• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SEKTOR EKONOMI BASIS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2001-2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS SEKTOR EKONOMI BASIS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2001-2010"

Copied!
97
0
0

Teks penuh

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

i

ANALISIS SEKTOR EKONOMI BASIS KABUPATEN NGAWI

TAHUN 2001-2010

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Mencapai Derajat S-2 Magister Ekonomi Dan Studi Pembangunan

Oleh:

TAUFIK ROHMAN

S4210096

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET PROGRAM PASCA SARJANA

MAGISTER EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

SURAKARTA

(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

MOTTO

(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi

P E R S E M B A H A N

Kupersembahkan karya ini dengan tulus dan penuh rasa syukur kepada :

§

Ayah, Ibu, dan Istriku Serta Anak-Anakku Tercinta yang selalu memberikan

motivasi dan doanya

§

Pemerintah Daerah Kabupaten Ngawi

(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vii ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sektor basis dan non basis di Kabupaten Ngawi, serta penelitian ini juga bertujuan mengetahui komponen pertumbuhan regional (Nij), komponen pertumbuhan proposional (Mij), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (Cij), serta untuk mengetahui model overlay antara analisis LQ dan Shift Share.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan periode yang dianalisis dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Ngawi dan Bapedda Kabupaten Ngawi, alat analisis yang digunakan adalah analisis Location Quotient (LQ), analisis shift-share (SS), dan analisis Overlay.

(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the base sector and non-base in the District of Ngawi, and this study also aims to find the component of regional growth (Nij), components of proportional growth (Mij), and component share growth regions (CIJ), as well as to determine the overlay model between LQ and Shift Share analysis.

The data used in this study is secondary data are analyzed with the period from 2001 until 2010. Data obtained from the Central Bureau of Statistics and Bapedda Ngawi Regency Regency Ngawi, an analytical tool used is the analysis of Location Quotient (LQ), shift-share analysis (SS), and overlay analysis

The results of this study illustrates that the sector base Regency Ngawi are agriculture; construction sector; sector finance, leasing and services company and the services sector. To shift the province (Nij) agricultural sector has become the fastest growing sectors than in other sectors, while the slowest sector is the sector of electricity, gas and water supply. For the proportional growth (Mij) advanced sectors Regency Ngawi is mining and quarrying; electricity, gas and water supply; the trade, restaurant and hotel, transport and communications sector and financial sector, leasing and services company. While the sectors that have not advanced Regency Ngawi is the agricultural sector; manufacturing industry; construction sector and services sector. To share growth regions (Cij) sector has competitiveness in Ngawi Regency of is agriculture; manufacturing, and construction sectors. While based on the analysis of sector overlay a base that has not advanced sector, has the competitive edge is the agricultural and construction sectors, and non-base sector who have an advanced sector, not competitive is the sector of mining, quarrying sector and electricity, gas and water supply , trade, hotels & restaurants and transport and communications sector

Keywords: Base Sector, Economic Growth, Overlay

se of this research is to analyze how the growth, the effectiveness, and the elasticity of the mining group C taxes to reveneu of tax income in Ngawi Regency. Beside that, the writer also wants to analyze the form and connection between Gross Regional Domestic Product (GRDP) in construction sector and the mining group C taxes.

(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Alloh SWT atas segala nikmat-nikmat yang tiada terhitung nilainya serta berkat keridhoanNya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tesis ini tepat sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Tesis ini berjudul “ANALISIS SEKTOR EKONOMI BASIS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2001 - 2010”, disusun sebagai salah satu persyaratan mencapai

derajat magister pada Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada tesis ini, ucapan terima kasih Penulis sampaikan atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk moril dan materiil. Ucapan terima kasih secara khusus Penulis haturkan kepada ayahanda, lelaki yang mengucurkan keringatnya demi kesuksesanku dan Ibunda tercinta, sumber “mata air” semangat yang tak pernah kering, yang selalu berdoa dengan tulus ikhlas menempuh kepayahan sejati demi selesainya perjuangan penulis, Istri tersayang yang kasih sayangnya menjadi motivator dan kekuatan untuk menjadi lebih baik, anak-anakku tercinta, Daffa dan Zizi, serta keluarga besarku yang tiada hentinya mendukung dan berdoa untuk keberhasilan dan kesuksesanku.

(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

1. Dr. JJ. Sarungu, M.S selaku Ketua Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan UNS;

2. Dr. JJ. Sarungu, M.S selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Drs. Mulyanto, ME selaku Dosen Pembimbing II, atas segala informasi, arahan dan bimbingan dalam penyusunan Tesis ini;

3. Ir. H. Budi Sulistyono selaku Bupati Ngawi;

4. Bapak Dwi Rianto Jatmiko, SH selaku Ketua DPRD Kabupaten Ngawi;

5. Bapak Budi Purwanto selaku Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Ngawi dan Semua Bapak – Bapak Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Ngawi;

6. Drs. Sugeng, Msi selaku Sekretaris DPRD Kabupaten Ngawi dan rakan – rekan Staf Sekretaris DPRD Kabupaten Ngawi:

7. Bapak-bapak dosen yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat kepada Penulis selama menuntut ilmu di Universitas Sebelas Maret Surakarta;

8. Teman-teman Angkatan XIV Kelas Ngawi, terima kasih atas dukungan dan kebersamaan yang tak akan pernah luntur;

9. Rekan-rekan bimbingan, Tante Lina, Mbak Kar, Pak Eko, Tante Eny, Om Romeli, Tante Ita, Om Yanto, dan Pak Slamet, terima kasih atas kebersamaan dan kekompakannya selama bimbingan sampai dengan terselesaikannya tesis kita; 10. Semua pihak yang telah membantu penyusunan Laporan akhir ini, yang tidak dapat

(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu saran dan kritik sebagai masukan bagi perbaikan di masa yang akan datang sangat Penulis harapkan. Akhirnya, Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat. Atas segala kekurangan dalam tesis ini Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

Surakarta, 2011 Penulis,

(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Rumusan Masalah ... 8

C.Tujuan Penelitian ... 8

D.Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Tinjauan Teoritis ... 10

1. Ekonomi Regional ... 10

2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ... 11

(13)
(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

a. Sektor Pertanian ... 63

b. Sektor Kontruksi ... 64

c. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan ... 64

d. Sektor Jasa-Jasa ... 65

2. Pergeseran Pertumbuhan Ekonomi (Shift Share) di Kabupaten Ngawi ... 65

a. Pengaruh Pertumbuhan Propinsi (Nij) ... 65

b. Pertumbuhan Proporsional atau Bauran Industri (Mij) ... 68

c. Pertumbuhan Pangsa Wilayah atau Keunggulan Kompetitif (Cij) ... ... 70

3. Analisis Overlay Antara LQ Dengan Shift Share ... 71

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 74

B.Saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78

(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Berlaku 2001 – 2010 (Juta

Rupiah) ... 5

Tabel 1.2 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Juta

Rupiah) ... 6

Tabel 3.1 Overlay Analisis LQ den Analisi Shift Share) ... 41 Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Ngawi Menurut Jenis Kelamin Tahun 2006

... 51

Tabel 4.2 Kesejahteraan Sosial Kabupaten Ngawi ... 52

Tabel 4.3 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah) 56

Tabel 4.4 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Juta

Rupiah) ... 57 Tabel 4.5 Sarana Pendidikan dan Jumlah Murid ... 58 Tabel 4.6 Panjang Jalan menurut Jenis, Kondisi dan Kelas Jalan di Kabupaten Ngawi

