PENDEKATAN STRATEGI :
4.5. Potensi Pengembangan Wilayah
4.5.5. Sumber Daya Manusia, Sosial dan Budaya
a. Komposisi Penduduk, Pendidikan dan Lapangan Usaha
Pesatnya pertumbuhan dan kepadatan penduduk jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta lapangan pekerjaan yang cukup, malah menjadi suatu permasalahan besar dalam pengembangan suatu wilayah, baik aspek sosial ekonomi dan politik. Berbagai permasalahan yang dapat ditimbulkannya antara lain rendahnya tingkat produktifitas dan pendapatan baik secara total maupun perkapita, tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, kriminalitas dan beban sosial lainnya dapat menjadi semakin besar.
Jumlah penduduk di wilayah Kapet Bima pada tahun 2001 adalah 694.362 jiwa dengan rincian di Kabupaten Bima 396.626 jiwa, di Kabupaten Dompu 184.846 jiwa dan Kota Bima 112.890 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk tahun 1990-2000 rata-rata 1,78 % pertahun dimana Kabupaten/Kota Bima tumbuh 1,24 % per tahun, Kabupaten Dompu banyak menerima transmigran tumbuhnya 2,31 %pertahun.
Penyebaran penduduk tidak merata dan konsentrasinya relatif tinggi pada kecamatan-kecamatan yang berada dilintasan jalan negara yaitu Kecamatan Woja, Dompu, Bolo, Woha, Belo, RasanaE Barat, RasanaE Timur, Wawo Utara dan Sape. Kepadatan penduduk Kapet Bima rata-rata 100,32 jiwa/Km2 dengan kepadatan di Kabupaten Bima 90,66 jiwa/Km2, Kabupaten Dompu 79,51 jiwa/ Km2 dan Kota Bima 507,94 jiwa/ Km2.
Kepadatan penduduk terendah di Kabupaten Bima yaitu 7 jiwa/Km2 berada di Kecamatan Tambora yang merupakan Kecamatan terluas kedua setelah Kecamatan Sanggar yaitu 505,00 Km2. Kondisi yang relatif sama di Kabupaten Dompu terdapat di Kecamatan Pekat yaitu kepadatan 27 jiwa/Km2 dengan luas 875,17 Km2 (kecamatan terluas). Penduduk terpadat di Kabupaten Bima yaitu sebesar 510 jiwa/Km2 terdapat di Kecamatan Woha dengan luas 75,25 Km2 dan untuk Kabupaten Dompu terdapat di Kecamatan Dompu dengan kepadatan 166 jiwa/Km2 dengan luas wilayahnya 223,27 Km2 . Sementara itu kepadatan penduduk di Kota Bima, memiliki kepadatan penduduk diatas rata-rata kepadatan penduduk Kapet Bima yakni terbanyak di Kecamatan Rasanae Barat sebesar 603 jiwa/Km2 (luas 103,38 Km2) dan terjarang 425 jiwa/Km2 (luas 118,87 Km2) di Kecamatan Rasanae Timur .
Struktur umur penduduk Kapet Bima di Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima relatif sama. Diawal pembentukan Kapet Bima, penduduk usia 0 – 14 Tahun rata-rata terbanyak 54,70 %, usia produktif 15 – 64 Tahun sebesar 41,55% dan usia di atas 65 Tahun sebesar 3,75%, namun berdasarkan Data Susenas NTB, struktur umur penduduk Kapet Bima mengalami perubahan. Pada tahun 2004 diketahui bahwa persentase penduduk menurut kelompok umur didominasi oleh kelompok usia produktif (penduduk berumur 15-64 tahun) yakni 59.21 %, namun angka ini berada dibawah rata-rata NTB yakni 62.58 %. Keadaan ini menggambarkan keberhasilan program kependudukan (keluarga berencana) yang didukung oleh tingkat kesadaran dan pendidikan serta kesejahteraan masyarakatnya yang semakin baik.
Tabel 27 Persentase Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kapet Bima
Kelompok
Umur Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima NTB
0-14 37.56 37.06 30.97 36.20 33.20
15-64 58.98 57.89 64.13 59.21 62.58
65+ 3.46 5.05 4.89 4.59 4.22
Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
Sumber : Susenas NTB, 2004
Tabel 27 menggambarkan komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur. Kelompok umur 0-14 tahun di Kapet Bima yakni sebesar 36.20 %. Pada kelompok umur ini Kota Bima memiliki persentase paling rendah yakni 30.97 % dan memiliki persentase paling tinggi pada kelompok umur 15-64 tahun yakni 54.13 %. Untuk kelompok umur 65+ tahun, Kabupaten Dompu memiliki persentase paling rendah, yakni 3.46 % dan angka ini berada dibawah rata-rata Kapet Bima sebesar 4.59 %.
