suatu daerah. RTRW adalah produk rencana yang berisi rencana pengembangan struktur ruang dan rencana pola pemanfaatan ruang yang akan dicapai pada akhir tahun perencanaan. Struktur ruang dibentuk oleh sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan prasarana yang mencakup sistem jaringan transportasi (darat, laut, udara), sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air. Pola pemanfaatan ruang adalah gambaran alokasi ruang untuk berbagai jenis pemanfaatan lahan yang direncanakan.

Rencana tata ruang disusun dengan memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan. Dengan demikian penerapan rencana tata ruang secara konsisten akan meminimalkan konflik kepentingan antar pemangku kepentingan. Di samping itu pelaksanaan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang akan menciptakan keterpaduan lintas sektor dan lintas wilayah.

(27)

kelembagaan oleh masyarakat dan pemerintah, dan sistem non kelembagaan yang berkembang secara alamiah dalam masyarakat. Dalam hal ini, RTRW merupakan suatu kelembagaan yang secara langsung dan tidak langsung menyebabkan terjadinya konversi lahan yang terjadi.

Penelitian Terdahulu

Hayat (2002) melakukan penelitian yang menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hasil yang diperoleh mengatakan pada tahun 1992-2002 jumlah lahan yang terkonversi seluas 19.262 ha. Rata-rata luas lahan yang terkonversi adalah 1.926,2 ha per tahun. Pola konversi lahan sawah yang terjadi pada jenis lahan sawah irigasi sederhana yaitu 44% dari luas lahan yang terkonversi. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah produktivitas lahan sawah, proporsi lahan sawah beririgasi teknis dan non-teknis, kontribusi pertumbuhan PDRB dan pertambahan jalan aspal.

Penelitian yang dilakukan oleh Anugerah K. (2005) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan sawah ke penggunaan non pertanian di Kabupaten Tangerang memperoleh hasil bahwa konversi lahan yang terjadi pada tahun 1994-2003 sebesar 5.407 ha dengan laju sebesar 2,44% per tahun. Rata-rata lahan sawah yang terkonversi yaitu sebesar 3.588,11 ton per tahun dan kehlangan nilai produksi sebesar Rp 48.439.427.500. Hasil perhitungan Location Quotieny

(LQ) berdasarkan indikator pendapatan menunjukkan sektor pertanian merupakan sektor basis dan mampu memberikan nilai surplus.

Sitorus (2009) dalam penelitiannya mengenai analisis konversi lahan pertanian di Kabupaten Tangerang memperoleh hasil bahwa faktor-faktor yang berpengaruh sangat nyata terhadap laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Tangerang pada periode (1997-2007) adalah PDRB sektor jasa, PDRB sektor industri pengolahan, fasilitas pendidikan, fasilitas ekonomi, aksesibilitas ke pusat pemerintahan, dan aksesibilitas ke fasilitas kesehatan, dan aksesibilitas ke fasilitas pendidikan.

(28)

tahun 2002-2011 sebesar 7,06%. Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian adalah lama tinggal, pengalaman bertani, hasil padi, dan harga jual padi.

Simanjuntak (2013) melakukan penelitian yang berjudul Potensi Wilayah Dalam Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Toba Samosir. Hasil yang diperoleh dari shift share analysis (Tabel 6) adalah bahwa sektor yang merupakan sektor unggulan adalah sektor industri dan sektor pertanian.

Tabel 6 Hasil Estimasi Shift Share Analysis Kabupaten Toba Samosir Tahun 2003-2010

Pengolahan 1.450.365,8 -249.101,3 4,0 1.201.268,5 4 Listrik, Gas

103.893,9 20.483,7 -564,5 123.813,2 8 Keuangan,

PDRB 3.101.819,9 -255.305,4 -569,6 2.845.945,1

(29)

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan upaya mengaitkan teori-teori yang melandasi seperti teori struktur ekonomi, konversi lahan, dan tata ruang (Tinjauan Pustaka) dengan kerangka teoritis yang bersifat praktis metodologis seperti indikator pertumbuhan dan pergeseran struktur ekonomi dan faktor konversi lahan pertanian.

