• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATA KELURAHAN SIAGA

SUMBER DAYA KESEHATAN

5.1. Sarana Kesehatan

Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan terdiri atas data dan informasi mengenai sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.

1. Puskesmas

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pada masyarakat dengan tugas pokok menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, baik pelayanan kesehatan perorangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat.

Secara konseptual Puskesmas menganut konsep Wilayah, dan diharapkan satu Puskesmas dapat melayani rata-rata 30.000 penduduk. Pada tahun 2016 di Kota Probolinggo terdapat 6 puskesmas dengan rasio terhadap penduduk adalah 1:38.519 jiwa artinya 1 Puskesmas rata-rata melayani 38.519 jiwa. Hal ini berarti jumlah Puskesmas di Kota probolinggo masih kurang. Untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di Puskesmas telah dikembangkan puskesmas pembantu yang berjumlah 21 unit dengan rasio 1 puskesmas dibantu 2-3 puskesmas pembantu sehingga diharapkan dapat menjangkau pelayanan kesehatan seluruh penduduk Kota Probolinggo.

Di Kota Probolinggo terdapat 2 puskesmas rawat inap yaitu puskesmas Ketapang dan puskesmas Wonoasih, dengan kapasitas tempat tidur rata-rata sebanyak 26 tempat tidur.

2. Rumah Sakit

Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana Rumah Sakit (RS) antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas

perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah Rumah Sakit dan tempat tidurnya serta rasio terhadap jumlah penduduk.

Di Kota Probolinggo tahun 2016 memiliki 1 (satu) Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Umum Swasta 1 (satu) buah, dan Rumah Sakit bersalin milik swasta 2 (dua) buah dengan total tempat tidur 495 TT. Adapun prosentase pemakaian tempat tidur (BOR) di Rumah Sakit Kota Probolinggo adalah 57,0%(Tabel 56 ).

3. Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/ Pengelola

Salah satu indikator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan adalah jumlah sarana produksi dan distribusi farmasi dan alat kesehatan.

Pada tahun 2016 di Kota Probolinggo jumlah Apotik sebanyak 30 Apotek, Toko Obat sebanyak 4 Toko Obat dan Gudang Farmasi sebanyak 1. ( Tabel 67)

4. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat

Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah posyandu. Posyandu yang berjumlah 218 dari 150 posyandu PURI sudah terbentuk 68 taman posyandu, dimana posyandu PURI ditambah layanan BKB dan PAUD.

Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya posyandu dikelompokan menjadi 4 strata, yaitu posyandu pratama, posyandu madya, posyandu purnama dan posyandu mandiri.

Strata posyandu di Kota Probolinggo tahun 2016, terdiri dari posyandu pratama 4,59 %, posyandu madya 26,61 %, posyandu purnama 50,46 % dan posyandu mandiri 18,35%. (Tabel 69)

Sedangkan kondisi taman posyandu yang sudah optimal 62 posyandu ( 91,18%) dan yang belum optimal 6 posyandu (8,82%).

Kelurahan Siaga adalah Kelurahan yang mempunyai kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri, salah satu syarat kelurahan Siaga Aktif adanya pos kesehatan kelurahan (POSKESKEL) yang didukung oleh tenaga kesehatan yang memadai, Tim Pokjanal Forkesa tingkat Kecamatan dan Kelurahan sehingga siap mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat. Poskeskel merupakan upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat yang melaksanakan kegiatan pelayanan masyarakat secara mandiri. Di Kota Probolinggo pada tahun 2016 telah terbentuk 29 Kelurahan Siaga Aktif. (Tabel 71).

Kelurahan siaga sehat aktif yang paling banyak adalah Aktif pratama yaitu sebanyak 13 kelurahan (44,83%), sehingga perlu dilakukan penguatan kelurahan siaga sehat aktif melalui penguatan tim pokjanal kelurahan siaga sehat aktif, Forkesa Tingkat Kecamatan dan Kelurahan serta dukungan masyarakat dalam gerakan Perilaku Hidup Bersih & Sehat melalui Pengembangan 3 UKBM yang dibina dan 70% pencapaian PHBS Rumah Tangga.

