• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Efikasi Dir

2.3.2 Sumber dari Efikasi Dir

Bandura (1997) menyatakan bahwa efikasi diri dapat diperoleh, dipelajari dan dikembangkan dari empat sumber informasi. Di mana pada dasarnya keempat hal tersebut adalah stimulasi atau kejadian yang dapat memberikan inspirasi atau pembangkit positif (positive arousal) untuk berusaha menyelesaikan tugas atau masalah yang dihadapi. Hal ini mengacu pada konseppemahaman bahwa

24

pembangkitan positif dapat meningkatkan perasaan atas efikasi diri. Adapun sumber-smber efikasi diri tersebut :

1. Pengalaman keberhasilan dan pencapaian prestasi (Enactive attainment and performance accomplishment) merupakan sumber efikasi diri yang penting, karena bersumber pada pengalaman keberhasilan individu itu sendiri. Pengalaman keberhasilan sangat mempengaruhi efikasi, dapat diambil garis besar bahwa keberhasilan meningkatkan efikasi sedangkan kegagalan akan menurunkan efikasi. Semakin meningkat efikasi individu, maka performanya akan semakin baik. Namun demikian keberhasilan dan kegagalan tidak langsung menghasilkan kenaikan dan penurunan terhadap efikasi diri. Perubahan pada efikasi dihasilkan dari perubahan kognitif yang didapat dari pemahaman terhadap kapabilitas yang mereka miliki setelah keberhasilan atau kegagalan yang dialami dievaluasi.Pada penelitian di Singapura pada 178 mahasiswa jurusan tehnik, ditemukan pengalaman diri sendiri merupakan prediktor utama akademik achievements (Low & Choy, 2013).

Menurut Bandura (dalam Alwisol, 2009) pencapaian keberhasilan akan memberikan dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya: a. Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi b. Pekerjaan yang dikerjakan sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding

kerja kelompok atau dibantu orang lain.

c. Kegagalan dapat menurunkan efikasi bila seseorang merasa telah berusaha sebaik mungkin.

d. Kegagalan dalam suasana emosional/stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisisnya optimal

e. Kegagalan yang terjadi pada individu yang memiliki efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk bila kegagalan itu terjadi pada seseorang yang keyakinan efikasinya belum kuat.

f. Seseorang yang biasa berhasil, bila sesekali mengalami kegagalan tidak mempengaruhi efikasi.

2. Pengalaman orang lain (Vicarious Experience), yaitu mengamati perilaku dan pengalaman orang lain sebagai proses belajar individu. Kapabilitas seseorang tidak hanya dapat dipelajari melalui pengalaman-pengalaman keberhasilan yang telah dicapai. Membandingkan pengalaman orang lain dengan pengalaman pribadi yang memiliki kemiripan dapat membentuk efikasi pada individu. Proses pengambilan sosial ini karena terdapat kekurangan kemampuan diri untuk menilai secara mandiri kapabilitas yang dimiliki, oleh karena itu proses modeling dilakukan dengan pemikiran bahwa apabila orang lain dapat melakukannya, maka individu itupun dapat melakukannya. Seberapa mirip model dengan individu akan mempengaruhi tingkat efikasi yang dicapai.

3. Persuasi verbal (Verbal persuasion), yaitu individu mendapatkan bujukan atau sugesti untuk percaya bahwa ia dapat mengatasi masalah-masalah yang akan dihadapinya. Persuasi verbal dapat mengarahkan individu untuk berusaha lebih gigih mencapai tujuan dan kesuksesan. Akan tetapi efikasi diri yang tumbuh dengan cara ini biasanya tidak berlangsung lama, apalagi kemudian individu mengalamai peristiwa traumatis yang tidak menyenangkan.

4. Keadaan fisiologis dan psikologis ( Physiological state and emotional arousol). Perubahan kondisi tubuh dan suasana hati dapat mempengaruhi efikasi

26

diri, orang akan cepat menyimpulkan kelelahan, rasa sakit dan perubahan suasana hati sebagai petunjuk tentang efikasi diri. Dalam kaitannya dengan keadaan fisiologis dan suasana hati, efikasi diri dapat meningkat apabila kondisi tubuh meningkat, stres menurun, emosi-emosi negatif berkurang, ada koreksi terhadap keadaan tubuh. Pada waktu sedih penilaian terhadap diri cenderung rendah. Penilaian diri akan positif (taraf efikasi diri tinggi) pada suasana hati gembira, penilaian diri akan negatif (taraf efikasi diri rendah) pada waktu suasana hati sedih.. Mengalami keberhasilan pada waktu suasana hati gembira akan menimbulkan efikasi diri tinggi, sedangkan saat mengalami kegagalan pada waktu suasana hati sedih akan menimbulkan efikasi diri rendah. Orang yang gagal dalam situasi hati gembira cenderung overestimate terhadap kemampuannya, sedangkan orang yang sukses dalam suasana hati sedih cenderung underestimate terhadap kemampuannya (Bandura, 1997).

Perubahan tingkah laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi diri. Efikasi diri dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber tersebut diatas. Strategi pengubahan sumber efikasi diri dapat dilihat pada Tabel 2.1 (Alwisol, 2009).

Tabel 2. 1 Strategi Pengubahan Sumber Efikasi

Sumber Cara Induksi

Pengalaman Performasi

Partisipant Modeling Meniru model yang berprestasi

Performance desensilization

Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu

Performance Exposure Menonjolkan keberhasilan yang

pernah diraih

Self instructed Melatih diri untuk melakukan

yang terbaik

Pengalaman Vikarius Live modeling Mengamati model yang nyata

Symbolic Modeling Mengamati model simbolik,

film,kronik,cerita

Persuasi Verbal Sugestion Mempengaruhi dengan kata- kata berdasar kepercayaan

Exhortation Nasihat, peringatan yang

mendesak/memaksa

Self-instruction Memerintah diri sendiri

Intrepretive Treatment Interprestasi baru memperbaiki interprestasi lama yang salah Pembangkitan Emosi Attribution Mengubah atribusi,

penanggungjawab suatu kejadian emosional

Relaxation biofeedback Relaksasi

Symbolic desensilization Menghilangkan sikap

emosional dengan modeling simbolik

Symbolic Exposure Memunculkan emosi secara

simbolik Disadur dari Alwisol, 2009

28

Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku yang dapat digambarkan seperti pada Tabel 2.2(Alwisol, 2009).

Tabel 2.2 Prediksi Tingkah Laku hasil kombinasi efikasi diri dengan lingkungan

Efikasi Lingkungan Prediksi hasil tingkah laku

Tinggi Responsif Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya

Rendah Tidak responsif Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit

Tinggi Tidak responsif Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif,melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan

Rendah Responsif Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Di sadur dari Alwisol 2009

2.3.3 . Perkembangan efikasi individu

Efikasi diri individu berkembang sesuai dengan masa perkembangannya. Setiap individu diberikan tanggung jawab perkembangan yang bertahap, semakin tinggi semakin sulit. Efikasi seseorang dapat menurunatau meningkat sesuai dengan bagaimana individu melakukan evaluasi terhadap setiap fase kehidupan yang telah dijalaninya. Keyakinan terhadap diri mempengaruhi jalan hidup yang akan diambil seseorang. Setiap aksi yang diambil akan mempengaruhi perkembangan efikasi dalam diri. Performa dimasa lalu menjadi dasar efikasi diri, dalam hal ini dengan performa dimasa lalunya kapabilitas diri dapat di estimasi. Sehingga ekspektasi terhadap sebuah pencapaian akan menghasilkan usaha yang

keras untuk mencapai performa yang berkelanjutan. Pola kausalitas ini akan terus berulang selama masa perkembangan individu.