Pertumbuhan dan Pergeseran Struktur Ekonomi

Dalam skripsi Anugerah (2005), pertumbuhan ekonomi yang modern secara logis akan diikuti oleh perubahan struktur output dan ketenagakerjaan. Sektor primer akan semakin kecil peranannya sejalan dengan perkembangan yang pesat di sektor-sektor lainnya, seperti sektor jasa dan sektor industri. Sektor pertanian hanya akan menjadi penyangga awal ketika proses transisi berlangsung, sedangkan sektor non pertanian akan berkembang lebih besar lagi. Menurut Dawam (2000) akibat terjadinya transformasi struktur ekonomi telah memberikan beberapa dampak yaitu sumbangan sektor pertanian terhadap PDB telah menurun dan penyerapan tenaga kerja pada periode yang sama juga mengalami penurunan.

Proses pembangunan membawa konsekuensi berupa terjadinya suatu pergeseran struktural, dimana ada pergeseran peran sektor perekonomian utama dari sektor tradisional (pertanian) menjadi di dominasi oleh peran sektor yang lebih modern (industri). Kondisi ini dapat terlihat melalui kontribusi sektor pertanian terhadap struktur produksi (output) agregat yang semakin menurun, sedangkan disisi lain kontribusi sektor non pertanian, terutama sektor industri semakin meningkat (Tyadi 1995).

Menurut Reksohadiprojo (1985), perubahan persentasi sumbangan berbagai sektor dalam pembangunan ekonomi akibat perubahan struktur ekonomi :

1. Produksi sektor pertanian mengalami perkembangan yang lebih lambat dari perkembangan produksi nasional

2. Tingkat pertambahan produksi sektor industri adalah lebih cepat daripada tingkat pertambahan produksi nasional

(30)

Konversi Lahan Pertanian

Lahan yang bersifat tetap, namun permintaan atas sumberdaya lahan meningkat mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan atau disebut sebagai konversi lahan. Konversi lahan terjadi secara alami atau buatan yaitu konversi lahan yang telah direncanakan oleh pihak pemerintah setempat berdasarkan RTRW. Konversi lahan juga berkaitan erat dengan perubahan yang terjadi dalam perekonomian dan kependudukan.

Faktor-faktor yang mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian antara lain:

1. Faktor kependudukan, pesatnya peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan permintaan tanah untuk perumahan, jasa, industri, dan fasilitas umum lainnya. Selain itu, peningkatan taraf hidup masyarakat juga turut berperan menciptakan tambahan permintaan lahan akibat peningkatan intensitas kegiatan masyarakat, seperti lapangan golf, pusat perbelanjaan, jalan tol, tempat rekreasi, dan sarana lainnya.

2. Kebutuhan lahan untuk kegiatan non pertanian antara lain pembangunan

real estate, kawasan industri, kawasan perdagangan, dan jasa-jasa lainnya yang memerlukan lahan yang luas, sebagian diantaranya berasal dari lahan pertanian termasuk sawah. Lokasi sekitar kota, yang sebelumnya didominasi oleh penggunaan lahan pertanian, menjadi sasaran pengembangan kegiatan non pertanian mengingat harganya yang relatif murah serta telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang seperti jalan raya, listrik, telepon, air bersih, dan fasilitas lainnya. Selain itu, terdapat keberadaan “sawah kejepit” yakni sawah-sawah yang tidak terlalu luas karena daerah sekitarnya sudah beralih menjadi perumahan atau kawasan industri, sehingga petani pada lahan tersebut mengalami kesulitan untuk mendapatkan air, tenaga kerja, dan sarana produksi lainnya, yang memaksa mereka untuk mengalihkan atau menjual tanahnya.

(31)

kebutuhan keluarga petani yang terdesak oleh kebutuhan modal usaha atau keperluan keluarga lainnya (pendidikan, mencari pekerjaan non pertanian, atau lainnya), seringkali membuat petani tidak mempunyai pilihan selain menjual sebagian lahan pertaniannya.

4. Faktor sosial budaya, antara lain keberadaan hukum waris yang menyebabkan terfragmentasinya tanah pertanian, sehingga tidak memenuhi batas minimum skala ekonomi usaha yang menguntungkan.

5. Degradasi lingkungan, antara lain kemarau panjang yang menimbulkan kekurangan air untuk pertanian terutama sawah; penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan yang berdampak pada peningkatan serangan hama tertentu akibat musnahnya predator alami dari hama yang bersangkutan, serta pencemaran air irigasi. Rusaknya lingkungan sawah sekitar pantai mengakibatkan terjadinya instrusi (penyusupan) air laut ke daratan yang berpotensi meracuni tanaman padi.

