• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH NOTARIS DALAM MENCEGAH TERJADINYA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH NOTARIS DI KOTA MEDAN TESIS. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERANAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH NOTARIS DALAM MENCEGAH TERJADINYA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH NOTARIS DI KOTA MEDAN TESIS. Oleh"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh

HAKIKI WARI DESKY 157011075/MKn

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

PERANAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH NOTARIS DALAM MENCEGAH TERJADINYA PERBUATAN MELAWAN

HUKUM OLEH NOTARIS DI KOTA MEDAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Dalam Program Studi Kenotariatan Pada Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

Oleh

HAKIKI WARI DESKY 157011075/MKn

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)
(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 25 Agustus 2017

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN.

Anggota : 1. Dr. T. Keizerina Devi A., SH, CN, M.Hum 2. Notaris Syafnil Gani, SH, M.Hum

3. Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH 4. Dr. Edi Ikhsan, S.H., MA

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Hakiki Wari Desky

NIM : 157011075

Program Studi : Magister Kenotariatan

Judul Tesis : Peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris Dalam Mencegah Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum Oleh Notaris Di Kota Medan

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan, 25 Agustus 2017 Yang membuat Pernyataan

Nama : HAKIKI WARI DESKY Nim : 157011075

(6)

seorang notaris melakukan kesalahan-kesalahan yang menyangkut profesionalitasnya, maka satu-satunya institusi yang berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya adalah Peradilan Profesi Notaris, yang dijalankan oleh Majelis Pengawas Notaris secara berjenjang. Pembentukan Majelis Pengawas Notaris ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan hukum bagi masyarakat pengguna jasa notaris. Permasalahan dalam tesis ini adalah bagaimana mekanisme pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD)?, Apa saja bentuk-bentuk perbuatan Notaris yang dapat dicegah oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD)? Dan Bagaimana peran Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam mencegah terjadinya perbuatan Notaris yang bertentangan dengan Undang-Undang Jabatan Notaris?

Dalam melakukan penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis empiris, yang terdiri dari penelitian terhadap identifikasi hukum dan penelitian terhadap efektivitas hukum. Data-data hukum primer meliputi wawancara langsung kepada nara sumber. Data-data hukum sekunder tersebut meliputi berbagai sumber data tertulis seperti Peraturan perundang – undangan, buku – buku ilmiah, dan sebagainya. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Medan, yaitu wilayah kewenangan di Majelis Pengawas Daerah Notaris di Kota Medan. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara terhadap 3 orang narasumber yaitu 2 orang notaris dan 1 orang Sekretaris Majelis Pengawas Daerah Kota Medan.

Mekanisme pengawasan notaris oleh Majeli Pengawas Daerah (MPD)

melalui beberapa tahap, yakni: 1) Pengajuan Laporan, 2) Tahap Pemanggilan, 3) Tahap Pemeriksaan oleh Majelis Pemeriksa Daerah Jika terbukti pelaporan dengan

menemukan pelanggaran oleh notaris, MPD akan merekomendasikan sanksi yang akan dijatuhkan untuk notaris kepada MPW, jika tidak ditemukannya pelanggaran maka pemeriksaan dihentikan. Bentuk-bentuk pelanggaran ataupun larangan bagi notaris menurut Undang-Undang Jabatan Notaris dan sanksi yang paling banyak rekomendasikan oleh MPD kepada MPW terhadap notaris di Kota Medan yang melakukan pelanggaran adalah sanksi peringatan tertulis. Peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan dalam rangka pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris antara lain: pertama, adalah dengan menerapkan pengawasan yang bersifat preventif dan kuratif yaitu dengan cara melakukan pencegahan terhadap terjadinya pelanggaran jabatan Notaris dan melakukan pembinaan terhadap Notaris itu sendiri.

Kedua, Majelis Pengawas Daerah Notaris Kota Medan juga akan melakukan sosilisasi-sosialisasi kepada pihak-pihak yang terkait.

Kata Kunci: Majelis Pengawas Daerah, Notaris, Perlawanan Hukum

(7)

Indonesian Notary. When a Notary makes a mistake related to his professionalism, the Court of Notary is the only authorized institution to verify and hand a decision down to him, held by a hierarchical Supervisor of Notary. The objective of the establishment of this Notary Supervisor is to improve the legal service and protection for those who need Notary’s service. The problems in this thesis are about the mechanism of Notary Supervisory run by the MPD (Regional Supervisors), what kinds of Notary’s actions can be prevented from by the MPD, and how about the role of MPD to prevent a Notary form committing actions contrary to the Notary Act.

This is an empirical juridical research which consists of a research to legal identification and effectiveness. The primary data were obtained from the direct interviews with informants. The secondary data were various written data sources such as the laws and regulations, scientific books, and so on. The research was done in Medan i.e. the jurisdiction of the Regional Supervisor of Notaries in Medan. There were 3 informants in this research; namely, 2 notaries and 1 Secretary of Regional Supervisor of Medan.

The mechanism of the notary supervision conducted by MPD consists of some stages; they are 1) Report Submission, 2) Summon, and 3) Verification by MPD. If the report is proved by the finding on the violation done by the notary, MPD will recommend to MPW the sentence for the notary; otherwise the verification will be terminated. The form of violations or prohibitions for a notary pursuant to the Notary Act and the mostly recommended sentence from MPD to MPW is a written warning.

The role of the Regional Supervisor of Medan to manage and supervise a notary is firstly, to implement a preventive and curative supervision by preventing the Notary from committing violation and managing the Notary; and secondly, to conduct socialization to relevant parties.

Keywords: Regional Supervisor, Notary, Legal Resistance

(8)

kemudahan sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian tesis ini yang berjudul

“PERANAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH NOTARIS DALAM MENCEGAH TERJADINYA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH NOTARIS DI KOTA MEDAN”

Penulis tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati,Penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis untuk mengikuti pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar SH, CN, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(9)

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai Penguji yang telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

5. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

6. Bapak Notaris Syafnil Gani, SH, MHum, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.

7. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH selaku dosen penguji saya yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun kepada Penulis.

8. Bapak-bapak dan Ibu-ibu staf pengajar serta para pegawai di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

9. Kepada yang terhormat dan terkasih kedua orang tuaku ayahku Irwandi Desky, SP dan ibuku Sri Wati Siregar yang dengan penuh perjuangan telah selalu

mendoakan, membesarkan dan mendukung serta mendidik sedemikian rupa sehingga Penulis dapat sampai pada jenjang ini.

