G. Metode Penelitian
2. Sumber Data
45 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Grafindo Persada, Jakarta, 2001, h. 42.
46 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2010, h. 35.
Sumber Data yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara mencari dan mempelajari data sekunder atau studi kepustakaan (library research), dan dibantu oleh penelitian lapangan (field research) untuk melengkapi dan mendukung data sekunder. Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diterapkan. Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan.47 Penelitian kepustakaan dilakukan dengan cara menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier.48
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer, yang merupakan bahan hukum yang mengikat berupa peraturan Perundang–undangan antara lain dari :
1) Undang–undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
2) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.01.HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan Perpindahan, dan Pemberhentian Notaris.
3) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 61 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penjatuhan Sanksi Administratif Terhadap Notaris.
47 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, h. 10.
48 Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, h. 38.
4) Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia M-01.H.T.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotariatan.
5) Kode Etik Notaris Kongres Luar Biasa Ikatan Notaris Indonesia Banten, 29-30 Mei 2015
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder, yang merupakan bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang dari bahan hukum primer yang terdiri dari :
1) Buku – buku;
2) Jurnal – jurnal:
3) Artikel – artikel media;
4) Dan berbagai tulisan lainnya.
c. Bahan Hukum Tersier atau bahan non hukum, yang berupa kamus, ensiklopedia dan lain – lain.49 Dan data primer sebagai data pendukung dikumpulkan melalui wawancara.
3. Teknik dan Pengumpulan Data
Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) yang memiliki tujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual, baik itu peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya.50
49 Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2010, h. 156-59.
50 Jhonny Ibrahim, Op.cit, h.192.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan (library research) adalah serangkaian usaha untuk
memperoleh data dengan jalan membaca, menelaah, mengklarifikasi, mengidentifikasi, dan dilakukan pemahaman terhadap bahan-bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan serta buku-buku literature yang ada relevansinya dengan permasalahan penelitian. Hasil dari kegiatan pengkajian tersebut kemudian dibuat ringkasan secara sistematis sebagai inti sari hasil pengkajian studi dokumen. Tujuan dari teknik dokumentasi ini adalah untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, pendapat-pendapat atau penemuan-penemuan yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.51
4. Analisis Data
Analisa data merupakan merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam polo, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.52 Dalam penelitian yuridis normatif pada hakikatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis untuk memudahkan pekerjaan analisis dan kontruksi.53
Pengolahan, analisis dan konstruksi data penelitian hukum normatif dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis terhadap kaidah hukum lalu kemudian konstruksi dilakukan dengan cara memasukkan pasal-pasal ke dalam kategori-kategori atas dasar pengertian-pengertian dari sistem hukum tersebut. Data yang
51 Edi Ikhsan dan Mahmul Siregar, Metode Penelitian Dan Penulisan Hukum Sebagai Bahan Ajar, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009, h. 24.
52 Ibid, h. 28.
53 Sahyono Makmun, Metode Penelitian Hukum, Intitama Sejahtera, Jakarta, 2006, h. 24.
telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan analisis data kualitatif, yaitu sebagai berikut: 54
a. Mengumpulkan bahan hukum, berupa inventarisasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.
b. Memilih bahan hukum yang sudah dikumpulkan dan selanjutnya melakukan sistematisasi bahan hukum sesuai dengan permasalahan yang dikaji di dalam penelitian yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.
c. Menganalisis bahan hukum dengan membaca dan menafsirkannya untuk menemukan kaidah, asas dan konsep yang terkandung di dalam bahan hukum tersebut khususnya yang terkait dengan pertanggungjawaban yang dilakukan seseorang dalam perbuatan melawan hukum.
d. Menemukan hubungan konsep, asas dan kaidah tersebut dengan menggunakan teori sebagai pisau analisis.
Penarikan kesimpulan untuk menjawab permasalahan dilakukan dengan menggunakan logika berfikir deduktif. Metode deduktif dilakukan dengan membaca, menafsirkan dan membandingkan hubungan-hubungan konsep, asas, kaidah yang terkait sehingga memperoleh kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penulisan yang dirumuskan.
54Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Rosda Karya, Jakarta, 2008, h. 48.
