• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. RUANG LINGKUP

2. Sumber Data

a. Catatan kegiatan Puskesmas baik untuk kegiatan dalam gedung maupun luar gedung.

b. Catatan kegiatan Rumah Sakit dan Klinik Kesehatan yang berada di Kota Samarinda.

c. Catatan kegiatan yang dilaksanakan langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda termasuk unit Pelaksana Teknis Kesehatan Kota Samarinda termasuk Gudang Farmasi.

d. Catatan Dokumen Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Samarinda.

e. Catatan Dokumen Badan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Samarinda.

f. Catatan Dokumen Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda.

g. Catatan Dokumen Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Samarinda.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

h. Catatan Kegiatan dari Bidang-bidang yang berhubungan dengan data yang diperlukan Dinas Kesehatan Kota Samarinda.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

BAB II

GAMBARAN UMUM

A. Kondisi Geografis

Kota Samarinda merupakan ibukota Provinsi Kalimantan Timur. Kota Samarinda dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Timur. Secara geografis, Kota Samarinda terletak pada posisi 0o 21’ 18’’ - 1o 09’ 16’’ LS dan 116o 15’ 16’’ - 117 24’ 16’’ BT . Kota ini terbelah oleh Sungai Mahakam, dan memiliki wilayah dengan luas total 718,00 km2. Dengan luas wilayah tersebut kota Samarinda merupakan daerah kota terbesar diantara tiga daerah kota yang ada di Kalimantan Timur. Secara administratif, seluruh wilayah Kota Samarinda berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara baik bagian Utara, Timur, Selatan, maupun Barat.

Gambar 2.1

Peta Wilayah Administrasi Kota Samarinda

Kota Samarinda beriklim tropis basah, hujan sepanjang tahun.

Temperatur udara antara 20o C - 34 o C dengan curah hujan rata-rata 1980 mm/tahun dengan kelembaban udara rata-rata 85 %. Kontur geografis

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

terdiri dari daerah berbukit dengan ketinggian bervariasi dari 10 m - 200 m dari permukaan laut.

B. Sejarah

Kota Samarinda dibentuk dan didirikan pada tanggal 21 Januari 1960, berdasarkan UU Darurat No. 3 Tahun 1953, Lembaran Negara No. 97 Tahun 1953 tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II Kabupaten/kotamadya di Kalimantan Timur. Semula Kodya Dati II Samarinda terbagi dalam 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Kemudian dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Kalimantan Timur No. 18/SK/TH-Pem/1969 dan SK No. 55/TH-Pem/SK/1969, terhitung sejak tanggal 1 Maret 1969, wilayah administratif Kodya Dati II Samarinda ditambah dengan 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja (luas sekitar 2.727 km²). Saat ini pembagian kecamatan di Samarinda tidak termasuk Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja, ketiganya masuk dalam Kabupaten Kutai Kartanegara.

Setelah PP No. 38 Tahun 1996 terbit, wilayah administrasi Kodya Dati II Samarinda mengalami pemekaran, semula terdiri dari 6 kecamatan menjadi 10 kecamatan, yaitu:

1. Kecamatan Sungai Kunjang 2. Kecamatan Samarinda Ulu 3. Kecamatan Samarinda Utara 4. Kecamatan Samarinda Ilir 5. Kecamatan Samarinda Seberang 6. Kecamatan Palaran

7. Kecamatan Samarinda Kota 8. Kecamatan Sambutan 9. Kecamatan Loa Janan Ilir 10. Kecamatan Sungai Pinang

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Sampai saat ini Kota Samarinda terdiri dari 10 Kecamatan dan 59 Kelurahan. Berikut pembagian Kelurahan menurut Kecamatan di wilayah Kota Samarinda :

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Pertumbuhan penduduk di kota Samarinda terjadi baik karena pertumbuhan alami maupun karena urbanisasi dan imigrasi. Apabila dibandingkan dengan daerah Tingkat II lainnya di Kalimantan Timur, maka kota Samarinda merupakan salah satu kota yang tertinggi pertumbuhan penduduknya. Hal ini terjadi karena kota Samarinda memiliki potensi strategis diantaranya :

