• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 Tinjauan Teori

2.2.3 Film Dokumenter

2.2.3.2 Sumber Daya Manusia Dalam Film Dokumenter

beberapa orang yang terlibat, baik film fiksi atau non fiksi.

Didalam pembuatan film dokumenter itu sendiri berbeda dengan film pada umumnya. Film dokumenter dapat dilakukan oleh dua sampai lima orang dalam proses pembuatannya. Berikut beberapa peran yang penting didalm pembuatan film dokumenter:

1. Produser

Produser adalah seseorang atau beberapa orang yang bertugas mengelola segala hal yang berhubungan dengan pembuatan film atau video. Produser akan menyiapkan semua kebutuhan seperti pemilihan crew, pembuatan timeline produksi, penentuan tempat, penentuan narasumber dan menentukan bagaimana film ini akan dikemas. Produser akan terus memantau saat jalanya produksi seuai dengan apa yang sudah direncanakan dan diharapkan produser itu sendiri.

2. Sutradara

Sutradara adalah orang yang bertugas mengontrol dan mengarahkan sebuah film sesuai dengan scenario.

Pada saat produksi sutradaralah yang memiliki kendali pada saat produksi film berlangsung, harus bisa mengatur crew serta memberikan motivasi kepada mereka agar proses produksi berjalan dengan baik.

Sutradara bertanggung jawab atas aspek – aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatf maupun teknis.

28 3. Kameramen

Kameramen memiliki tugas yang sangat penting didalam proses produksi film, yaitu melakukan pengambilan gambar dan mengambil shoot list yang sudah diberikan oleh sutradara. Kameramen harus mengetahui teknik pengambilan gambar dan sinematografi yang baik. Selain itu teknik pencahayaan juga harus dikuasai oleh kameramen agar kebutuhan cahaya pada saat produksi terpenuhi.

4. Soundman

Soundman berperan untuk mengambil atau merekam suara yang ada saat produksi, seperti dialog, volley, dan ambience. Saat merekam audio biasanya menggunakan Alat atau device khusus untuk merekam suara agar kualitas suara yang dihasilkan maksimal.

5. Tim Riset

Tim riset melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan melalui hasil survey dan observasi di lapangan sebelum proses produksi berlangsung. Hal ini sangat penting untuk dilakukan agar pembuat film memiliki informasi yang cukup untuk topik yang akan dibahas.

29 2.2.4 Sinematografi

Sinematografi merupakan dari bahasa inggris Cinematography berasal dari bahasa latin Yunani kinema atau gambar. Kinema dapat diartikan sebagai gerakan dan graphoo itu sendiri diartikan sebagai menulis. Sinematografi bisa diartikan menulis dan gambar yang bergerak. (Nugroho, 2014)

Dalam buku The Five C’s of Cinematography yang sudah ditulis oleh Mascelli, (2010) yang didalamnya terdapat enam elemen penting mengenai sinemtografi, yaitu Camera angle, Continuity, Cutting, Close-Ups dan Composition.

a. Camera Angle

Camera angle itu sendiri merupakan sebuah sudut pandang dari penonton. Pesan didalam film akan dapat tersampaikan dengan tepat apabila posisi sudut pandang dari kamera yang tepat. Oleh karena itu pengambilan sudut gambar merupakan hal yang paling penting untuk mengahasilkan gambar yang menarik (Mascelli, 2010:11).

Film terdiri dari beberapa shoot, dalam setiap shoot membutuhkan pengembalian kamera dengan posisi kamera (camera angle) yang tepat. Posisi dari suatu sudut pandang pengambilan gambaran merupak kunci utama dalam pembuatan cerita yang nantinya akan saling berhubngan (Mascelli, 1965:11). Terdapat tiga faktor yang menentukan angle kamera yaitu:

1) Subject Size

Ukuran subjek sangat berkaitan dengan frame serta jenis shot yang digunakan. Suatu frame dapat ditentukan berdasarkan jarak dari suatu objek dengan kamera dan focal length lensa yang digunakan Semakin panjang lensa yang digunakan, akan semakin dekat objek yang ingin kita lihat.

