• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5. Minyak Bumi

2.5.4.1. Sumber dan Pengolahan Limbah Cair

Berdasarkan buku Pertamina (1986), sumber limbah cair minyak bumi berasal

dari kegiatan-kegiatan antara lain:

1. Air pendingin di kilang minyak, dimana bila terjadi kebocoran pada pipa

pendingin, bocoran minyak akan terbawa air.

2. Air sisa umpan boiler untuk pembangkit uap air.

3. Air sisa dari lumpur pembocoran.

4. Air bekas mencuci peralatan-peralatan dan tumpahan-tumpahan/ ceceran

minyak di tempat kerja.

5. Air hujan.

Sedangkan pengolahan limbah cair minyak bumi dapat dilakukan dengan

beberapa cara:

1. Incineration

2. Dilution

3. Deep Well Disposal

4. Secara Mikrobiologis

1. Incineration adalah salah satu cara untuk menguraikan liquid wastes, dan

dengan cara dan alat yang didesain baik dapat menghasilkan effluent/ limbah yang

memenuhi peraturan pencemaran.

1. Combustible Liquids

2. Partially Combustible Liquids

Combustible liquids tidak dapat dikerjakan atau dibuang ke incinerator. Pada kelompok pertama akan terdiri dari bahan-bahan yang mempunyai nilai yang cukup

menunjang pembakaran dalam combustor, burner, atau alat lain yang menghasilkan

CO2 dan H2O bila dibakar. Kelompok kedua akan meliputi bahan-bahan yang sulit

terbakar tanpa penambahan bahan bakar. Bahan yang partially combustible mungkin

mengandung mateial yang terlarut dalam fase liquid, bila zat inorganik akan

membentuk inorganik oxida.

Dalam pelaksanaannya harus dialirkan udara secukupnya pada suhu diatas

ignation point agar terjadi pembakaran yang cepat dan menghasilkan CO2, N2 dan uap air. Karena pembakaran akan lebih cepat dan lebih baik bila bahan dalam

keadaan butir halus maka atomizer diperlukan untuk menginjeksikan waste liquids ke

incinerator bila viscositinya memungkinkan. 2. Dilution (Liquid Waste Dispersion)

Suatu cara lain membuang cairan limbah yang dapat diterima adalah kembali

ke lingkungan dengan pengenceran secukupnya hingga tidak menimbulkan bahaya

atau peracunan terhadap lingkungan. Dengan perancangan subsurface disfersion

system yang baik, akan memungkinkan wadah penerima dapat menampung buangan secara memadai. Beberapa peralatan yang dibutuhkan antara lain mencakup open end

pipes dengan nozzle atau diffuser system yang terdiri dari sederetan pipa-pipa kecil dengan lubang-lubang atau celah. Limbah harus dapat dibuang pada sudut yang baik

harus ditempatkan sedemikian rupa agar discharge point cukup jauh dari garis pantai,

dengan demikian pabrik dan water intake akan terlindungi.

3. Deep Well Disposal

Cara ini dilakukan oleh industri yang banyak membuang limbah asam lemah

dalam jumlah besar. Limbah tersebut dipompakan ke dalam lapisan tanah sampai

pada lapisan tanah yang cocok untuk menampung limbah. Lapisan tanah dimana

limbah ditampung harus lebih rendah dari lapisan fresh water circulation, dan area

tadi harus terisolasi oleh bahan yang kedap air.

Lapisan sandstones, limestones atau dolomite umumnya membentuk lapisan

yang banyak mengandung air asin, tetapi cukup baik sebagai tempat penampungan

limbah cair. Sedangkan lapisan yang mengandung minyak, gas, batubara dan

belerang harus dijaga agar tidak tercemar limbah. Lapisan yang kedap air harus

berada diatas dan dibawah layer untuk mencegah vertical escape dari buangan, atau

dengan kata lain limbah harus ditempatkan pada kedalaman tertentu. Penetapan area

buangan harus ditetapkan sesuai dengan keadaan subsurface geology, dimana daerah

yang banyak batuan vulkanik dihindari karena memungkinkan limbah lolos

kepermukaan tanah atau badan air.

4. Secara Mikrobiologis

Limbah minyak bumi banyak mengandung unsur Hidrokarbon. Limbah

Hidrokarbon cair bersifat hidrofob dan mempunyai kerapatan lebih rendah dari air.

Oleh sebab itu limbah ini selalu terapung diatas air. Pembuangan limbah ke sungai

akan menutupi permukaan air yang mengakibatkan oksigen terlarut menurun, dan

limbah Hidrokarbon sebagai salah satu alternatif adaalah dengan menggunakan

mikroba.

Penanganan Limbah Hidrokarbon dimulai dengan pemisahan padatan dan

pemisahan minyak yang terdapat dalam limbah, dan selanjutnya dilakukan

penanganan limbah secara mikrobiologi untuk mendegradasikan Hidrokarbon dan

senyawa organik lain. Efluent lebih lanjut diolah secara kimiawi untuk

menghilangkan senyawa fosfat dan nitrogen. Selanjutnya logam-logam dan senyawa

organik yang terlarut dipisahkan melalui proses filtrasi dan absorbsi oleh karbon

aktif. Efluent sebelum dibuang, diklorinasikan untuk mematikan mikroba patogen dan

dinetralkan pH-nya sehingga aman bagi lingkungan.

Pengolahan limbah Hidrokarbon secara mikrobiologis dilakukan dengan

proses aerob. Oleh sebab itu dalam kolam-kolam pengolahan limbah diperlukan

aerasi yang cukup agar oksidasi Hidrokarbon berlangsung. Aerasi yang dilakukan adalah memasukkan oksigen ke dalam limbah melalui proses pengadukan. Gabungan

aerasi dan pengadukan lebih cocok karena permukaan limbah yang luas membuat kontak mikroba menjadi lebih besar dan degradasi lebih efektif. Hidrokarbon tidak

akan larut dalam air pada saat pengadukan. Untuk memperbesar distribusi mikroba

dalam limbah Hidrokarbon, maka perlu ditambah zat pengemulsi sehingga terjadi

emulsi Hidrokarbon, maka perlu ditambah zat pengemulsi sehingga terjadi emulsi

Hidrokarbon dalam air. Selama degradasi, maka temperatur harus diperhatikan.

Temperatur akan naik dari suhu psikofilik (4-20 ºC) sampai mesofilik (20-40 ºC).

Namun hal ini tidak banyak mempengaruhi aktivitas mikroba. pH limbah yang netral

dimetabolisme, maka pH efluent menjadi asam. Oleh sebab itu perlu dinetralkan

dengan kapur (gamping) setelah tahap klorinasi.

Menurut Sugiharto (1987), pengolahan limbah cair minyak bumi dilakukan

dengan 2 cara pengolahan pendahuluan (pre treatment), yaitu:

1. Pengambilan/ penyedotan minyak, dan menyaring kotoran atau sampah padat

seperti daun-daunan, plastic dan lain sebagainya.

2. Pengambilan pasir-pasir yang mengendap yang didapat dari proses pengolahan

minyak bumi yaitu lumpur/ sludge.

Proses pengambilan/ pengerukan pasir atau lumpur dilakukan setiap 3 bulan

sekali dan pasir atau lumpur yang telah dikeruk akan dibuang ke tempat khusus yang

ada di sekitar lokasi pengolahan limbah.

Dokumen terkait