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 2.2

Jumlah Penduduk Kota Samarinda Tahun 2013 – 2017

Jumlah penduduk di Kota Samarinda tahun 2017 sebanyak 983.503 jiwa, dengan rasio antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebesar 108,56. Jumlah penduduk laki-laki mencapai 52,05 % atau sebesar 511.945

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Berdasarkan gambar 2.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar penduduk kota Samarinda pada tahun 2017 adalah penduduk dalam usia produktif, dewasa atau usia kerja. Hal ini dapat dimaknai dengan semakin tingginya usia harapan hidup. Kondisi ini menuntut kebijakan peningkatan dibidang kesehatan. kedua kecamatan tersebut memiliki wilayah yang luas, dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Diharapkan pemerintah dapat meratakan penyebaran penduduk dari kecamatan-kecamatan yang padat penduduknya, ke wilayah kecamatan yang kurang penduduknya. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di kota Samarinda,

67576

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

sehingga seluruh masyarakat kota Samarinda dapat terpenuhi haknya dibidang kesehatan secara merata.

D. Keadaan Ekonomi

Potensi perekonomian Kota Samarinda dari tahun ke tahun cukup berkembang dengan pesat dari berbagai sektor bisnis, dengan banyaknya di bangun perumahan dan hotel – hotel. Selain industri menengah, juga memiliki potensi industri rumah tangga atau produk kerajinan rakyat seperti : batu-batuan (kristal, kecubung, dan lain-lain), rotan (topi seraung, lampit, dan lain-lain), peralatan dan hiasan tradisional (mandau, patung, manik-manik, dan lain-lain), serta pakaian tradisional (sarung Samarinda, batik Kaltim, dan lain-lain). Kota Samarinda juga menyimpan potensi perekonomian melalui sektor pariwisata, diantaranya : Wisata alam, yaitu Gunung Batu Putih, Air terjun Tanah Merah, Air Terjun Berambai, Air Terjun Pinang Seribu, Gunung Steiling Selili, Kebun Raya Unmul Samarinda, Rumah Ulin Arya; Wisata Budaya, yaitu Desa Budaya Pampang; Wisata Pendidikan dan Permainan, yaitu Salma Shofa, Mahakam Lampion Garden, Kawasan wisata Taman Samarendah; Wisata Religi, yaitu Mesjid Tua Samarinda Seberang, Masjid Islamic Center, serta potensi Wisata di sepanjang Sungai Mahakam.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

BAB III

KEADAAN DERAJAT KESEHATAN

Untuk menilai derajat kesehatan masyarakat, digunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), morbiditas (kesakitan) dan keadaan status gizi. Pada Bab ini, derajat kesehatan masyarakat kota Samarinda digambarkan melalui Angka Mortalitas (AKB dan AKI), Angka Morbiditas (Angka Kesakitan beberapa penyakit), serta Status Gizi pada bayi dan balita.

A. Angka Mortalitas

Mortalitas dapat diartikan sebagai kejadian kematian pada suatu masyarakat dari waktu ke waktu dan tempat tertentu yang dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi/tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. Selain itu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan.

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka Kematian Bayi adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 Kelahiran Hidup (KH) pada tahun yang sama. Usia bayi merupakan kondisi yang rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian. Pada tahun 2017 jumlah kematian bayi yang terjadi di kota Samarinda sebanyak 30 dari 16.258 Kelahiran Hidup, sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 2 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini cenderung stabil jika dibandingan Angka Kematian Bayi tahun 2016. Stabilnya Angka Kematian Bayi ini dapat menggambarkan keberhasilan program yang didukung mekanisme yang memadai dan efektif mencapai lapisan terbawah.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.1

Angka Lahir Mati di Kota Samarinda Tahun 2013-2017

Dilihat dari gambar di atas angka lahir mati pada tahun 2017 mengalami peningkatan secara signifikan. Angka lahir mati pada tahun 2013 sbesar 2,9. Angka lahir mati tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 0,7.