30 a) Close Up

Close Up merupakan salah satu teknik pengambilan gambar dari mulai pundak sampai ke kepala pemain. Tujuan nya untuk mengambil gambar secara detail dari objek tersebut.

b) Medium shoot

Pengambilan gambar ini biasanya sering digunakan karena cakupan yang cukup luas namun masih cukup jelas untuk menangkap gesture, ekspresi wajah serta gerakan yang dikeluarkan oleh pemain.

c) Long Shoot

Long shoot merupakan pengambilan gambar dengan mencakup hampir keseluruhan objek pada suatu adegan. Pengambilan gambar ini bertujuan untuk mendapatkan gambar objek serta latar belakang dari objek tersebut.

d) Extreme Long Shoot

Teknik pengambilan ini merupakan shoot dengan posisi kamera yang sangat jauh dari objek untuk memperlihatkan keadaan sekitar secara keseluruhan dan pandangan yang luas.

Pengambilan gambar seperti ini memberikan kesan kepada penonton dengan ruang lingup yang luas dari adegan serta setting.

e) Two Shoot

Shoot ini merupakan pengambilan gambar yang

bervariasi dari sudut medium shoot dan long shoot. Tujuan dari pengambilangambar seperti

ini sendiri untuk mendapatkan gambar kedua

31

pemain yang sedang berdialog satu dengan yang lainnya.

f) Insert

Insert pada umumnya difilmkan dengan menumpuk frame yang sama dan menyisihkan background nya. Insert bertujuan untuk memperjelas cerita melalui benda yang ada pada objek yang digunakan.

2) Subject Angle

Subject Angle bertujuan untuk menekan depth terhadap objek dari dunia tiga dimensi menjadi dua dimensi dalam proses perekaman film. Cara untuk mendapatkan depth itu sendiri terbagi dalam beberapa cara seperti, pencahayaan, kamera dan pergerakan.

Pemilihan posisi kamera / angle kamera yang pas akan sangat berpengaruh dan berperan penting untuk memberikan ilus depth pada objek tersebut.

3) Camera Height

Camera Height atau tinggi kamera sama pentingnya dengan jarak kamera serta subject angle.

Hal ini diperlukan untuk menentukan sudut pengambilan gambar dan menentukan posisi letak kameradalam objek yang akan di shoot. Ketinggian kamera yang sesuai dapat menambah segi dramatik, artistic, dan psikologi. Berikut lima jenis teknik ketinggian kamera:

a) Eye Level Angle

32

Pengambilan sudut gambar sejajar dengan mata objek agar terlihat lebih jelas. Tidak memiliki makna dramatik melainkan hanya mengambil gambar sejajar dengan objek

b) Low Angle

Posisi kamera berada dibawah objek dengan lensa menghadap keatas untuk menangkap gambar bagian atas objek. Pengambilan gambar dengan angle seperti ini biasanya ingin memberikan kesan kuat, dinamis dan dominan.

c) High Angle

Pengambilan gambar dengan menempatkan kamera berada lebih tinggi diatas objek dengan posisi lensa yang mengahadap kebawah. Shoot hight angle ini bertujuan untuk memberikan kesan estetika, teknik dan psikologi.

b. Continuity

Dalam sebuah film harus memementingkan segi continuity, dimana film itu tersusun dari urutan gambar yang berkesinambungan dan mengalir denagn alur cerita yang ada. Hal ini bertujuan agar sequence yang ada pada film menjadi satu rangkaian yang utuh dan saling berkaitan. Menurut Mascelli (1965:68-74) continuity dibagi menjadi dua, yaitu:

1) Time Continuity

Time continuity dapat dibagi menjadi empat bagian diantaranya seperti present (sekarang), past (masa lalu), future (masa depan) dan conditional (kondisi waktu). Film ini menyajikan sebuah peristiwa yang sedang berlangsung.

2) Space Continuity

33

Merupakan sebuah peristiwa bergerak dari suatu tempat ketempat lainnya yang memerlukan space continuity. Tujuannya agar continuity lebih berkesinambungan dan pergerakannya harus diperhatikan.

c. Cutting

Cutting dilakukan pada saat paska produksi yaitu pada saat editing. Pada proses editing cutting ini mengambil potongan – potongan gambar pada saat produksi serta memilah bagian yang akan digunakan pada saat editing. Dalam proses cutting akan menghasilkan adegan yang akan digabungkan untuk menjadi sebuah film awal sampai dengan akhir. Menurut Mascelli (1965:149-154) tipe cuttingdapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Continuity Cutting

Cutting ini membuat alur cerita menjadi berkesinambungan dengan menyesuaikan dari satu shoot ke shoot lainnya sehingga menjadi satu buah adegan yang utuh.

