BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
2. Sumber Data
Sumber data utama dari penelitian ini adalah sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum sekunder, bahan hukum primer dan bahan hukum tersier.
data hukum primer meliputi wawancara langsung kepada nara sumber. Data-data hukum sekunder tersebut meliputi berbagai sumber Data-data tertulis seperti Peraturan perundang – undangan, buku – buku ilmiah, dan sebagainya.50
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mempelajari berbagai macam peraturan Tentang peran Majelis Pengawas Daerah dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku melawan hukum yang dilakukan oleh Notaris. Data sekunder tersebut meliputi beberapa hal :
48 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung Alumni, 1994), halaman 101.
49 Hadari Nabawi, Metode Penelitian Bidang Sosial. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996).halaman. 31.
50Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta : Liberty, 1996, Hal. 14.
a. Bahan Hukum Primer
Wawancara secara mendalam (deft interview) dilakukan secara langsung kepada nara sumber yaitu dengan Majelis Pangawas Daerah Kota Medan dan notaris di Kota Medan. Dalam hal ini, mula-mula diadakan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, sehingga dapat diperoleh jawaban yang memperdalam data primer dan sekunder lainnya.
Bahan hukum primer dapat ditemukan melalui studi kepustakaan (library research) baik diperpustakaan fakultas, universitas maupun perpustakaan umum lainnya. Bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Undang-Undang-Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 tahun 2014 perubahan Undang-Undang jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2004.
b. Bahan Hukum Sekunder
Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahaan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum.51 Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang isinya memperkuat atau menjelaskan bahan hukum primer.52 Bahan hukum sekunder yang digunakan berupa bahan – bahan hukum seperti bacaan hukum, hasil penelitian hukum, jurnal-jurnal yang memberikan penjelasan mengenai bahan primer berupa teks, artikel dan
51 Fajat dan Yulianto, Dualisme Penelitan Hukum.Normatif dan Empiris.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) halaman 34.
52 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Op. Cit., hal. 13-14.
jurnal yang berhubungan dengan peran Majelis Pengawas Daerah dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku melawan hukum oleh Notaris.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang dijadikan pegangan atau acuan bagi kelancaran proses penelitian, yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum atau bahan – bahan yang dapat memberikan sejumlah informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensiklopedia dan lain sebagainya. Bahan hukum tersier biasanya memberikan informasi, petunujuk dan keterangan terhadap data primer dan data sekunder.53
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain:
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).
Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.54
53Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia, UI Press, 1986, Hal. 44.
54 Muis, Pedoman Penulisan Skripsi Dan Metode Penelitian Hukum, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara , 1990), halaman 48.
Sedangkan alat pengumpulan datanya adalah:
1) Pedoman Wawancara.
Pengumpulan data selain secara pengamatan dapat diperoleh dengan mengadakan wawancara informasi diperoleh langsung dari responden atau informasi dengan cara tatap muka. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara. Sehingga penelitian ini berusaha menggali informasi dari nara sumber yang berkaitan dengan penelitian ini.
Yang menjadi nara sumber dalam penelitian ini adalah Majelis Pengawas Daerah Kota Medan, notaris di Kota Medan.
2) Studi Kepustakaan
Mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen perundang-undangan yang terkait selanjutnya digunakan untuk kerangka teoritis pada penelitian lapangan.
b. Penelitian Lapangan (Field Research).
Studi lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan atau menggali informasi-informasi dan catatan lapangan yang diperlukan untuk menginventarisir hal-hal baru yang terdapat dilapangan yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian.
4. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Kota Medan, yaitu wilayah kewenangan di Majelis Pengawas Daerah Notaris di Kota Medan. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara terhadap 3 orang narasumber yaitu 2 orang notaris dan 1 orang Sekretaris Majelis Pengawas Daerah Kota Medan.
5. Analisis Data
Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian dalam rangka memberi jawaban terhadap masalah yang diteliti. Analisis data dapat diartikan sebagai proses menganalisa, memanfaatkan data yang terkumpul untuk digunakan dalam pemecahan masalah penelitian. Dalam proses pengolahan, analisis dan pemanfaatan data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data yang deskriptif, yang bersumber dari tulisan atau ungkapan dan tingkah laku yang dapat diobservasi dari manusia.