Tahun 2010 (km) ... 59 Tabel 4.7 Nilai LQ Persektor di Kabupaten Ngawi Tahun 2001-2010 ... 62 Tabel 4.8 Laju Pertumbuhan Propinsi Jawa Timur Tahun 2001 – 2010 (Juta Rupiah)

... 66

Tabel 4.9 Pengaruh Pertumbuhan Propinsi Terhadap Kabupaten Ngawi Tahun

2001-2010 (Juta Rupiah) ... 67 Tabel 4.10 Pertumbuhan Proporsional di Kabupaten Ngawi Tahun 2001 - 2010 (Juta

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvi

Tabel 4.11 Pertumbuhan Pangsa Wilayah di Kabupaten Ngawi Tahun 2001 - 2010 (Juta

Rupiah) ... 70 Tabel 4.12 Hasil Analisis Overlay LQ Dengan Shift Share di Kabupaten Ngawi

(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Analisis Ekonomi ... 33

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Pdrb Harga Konstan Kabupaten Ngawi Tahun 2000 – 2010

... 81

Lampiran 2 Data Pdrb Harga Berlaku Kabupaten Ngawi Tahun 2000 – 2010

... 82

Lampiran 3 Data Pdrb Harga Konstan Jawa Timur Tahun 2000 – 2010

... 83

Lampiran 4 Data Pdrb Harga Berlaku Jawa Timur Tahun 2000 – 2010

(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

i ABSTRAK

ANALISIS SEKTOR EKONOMI BASIS KABUPATEN NGAWI TAHUN 2001 - 2010

TAUFIK ROHMAN S4210096

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sektor basis dan non basis di Kabupaten Ngawi, serta penelitian ini juga bertujuan mengetahui komponen pertumbuhan regional (Nij), komponen pertumbuhan proposional (Mij), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (Cij), serta untuk mengetahui model overlay antara analisis LQ dan Shift Share.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan periode yang dianalisis dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2010. Data diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Ngawi dan Bapedda Kabupaten Ngawi, alat analisis yang digunakan adalah analisis Location Quotient (LQ), analisis shift-share (SS), dan analisis Overlay.

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the base sector and non-base in the District of Ngawi, and this study also aims to find the component of regional growth (Nij), components of proportional growth (Mij), and component share growth regions (CIJ), as well as to determine the overlay model between LQ and Shift Share analysis.

The data used in this study is secondary data are analyzed with the period from 2001 until 2010. Data obtained from the Central Bureau of Statistics and Bapedda Ngawi Regency Regency Ngawi, an analytical tool used is the analysis of Location Quotient (LQ), shift-share analysis (SS), and overlay analysis

The results of this study illustrates that the sector base Regency Ngawi are agriculture; construction sector; sector finance, leasing and services company and the services sector. To shift the province (Nij) agricultural sector has become the fastest growing sectors than in other sectors, while the slowest sector is the sector of electricity, gas and water supply. For the proportional growth (Mij) advanced sectors Regency Ngawi is mining and quarrying; electricity, gas and water supply; the trade, restaurant and hotel, transport and communications sector and financial sector, leasing and services company. While the sectors that have not advanced Regency Ngawi is the agricultural sector; manufacturing industry; construction sector and services sector. To share growth regions (Cij) sector has competitiveness in Ngawi Regency of is agriculture; manufacturing, and construction sectors. While based on the analysis of sector overlay a base that has not advanced sector, has the competitive edge is the agricultural and construction sectors, and non-base sector who have an advanced sector, not competitive is the sector of mining, quarrying sector and electricity, gas and water supply , trade, hotels & restaurants and transport and communications sector

Keywords: Base Sector, Economic Growth, Overlay

se of this research is to analyze how the growth, the effectiveness, and the elasticity of the mining group C taxes to reveneu of tax income in Ngawi Regency. Beside that, the writer also wants to analyze the form and connection between Gross Regional Domestic Product (GRDP) in construction sector and the mining group C taxes.

(21)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip tercapainya daya guna dan hasil guna serta pemanfaatan data dan informasi untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan serta evaluasi. Secara umum, pembangunan ekonomi daerah diartikan sebagai suatu proses dimana pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam daerah tersebut (Kuncoro, 2001: 110). Tujuan utama pembangunan ekonomi ini, selain untuk menciptakan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, harus pula menghapus atau mengurangi kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan tingkat pengangguran.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa otonomi daerah merupakan penyerahan kewenangan dari Pusat kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Penyelenggaraan otonomi daerah menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan serta memperhatikan potensi daerah. Seharusnya dengan adanya otonomi daerah pelaksanaan pembangunan

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2 di daerah harus lebih sesuai dengan aspirasi masyarakatnya dan mampu membawa manfaat kesejahteraan masyarakat.

Otonomi daerah mengharuskan setiap daerah untuk menggali segenap potensinya di dalam upaya meningkatkan pembangunan di daerahnya dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Prioritas pembangunan seringkali menjadi salah satu permasalahan bagi pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunannya. Misalnya, apakah memprioritaskan wilayah pengembangan atau memprioritaskan sektoral sebagai prioritas utama pembangunan.

(23)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3 Pembangunan ekonomi daerah merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tolak ukur keberhasilan pembangunan ekonomi daerah dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Kondisi ini, menghadapkan kepada pemerintah daerah untuk lebih bijak dalam menerapkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan, dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik lokal (daerah) secara tepat. Perbedaan kondisi daerah akan membawa implikasi terhadap corak pembangunan yang akan diterapkan berbeda pula. Peniruan mentah-mentah pola kebijakan yang pernah diterapkan dan berhasil pada suatu daerah, belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi daerah lainnya. Begitu pula dengan Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam melaksanakan amanah pembangunan yang berdasarkan kesejahteraan masyarakat.

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(25)

5

Tabel 1.1 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Berlaku 2001 - 2010 (Juta Rupiah)

No Lapangan Usaha (Sektor) 2001 2001 2007 2010

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11)

1. Pertanian 943.901,33 40,85 1.241.272,14 38,02 1.843.370,50 36,64 2.654.359,37 36,63 2. Pertambangan dan Penggalian 13.438,73 0,58 18.070,32 0,55 27.821,13 0,55 36.518,40 0,50 3. Industri Pengolahan 145.763,59 6,31 206.840,03 6,33 306.568,98 6,09 455.258,87 6,28 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 12.682,15 0,55 21.476,84 0,66 36.199,99 0,72 60.369,81 0,83 5. Konstruksi 99.146,81 4,29 141.810,82 4,34 243.130,70 4,83 360.181,25 4,97 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 586.906,13 25,40 880.924,38 26,98 1.412.591,98 28,08 2.076.707,35 28,66 7. Pengangkutan dan Komunikasi 52.283,76 2,26 114.710,78 3,51 205.072,67 4,08 207.931,40 2,87 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan 128.031,58

5,54 161.943,61

4,96 243.939,08 4,85 399.964,91 5,52 9. Jasa - Jasa 328.612,08 14,22 478.073,09 14,64 712.733,97 14,17 994.551,07 13,73 Total 2.310.766,16 100,00 3.265.122,01 100,00 5.031.428,99 100,00 7.245.842,43 100,00 Keteterangan : % =Kontribusi/Share

Sumber : BPS Kabupaten Ngawi (data diolah)

(26)

6

Tabel 1.2 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Juta Rupiah)

No Lapangan Usaha (Sektor) 2001 2001 2007 2010

Nilai % Nilai % Nilai % Nilai %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (11)