Tabel 28 Persentase Penduduk Berumur 5-24 Tahun Menurut Partisipasi Sekolah Di Kapet Bima
Partisipasi Sekolah Kabupate n Dompu Kabupate n Bima Kota Bima Kapet Bima NTB Tdk/Belum Pernah Sekolah 8.38 10.42 5.65 9.11 10.57 Masih Sekolah 65.15 62.05 67.03 63.68 57.41 Tidak Sekolah Lagi 26.47 27.54 27.42 27.23 32.02 Total 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00
Sumber : Susenas NTB, 2004
Tabel 28 menggambarkan tingkat partisipasi sekolah di Kapet Bima. Penduduk berumur 5-24 tahun yang tidak/belum pernah sekolah adalah sebanyak 9.11 %, sementara di Kota Bima jauh lebih rendah lagi yakni 5.65 %. Yang masih sekolah 63.68 %, sementara di Kota Bima lebih tinggi lagi yakni 67.03 % demikian juga Kabupaten Dompu yakni 65.15 %. Sedangkan penduduk yang tidak sekolah lagi adalah sebanyak 27.23 %. Tingkat partisipasi sekolah di Kapet Bima lebih baik jika dibandingkan angka partisipasi sekolah Propinsi NTB.
Penduduk Propinsi NTB berumur 5-24 tahun, yang tidak/belum pernah sekolah adalah sebanyak 10.57 %, yang masih sekolah 57.41 %, Sedangkan penduduk yang tidak sekolah lagi adalah sebanyak 32.02 %.
Tabel 29 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Di Tamatkan Di Kapet Bima
Tk. Pendidikan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima NTB Tdk/Blm Pernah Sklh 12.68 13.98 11.55 12.74 19.82 Tdk/Blm Tamat SD 27.82 29.71 17.79 25.11 25.36 SD 22.43 26.29 20.69 23.14 26.36 SMP 16.35 13.06 18.27 15.89 13.55 SMU 16.74 15.07 26.03 19.28 12.23 Diploma 1.69 0.98 2.65 1.77 1.11 PT 2.29 0.91 3.02 2.07 1.57 Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas NTB, 2004
Tabel 29 menggambar struktur penduduk berdasarkan tingkat pendidikan penduduk berumur 10 tahun ke atas. Tingkat pendidikan adalah salah satu indikator yang digunakan dalam mengukur kualitas manusia di suatu wilayah. Secara umum penduduk yang mencapai tingkat pendidikan SMP keatas baru mencapai 39.02 %. Angka ini di atas rata-rata NTB yang baru mencapai 28.46 %. Angka ini juga berkorelasi dengan terus tumbuhnya sekolah dan perguruan tinggi di Kapet Bima khususnya di Kota Bima. Output dari sekolah dan perguruan tinggi ini akan menghasilkan penduduk yang memiliki tingkat intelektual dan skill yang relatif lebih tinggi pula, jika didukung oleh fasilitas, kurikulum dan kultur akademik yang baik.
Karakteristik Kapet Bima sebagai daerah agraris sangat mempengaruhi aktivitas usaha kehidupan masyarakatnya, hal ini diketahui dari tabel 30 yang menginformasikan bahwa sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat di Kapet Bima yakni sebanyak 53.51 %. Sedangkan aktivitas masyarakat di sektor industri masih sangat minim yakni baru 4.95 %, keadaan ini masih lebih rendah jika dibandingkan daerah lain di NTB yakni dengan rata-rata 10.40 %, namun jika dibandingkan dengan data di awal pembentukan Kapet Bima, pada tahun 1998 jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 71.47 %, sedangkan sektor industri sebanyak 5.22 %
dan perdagangan adalah sebanyak 10.23 %. Sedangkan jasa adalah sebesar 7.31 %. Fenomena ini menjelaskan adanya transformasi ekonomi di Kapet Bima yang ditunjukkan dengan perubahan struktur tenaga kerja dari sektor pertanian (primer) ke sektor sekunder dan tersier.