BAB II
PENGATURAN HUKUM NOTARIS PENGGANTI DALAM MEMEGANG PROTOKOL NOTARIS YANG DIGANTIKAN
A. Notaris Pengganti
Kehadiran Notaris Pengganti dalam lembaga kenotariatan sangat membantu notaris-notaris di Indonesia dalam menjalankan kewenangannya sebagai pejabat pembuat akta. Tidak hanya notaris saja yang merasa dibantu, tetapi juga masyarakat, karena kegiatan yang berkaitan dengan akta atau hal lainnya tidak terganggu pada saat seorang notaris berhalangan untuk menjalankan tugas dan kewenangannya. Pasal 1 UUJN Tahun 2014 menyebutkan bahwa “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta oentik dan kewenangan lainnya sebagaimana maksud dalam Undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya”. Mengenai Pejabat Umum diartikan sebagai pejabat yang diserahi tugas untuk membuat akta otentik yang melayani kepentingan publik, dan kualifikasi seperti itu diberikan kepada Notaris.
Berdasarkan ketentuan diatas Notaris adalah pejabat umum yang punya kewenangan untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan, selama pembuatan akta tersebut tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Pemberian wewenang, kepada pejabat atau instansi lain, seperti kantor Catatan Sipil, tidak berarti memberikan kualifikasi sebagai pejabat umum tapi hanya menjalankan fungsi sebagai pejabat umum saja ketika membuat akta-akta yang ditentukan oleh aturan hukum, dan kedudukan
mereka tetap dalam jabatannya semula sebagai Pegawai Negeri.55
Adanya Notaris dirasa begitu penting untuk membantu kehidupan masyarakat yang membutuhkan alat bukti teretulis. Berhubungan dengan alat bukti tertulis dapat dilihat dalam Pasal 1867 KUHPerdata bahwa pembuktian dengan tulisan harus dilakukan dengan tulisan-tulisan otentik maupun tulisan di bawah tangan.
Dapat di simpulkan bahwa akta terdiri dari akta otentik dan akta di bawah tangan, akta di bawah tangan dibuat dalam bentuk bebas dan tidak di hadapan pejabat umum, sengaja dibuat oleh para pihak sendiri.56 Pengaturan mengenai akta otentik juga terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, diatur dalam pasal 1868. Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya. Sehubungan dengan ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata tersebut, dengan tegas ditentukan dalam Pasal 1 angka 7 Undang-undang Jabatan Notaris bahwa akta notaris adalah akat otentik yang dibuat oleh atau di hadapan notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam UUJN-P.57
Akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris tersebut, bukan hanya karena diharuskan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga karena
55 Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2005, h. 17.
56 Rahmat Hasan Ashari Hasibuan, Kelalaian Notaris Mengeluarkan Salinan Ketika Minuta Akta Belum Ditandatangani (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Kisaran Nomor:657/Pid.B/2015Pn.kis), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2017, h.
68. 57 Sutrisno, “komentar Undang-undang Jabatan Notaris”, Bahan Ajar, Medan, Tanggal 1 januari 2007, h. 470-471.
dikehendaki oleh para pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi kepastian, namun juga melihat syarat sahnya perjanjian seperti suatu sebab yang halal dimana objek yang di perjanjikan tidak dilarang oleh peraturan perundang-undangan tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan kesusilaan yang mana jika tidak terpenuhi statusnya akan batal demi hukum,58 ketertiban dan perlindungan hukum bagi para pihak yang berkepentingan sekaligus bagi masyarakat secara keseluruhan sehingga diharapkan dapat menghindari terjadinya sengketa. Dalam hal terjadi sengketa, maka akta otentik yang merupakan alat bukti terkuat dan terpenuh dapat memberi solusi terbaik bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat.
Akta Pihak adalah akta yang dibuat di hadapan Notaris atas permintaan para pihak, Notaris berkewajiban untuk mendengarkan pernyataan atau keterangan para pihak yang dinyatakan atau diterangkan sendiri oleh para pihak di hadapan Notaris.