6. Otonomi daerah yang mengutamakan pembangunan pada sektor menjanjikan keuntungan jangka pendek lebih tinggi guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang kurang memperhatikan kepentingan jangka panjang dan kepentingan nasional yang sebenarnya penting bagi masyarakat secara keseluruhan.

7. Lemahnya sistem perundang-undangan dan penegakan hukum (Law Enforcement) dari peraturan-peraturan yang ada (Isa 2006).

Konversi lahan pertanian ke non pertanian yang terjadi memiliki tingkat

(32)

Kerangka Operasional

Permasalahan

Peningkatan Pemukiman

Pembangunan Sektor Ekonomi Pertumbuhan

Penduduk

Daerah Tujuan Wisata

Konversi Lahan Pertanian

Faktor Konversi Lahan Pertanian

Regulasi

Eksternal Internal

Implikasi Kebijakan

Faktor Petani

Regresi Logistik Kebijakan

Content Analysis

Prioritas Kebijakan Ruang Struktur

Ekonomi

Faktor Wilayah

Sektor Unggul

Shift Share Analysis

Regresi Berganda

(33)

METODE

Lokasi dan Waktu Penulisan

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Pengambilan data dilakukan Januari hingga Februari 2014. Pemilihan Kabupaten Samosir sebagai lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Beberapa pertimbangan yang dijadikan dasar pemilihan wilayah Kabupaten Samosir sebagai daerah penelitian:

1. Banyak perubahan penggunaan lahan pertanian yang terjadi di kabupaten ini.

2. Laju pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan pembangunan yang semakin meningkat dikarenakan kabupaten ini baru dimekarkan pada tahun 2004. 3. Kabupaten Samosir merupakan daerah tujuan wisatawan domestik dan

mancanegara. Hal ini sebagai mendorong terjadinya pergeseran struktur ekonomi dan akan berpengaruh terhadap konversi lahan yang terjadi di Kabupaten Samosir.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan pemilik lahan baik melalui kuisoner maupun wawancara secara mendalam. Data sekunder digunakan untuk mengetahui pertumbuhan struktur ekonomi, laju konversi lahan pertanian, dan kebijakan tata ruang wilayah terkait konversi lahan pertanian daerah Kabupaten Samosir. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, BPS Kabupaten Samosir, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan. Data sekunder berupa data kebijakan konversi lahan yang berlaku, luas lahan pertanian, serta data-data lain yang dianggap mendukung dalam menjawab permasalahan penelitian.

Metode Pengambilan Sampel

(34)

35 responden petani melakukan konversi lahan sedangkan 25 responden petani tidak melakukan konversi lahan. Pengambilan data primer dilakukan melalui teknik wawancara dengan menggunakan kuisoner.

Analisis Data

Analisis data bertujan untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk tabel yang mudah dipahami dan diinterpresentasikan. Metode analisis data yang akan dilakukan dapat dilihat dalam Tabel 5.

Tabel 7 Matriks Metode Analisis Data

No Tujuan Jenis dan Sumber Data Metode

Analisis Data 1 Menganalisis struktur

ekonomi Kabupaten Samosir

Data sekunder melalui

observasi lapang Shift Share

Analysis

2 Mengestimasi besarnya laju konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir

Data sekunder melalui

observasi lapang Analisis laju konversi lahan

(parsial) 3 Mengidentifikasi

faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian di Kabupaten Samosir

Data sekunder melalui literatur dan data primer 4 Menganalisis kebijakan

pemerintah terkait arah pembangunan tata ruang Kabupaten Samosir

Shift Share Analysis Tahun 2006-2012

(35)

pertumbuhan daerah dan besarnya angka pertumbuhan yang seharusnya dapat dicapai atau terjadi.

Analisis shift-share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisis data statistik regional, baik berupa pendapatan per kapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya. Dalam analisis ini, akan diperlihatkan bagaimana keadaan pertumbuhan di daerah dengan dibandingkan pada pertumbuhan provinsi. Tujuan dari analisis shift-share adalah untuk melihat dan menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkan dengan wilayah yang lebih luas (wilayah referensi). Dengan demikian, analisis ini akan memberikan hasil perhitungan yang dapat menentukan posisi, baik berupa kelemahan maupun kekuatan, dari suatu sektor-sektor dalam perekonomian di daerah dibandingkan dengan sektor-sektor yang sama di tingkatan wilayah referensinya.

