DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GRAFIK i ii iii BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI LAMPIRAN PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2 SISTEMATIKA PENYUSUNAN
GAMBARAN UMUM KOTA PROBOLINGGO 2.1 KEADAAN GEOGRAFIS
2.2 WILAYAH ADMINISTRASI 2.3 BUDAYA
2.4 KEPENDUDUKAN
SITUASI DERAJAT KESEHATAN 3.1 ANGKA KEMATIAN
3.2 ANGKA KESAKITAN
SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1 PELAYANAN KESEHATAN
4.2 AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN 4.3 PERILAKU HIDUP MASYARAKAT
4.4 KEADAAN LINGKUNGAN
SUMBER DAYA KESEHATAN 5.1 SARANA KESEHATAN 5.2 TENAGA KESEHATAN 5.3 PEMBIAYAAN KESEHATAN PENUTUP TABEL PROFIL 1 1 2 4 4 4 4 4 7 7 11 17 17 28 29 35 39 39 41 42 43
DAFTAR GRAFIK
NO. GRAFIK JUDUL GRAFIK HAL
Grafik II.1 Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kota Probolinggo tahun 2016
6
Grafik III.1 Jumlah kematian bayi di Kota Probolinggo tahun 2010-2016 8 Grafik III.2 Penyebab kematian bayi di Kota Probolinggo tahun 2016 9 Grafik III.3 Jumlah kematian ibu di Kota Probolinggo tahun 2010-2016 11 Grafik III.4 Jumlah penderita Pneumonia Balita di Kota Probolinggo tahun
2016
12
Grafik III.5 Jumlah kasus DBD di Kota Probolinggo tahun 2010-2016 16 Grafik IV.1 Cakupan K1 dan K4 di Kota Probolinggo tahun 2011-2016 18 Grafik IV.2 Jumlah PUS peserta KB baru dan KB aktif di Kota
Probolinggo tahun 2016
23
Grafik IV.3 Prosentase Rumah Tangga Sehat ber PHBS di Kota Probolinggo Tahun 2016
31
Grafik IV.4 Pencapaian Indikator PHBS di Kota Probolinggo Tahun 2016 32 Grafik IV.5 Strata Posyandu di Kota Probolinggo Tahun 2016 33 Grafik IV.6 Kondisi Taman Posyandu di Kota Probolinggo Tahun 2016 33 Grafik IV.7 Tingkat Perkembangan Kelurahan siaga di Kota Probolinggo
Tahun 2016
34
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dalam kerangka tersebut, pembangunan kesehatan dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkesinambungan mulai dari tingkat pusat sampai ke Kabupaten/ Kota, untuk itu ditetapkan Visi pembangunan kesehatan di Kota Probolinggo yaitu :
“Masyarakat Kota Probolinggo Mandiri untuk Hidup Sehat”
Guna mewujudkan Visi yang telah ditetapkan Dinas Kesehatan Kota Probolinggo ditetapkan misinya secara jelas sebagai satu pernyataan yang menetapkan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai yaitu sebagai berikut:
1. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat Kota
Probolinggo untuk hidup sehat.
2. Mewujudkan akses pelayanan kesehatan yang merata dan
terjangkau melalui peningkatan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat dengan upaya Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.
3. Meningkatkan pelayanan kesehatan dan gizi yang berkualitas kepada ibu, bayi, anak, remaja dan lansia secara komprehensif.
4. Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit menular dan
tidak menular dengan cara peningkatan kualitas lingkungan yang sehat.
5. Menciptakan manajemen kesehatan yang baik dan bersih.
Hasil-hasil kegiatan program bidang kesehatan di Kota Probolinggo yang berupa data-data kesehatan dikumpulkan melalui Sistem Informasi Kesehatan merupakan bahan untuk menyusun Profil Kesehatan Kota
Probolinggo. Data tersebut adalah salah satu produk Sistem Informasi Kesehatan Kota Probolinggo, yang berisikan gambaran situasi kesehatan di wilayah Kota Probolinggo pada tahun 2016 dimana di dalamnya memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung yang lain yang berhubungan dengan program kesehatan. Data dan informasi kesehatan yang ada di dalam Profil Kesehatan sangat ditentukan oleh kualitas Sistem Informasi Kesehatan suatu daerah tersebut. Dengan adanya data-data yang akurat, dapat menghasilkan informasi kesehatan yang aktual dan menggambarkan suatu kondisi nyata, yang dapat digunakan sebagai bahan penilaian dan evaluasi dari hasil pelaksanaan kegiatan, dimana diharapkan dapat membantu upaya-upaya terobosan dalam meningkatkan pelaksanaan kegiatan program kesehatan tersebut, yang pada akhirnya memberikan nilai tambah dalam pelaksanaan kegiatan program yaitu adanya efisiensi dan efektifitas.
1.2. Sistimatika Penyusunan
Profil kesehatan Kota Probolinggo Tahun 2016 terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut :
Bab 1 : Pendahuluan
Bab ini berisi penjelasan tentang maksud dan tujuan Profil Kesehatan, Visi dan Misi Dinas Kesehatan serta sistimatika dari penyusunan.
Bab 2 : Gambaran Umum
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kota Probolinggo meliputi keadaan geografis, wilayah administrasi, budaya, data kependudukan dan informasi umum lainnya.
Bab 3 : Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan, dan status gizi masyarakat.
Bab 4 : Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini mengurai tentang pelayanan kesehatan dasar, akses dan mutu pelayanan kesehatan, perilaku hidup masyarakat, dan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar.
Bab 5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan .
Bab 6 : Penutup
BAB II
GAMBARAN UMUM KOTA PROBOLINGGO
2.1. Keadaan Geografi
Secara geografis, Kota Probolinggo terletak antara 7˚43'41” - 7˚49'04” Lintang Selatan dan 113˚13' - 113˚15' Bujur Timur, dengan batas wilayah : a. Sebelah Utara : Selat Madura
b. Sebelah Selatan : Kecamatan Leces, Wonomerto, Bantaran, Sumberasih Kab. Probolinggo
c. Sebelah Timur : Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo d. Sebelah Barat : Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo
Luas Wilayah :
a. Luas daratan : 56,667 Km²
2.2. Wilayah Administrasi Pemerintahan, terbagi dalam :
a. Kecamatan : 5 b. Kelurahan : 29
2.3. Budaya
Secara garis besar, masyarakat Kota Probolinggo terbagi menjadi 4 (empat) kelompok :
a. Budaya Surabaya/ Arek b. Budaya Pesisir
c. Budaya Kejawen/ Mataraman d. Budaya Madura
2.4. Kependudukan
Data kependudukan sangat penting dan mempunyai arti yang sangat strategis dalam pembangunan pada umumnya dan bidang kesehatan pada
khususnya, hampir semua kegiatan pembangunan kesehatan obyek sasarannya adalah masyarakat atau penduduk.