Pernyataan atau keterangan para pihak tersebut oleh Notaris dituangkan dalam akta Notaris. 59 Suatu Akta tetap dikatakan Akta otentik jika Akta tersebut sepanjang tidak ada orang atau pihak lain yang mempermasalahkan ke-otentikan akta tersebut dan seseorang itu tidak dapat membuktikan bahwa Akta tersebut cacat, maka Akta itu tetap dianggap berasal dari pejabat yang berwenang dan sah demi hukum.60
Baik sifat dari jabatan notaris maupun keluhuran dari martabat jabatannya itu
58 Rudy Haposan Siahaan, Hukum Perikatan Indonesia (Teori dan Perkembangan), Inteligensia Media, Malang, h. 78.
59 Boysal Parulian Sihombing, Unsur Perbuatan Melawan Hukum Yang Dilakukan Oleh Notaris Dalam Pembuatan Akta, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2016, h.
87.
60 Syafrida Yanti, Akibat Hukum Terhadap Pembuatan Akta Otentik yang Tidak Memenuhi Kewajiban Notaris Sebagaimana Mestinya DIamanatkan Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (Analisis Putusan No.9/Pdt.G/2010/PN-MBo), Tesis Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2014, h. 15.
mengharuskan adanya tanggung jawab dan kepribadian serta etika hukum yang tinggi. Jabatan yang dipangku oleh Notaris adalah suatu jabatan kepercayaan dimana masyarakat mempercayakan perbuatan hukum mereka kepadanya, yang dengan sendirinya pula membawa tanggung jawab yang berat baginya. Dalam menjalankan suatu jabatannya Notaris dituntut untuk selalu memiliki kecermatan, ketelitian, jujur, berhati-hati serta kondisi tubuh yang prima. Secara umum kesalahan dan kurang konsentrasi mempengaruhi kualitas pekerjaan seseorang oleh karena itu Notaris dapat menggunakan hak cutinya sebagaimana bunyi Pasal 25 ayat (1) UUJN Tahun 2014. Dengan demikian apabila seorang Notaris cuti, diwajibkan baginya menunjuk Notaris Pengganti, artinya bahwa Notaris Pengganti ada karena Notaris sedang cuti, karena sakit, sedang menjabat sebagai pejabat negara atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris.61 Notaris Pengganti merupakan seorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. Notaris Pengganti merupakan seorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. 62
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UUJN Tahun 2014 jo Pasal 33 ayat (2) UUJN Tahun 2014 adalah dimaksudkan untuk mengatur kedudukan hukum (rechtpositie) dari Notaris Pengganti yakni sebagai Notaris. Dengan kedudukan
61 Ibid, h. 73.
62 Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.
hukum yang demikian berarti Notaris Pengganti adalah pejabat umum sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1868 KUHPerdata berbunyi “suatu akta otentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya”. Sehingga dapat dikatakan bahwa Notaris Pengganti memiliki kewenangan sebagai seorang Notaris sebagaimana berdasarkan UUJN Tahun 2014, yakni sebagai seorang pejabat umum yang diangkat untuk sementara waktu dan mempunyai kewenangan sebagai seorang Notaris. Notaris Pengganti diangkat oleh pejabat yang berwenang berdasarkan UUJN Tahun 2014, bukan oleh Notaris yang mengusulkannya atau yang menunjuknya. Penegasan tentang kedudukan hukum Notaris Pengganti ini diperlukan tidak hanya untuk kepentingan Notaris Pengganti, melainkan terutama untuk kepentingan publik yang mempergunakan jasa-jasa Notaris Pengganti.
Dengan adanya persamaan kedudukan hukum antara Notaris Pengganti dengan Notaris maka tidak adanya keraguan bahwa akta-akta yang dibuat oleh Notaris Pengganti mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan akta-akta Notaris, artinya bahwa akta-akta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris Pengganti bersifat autentik dan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1870 KUH Perdata “suatu akta autentik memberikan di antara para pihak beserta ahli waris-ahli warisnya atau orang-orang yang mendapat hak dari mereka, suatu bukti yang sempurna tentang apa yang dimuat di dalamnya.