Tabel 30 Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama di Kapet Bima
Lapangan Usaha Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima NTB Pertanian 63.83 71.83 24.86 53.51 50.92 Industri 2.21 3.03 9.60 4.95 10.40 Perdagangan 12.84 1.14 23.91 15.96 15.62 Jasa 11.66 6.06 26.61 14.78 10.87 Lainnya 9.46 7.94 15.02 10.81 12.19 Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Sumber : Susenas NTB, 2004
Di sektor perdagangan dan jasa, persentase penduduk Kapet Bima yang bekerja adalah 30.74 %, dan khusus Kota Bima malah mencapai 50.52 %, jauh lebih tinggi dari wilayah lain di NTB yakni dengan rata-rata 26.49 %. Dari struktur penduduk di atas diketahui bahwa Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima memiliki kecenderung penduduknya bekerja di sektor pertanian yang didukung oleh aktivitas penduduk di Kota Bima dominan bekerja di sektor industri, perdagangan dan jasa.
Kegiatan industri, perdagangan dan jasa jika memiliki keterkaitan sektoral dengan aktivitas pertanian maka akan dapat memberikan nilai tambah (value added) terhadap produk-produk pertanian, sehingga pada akhirnya nilai tambah tersebut secara signifikan akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dalam Kapet Bima.
b. Kearifan Nilai Budaya Dalam Pembangunan Wilayah
Koentjaraningrat (1992) mengemukakan bahwa konsep budaya dan kebudayaan itu sangat luas, meliputi seluruh pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak bersifat naluri, tetapi yang dicetuskan oleh manusia setelah
melalui proses belajar yang melahirkan unsur-unsur universal sebagai isi dari semua kebudayaan di dunia. Secara garis besarnya dapat dibagi dalam tujuh unsur, yaitu : (1) sistem religi dan upacara keagamaan; (2) sistem dan organisasi kemasyarakatan; (3) sistem pengetahuan; (4) bahasa; (5) kesenian; (6) sistem mata pencaharian dan kebutuhan hidup; (7) sistem teknologi dan peralatan. Selanjutnya ketujuh unsur universal ini dapat di rangkum ke dalam tiga wujud, yakni : (1) keseluruhan ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan; (2) keseluruhan aktivitas tingkah laku manusia sosial yang berpola; (3) keseluruhan hasil karya manusia. Gambar 3 merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat Kapet Bima berupa pakaian tradisional yang bahannya memanfaatkan sumber daya lokal dan selaras dengan nilai religi Islam yang dianut masyarakat setempat.
Nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat dapat diaktualisasikan sebagai spirit dan bagian dari suatu komponen sumber daya dalam pembangunan daerah dan wilayah. Menurut Syamsudin (1999), Manusia menciptakan dan membutuhkan budaya bagi kesejahteraan hidupnya dan mereka memiliki potensi untuk dapat melaksanakannya, karena hanya masyarakat manusia sajalah yang mampu meracang dan memiliki pranata (institusi) budaya dan merealisasikannya dengan memperhatikan banyak hal termasuk situasi dan kondisi yang dihadapi.
Berikut ini beberapa potensi nilai budaya masyarakat yang dapat menjadi determinan dalam pengembangan wilayah Kapet Bima, antara lain sebagai berikut :
1). Kriteria Pemimpin : “Nggusu Waru” (Oktagonal/Delapan Sisi)
Terdapat delapan kriteria kepemimpinan yang hendaknya ada dalam diri setiap masyarakat Bima. Menurut Mochtar (1999) delapan kriteria kepemimpinan ini telah disampaikan dalam bentuk suatu nasehat luhur baik untuk kalangan atas (bangsawan) maupun kepada masyarakat awam yang disampaikan oleh para ulama, inang pengasuh, dan orang-orang tua, tersirat dalam pelaksanaan adat dan peringatan hari besar islam maupun pada saat upacara perkawinan dan khitanan.