10. Kepada adik-adikku, Zhino Rivaldi Desky dan Tommy Geovany Desky yang telah memberikan semangat serta bantuan-bantuan lainya kepada Penulis sehingga dapat menyelesaikan studi ini.

(10)

12. Kepada keluarga besar mahasiswa-mahasiswi Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Angkatan 2015 Reguler Khusus, semoga kita semua sukses selalu.

Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan tesis ini Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari kesempurna, namun diharapkan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Medan, 25 Agustus 2017 Penulis

Hakiki Wari Desky 157011075/M.Kn

(11)

Nama : Hakiki Wari Desky

Tempat/Tanggal lahir : Kutacane / 04 Februari 1992 Jenis Kelamin : Laki laki

Status : Menikah

Agama : Islam

Alamat : Jl. Setia Budi (Banban) No. 105 Desa Pulonas Kec.

Babussalam Kutacane, Kab. Aceh Tenggara

II. KELUARGA

Nama Ayah : Irwandi Desky, SP Nama Ibu : Sri Wati Siregar

III. PENDIDIKAN

1. SDN 1 Kutacane ( 1998 - 2004) 2. SMP Negeri 4 Kutacane (2004 - 2007) 3. SMA Negeri Perisai Kutacane (2007 - 2010)

4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (2010 - 2014)

(12)

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR SINGKATAN ... x

DAFTAR ISTILAH ... xi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 15

E. Keaslian Penelitian ... 15

F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 16

1. Kerangka Teori ... 16

2. Konsepsi ... 22

G. Metode Penelitian... 26

1. Spesifikasi Penelitian ... 26

2. Sumber Data ... 28

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 30

4. Lokasi Penelitian ... 32

5. Analisis Data ... 32

(13)

Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris ... 42 C. Mekanisme Pengawasan Notaris dilakukan Majelis Pengawas

Daerah (MPD) terkait kewajiban dan larangan Notaris di Kota Medan ... 49 BAB III. BENTUK-BENTUK PERBUATAN NOTARIS YANG

TERMASUK DALAM PENGAWASAN MAJELIS

PENGAWAS DAERAH (MPD)... 59 A. Bentuk-bentuk pelanggaran Hukum Oleh Notaris Menurut

UUJN ... 59 B. Batas-Batas Perbuatan Melawan Hukum oleh Notaris Menurut

UUJN ... 65 C. Akibat Hukum atas Sanksi yang dijatuhkan oleh MPD atas

perbuatan yang bertentangan dengan hukum ... 70

BAB IV. PERAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH (MPD) DALAM MELAKUKAN PENGAWASAN TERHADAP PERBUATAN NOTARIS YANG BERTENTANGAN DENGAN UNDANG- UNDANG JABATAN NOTARIS ... 80 A. Peran dan Fungsi Pengawasan Majelis Pengawasan Daerah

Notaris terhadap Notaris ... 80 B. Upaya Majelis Pengawas Daerah Kota Medan dalam

melakukan Pengawasan Terhadap perbuatan Melawan hukum Oleh Notaris ... 96

(14)

Pengawas Wilayah atas Pengawasan Notaris di Kota Medan .... 107

BAB V PENUTUP ... 111

A. Kesimpulan ... 111

B. Saran ... 113

DAFTAR PUSTAKA ... 115

(15)

HIR : Herzien Inlandsch Reglement INI : Ikatan Notaris Indonesia Kepmen : Keputusan Menteri

KUHAP : Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana KUHPerdata : Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

MPD : Majelis Pengawas Daerah

MPN : Majelis Pengawas Notaris

MPW : Majelis Pengawas Wilayah

Permen : Peraturan Menteri

PPAT : Pejabat Pembuat Akta Tanah UUJN : Undang-Undang Jabatan Notaris

(16)

rechtsbevoegdhenden : wewenang

authority of theory : teori kewenangan

bestuur : pemerintah

conception : konsepsi

copetence, bevogheid : dasar kewenangan

Das Sollen : segala sesuatu yang merupakan keharusan Definition : defenisi

du bius : bersifat ragu-ragu nataligheid : kelalaian

onderdeel : bagian

onrechtmatige daad : perbuatan melawan hukum onvoorzigtgheid : kurang hati-hati

Openbare Ambtenaren : pejabat umum

summum ius, summa : hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang injuria, summa lex, dapat menolongnya

summa crux

theorie van het gezag : teori kepastian theorie der autoritat : teori kewenangan

(17)

A. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, yang mana Pancasila dan Undang-Undang merupakan ideologi dan pedoman bagi masyarakat Indonesia dalam bernegara. Perkembangan masyarakat telah mengalami peningkatan yang sangat pesat, dalam setiap transaksi kehidupan manusia membutuhkan adanya sebuah kepastian hukum untuk sebuah perlindungan atas segala sesuatunya.1

Notaris adalah Pejabat umum yang diangkat oleh Pemerintah untuk membantu masyarakat umum dalam hal membuat perjanjian-perjanjian yang ada atau timbul dalam masyarakat. Perlunya perjanjian-perjanjian tertulis ini dibuat dihadapan seorang Notaris adalah untuk menjamin kepastian hukum bagi para pihak yang melakukan perjanjian.

Notaris adalah Pejabat Umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-undang Tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut sebagai UUJN).2 Pasal 2 UUJN mengatakan bahwa Notaris diangkat oleh Menteri yang membidangi Kenotariatan dalam hal ini adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Fungsi Menteri di sini

1Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta : Liberty, 1999, Hal.

56.

2Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

(18)

hanya mengangkat saja bukan memberikan kewenangan di karenakan Menteri tidak berkompetensi dalam hal ini; yang mempunyai kompetensi untuk memberikan kewenangan ini adalah Kepala Negara sebagai pemegang kekuasaan Negara.

Pemberian istilah sebagai Pejabat Umum tidak hanya kepada Notaris saja, tetapi juga diberikan kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).3

Sebagai pejabat umum memberikan pelayanan dalam bidang hukum perdata dijalankan atas nama Negara dilaksanakan juga oleh organ Negara tetapi bukan dilakukan oleh eksekutif/pemerintah, legislatif ataupun yudikatif melainkan dijalankan oleh Notaris. Notaris memperoleh kewenangan melaksanakan sebagian fungsi publik dari Negara khusus di bidang hukum perdata ini dari Kepala Negara.