Pada tahun 2015 naik menjadi 1,5. Sedangkan angka lahir mati tahun 2016 turun menjadi 1,0. Angka lahir mati mengalami kenaikan lagi pada tahun 2017, hal ini dipengaruhi jumlah bayi lahir mati meningkat dari tahun 2016 sedangkan jumlah kelahiran hidup tahun 2017 menurun dibanding tahun 2016.

2. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka Kematian Ibu adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya dan bukan karena sebab-sebab lain per 100.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Motality Rate (MMR) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas.

2.9

0.7

1.5

1

1.5

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

2013 2014 2015 2016 2017

ANGKA LAHIR MATI

TAHUN

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.2

Angka Kematian Ibu di Kota Samarinda Tahun 2013-2017

Angka Kematian Ibu (AKI) di kota Samarinda dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 cenderung fluktuatif. Pada tahun 2013 sebesar 69 per 100.000 Kelahiran Hidup, kemudian menurun di tahun 2014 menjadi 50 per 100.000 Kelahiran Hidup, setelah mengalami penurunan pada tahun 2015 meningkat kembali menjadi yaitu 76 per 100.000 Kelahiran Hidup, di tahun 2016 menunjukkan penurunan yang signifikan yakni 40 per 100.000 kelahiran hidup. Kemudian AKI di Kota Samarinda kembali meningkat di tahun 2017, yakni 92 per 100.000 Kelahiran Hidup. Meningkatnya AKI dan Angka Lahir Mati di Kota Samarinda pada tahun 2017 ini merupakan suatu persoalan yang mendorong berbagai pihak untuk kembali meningkatkan kesadaran perilaku hidup sehat, meningkatkan status gizi dan kesehatan ibu, meningkatkan kebersihan lingkungan, meningkatkan pelayanan kesehatan.

Sehingga diharapkan Angka Lahir Mati dan AKI akan terus menurun di tahun-tahun berikutnya.

Kematian Ibu pada tahun 2017 terjadi paling banyak pada usia Ibu 20 – 34 tahun dan terbanyak terjadi pada masa persalinan.

69

50

76

40

92

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

2013 2014 2015 2016 2017

ANGKA KEMATIAN IBU

TAHUN

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

B. Angka Morbiditas

Morbiditas adalah angka kesakitan, dapat berupa angka insidensi maupun angka prevalensi dari suatu penyakit. Morbiditas atau Angka Kesakitan dapat menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi dan pada kurun waktu tertentu. Angka kesakitan juga dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberhasilan program pemberantasan penyakit, mengetahui keadaan sanitasi lingkungan, serta dapat menggambarkan pengetahuan penduduk terhadap pelayanan kesehatan.

Jenis penyakit yang terdapat di kota Samarinda pada tahun 2017 gambarannya dapat terlihat sebagai berikut :

1. Penyakit Menular a. Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Sumber penularan yaitu pasien TB BTA (Bakteri Tahan Asam) positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB meskipun dengan tingkat penularan yang kecil.

Beban penyakit yang disebabkan oleh tuberculosis dapat diukur dengan Case Notification Rate (CNR), prevalensi (didefinisikan sebagai jumlah kasus tuberkulosis pada suatu titik waktu tertentu), dan mortalitas/kematian (didefinisikan sebagai jumlah kematian akibat tuberculosis dalam jangka waktu tertentu).