Adapun kriteria kepemimpinan nggusu waru tersebut adalah sebagai berikut :
- Ma to’a di ruma labo rasul (yang taat kepada Allah dan Rasul) - Ma loa ra bade (yang cerdas dan berpengetahuan luas)
- Ma ntiri nggahi ra kalampa (yang jujur dalam berbicara dan berbuat) - Ma poda nggahi ra paresa (yang menegakkan kebenaran)
- Ma mbani ra disa (yang gagah berani)
- Ma tenggo ra wale (yang kuat dan gigih berjuang)
- Ma bisa ra guna (yang sakti/berwibawa/berkharismatik dan berdaya guna untuk negerinya)
- Londo dou taho (dari keturunan/lingkungan baik)
2). Jiwa Kepemimpinan : “Katohompara Wekiku Sura Dou Mori Na Labo dana” (Tidak Peduli Untuk Diriku, Asalkan Untuk Rakyat dan Negara)
Menurut Tajib (1999) kalimat itu disebut epilogi yang diucapkan sejak Bima mengenal sistem pemerintahan berbentuk kerajaan. Calon raja atau setiap pemimpin sebelum dilantik mengucapkan kalimat epilogi itu sebagai tanggapan atas usulan, peringatan dan bahkan ancaman yang disampaikan pejabat atau komponen kerajaan dan disaksikan oleh rakyat umum, dengan naskah lengkapnya sebagai berikut :
Karentaku ba reraku di dou ma labo dana, Indokapo ra’a saciri ma kamorina weki, Saraka nu’u mancuri kantuwu.
Na su’u sawaleku ra kalampa sara, Ba dei ru’u taho ra ncihi kai dana ro rasa, Katohompara wekiku sura dou mori na labo dana
Aku ikrarkan dengan lidahku kepadamu rakyat dan negeri, Adapun darah setetes menghidupkan diriku,
Sampai kepada anak cucu.
Mereka akan mematuhi dan menjunjung tinggi ketentuan pemerintah, Demi kebaikan dan kemaslahatan negeri,
Tidak peduli untukku asalkan untuk orang banyak.
3). Prinsip Pengambilan Keputusan : “Nggahi Ra Sama Kai” (Kata/Keputusan Yang Disepakati Bersama)
Sumber dari prinsip musyawarah adalah adat lama sejak zaman ncuhi (sebelum zaman kerajaan) yang dikenal sebagai ungkapan tua “nggahi ra sama kai” atau kata/keputusan yang telah disepakati bersama.
Untuk mencapai kesepakatan bersama ini ada suatu pedoman falsafah kepemimpinan, yang umpamanya seorang pemimpin itu laksana duduk di atas sehelai tikar selembar lampit, merentang tali sipat yang tegak lurus, menaruh jangkar yang tepat bundar dan dacin yang tepat berimbang, untuk menuju kesamaan pemikiran dan satunya kehendak demi kebaikan bersama (Maryam 1999).
4). Prinsip Kerja : “Nggahi Rawi Pahu” (Satunya Kata dan Perbuatan Untuk Mewujudkan Kenyataan)
Menurut Tajib (1999) kalimat itu adalah petunjuk awal pelaksanaan epilogi, untuk konsekuen terhadap apa yang diniat dan direncanakan sehingga harus diimplementasikan dalam suatu aksi sampai berwujud suatu hasil. Sedangkan Maryam (1999) menyatakan rumusan “nggahi rawi pahu” merupakan kebenaran ucapan yang dinyatakan dalam tindakan dan perilaku sebagaimana peribahasa Bima “Ka Sabuaku Nggahi Ma Labo Rawi” (satukan kata dan perbuatan) adalah prinsip yang sampai sekarang dianggap oleh orang
Bima/Dompu sebagai pertanda sifat orang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
5). Nilai Pengendalian : “Maja Labo Dahu” (Malu dan Takut)
Maja labo dahu ialah budaya malu dan takut kepada Tuhan dan kepada orang banyak bila melakukan suatu perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai luhur dan peraturan yang berlaku.
Maryam (1999) menyatakan Maja labo dahu berfungsi pula sebagai alat kontrol baik vertikal maupun horizontal terhadap pelaksanaan epilogi, serta mengandung pula makna :
- Malu dan takut (taqwa) kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya.
- Patuh kepada semua ketentuan yang berlaku dan norma yang ada dalam masyarakat
- Mengerjakan yang baik, meninggalkan yang batil
- Rendah hati, tidak sombong dan takabur
- Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah
- Sabar dan pantang mundur
4.5.6. Ketersediaan Infrastruktur dan Kelembagaan Usaha a. Infrastruktur Pendidikan, Kesehatan dan Keagamaan
Untuk mendukung kualitas kehidupan masyarakat maka dibutuhkan ketersediaan infrastruktur sosial. Infrastruktur penting dibidang sosial adalah pendidikan, kesehatan dan kegiatan keagamaan.