Data yang terkumpul dipilih-pilih dan diolah, kemudian dianalisis dengan menggunakan cara kualitatif, yaitu dengan cara data yang telah terkumpul dipisah- pisah menurut kategori masing-masing dan selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu cara berfikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus, dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta – fakta yang bersifat khusus.55
55Mukti Fajar, dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010,Hal 109.
A. Bentuk-bentuk Pengawasan Umum
Notaris sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik diawasi oleh MPN yang dibentuk oleh Menteri. Ketentuan mengenai pengawasan terhadap notaris diatur dalam UUJN Bab IX tentang Pengawasan. Secara umum, pengertian dari pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengawas dalam melihat, memperhatikan, mengamati, mengontrol, menilik dan menjaga serta memberi pengarahan yang bijak. Berdasarkan peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota Susunan Organisasi, Tata Cara Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris Pasal 1 angka 5 menjelaskan mengenai pengertian dari pengawasan yang berbunyi sebagai berikut:56
“Pengawasan adalah kegiatan yang bersifat prefentif dan kuratif termasuk kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh Majelis Pengawas terhadap Notaris.”
56 Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota Susunan Organisasi, Tata Cara Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris
Pengawasan adalah suatu proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.57
Pengawasan adalah tindakan atau proses kegiatan untuk memenuhi hasil pelaksanaan, kesalahan, kegagalan untuk kemudian dilakukan perbaikan dan mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan itu, begitu pula menjaga agar pelaksanaan tidak berbeda dengan rencana yang ditetapkan, namun sebaliknya sebaik apapun rencana yang ditetapkan tetap memerlukan pengawasan.58
Pengawasan merupakan tindakan yang bertujuan untuk mengendalikan sebuah kekuasaan yang dipegang oleh Pejabat Administrasi Negara (Pemerintah) yang cenderung disalahgunakan, tujuannya untuk membatasi Pejabat Administrasi Negara agar tidak menggunakan kekuasaan diluar batas kewajaran yang bertentangan dengan ciri Negara Hukum, untuk melindungi masyarakat dari tindakan diskresi Pejabat Administrasi Negara dan melindungi Pejabat Administrasi Negara agar menjalankan kekuasaan dengan baik dan benar menurut hukum atau tidak melanggar hukum.59
Wewenang pengawasan atas notaris ada di tangan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Tetapi dalam praktek, Menteri melimpahkan wewenang itu kepada MPN yang dia bentuk. UUJN menegasan bahwa Menteri melakukan pengawasan terhadap notaris dan kewenangan Menteri untuk melakukan pengawasan ini oleh
57 Siagian, Sondang P, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta:Gunung Agung, 1990, hal. 107
58 Djati Julitriarsa dan John Suprihartono. Manajemen Umum. Jakarta :BPFE, 1998, hal. 101
59 Diana Hakim Koentjoro. “Hukum Administrasi Negara”. Ghalia Indonesia. Bogor, 2004.
hal.70.
UUJN diberikan dalam bentuk pendelegasian delegatif kepada Menteri untuk membentuk MPN, bukan untuk menjalankan fungsi-fungsi MPN yang telah ditetapkan secara eksplisit menjadi kewenangan MPN.
Pengertian mengenai Pengawasan dapat dilihat dari berbagai macam sumber, diantaranya:
1) Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-OL.H.T.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotariatan yang dimaksud dengan pengawasan dalam Pasal 1 ayat 8, yaitu kegiatan administrasi yang bersifat preventif dan represif oleh Menteri yang bertujuan untuk menjaga agar para Notaris dalam menjalankan jabatannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.60
2) Menurut Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.39-PW.07.10 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris, yang dimaksud dengan pengawasan yaitu pemberian pembinaan dan pengawasan baik secara preventif maupun kuratif kepada notaris dalam menjalankan profesinya sebagai pejabat umum sehingga notaris senantiasa harus meningkatkan profesionalisme dan kualitas kerjanya,
60 Pasal 1 ayat 8, Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-OL.H.T.03.01 Tahun 2003 tentang Kenotariatan yang dimaksud dengan pengawasan.