2. Compilation Cutting

Cutting ini biasanya sering digunakan pada film dokumenter dan berita, dimana alur cerita dengan narasi akan menjadi suatu ilustrasi sehingga penonton dapat memahami alur cerita dari film tersebut.

3. Continuity and Compilation Cutting

Merupakan sebuah perpaduan antara compilation cutting dengan continuity cutting.

34 d. Close-Up

Close up merupakan suatu pengambilan gambar dengan cara memfokuskan suatu objek agar mendapatkan hasil yang lebih jelas. Pesan dramatik pada suatu momen didalam film dapat diciptakan dengan menggunakan teknik close up yang diambil secara teliti dan akurat.

Close up merupakan salah satu bagian yang penting untuk seorang pembuat film menyampaikan pesan. Menurut Mascelli (1965:177 - 182) close up dapat dibagi lagi menjadi dua, yaitu:

1) Cut-In Close-Ups

Penambilan gambar dengan close Up ini merupakan bagian utama dari adegan yang.

Tujuan dari pengambilan cut-in close-up ini untuk menciptakan keselarasan dari adegan sebelumnya, lalu dilanjutkan dengan shoot yang pengambilan gambarnya lebih dekat dari objek.

2) Cut-AwayClose-Ups

Pengambilannya tidak sesuai dengan adegan sebelumnya namun kejadian kedua yang terjadi di lokasi yang berbeda, dimana dengan menggunakan cut-away close-up dapat digunakan untuk memperlihatkan respon dari pemain yang berada diluar area shoot, membantu penonton untuk memahami suatu cerita, serta mengganti adegan yang mungkin kurang pantas untuk di perlihatkan kepada penonton.

e. Composition

35

Composition merupakan bagian yang penting dalam pembuatan film maupun video. Dalam hal ini composition memiliki beberapa elemen dari suatu kesatuan untuk memberikan kenyamanan untuk dilihat dalam suatu frame. Composition sangat berkaitan dengan selera artistik, pengalaman, latar belakang serta kesadaran dari seorang kameramen. Komposisi yang baik pada film adalah pengaturan suatu gambar yang menggambarkan suatu kesatuan yang harmonis dan cocok secara keseluruhan.

2.2.5 Tata Suara

Suara memiliki peranan yang penting dalam suatu film, karena film mengandung unsur audio visual. Dimana terdapat perpaduan antara gambar dan suara dalam suatu film agar tidak membosankan. Tujuan dari pengguanaan tata suara pada film itu sendiri adalah untuk membangun suasana serta mood yang ingin diperlihatkan kepda penonton. Untuk mendaptkan kualitas audio yang baik perlu menggunakan alat yang berkualitas baik juga, seperti penggunaan mikrofon yang sesuai dengan kebutuhan.

Menurut Nugroho (2014:152) sebuah film baik itu fiksi maupun documenter sangat diperlukan audio untuk memperkuat suasana yang ingin didapatkan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat mempersiapkan mikrofon:

a. Mikrofon yang akan digunakan harus dekat dengan sumber suara serta memperhatikan arah mikrofon itu agar suara yang dicakup lebih jernih dan jelas.

36

b. Memperhatikan pemasangan mikrofon pada saat proses merekam, untuk meminimalisir suara yang tidak diperlukan atau noise.

c. Memperhatikan ruangan sekitar apakah kemungkinan menyebeabkan adanya gema suara atau tidak.

d. Menggunakan mikrofon unidirectional jika melakukan perekaman suara di ruangan outdoor, tujuannya agar merekam tertuju pada satu arah sumber suara dan meminimalisir suara – suara yang tidak penting ikut terekam.

2.2.6 Tata Cahaya

Pengaturan cahaya pada saat pembuatan film merupakan hal yang penting, untuk memberikan pencahayaan yang baik pada objek agar gambar yang direkam tidak kekurangan cahaya dan memiliki kualitas gambar yang baik. Menurut Nugroho (2014:142) tujuan dari penataan cahaya yang baik untuk pertelevisian yaitu untuk mendapatkan hasil yang menarik dari kebutuhan narasi dan rencana produksi itu sendiri. Terdapat tiga unsur dalam penataan cahaya:

a. Key Light

Key Light merupakan pencahayaan utama dimana cahaya ini diarahkan kepada objek secara keseluruhan.