Analisis shift-share tidak dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana proses perubahan di setiap sektor tersebut terjadi. Analisis ini hanya memberikan gambaran bagi para pengambil keputusan untuk menentukan mengapa suatu sektor tertentu dalam perekonomian memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan dengan sektor yang sama di wilayah referensinya, dan sektor yang lainnya tidak.

Asumsi yang digunakan pada analisis shift-share adalah bahwasanya pertumbuhan perekonomian suatu daerah dapat dibagi menjadi tiga komponen, yaitu: (1) komponen pertumbuhan regional (regional share), yaitu pertumbuhan daerah dibandingkan dengan pertumbuhan provinsi; (2) komponen pertumbuhan proporsional (proportional shift), yaitu perbedaan antara pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan provinsi sektoral dengan pertumbuhan daerah dengan menggunakan pertumbuhan provinsi total; dan (3) komponen pergeseran pertumbuhan diferensial (differential shift), yaitu perbedaan antara pertumbuhan daerah secara aktual dengan pertumbuhan daerah jika menggunakan pertumbuhan sektoral provinsi. (Daryanto 2010)

Berdasarkan asumsi di atas, maka dibuat perumusan shift-share secara kuantitatif, yaitu:

p

(36)

keterangan:

G = Perubahan total di daerah R = Regional share

Sp = Proporsional shift

Sd = Differential shift

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pertumbuhan daerah pada dasarnya dipengaruhi oleh regional share, proportional shift, dan differential shift.

Regional share suatu daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan agregat secara sektoral di daerah dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama di perekonomian wilayah referensinya (dalam hal ini provinsi).

Proportional shift mengukur perubahan relatif, tumbuh lebih cepat atau lebih lambat, suatu sektor di daerah dibandingkan dengan perekonomian wilayah referensinya (provinsi). Pengukuran ini memungkinkan untuk mengetahui apakah perekonomian daerah terkonsentrasi pada sektor-sektor yang tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan perekonomian provinsinya.

Pertumbuhan sektoral yang berbeda dengan provinsinya bisa disebabkan karena komposisi awal ekonominya yang dikaitkan dengan bauran sektoralnya (component mix). Differential shift membantu dalam menentukan seberapa jauh daya saing sektoral suatu daerah dibandingkan dengan perekonomian yang dijadikan referensi (provinsi).

Oleh sebab itu, jika differential shift dari suatu sektor bernilai positif, maka sektor tersebut memiliki daya saing yang lebih tinggi dibandingkan dengan sektor yang sama pada perekonomian nasional, dan sebaliknya. Komponen ini biasanya dikaitkan dengan adanya keunggulan atau ketidakunggulan kompetitif suatu daerah dibandingkan dengan wilayah nasional. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya lingkungan sekitar yang kondusif atau tidak kondusif terutama dalam mendukung pertumbuhan setiap sektoralnya.

Pada penelitian ini unit yang diteliti adalah Kabupaten Samosir yang dibandingkan dengan unit yang lebih besar yaitu Provinsi Sumatera Utara. Adapun perumusan dari ketiga variabel, yaitu regional share (pengaruh pertumbuhan ekonomi), proportional shift (pengaruh bauran industri), dan

(37)

1. Regional Share (Provinsi Sumatera Utara)

R = Eij * rn

2. Proportional Shift

Sp = Eij (rin-rn)

3. Differential Shift

Sd= Eij (rij-rin) keterangan :

Eij = PDRB di sektor i di Kabupaten Samosir Ein = PDRB di sektor i Provinsi Sumatera Utara rij = Laju pertumbuhan sektor i di Kabupaten Samosir rin = Laju pertumbuhan sektor i Provinsi Sumatera Utara rn = Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara.

Dari perumusan tersebut, untuk menentukan keunggulan komoditas, komponen Sp dan Sd merupakan kriteria kinerja komoditas pada tahap pertama. Komponen Sp yang positif menunjukkan bahwa komposisi industri sudah relatif baik dibandingkan dengan nasional dan nilai Sp yang negatif menunjukkan yang sebaliknya. Komponen Sp yang positif menunjukkan keunggulan komoditas tertentu dibandingkan dengan komoditas serupa di daerah lain.