Di Kapet Bima Keberadaan Sekolah tersedia mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai tingkat perguruan tinggi, selain sekolah umum juga tersedia sekolah menengah kejuaraan yakni sejumlah 13 unit sedangkan Madrasah Aliyah sejumlah 27 unit dan pondok pesantrennya sejumlah 33 unit yang tersebar di tiga daerah administratif Kapet Bima. Adapun gambaran Jumlah Sekolah Pada Berbagai Tingkat Pendidikan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 31
Tabel 31 Jumlah Sekolah Pada Berbagai Tingkat Pendidikan di Kapet Bima (Unit)
No. Tingkat Sekolah Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima
1 TK 58 141 46 245 2 SD 203 388 79 670 3 M.Ibtidaiyah 28 45 7 80 4 SLTP 26 44 13 83 5 M. Tsanawiyah 22 24 6 52 6 SMU 16 27 17 60 7 M. Aliyah 10 12 5 27 8 SMK 3 5 5 13 9 Pondok Pesantren 3 23 7 33 10 PT 1 1 7 9
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Tabel 32 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Sekolah di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)
No. Tingkat Sekolah Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima
1 TK 3,437 2,974 2,531 3,000 2 SD 982 1,081 1,474 1,097 3 M.Ibtidaiyah 7,120 9,318 16,632 9,189 4 SLTP 7,668 9,530 8,956 8,856 5 M. Tsanawiyah 9,062 17,471 19,404 14,136 6 SMU 12,460 15,530 6,849 12,251 7 M. Aliyah 19,936 34,942 23,285 27,225 8 SMK 66,452 83,860 23,285 56,545 9 Pondok Pesantren 66,452 18,231 16,632 22,275 10 PT 199,357 419,302 16,632 81,676
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Tabel 32 menggambarkan perbandingan ketersediaan sekolah dengan jumlah penduduk. Jumlah SD di Kapet Bima adalah sebanyak 670 unit atau dengan ratio 1,097 jiwa penduduk per unit. Jumlah SLTP adalah sebanyak 83 unit atau dengan ratio 8,856 jiwa penduduk per unit. Jumlah SMU adalah sebanyak 60 unit atau dengan ratio 12,251 jiwa penduduk per unit. Sedangkan Jumlah Perguruan Tinggi adalah sebanyak 9 unit atau dengan ratio 81,675 jiwa penduduk per unit.
Keberadaan Sekolah Dasar di Kapet Bima tersedia di seluruh desa/kelurahan, sekolah setingkat SLTP dan SMU pada umumnya tersedia di tingkat kecamatan, namun masih terdapat kesenjangan ratio antara Kota Bima dengan Kabupaten Bima dan Dompu, sehingga di Kabupaten Dompu dan khususnya di Kabupaten Bima perlu dibangun lagi sekolah setingkat SLTP dan SMU agar peluang masyarakat untuk memperoleh pendidikan lebih besar. sedangkan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi hanya ada di tingkat kabupaten atau pada beberapa kecamatan saja. Berbagai perguruan tinggi tersebut memberikan pilihan program studi yang dibutuhkan masyarakat masih terbatas.
Fasilitas peribadatan di Kapet Bima meliputi 693 unit masjid, 382 unit langgar dan 235 unit mushalla yang tersebar di tiga kabupaten/kota. gereja terdapat 10 unit yang juga tersebar di tiga kabupaten/kota, sedangkan pura berjumlah 9 unit yang hanya tersedia di Kabupaten Dompu dan Kota Bima. gambaran tentang jumlah tempat peribadatan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 33.
Tabel 33 Jumlah Tempat Peribadatan Di Kapet Bima (Unit)
No. Uraian Kab Dompu Kab Bima Kota Bima Kapet Bima
1 Masjid 228 349 116 693 2 Langgar 55 261 66 382 3 Mushalla 54 106 75 235 4 Pura 7 - 2 9 5 Gereja 5 2 3 10 Jumlah 349 718 262 1329
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Kegiatan peribadatan merupakan kegiatan rutin dan dilakukan setiap saat oleh pemeluknya, sehingga fasilitas peribadatan harus cukup tersedia khususnya bagi umat muslim sebagai masyarakat mayoritas di Kapet Bima, karena tempat peribadatan merupakan ruang yang digunakan untuk melaksanakan ritual hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, juga sebagai salah satu sentral dalam berinteraksi dengan sesama. Pada tabel 34 terlihat bahwa bahwa setiap unit masjid
digunakan oleh paling tidak 1,061 jiwa penduduk sedangkan langgar dan mushalla adalah masing-masing sebanyak 1,924 dan 3,128 jiwa penduduk.