B. Dasar Hukum Notaris Pengganti
Demi pelayanan bagi para anggota masyarakat yang memerlukan jasa-jasanya wajar apabila setiap Notaris memahami berbagai peraturan hukum (undang-undang dan peraturan hukum lainnya). di Indonesia, ada berbagai macam dasar hukum yang dapat dijadikan pegangan bagi para notaris dalam menjalankan jabatannya, peraturan itu antara lain :
1. Reglement op Het Notaris Ambt in Indonesie (stb 1860:3) sebagaimana telah diubah terakhir dalam Lembaran Negara Tahun 1945 Nomor 101.
2. Ordonantie 16 September 1931 tentang Honorarium Notaris.
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1954 tentang Notaris dan Wakil Notaris Sementara dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 1954 Nomor 101 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 700.
4. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 1985 Nomor 73, dan Tambahan Negara Indonesia (TLNRI) Nomor 3316.
5. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 1986 Nomor 20.
6. undang Nomor 8 Tahu 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2004 Nomor 34, dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 4379.
7. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2004 Nomor 117, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 4432.
8. undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (UUJN-P), dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2014 Nomor 3, dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 5491.
9. Keputusan Bersama Keputusan Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor KMA/006/SKB/VII/1987 nomor M.04.-PR.08.05- tahun 1987 tentang Tata Cara Pengawasan, Penindakan, dan Pembelaan Peraturan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor M-11.HT.03.01 Tahun 1988 tentang Wakil Sementara Notaris.
10. Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor M-01.UM.01.06 Tahun 1993 tentang Penetapan Biaya Pelayanan Jasa Hukum di Lingkungan Direktorat Jendral Hukum dan Perundang-undangan.
11. Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor M-13.HT.03.10 Tahun 1993 tentang Pembinaan Notaris.
12. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-01.HT.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotariatan.
13. Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-01.HT.03.01 Tahun 2004 tanggal 16 Januari 2004 tentang formasi Notaris di seluruh Indonesia.
Beberapa substansi yang tersebut dalam aturan hukum di atas kemudian dituangkan dalam satu aturan hukum, yaitu Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang jabatan Notaris dan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut UUJN), misalnya tentang pengawasan, pengangkatan dan pemberhentian notaris. Lahirnya UUJN ini membuat terjadinya unifikasi hukum dalam pengaturan notaris di Indonesia. UUJN merupakan hukum tertulis sebagai alat ukur bagi keabsahan notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya.63
Seorang Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya harus memiliki ketrampilan profesi dibidang hukum juga harus dilandasi dengan tanggung jawab dan moral yang tinggi serta pelaksanaan terhadap tugas jabatannya maupun nilai-nilai dan etika, sehingga dapat menjalankan tugas jabatannya sesuai dengan ketentuan hukum dan kepentingan masyarakat serta dalam melaksanakan tugas jabatannya para Notaris tidak hanya menjalankan pekerjaan yang diamanatkan oleh Undang-undang semata tetapi sekaligus menjalankan suatu fungsi sosial yang sangat penting yaitu bertanggungjawab untuk melaksanakan kepercayaan yang diberikan masyarakat umum yang dilayaninya, dalam mengisi kekosongan jabatan apabila seorang Notaris sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatanya sebagai Notaris maka peran Notaris Pengganti sangat penting untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut.
Pengaturan mengenai jabatan Notaris telah diatur dalam UUJN Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, dan juga Kode Etik Notaris, sebagaimana yang dimaksud
63 Habib Adjie, Sanksi Perdata, Op.Cit, h.37.
dalam aturan tersebut juga menjadi dasar hukum untuk Notaris Pengganti. Pasal 1 Angka 3 UUJN Tahun 2014 menyebutkan bahwa "Notaris Pengganti adalah seorang yang untuk sementara diangkat sebagai Notaris untuk menggantikan Notaris yang sedang cuti, sakit, atau untuk sementara berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris". Notaris Pengganti dalam menjalankan jabatannya sebagai Notaris atau pejabat umum hanya untuk jangka waktu tertentu, yaitu selama Notaris yang digantikan olehnya sedang dalam masa cuti, sakit, ataupun berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris.