Analisis shift-share juga merupakan salah satu model yang memiliki kelebihan dalam melihat pola pertumbuhan daerah dan besarnya angka pertumbuhan yang seharusnya dapat dicapai atau terjadi. Analisis shift-share

dalam penulisan ini dilakukan dengan membandingkan perekonomian daerah (kabupaten) terhadap perekonomian provinsi.

Laju Parsial Tahun 2004-2012

Laju konversi lahan dapat ditentukan dengan cara menghitung laju konversi secara parsial. Analisis laju konversi lahan dapat dilihat dengan menggunakan persamaan ini :

V = Lt-Lt-1 x 100 %

Lt-1 keterangan :

V = laju konversi lahan Lt1 = luas lahan tahun t

(38)

Laju konversi lahan (%) dapat ditentukan dengan nilai selisih luas lahan pada tahun ke-t dengan luas lahan sebelumnya, dibagi dengan luas lahan tahun sebelumnya kemudian dikalikan dengan 100%. Besarnya laju konversi lahan dapat dilihat dari persentase nilai yang diperoleh. Berdasarkan nilai yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai persentase, maka semakin tinggi tingkat konversi lahan yang terjadi di wilayah tersebut.

Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan luas lahan pertanian akibat konversi di tingkat wilayah digunakan model analisis regresi linier berganda menggunakan software Eviews 6. Analisis regresi adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel peubah bebas atau

independent (Y) dengan variabel peubah tak bebas atau dependent (X).

Faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan di tingkat wilayah adalah: 1. Luas Lahan Bangunan (Ha)

Luas lahan bangunan mempengaruhi permintaan terhadap lahan semakin meningkat sehingga mendorong penurunan luas lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian yang semakin tinggi.

2. Jumlah Industri (Unit)

Peningkatan jumlah industri mendorong meningkatnya permintaan terhadap lahan. Semakin tinggi pertambahan jumlah industri maka semakin tinggi penurunan luas lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian yang terjadi. 3. Tenaga Kerja (Persen)

Semakin tinggi penurunan luas lahan pertanian maka akan semakin tinggi penurunan tenaga kerja di sektor pertanian.

Persamaan model regresi linier berganda antara peubah-peubah diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :

Y = α + β1X1+ β2X2 + β3X3 +ε keterangan :

Y = Penurunan lahan pertanian akibat konversi lahan (ha)

α = Intersep

X1 = Luas lahan bangunan (ha)

(39)

X3 = Tenaga kerja sektor pertanian (persen)

βi = Koefisien regresi

ε = Erorr Term

Metode Analisis Linier Berganda merupakan metode analisis yang didasarkan pada Metode Ordinary Least Square (OLS). Konsep dari metode Least Square adalah menduga koefisisen regresi (β) dengan meminimumkan kesalahan (error). Ordinary Least Square (OLS) memiliki beberapa sifat : (1) tidak bias dengan penaksiran varian yang minimum baik linear maupun bukan, (2) konsisten yaitu dengan meningkatnya ukuran sampel secara tidak terbatas, penaksir

mengarah ke nilai populasi sebenarnya, dan (3) β0 dan β1 terdistribusi secara normal (Gujarati 2003).

Langkah awal yang dapat dilakukan dalam pengujian ini adalah dengan pengujian ketelitian dan kemampuan model regresi. Pengujian model regresi diperlukan dalam penulisan ini. Terdapat tiga pengujian, yaitu uji koefisien determinasi (R-squared), Uji F, dan Uji t.

1. Uji Koefisien Determinasi

Nilai R-squared mencerminkan seberapa besar keragaman dari variabel dependen yang dapat diterangkan oleh variabel independen. R-squared dapat menjelaskan kemampuan variabel bebas secara bersamaan dalam menjelaskan variasi dari peubah tak bebas. Nilai R-squared memiliki besaran yang positif yaitu 0< R-squared < 1. Jika nilai R-squared bernilai nol maka artinya keragaman variabel dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independennya. Sebaliknya, jika nilai R-squared bernilai satu maka keragaman dari variabel dependen secara keseluruhan dapat diterangkan oleh variabel independennya secara sempurna (Gujarati 2003). Rumus R-squared (R2) dapat dilihat sebagai berikut:

keterangan :

ESS = Explained of Sum Squared

TSS = Total Sum of Squared

(40)

itu, untuk menghilangkan pengaruh banyaknya variabel bebas digunakan Adj R-square (R2 Adj).