Di tahun 2017 penemuan kasus TB BTA (+) di kota Samarinda sebanyak 636 kasus. Menurut jenis kelamin, jumlah kasus pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan yaitu 390 kasus (61 %) pada laki-laki dan 246 kasus (39 %) pada perempuan. Kasus tuberculosis pada anak - anak 0 – 14 tahun sekitar 5 % dari total penemuan kasus, jumlah ini meningkat 2 % dibandingkan tahun sebelumnya.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.3

Jumlah Kasus Baru TB BTA+ di Kota Samarinda Tahun 2017

Dari Gambar 3.3 menunjukkan kasus TB BTA+ tahun 2017 paling banyak ditemukan di Kecamatan Samarinda Ulu yaitu sebanyak 148 kasus (23,3

%), menyusul kasus terbanyak kedua tercatat ditemukan di Kecamatan Samarinda Utara yaitu sebanyak 104 kasus (16,4 %), sedangkan terbanyak ketiga tercatat ditemukan di Kecamatan Sungai Kunjang yaitu sebanyak 101 kasus (15.9 %).

b. HIV/AIDS

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Infeksi tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Sebelum memasuki fase AIDS, penderita terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. Jumlah HIV positif yang ada di masyarakat dapat diketahui melalui 3 metode, yaitu pada Voluntary, Counseling, and Testing (VCT), sero survey, dan Survei Terpadu Biologis dan Prilaku (STBP).

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Jumlah kasus baru HIV positif di Kota Samarinda yang dilaporkan pada tahun 2017 sebanyak 581 kasus, terdiri dari 423 kasus (72,8 %) pada laki-laki dan 106 kasus (18,2 %) pada perempuan. Jumlah kasus baru HIV terus meningkat dari tahun 2015, hal positif dari peningkatan tersebut menandakan sistem pelaporan yang semakin baik dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat yang menjadi faktor resiko untuk melakukan tes. Diharapkan semakin cepat terdeteksi dapat semakin dini tertangani dan mendapat pengobatan secara rutin, sehingga dapat mencegah penularan dan mengurangi resiko kematian. kasus ini meningkat apabila dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2016. Jumlah kematian akibat AIDS pada tahun 2017 sebanyak 12 kasus.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Berdasarkan gambar 3.5 dapat dilihat bahwa kasus AIDS terbanyak ditemukan pada kelompok usia 25 – 49 tahun, menyusul kemudian kelompok umur 20 – 24 tahun. Sedangkan jika penemuan kasus dilihat menurut jenis kelamin, maka dapat disimpulkan laki-laki lebih beresiko mengidap AIDS dibanding perempuan.

HIV/AIDS dapat ditularkan melalui beberapa cara, yaitu hubungan seksual lawan jenis (heteroseksual), hubungan sejenis ke dalam kelompok umur produktif yang aktif secara seksual dan termasuk kelompok umur yang terbanyak menggunakan NAPZA suntik.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

c. Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Pneumococcus, Staphylococcus, Streptococcus, dan virus. Gejala penyakit pneumonia yaitu menggigil, demam, sakit kepala, batuk, mengeluarkan dahak, dan sesak napas. Populasi yang rentan terserang pneumonia adalah anak – anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi).

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit pneumonia, yaitu dengan meningkatkan penemuan penderita pada balita.

Perkiraan kasus pneumonia pada balita di suatu wilayah tertentu sebesar 10

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Kasus Pneumonia pada balita di kota Samarinda pada tahun 2017 sebanyak 1.662 kasus, jumlah ini meningkat dibandingkan dengan kasus penemuan pada tahun 2016. Dari gambar 3.6 dapat dilihat bahwa kasus terbanyak ditemukan di wilayah kecamatan Samarinda Utara, menyusul kemudian terbanyak kedua berada di kecamatan Sambutan. Penemuan kasus paling sedikit ada di kecamatan Sungai Pinang. Jumlah penderita pneumonia pada balita laki-laki lebih banyak dibanding jumlah penderita yang berjenis kelamin perempuan.

d. Kusta

Penyakit kusta disebut juga penyakit Lepra atau penyakit Hansen, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini mengalami proses pembelahan cukup lama antara 2 – 3 minggu. Daya tahan hidup kuman kusta mencapai 9 hari di luar tubuh manusia. Kuman kusta memiliki masa inkubasi 2 – 5 tahun bahkan juga dapat memakan waktu lebih dari 5 tahun. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017 perempuan. Jumlah ini meningkat dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2016.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Dari gambar 3.8 di atas dapat dilihat kasus campak tertinggi ditemukan di kecamatan Samarinda Ulu (28,8 %), menyusul tertinggi kedua ditemukan di kecamatan Palaran (27,1 %).