Tabel 34 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Tempat Peribadatan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)
No. Uraian Kab Dompu Kab Bima Kota Bima Kapet Bima
1 Masjid 874 1,201 1,004 1,061 2 Langgar 3,625 1,607 1,764 1,924 3 Mushalla 3,692 3,956 1,552 3,128 4 Pura 28,480 - 58,213 81,676 5 Gereja 39,871 209,651 38,808 73,508 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Keberadaan berbagai jenis fasilitas kesehatan di Kapet Bima relatif tersedia namun masih terbatas, tercatat baru 2 (dua) rumah sakit umum yang ada di 3 (tiga) Kabupaten/Kota di Kapet Bima, artinya setiap rumah sakit melayani 367,542 jiwa penduduk. Ketersediaan apotik baru 11 buah sedangkan Kapet Bima terdiri dari 25 kecamatan dengan jarak di antaranya cukup berjauhan, sedangkan Puskesmas hanya tersedia 32 unit dengan ratio pelayanan setiap unit 22,971 jiwa penduduk yang dibantu oleh Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 127 unit atau dengan ratio pelayanan terhadap 5,788 jiwa penduduk. Pada umumnya Puskesmas Pembantu tersedia di tiap desa/kelurahan. Adapun gambaran tentang jumlah fasilitas kesehatan di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 35 sedangkan ratio pelayanan setiap unit fasilitas kesehatan terhadap jumlah penduduk pada tabel 36.
Ketersediaan fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai ilustrasi, dengan keberadaan fasilitas kesehatan di Kabupaten Dompu selama 5 (lima) tahun terakhir (2000-2004), angka harapan hidup terus meningkat. Pada tahun 1999 angka harapan hidup penduduk adalah 57.9 tahun meningkat menjadi 59.5 tahun pada tahun 2004,
sedangkan Infant Mortality Rate (IMR) atau angka kematian bayi (AKB) pada Tahun 1999 sebanyak 80 kasus per 1000 kelahiran hidup kemudian menurun menjadi 71 kasus per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2004 (Bappeda Dompu, 2006).
Tabel 35 Jumlah Fasilitas Kesehatan Di Kapet Bima
No. Unit Kesehatan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima
1 Rumah Sakit Umum 1 - 1 2
2 Rumah Sakit Lainnya - 1 1 2
3 Puskesmas 9 18 5 32
4 Pustu 44 70 13 127
5 Apotik 1 1 9 11
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Tabel 36 Perbandingan Jumlah Penduduk terhadap Ketersediaan Fasilitas Kesehatan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)
No. Unit Kesehatan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima 1 Rumah Sakit Umum 199,357 - 116,425 367,542 2 Rumah Sakit Lainnya - 419,302 116,425 367,542 3 Puskesmas 22,151 23,295 23,285 22,971 4 Puskesmas Pembantu 4,531 5,990 8,956 5,788 5 Apotik 199,357 419,302 12,936 66,826 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
b. Infrastruktur dan Aktivitas Industri, Perdagangan dan Koperasi
Lebih dari 26 % penduduk di Kapet Bima bekerja di Sektor industri dan perdagangan serta lebih dari 10 % sudah mulai bekerja di sektor jasa. sektor ini sangat strategis dalam menggerakkan ekonomi riil wilayah baik untuk menarik sisi produksinya (supply) maupun untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyakat lainnya (demand).
Tabel 37 Jumlah Sarana Perdagangan Di Kapet Bima
No. Jenis Sarana 2003 2004 Perub. (%) 1 Pasar Umum 28 28 0.00 2 Pasar Desa 2 5 150.00 3 Toko 1,174 1,419 21.00 4 Kios/Warung 1,248 1,383 11.00
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Seiring dengan pertumbuhan penduduk maka akan semakin meningkat pula kebutuhan hidup dan usaha masyarakat sehingga sangat dibutuhkan ketersediaan sarana perdagangan yang memadai. Dari tabel 37 di atas terlihat bahwa pada tahun 2004 sarana perdagangan di Kapet Bima mengalami peningkatan kecuali pasar umum.
Tabel 38 Perbandingan Jumlah Penduduk Terhadap Ketersediaan Sarana Perdagangan di Kapet Bima (Jumlah Jiwa/Unit)
No. Jenis Sarana Jumlah Sarana
(Unit) Jiwa/Unit
1 Pasar Umum 28 24,503
2 Pasar Desa 5 147,017
3 Toko 1,419 518
4 Kios/Warung 1,383 532
Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Pada tabel 38 terlihat bahwa rasio pelayanan setiap pasar umum yakni 24,503 jiwa penduduk, sedangkan Jumlah pasar desa meningkat 150 % yakni dari 2 unit menjadi 5 unit namun beban pelayanan setiap unit masih tinggi yakni sebanyak 147,017 jiwa penduduk, sehingga ketersediaan pasar desa perlu ditingkatkan, karena seharusnya merupakan fasilitas perdagangan terdekat dengan masyarakat desa, sehingga segala kebutuhan hidup dan usaha masyarakat tersedia dan dengan mudah untuk mendapatkannya. Kios/ warung mengalami peningkatan sebesar 11 %, sedangkan toko jumlahnya meningkat 21 % dari sebelum 1,174 unit pada tahun 2003 menjadi 1,419 unit pada tahun 2004. fenomena ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan aktivitas perdagangan, khususnya pada ekonomi skala kecil atau menengah.
Jumlah perusahaan industri di Kapet Bima sebanyak 5,874 buah yang terdiri dari 4,549 buah perusahaan industri non formal dan 1,325 buah perusahaan formal. sedangkan dari total serapan tenaga kerja sebanyak 16,383 orang, pada
industri formal adalah 7,660 orang sedangkan industri non formal adalah 8,723 orang.
Nilai investasi yang diserap industri formal adalah 21.6 milyar rupiah, jauh lebih besar dari pada industri non formal yakni hanya 3.9 milyar rupiah, namun rasio nilai produksi terhadap investasi masih lebih unggul industri non formal yakni 2.83 dibandingkan industri formal adalah sebesar 1.46. Adapun gambaran tentang jumlah perusahaan, tenaga kerja dan nilai investasi dirinci menurut kelompok industri di Kapet Bima dapat dilihat pada tabel 39.
Tabel 39 Jumlah Perusahaan, Tenaga Kerja dan Nilai Investasi Dirinci Menurut Kelompok Industri Di Kapet Bima
No Uraian Satuan Dompu Bima Kota Bima Kapet Bima Industri Formal
1 Perusahaan Buah 296 755 274 1,325 2 Tenaga Kerja Orang 1,880 4,455 1,325 7,660 3 Investasi (Rp.Juta) 4,423 12,849 4,385 21,657 4 Produksi (Rp.Juta) 9,924 15,484 6,250 31,658
Industri Non Formal
1 Perusahaan Buah 1,287 3,142 120 4,549 2 Tenaga Kerja Orang 2,847 5,626 250 8,723 3 Investasi (Rp.Juta) 777 2,119 990 3,886 4 Produksi (Rp.Juta) 3,363 4,815 2,815 10,993 Jumlah
1 Perusahaan Buah 1,583 3,897 394 5,874 2 Tenaga Kerja Orang 4,727 10,081 1,575 16,383 3 Investasi (Rp.Juta) 5,200 14,968 5,375 25,543 4 Produksi (Rp.Juta) 13,287 20,299 9,065 42,651 Sumber : Hasil Analisis Dari Data BPS Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima, 2004
Terdapat 21 jenis kegiatan industri dominan yang nilai produksinya > Rp.300 juta, yang terdiri 13 jenis usaha dari industri hasil pertanian dan kehutanan (IKAHH) dan 8 jenis usaha dari industri logam, mesin dan Kimia (ILMEA). Jenis usaha yang memiliki nilai produksi paling tinggi adalah industri genteng (Rp.5.32 milyar), penjahitan/konveksi (Rp.4.19 milyar) dan furniture
dan kayu (Rp.3.32 milyar) sedangkan nilai produksi industri kacang mete (Rp.0.35 milyar), vulkasnisir (Rp.0.40 milyar) dan Industri tahu (Rp.0.41 milyar).
Kegiatan industri di Kapet Bima di dominasi oleh industri berbasis pertanian, namun limpahan sumber daya pertanian belum diolah secara optimal, hasil pertanian selain untuk konsumsi rumah tangga dan masyarakat sekitar juga dijual keluar daerah, namun komoditi pertanian yang diperdagangkan masih dalam bentuk produk mentah dan sedikit yang dalam bentuk produk olahan