R2 Adj = 1 - (SSres/dfres)

(SStot/dftot)

2. Uji t

Uji t dilakukan untuk menghitung koefisien regresi masing-masing variabel independen sehingga dapat diketahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependennya. Prosedur dalam pengujian Uji t oleh Gujarati (2003) : H0: β1 = 0

H0: β1 ≠ 0 keterangan :

b = Parameter dugaan

β1 = Parameter hipotesis

Seβ = Standar errorparameter β

Jika t hitung (n-k) < t tabel α/2, maka H0 diterima, artinya variabel (Xi) tidak berpengaruh nyata terhadap (Y). Jika t hitung (n-k) > t tabel α/2, maka H0 ditolak, artinya variabel (Xi) berpengaruh nyata terhadap (Y).

3. Uji F

Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen atau bebas (Xi) secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau tidak bebas (Y). Adapun prosedur yang digunakan dalam uji F (Gujarati 2003):

H0= β1 = β2= β3= ... = βi = 0 H1 = minimal ada satu βi≠ 0

keterangan :

JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKG = Jumlah Kuadrat Galat

(41)

Apabila F hitung < F tabel maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti bahwa variabel bebas (Xi) tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (Y). Apabila F hitung > F tabel maka H0 diterima dan H1 diterima yang berarti bahwa variabel bebas (Xi) berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (Y).

Model yang dihasilkan dari regresi linear berganda haruslah baik, sehingga harus memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). BLUE dapat dicapai bila memenuhi asumsi klasik. Uji asumsi klasik merupakan pengujian pada model yang telah berbentuk linear untuk mendapatkan model yang baik. Setelah model diregresikan kemudian dilakukan uji penyimpangan asumsi.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat model tersebut baik atau tidak. Model yang baik jika mempunyai distribusi normal atau hampir normal. Uji yang dapat digunakan adalah Uji Kolmogorov-Smirnov.

Hipotesis pada uji Kolmogorov-Smirnov adalah sebagai berikut : H0 : Error term terdistribusi normal

H1 : Error term tidak terdistribusi normal Dengan kriteria uji :

Jika P-value< α maka tolak H0 Jika P-value> α maka terima H0

Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat lain. Penerapan pada uji Kolmogrov-Smirnov adalah jika nilai siginifikan di atas 5 persen berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara data yang di uji dengan data baku.

b. Uji Autokorelasi

Autokerelasi adalah adanya korelasi antara variabel itu sendiri, pada pengamatan berbeda waktu dan individu yang terjadi pada data time series.

Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Salah satunya adalah Uji Durbin Watson (DW-test). Besarnya nilai statistik DW dapat diperoleh dengan rumus (Nachrowi et all. 2002):

(42)

keterangan :

d = Statistik Durbin-Watson ut dan ut-1 = Ganguan estimasi Pengambilan keputusannya :

1. Jika nilai DW terletak antara batas atau upper bound (du) dan (4-du), maka koefisien autokorelasi sama dengan nol, berarti tidak ada autkorelasi positif. 2. Jika nilai DW lebih rendah dari pada batas bawah atau lowne bound (dl),

maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi positif.

3. Jika nilai DW lebih besar daripada (4-dl), maka koefisien autokorelasi lebih kecil daripada nol, berarti ada autokorelasi positif.