Indikator kependudukan dapat dilihat dari tingkat pertumbuhan penduduk, angka kelahiran kasar, tingkat fertilitas, kepadatan penduduk dan distribusi penduduk menurut umur.
a. Kepadatan Penduduk
Jumlah Penduduk Kota Probolinggo Tahun 2016 dari data proyeksi penduduk Propinsi Jawa Timur oleh Badan Pusat Statistik sejumlah 231.112 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 4 per km². Kepadatan penduduk di Kota Probolinggo yang ada di 5 (lima) Kecamatan sangat bervariatif. Kepadatan yang tertinggi sekitar 7,24 per km² ada di Kecamatan Mayangan dan yang terendah kepadatan penduduknya di Kecamatan Kedopok yaitu 2,46 per km².
b. Distribusi Penduduk Menurut Golongan Umur
Pada tahun 2016 di Kota Probolinggo distribusi penduduk paling tinggi pada kelompok umur 15-44 tahun, yaitu sebesar 109.734 jiwa (47,48%). Yang kedua kelompok umur 45-64 tahun yaitu sebesar 50.877 jiwa (22,014%), Selanjutnya kelompok umur 5-14 tahun sebesar 38.716 jiwa (16,75%), dilihat dari distribusi penduduk menurut umur maka jumlah penduduk terbanyak pada usia produktif.
c. Rasio Jenis Kelamin
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio jenis kelamin yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan. Di Kota Probolinggo tahun 2016 jumlah penduduk laki-laki 113.781 jiwa dan perempuan 117.311 jiwa. Adapun Ratio jenis kelamin adalah 96,97 artinya jika perempuan ada sejumlah 100 orang maka ada laki-laki sejumlah 97 orang.
0 10000 20000 30000 40000 50000 60000
JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2016
LAKI2 9439 19678 54369 24855 5440
PEREMPUAN 9250 19038 55365 26022 7656 <1-4 '5-14 .15-44 .45-64 .>=65
Grafik II.1 : Jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kota Probolinggo tahun 2016
d. Beban Tanggungan
Di Kota Probolinggo tahun 2016 jumlah penduduk yang tidak produktif atau usia <15 tahun dan >64 tahun sebanyak 70.501 jiwa dan produktif atau usia 15-64 tahun sebanyak 160.611 jiwa. Sehingga Ratio beban tanggungan nya adalah 30 yang artinya jika ada 100 penduduk yang produktif, maka jumlah penduduk yang tidak produktif ada 30 orang.
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1. Angka Kematian
Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009.
Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka kematian, angka kesakitan serta status gizi. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan dari masyarakat (community based).
Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu kewaktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.
1. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah penduduk yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. AKB dapat menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat karena bayi merupakan kelompok usia yang paling rentan baik terhadap kesakitan maupun kematian terkena dampak dari perubahan lingkungan maupun sosial ekonomi. Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat, sehingga program-program kesehatan banyak
yang menitikberatkan pada upaya penurunan AKB, dimana AKB merujuk pada jumlah bayi yang meninggal antara fase kelahiran hingga berumur <1 tahun per 1.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kota Probolinggo tahun 2016 sebesar 23/1000 Kelahiran Hidup, atau dengan angka riil 86 bayi meninggal per 3.679 Kelahiran Hidup. Kematian bayi di Kota Probolinggo tahun 2016 disebabkan oleh BBLR (Berat badan Lahir Rendah), Asfiksia, Sepsis, kelainan konginental, pneumonia dan Diare. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi jumlah kasus adalah dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada Ibu Hamil mengenai kehamilan, perawatan neonatal, IMD (Inisiasi Menyusui Dini), ASI eksklusif dan imunisasi dasar lengkap dan memberikan penyuluhan kepada remaja putri.
JUMLAH KEMATIAN BAYI DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2010 - 2015 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Juml Kematian Bayi 69 56 41 72 94 86 98
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Grafik III.1 : Jumlah kematian bayi di Kota Probolinggo tahun 2010-2016
45 19 9 5 3 2 15 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 BBLR Asfiksia Sepsis Kelainan Konginental Pneumonia Diare Lain-Lain
PENYEBAB KEMATIAN BAYI DI KOTA PROBOLINGGO
TAHUN 2016
Grafik III.2 : Penyebab kematian bayi di Kota Probolinggo tahun 2016
2. Angka Kematian Balita (AKBA)
Angka Kematian Balita (AKBA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. AKABA merepresentasikan risiko terjadinya kematian pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan kecelakaan.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 Angka Kematian Balita sebesar 28/1.000 kelahiran hidup dari target 32/1.000 kelahiran hidup, atau dengan jumlah riil 104 balita meninggal per 3.678 kelahiran hidup. Kematian balita disebabkan oleh penyakit Sesak, Kecelakaan, Febris, BBLR (Berat badan Lahir Rendah), Asfiksia, Sepsis, kelainan konginental, pneumonia dan diare.
3. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) bukan karena kecelakaan, tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. AKI juga dapat digunakan dalam pemantauan kematian terkait dengan kehamilan. Indikator ini dipengaruhi status kesehatan secara umum, pendidikan dan pelayanan selama kehamilan dan melahirkan.
Di Kota Probolinggo Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2016 mencapai 163/100.000 KH, angka riil kematian ibu 6 orang dengan jumlah kelahiran hidup 3.678. Angka kematian Ibu masih tinggi bila dibandingkan dengan target MDgS 102/100.000 KH. Dan penyebab kematian ibu hamil tahun 2016 ini antara lain karena Hepatitis B Kronis, Eklamsia, APB, ALO Corfdiomegali, dan Pendarahan post partum. Untuk mengurangi jumlah kasus tersebut telah dilakukan peningkatan kemitraan bidan dan dukun, pembentukan kelas ibu hamil di semua kelurahan, meningkatkan P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) dengan stiker, mengaktifkan peran kader dalam penemuan ibu hamil secara dini, dan melakukan penyuluhan secara terus menerus dan berkesinambungan, serta meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam menurunkan AKI (Angka Kematian Ibu).
JUMLAH KEMATIAN IBU DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2010 - 2016 7 4 3 6 8 8 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Grafik III.3 : Jumlah Kematian Ibu di Kota Probolinggo tahun 2010 – 2016
3.2. Angka Kesakitan
Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda (double
burden). Di satu sisi masih tingginya penyakit infeksi (baik re-emerging
maupun new emerging) serta gizi kurang, namun disisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan.
Angka kesakitan diperoleh dari laporan yang ada pada sarana pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas melalui pencatatan dan pelaporan maupun dari community based data yang diperoleh melalui pengamatan (surveilance).
1. Tuberculosis (TB)
Pengendalian penyakit TB Paru di Kota Probolinggo memakai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yaitu pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas minum obat (PMO). Dengan program ini berusaha mencapai target penemuan penderita sebesar 70% dari perkiraan penderita TB BTA (+) kasus baru dengan tingkat kesembuhan sebesar
85%. Keberhasilan pengendalian pengobatan penderita TB Paru tergantung pada kerjasama antara penderita, Pengawas Minum Obat (PMO) dan petugas kesehatan yang mempunyai komitmen tinggi dalam pelaksanaan kegiatan program.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 ada 170 kasus baru BTA (+) dari sejumlah 424 kasus TB yang ada, jumlah penderita TB-Paru BTA (+) yang diobati 159 penderita (93,53 %), angka kesembuhannya 86,79%, dan angka keberhasilan pengobatan (success rate) sebesar 92,45%. (Tabel 7, 8, 9).