b. Difteri

Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria yang menyerang sistem pernafasan bagian atas. Penyakit difteri pada umumnya menyerang anak-anak usia 1 – 10 tahun. Pada tahun 2017 terdapat laporan suspek kasus difteri sebanyak 1 kasus, yang ditemukan di wilayah kecamatan Samarinda Ulu.

3. Demam Berdarah Dengue ( DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang angka kejadiannya cukup tinggi. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang tergolong Arthropod-Borne Virus, genus Flavivirus, dan family Flaviviridae. DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat.

Pada tahun 2017 jumlah penderita DBD yang dilaporkan melalui Sistem Informasi Daerah (SIKDA) Samarinda sebanyak 519 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 4 orang. Angka Kesakitan (Incidence Rate/IR) = 52,8 per 100.000 penduduk dan Angka Kematian (Case Fatality Rate/CFR) = 0,8 %. Kematian akibat DBD di Samarinda tergolong rendah, karena CFR < 1

%. Meskipun angka kematian akibat DBD di kota Samarinda tergolong rendah tetap masih perlu upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan peningkatan kualitas dan kuantitas SDM kesehatan di Rumah Sakit, Klinik-klinik dan Puskesmas termasuk peningkatan sarana-sarana penunjang diagnostik dan penatalaksanaan bagi penderita di sarana-sarana pelayanan kesehatan. Berikut penyebaran kasus DBD di kota Samarinda tahun 2017.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.9

Jumlah Kasus DBD per Kecamatan di Kota Samarinda Tahun 2017

Dari gambar 3.9 dapat dilihat, penderita DBD di kota Samarinda tahun 2017 paling banyak ditemukan di wilayah kecamatan Sungai Kunjang, menyusul kasus terbanyak kedua ditemukan di wilayah kecamatan Samarinda Ulu. Dilihat dari jenis kelamin penderita DBD, tercatat laki-laki lebih banyak dibanding perempuan.

4. Diare

Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial KLB yang disertai dengan kematian.

Penyebaran penyakit diare disebabkan antara lain oleh kondisi cuaca yang tidak stabil, sanitasi yang buruk, kondisi rumah yang kotor, serta sulitnya mendapatkan air bersih. Penyakit diare yang terlihat ringan justru bisa membahayakan jiwa, karena saat tubuh kekurangan cairan, maka semua organ akan mengalami gangguan. Diare akan semakin berbahaya jika terjadi

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.10

Jumlah Kasus Diare yang ditangani di Kota Samarinda Tahun 2017

Kasus diare yang ditangani di Kota Samarinda pada tahun 2017 sebanyak 12.036 kasus. Kasus terbanyak terjadi di wilayah Kecamatan Samarinda Utara. Terbanyak kedua kasus diare terjadi di wilayah Kecamatan Palaran, diurutan ketiga kasus diare terjadi di wilayah Kecamatan Sambutan.

Kasus gizi buruk balita terbanyak ditemukan di wilayah kecamatan Sambutan, terbanyak kedua ditemukan di wilayah kecamatan Palaran dan kecamatan Sungai Kunjang.

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

Gambar 3.11

Jumlah Balita Gizi Buruk di Kota Samarinda Tahun 2013-2017

Jumlah Balita Gizi buruk dari tahun 2013 sampai dengan 2017 trennya cenderung naik dan turun, pada tahun 2013 jumlah balita gizi buruk sebanyak 71 balita, menurun menjadi 30 balita di tahun 2014, kemudian jumlah balita gizi buruk kembali meningkat pada tahun 2015, dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2016, kemudian pada tahun 2017 kembali mengalami penurunan.