4. Jika nilai DW lebih kecil daripada (4-dl), maka koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi negatif.

5. Jika nilai DW terletak diantara batas atas (du) dan batas bawah (dl) atau DW terletak antara (4-du) dan (4-dl), maka hasilnya tidak dapat disimpulkan. c. Uji Multikolinearitas

Jika suatu model regrasi berganda terdapat hubungan linear sempurna antar peubah bebas dalam model tersebut, maka dapat dikatakan model tersebut mengalami multikolinearitas. Terjadinya multikolinearitas menyebabkan

R-squared tinggi namun tidak banyak variabel yang signifikan dari uji t. Uji

Varian Invaction Factor (VIF) merupakan salah satu cara yang digunakan dalam metode ini. Hanya melihat apakah nilai VIF untuk masing-masing variabel lebih besar dari 10 atau tidak. Bila nilai VIF lebih besar dari 10 maka model tersebut mengalami multikolinearitas. Sebaliknya, jika VIF lebih kecil dari 10 maka model tersebut tidak mengalami multikolinearitas. d. Uji Heteroskedastisitas

(43)

dengan uji Glejster yang dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai residualnya. Jika nilai signifikan dari hasil uji Glejster

lebih besar dari α maka tidak terdapat heteroskedastisitas dan sebaliknya. Analisis Regresi Logistik

Analisis regresi logistik digunakan untuk mengestimasi faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam mengkonversi lahan pertanian. Dalam penelitian ini, analisis regresi logistik dilakukan menggunakan software SPSS 16. Menurut Nachrowi et all. (2002), model logit adalah model non linear, baik dalam parameter maupun dalam variabel. Model logit diturunkan berdasarkan fungsi peluang logistik yang dapat dispesifikasikan sebagai berikut (Juanda 2009):

Dimana e mempresentasikan bilangan dasar logaritma natural (e=2.718....). Dengan aljabar biasa, persamaan dapat di tunjukkan menjadi :

Peubah Pi / 1 - Pi dalam persamaan diatas disebut sebagai odds, yaitu rasio peluang terjadinya pilihan 1 terhadap peluang terjadinya pilihan 0 alternatif. Parameter model estimasi logit harus diestimasi dengan metode maximum likelihood (ML). Dengan persamaan logaritma natural, maka :

Persamaan model regresi logistik untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan adalah sebagai berikut :

keterangan :

Z = Peluang tidak konversi lahan (0) dan konversi lahan (1)

α = Intersep

X1 = Lama Tinggal (Tahun)

X2 = Pengalaman Bertani (Tahun)

X3 = Harga Benih (Rp/kg)

X4 = Harga Pupuk (Rp/kg)

(44)

βi = Koefisien regresi

ε = Error Term

Faktor-faktor konversi lahan di tingkat petani dan hipotesis yang digunakan adalah:

1. Lama Tinggal (Tahun)

Semakin lama petani tinggal di lokasi tersebut atau merupakan penduduk tetap di lokasi tersebut, maka semakin rendah keinginan petani untuk melakukan konversi lahan.

2. Pengalaman Bertani (Tahun)

Semakin lama pengalaman bertani yang petani miliki, maka petani akan lebih mempertahankan lahan sawahnya.

3. Harga Benih (Rp/kg)

Harga benih yang tinggi, akan mengakibatkan petani lebih memilih untuk menkonversi lahannya, sehingga konversi lahan akan mengalami peningkatan.

4. Harga Pupuk (Rp/kg)

Semakin meningkat harga pupuk, maka petani akan lebih memilih melakukan konversi lahan daripada mempertahankan lahannya dengan harga pupuk yang tinggi.

5. Hasil Panen (Rp)

Semakin tinggi hasil panen akan memberikan tingkat pengembalian yang besar, sehingga akan mendorong petani untuk mempertahankan lahannya. Konversi lahan yang terjadi akan menurun.

Agar diperoleh hasil analisis regresi logit yang baik perlu dilakukan pengujian untuk melihat model logit yang dihasilkan keseluruhan dapat menjelaskan keputusan pilihan secara kualitatif. Pengujian parameter yang dilakukan dengan menguji semua secara keseluruhan dan menguji masing–masing parameter secara terpisah. Statistik uji yang digunakan adalah sebagai berikut : a. Odds Ratio

Odds merupakan rasio peluang kejadian terjadinya sukses (y=1) terhadap peluang kejadian terjadinya gagal (y=0) (Nachrowi et all. 2002). Odds ratio

(45)

epidemologi. Pada dasarnya Odds ratio digunakan untuk melihat hubungan antara peubah bebas dan peubah terikat dalam model logit. Odds ratio dapat didefinisikan sebagai berikut : dimana P menyatakan peluang terjadinya peristiwa (Z=1) dan 1-P menyatakan peluang tidak terjadinya peristiwa.