2. Pneumonia Balita
Pneumonia merupakan bagian dari penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Selain diare, pneumonia juga penyebab utama kematian pada bayi dan balita. Untuk itu pemberantasan penyakit ini di laksanakan dengan fokus penemuan dini dan tata laksana kasus secara cepat dan tepat. Upaya ini dikembangkan melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
0 5 10 15 20 25
JUMLAH PENDERITA PNEUMONIA BALITA DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2015
Jml Penderita 13 23 4 9 21 0 Jml Ditangani 13 23 4 9 21 0 SUKABUM I JATI KANIGARA N KEDOPOK WONOASI H KETAPAN G
Dari data tersebut diatas di Kota Probolinggo tahun 2016 jumlah pneumonia balita yang ditemukan dan ditangani sebanyak 70 balita atau 8,04 % dari jumlah perkiraan penderita pneumonia balita.(Tabel 10)
3. HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)
Salah satu new emerging disease yang sudah ada sebelumnya adalah HIV/AIDS dan dimungkinkan pula akan timbulnya penyakit infeksi baru yang tidak terduga dan penularannya sangat cepat, kematian yang tinggi, keadaan tersebut dapat menimbulkan pandemi di masa datang.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 perkembangan penyakit HIV/AIDS terus di lakukan upaya penemuan penderita dan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan, seperti sosialisasi secara luas dengan cara memberikan penyuluhan kepada semua penderita tersangka atau penderita yang di skrening HIV/AIDS. Beberapa kegiatan yang telah di lakukan dalam rangka pengendalian dan pengawasan HIV/AIDS adalah pemeriksaan sero survey di LP (Lembaga Pemasyarakatan), penemuan penderita di klinik VCT (Voluntary Conseling Testing), yang selanjutnya di rujuk ke klinik CST (Care Support Treatment) yang tempatnya di RSUD dr. Moh. Saleh serta pemeriksaan pada setiap pendonor darah.
Jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Probolinggo tahun 2016 sebanyak 82 kasus, jumlah kematian sebanyak 6 kasus, dan tidak ada kasus Syphlis. Kelompok terbanyak penderita HIV/AIDS pada usia 25-49 tahun (usia produktif).
Upaya yang selalu dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit HIV/AIDS disamping ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan, diarahkan juga pada upaya pencegahan yang dilakukan melalui skrening HIV/AIDS terhadap darah donor, sosialisasi kepada anak sekolah (SMP, SMA/SMK) dan upaya
pemantauan dan pengobatan penderita penyakit menular seksual (PMS). Infeksi menular seksual (IMS) adalah salah satu pintu untuk memudahkan terjadinya penularan HIV. Upaya pengobatan IMS telah berjalan baik, ini ditunjukkan dari persentase kasus IMS yang ditemukan dan diobati 100% . (Tabel 11)
4. Diare
Jumlah penderita diare di Kota Probolinggo tahun 2016 sebanyak 5.705 penderita dan seluruhnya dapat tertangani 100%. Penyakit diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. (Tabel 13).
5. Penyakit Kusta
Penderita kusta tahun 2016 di Kota Probolinggo sebanyak 20 penderita, yang terdiri dari tipe PB (Pausi Basiler) atau kusta kering 2 (tiga) orang dan dapat menyelesaikan pengobatannya, tipe MB (Multi Basiler) atau kusta basah ada 18 orang yang dapat menyelesaikan pengobatannya atau RFT (Release From Treatment) sejumlah 17 penderita. Dimana jumlah penderita kusta yang ada menyebar di seluruh wilayah Kecamatan di Kota Probolinggo dengan jumlah penderita cacat tingkat 2 sebanyak 8 Penderita (38%) (Tabel.14, 15, 16, 17)
6. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/dicegah prevalensinya dengan pelaksanaan program imunisasi. ( Tabel 18 s.d 20 )
Penyakit-penyakit tersebut antara lain :
a. Difteri
Pada tahun 2016 ditemukan 1 kasus suspek dipteri di Kota Probolinggo dan tidak ada yang meninggal.
b. Pertusis
Pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus pertusis di Kota Probolinggo.
c. Tetanus
Pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus tetanus di Kota Probolinggo.
d. Tetanus Neonatorum
Pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus tetanus neonatorum di Kota Probolinggo
e. Campak
Pada tahun 2016 ditemukan 13 kasus campak di Kota Probolinggo dan tidak ada yang meninggal.
f. AFP <15 Th
Pada tahun 2016 ditemukan 1 kasus AFP non Polio di Kota Probolinggo
g. Hepatitis B
Pada tahun 2016 tidak ditemukan kasus Hepatitis di Kota Probolinggo.
7. Demam Berdarah Dengue
Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Probolinggo tahun 2016 sejumlah 533 kasus dan meninggal 9 (sembilan) kasus dengan CFR (Case Fatality Rate) 1,7 jumlah kasus ada peningkatan dibandingkan tahun lalu, kasus DBD yang terjadi menyebar rata diseluruh wilayah Kecamatan. Upaya pencegahan telah di lakukan dengan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) setiap 3 bulan oleh tenaga kesehatan, dan pemeriksaan jentik berkala oleh kader jumantik, penyuluhan-penyuluhan kesehatan, menggalakkan Satu Rumah Satu Jumantik dan setiap minggu diadakan kerja bakti oleh Pemerintah Daerah Kota Probolinggo. (Tabel 21)
JUMLAH KASUS DBD DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2010 - 2016 0 200 400 600 800 1000 Kasus DBD 804 142 23 76 323 236 533 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Grafik III.5 : Jumlah Kasus DBD di Kota Probolinggo tahun 2010- 2015
8. Malaria dan Filariasis
Kasus malaria dan filariasis dari tahun ke tahun tidak ditemukan di Kota Probolinggo. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya penderita dari wilayah lain yang menjadi endemis (kasus impor). Antisipasi perlu dilakukan dengan penemuan dini penderita, penyuluhan, penyebaran leaflet/poster serta melalui media baik elektronik (radio) dan media massa.
BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1. Pelayanan Kesehatan
Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, telah dilakukan berbagai upaya pelayanan kesehatan masyarakat. Dan upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. Upaya pelayanan kesehatan dasar yang telah dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Probolinggo tahun 2016 sebagai berikut :
1. Kunjungan Ibu Hamil K-1 dan K-4
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ke tiga.
Standar waktu pelayanan tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan terhadap ibu hamil dan atau janin, berupa deteksi dini
faktor risiko, pencegahan dan penanganan dini komplikasi kehamilan. Pelayanan antenatal diupayakan agar memenuhi standar kualitas 10 T yaitu : 1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2) Ukur tekanan darah
3) Nilai status Gizi (ukur lingkar lengan atas) 4) Ukur tinggi fundus uteri
5) Tentukan Presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
6) Skrining status Immunisasi Tetanus dan berikan immunisasi
Tetanus Toxoid (TT) bila diperlukan.
7) Pemberian tablet zat Besi minimal 90 tablet selama kehamilan 8) Test laboratorium (rutin dan khusus)
9) Tatalaksana kasus
10) Temu wicara (Konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan. Cakupan pelayanan K-1 tahun 2015 di Kota Probolinggo tercapai 98,3% dari target 97%, dan K-4 tercapai 92,4 % dari target 95%, dari sejumlah 4.114 ibu hamil yang ada. (Tabel.29)
Grafik IV.1 : Cakupan K1 dan K4 di Kota Probolinggo tahun 2011- 2016 CAKUPAN K.1 DAN K.4 DINAS KESEHATAN KOTA PROBOLINGGO
TAHUN 2011 - 2016 85 90 95 100 105 K.1 99,54 102 100 97,71 98,52 98,3 K.4 95,82 94,78 93,3 94,01 91,04 92,4 2011 2012 2013 2014 2015 2016
2. Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Pertolongan persalinan juga merupakan salah satu kualiatas pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Hal ini dapat menggambarkan bahwa masyarakat mau dan tahu tentang pentingnya keamanan dalam pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.
Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Pesan kunci MPS
(Mother pregnancy safer) yaitu persalinan harus ditolong oleh tenaga
kesehatan yang terlatih.
Upaya kesehatan ibu bersalin diwujudkan dalam upaya mendorong agar persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan persalinan dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan, dimulai dari lahirnya bayi, pemotongan tali pusat sampai keluarnya placenta. Pencapaian upaya kesehatan ibu bersalin diukur melalui indikator persentase persalinan ditolong tenaga kesehatan terlatih. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Tahun 2016 di Kota Probolinggo hasil cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tercapai 94,4% dari target 95% atau ada 3.707 persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan dari 3.927 persalinan yang ada (Tabel 29)
Hal ini disebabkan karena pencatatan dan pelaporan yang tidak lengkap karena masih ada persalinan yang dilakukan di luar kota dan setelah melahirkan hingga masa nifas selesai baru pulang kembali lagi
ke daerahnya. Selain itu kurangnya pengetahuan masyarakat tentang resiko tinggi kehamilan dan keamanan dalam proses persalinan.
3. Pelayanan Nifas dan Pemberian Vitamin A pada Ibu Nifas
Dan untuk Masa nifas adalah masa 6 jam sampai 42 hari setelah persalinan dimana organ reproduksi mengalami pemulihan untuk kembali normal. Kunjungan nifas bertujuan untuk deteksi dini komplikasi dengan melakukan kunjungan minimal sebanyak 3 kali dengan distribusi waktu :
1) Kunjungan nifas pertama pada 6 jam setelah persalinan sampai 3 hari;
2) Kunjungan nifas kedua dilakukan pada waktu 4 hari sampai 28 hari setelah persalinan;
3) Kunjungan nifas ketiga dilakukan pada waktu 29 hari sampai 42 hari setelah persalinan. Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar minimal 3 kali. Dalam masa nifas ibu seharusnya memperoleh pelayanan kesehatan meliputi pemeriksaan kondisi umum, payudara, dinding perut, perineum, kandung kemih dan organ kandungan. Dengan perawatan nifas yang tepat akan memperkecil risiko kelainan bahkan kematian ibu nifas. Sedangkan pelayanan neonatal meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar berupa ASI Ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak diberikan pada saat lahir dan manajemen terpadu bayi muda. Selain itu diberikan vit A 1 kapsul 200.000 IU, setelah melahirkan dan 24 jam berikutnya 1 kapsul 200.000 IU, agar daya tahan tubuh meningkat dan dapat mempercepat proses pemulihan kesehatan ibu nifas sehingga pemberian ASI lebih optimal.
Dan di tahun 2016 Kota Probolinggo untuk pelayanan kesehatan ibu nifas tercapai 93,6% dari target 95% atau ada 3.675 ibu nifas yang mendapatkan pelayanan kesehatan dari sejumlah 3.927 ibu bersalin.(Tabel.29)
4. Ibu Hamil yang mendapatkan Tablet Fe
Pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, selain pemeriksaaan kehamilan juga disertai dengan pemberian tablet Fe dengan tujuan untuk mencegah terjadinya anemia gizi besi pada bumil. Cakupan pemberian tablet Fe 1 ( 30 tablet ) dan tablet Fe 3 ( 90 tablet ) kepada ibu hamil.
Di Kota Probolinggo tahun 2016, untuk Fe 3 tercapai (91,54%) atau ada 3.766 bumil yang mendapat Fe 3. Dan untuk Fe 1 tercapai 98,39% atau ada 4.048 bumil dari sejumlah 4.114 ibu hamil yang ada. (Tabel 32)
5. Komplikasi Kebidanan yang ditangani
Komplikasi kebidanan (maternal) adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan atau janin dalam kandungan, baik langsung maupun tidak langsung, termasuk penyakit menular dan tidak menular yang dapat mengancam jiwa ibu dan atau janin, yang tidak disebabkan oleh trauma/ kecelakaan. Pencegahan dan penanganan komplikasi maternal adalah pelayanan kepada ibu dengan komplikasi maternal untuk mendapatkan perlindungan/pencegahan dan penanganan difinitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan. Cakupan komplikasi kebidanan adalah kesakitan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat mengancam jiwa ibu dan/atau bayi yang mendapat penanganan definitif sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan (polindes, puskesmas dan rumah sakit).
Di Kota Probolinggo tahun 2016 cakupan komplikasi kebidanan ditangani tercapai 81,06 % dari target 80%.(Tabel.33)
6. Pelayanan Neonatal dengan komplikasi yang ditangani
Bayi usia kurang dari 1 bulan merupakan golongan umur yang rentan gangguan kesehatan. Upaya untuk mengurangi resiko tersebut adalah melalui pelayanan kesehatan pada neonatus minimal tiga kali yaitu dua kali pada usia 0-7 hari dan satu kali pada usia 8-28 hari atau disebut KN lengkap. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pelayanan kesehatan neonatus dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, ASI dini-eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat dan kulit), pemberian vitamin K, imunisasi, manajemen terpadu balita muda (MTBM) dan penyuluhan perawatan neonatus pada ibunya. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani adalah neonatus dengan komplikasi yang ditangani sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di sarana pelayanan kesehatan. Neonatus dengan komplikasi adalah neonatus dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan dan kematian. Neonatus dengan komplikasi seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, infeksi/sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan dan kelainan kongenital. Pelayanan neonatus komplikasi diberikan oleh bidan atau dokter di pustu, praktek bidan, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 Cakupan pelayanan neonatus dengan komplikasi yang ditangani tercapai 52,2 % dari target 80%.(Tabel.33)
7. Pelayanan Keluarga Berencana ( KB )
Peserta Keluarga Berencana terbagi menjadi peserta KB Baru dan Peserta KB Aktif. Tahun 2016 jumlah Peserta KB Baru 3.513 (8,9 %) dan Jumlah Peserta KB Aktif 28.688 (73%) dari jumlah PUS
0 2000 4000 6000 8000 10000
JUMLAH PUS,PESERTA KB BARU DAN PESERTA KB AKTIF DI KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2016
JML PUS 3844 6807 9747 5686 5720 7485
Peserta KBBaru 207 252 1062 547 576 869
Peserta KB Aktif 2447 4624 7709 3807 4339 5762
SUKABUMI JATI KANIGARAN KEDOPOK WONOASIH KETAPANG
Grafik IV.2: Jumlah Pus,Peserta KB baru dan KB aktif di Kota Probolinggo Tahun2016
Peserta keluarga berencana aktif dibagi menjadi peserta KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang jenisnya adalah IUD, MOP/ MOW, implant dan peserta KB Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang jenisnya suntik, pil, kondom, obat vagina dan lainnya.
Peserta KB Aktif di Kota Probolinggo tahun 2016, yang paling banyak dipilih Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (NON MKJP) adalah jenis suntik 12.940 (45,1%), sedangkan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang paling banyak dipilih adalah jenis implan sebesar 4.635 (16,2%) dari total peserta aktif 28.688
8. ASI Ekslusif
ASI Ekslusif adalah pemberian ASI saja tanpa diberikan makanan tambahan apapun, pada bayi mulai 0 – 6 bulan dalam rangka mencukupi kebutuhan gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Air Susu Ibu (ASI) diyakini dan bahkan terbukti memberi manfaat bagi bayi baik dari aspek gizi (kolostrum yang
mengandung imunoglobulin A/ IgA, whei-casein, decosahexanoic/ DHA dan arachidonic/ AA dengan komposisi sesuai), aspek imunologik (selain IgA, terdapat laktoferin, lysosim dan 3 jenis leucosit yaitu brochus-associated lymphocyte/BALT, Gut associated lymphocyte tissue/ GALT, mammary associated lymphocyte tissue/MALT serta faktor bifidus), aspek psikologik (interaksi dan kasih sayang antara anak dan ibu), aspek kecerdasan, aspek neurologik (aktifitas menyerap ASI bermanfaat pada koordinasi syaraf bayi), aspek ekonomik serta aspek penundaan kehamilan (metode amenorea laktasi/MAL). Selain Aspek-aspek tersebut, dengan ASI juga dapat melindungi bayi dari sindrom kematian bayi secara mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS).
Di Kota Probolinggo tahun 2016 jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sebesar 65,1% dari target 80% atau ada 1.620 bayi dari sejumlah bayi berusia 0-6 bulan yang diperiksa yaitu 2.487 bayi. (Tabel 39)
9. Pelayanan Kesehatan Bayi
Kunjungan bayi adalah kunjungan anak usia kurang dari satu tahun (29 hari-11 bulan) yang mendapatkan pelayanan kesehatan oleh dokter, bidan atau perawat di sarana kesehatan. Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi imunisasi dasar lengkap, stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Cakupan kunjungan bayi adalah jumlah bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar oleh dokter, bidan dan perawat yang mempunyai kompetensi klinis kesehatan paling sedikit 4 kali dalam 1 tahun.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 pelayanan kesehatan bayi tercapai 93% dari target 95% hal ini disebabkan banyak yang bersalin di luar kota sehingga bayinya tercatat setelah usia 1 (satu) bulan. ( Tabel 40 ).
10. Desa UCI (Universal Child Immunization)
Pencapaian universal child immunization (UCI) pada dasarnya merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I. Target cakupan UCI menurut indikator Standart Pelayanan Minimal (SPM) di Kota Probolinggo sebesar 86 %.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 terdapat 5 Kecamatan dengan 29 Kelurahan, dimana kelurahan yang telah mencapai UCI sebesar 96,6 % atau ada 28 Kelurahan UCI dari 29 Kelurahan yang ada. Kelurahan yang mencapai UCI tersebar di semua Kecamatan di Kota Probolinggo. (Tabel 41)
11. Pemberian Vitamin A pada Bayi dan Anak Balita
Pemberian vitamin A pada bayi dan balita untuk mencegah kekurangan vitamin A atau rabun senja pada bayi dan balita. Secara nasional pemberian vitamin A diberikan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu bulan Pebruari dan Agustus. Bayi usia 6-11 bulan mendapat vitamin A berwarna biru dengan dosis 100.000 IU, sedangkan anak balita usia 12-49 bulan diberikan vitamin A berwarna merah dengan dosis 200.000 IU.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 pemberian vitamin A pada bayi tercapai 89,93% atau ada 3.357 bayi dari 3.733 bayi yang ada dan pada anak balita tercapai 94,30% atau ada 14.213 anak balita dari 15.072 anak balita yang ada (Tabel 44). Terjadinya gizi buruk balita salah satunya adalah kekurangan zat gizi vit A.
12. Pelayanan Balita di Timbang
Cakupan balita ditimbang atau D/S tercapai 64,3% dari target 80% sehingga perlu ditingkatkan kinerja dari kader dan kesadaran dari
masyarakat melalui penyuluhan serta dukungan dari Lintas Sektor terkait. Setiap bulan hendaknya balita ditimbang di Posyandu. (Tabel.47)
13. Pelayanan Kesehatan Balita
Di Kota Probolinggo tahun 2015 Pelayanan Kesehatan Balita tercapai 81,7%, dari target 82% hal ini dikarenakan Balita yang sudah masuk PAUD belum semua tercatat pada pelayanan anak Balita (Tabel 46)
Pelayanan kesehatan anak balita adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan pada anak usia 12-59 bulan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup anak balita diantaranya adalah melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan dan stimulasi tumbuh kembang pada anak dengan menggunakan instrumen SDIDTK, pembinaan posyandu, pembinaan anak sekolah (PAUD) dan konseling keluarga pada kelas ibu balita dengan memanfaatakan buku KIA, perawatan anak balita dengan pemberian ASI sampai 2 tahun, makanan gizi seimbang dan vitamin A. Cakupan pelayanan Anak Balita adalah anak umur 12-59 bulan yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan minimal 2 kali dalam setahun berupa pengukuran berat badan per tinggi badan (BB/ TB), perkembangan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian, pemeriksaan daya dengar dan daya lihat. Pemantauan petugas kesehatan dilaksanakan selain di dalam gedung (puskesmas, pustu, polindes, poskesdes) juga di luar gedung seperti di posyandu, taman bermain, PAUD, Taman Penitipan Anak dan Taman Kanak-Kanak atau setingkat.
14. Balita Gizi Buruk mendapat perawatan
Kekurangan gizi terutama pada anak-anak balita mempermudah resiko terjadinya infeksi penyakit sehingga resiko kematian
meningkat, terganggunya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental serta kecerdasan. Dalam beberapa hal dampak kekurangan gizi bersifat permanen yang tidak dapat diperbaiki walaupun pada usia berikutnya kebutuhan gizinya terpenuhi.
Terjadinya gizi buruk baik pada bayi dan balita adalah karena asupan gizi kurang, dimana faktor-faktor penyebabnya adalah kemiskinan, penyakit infeksi, kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan pola asuh yang salah.
Gizi buruk yang terjadi pada balita tahun 2016 di Kota Probolinggo yang mendapatkan perawatan sebanyak 100% atau ada 36 balita gizi buruk. (Tabel 48)
15. Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan setingkat
Pelayanan kesehatan pada kelompok anak usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan dan pemeriksaan anak sekolah dasar/ sederajat, serta pelayanan kesehatan pada remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS dan Dokter kecil.
Tahun 2016 di Kota Probolinggo cakupan penjaringan siswa SD/ MI yang diperiksa sebesar 97,68% atau ada 4.118 siswa dari sejumlah 4.216 siswa yang ada. (Tabel 49)
Hal ini disebabkan karena pada saat melaksanakan kegiatan penjaringan kesehatan tersebut, tidak semua siswa masuk sekolah, sehingga tidak tercapai 100% dan dianjurkan bagi siswa yang tidak masuk untuk melaksanakan pemeriksaan di Puskesmas.
16. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak SD dan Setingkat
Di Kota Probolinggo tahun 2016 pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan dengan upaya promotif, preventif dan kuratif
pelayanan yang diberikan meliputi tumpatan gigi tetap sebanyak 2.483 orang, pencabutan gigi tetap sebanyak 1.175 orang sedangkan jumlah murid SD yang diperiksa sebanyak 18.059 orang (73,4%) dari sejumlah 24.609 murid yang ada. Dan murid yang memerlukan perawatan gigi lebih lanjut dapat terlayani yaitu sebanyak 4.956 murid (97,3%). (Tabel 50, 51)
17. Pelayanan Kesehatan Usila
Di Kota Probolinggo tahun 2016 cakupan pelayanan kesehatan usila (60 tahun keatas) sebesar 70,92 % atau ada 15.223 orang yang mendapatkan pelayanan kesehatan dari 21.464 lansia yang ada. (Tabel 52)
4.2. Akses Dan Mutu Pelayanan Kesehatan
1. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Probolinggo tahun 2016, tercapai 77,4 %, dari target 100% , hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat, terutama dari sektor informal yang belum tercakup secara maksimal dalam jaminan kesehatan nasional.