Notaris Pengganti menjabat sebagai Notaris atau pejabat umum hanya untuk jangka waktu tertentu, yaitu selama Notaris yang digantikan olehnya sedang dalam masa cuti, sakit, ataupun berhalangan menjalankan jabatannya sebagai Notaris. Peran Notaris Pengganti dimaksudkan untuk mengisi kekosongan jabatan untuk menggantikan Notaris yang berhalangan dalam jangka waktu tertentu, dimana dalam pelaksanaan jabatan, ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi Notaris juga berlaku bagi Notaris Pengganti, di antaranya dalam hal pembuatan akta otentik sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 15 ayat (1) UUJN Tahun 2014. Pada umumnya, orang yang ditunjuk oleh Notaris sebagai Notaris Pengganti adalah salah satu karyawan yang bekerja di kantornya. Notaris menyerahkan Protokol Notarisnya kepada Notaris Pengganti. Dengan demikian, dalam penguasaan Notaris Pengganti terdapat Protokol Notaris dari Notaris yang digantikan oleh Notaris Pengganti dan protokol yang meliputi akta-akta yang dibuatnya sendiri, dimana seluruh kewenangan dan tanggung jawab atas protokol tersebut juga beralih kepada Notaris Pengganti.
C. Tugas dan Fungsi Notaris Pengganti
Notaris Pengganti memiliki kedudukan, tugas, dan fungsi yang sama dengan Notaris yang digantikan, untuk itu Notaris Pengganti juga berkewajiban dan bertanggungjawab sama halnya dengan Notaris pada umumnya, yaitu sebagai pejabat umum yang dalam pelaksanaan tugasnya harus selalu berdasarkan pada Pasal 51 UUJN Tahun 2014. Adapun tugas Notaris Pengganti yaitu:
a. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus (waarmerking).
b. Membuat kopi dari asli surat dibawa tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan.
c. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya (legalisir).
d. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta.
e. Membuat akta yang berhubungan dengan pertanahan.
f. Membuat akta risalah lelang.
g. Membetulkan kesalahan tulis dan atau kesalahan ketik yang terdapat pada minuta akta yang telah di tanda tangan, dengan membuat berita acara dan memberikan catatan tentang hal tersebut pada minuta akta asli yang menyebutkan tanggal dan nomor berita acara pembetulan, dan salinan tersebut dikirimkan ke para pihak.
Notaris Pengganti ialah seseorang yang untuk sementara waktu diangkat menjadi Notaris sementara, agar fungsi pelayanan terhadap masyarakat dalam pembuatan akta tidak terganggu. Pengertian tersebut menyatakan bahwa pelayanan masyarakat terkait pembuatan akta tidak boleh terganggu, adapun seseorang dapat dijadikan Notaris Pengganti dikarenakan Notaris yang sedang sakit, cuti, atau untuk sementara waktu tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai Notaris. Fungsi yang dimiliki oleh Notaris Pengganti tidak ada perbedaan dalam hal kewenangan dan tanggung jawab terkait fungsinya sebagai Notaris, yaitu membuat akta otentik
mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan serta Notaris Pengganti berwenang mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus, membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus, membuat copy dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan, melakukan pengesahan kecocokan dan fotocopy dengan surat aslinya.
Fungsi yang juga merupakan kewenangan dari Notaris yang digantikan sebagai pejabat umum adalah membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dan atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang- undang. Selain itu Notaris Pengganti juga diharuskan memberikan jasa hukum secara cuma-cuma bagi orang yang tidak mampu, serta membuat akta dari objek yang dinilai mempunyai fungsi sosial (misalnya akta pendirian yayasan, akta pendirian sekolah, akta tanah wakaf, akta pendirian rumah ibadah, atau akta pendirian rumah sakit).64
64 Umar Ma'ruf dan Dony Wijaya, Jurnal Tinjauan Hukum Kedudukan dari Fungsi Notaris Sebagai Pejabat Umum dalam Membuat Akta Otentik, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang:
2015, hlm 373.
Dalam melaksanakan fungsi tersebut, Notaris Pengganti harus bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang
Dalam melaksanakan fungsi tersebut, Notaris Pengganti harus bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang