A. Sumber Daya Manusia
Pelayanan kebidanan yang berkualitas memerlukan ketersediaan bidan dalam jumlah dan kualitas yang memadai, terdistribusi secara merata, dimanfaatkan secara berhasil guna dan berdayaguna, serta terjaga kesinambungannya sehingga dapat diselenggarakan pelayanan kebidanan sesuai standar.
Pengelola pelayanan kebidanan mempunyai program pengelolaan sumber daya manusia kebidanan sesuai kompetensi dan potensi pengembangan agar pelayanan kebidanan terlaksana secara efektif dan efisien. Pelayanan kebidanan dilaksanakan oleh bidan mulai dari pelayanan kesehatan tingkat primer, sekunder, dan tertier. Untuk memberikan pelayanan kebidanan yang berkualitas diperlukan tenaga bidan yang memiliki kemampuan dalam aspek intensitas kognitif, komprehensif, aplikatif, kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi, sehingga mampu berfikir kritis dalam suatu pengambilan keputusan yang tepat serta mampu memahami perasaan Pasien yang ditangani (empati).
Tenaga bidan terdiri atas bidan profesi dan bidan vokasi. Bidan profesi adalah bidan yang lulus dari pendidikan profesi yang berperan sebagai pemberi asuhan komprehensif dan professional sesuai kewenangan pada kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi, anak balita, anak pra sekolah, kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sesuai standar dan kode etik profesi. Bidan vokasi adalah bidan yang lulus dari pendidikan diploma III yang berperan sebagai pemberi asuhan kebidanan esensial dan komprehensif normal sesuai kewenangan pada kesehatan ibu, bayi baru lahir, bayi, dan keluarga berencana sesuai standar dan kode etik profesi.
Karakteristik pelayanan berbeda di setiap jenjang fasilitas pelayanan kesehatan, semakin tinggi tingkat fasilitas pelayanan kesehatannya maka semakin kompleks pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dan dilaksanakan dalam bentuk kerja sama tim antar profesi kesehatan (interprofessional health provider collaboration). Berdasarkan hal tersebut kebutuhan tenaga bidan yang ideal
mengikuti hasil Analisa Beban Kerja (ABK) yang dilakukan setiap fasilitas pelayanan kesehatan untuk menentukan kebutuhan jumlah dan jenjang . Dari hasil Analisis Beban Kerja tersebut proporsi karakteristik pelayanan pada setiap jenjang fasilitas pelayanan kesehatan. Sesuai dengan peran dan fungsinya kebutuhan tenaga bidan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah bidan vokasi 80% sebagai bidan pelaksana dan bidan profesi 20% yang akan berperan juga sebagai bidan koordinator dan penanggung jawab program di Fasilitas Pelayanan Kesehatan tingkat Pertama dan bidan Supervisor dan bidan Penanggung jawab ruangan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Rujukan tingkat Lanjutan sesuai kompleksitas pelayanan untuk menjawab kebutuhan kerja sama tim antar profesi kesehatan (interprofessional health provider). Sedangkan pada fasilitas pelayanan kesehatan rujukan dibutuhkan setidaknya bidan vokasi 50% dan bidan profesi 50%
Fasilitas pelayanan kesehatan bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan kualifikasi dan kompetensi bidan yang sesuai, termasuk pada kebutuhan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan profesionalisme.
Pemenuhan sumber daya manusia bidan di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan berdasarkan analisis beban kerja dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah kerja, dan pembagian waktu kerja. (cek dengan yang atas, yang lebih nyambung)
1. Pelayanan Kebidanan di Puskesmas dan Jaringannya a. Pelayanan Kebidanan di Desa
Pelayanan kebidanan di desa (Polindes/Poskesdes) memiliki 1 orang bidan yang kompeten dalam pelayanan kebidanan esensial, konseling, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, rujukan, pelayanan kesehatan dasar, serta Pertolongan Pertama Pada KegawatDaruratan Obstetri Neonatal (PPGDON).
Pelayanan kebidanan di Puskesmas Non Rawat Inap sekurangnya memiliki 1 (satu) orang bidan koordinator dan 3 bidan pelaksana di ruang KIA/KB yang kompeten dalam pelayanan kebidanan essensial, konseling, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, rujukan, dan Pertolongan pertama pada kegawatdaruratan obstetri neonatal (PPGDON).
c. Pelayanan Kebidanan di Puskesmas Rawat Inap dan Puskesmas PONED
Pelayanan kebidanan di Puskesmas Rawat Inap dan Puskesmas PONED sekurangnya memiliki 1 orang bidan koordinator, 2 bidan pelaksana di ruang KIA/KB, ditambah 1 orang bidan sebagai penanggung jawab ruang bersalin dan minimal 4 bidan pelaksana untuk jaga shift yang kompeten dalam pelayanan kebidanan essensial, konseling, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, pertolongan persalinan normal, kolaborasi dengan tim PONED, dan rujukan. Catt: hilangkan jumlah, sesuaikan dengan yang lain 2. Pelayanan Kebidanan di Rumah Sakit a. Pelayanan kebidanan di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama Pelayanan kebidanan di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama sekurangnya memiliki 4 orang bidan pelaksana di ruang KIA/KB, ditambah 1 orang bidan sebagai penanggung jawab ruang bersalin, 1 orang bidan sebagai penanggung jawab ruang nifas, serta minimal 24 bidan pelaksana untuk jaga shift di ruang bersalin, ruang nifas, dan ruang Perinatologi yang kompeten dalam pelayanan kebidanan essensial, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) dan Konseling, mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, melakukan penapisan (skrining awal) kasus komplikasi/rujukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan, asuhan kebidanan pada kasus komplikasi dan emergensi sesuai kebutuhan serta memberikan asuhan lanjut pada kasus komplikasi dengan pelimpahan kewenangan melalui pendelegasian maupun mandatory (pemberian mandate). Untuk pembinaan pelayanan kebidanan,
setiap rumah sakit memiliki minimal 1 (satu) orang bidan koordinator/bidan supervisor.