sehingga dapat memberikan jaminan kepastian dan perlindungan hukum bagi penerima jasa notaris dan masyarakat luas.61
a. Menurut Pasal 1 ayat (1) Permen Nomor M.02.PR08.10 Tahun 2004, Majelis Pengawas Notaris adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris.62
b. Menurut Permen Nomor: M.01-HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Notaris, Majelis Pengawas Notaris adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris.63
c. Menurut Permen Nomor: M.03.HT.03.10 Tahun 2007, yang dimaksud dengan Majelis Pengawas Daerah adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pengawasan dan pembinaan terhadap Notaris yang berkedudukan di Kabupaten atau Kota.64
61 Keputusan Menteri Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.39-PW.07.10 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris, Nomor 3 Bagian 7.
62 Pasal 1 ayat (1) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Anggota Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris.
63 Pasal 1 ayat (6) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.01-HT.03.01 Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Notaris
64 Pasal 1 ayat (7) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.03.HT.03.10 Tahun 2007 tentang Pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris.
d. Menurut Undang-Undang Jabatan Notaris, Majelis Pengawas Notaris adalah suatu badan yang berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap notaris.65
Tujuan dari pengawasan yang dilakukan terhadap notaris adalah supaya notaris sebanyak mungkin memenuhi persyaratan-persyaratan yang dituntut kepadanya. Persyaratan-persyaratan yang dituntut itu tidak hanya oleh hukum atau undang-undang saja, akan tetapi juga berdasarkan kepercayaan yang diberikan oleh klien terhadap notaris tersebut. Tujuan dari pengawasan itupun tidak hanya ditujukan bagi penataan kode etik notaris akan tetapi juga untuk tujuan yang lebih luas, yaitu agar para notaris dalam menjalankan tugas jabatannya memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang demi pengamanan atas kepentingan masyarakat yang dilayani.
Sasaran lain yang perlu dicapai melalui pengawasan selain untuk tujuan efisiensi adalah:
a. Pelaksanaan tugas-tugas yang telah ditentukan berjalan sungguh-sungguh sesuai dengan pola yang direncanakan;
b. Struktur serta hierarki organisasi sesuai dengan pola yang ditentukan dalam rencana;
c. Sistem dan prosedur kerja tidak menyimpang dari garis kebijakan yang telah tercermin dalam rencana;
65 Pasal 1 ayat 6 Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
d. Tidak terdapat penyimpangan dan/atau penyelewengan dalam penggunaan kekuasaan, kedudukan, terutama keuntungan.
Pengawasan terhadap notaris dilakukan berdasarkan kode etik dan UUJN.
Pengawasan dalam kode etik dilakukan oleh Dewan Kehormatan, dan pengawasan dalam UUJN dilakukan oleh MPN. Sebelum menguraikan pengawasan menurut kode etik, lebih dulu diuraikan tentang pengertian dari kode etik. Menurut Bertens kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu di mata masyarakat.
Kode etik profesi merupakan produk etika terapan karena dihasilkan berdasar penerapan pemikiran etis atas suatu profesi. Kode etik merupakan bagian dari hukum positif tertulis tetapi tidak mempunyai sanksi yang keras, berlakunya kode etik semata-mata berdasarkan kesadaran moral anggota profesi. Menurut Sumaryono kode etik perlu dirumuskan secara tertulis, yaitu:66
a. Sebagai sarana kontrol sosial;
b. Sebagai pencegah campur tangan pihak lain;
c. Sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik.
Berdasarkan Pasal 68 UUJN, MPN terdiri dari:67 a. MPD yang dibentuk di tingkat Kabupaten/Kota;
b. MPW yang dibentuk di tingkat Propinsi; dan
66 E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Norma Bagi Penegak Hukum,Yogyakarta: Kanisius, 1995, Hal 35-36
67 Pasal 68 Undang-Undang Jabatan Notaris
c. MPP yang dibentuk di Ibukota.
Tiap-tiap jenjang Majelis Pengawas mempunyai wewenang masing-masing dalam melakukan pengawasan dan untuk menjatuhkan sanksi.