Bahwa Notaris sebagai Pejabat Umum ini adalah juga sebagai Pejabat Negara, bukan kepala negara sebagai kepala pemerintahan.4 Kewenangan itu tidak mungkin dijalankan sendiri oleh Kepala Negara maka tugas tersebut didelegasikan kepada Notaris.5 Notaris dengan kata lain sebagai pejabat umum adalah organ Negara yang dilengkapi kekuasaan umum berwenang menjalankan sebagian dari kekuasaan Negara untuk membuat alat bukti tertulis secara otentik dalam bidang Hukum Perdata, dengan demikian Pejabat Umum dapat diartikan kedudukannya sama dengan Pejabat Negara.6

3Pasal 1 ayat 4 dan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah.

4R, Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariel di Indonesia Suatu Penjelasan, Jakarta : Rajawali, 1982, Hal. 34.

5Ibid., Hal. 22.

6Komar Andasasmita, Notaris I, Bandung : Sumur Bandung, 1981, Hal. 45.

(19)

Kewenangan yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) tersebut diatas diuraikan secara jelas dalam pasal 15 UUJN, yang menyatakan bahwa:

“Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang- undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang”

Notaris juga memiliki kewenangan lain yaitu :

1. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

2. membukukan surat-surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

3. membuat copy dari asli surat-surat di bawah tangan berupa salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan;

4. melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;

5. memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta;

6. membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau 7. membuat akta risalah lelang.7

Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.8

7Pasal 15 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

(20)

Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang Notaris, haruslah dapat mempertanggung jawabkan setiap tindakan ataupun perbuatan yang dilakukan, hal tersebut bukan saja dilaksanakan untuk menjaga nama baiknya tetapi juga menjaga kehormatan dan nama baik dari lembaga kenotariatan sebagai wadah dari para Notaris-Notaris di seluruh Indonesia.9 Berkenaan dengan hal tersebut maka oleh UUJN, diatur Tentang kewajiban Notaris dalam Pasal 16 yang menyatakan bahwa dalam menjalankan jabatannya, Notaris berkewajiban :

1. bertindak amanah, jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum;

2. membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris;

3. mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta;

4. memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini, kecuali ada alasan untuk menolaknya;

5. merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali undang-undang menentukan lain;

6. menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta tidak dapat dimuat dalam dalam satu buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari satu buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta, Bulan, dan tahun pembuatannya pada sampul setiap buku,

7. membuat daftar dari akta protes terhadap tidak dibayar atau tidak diterimanya surat berharga;

8. membuat daftar akta yang berkenaan dengan wasiat menurut urutan waktu pembuatan akta setiap bulan;

9. mengirimkan daftar akta sebagaimana dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yang berkenaan dengan wasiat ke Daftar Pusat Wasiat Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kenotariatan

8 Pasal 15 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

9Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku I, Beberapa Pengertian Dasar Hukum Tata Usaha Negara, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1996, Hal. 68.

(21)

dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu pertama setiap bulan berikutnya;mencatat dalam reportorium tanggal pengiriman daftar wasiat pada setiap akhir bulan;

10. mempunyai cap/stempel yang memuat lambang negara Republik Indonesia dan pada ruang yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan, dan tempat kedudukan yang bersangkutan;

11. membacakan akta dihadapan penghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) orang saksi atau 4 (empat) orang saksi khusus untuk pembuatan akta wasiat di bawah tangan;

12. menerima magang calon notaris.10

Dalam praktek sehari-hari notaris harus melakukan kewenangan dan kewajiban menurut tata cara yang telah ditetapkan dan diatur didalam Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang jabatan Notaris serta peraturan-peraturan yang diatus didalam Kode Etik Notaris dan peraturan-peraturan yang lain yang mengatur mengenai tata kerja notaris.

Notaris dalam melaksanakan tugas-tugas dan kewenangannya harus mematuhi segala ketetapan dan aturan yang telah ditetapkan di dalam Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang ditetapkan oleh Ikatan Notaris Indonesia. Terkadang Notaris dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan maupun diatur didalam Kode Etik Notaris, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan Undang-

10 Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

(22)

undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. diawasi dan dibina oleh Majelis Pengawas Notaris.11

Notaris dihadirkan untuk melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkan alat bukti berupa akta otentik sesuai permintaan kepada Notaris sehingga tanpa adanya masyarakat yang membutuhkan Notaris, maka Notaris tidak ada gunanya. Meskipun demikian tidak berarti dengan bergantinya instansi yang melakukan pengawasan Notaris tidak akan terjadi, pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Notaris, karena meskipun pengawasan yang dilakukan Majelis Pengawas Notaris, ketatnya pengawasan yang dilakukan Majelis Pengawas Notaris, tidak mudah melakukan pengawasan tersebut. Hal ini kembali kepada Notaris sendiri dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab dalam tugas jabatannya mengikuti atau berdasarkan aturan hukum yang berlaku.12

Sebelum berlakunya UUJN, pengawasan, pemeriksaan dan penjatuhan sanksi terhadap Notaris dilakukan oleh badan peradilan yang ada pada waktu itu, sebagaimana pernah diatur dalam pasal 140 Reglement op de Rechtelijke Organisatie en Het Der Justitie (Sblt. 1847 No. 23), pasal 96 Reglement Buitengewestern, pasal 3 Ordonasntie Buitengerechtelijke Verrichtingen- Lembaran Negara 1946 Nomor 135, dan Pasal 50 PJN, kemudian pengawasan terhadap Notaris dilakukan di Peradilan Umum dan Mahkamah Agung sebagaimana tersebut dalam Pasal 32 dan 54 Undang-

11Habib Adjie, Hukum Notariat di Indonesia-Tafsiran Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Bandung : Refika Aditama, 2008, Hal. 24.

12Husni Thamrin, Pembuatan Akta Pertanahan oleh Notaris, Yogyakarta : Laksbang Pressindo, 2010, Hal. 54.

(23)

Undang Nomor 13 Tahun 1965 Tentang Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Mahkamah Agung. Kemudian dibuat pula Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1984 Tentang Cara Pengawasan Terhadap Notaris, Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman Nomor KMA/006/SKB/VII/1987 Tentang Cara Pengawasan Penindakan dan Pembelaan Diri Notaris, dan terakhir dalam pasal 54 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2004.13

Di dalam ketentuan Pasal 67 sampai dengan Pasal 81 Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN) terdapat sarana kaidah-kaidah hukum untuk mengawasi Notaris yang meliputi perilaku Notaris dan pelaksanaan jabatan Notaris.

Dalam Pasal 67 Undang-Undang Jabatan Notaris ditentukan bahwa yang melakukan pengawasan terhadap Notaris adalah Menteri, dalam melaksanakan pengawasan atas Notaris, Menteri membentuk Majelis Pengawas, Majelis Pengawas berjumlah sembilan orang yang terdiri dari tiga orang Pemerintahan, tiga orang dari Organisasi Notaris dan ahli atau akademisi, dalam hal suatu daerah tidak terdapat unsur instansi pemerintah maka keanggotaan Majelis Pengawas dari unsur lain yang ditunjuk oleh Menteri, Pengawasan yang dilakukan oleh Menteri meliputi perilaku Notaris dan pelaksanaan Jabatan Notaris, ketentuan mengenai pengawasan juga berlaku bagi Notaris pengganti dan Pejabat Sementara Notaris.

Kehadiran institusi Notaris di Indonesia perlu dilakukan pengawasan oleh pemerintah. Adapun yang merupakan tujuan dari pengawasan agar para Notaris

13Habib Adjie, Opcit., Hal. 169-170.

(24)

ketika menjalankan tugas jabatannya memenuhi semua persyaratan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas jabatan Notaris, demi untuk pengaman kepentingan masyarakat, karena Notaris diangkat oleh pemerintah, bukan untuk kepentingan diri Notaris sendiri melainkan untuk kepentingan masyarakat yang dilayaninya.

Dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai pejabat umum, tidak jarang Notaris berurusan dengan proses hukum. Pada proses hukum ini Notaris harus memberikan keterangan dan kesaksian menyangkut isi akta yang dibuatnya.

Dengan diletakkannya tanggung jawab secara hukum dan etika kepada Notaris, maka kesalahan yang sering terjadi pada Notaris lebih banyak disebabkan oleh keteledoran Notaris tersebut, karena hal tersebut tidak mengindahkan aturan hukum dan nilai-nilai etika.

Sebagai konsekuensi logis seiring dengan adanya tanggung jawab Notaris kepada masyarakat, maka haruslah dijamin adanya pengawasan dan pembinaan terus menerus agar Notaris selalu sesuai dengan kaidah hukum yang mendasari kewenangannya dan dapat terhindar dari penyalahgunaan kewenangan atau kepercayaan yang diberikan. Agar nilai-nilai etika dan hukum yang seharusnya dijunjung tinggi oleh Notaris dapat berjalan sesuai undang- undang yang ada, maka sangat diperlukan adanya pengawasan.

Adapun tujuan pengawasan Notaris adalah memenuhi persyaratan-persyaratan dan menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam perundang- undangan yang berlaku demi pengaman kepentingan masyarakat umum, sedangkan yang menjadi tugas pokok pengawasan Notaris adalah agar segala hak dan

(25)

kewenangan maupun kewajiban yang diberikan kepada Notaris dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang diberikan oleh peraturan dasar yang bersangkutan, senantiasa dilakukan di atas jalur yang telah ditentukan bukan saja jalur hukum tetapi juga atas dasar moral dan etika profesi demi terjaminnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat.

Dalam praktek Majelis Pengawas Daerah (MPD), sejak diberlakukannya UU No.30 tahun 2004 tentang UUJN, dan implementasinya dalam Peraturan menteri Hukum dan HAM RI, banyak permasalahan/hambatan yang terjadi, antara lain:

1. Belum samanya persepsi di dalam menterjemahkan UUJN, khususnya Permenkumham, baik antara MPD yang satu dengan yang lain, juga antara sesama anggota MPD (9 orang).

2. Masih minimnya pengetahuan Para penyidik, dalam kaitan dengan akta notaris / akta otentik, maupun dalam kaitannya dengan peraturan yang terkait dengan jabatan/profesi Notaris.14

Untuk itulah kedepan hal tersebut harus segera diatasi, demi adanya kepastian, kemanfaatan, dan keadilan hukum, khususnya di dalam pelaksanaan Pasal 66 UUJN tersebut.

Wewenang MPD diatur dalam UUJN, Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004, dan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10 Tahun 2004. Dalam Pasal 66 UUJN diatur mengenai wewenang MPD yang berkaitan dengan :

1) Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum atau hakim dengan persetujuan MPD berwenang:

14 Syafran Sofyan, PERAN MPD (Majelis Pengawas Daerah Notaris) ADALAH KHUSUS, http://www.jimlyschool.com/read/news/355/peran-mpd-majelis-pengawas-daerah-notaris-adalah- khusus/, diakses tanggal 7 Mei 2017

(26)

a. Mengambil fotocopy Minuta Akta dan surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris.

b. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.

2) Pengambilan fotocopy Minuta Akta atau surat - surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibuat berita acara penyerahan.

MPD dapat tidak menyetujui Penyidik, Penuntut Umum atau Hakim untuk : a) Mengambil fotocopy Minuta Akta dan surat-surat yang dilekatkan pada

Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam Penyimpanan Notaris.

b) Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris.

Wewenang MPD dalam mengatur mengenai pemeriksaan terhadap Notaris yang dilakukan oleh sebuah Tim Pemeriksa, yaitu :15

1. Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh Tim Pemeriksa yang terdiri atas 3 (tiga) orang anggota dari masing-masing unsur yang dibentuk oleh MPD yang dibantu oleh 1 (satu) orang sekretaris;

2. Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menolak untuk memeriksa Notaris yang mempunyai hubungan perkawinan atau hubungan darah lurus ke samping dengan derajat ketiga dengan Notaris;

3. Dalam hal Tim Pemeriksa mempunyai hubungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Ketua MPD menunjuk penggantinya.

15 Pasal 16 Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja, dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris

(27)

Mekanisme pengawasan yang dilakukan secara terus menerus terhadap Notaris di dalam menjalankan tugas dan jabatannya sekarang dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang No. 2 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- Undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, dan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10 Tahun 2004 Tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Pada awalnya pengawasan Notaris berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman, bahwa Departemen Kehakiman mempunyai otoritas terhadap organisasi, administrasi dan finansial pengadilan, termasuk di dalamnya pengawasan terhadap Notaris. Dalam Bab II Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Tahun 1985 dimana disebutkan tentang ruang lingkup pengawasan Notaris, yaitu :

Pasal 2 ayat (1) berbunyi :

“Pelaksanaan pengawasan sehari-hari atas para Notaris dan akta-aktanya dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri setempat dan selanjutnya secara hirarkhis dilakukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi, Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman”.

Ayat (2) berbunyi :

“Pengawasan tersebut ayat (1) dilakukan sejajar dengan pengawasan menurut jalur justisial yang telah diatur dalam peraturan Jabatan Notaris dan peraturan perundang-undangan lainnya sepanjang mengenai penyelenggaraan tugas tugas Notaris.

Ayat (3) berbunyi :

Pengawasan tersebut ayat (1) bersifat membimbing dan membina yang diantaranya mewujudkan dengan diadakannya pertemuan-pertemuan berkala oleh Ketua Pengadilan Negeri dengan para Notaris atau organisasi profesi Notaris di daerahnya”.

(28)

Ayat (4) berbunyi :

“Para Ketua Pengadilan dari lain lingkungan peradilan membantu dalam pengawasan tersebut ayat (1) dengan menyampaikan hal-hal yang perlu kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan Notaris yang bersangkutan untuk ditangani.

Pengawasan terhadap Notaris sangat penting bagi kehidupan masyarakat.

Dalam menjalankan tugasnya, Notaris dituntut untuk meningkatkan profesionalisme dan kualitas kerjanya, sehingga dapat memberikan jaminan kepastian dan perlindungan hukum bagi klien dan masyarakat luas. Jumlah Notaris yang semakin bertambah tiap tahunnya, mengakibatkan semakin ketatnya persaingan Notaris untuk bersikap professional dan meningkatkan kualitas dirinya.

Pelaksanaan tugas seorang Notaris juga diwarnai dengan beragam kesalahan yang pada akhirnya akan menimbulkan pelanggaran sehingga merugikan banyak pihak, beragam pelanggaran tersebut dapat terjadi baik sengaja maupun tidak.

Pelanggaran itu diantaranya adalah keberpihakan Notaris terhadap satu pihak, praktik Notaris diluar wilayah yuridiksi Notaris tersebut, ikut mempromosikan sebuah kegiatan komersil, atau menjelek-jelekkan Notaris lain. Disadari ataupun tidak, pelanggaran-pelanggaran tersebut kerap terjadi dan tentu saja ada pihak-pihak yang dirugikan dari pelanggaran-pelanggaran tersebut. Pihak yang biasanya sering dirugikan adalah klien dari Notaris itu sendiri.16

Banyak diterimanya laporan-laporan oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD) mengenai pelanggaran Notaris dan masyarakat. Setiap laporan yang diterima, Majelis

16Ira Koesoemawati dan Yunirman, Kenotariatan, cetakan ke 1, Jakarta : Raih Asa Sukses, 2009, Hal. 64.

(29)

Pengawas daerah (MPD) tidak langsung menyerahkan laporan tersebut kepada Majelis Pengawas Wilayah (MPW). Majelis Pengawas Daerah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu, apakah laporan ini perlu untuk ditindaklanjuti, membuat Berita Acara yang berupa pemeriksaan terlapor dan pelaporan.

Pada saat seorang notaris melakukan kesalahan-kesalahan yang menyangkut profesionalitasnya, maka satu-satunya institusi yang berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya adalah Peradilan Profesi Notaris, yang dijalankan oleh Majelis Pengawas Notaris secara berjenjang. Pembentukan Majelis Pengawas Notaris ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan hukum bagi masyarakat pengguna jasa notaris.

Demikian juga halnya dengan notaris-notaris yang berada di Kota Medan yang dalam melaksanakan tugasnya sebagai pejabat umum harus mematuhi aturan- aturan yang ada, namun tidak menutup kemungkinan bahwa notaris-notaris di Kota Medan juga dapat melakukan pelanggaran terhadap peraturan-peraturan yang ada, sehingga tetap diperlukan adanya pengawasan terhadap notaris-notaris tersebut.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tertarik untuk dilakukan penelitian dengan judul “PERANAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH NOTARIS DALAM MENCEGAH TERJADINYA PERBUATAN MELAWAN HUKUM OLEH NOTARIS DI KOTA MEDAN”.

(30)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dalam penulisan tesis ini yang menjadi pokok permasalahan di atas adalah :

1. Bagaimana mekanisme pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD)?

2. Apa saja bentuk-bentuk pelanggaran oleh Notaris yang termasuk dalam pengawasan Majelis Pengawas Daerah (MPD)?

3. Bagaimana peran Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam melakukan pengawasan terhadap perbuatan Notaris yang bertentangan dengan Undang- Undang Jabatan Notaris?

`

C. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan tersebut diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan tesis ini adalah :

1. Untuk mengetahui mekanisme pengawasan Notaris oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD).

2. Untuk mengetahui bentuk-bentuk pelanggaran Notaris yang termasuk dalam pengawasan Majelis Pengawas Daerah (MPD).

3. Untuk mengetahui peran Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam melakukan pengawasan terhadap perbuatan Notaris yang bertentangan dengan Undang- Undang Jabatan Notaris.

(31)

D. Manfaat penelitian

Dari pembahasan permasalahan, kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis yaitu :

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam bentuk sumbang pemikiran untuk penelitian lanjutan, baik sebagai bahan awal maupun sebagai bahan perbandingan untuk penelitian yang lebih luas yang berhubungan dengan peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris dalam melakukan pengawasan terhadap perbuatan melawan hukum oleh Notaris.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah pengetahuan dibidang hukum terkait persoalan peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris dalam pengawasan terhadap perbuatan melawan hukum oleh Notaris.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran sementar yang telah dilakukan pada perpustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara dan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, belum ada penelitian yang dilakukan dengan judul

“Peranan Majelis Pengawas Daerah Notaris dalam Mencegah Terjadinya Perbuatan Melawan Hukum oleh Notaris”. Beberapa penelitian yang menyangkut Tentang Majelis Pengawas Daerah, diantaranya :

(32)

1. Penelitian dengan judul “Pelaksanaan Kewenangan Majelis Pengawas Daerah Rangka Pembinaan dan Pengawasan terhadap Notaris di Kota Medan” oleh Melky S. Pardede, Nim. 137011020

2. Penelitian dengan judul “Perbandingan Peranan Dewan Kehormatan dengan Majelis Pengawas Notaris dalam Melakukan Pengawasan Setelah Dikeluarkannya Undang-Undang No. 30 tahun 2004” oleh T. Muzakkar. Nim.