1. Pertanian 845.144,68 1,35 879.270,85 4,24 985.007,46 4,67 1.145.589,73 4,87 2. Pertambangan dan Penggalian 12.219,15 4,23 13.412,05 -0,24 15.442,31 7,21 17.526,39 3,19 3. Industri Pengolahan 130.381,76 2,06 145.094,37 4,10 162.859,61 4,80 196.280,68 6,22 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 10.625,41 6,26 12.333,54 1,55 14.673,00 6,87 19.108,85 7,24 5. Konstruksi 87.494,56 2,27 98.453,62 3,76 116.758,32 5,74 135.663,44 6,77 6. Perdagangan, Hotel & Restoran 526.930,55 1,87 614.343,99 5,25 745.925,20 6,95 923.010,01 8,82 7. Pengangkutan dan Komunikasi 47.654,15 6,52 79.274,28 51,65 92.497,17 5,82 81.775,64 8,09 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa

Perusahaan

118.946,72

4,21 122.853,39 -7,87 142.016,95

3,51

190.048,43

5,28 9. Jasa - Jasa 296.662,59 1,70 317.355,84 0,88 364.537,86 3,25 412.818,32 3,40 Total 2.076.059,57 1,93 2.282.391,93 4,35 2.639.717,89 5,16 3.121.821,49 6,09 Keterangan : % = Daya Tumbuh

Sumber : BPS Kabupaten Ngawi (data diolah)

(27)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7 Berkaitan dengan peningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, peran pemerintah daerah sangat diperlukan yaitu dalam membuat strategi dan perencanaan pembangunan daerah, dengan memperhatikan pergeseran sektor ekonomi yang terjadi dari tahun ke tahun. Pemerintah daerah harus mengetahui bagaimana pengaruh terjadinya perubahan struktur ekonomi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Untuk mengetahuinya, pemerintah harus melakukan analisis terhadap perubahan struktur ekonomi yang terjadi di daerah dengan membandingkannya dengan daerah yang lebih besar. Analisis ini digunakan untuk menentukan kinerja atau produktivitas perekonomian daerah, karena dalam analisis ini ada tiga bidang yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya yaitu pertumbuhan ekonomi, pergeseran proporsional, dan pergeseran diferensial (Arsyad,1999:139).

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8 B.Rumusan Masalah

Berkaitan dengan uraian di atas, maka permasalahan yang dibahas dalam menganalisis komposisi ekonomi Kabupaten Ngawi adalah :

1. Sektor-sektor apa yang menjadi sektor basis dan sektor non basis dianalisis dengan Location Quotient di Kabupaten Ngawi?

2. Sektor-sektor apa yang berkembang jika dianalisis dengan Shif Share, komponen pertumbuhan regional (Nij), komponen pertumbuhan proposional (Mij), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (Cij)? 3. Bagaimana hasil kesimpulan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten

Ngawi jika dianalisis dengan metode Overlay antara analisis LQ dan Shift

Share?

C.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya adalah : 1. Untuk mengetahui sektor basis dan sektor non basis dianalisis dengan

Location Quotient di Kabupaten Ngawi.

2. Untuk mengetahui Sektor-sektor apa yang berkembang jika dianalisis dengan Shif Share, komponen pertumbuhan regional (Nij), komponen pertumbuhan proposional (Mij), dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah (Cij).

(29)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9 D.Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini sebagai berikut : 1. Manfaat Teoristis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, khususnya pengetahuan di bidang pemerintahan dalam hal keuangan daerah. Selain itu diharapkan penelitian ini juga bermanfaat untuk memecahkan masalah dalam pembangunan daerah.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis atau terapan penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :

a. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran yang diharapkan bermanfaat bagi Pemerintah Kabupaten Ngawi.

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.Tinjauan Teoritik

Pendekatan masalah dilakukan berdasarkan teori dan konsep dari para ahli. Analisis teori dan konsep ini perlu dilakukan untuk mendapatkan pengertian dan pemahaman yang ilmiah mengenai teori yang telah peneliti kelompokkan berdasarkan permasalahan yang ditemukan.

1. Ekonomi Regional

Analisis komposisi ekonomi wilayah merupakan bagian dari ilmu ekonomi regional. Ilmu ekonomi regional adalah ilmu ekonomi wilayah, menitik beratkan pada bahasan dimensi tata ruang/space/spatial. Mempelajari ilmu ini bertujuan untuk menentukan wilayah-wilayah yang sebaiknya dipilih untuk kegiatan ekonomi dan wilayah-wilayah yang tidak dipilih untuk kegiatan ekonomi. Peran ilmu ekonomi regional sangat penting untuk wilayah, karena dengan hasil analisis ilmu ini pemerintah dapat menetukan kebijakan awal perekonomian. Dengan demikian sektor yang dianggap strategis dan berdaya hasil yang besar dapat diperhatikan, serta dapat menyarankan kegiatan/komoditi yang perlu dijadikan unggulan dan di sub wilayah mana komoditi tersebut dapat dikembangkan.

Ekonomi regional atau ekonomi wilayah memiliki empat alat analisis untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah. Empat alat analisis tersebut adalah :

(31)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11 a. Ketimpangan wilayah

b. Analisis komposisi

c. Analisis keterkaitan ekonomi d. Analisis ketenagakerjaan.

Berdasarkan empat alat analisis ekonomi wilayah tersebut, dititik beratkan pada analisis komposisi ekonomi. Alasan memilih analisis komposisi adalah untuk mengetahui produk unggulan wilayah serta pertumbuhan ekonominya. Pendekatan yang dilakukan penulis dalam analisis komposisi ekonomi adalah pada pendekatan nilai tambah atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan data statistik yang merangkum perolehan nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi di suatu wilayah pada satu periode tertentu. PDRB dihitung dalam dua cara, yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Dalam menghitung PDRB atas dasar harga berlaku menggunakan harga barang dan jasa tahun berjalan, sedangkan pada PDRB atas dasar harga konstan menggunakan harga pada suatu tahun tertentu (tahun dasar). Penghitungan PDRB saat ini menggunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar. Penggunaan tahun dasar ini ditetapkan secara nasional.

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12 a. PDRB harga berlaku/nominal

1) Menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah/propinsi. Nilai PDRB yang besar menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar pula.

2) Menunjukkan pendapatan yang memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatu wilayah/propinsi.

b. PDRB harga konstan

1) Menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan/setiap sektor ekonomi dari tahun ke tahun.

2) Mengukur laju pertumbuhan konsumsi, investasi dan perdagangan luar negeri, perdagangan antara pulau/antar propinsi.

Produk Domestik Regional Bruto dapat dihitung menggunakan tiga pendekatan (BPS, 2008:3-4), yaitu :

a. Pendekatan produksi (production approach)

Menurut pendekatan ini, PDRB dihitung berdasarkan akumulasi nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi yang berada di suatu wilayah dalam waktu tertentu (biasanya dalam satu tahun). Unit produksi tersebut dikelompokkan dalam 9 lapangan usaha (sektor) yaitu :

1) Pertanian

2) Pertambangan dan Penggalian 3) Industri Pengolahan

(33)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13 5) Konstruksi

6) Perdagangan, Hotel dan Restoran 7) Angkutan dan Komunikasi

8) Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 9) Jasa jasa.

b. Pendekatan pendapatan (income approach)

PDRB menurut pendekatan ini, merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah dalam waktu tertentu.

c. Pendekatan pengeluaran (expenditure approach).

PDRB adalah semua komponen pengeluaran aktif seperti pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta nirlaba, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok, dan ekspor

neto dalam jangka waktu tertentu.

Berdasarkan pendekatan produksi (production approach), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Ngawi tahun 2010 menguraikan sektor-sektor PDRB berikut ini :

a. Sektor Pertanian

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14 b. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Kegiatan pertambangan dan penggalian mencakup penggalian, pengeboran, penyaringan dan pengambilan segala macam barang tambang, mineral dan barang galian yang tersedia di alam. Di kabupaten Ngawi belum ada kegiatan subsektor pertambangan, sehingga pada sektor ini hanya disumbang oleh subsektor penggalian.

c. Sektor Industri Pengolahan

Kegiatan industri adalah kegiatan untuk mengubah bentuk baik secara mekanis maupun kimiawi dari bahan organik atau anorganik menjadi produk baru yang lebih tinggi mutunya. Pengelompokan berdasarkan jumlah tenaga kerja, sektor ini dibagi menjadi 2 susektor yaitu susktor industri besar/sedang dengan jumlah tenaga kerja 20 arang atau lebih dan subsektor industri kecil/rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja kurang dari 20 orang.

d. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih 1. Listrik

Subsektor ini mencakup semua kegiatan kelistrikan, baik yang diusahakan oleh PLN maupun yang bukan dari PLN dan PLN pembangkit wilayah jawa timur.

2. Gas

(35)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15 digunakan diperoleh dari perusahaan tersebut. Kabupaten Ngawi karena belum ada perusahaan gas maka subsektor ini belum dihitung. 3. Air Bersih

Subsektor ini mencakup air minum yang diusahakan oleh Perusahaan Air Minum. Data produksi, harga dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan air minum diperoleh dari laporan Perusahaan Air Minum Kabupaten Ngawi yang dikumpulkan oleh BPS Kabupaten Ngawi.

e. Sektor Konstruksi

Sektor kostruksi mencakup semua kegiatan pembangunan fisik konstruksi, baik berupa gedung, jalan, jembatan, terminal, pelabuhan, dam, irigasi, eksplorasi minyak bumi maupun jaringan listrik, gas, air minum, telepon dan sebagainya.

f.Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 1) Perdagangan

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16 Perdagangan eceran mencakup kegiatan pedagang yang umumnya melayani konsumen perorangan atau rumah tangga.

2) Hotel

Subsektor hotel mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan sebagaian atau seluruh bangunan sebagai tempat penginapan. Yang dimaksud akomodasi adalah hotel berbintang maupun tidak berbintang, serta tempat tinggal lainnya yang digunakan untuk menginap seperti losmen, motel dan penginapan. Termasuk kegiatan penyediaan makanan dan minuman serta penyediaan fasilitas lainnya bagi para tamu yang menginap.

3) Restoran

Kegiatan subsektor restoran mencakup usaha kegiatan penyediaan makanan dan minuman jadi yang pada umumnya dikonsumsi di tempat penjualan baik tempat tetap maupun tempat tidak tetap. Kegiatan subsektor ini antara lain rumah makan, warung nasi, warung kopi, kantin, tukang bakso, tukang es, penyediaan makanan dan minuman jadi serta usaha katering, pelayanan restoran kereta api dan kantin yang merupakan usaha sampingan.

g. Sektor Angkutan dan Komunikasi 1) Angkutan Kerata Api

(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17 Perusahaan Umum Kerata Api secara monopoli. Pengangkutan barang menggunakan kereta oleh perusahaan seperti pengangkutan tebu dengan lori di pabrik gula tidak termasuk dalam kegiatan ini.

2) Angkutan Jalan Raya

Subsektor ini meliputi pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kendaraan umum angkutan jalan raya baik bermotor maupun tidak bermotor, meliputi bus, truk, taksi, mikrolet, becak, dokar dan sebagainya. Kendaraan tersebut dapat merupakan kendaraan wajib uji baik memakai plat nomor kuning (umum) maupun plat nomor hitam (pribadi) yang bertujuan untuk usaha komersial.

3) Jasa Penunjang Angkutan

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18 h. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

1) Bank

Kegiatan yang mencakup dalam subsektor bank adalah kegiatan yang memberikan jasa keuangan pada pihak lain seperti menerima simpanan terutama dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit, pengiriman (transfer), rekening koran, jual/beli surat berharga, jaminan bank dan tempat penyimpanan barang-barang berharga. 2) Lembaga Keuangan Bukan Bank

a) Asuransi

Asuransi adalah salah satu jenis lembaga keuangan bukan bank yang usaha pokoknya menanggung resiko atas terjadinya kerugian finansial terhadap sesuatu barang atau jiwa manusia yang disebabkan oleh terjadinya musibah atau kecelakaan atas barang atau orang tersebut hingga mengakibatkan kematian.

b) Pegadaian

(39)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19 c) Koperasi

Koperasi adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum. Kegiatan yang dicakup dalam subsektor ini meliputi koperasi simpan pinjam baik yang berada di KUD maupun yang tidak di KUD.

3) Jasa Penunjang Keuangan

Kegiatan jasa penunjang keuangan meliputi kegiatan berbagai kegiatan ekonomi antara lain perdagangan valuta asing, bursa efek dan perusahaan anjak piutang dan modal ventura.

4) Sewa Bangunan

a) Sewa Bangunan Bukan Tempat Tinggal

Kegiatan subsektor ini mencakup kegiatan persewaan jual beli barang-barang tidak bergerak (bangunan dan tanah), termasuk agen real estate, broker, makelar yang mengurus persewaan, pembelian, penjualan dan penaksiran nilai tanah/bangunan atas balas jasa atau kontrak.

b) Sewa Bangunan Tempat Tinggal

Subsektor ini mencakup semua kegiatan jasa atas penggunaan rumah/bangunan sebagai tempat tinggal oleg rumah tangga tanpa memperhatikan status kepemilikan rumah tersebut.

5) Jasa Perusahaan

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20 pembukuan, jasa pengolahan dan penyajian data, jasa teknik dan arsitektur, jasa periklanan, jasa riset, jasa persewaan alat-alat dan jasa perusahaan lainnya.

i.Sektor Jasa-Jasa

1) Jasa Pemerintahan Umum

Subsektor pemerintahan mencakup semua departemen dan bukan departemen, bdan tinggi negara, kantor-kantor dan badan-badan yang berhubungan dengan adminstrasi pemerintahan dan pertanahan. Termasuk juga kegiatan yang meliputi sekolah pemerintah, universitas pemerintah, rumah sakit pemerintah dan perpustakaan.

2) Jasa Swasta

3) Jasa Sosial dan Kemasyarakatan

(41)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21 4) Jasa Hiburan dan Kebudayaan

Kegiatan yang mencakup dalam subsektor jasa hiburan dan kebudayaan adalah seluruh kegiatan perusahaan/lembaga swasta yang bergerak dalam jasa hiburan, rekreasi dan kebudayaan. Termasuk juga pembuatan dan distribusi film, usaha pemutaran film, peyiaran radio dan televisi, produksi dan pertunjukan sandiwara, tari, museum serta jasa rekreasi lainnya seperti taman hiburan, objek wisata dan gelanggang olah raga.

5) Jasa Perorangan dan Rumah Tangga

Subsektor ini meliputi kegiatan yang pada umumnya melayani perorangan dan rumah tangga.

PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto (NTB) yang tercipta sebagai hasil proses produksi barang dan jasa yang dilakukan oleh berbagai unit produksi dalam suatu wilayah/region pada suatu jangka waktu tertentu, biasanya setahun. Rumus menghitung PDRB adalah sebagai berikut (BPS, 2008:8) :

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22 NTBi = Nilai Produksi (Output)i – Biaya Antara ... (2.2) Sehingga dapat dirumuskan bahwa :

PDRB = NTBi, ... (2.3) Dimana i adalah sembilan sektor dalam PDRB, yaitu:

a. Pertanian

b. Pertambangan dan Penggalian c. Industri Pengolahan

d. Listrik, Gas dan Air Minum e. Konstruksi

f. Perdagangan, Hotel dan Restoran g. Angkutan dan Komunikasi

h. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan i. Jasa jasa.

3. Pengertian Sektor Basis

(43)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23 tersebut harus mengekspor produknya ke daerah lain, sebaliknya apabila sektor tersebut menjadi sektor non basis (bukan unggulan) sektor tersebut harus mengimpor produk sektor tersebut ke daerah lain.

North dalam Arsyad (1999) menyatakan bahwa sektor ekspor berperan penting dalam pembangunan daerah, karena sektor tersebut dapat memberikan konstribusi penting kepada perekonomian daerah, yaitu: a. Ekspor akan secara langsung meningkatkan pendapatan faktor-faktor

produksi dan pendapatan daerah,

b. Perkembangan ekspor akan menciptakan permintaan terhadap produksi industri lokal yaitu industri yang produknya dipakai untuk melayani pasar di daerah.

Pertumbuhan suatu daerah ditentukan oleh eksploitasi kemanfaatan alamiah dan pertumbuhan basis ekspor daerah yang bersangkutan. Teori basis ekonomi menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan tingkat permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah. Pertumbuhan industriindustri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja.

4. Teori Sektor Basis Ekonomi

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24 teknik yang membantu dalam menentukan kapasitas ekspor perekonomian daerah dan derajat keswasembadaan (Self-sufficiency) suatu sektor. Ada dua kerangka konseptual pembangunan daerah yang dipergunakan secara luas, (Azis,1994:96), yaitu :

a. Pertama adalah konsep basis ekonomi, teori basis ekonomi beranggapan bahwa permintaan terhadap input hanya akan meningkat melalui perluasan permintaan terhadap output yang diproduksi oleh sektor basis (ekspor) dan sektor non basis (lokal).

b. Konsep kedua beranggapan bahwa perbedaan tingkat imbalan (rate of

return) diakibatkan oleh perbedaan dalam lingkungan atau prasarana,

dari pada diakibatkan adanya ketidakseimbangan rasio modal-tenaga. Dalam konsep ini, daerah terbelakang bukan karena tidak beruntung atau kegagalan pasar, tetapi karena produktivitasnya rendah. Namun tak banyak studi empirik yang mempergunakan konsep kedua ini, disebabkan kelangkaan data. Data yang lazim dipergunakan dalam studi empirik adalah metode location quotient.

Teori basis ekonomi digunakan sebagai dasar pemikiran teknik

location quotient pada intinya adalah industri basis menghasilkan barang

(45)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25 daerah tidak hanya menaikkan permintaan terhadap hasil industri basis melainkan juga akan meningkatkan permintaan terhadap hasil industri lokal

non basic, sehingga pada akhirnya akan menaikkan investasi di daerah

tersebut. Oleh karena itu menurut teori basis ekonomi, ekspor daerah merupakan faktor penting dalam pembangunan daerah, (Azis, 1994:96). Berdasarkan gagasan ini maka orang berpendapat bahwa industri-industri basislah yang patut dikembangkan di daerah.

Ada beberapa metode yang dipergunakan untuk membagi daerah ke dalam kegiatan basis dan bukan basis (Azis, 1994:105) :

a. Metode langsung

Metode ini mengukur basis dengan menggunakan survei standar dan kuesioner. Cara ini dapat menghindarkan digunakannya kesempatan kerja sebagai indikator. Tetapi metode ini memerlukan waktu yang lama dan biaya yang besar.

b. Metode tidak langsung

Metode ini adalah metode location quotient dan cara pendekatan asumsi adhoc. Metode LQ juga digunakan dalam studi-studi basis empirik. 5. Analisis Location Quotient

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26 bangsa yang bersangkutan dalam produksi suatu barang tertentu, maka daerah tersebut mengekspor barang sesuai dengan tingkat spesifikasinya dalam memproduksi barang tersebut. Jadi diasumsikan bahwa spesialisasi lokal dalam memproduksi mempunyai makna ekspor lokal dari produksi surplus.

6. Analisis Shift Share

(47)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27 output, selama kurun waktu tertentu menjadi pengaruh-pengaruh : pertumbuhan nasional (N), industri mix (bauran industri) (M), dan keunggulan kompetitif ( C ).

B.Hasil Penelitian Terkait

Penelitian yang relevan atau penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang memiliki kemiripan sehingga memungkinkan dapat dijadikan acuan dalam penelitian berikutnya. Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang relevan terhadap tesis Analisis Komposisi Ekonomi Kabupaten Ngawi sebagai berikut :

1. Siswanto, Saparuddin dan Eka Purwanda (2003) dalam Jurnal “Analisis Komposisi Ekonomi Jawa Barat”, menganalisis komposisi ekonomi Provinsi Jawa Barat dengan membandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia (Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan DKI Jakarta). Data yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat dan empat provinsi lain yang dibandingkan pada tahun 1998 dan 1999. Hasil analisis yang diperoleh pada Analisis Komposisi Ekonomi Jawa Barat pada tahun 1998-1999 adalah sebagai berikut :

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28 mengalami penurunan dengan sektor keungan, persewaan bangunan dan jasa perusahaan mengalami penurunan paling besar.

b. Provinsi Jawa Barat mempunyai 7 sektor yang mengalami presentase peningkatan dengan presentase peningkatan terbesar pada sektor listrik, gas dan air bersih dengan kata lain sama dengan dialami PDB nasional. Sedangkan sektor yang penurunan terbesar adalah sektor pertambangan dan penggalian kemudian diikuti sektor bangunan.

c. Tahun 1998 Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta memiliki jumlah sektor basis yang lebih banyak dibandingkan Provinsi Jawa Barat, provinsi yang lainnya meiliki jumlah sektor basis yang sama dengan Provinsi Jawa Barat. Kenyataan ini menunjukkan walaupun Provinsi Jawa Barat memiliki nilai PDRB terbesar, akan tetapi pertumbuhan dan kemandiriannya di bawah Provinsi Jawa Timur dan Provinsi DKI Jakarta.

d. Tahun 1999 jumlah sektor basis di Provinsi Jawa Barat berada di bawah provinsi lainnya. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa Provinsi Jawa Barat mengalami proses pemulihan dari krisis ekonomi yang relatif lebih lambat dibandingkan provinsi-provinsi lainnya.

(49)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29 indikator Sektor pertanian, pertambangan, industri, listrik, bangunan, perdagangan, pengangkutan, keuangan dan jasa-jasa. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan analisis Location Quotient (LQ)dan analisis Shift Share.

Berdasarkan hasil analisis LQ diketahui nilai LQ pada tahun 1996 – 2003 untuk sektor pertanian terjadi penurunan dari 0,91% turun menjadi 0,83%, sektor pertambangan turun dari 0,21% menjadi 0,11%, sektor industri meningkat dari 1,34% menjadi 1,37%, sektor listrik,gas dan air turun dari 1,44% menjadi 1,33%, sektor bangunan turun dari 1,25% menjadi 0,43%, sektor perdagangan turun dari 0,80% menjadi 0,73%, sektor pengangkutan meningkat dari 0,51% menjadi 0,58%, sektor keuangan naik dari 0,73% menjadi 1,01% dan sektor jasa-jasa meningkat dari 0,92% menjadi 1,42%. Hasil dari analisis Shift Share menunjukkan bahwa sektor-sektor yang memiliki kontribusi negatif adalah sektor-sektor pertanian, bangunan dan keuangna sedangkan yang memiliki kontribusi positif adalah sektor pertambangan, industri, listrik, gas dan air, perdagangan, pengangkutan dan jasa-jasa.

(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30 Semarang kebijakan yang akan diambil harus diarahkan untuk lebih terkonsentrasi pada sektor-sektor basis dan sektor ekonomi yang secara propinsi tumbuh lebih cepat. Dari hasil analisis, pembangunan ekonomi Kabupaten Semarang perhatiannya harus lebih banyak ditujukan pada sektor pertanian.

3. Mangun (2007) dalam Tesis “Analisis Potensi Ekonomi Kabupaten dan Kota di Propinsi Sulawesi Tengah”, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis sektor-sektor basis/unggulan, yang mempunyai daya saing kompetitif dan spesialisasi di masing-masing Kabupaten/Kota, menentukan tipologi daerah dan prioritas sektor basis guna pengembangan pembangunan Kabupaten/Kota.

Data yang terpakai dalam penelitian ini adalah data sekunder kurun waktu tahun 2000-2005 bersumber dari BPS Propinsi, BPS Kabupaten/Kota, serta Bapeda Prop. Sulawesi Tengah. Model analisis yang digunakan yakni Analisis LQ, Shift-Share, Tipologi Klassen serta Model Rasio Pertumbuhan (MRP).

(51)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31 Kabupaten/Kota yang masuk kriteria pertama yakni notasi overlay ketiga komponen bertanda positif (+), sebaliknya terdapat 4 Kabupaten yang memiliki sektor ekonomi yang bernotasi negatif untuk ketiga komponen (-) dengan sektor yang sama. Demikian pula hasil analisis shift-share menunjukkan bahwa tidak terdapat sektor yang mempunyai keunggulan kompetitif di semua kabupaten/kota di Propinsi Sulawesi Tengah, tetapi memiliki spesialisasi. Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih; sektor Perdagangan, Hotel, Restoran dan sektor jasa-jasa mempunyai spesialisasi di 6 Kabupaten/Kota; Sektor Industri Pengolahan; Pengangkutan Komunikasi dan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5 Kabupaten/Kota ; Sektor Pertanian; sektor Pertambangan Penggalian 4 Kabupaten/Kota.

(52)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32 C.Kerangka Konseptual

Produk Domestik Regional Bruto adalah faktor lain dari pertumbuhan ekonomi suatu daerah, tetapi yang paling penting karena untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu wilayah ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto. Produk Domestik Regional Bruto terdiri atas dasar berlaku yang digunakan untuk mengetahui pergeseran dan struktur ekonomi dan atas dasar harga konstan yang digunakan untuk mengetahui pertambahan ekonomi dari tahun ke tahun.

Menurut Azis (1994:68) pembangunan daerah harus diperlakukan sebagai masalah nasional bukan sebagai masalah daerah, karena melepaskan tiap daerah dalam kesulitan masing-masing mencerminkan kesalahan fatal, mengingat pertumbuhan ekonomi secara nasional merupakan penjumlahan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi suatu daerah sangat ditentukan dari kondisi pembangunannya itu sendiri.

(53)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Analisis Komposisi Ekonomi PDRB Kabupaten Ngawi

Analisis Shift Share (ASS)

Analisis Location Quotient (LQ)

- Sektor Basis

- Sektor Non Basis

- Komponen pertumbuhan regional (Nij)

- Komponen pertumbuhan proposional (Mij)

- Komponen pertumbuhan pangsa wilayah (Cij)

overlay antara analisis LQ

dan Shift Share

(1) (2)

(54)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34 BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian

Jenis penelitian dalam menganalisis komposisi ekonomi Kabupaten Ngawi adalah penelitian diskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sedangkan pendekatan kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

B.Tipe Penelitian dan Unit Analisis

Unit analisis merupakan satu faktor yang dipertimbangkan oleh peneliti dalam menentukan besarnya sampel disamping pendekatan, unit analisis pada penelitian ini adalah Kabupaten Ngawi.

C.Sumber, Jenis dan Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam menganalisis komposisi ekonomi di Kabupaten Ngawi adalah data PDRB jenis data sekunder yang dikumpulkan dari sumber-sumber:

1. Badan Pusat Statistik Kabupaten Ngawi.

a. PDRB Kabupaten Ngawi dan Provinsi Jawa Timur harga berlaku. b. PDRB Kabupaten Ngawi dan Provinsi Jawa Timur harga konstan. 2. Bapedda Kabupaten Ngawi.

a. Kondisi geografis Kabupaten Ngawi.

b. Kondisi sosial kependudukan Kabupaten Ngawi.

(55)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Definisi operasional variabel penelitian ini adalah : 1. Potensi Ekonomi

Merupakan kemampuan ekonomi yang dimiliki daerah yang mungkin atau layak dikembangkan sehingga akan terus berkembang menjadi sumber penghidupan rakyat setempat bahkan dapat menolong perekonomian daerah secara keseluruhan untuk berkembang dengan sendirinya dan berkesinambungan (Soeparmoko, 2002)

2. Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB )

Merupakan indikator untuk mengetahui kondisi perekonomian suatu wilayah, yang dapat dilihat berdasarkan harga berlaku atau atas dasar harga konstan. PDRB dimaksudkan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha yang ada dalam suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu tahun. PDRB yang terpakai dalam penelitian ini adalah PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000.

3. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan yang dimaksudkan adalah pertumbuhan PDRB rata-rata sejak tahun 2001-2010 yang dihitung dengan menggunakan rumus:

a. Untuk pertumbuhan menurut lapangan usaha digunakan

∆E = ( E*ij - Eij ) / Eij. ... (3.1)

b. Untuk pertumbuhan PDRB digunakan

∆E = ( E*j - Ej ) / Ej. ... (3.2)

Dimana : E = Output

(56)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36 * adalah tahun terakhir

4. Sektor - Sektor Ekonomi

Terdapat sembilan sektor ekonomi di masing-masing Kabupaten/Kota. Adapun sektor - sektor perekonomian dimaksud yakni:

a. Pertanian b. Penggalian

c. Industri Pengolahan d. Listrik dan Air Minum e. Bangunan

f.Perdagangan, Hotel dan Restoran g. Angkutan dan Komunikasi

h. Keuangan Perusahaan dan Jasa Perusahaan i.Jasa – jasa

5. Kegiatan Ekonomi

Dalam perekonomian regional terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang digolongkan kedalam 2 bagian yakni : Kegiatan basis /unggulan dan kegiatan Non basis.

E.Teknik Analisis

Data yang diperoleh akan digunakan untuk menganalisis perubahan yang terjadi pada sembilan sektor ekonomi di Kabupaten Ngawi, dengan metode analisis LQ dan Shift Share. Metode tersebut akan membandingkan sektor-sektor ekonomi daerah Kabupaten Ngawi. Pada analisis Shift-Share data yang digunakan atau data yang dianalisis adalah PDRB Kabupaten Ngawi menurut harga konstan (2000) periode tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.