Syarat untuk diangkat menjadi anggota MPN diatur dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi manusia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004, yaitu:68
a. Warga negara Indonesia;
b. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
c. Pendidikan paling rendah Sarjana Hukum;
d. Tidak pernah dihukum karena melakukan perbuatan pidana yang diancam pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih;
e. Tidak dalam keadaan pailit;
f. Sehat jasmani dan rohani;
g. Berpengalaman dalam dibidangnya paling rendah 3 (tiga) tahun
Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan notaris dengan sangat jelas memuat tentang kewenangan dari Majelis Pengawas Notaris baik untuk tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat, dengan tujuan untuk melakukan pengawasan terhadap notaris.
Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan, memiliki beberapa bentuk pengawasan yang dilakukan terhadap notaris di Kota Medan, diantaranya:
68 Pasal 2 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi manusia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja, dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris
a. Melaksanakan pemeriksaan terhadap Protokol Notaris secara berkala sebanyak 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun atau setiap waktu jika dianggap perlu.69
Pelaksanaan ini telah berjalan sebagaimana yang dimaksudkan oleh peraturan perundang-undangan yang ada, dimana setiap tahunnya Majelis Pengawas Daerah selalu melakukan pemeriksaan terhadap notaris yang ada di Kota Medan.
b. Mencatat pada buku daftar yang termasuk dalam Protokol Notaris dengan menyebutkan tanggal pemeriksaan, jumlah akta serta jumlah surat di bawah tangan yang diserahkan dan yang dibuat sejak tanggal pemeriksaan terakhir.
Hal ini harus dilakukan oleh Majelis Pengawas Daerah setelah melakukan pemeriksaan terhadap Protokol Notaris. Termasuk Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan, dimana setelah pemeriksaan dilakukan Majelis Pengawas Daerah mencatat tanggal pemeriksaan, jumlah akta yang dibuat sejak tanggal terakhir pemeriksaan dilakukan.
c. Menandatangani daftar dan memberi paraf pada akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, daftar surat dibawah tangan yang dibukukan dan daftar surat lain yang diwajibkan undang-undang.
Tindakan selanjutnya dari kewenangan diatas adalah Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan menandatangani dan memberi paraf semua daftar akta yang termasuk dalam Protokol Notaris.
69 Wawancara yang dilakukan dengan Suprayitno, Notaris dan PPAT Kota Medan, pada tanggal 12 Juni 2017
d. Menerima penyampaian secara tertulis salinan dari daftar akta, daftar surat di bawah .tangan yang disahkan, dan daftar surat di bawah tangan yang dibukukan yang telah disahkannya, yang dibuat pada bulan sebelumnya paling lambat 15 (lima belas) hari kalender pada bulan berikutnya, yang memuat sekurang-kurangnya nomor, tanggal dan judul akta.
Pelanggaran yang dilakukan notaris tentang kewajiban untuk mengirim laporan bulanan reportorium, dimana dalam praktiknya di Kota Medan, masih ditemukannya keterlambatan dalam hal pengiriman laporan bulanan reportorium notaris. Menanggapi pelanggaran tersebut, Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan memberikan peringatan lisan kepada notaris yang terlambat mengirimkan laporan bulanan tersebut.
e. Menampung laporan dari masyarakat terkait adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran ketentuan dalam undang-undang ini;70
Laporan dari masyarakat terkait adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris merupakan salah satu cara agar Majelis Pengawas Daerah dapat melakukan pengawasan secara efektif. Hal ini dikarenakan masyarakatlah yang sering menjadi klien dari notaris. Apabila ada masyarakat yang merasa dirugikan dari apa yang dikerjakan oleh notaris yang berhubungan dengan akta yang dibuat oleh notaris tersebut maka pihak yang merasa dirugikan oleh notaris tersebut dapat melapor kepada Majelis Pengawas Notaris, sehingga Majelis Pengawas Notaris tersebut dapat segera mengadakan pemeriksaan terhadap notaris tersebut.