Peserta jaminan kesehatan yang ada terdiri dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) , Pekerja Penerima Upah (PPU),Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)/Mandiri, Bukan Pekerja (BP), Jamkesda/PBI Daerah (Tabel 53)
2. Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap dan Gangguan Jiwa di
Sarana Pelayanan Kesehatan
Jumlah kunjungan rawat jalan dan rawat inap di sarana pelayanan kesehatan baik Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah di Kota Probolinggo Tahun 2016 adalah sebagai berikut : untuk kunjungan rawat inap sebanyak 22.704, kunjungan rawat jalan 374.394, sedangkan kunjungan gangguan jiwa 688 . (Tabel 54)
4.3. Perilaku Hidup Masyarakat
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat, dapat dilihat dari perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS di rumah tangga.
A. Rumah Tangga Ber-PHBS
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat (Kepmenkes RI Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010:10).
Tujuan umum dari PHBS adalah meningkatnya rumah tangga sehat di desa, kabupaten/kota diseluruh Indonesia, dan tujuan khususnya untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan anggota rumah tangga untuk melakukan PHBS serta berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat (Depkes RI, 2007).
% RUMAH
TANGGA SEHAT PENCAPAIAN INDIKATOR
TATANAN JUMLAH YANG MASALAH
TOTAL DIKAJI SEHAT TIDAK INDIKATOR % PRIORITAS
Rumah
Tangga 68625 62085 39121 22964 1. Persalinan Nakes 98,33
1.Tidak Merokok dlm rumah
63,01 % 36,99 % 2. ASI eksklusif 58,75 2.ASI Eksklusif
3. Menimbang Bayi &
Balita 81,23
3. Menimbang bayi dan Balita
4. Cuci tangan dg air
bersih dan sabun 86,90
5. Tersedia air bersih 97,67
6. Tersedianya jamban 88,09
7 .Memberantas jentik
85,64
di rumah
8. Makan sayur & buah 88,99
9. Aktivitas fisik tiap hari 91,49
10. Tidak merokok dlm
rumah 47,96
PHBS ini akan berhasil melalui kegiatan promosi kesehatan kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan dan penyebarluasan informasi melalui media cetak, media elektronik maupun media tradisional dengan pendekatan pada budaya lokal yang ada di Kota Probolinggo serta bekerjasama dengan radio pemerintah, swasta dan radio line yang ada di 5 pasar di Kota Probolinggo.
Pada tabel 1.1 dapat diketahui bahwa dalam tahun 2016, jumlah rumah tangga adalah 68.625 RT dengan rumah tangga yang dikaji sebesar 62.085 RT. Untuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga itu sendiri terdiri dari sepuluh indikator dengan masing-masing capaian dan terdapat 3 (tiga) masalah utama yang belum mencapai target yakni tidak merokok dalam rumah, ASI Eksklusif dan Menimbang bayi dan balita.
Dalam indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga terdapat sepuluh poin yakni Persalinan oleh Tenaga Kesehatan, ASI Eksklusif, Menimbang Bayi & Balita, Cuci tangan dg air bersih dan sabun, Tersedia air bersih, Tersedianya jamban, Memberantas jentik di rumah, Makan sayur & buah, Aktivitas fisik tiap hari, serta Tidak merokok di dalam rumah.
63,01 36,99
Sehat Tidak Sehat
Diagram IV.3 : Rumah Tangga Ber-PHBS
Pada diagram IV.3 dapat dilihat dari total rumah tangga yang dikaji yakni sebesar 62.085 RT, terdapat 39.121 rumah tangga sehat atau sebesar 63,01% dari target sebesar 53% untuk rumah tangga sehat di Tahun 2016, sedangkan 22.964 rumah tangga sisanya atau sebesar 36,99% belum memenuhi kriteria rumah yang melakukan prinsip Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rumah Tangga.
Pada diagram IV.4 dapat dilihat dari sepuluh indikator tersebut terdapat tiga indikator prioritas masalah yaitu tidak merokok dalam rumah sebesar 47,96%, ASI Eksklusif sebesar 58,75% dan menimbang bayi dan balita sebesar 81,23%. Maka dari itu untuk memenuhi target tiga indikator tersebut perlu adanya upaya kerja sama dari masyarakat, tenaga kesehatan dan juga pemerintah terkait. Untuk indikator “Tidak merokok dalam rumah” perlu adanya penyuluhan mengenai dampak rokok, Penguatan Tim Pemantau Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) yang dilakukan oleh Kepala SKPD secara persuasif dan representatif, sosialisasi
Perwali No. 40 tahun 2015 tentang petunjuk pelaksanaan atas Perda No. 12 tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM).
98,33 58,75 81,39 86,9 97,67 88,09 85,64 88,99 91,44 47,96 1. Persalinan Nakes 2. ASI Eksklusif
3. Menimbang bayi & Balita 4. Cuci tangan dg Air Bersih 5. Tersedia air bersih 6. Tersedianya jamban 7. Memberantas 8. Makan Sayur & buah 9. Aktifitas fisik tiap hari 10. Tidak merokok dalam rumah
Diagram IV.4 : Pencapaian 10 Indikator PHBS
B. Sarana Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada masyarakat. Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat diantaranya adalah posyandu yang berjumlah 218 dengan 126 posyandu PURI sudah terbentuk 68 taman posyandu dimana posyandu PURI ditambah layanan BKB dan PAUD.
1. Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas yaitu Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, Perbaikan Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare. Untuk memantau perkembangan posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata
yaitu posyandu pratama, posyandu madya, posyandu purnama dan posyandu mandiri.
STRATA POSYANDU
4,59 26,61 50,46 18,35 PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRIDiagram IV.5 : Strata Posyandu
Seperti yang terlihat pada diagram 1V.5 yang menyatakan bahwa Strata posyandu di Kota Probolinggo tahun 2016 terdiri dari posyandu pratama 4,59 %, posyandu madya 26,61 %, posyandu purnama 50,46 % dan posyandu mandiri 18,35%. Sedangkan pada diagram 1V.6 terlihat kondisi taman posyandu yang sudah optimal 62 taman posyandu 91,18 % dan taman posyandu yang belum optimal 6 taman posyandu 8,82 %.
91,18 8,82
Belum Optimal Optimal
2. Kelurahan Siaga
Kelurahan siaga adalah kelurahan yang mempunyai kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri. Salah satu syarat Kelurahan Siaga Aktif adalah adanya Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel) yang didukung oleh tenaga kesehatan yang memadai sehingga siap mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat.