067011095.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

Teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis artinya mendudukkan masalah penelitian yang telah dirumuskan di dalam kerangka teoritis yang relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai sesuatu sektor tertentu dari sebuah disiplin ilmiah.17

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis si penulis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.18 Ilmu teori menempati kedudukan yang sangat penting, karena teori memberikan sarana untuk dapat merangkum serta memahami masalah yang dibicarakan secara lebih baik. Hal – hal semula yang

17Made Wiratha, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Edisi 1, Yogyakarta:

Andi, 2006, Hal. 6.

18M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung : Mandar Maju, 1994, Hal. 80.

(33)

tampak tersebar dan berdiri sendiri dapat disatukan dan ditunjukkan kaitannya satu sama lain secara lebih bermakna. Teori dengan demikian memberi penjelasan dengan cara mengorganisasikan dan mensistematisasikan yang dibicarakan.19 Oleh karena itu, teori itu bukanlah pengetahuan yang sudah pasti, tetapi harus dianggap sebagai petunjuk analisis dan hasil penelitian yang dilakukan.20

Teori hukum pada hakikatnya merupakan suatu keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan berkenaan dengan sistem konseptual aturan – aturan hukum dan putusan – putusan hukum dan sistem tersebut untuk sebagian penting dipositifkan.

Defenisi tersebut terlebih dahulu harus memperhatikan makna ganda dalam istilah teori hukum.21 Dalam defenisi diatas muncul sebagai produk sebab keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan ini adalah hasil kegiatan teoristik bidang hukum.

Artinya fokus perhatian diarahkan pada kegiatan penelitian teoristik bidang hukum sendiri, bukan pada hasil kegiatan – kegiatan itu, perkataan teori memiliki arti, pertama teori dapat dipandang sebagai suatu proses atau aktifitas, kedua teori sebagai produk atau hasil aktifitas itu dan hasil tersebut terdiri atas suatu keseluruhan pernyataan yang saling berkaitan Tentang suatu objek tertentu.22 Akan tetapi yang jelas dalam dunia apapun sangat bermanfaat untuk mengembangkan ilmu yang

19Khudzaifah Dimiyati, Teorisasi Hukum Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia1945-1990,Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2004, Hal. 194.

20Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999, Hal. 235.

21SP. Wasis, Pengantar Ilmu Hukum, Cetakan ke 1, Malang : UMM Press, 2002. Hal. 43

22Ibid, Hal. 54.

(34)

bersangkutan. Selanjutnya Soerjono Soekanto menyatakan kegunaan teori paling sedikit mencakup hal – hal: 23

1. Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.

2. Teori sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta.

Membina struktur konsep serta memperkembangkan defenisi – defenisi.

3. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar dari pada hal – hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti.

4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab – sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin fakta – fakta tersebut akan timbul lagi pada masa mendatang.

5. Teori memberikan petunuk – petunjuk terhadap kekurangan – kekurangan pada pengetahuan penelitian.

Dengan demikian apabila dikaitkan dengan judul penelitian ini, maka kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah “Teori Kewenangan”

yang didukung oleh “Teori Kepastian”. Istilah Teori Kewenangan berasal dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu authority of theory, istilah yang digunakan dalam bahasa Belanda, yaitu theorie van het gezag, istilah yang digunakan dalam bahasa Jerman, yaitu theorie der autoritat. Teori Kewenangan berasal dari dua suku kata, yaitu teori dan kewenangan.24 Menurut H.D. Stoud yang dikutip oleh Ridwan HR, menyajikan pengertian Tentang kewenangan. Kewenangan adalah keseluruhan aturan-aturan yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan wewenang pemerintahan oleh subjek hukum publik didalam hubungan hukum publik.25 Ada dua

23Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Cetakan ke 1, Surabaya : Fakultas Hukum Universitas Airlangga, 2005, Hal. 45.

24Ibid

25Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2008, Hal. 110.

(35)

unsur yang terkandung dalam pengertian konsep kewenangan yang disajikan oleh H.D. Stoud, yaitu:

1. Adanya aturan-aturan hukum ;dan 2. Sifat hubungan hukum26

Sebelum kewenangan itu dilimpahkan kepada institusi yang yang melaksanakannya, maka terlebih dahulu harus ditentukan dalam peraturan perundang- undangan, apakah dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah maupun aturan yang lebih rendah tingkatnya. Sifat hubungan hukum adalah sifat yang berkaitan dan mempunyai keterkaitan atau ikatan atau pertalian dengan hukum.

Hubungan hukumnya ada yang bersifat publik dan privat.

Pengertian wewenang menurut Ateng Syafrudin ada perbedaan antara kewenangan dan wewenang. Kita harus membedakan antara kewenangan (authority, gezag) dengan wewenang (copetence, bevogheid). Kewenangan adalah apa yang disebut kekuasaan formal, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan yang diberikan oleh undang-undang, sedangkan wewenang hanya mengenai suatu“onderdeel”

(bagian) tertentu saja dari kewenangan. 27 Di dalam kewenangan terdapat wewenang- wewenang (rechtsbevoegdhenden). Wewenang merupakan lingkup tindakan hukum publik, lingkup wewenang pemerintahan, tidak hanya meliputi wewenang membuat keputusan pemerintah (bestur), tetapi meliputi wewenang dalam rangka pelaksanaan

26Ibid, Hal. 184.

27Ateng Syarifuddin, Menuju Penyelenggaraan pemerintahan Negara yang Bersih dan Bertanggung Jawab, Pro Justisia Edisi IV, Bandung : Universitas Parahyangan, 2000, Hal. 22.

(36)

tugas dan memberikan wewenang serta distribusi wewenang utamanya ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.28

Indroharto mengemukakan pengertian wewenang. Wewenang dalam arti yuridis adalah suatu kemampuan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menimbulkan akibat-akibat hukum.

Teori pendukung lain dalam penulisan ini digunakan Teori Kepastian, Menurut Hans Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau “Das Sollen”, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan.

Norma-norma adalah produk dan aksi manusia yang deliberatif. Undang- Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Aturan-aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum.29

Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat

28Ibid., Hal. 32.

29Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta : Kencana 2008, Hal. 158.