Manusia lahir tanpa adanya kesadaran tentang konsep diri. Konsep diri dibentuk melalui pengalaman sosial pada lingkungannya. Semakin berkembangnya kesadaran, memahami bahwa setiap aksi menghasilkan respon dari lingkungannya, dan melalui aksi ini manusia mempelajari konsep dirinya. Individu yang mengalami pengalaman secara langsung, segala efek yang timbul dari setiapperbuatan menjadi pembelajaran dalam membentuk diri seseorang. Lingkungan berperan dalam memberikan umpan balik terhadap setiap aksi yang dilakukan. Kesadaran terhadap hubungan antara aksi dan efek menghasilkan keinginan pada setiap individu untuk memastikan sebuah kejadian dapat terjadi. Keadaan ini menghasilkan kemampuan untuk mengontrol kapabilitas diri sebagai model untuk melakukan sebuah aksi untuk mencapai efek yang diinginkan(Bandura, 1997).

Sumber-sumber yang mempengaruhi perkembangan efikasi diri individu pada masa perkembangannya adalah keluarga, teman sebaya dan sekolah. Keluarga merupakan tempat pembelajaran awal bagi semua individu. Pada masa anak-anak , anak mempelajari perilaku yang dapat dilakukannya dan mempelajari apa yang didapat dari hal itu. Kemandirian pada anak membentuk efikasi diri yang baik dimana anak dapat mendorong peningkatan kapabilitas diri untuk dapat melaksanakan tugasnya sendiri.Pada penelitian yang dilakukan di India, efek dari tipe keluarga sangat signifikant pada efikasi diri dan kesejahteraan remaja (Singh & Rakhi, 2009). Ketika anak beranjak menuju komunitas yang lebih besar dari

30

keluarga, anak dapat belajar sejauh mana kapabilitas yang dimilikinya. Peran teman sebaya dalam membentuk dorongan sosial sangat besar, terkait dengan penerimaan diri dan popularitas(Bandura, 1997).

Sekolah berperan membentuk penerimaan sosial dan diri pada anak. Sekolah juga merupakan tempat anak mengembangkan kompetensi dirinya, baik kognitif, afektif dan psikomotorik. Di sekolah efikasi anak dibentuk melalui banyak cara seperti kompetensi intelektual, modeling anak terhadap gurunya, interaksi anak dengan teman sebayanya, dan mempelajari bagaimana teman- temannya mendapatkan kesuksesan dan kegagalan. Kompleksitas unsur disekolah membentuk motivasi untuk mencapai prestasi akademik, mengembangkan minat pada bidang-bidang akademik dan kebutuhan untuk menjadi populer diantara teman-teman sebaya. Tujuan utama dari pendidikan disekolah adalah kapabilitas pengontrolan diri. Pengontrolan diri membuat anak belajar menentukan tujuan yang akan dicapai dalam hidupnya, bagaimana mencapainya dan metode yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ketika menghadapi sebuah tantangan(Bandura, 1997).

Pemikiran anak berkembang melalui eksploitasi, observasi, modeling dan pembelajaran. Anak perlahan mempelajari kemampuan untuk menilai dirinya sendiri. Penilaian diri dapat digunakan untuk menentukan efikasi diri mereka sebagai panutan terhadap aksi yang akan mereka lakukan disetiap situasi. Menuju masa remaja, individu mempelajari banyak masalah yang datang untuk mencapai tujuan hidup. Pola pemikiran yang berusaha keluar dari garis nyaman pada masa remaja merupakan sebuah usaha untuk meningkatkan kapabilitas diri. Remaja

mendapatkan penguatan dan peningkatan efikasi melalui pengalaman yang nyata, remaja menggunakan pengalaman dan pengetahuan mereka untuk mengontrol diri mereka ketika berada dalam situai yang pelik melalui kesabaran dalam berusaha. Kesuksesan ini mengantarkan penguatan kepercayaan efikasi diri pada remaja(Bandura, 1997).

Pada masa dewasa, efikasi diri dibutuhkan untuk dapat menguasai masalah yang timbul dari dorongan sosial yang lebih besar. Interaksi dari faktor–faktor personal dan sosiokultural merupakan kontributor penting dalam perkembangan fase kehidupan seseorang. Individu yang dibentuk dengan baik pada masa anak- anak dan remaja, ketika memasuki masa dewasa akan memiliki efikasi diri yang tinggi tanpa adanya keraguan dalam diri mereka untuk menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang ditargetkan(Bandura, 1997).

Dokumen terkait