Penataan cahaya ini biasanya diletakkan pada angle secara vertical 30 derajat.

b. Back Light

Teknik back light menempatkan posisi sumber cahaya dibelakang objek dengan posisi angle 45 derajat.

Tujuan dari back light itu sendiri untuk memberikan efek dimensi agar background dengan objek tidak terlihat seperti menjadi satu. Intensitas cahaya pada back light

37

tidak terlalu dominan atau sedikit kurang terang dibandingkan dengan keylight.

c. Fill light

Fill light merupakan pencahayaan tambahan yang tujuannya itu sendiri untuk mengurangi bayangan yang muncul. Penempatan fill light akan bersebrangan dengan posisi cahaya key light.

2.3 Analisis Karya

Pada analisis karya tugas akhir ini penulis akan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity dan treat).

Tujuannya adalah untuk mengetahui analisa dari mulai kekuatan, kelemahan, kesempatan serta ancaman dari hasil karya film ini terhadap karya sebelumnya:

a. Kekuatan (strength)

Kekuatan dari karya akhir film dokumenter dengan judul

“Sekolah Daring” ini terdapat pada alur ceritanya, yaitu dari segi evektivitas belajar online ditengah masa pandemi Covid-19. Dalam hal ini penulis akan menceritakan faktor – faktor yang menghambat belajar online. Pada film ini penulis akan mewawancarai dari berbagai macam sudut pandang dari mulai siswa, guru, orangtua serta pihak yang terlibat pada kegiatan proses pembelajaran online tersebut. Film ini pun nantinya bisa dijadikan pembelajaran untuk semua pihak bahwa peristiwa pandemi ini sangat berdampak besar terlebih untuk bidang pendidikan.

Pemilihin tema atau topik film ini menjadi salah satu kekuatan dari film yang akan dibuat oleh penulis.

Permasalahan yang diangkatpun masih hangat dan memiliki narasumber yang cukup kredibel.

38 b. Kelemahan (weakness)

Kelemahan yang terdapat pada film ini sendiri terdapat pada cakupan permasalahan yang akan diangkat. Alur film yang akan penulis produksi belum dapat disama ratakan dengan kasus permasalahan yang ada di Indonesia. Serta banyak narasumber yang tidak dapat diikuti kesehariannya dikarenakan situasi pandemi. Hal yang membuat penulis merasa ada yang kurang dari film ini.

c. Peluang (opportunity)

Pada kesempatan ini, penulis akan berusaha untuk membuat film dokumenter serta mengabadikan sebuah peristwa yang sedang melanda di seluruh dunia pada saat ini. Pandemi yang pada saat ini terjadi semakin lama semakin meresahkan terutama pada sektor pendidikan, dimana seluruh kegiatan belajar dihentikan sementara. Penulis berharap film ini dapat tersampaikan kepada masyarakat luas betapa sulitnya belajar dengan kondisi yang seperti ini. Dalam kesempatan ini juga penulis dapat menjadikan karya ini dalam perlolombaan film.

d. Ancaman (treat)

Alur cerita serta tema yang diangkat dalam film dokumenter ini bisa dikatakan sedang dirasakan oleh semuar orang, hal ini yang ditakutkan akan pihak yang merasa tidak nyaman dengan pernyataan yang ada difilm ini. Apalagi masa pandemi Covid-19 ini belum juga mereda dan masih banyak yang terdampak. Oleh karena itu penulis berusaha untuk berlaku netral dan tidak berpiihak kepada siapapun, serta penulis menganfkat film ini berdasarkan dari kerasahan yang penulis rasakan sendiri.