71

30

65 67

20

0 10 20 30 40 50 60 70 80

2013 2014 2015 2016 2017

JUMLAH KASUS

TAHUN

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat kota Samarinda yang optimal, berikut disajikan upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan dan dicapai pada tahun 2017 oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda beserta jaringannya.

A. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil

Pelayanan kesehatan ibu hamil diberikan kepada ibu hamil yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Proses ini dilakukan selama rentang usia kehamilan ibu yang dikelompokkan sesuai usia kehamilan menjadi trimester pertama, trimester kedua, dan trimester ketiga. Pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan harus memenuhi elemen pelayanan sebagai berikut :

1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan;

2. Pengukuran tekanan darah;

3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA);

4. Pengukuran tinggi puncak Rahim (fundus uteri);

5. Penentuan status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid sesuai status imunisasi;

6. Pemberian tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan;

7. Penentuan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ);

8. Pelaksanaan temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling, termasuk keluarga berencana);

9. Pelayanan tes laboratorium sederhana, minimal tes hemoglobin darah (Hb), pemeriksaan protein urin dan pemeriksaan golongan darah (bila belum pernah dilakukan sebelumnya); dan

10. Tatalaksana kasus.

Selain elemen tindakan yang harus dipenuhi, pelayanan kesehatan ibu hamil juga harus memenuhi frekuensi minimal di tiap trimeseter, yaitu satu kali pada trimester pertama (usia kehamilan 0 – 12 minggu), satu kali

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

pada trimester kedua (usia kehamilan 12 – 24 minggu), dan dua kali pada trimester ketiga (usia kehamilan 24 minggu sampai persalinan). Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan, dan penanganan dini komplikasi kehamilan.

Hasil pencapaian program pelayanan kesehatan ibu hamil adalah sebagai berikut : yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan di tiap trimester dibandingkan jumlah sasaran ibu hamil di satu wilayah kerja pada kurun waktu satu tahun. Indikator tersebut memperlihatkan akses pelayanan

93%

Profil Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2017

kesehatan terhadap ibu hamil dan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.

Persentase pemeriksaan ibu hamil K1 tahun 2017 dilaporkan mencapai 93 %, sedangkan cakupan pemeriksaan ibu hamil K4 tahun 2017 dilaporkan mencapai 84 %. Capaian K1 dan K4 tahun 2017 menurun apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2016 lalu.

Salah satu penyebab kematian ibu dan kematian bayi yaitu infeksi tetanus yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani sebagai akibat dari proses persalinan yang tidak aman/steril atau berasal dari luka yang diperoleh ibu hamil sebelum melahirkan. Clostridium tetani masuk melalui luka terbuka dan menghasilkan racun yang menyerang sistem syaraf pusat.

Sebagai upaya pencegahan penyakit tetanus untuk ibu hamil dilakukan melalui vaksinasi TT (Tetanus Toksoid) bagi ibu hamil. Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa pada tahun 2017 cakupan ibu hamil yang mendapatkan vaksinasi TT-1 sebesar 27 % sedangkan yang mendapatkan vaksinasi TT2+

sebesar 99 %, capaian ini meningkat secara signifikan apabila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2016.

Salah satu komponen pelayanan kesehatan ibu hamil, yaitu pemberian zat besi sebanyak 90 tablet (Fe3). Zat besi merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin).

Selain digunakan untuk pembentukan sel darah merah, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk myoglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim. Selain itu, zat besi juga membantu dalam mempercepat proses penyembuhan luka khususnya luka yang timbul dalam proses persalinan. Kekurangan zat besi sejak sebelum kehamilan bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Anemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kematian ibu melahirkan, kejadian bayi dengan berat badan lahir

Selain digunakan untuk pembentukan sel darah merah, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk myoglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim. Selain itu, zat besi juga membantu dalam mempercepat proses penyembuhan luka khususnya luka yang timbul dalam proses persalinan. Kekurangan zat besi sejak sebelum kehamilan bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Anemia merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kematian ibu melahirkan, kejadian bayi dengan berat badan lahir

Dokumen terkait