70 Ibid
Namun di Kota Medan hal tersebut tidak berjalan sebagai mana mestinya. Hal ini terjadi karena ketidaktahuan dari masyarakat akan adanya Majelis Pengawas Notaris yang bertugas untuk mengawas kinerja dari notaris. Dimana apabila ada pihak yang merasa dirugikan dari apa yang dikerjakan oleh notaris, pihak tersebut langsung melaporkan hal tersebut ke kepolisian. Dengan demikian Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan tidak mengetahui adanya notaris yang diduga bermasalah, sehingga pemeriksaan dan pengawasan terhadap notaris tersebut pun tidak dapat berjalan dengan efektif.
f. Mengadakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan notaris.
Pelaksanaan sidang untuk pemeriksaan tentang adanya dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris sampai saat ini belum pernah dilaksanakan, karena Majelis Pengawas Daerah di Kota Medan tidak pernah menerima ada laporan dari masyarakat tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh notaris.71
B. Kewenangan dan Kewajiban Majelis Pengawas Daerah Notaris Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
Wewenang MPD diatur dalam undang-undang tentang Jabatan Notaris, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004, dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
71 Wawancara yang dilakukan dengan Marzuki, Sekretaris Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan pada tanggal 05 Juni 2017.
Republik Indonesia Nomor M.39- PW.07.10 Tahun 2004. Wewenang Majelis Pengawas Daerah yang berkaitan dengan :
1. Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah berwenang :
a. Mengambil fotokopi minuta akta dan surat-surat yang dilekatkan pada minuta akta atau protokol notaris dalam penyimpanan notaris;
b. Memanggil notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau protokol notaris yang berada dalam penyimpanan notaris.
2. Pengambilan fotokopi minuta akta atau surat-surat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf a dibuat berita acara penyerahan.72
Ketentuan Pasal 66 UUJN ini mutlak kewenangan Majelis Pengawas Daerah yang tidak dimiliki oleh Majelis Pengawas Wilayah maupun MPP. Substansi Pasal 66 UUJN imperatif dilakukan oleh penyidik, penuntut umum, atau hakim.
Dengan batasan sepanjang berkaitan dengan tugas jabatan notaris dan sesuai dengan kewenangan notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 UUJN.
Ketentuan tersebut berlaku hanya dalam perkara pidana, karena dalam pasal tersebut berkaitan dengan tugas penyidik dan penuntut umum dalam ruang lingkup perkara pidana.
Dalam kaitan ini Majelis Pengawas Daerah harus objektif ketika melakukan pemeriksaan atau meminta keterangan dari notaris untuk memenuhi permintaan
72 Pasal 66 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim, artinya Majelis Pengawas Daerah harus menempatkan akta Notaris sebagai objek pemeriksaan yang berisi pernyataan atau keterangan para pihak, bukan menempatkan subjek notaris sebagai objek pemeriksaan sehingga tata cara atau prosedur pembuatan akta harus dijadikan ukuran dalam pemeriksaan tersebut. Dengan demikian diperlukan anggota Majelis Pengawas Daerah, baik dari unsur notaris, pemerintahaan, dan akademis yang memahami akta notaris, baik dari prosedur maupun substansinya. Tanpa ada izin dari Majelis Pengawas Daerah penyidik, penuntut umum atau hakim tidak dapat memanggil atau meminta notaris dalam suatu perkara pidana.73
Wewenang Majelis Pengawas Daerah yang diatur dalam Pasal 70 UUJN, berkaitan dengan:
1. Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan notaris;
2. Melakukan pemeriksaan terhadap protokol notaris secara berkala 1(satu) kali dalam 1(satu) tahun dan setiap waktu yang dianggap perlu;
3. Memberikan izin cuti untuk waktu sampai dengan 6 (enam)bulan;
4. Menetapkan notaris pengganti dengan memperhatikan usul notaris yang bersangkutan;
5. Menentukan tempat penyimpanan prtokol notaris yang pada saat serah terima protokol notaris telah berumur 25(dua puluh lima) tahun atau lebih;
73 Habib Ajie, Sanksi Perdata dan Administratif terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, Bandung : Refika Aditama,2009, hal.136.
6. Menunjuk notaris yang akan bertindak sebagai pemegang sementara protokol notaris yang diangkat sebagai pejabat Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat 4;
7. Menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran kode
7. Menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran kode