STRATA KELURAHAN SIAGA
13 12 4 0 PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
Diagram IV.7 : Tingkat Perkembangan Kelurahan Siaga
Poskeskel merupakan upaya kesehatan yang bersumberdaya masyarakat yang melaksanakan kegiatan pelayanan masyarakat secara mandiri. Di Kota Probolinggo pada tahun 2016 telah terbentuk 29 Kelurahan Siaga Sehat Aktif tetapi masih didominasi oleh Kelurahan Siaga Sehat Aktif Pratama sebanyak 13 Kelurahan (44,83%), 12 Kelurahan (41,38%) merupakan Kelurahan Siaga Sehat Aktif Madya, 4 Kelurahan (13,79%) merupakan Kelurahan Siaga Sehat Aktif Purnama, dan belum ada Kelurahan Siaga Sehat Aktif Mandiri. Sehingga dalam hal ini perlu dilakukan penguatan Kelurahan Siaga
Sehat Aktif melalui pembentukan pokjanal Kelurahan Siaga Sehat Aktif serta yang difasilitasi oleh tim Pokjanal Kelurahan Siaga Sehat Aktif serta Forum Kelurahan Siaga Sehat Aktif (Forkesa) Tingkat Kecamatan dan Tingkat Kelurahan dengan target 11 % Kelurahan Siaga Sehat Aktif berstrata PURI (Purnama & Mandiri).
4.3. Keadaan Lingkungan
Keadaan lingkungan yang sehat tercipta dengan terwujudnya kesadaran individu dan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), untuk mencapai tujuan tersebut dijabarkan dalam sasaran meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat dengan indikator rumah tangga sehat, institusi kesehatan yang berperilaku sehat, institusi pendidikan yang sehat, tempat kerja yang sehat, tempat-tempat umum yang sehat, posyandu purnama dan mandiri serta meningkatkan kemandirian masyarakat sebagai peserta jaminan pemeliharaan kesehatan.
1. Rumah Sehat
Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah tidak terbuat dari tanah (sesuai dengan blangko Survey Penyehatan Lingkungan / SPL-01).
Jumlah rumah yang ada di Kota Probolinggo tahun 2016 sebanyak 61.206, rumah yang dibina kesehatannya sebanyak 3.537 dan capaian untuk rumah dibina tahun 2016 sebanyak 1.813 atau 51,26%. Secara keseluruhan, rumah yang dibina sampai dengan tahun 2016 sebanyak 48.309 atau 78,93%. (Tabel 58).
Dari rumah yang diperiksa tidak terdapat penjelasan, misalnya rumah yang diperiksa berlokasi di pedesaan atau perkotaan. Perlu
upaya program terkait untuk meningkatkan persentase rumah sehat, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pemeliharaan dan perbaikan lingkungan.
2. Akses Air Minum yang layak
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 416 tahun 1990 air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila sudah dimasak. Syarat syarat air bersih adalah tidak berasa, tidak berbau,tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. Air tersebut bersumber dari ledeng, SPT, SGL, PAH, sungai, curah hujan yang airnya sudah melalui penyaringan.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 jumlah penduduk yang memiliki akses air minum yang layak sebesar 81 % dari target 70% atau ada 186.633 penduduk dari 231.112 jumlah penduduk. Untuk penyelenggara air minum yang memenuhi syarat kesehatan tercapai 94,4% atau ada 17 sampel yang memenuhi syarat dari 18 penyelenggara air minum yang ada. (Tabel 59,60 )
3. Akses Sarana Sanitasi yang layak
Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh penduduk di Kota Probolinggo tahun 2016, berupa jamban sehat tercapai 73,3% atau ada 169.498 penduduk dari 231.112 jumlah penduduk yang ada. Jenis sarana jamban yang ada antara lain jamban komunal, leher angsa, plengsengan dan jamban cemplung. (Tabel 61)
4. Kelurahan STBM
Pelaksanaan pemicuan Program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) bertujuan merubah perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat serta meningkatkan kualitas lingkungan tempat
tinggal dimana kegiatan ini sudah dilaksanakan mulai awal bulan Nopember 2011 di Kota Probolinggo.
Pada tahun 2016 Kota Probolinggo telah melakukan verifikasi pada empat kelurahan yang mencapai ODF (Open Defecation Free) yaitu di Kelurahan Tisnonegaran, Sukabumi, Sumber taman dan Ketapang.
Pada tahun 2017 direncanakan ada 6 kelurahan yang diprioritaskan untuk ODF yaitu Kelurahan Pilang, Kelurahan Jrebeng Kulon, Kelurahan Wiroborang, Kelurahan Kebonsari Wetan, Triwung Kidul dan Kedung Galeng).
5. Tempat Pengelolaan Makanan memenuhi syarat, dibina dan diuji
petik
Pengawasan dan pembinaan sanitasi pada Tempat Pengolahan Makanan (TPM) dilakukan secara berkala dengan menggunakan indikator penilaian yang sudah ditentukan berdasarkan peraturan yang ada. TPM yang dimaksud berupa rumah makan/ restoran, jasa boga, industri makanan dan pedagang kaki lima.
Tahun 2016, jumlah TPM (Jasa Boga, Rumah Makan/ Depot, DAM dan jajanan makanan yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 86,46%. (Tabel.64) Sedangkan industri Rumah Tangga yang mengajukan ijin P-IRT pada tahun 2016 sebanyak 80 orang.
0 50 100
GRAFIK PERSENTASE TTU/TPM MEMENUHI SYARAT TAHUN . 2011 - 2016
TTU 71,3 71,4 72,3 74,1 80,79 82,26 TPM 81,6 81,6 82,7 86,7 86,47 86,46 2011 2012 2013 2014 2015 2016
Grafik IV.8: Persentase TTU/TPM memenuhi syarat di Kota Probolinggo Th.2011- 2016
Pemerintah Kota Probolinggo juga telah menerapkan kebijakan dalam pengawasan dan pemeriksaan rumah makan dan restoran yang ditetapkan dalam Keputusan Walikota Probolinggo Nomor : 59 Tahun 2004 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Bagi Rumah Makan dan Restoran (data terlampir). Selain itu telah dibentuk Tim Pengawasan dan Pembinaan Peredaran Makanan dan Minuman Olahan di Kota Probolinggo yang bertugas dalam mengawasi dan memberikan bimbingan serta penyuluhan kepada pelaku usaha/ produsen untuk meningkatkan mutu/ kualitas, produktifitas dan mentaati ketentuan standar/ persyaratan kesehatan serta tidak menyebabkan timbulnya bahaya kesehatan yang telah ditetapkan ke dalam Keputusan Walikota Probolinggo Nomor : 188.45/135/KEP/425.012/2016 Tentang Tim Pemantau Peredaran Makanan dan Minuman Tahun 2016.
BAB V
SUMBER DAYA KESEHATAN
5.1. Sarana Kesehatan
Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan terdiri atas data dan informasi mengenai sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.
1. Puskesmas
Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan pada masyarakat dengan tugas pokok menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, baik pelayanan kesehatan perorangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat.
Secara konseptual Puskesmas menganut konsep Wilayah, dan diharapkan satu Puskesmas dapat melayani rata-rata 30.000 penduduk. Pada tahun 2016 di Kota Probolinggo terdapat 6 puskesmas dengan rasio terhadap penduduk adalah 1:38.519 jiwa artinya 1 Puskesmas rata-rata melayani 38.519 jiwa. Hal ini berarti jumlah Puskesmas di Kota probolinggo masih kurang. Untuk memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di Puskesmas telah dikembangkan puskesmas pembantu yang berjumlah 21 unit dengan rasio 1 puskesmas dibantu 2-3 puskesmas pembantu sehingga diharapkan dapat menjangkau pelayanan kesehatan seluruh penduduk Kota Probolinggo.