39 BAB III

ANALISIS MASALAH DAN URAIAN DATA

3.1 Deskripsi Karya

Berikut merupakan penjelasan karya akhir yang akan diproduksi oleh penulis:

a. Kategori Program :Informasi

b. Media :Media pemutaran film konvensional c. Format Program :Dokumenter

d. Judul Program :Sekolah Daring e. Durasi Program :10 – 15 menit f. Target Audiens :12 tahun keatas

g. Jenis Kelamin :Laki – laki dan perempuan

Film dokumenter itu sendiri selalu berusaha untuk mengangkat hal yang bersifat realitas, dimana hal tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Film documenter ini akan dikemas menjadi film yang ringan sehingga akan mudah dimengerti oleh masyarakat. Pada film dokumenter erat kaitannya dengan suatu peristiwa, masyarakat, tokoh dan lokasi tempat peristiwa yang sebenarnya. Dengan diproduksinya film documenter ini sendiri, penulis dapat menyampaikan keresahan yang penulis rasakan kepada masyarakat luas dengan mudah serta secara luas.

40 3.2 Subjek dan Objek Karya

3.2.1 Subjek

1. Kepala Sekolah

2. Turah Hadayani M,PD(Guru tingkat SMP)

Ibu Turah Handayani (49) merupakan guru disalah satu sekolah negeri di SMPN 85 Jakarta. Ibu Turah dijadikan sebagai narasumber oleh penulis dikarenakan, beliau salah satu guru senior di SMPN 85 Jakarta dan beliau sudah memiliki banyak pengalaman mengenai karakter anak serta di sektor pendidikan. Penulis juga ingin mengetahui dari segi sudut pandang ibu Turah sebagai guru di sekolah negeri bagaimana menghadapi kegiatan belajar mengajar saat pandemi saat ini.

3. Dian Purwita Sari (Orangtua Murid)

Dian Purwita merupakan orangtua murid dari Razieq haidar yang masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Kegiatan dari ibu Dian sendiri berubah setelah adanya pandemi ini, beliau pun menjadilebh ekstra dalam mengawasi Razieq dalam kegiatan belajar mengajar.

4. Razieq Haidar Irhab (Peserta didik)

Razieq Haidar (10) salah satu murid Sekolah Dasar saat ini Razieq duduk dikelas 4SD. Razieq sendiri mengalami perubahan pada pola kebiasaannya pada saat sekolah offline dan sekolah online. Pada saat sekolah online Razieq bisa bangun sedikit lebih siang disbanding dengan sekolah offline seperti biasa. Razieq akan selalu

41

diawasi oleh ibunya saat kegiatan belajar berlangsung.

3.2.2 Objek

Sistem pembelajaran online merupakan sistem pembelajaran yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia.

Sistem pembelajaran ini berlangsung dikarenakan adanya pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia. Untuk sistem pembelajara ini dianggap kurang efektif untuk beberapa pihak.

Oleh karena itu, penulis bertujuan untuk menyampaikan keresahan yang ada disekitar lingkungan penulis melalui film dokumenter yang berjudul “Seklah Daring” akan berfokus pada peristiwa serta kejadian yang sedang berlangsung saat ini.

Khususnya peristiwa ini sangat dirasakan oleh pihak sekolah itu sendiri.

3.3 Pengumpulan Data 3.3.1 Observasi

Observasi meurpakan proses pengumpulan data yang meliputi beberapa kegiatan seperti pemusatan perhatian pada objek yang dituju dengan menggunakan alat indera. Observasi merupakan proses yang kompleks (Sugiyono, 2014). Pada tahap ini proses pengumpulan data akan dilakukan dengan melibatkan narasumber untuk mendapatkan informasi yang akurat dan komplit.

Pada produksi film dokumenter “Sekolah Daring” ini penulis telah melakukan observasi melalui lapangan, internet, jurnal, serta skripsi sebelum dilakukannya produksi film. Penulis melakukan observasi pada beberapa lingkungan sekolah, termasuk guru serta kepala sekolah itu sendiri. Data yang didapat dari hasil obeservasi

42

sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penulis, sehingga dengan ini produksi diharapkan dapat berjalan dengan lancar.

3.3.2 Wawancara

Pengertian dari wawancara itu sendiri adalah teknik pengumpulan data dengan cara melemparkan pertanyaan yang dapat dilakukan secara langsung antara penulis dengan narasumber atau pihak yang berhubungan dengan objek yang akan pennulis teliti. Informasi yang didapat dari hasil wawancara itu dapat digunakan oleh penulis dalam proses produksi film dokumeter

“Sekolah Daring” ini.