(37)

umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.30

Tujuan hukum yang mendekati realistis adalah kepastian hukum dan kemanfaatan hukum. Kaum Positivisme lebih menekankan pada kepastian hukum, sedangkan Kaum Fungsionalis mengutamakan kemanfaatan hukum, dan sekiranya dapat dikemukakan bahwa “summum ius, summa injuria, summa lex, summa crux”

yang artinya adalah hukum yang keras dapat melukai, kecuali keadilan yang dapat menolongnya, dengan demikian kendatipun keadilan bukan merupakan tujuan hukum satu-satunya akan tetapi tujuan hukum yang paling substantif adalah keadilan.31

Kepastian hukum ini berasal dari ajaran Yuridis-Dogmatik yang didasarkan pada aliran pemikiran positivistis di dunia hukum, yang cenderung melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom, yang mandiri, karena bagi penganut pemikiran ini, hukum tak lain hanya kumpulan aturan. Bagi penganut aliran ini, tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin terwujudnya kepastian hukum. Kepastian hukum itu diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang hanya membuat suatu aturan hukum yang bersifat umum.32 Sifat umum dari aturan-aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemanfaatan, melainkan semata-mata untuk kepastian.33

30Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari dan Memahami Hukum, Yogyakarta: Laksbang Pressindo, 2010, Hal. 59.

31Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Bandung: Penerbit Citra Aditya Bakti, 1999, Hal. 23

32R.,Soeroso,Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta : Sinar Grafika, 2013, Hal. 34.

33 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis, Jakarta: Toko Gunung Agung, 2002, Hal. 82-83

(38)

Kepastian hukum yang dimaksud untuk memberikan kepastian aturan-aturan bagi para notaries dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan peraturan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 perubahan atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris dan peraturan-peraturan lain yang dibentuk oleh perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia, namun dalam hal penyelenggaraan kode etik serta peraturan – peraturan lain yang dibentuk oleh lembaga Ikatan Notaris Indonesia dan diawasi serta dibina oleh Majelis Pengawas Daerah di masing-masing wilayah kota atau kabupaten guna mengawasi agar tidak terjadinya pelanggaran yang dilakukan oleh para Notaris.

2. Konsepsi

Dalam bahasa latin, maka kata conception (didalam bahasa Belanda: begrip) atau pengertian merupakan hal yang dimengerti. Pengertian bukanlah “defenisi” yang didalam bahasalatin adalah definition. Defenisi tersebut berarti perumusan (didalam bahasa Belanda: omsehrijving) yang pada hakikatnya merupakan suatu bentukungkapan pengertian disamping aneka bentuk lain yang dikenal didalam epistemologi atau teori ilmu pengetahuan.34 Dalam kerangka konsepsional diungkap beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum.35

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting yang dapat diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari yang abstrak menjadi suatu yang kongkrit, yang

34Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1995, Hal. 6.

35Ibid, Hal.8.

(39)

disebut dengan operational definition. Pentingnya defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua ( du bius ) dari suatu istilah yang dipakai.36

Selanjutnya konsep atau pengertian merupakan unsur pokok dari suatu penelitian. Jika masalah dan kerangka konsep teoritis sudah jelas, biasanya sudah diketahui pula fakta mengenai gejala – gejala yang menjadi pokok pengertian, dan suatu konsep sebenarnya adalah defenisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu maka konsep merupakan defenisi dan apa yang perlu diamati, konsep menentukan antara variabel – variabel yang ingin menentukan adanya hubungan empiris.37 Dalam penelitian ini harus didefenisikan mengenai konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sebagai berikut :

Peranan adalah orang yang menjadi atau melakukan sesuatu yang khas, atau

“perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat”. Jika ditujukan pada hal yang bersifat kolektif di dalam masyarakat, seperti himpunan, gerombolan, atau organisasi, maka peranan berarti “perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh organisasi yang berkedudukan di dalam sebuah masyarakat”.

Majelis Pengawas Daerah adalah suatu badan yang melaksanakan pengawasan terhadap Notaris, supaya dalam menjalankan tugas dan jabatannya tidak menyimpang dari kewenangannya serta tidak melanggar peraturan perUndang- undangan yang berlaku.

36Ibid, Hal. 8.

37J. J. H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1999.

(40)

Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daad) adalah tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.38 Perbuatan melawan hukum perbuatan yang dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat, maka tersebut dapat dijatuhi hukuman pidana.39

Menurut Pasal 1365 KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan perbuatan melanggar hukum adalah perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan oleh seseorang yang karena salahnya telah menimbulkan kerugian bagi orang lain. Ilmu hukum mengenal 3 (tiga) kategori dari perbuatan melawan hukum, yaitu :40

a. Perbuatan melawan hukum karena kesengajaan

b. Perbuatan melawan hukum tanpa kesalahan (tanpa unsur kesengajaan maupun kelalaian)

c. Perbuatan melawan hukum karena kelalaian.

Abdulkadir Muhammad berpendapat, bahwa perbuatan melawan hukum dalam arti sempit hanya mencakup Pasal 1365 KUHPerdata, dalam arti pengertian tersebut dilakukan secara terpisah antara kedua Pasal tersebut. Sedangkan pengertian perbuatan melawan hukum dalam arti luas adalah merupakan penggabungan dari kedua Pasal tersebut. Lebih jelasnya pendapat tersebut adalah :41

38Pasal 1365 Kitab Undang-Undang hukum Perdata.

39Andi Hamzah, Pengantar dalam Hukum Pidana Indonesia, Jakarta: Yarsif Watampone, 2000, Hal. 45.

40 Munir Fuady I, Perbandingan Hukum Perdata, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hal. 3

41 Abdulkadir Muhammad., Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, 2002, hal.142

(41)

Perbuatan dalam arti "perbuatan melawan hukum" meliputi perbuatan positif, yang dalam bahasa asli bahasa Belanda "daad" (Pasal 1365) dan perbuatan negatif, yang dalam bahasa asli bahasa Belanda "nataligheid" (kelalaian) atau

"onvoorzigtgheid" (kurang hati-hati) seperti ditentukan dalam Pasal 1365 KUH.

Perdata.

Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.42 Notaris merupakan pejabat publik yang menjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada masyarakat, guna memberi perlindungan dan jaminan hukum demi tercapainya kepastian hukum dalam masyarakat. Pasal 2 UUJN mengatakan bahwa Notaris diangkat oleh Menteri yang membidangi Kenotariatan dalam hal ini adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Fungsi Menteri di sini hanya mengangkat saja bukan memberikan kewenangan di karenakan Menteri tidak berkompetensi dalam hal ini;

yang mempunyai kompetensi untuk memberikan kewenangan ini adalah Kepala Negara sebagai pemegang kekuasaan Negara.