(57)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37 Tidak semua sektor dalam perekonomian memiliki kemampuan tumbuh yang sama, oleh karena itu perencanaan pembangunan wilayah memanfaatkan sektor-sektor basis yang dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satu indikator yang mampu menggambarkan keberadaan sektor basis adalah melalui indeks LQ (location quotient). LQ adalah indikator sederhana yang menunjukkan kekuatan atau besar kecilnya peranan suatu sektor dalam suatu daerah dibandingkan dengan daerah diatasnya. Ada dua cara untuk mengukur LQ, yaitu melalui pendekatan nilai tambah atau PDRB dan pendekatan tenaga kerja. Berkaitan dengan tujuan penelitian, dalam mengukur LQ menggunakan pendekatan nilai tambah atau PDRB adalah sebagai berikut :

Menurut Tarigan (2009:35), Secara umum location quotient dapat dirumuskan sebagai berikut:

Jika :

vi : Pendapatan dari industri/sektor i di suatu daerah (kabupaten) vt : pendapatan total di daerah tersebut (kabupaten)

Vi : Pendapatan dari industri/sektor i di daerah yang lebih luas (provinsi) Vt : Pendapatan total di seluruh daerah yang lebih luas (provinsi)

Industri/sektor i di daerah itu mempunyai location quotient sebesar:

…..………... (3.3)

(58)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38 a. LQ > 1 menunjukkan bahwa sektor tersebut basis, artinya sektor tersebut memiliki prospek yang menguntungkan untuk dikembangkan, karena mampu mengalokasikan ke daerah lain.

b. LQ < 1 menunjukkan bahwa sektor tersebut non basis dan kurang menguntungkan untuk dikembangkan serta belum mampu memenuhi semua permintaan dari dalam daerah sehingga harus didatangkan dari daerah lain.

2. Analisis Shift Share

Analisis ini mengasumsikan bahwa perubahan pendapatan, produksi atau tenaga kerja suatu wilayah dapat dibagi dalam tiga komponen pertumbuhan, yaitu komponen pertumbuhan regional (regional growth

component), komponen pertumbuhan proporsional (proportional or industri

mix growth component) dan komponen pertumbuhan pangsa wilayah

(regional share growth component).

Pengaruh pertumbuhan nasional disebut pengaruh pangsa (share), pengaruh bauran industri disebut proportional shift atau bauran komposisi, dan akhirnya pengaruh keunggulan kompetitif dinamakan pula differential

shift atau regional share. Itulah sebabnya disebut teknik shift-share.

Menurut Soepomo (1993 : 44-45) analisis shift-share dapat dirumuskan sebagai berikut :

(59)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id nasional yang masing-masing didefinisikan sebagai:

rij = (Y*ij - Yij) / Yij ……….. (3.8) Keterangan

Dij : pergeseran (selisih) pendapatan pada sektor i di wilayah j Nij : komponen pertumbuhan regional pada sektor i di wilayah j Mij : komponen pertumbuhan proporsional pada sektor i di wilayah j Cij : komponen pertumbuhan pangsa wilayah pada sektor i di wilayah j Yij : pendapatan pada sektor i di wilayah j

rij : laju pertumbuhan sektor i pada wilayah j

Superscript* menunjukkan pendapatan pada tahun akhir analisis.

Menurut Daryanto (2010 : 26) komponen-komponen pada analisis

shift share dapat diasumsikan sebagai berikut :

a. Komponen pertumbuhan regional (regional growth component), Nij, apabila bernilai positif memiliki makna bahwa sektor pada wilayah tersebut tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan sektor di wilayah atasnya. Apabila bernilai negatif berarti pertumbuhan sektor di wilayah tersebut lebih lambat dari sektor di wilayah atasnya.

b. Komponen pertumbuhan proporsional (proportional or industri mix

growth component), Mij, bernilai positif mengindikasikan bahwa sektor

di wilayah tersebut merupakan sektor yang maju dari pada sektor di wilayah atasnya.

c. Komponen pertumbuhan pangsa wilayah (regional share growth

(60)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40 pada wilayah tertentu dibandingkan dengan sektor yang sama pada wilayah di atasnya.

3. Analisis Overlay

(61)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41 Tabel 3.1. Tabel Overlay Analisis LQ den Analisi Shift Share

No LQ Shift Share Kesimpulan maju, Tidak memiliki daya saing

2 Non Basis (LQ<1)

+ + Sektor Tidak unggulan, Sektor yang maju ,Memiliki daya saing

+ - Sektor Tidak unggulan, Sektor yang maju , Tidak memiliki daya saing - + Sektor Tidak unggulan, Sektor yang

tidak maju, Memiliki daya saing

- -

(62)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Gambaran Umum Obyek Penelitian

1. Kondisi Geografis Kabupaten Ngawi

Kabupaten Ngawi secara geografis berada di provinsi Jawa Timur bagian Barat, merupakan daerah penghubung Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Ngawi adalah 1.295,9851 km2 atau 129.598,51 Ha. Secara administratif pemerintahan terbagi kedalam : 19 kecamatan, 4 kelurahan, dan 213 desa. Secara astronomis Kabupaten Ngawi terletak pada posisi 7021’ – 7031’ Lintang Selatan dan 111007’ – 111040’ Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah utara : Kabupaten Blora, Kabupaten Grobogan (Provinsi Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro (Provinsi Jawa Timur),

b. Sebelah barat : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen (Provinsi Jawa Tengah),

c. Sebelah selatan : Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun (Provinsi Jawa timur),

d. Sebelah timur : Kabupaten Madiun (Provinsi Jawa Timur).

(63)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

43

Gambar 4.1 Peta Wilayah Kabupaten Ngawi

Sumber : BPS, 2010, Kabupaten Ngawi dalam angka 2010

(64)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

Gambar 4.2 Komposisi Penggunaan Lahan (%)

Sumber : BPS, 2010, Kabupaten Ngawi dalam angka 2010

Luas lahan pertanian mencapai 72 % dari luas wikayah Kabupaten Ngawi. Hal ini menggambarkan sektor pertanian merupakan sektor andalan bagi penduduk Ngawi. Dari 5 subsektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan), subsektor tanaman pangan khususnya komoditi padi penyumbang terbesar terhadap total nilai produksi pertanian.

2. Pemerintahanan Kabupaten Ngawi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dokumen perencanaan pembangunan daerah yang harus disusun oleh Pemerintah Kabupaten adalah :

Sawah 44,69%

Perkebunan 1,20% Tegalan

6,30% Pekarangan

10,41% Hutan Ngr

35,05%

(65)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

45 a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), yang memiliki

jangka waktu perencanaan 20 tahun,

b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), yang memiliki jangka waktu perencanaan 5 tahun,

c. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD), yang memiliki jangka waktu perencanaan 1 tahun.

Berdasarkan dokumen perencanaan pembangunan daerah tersebut, masing-masing satuan kerja perangkat daerah harus menyusun dokumen perencanaan pembangunan :

a. Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), memiliki jangka waktu perencanaan 5 tahun sebagai penjabaran dari RPJMD,

b. Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD), memiliki jangka waktu perencanaan 1 tahun sebagai penjabaran dari Renstra SKPD dan RKPD.

(66)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46 pembangunan pertanian, kehutanan, sosial ekonomi, pendidikan, kesehatan, prasarana dan sarana wilayah, penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan beragama.