Pada saat proses produksi penulis tidak hanya fokus terhadap narasumber utama, melainnkan menggunakan objek lain sebagai pendukung pernyataan dari objek utama. Proses wawancara terdapat dua tahap, yang pertama wawancara yang dilakukan pada saat observasi berlangsung, dan tahap kedua dilakukan pada saat proses shooting berlangsung. Hasil dari wawancara tersebut akan menentukan bagaimana alur cerita yang akan penulis produksi nanti.

3.4 Konsep Perencanaan dan Teknis Produksi 3.4.1 Konsep Pra-Produksi

a. Penemuan Ide

Ide awal pembuatan film dokumenter ini berlangsung saat pandemi COVID-19 melanda seluruh dunia dan merubah sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Pada masa pandemi ini seluruh sekolah ditutup,

43

pemerintah membuat sistem baru belajar dengan cara online atau belajar dari rumah tanpa bertatap muka langsung.

Penulis merasakan keresahan ini berawal dari salah satu anggota keluarga penulis yang masih duduk dibangku sekolah dasar mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru melalui aplikasi teleconference.

Berawal dari situ, penulis mulai melakukan riset terhadap beberapa sekolah didaerah Jakarta Selatan dan sekitarnya. Penulis menanyakan beberapa hal terkait kegiatan pembelajaran online kepada guru, peserta didik, serta ke orang tua murid. Dari pernyataan dan jawaban yang sudah penulis tanyakan, ada kesamaan dari jawaban mereka. Kesamaan jawaban tersebut menyatakan bahwa kegiatan pembelajarandari rumah atau online ini kurang efektif untuk diterapkan pada anak – anak murid maupun gurunya itu sendiri.

Terkait pembelajaran online yang berlangsung penulis dapat mengatakan kesulitan dan kendala yang mereka hadapi sangat berbeda satu dengan yang lainnya.

Banyak fator yang masyarakat tidak terlalu ketahui tentang kendala yang dirasakan pihak yang terlibat dari sistem pembelajaran online ini. Oleh sebab itu penulis ingin memproduksi film dokumenter mengenai sistem pembelajaran online yang sedang berlangsung ini.

b. Proses Riset

Proses riset dilakukan oleh penulis secara berkala terhadap tiga narasumber yang berbeda. Penulis mengunjungi kepala sekolah, guru, peserta didik, serta orangtua murid itu sendiri. Penulis pada awalnya berbicara langsung kepada salah satu guru sekolah dasar swasta 2

44

November 2020, untuk mengetahui bagaimana sistem pembelajaran online yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar swasta. Setelah itu bertahap ke Kepala sekolah dasar negeri dengan tujuan mendapatan informasi seputar sistem yang berlaku di sekolah tersebut.

Hasil riset ini akan membawa penulis kepada alur cerita, bahan pertanyaan serta konflik yang mereka hadapi untuk dilanjutkan ke tahap produksi film dokumenter

“Sekolah Daring”

c. Sinopsis

Dunia dikejutkan dengan adanya penyebaran virus baru yang disebut sebagai corona virus disease (COVID-19) pada 11 November 2019. Virus masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020 menyebabkan berhentinya segala aktivitas diberbagai sektor, salah satunya pada sektor pendidikan. Dimana pemerintah menghimbau untuk tidak keluar rumah serta melakukan segala aktivitas dirumah saja.

Tujuan dari diberlakukannya himbauan tersebut agar penyebaran COVID-19 dapat berkurang serta terputus dari rantai penyebaran.

Pandemi COVID-19 ini sangat berpengaruh pada berbagai sektor, terutama sektor pendidikan. Pemerintah memiliki aturan untuk sektor pendidikan mulai dari Taman Kanak – Kanak hingga Unversitas untuk melakukan kegiatan seklah dirumah atau belajar dengan berbasis daring. Sistem pembelajaran ini tidak mengahruskan anak untuk datang ke sekolah seperti biasa, melainkan cukup belajar dari rumah dengan bertatap muka melalui media teleconference. Namun masalah baru muncul disini, melakukan kegiatan belajar secara daring serta mengunakan media teleconference memerluan perangkat serta kuota

45

internet untuk dapat mengikuti kegiatan belajar online ini.

internet untuk dapat mengikuti kegiatan belajar online ini.

Dokumen terkait