Di Kota Probolinggo terdapat 2 puskesmas rawat inap yaitu puskesmas Ketapang dan puskesmas Wonoasih, dengan kapasitas tempat tidur rata-rata sebanyak 26 tempat tidur.
2. Rumah Sakit
Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana Rumah Sakit (RS) antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas
perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah Rumah Sakit dan tempat tidurnya serta rasio terhadap jumlah penduduk.
Di Kota Probolinggo tahun 2016 memiliki 1 (satu) Rumah Sakit Pemerintah, Rumah Sakit Umum Swasta 1 (satu) buah, dan Rumah Sakit bersalin milik swasta 2 (dua) buah dengan total tempat tidur 495 TT. Adapun prosentase pemakaian tempat tidur (BOR) di Rumah Sakit Kota Probolinggo adalah 57,0%(Tabel 56 ).
3. Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/ Pengelola
Salah satu indikator penting untuk menggambarkan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan adalah jumlah sarana produksi dan distribusi farmasi dan alat kesehatan.
Pada tahun 2016 di Kota Probolinggo jumlah Apotik sebanyak 30 Apotek, Toko Obat sebanyak 4 Toko Obat dan Gudang Farmasi sebanyak 1. ( Tabel 67)
4. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) diantaranya adalah posyandu. Posyandu yang berjumlah 218 dari 150 posyandu PURI sudah terbentuk 68 taman posyandu, dimana posyandu PURI ditambah layanan BKB dan PAUD.
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas, yaitu kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan penanggulangan diare. Untuk memantau perkembangannya posyandu dikelompokan menjadi 4 strata, yaitu posyandu pratama, posyandu madya, posyandu purnama dan posyandu mandiri.
Strata posyandu di Kota Probolinggo tahun 2016, terdiri dari posyandu pratama 4,59 %, posyandu madya 26,61 %, posyandu purnama 50,46 % dan posyandu mandiri 18,35%. (Tabel 69)
Sedangkan kondisi taman posyandu yang sudah optimal 62 posyandu ( 91,18%) dan yang belum optimal 6 posyandu (8,82%).
Kelurahan Siaga adalah Kelurahan yang mempunyai kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri, salah satu syarat kelurahan Siaga Aktif adanya pos kesehatan kelurahan (POSKESKEL) yang didukung oleh tenaga kesehatan yang memadai, Tim Pokjanal Forkesa tingkat Kecamatan dan Kelurahan sehingga siap mengatasi masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat. Poskeskel merupakan upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat yang melaksanakan kegiatan pelayanan masyarakat secara mandiri. Di Kota Probolinggo pada tahun 2016 telah terbentuk 29 Kelurahan Siaga Aktif. (Tabel 71).
Kelurahan siaga sehat aktif yang paling banyak adalah Aktif pratama yaitu sebanyak 13 kelurahan (44,83%), sehingga perlu dilakukan penguatan kelurahan siaga sehat aktif melalui penguatan tim pokjanal kelurahan siaga sehat aktif, Forkesa Tingkat Kecamatan dan Kelurahan serta dukungan masyarakat dalam gerakan Perilaku Hidup Bersih & Sehat melalui Pengembangan 3 UKBM yang dibina dan 70% pencapaian PHBS Rumah Tangga.
5.2. Tenaga Kesehatan
Sebagaimana diketahui bahwa penyelenggaraan upaya kesehatan tidak hanya dilakukan pemerintah, tapi juga diselenggarakan oleh swasta. Oleh karena itu gambaran situasi ketersediaan tenaga kesehatan baik yang bekerja disektor pemerintah maupun swasta perlu diketahui. Data ketenagaan ini diperoleh dari hasil pengumpulan data sumber daya kesehatan yang ada di
Kota Probolinggo, yang meliputi tenaga yang ada di Puskesmas, Rumah
Sakit maupun yang ada pada Kantor Dinas Kesehatan Kota Probolinggo. Tenaga kesehatan yang ada di sarana pelayanan kesehatan di Kota
Probolinggo pada tahun 2016 seluruhnya 902 orang yang tersebar pada 6 Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan terdiri atas Tenaga Medis (Dokter) 130 orang, Perawat/Perawat gigi 483 orang, Bidan 160 orang, Farmasi 41 orang, Kesehatan Masyarakat 7 orang, Sanitasi 9 orang, Gizi 24 orang, Radiografer 7 orang, Teknisi Medis 5 orang, fisioterapis 15 orang, Analisis kesehatan 11 orang, dan perekam medis 6 orang (Tabel 73 s.d 81)
5.3. Pembiayaan Kesehatan
Anggaran Pembangunan Kesehatan di Kota Probolinggo tahun 2016 diperoleh dari sumber dana APBD Kota Probolinggo, APBD Propinsi dan APBN (Tugas Pembantuan, BOK, WHO,DBHCHT dan ASKESKIN/ PBI BPJS).
Total anggaran kesehatan di Kota Probolinggo tahun 2016 sebesar Rp. 220.381.169.421,49,-. Dan presentasi APBD Kesehatan terhadap APBD Kota Probolinggo sebesar 10,92%, sehingga diperoleh anggaran kesehatan perkapita sebesar Rp. 953.568,70 (Tabel 81)
BAB VI PENUTUP
Sebagai uraian akhir pada Bab Penutup Profil Kesehatan Kota Probolinggo Tahun 2016 ini, disampaikan kegiatan-kegiatan program di bidang kesehatan yang bersifat berkesinambungan dan berkelanjutan dari tahun ke tahun sampai dengan saat ini. Hasil – hasil kegiatan program tahun 2016, adalah bahan untuk menyusun profil kesehatan yang merupakan performance kinerja pembangunan kesehatan di Kota Probolinggo, yang mana dapat digunakan sebagai bahan untuk evaluasi dan menyusun perencanaan kegiatan di tahun mendatang serta sebagai dasar kebijakan pengambilan keputusan.
Adapun hasil-hasil kegiatan program kesehatan di tahun 2016 adalah sebagai berikut :
1. Derajat kesehatan masyarakat Kota Probolinggo tahun 2016, yang salah satunya dapat dilihat dari jumlah kematian ibu sebanyak 6 orang dan kematian bayi sebanyak 98 bayi. Serta balita gizi buruk yang ditangani/ mendapat intervensi sebanyak 36 atau (100%) balita gizi buruk yang yang di intervensi mengalami perbaikan status gizi buruk menjadi status gizi baik .
2. Jumlah peningkatan kasus penyakit, masih menjadi ancaman setiap tahunnya terutama penyakit demam berdarah Dengue (DBD). Penyakit demam berdarah untuk tahun 2016 mengalami peningkatan, tahun 2015 sebanyak 236 kasus dan tahun 2016 naik menjadi 533 kasus atau dengan Incidence Rate 230,62 per 100.000 penduduk.
3. Sosialisasi secara intensif kepada masyarakat tentang program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) masih sangat diperlukan, karena capaian kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan masih 77,44 % dari target 100%.
Meskipun pada kualitas data dan informasi yang disajikan dalam profil kesehatan yang diterbitkan saat ini belum sesuai dengan harapan, diharapkan profil kesehatan ini dapat memberikan gambaran secara garis besar dan menyeluruh tentang seberapa jauh keadaan kesehatan masyarakat yang telah dicapai.