Visi Kabupaten Ngawi adalah "Terwujudnya Kabupaten Ngawi yang unggul di bidang agraris untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam suasana agamis". Visi tersebut ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Ngawi Tahun 2006-2010. Untuk mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut, maka ditetapkan misi yang merupakan pernyataan penetapan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Ngawi. Misi tersebut merupakan penjabaran dari visi pembangunan daerah yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh, yaitu: a. Mewujudkan sistem penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih

transparan, partisipatif dan akuntabel demi terjamin dan tegaknya supremasi hukum dan hak azasi rakyat.

b. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dengan memberikan pelayanan sesuai standar pelayanan minimal untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

c. Memberdayakan dan memanfaatkan ketersediaan sumber daya alam dan manusia yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

(67)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

47 Penyusunan rencana pembangunan tahunan (RKPD) Kabupaten Ngawi Tahun 2010, diawali dengan Musrenbang dari tingkat Desa / Kelurahan, tingkat Kecamatan dan Kabupaten dengan melibatkan perwakilan masyarakat dan representasi stakeholders ( Perguruan Tinggi, LSM, Dunia Usaha, Kalangan Profesi, Organisasi Masa dan DPRD). Proses perencanaan dilakukan melalui pendekatan participatory,

comprehensiveness, dan proses bottom up dan top down. Proses top down

planing merupakan langkah-langkah penyampaian batasan umum oleh

Pemerintah Kabupaten Ngawi yang diambil dari substansi dokumen RPJM mengenai prioritas-prioritas pembangunan di Kabupaten Ngawi Tahun 2010. Sedangkan proses bottom up planning berarti SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) diberi keleluasaan untuk merancang kegiatan-kegiatan pembangunan dengan pendekatan politik, pendekatan politik merupakan rencana strategi dalam pemilihan elemen bahwa masyarakat dapat menentukan pilihan. Beberapa pendekatan yang dilakukan dijelaskan sebagai berikut :

a. Pendekatan teknokratik

Penyusunan dengan pendekatan teknokratik yaitu metode dengan menggunakan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai suatu hasil yang dapat diterima para pihak terkait.

b. Pendekatan partisipatif

(68)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

48 aspirasi dan menciptakan rasa memiliki sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dan berkesinambungan.

c. Pendekatan atas-bawah (top-down)

Pendekatan atas-bawah (top-down) dalam perencanaan dilaksanakan melalui mekanisme birokrasi pemerintahan.

d. Pendekatan bawah - atas (bottom-up)

Pendekatan bawah-atas (bottom-up) dilakukan melalui musyawarah baik tingkat Desa/Kelurahan, tingkat Kecamatan, dan tingkat Kabupaten. e. Prioritas dan Sinergisitas

Kegiatan pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah, terdistribusikan dengan mempertimbangkan prioritas dan menciptakan sinergisitas antara pemerintah dan masyarakat melalui forum Musrenbang - SKPD (Musyawarah Perencanaan Pembangunan - Satuan Kerja Perangkat Daerah) di Kabupaten Ngawi.

f.Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah

Proses penyusunan rencana tahunan di Kabupaten Ngawi merupakan proses penyatuan persepsi di antara SKPD mengenai prioritas pembangunan daerah di Kabupaten Ngawi Tahun 2008 dengan mempertimbangan kemampuan keuangan daerah.

3. Indikator Kinerja Pembangunan

a. Kondisi Sosial Kependudukan

(69)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

49 kemasyarakatan. Bidang sosial merupakan bidang yang terkait langsung dengan masyarakat sebagai pelaku dan penikmat pembangunan. Komposisi dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang bervariasi merupakan pencermatan secara khusus dalam pelaksanaan pembangunan. Berdasarkan konteks sosial kemasyarakatan, secara kuantitatif penduduk Kabupaten Ngawi mayoritas adalah pemeluk agama Islam (lebih dari 95%). Secara umum pemeluk Islam tersebut mayoritas memiliki kedekatan hubungan kultural dengan organisasi masyarakat (ormas) Nahdhatul Ulama. Hal tersebut dalam kenyataan sehari-hari cukup memberi pengaruh bagi interaksi antar penduduk dan antar kelompok masyarakat.

(70)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

(71)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

51 Tabel 4.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Ngawi Menurut Jenis Kelamin

Tahun 2006 Sumber : Kabupaten Ngawi dalam angka tahun 2010 (diolah)

Kepadatan penduduk menunjukkan rasio antara jumlah penduduk dengan luas wilayah. Tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Ngawi tahun 2006 adalah 678 jiwa/Km2 , naik sekitar 2 jiwa untuk setiap kilometer persegi dari tahun sebelumnya. Tingkat kepadatan per kecamatan tertinggi di Kecamatan Ngawi (1.114 jiwa/Km2) dan tingkat kepadatan terendah adalah Kecamatan Karanganyar (208 jiwa/Km2).

(72)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

52 lowongan kerja yang tersedia sebanyak 2.683 orang dan jumlah penempatan kerja hanya untuk 1.892 orang. Berikut ini Tabel 4.2 untuk mengetahui tingkat kesejahteraan sosial di Kabupaten Ngawi pada tahun 2009 :

Tabel 4.2 Kesejahteraan Sosial Kabupaten Ngawi

No. Jenis Data Satuan Tahun

Sumber : Kabupaten Ngawi dalam angka tahun 2010 (diolah)

(73)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

53 dapat ditetapkan strategi pembangunan tahun 2008 dan mensinergikan seluruh program pembangunan agar tepat sasaran dan memiliki keluaran berfokus kesejahteraan masyarakat. IPM Kabupaten Ngawi mengalami fluktuasi. Pada tahun 1996 IPM Ngawi sebesar 65,00, kemudian menurun sebesar 2,60 % menjadi 58,84 pada tahun 1999, dan pada tahun 2002 kembali naik menjadi 61,42, sedangkan pada tahun 2004 meningkat lagi menjadi 63,99. Mendasar data BPS Provinsi Jawa Timur pada tahun 2006, Angka Harapan Hidup 72,58; rata-rata lama sekolah adalah 6,30; Angka melek huruf 0 dan Paritas daya beli 54,50; dengan keseluruhan Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Ngawi sebesar 63,59.

b. Kondisi Perekonomian Daerah

Gambar

Tabel 4.12  Hasil Analisis Overlay LQ Dengan Shift Share di Kabupaten Ngawi
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kabupaten Ngawi     .............................................
Tabel 1.1 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Berlaku 2001 - 2010 (Juta Rupiah)
Tabel 1.2 PDRB Kabupaten Ngawi Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 (Juta Rupiah)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Pertumbuhan Ekonomi, Pola Perubahan Struktural dan Ketimpangan Regional Kabupaten Sukoharjo Tahun 2006- 2013.. Sari, Puput

Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui daerah yang mempunyai sektor basis dan mengetahui pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah. Suatu daerah dikatakan

Berdasarkan hasil analisis ini maka dapat dikatakan bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional Kabupaten Samosir yang lebih tinggi di masa yang akan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sektor ekonomi kabupaten Blora mempunyai pengaruh pertumbuhan wilayah (Nij) yang positif dan ada tujuh sektor yang

Kabupaten Lamongan memiliki laju pertumbuhan rata-rata yang terus meningkat, agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kabupaten Lamongan terarah dan efisien, perlu adanya

Kabupaten Lamongan memiliki laju pertumbuhan rata-rata yang terus meningkat, agar pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kabupaten Lamongan terarah dan efisien, perlu adanya

Apabila dilihat berdasarkan lingkup Provinsi, maka Provinsi Papua Barat memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan seluruh Provinsi

Apabila dilihat berdasarkan lingkup Provinsi, maka Provinsi Papua Barat memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi jika dibandingkan dengan seluruh Provinsi