5.2. Tenaga Kesehatan

Sebagaimana diketahui bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan tidak hanya dilakukan pemerintah, tapi juga diselenggarakan oleh swasta. Oleh karena itu gambaran situasi ketersediaan tenaga kesehatan baik yang bekerja disektor pemerintah maupun swasta perlu diketahui. Data ketenagaan ini diperoleh dari hasil pengumpulan data sumber daya kesehatan yang ada di

Kota Probolinggo, yang meliputi tenaga yang ada di Puskesmas, Rumah

Sakit maupun yang ada pada Kantor Dinas Kesehatan Kota Probolinggo. Tenaga kesehatan yang ada di sarana pelayanan kesehatan di Kota

Probolinggo pada tahun 2016 seluruhnya 902 orang yang tersebar pada 6 Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan terdiri atas Tenaga Medis (Dokter) 130 orang, Perawat/Perawat gigi 483 orang, Bidan 160 orang, Farmasi 41 orang, Kesehatan Masyarakat 7 orang, Sanitasi 9 orang, Gizi 24 orang, Radiografer 7 orang, Teknisi Medis 5 orang, fisioterapis 15 orang, Analisis kesehatan 11 orang, dan perekam medis 6 orang (Tabel 73 s.d 81)

5.3. Pembiayaan Kesehatan

Anggaran Pembangunan Kesehatan di Kota Probolinggo tahun 2016 diperoleh dari sumber dana APBD Kota Probolinggo, APBD Propinsi dan APBN (Tugas Pembantuan, BOK, WHO,DBHCHT dan ASKESKIN/ PBI BPJS).

Total anggaran kesehatan di Kota Probolinggo tahun 2016 sebesar Rp. 220.381.169.421,49,-. Dan presentasi APBD Kesehatan terhadap APBD Kota Probolinggo sebesar 10,92%, sehingga diperoleh anggaran kesehatan perkapita sebesar Rp. 953.568,70 (Tabel 81)

BAB VI PENUTUP

Sebagai uraian akhir pada Bab Penutup Profil Kesehatan Kota Probolinggo Tahun 2016 ini, disampaikan kegiatan-kegiatan program di bidang kesehatan yang bersifat berkesinambungan dan berkelanjutan dari tahun ke tahun sampai dengan saat ini. Hasil – hasil kegiatan program tahun 2016, adalah bahan untuk menyusun profil kesehatan yang merupakan performance kinerja pembangunan kesehatan di Kota Probolinggo, yang mana dapat digunakan sebagai bahan untuk evaluasi dan menyusun perencanaan kegiatan di tahun mendatang serta sebagai dasar kebijakan pengambilan keputusan.

Adapun hasil-hasil kegiatan program kesehatan di tahun 2016 adalah sebagai berikut :

1. Derajat kesehatan masyarakat Kota Probolinggo tahun 2016, yang salah satunya dapat dilihat dari jumlah kematian ibu sebanyak 6 orang dan kematian bayi sebanyak 98 bayi. Serta balita gizi buruk yang ditangani/ mendapat intervensi sebanyak 36 atau (100%) balita gizi buruk yang yang di intervensi mengalami perbaikan status gizi buruk menjadi status gizi baik .

2. Jumlah peningkatan kasus penyakit, masih menjadi ancaman setiap tahunnya terutama penyakit demam berdarah Dengue (DBD). Penyakit demam berdarah untuk tahun 2016 mengalami peningkatan, tahun 2015 sebanyak 236 kasus dan tahun 2016 naik menjadi 533 kasus atau dengan Incidence Rate 230,62 per 100.000 penduduk.

3. Sosialisasi secara intensif kepada masyarakat tentang program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) masih sangat diperlukan, karena capaian kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan masih 77,44 % dari target 100%.

Meskipun pada kualitas data dan informasi yang disajikan dalam profil kesehatan yang diterbitkan saat ini belum sesuai dengan harapan, diharapkan profil kesehatan ini dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.

LAMPIRAN

Dokumen terkait