b. Pelayanan kebidanan di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Lanjut Pelayanan kebidanan di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Lanjut sekurangnya memiliki 3 orang bidan pelaksana di Ruang Poliklinik KIA, 3 orang bidan pelaksana di Ruang Poliklinik KB, 3 orang bidan pelaksana di Ruang Poliklinik Ginekologi, 5 orang bidan pelaksana di Kamar Operasi Obstetri Ginekologi, 5 orang bidan pelaksana di Instalasi Gawat Darurat, 5 orang bidan pelaksana di Ruang Perinatologi, ditambah 1 orang bidan sebagai penanggung jawab ruang bersalin, 1 orang bidan sebagai penanggung jawab ruang nifas, serta minimal 80 bidan pelaksana untuk jaga shift di ruang bersalin dan ruang nifas, ruang perinatologi yang kompeten dalam konseling, komunikasi teraupetik, mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, melakukan penapisan (skrining awal) kasus komplikasi/rujukan untuk mencegah terjadinya keterlambatan penanganan, asuhan kebidanan pada kasus komplikasi kebidanan dengan penyakit penyerta yang kompleks dan emergensi sesuai kebutuhan serta memberikan asuhan lanjut pada kasus komplikasi kebidanan dengan penyakit penyerta yang kompleks dengan pelimpahan kewenangan melalui pendelegasian maupun mandatory (pemberian mandate). Untuk pembinaan pelayanan kebidanan, setiap rumah sakit memiliki minimal 2 (satu) orang bidan koordinator/bidan supervisor.
Catt: angka 2 a dan b akan digabung 3. Praktik Mandiri Bidan
Pelayanan kebidanan pada Praktik Mandiri Bidan, memiliki minimal 1 orang dilakukan oleh bidan yang memiliki kompetensi dan kewenangan dalam melakukan pelayanan kebidanan essensial dan komprehensif, konseling, Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), mampu melakukan upaya promotif dan preventif, deteksi dini, rujukan, dan Pertolongan Pertama Pada KegawatDaruratan Obstetri Neonatal (PPGDON).
B. Sarana,Prasarana,dan Peralatan
Pengelola pelayanan kebidanan menyediakan fasilitas sarana, Prasarana, dan peralatan, baik dari segi jumlah, jenis dan spesifikasi yang menjamin tersedianya fasilitas sarana, prasarana, dan peralatan yang memadai untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang efektif, efisien, dan bermutu berdasarkan jenis fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. 1. Sarana
Fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kebidanan seyogyanya menyediakan sarana memadai dan memenuhi aspek kemudahan dan keselamatan (safety) pengguna/masyarakat agar pelayanan kebidanan berjalan secara aman, dan optimal. Lokasi gedung/bangunan tempat penyelenggaraan pelayanan rawat jalan dan rawat inap, terletak dekat dengan loket pendaftaran, memperhatikan kemudahan akses untuk mencapai lokasi bagi pasien rawat jalan maupun rawat inap, dengan petunjuk arah yang mudah terlihat/dipahami.
Bangunan/ruang pelayanan kebidanan rawat jalan harus didesain memenuhi prinsipprinsip keselamatan pasien yang memberikan kemudahan akses bagi difabel/penyandang disabilitas serta kemudahan akses bagi Pasien dan/atau pasien yang akan melakukan persalinan.
Penyelenggaraan pelayanan kebidanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus memenuhi sarana yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan dan daya dukung institusi terkait, termasuk sarana mebelair sesuai kebutuhan pelayanan serta diupayakan pemeliharaannya secara berkala untuk memenuhi aspek keselamatan.
2. Prasarana
Penyelenggaraan pelayanan kebidanan harus didukung pengelolaan administrasi dengan kelengkapan prasarana administrasi baik manual dan/atau elektronik (komputer) dengan jumlah dan kualitas yang memadai dan tersedia formulir rekam medik yang dibutuhkan.
Penyelenggaraan pelayanan kebidanan harus didukung daya listrik yang sesuai kebutuhan dan peralatan yang dipergunakan, sangat dianjurkan dengan menggunakan stabilisator untuk menjamin kestabilan tegangan dan keamanan peralatan yang digunakan.
3. Peralatan
Setiap penyelenggaraan pelayanan kebidanan di fasilitas pelayanan kesehatan harus didukung peralatan dalam jumlah yang cukup. Peralatan kesehatan dan peralatan lain yang perlu diuji dan kalibrasi harus dilakukan uji fungsi dan kalibrasi secara berkala oleh pihak terkait/yang berwenang.
BAB V PENUTUP
Standar pelayanan kebidanan ditetapkan sebagai acuan pelaksanaan pelayanan kebidanan di setiap tatanan pelayanan kesehatan. Untuk keberhasilan pelaksanaan standar pelayanan kebidanan ini diperlukan komitmen dan kerjasama semua pemangku kepentingan terkait. Hal tersebut akan menjadikan standar pelayanan kebidanan semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh Pasien dan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan dan kepuasan Pasien atau masyarakat. MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NILA FARID MOELOEK