b. Likelihood Ratio

Likelihood Ratio merupakan rasio kemungkinan maksimum yang digunakan untuk menguji peranan variabel secara serentak (Hosmer dan Lemeshow 2002). Statistik uji yang dapat menunjukkan nilai Likelihood Ratio

adalah Uji G dengan rumus seperti:

Dimana l0 merupakan nilai likelihood tanpa variabel penjelas dan li merupakan nilai likelihood model penuh. Statistik uji G akan mengikuti sebaran

chi-squaredengan derajat bebas α. Kriteria keputusan yang diambil adalah jika G

> chi-square maka H0 ditolak. Jika H0 ditolak maka dapat disimpulkan bahwa minimal ada βj ≠ 0, dengan pengertian lain, model regresi logistik dapat menjelaskan atau memprediksi pilihan individu pengamatan.

Content Analysis

Metode content analysis merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi. Content analysis mencakup klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi, dan menggunakan teknik analisis tertentu sebagai pembuat prediksi.

(46)

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak Geografis

Pada Januari 2004 Kabupaten Toba Samosir dimekarkan menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Toba Samosir sebagai kabupaten induk dan Kabupaten Samosir sebagai kabupaten yang baru. Kabupaten Samosir yang terdiri dari 9 kecamatan, seperti yang terlihat pada tabel 6.

Tabel 8 Banyaknya Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan di Kabupaten Samosir

Kecamatan Desa Kelurahan Jumlah

Sianjur Mula-mula 12 0 12

Harian 13 0 13

Sitio-tio 8 0 8

Onanrunggu 12 0 12

Nainggolan 13 2 15

Palipi 17 0 17

Ronggur Nihuta 8 0 8

Pangururan 25 3 28

Simanindo 20 1 21

Kabupaten Samosir 128 6 134

Sumber: BPS Kabupaten Samosir (2013)

Batas-batas wilayah Kabupaten Samosir secara geografis sebagai berikut:  Sebelah Utara : Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun  Sebelah Timur : Kabupaten Toba Samosir

 Sebelah Selatan : Kabupaten Tapanuli dan Kabupaten Humbahas  Sebelah Barat : Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat

Keadaan topografi dan kontur tanahnya beraneka ragam, yaitu datar, landai, miring dan terjal. Struktur tanahnya labil dan berada pada jalur gempa tektonik dan vulkanik. Daerah Kabupaten Samosir tergolong daerah beriklim tropis basah dengan suhu berkisar antara 17˚C-29˚C dan rata-rata kelembaban udara sebesar 85,04 persen.

Kependudukan

Gambar

Tabel 5 Banyaknya Wisatawan yang Berkunjung ke Kabupaten Samosir
Gambar 2 : Hubungan Land Rent dengan Land Use
Tabel 6 Hasil Estimasi Shift Share Analysis Kabupaten Toba Samosir
Gambar  3  Diagram Alur Berpikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mencapai tujuan yang lebih baik di masa yang akan datang, penulis akan memberikan saran yaitu dalam meramalkan nilai PDRB sektor pertanian Kabupaten Samosir dengan

Analisis nilai ekonomi pada Desa Parbaba Dolok, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir mendapatkan jenis – jenis produk hutan rakyat yaitu alpukat, aren, jahe, cokelat,

perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila tingkat kegiatan ekonomi lebih tinggi dari apa yang telah dicapai pada periode waktu sebelumnya, sedangkan laju

penelitian ini dilakukan untuk melihat “ analisis dimensi sosial dan ekonomi kemiskinan di kabupaten Samosir dan peran komoditi pangan utamanya sebagai

Subsektor pertanian tersebut, walaupun mempunyai nilai PDRB Kabupaten Keerom lebih tinggi dibandingkan subsektor perikanan, tetap tidak mampu meningkatkan pertumbuhan

Terbentuknya Kabupaten Samosir sebagai kabupaten baru merupakan langkah awal untuk memulai percepatan pembangunan di wilayah Samosir menuju masyarakat yang lebih sejahtera,

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui kondisi kemiskinan pada Kabupaten Samosir(2) mengetahui hubungan faktor belanja langsung, pertumbuhan

Subsektor pertanian tersebut, walaupun mempunyai nilai PDRB Kabupaten Keerom lebih tinggi dibandingkan subsektor perikanan, tetap tidak mampu meningkatkan pertumbuhan