Notaris dapat dikualifikasikan sebagai pejabat umum (Openbare Ambtenaren) yang diserahi tugas dalam membuat akta otentik untuk kepentingan masyarakat.

Pemberian kualifikasi Notaris sebagai pejabat umum berkaitan dengan wewenang Notaris sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 15 ayat (1) UUJN-P, bahwa Notaris berwenang membuat akta otentik, sepanjang kewenangan tersebut tidak menjadi kewenangan pejabat atau orang lain.

42Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris.

(42)

Memperhatikan uraian Pasal 1 Undang-Undang Jabatan Notaris, dapat dijelaskan bahwa notaris adalah pejabat umum, berwenang membuat akta, otentik, ditentukan oleh undang-undang. Tugas notaris adalah mengkonstantir hubungan hukum antara para pihak dalam bentuk tertulis dan format tertentu, sehingga merupakan suatu akta otentik. Ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.43

G. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak harus dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan cara menganalisisnya.44 Disamping itu, maka diadakan juga pemeriksaan mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan – permasalahan yang timbul didalam gejala yang bersangkutan.

1. Jenis dan Sifat Penelitian a. Jenis Penelitian

Dalam melakukan penelitian diperlukan suatu metode yang harus tepat dan sesuai dengan jenis penelitian yang dilakukan serta harus sistematis dan konsisten.

43 Tan Thong Kie, Studi Notariat, Serba-serbi Praktek Notaris, Buku I , PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2007, Hal. 159

44 S.Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum ,Cet. ke-6, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006. Hal. 22.

(43)

Dalam melakukan penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis empiris, yang terdiri dari penelitian terhadap identifikasi hukum dan penelitian terhadap efektivitas hukum.45 Permasalahan yang diteliti mencakup bidang yuridis, yaitu peraturan- peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan tugas jabatan notaris, tugas pengawasan terhadap notaris serta termasuk di dalamnya Kode Etik Notaris.

Penelitian hukum empiris atau penelitian sosiologis yaitu penelitian hukum yang menggunakan data primer,46 yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data di lapangan. Menurut pendekatan empiris pengetahuan didasarkan atas fakta- fakta yang diperoleh dari hasil penelitian dan observasi47 penelitian-penelitian yang dilakukan didasarkan pada metode ilmiah yang merupakan bagian dari pendekatan empiris.

b. Sifat Penelitian

Metode pendekatan penelitian ini adalah bersifat deskriptif analisis yang maksudnya adalah penelitian ini diperoleh dari gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah atau keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya, sehingga bersifat sekedar mengungkapkan fakta.

45 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cet. 3 (Jakarta: UI Press, 2007), halaman 3.

46 Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1983), halaman 10.

47 Ronny Kountur, Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, (Jakarta: PPM, 2004), halaman 6.

(44)

Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.48 Atau dengan kata lain dapat dikatakan, hasil penelitian ditekankan pada memberikan gambaran secara objektif, tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diselidiki.49

Spesifikasi penelitian yang bersifat analitis bertujuan menggambarkan kenyataan-kenyataan yang ada atau realitas sosial dan menggambarkan objek yang menjadi pokok permasalahan.

2. Sumber Data

Sumber data utama dari penelitian ini adalah sumber data sekunder yang terdiri dari bahan hukum sekunder, bahan hukum primer dan bahan hukum tersier.

Data-data hukum primer meliputi wawancara langsung kepada nara sumber. Data- data hukum sekunder tersebut meliputi berbagai sumber data tertulis seperti Peraturan perundang – undangan, buku – buku ilmiah, dan sebagainya.50

Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara mempelajari berbagai macam peraturan Tentang peran Majelis Pengawas Daerah dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku melawan hukum yang dilakukan oleh Notaris. Data sekunder tersebut meliputi beberapa hal :

48 Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung Alumni, 1994), halaman 101.

49 Hadari Nabawi, Metode Penelitian Bidang Sosial. (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996).halaman. 31.

50Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta : Liberty, 1996, Hal. 14.

(45)

a. Bahan Hukum Primer

Wawancara secara mendalam (deft interview) dilakukan secara langsung kepada nara sumber yaitu dengan Majelis Pangawas Daerah Kota Medan dan notaris di Kota Medan. Dalam hal ini, mula-mula diadakan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, sehingga dapat diperoleh jawaban yang memperdalam data primer dan sekunder lainnya.

Bahan hukum primer dapat ditemukan melalui studi kepustakaan (library research) baik diperpustakaan fakultas, universitas maupun perpustakaan umum lainnya. Bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa Kitab Undang- Undang Hukum Perdata, Undang-Undang Jabatan Notaris Nomor 2 tahun 2014 perubahan Undang-Undang jabatan Notaris Nomor 30 Tahun 2004.

b. Bahan Hukum Sekunder

Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dari hasil penelaahan kepustakaan atau penelaahaan terhadap berbagai literatur atau bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah atau materi penelitian yang sering disebut sebagai bahan hukum.51 Bahan hukum sekunder merupakan bahan hukum yang isinya memperkuat atau menjelaskan bahan hukum primer.52 Bahan hukum sekunder yang digunakan berupa bahan – bahan hukum seperti bacaan hukum, hasil penelitian hukum, jurnal- jurnal yang memberikan penjelasan mengenai bahan primer berupa teks, artikel dan

51 Fajat dan Yulianto, Dualisme Penelitan Hukum.Normatif dan Empiris.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010) halaman 34.

52 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat), Op. Cit., hal. 13-14.

(46)

jurnal yang berhubungan dengan peran Majelis Pengawas Daerah dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku melawan hukum oleh Notaris.

c. Bahan Hukum Tersier

Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang dijadikan pegangan atau acuan bagi kelancaran proses penelitian, yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum atau bahan – bahan yang dapat memberikan sejumlah informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensiklopedia dan lain sebagainya. Bahan hukum tersier biasanya memberikan informasi, petunujuk dan keterangan terhadap data primer dan data sekunder.53

3. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain:

a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).

Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi- konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.54

53Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia, UI Press, 1986, Hal. 44.

54 Muis, Pedoman Penulisan Skripsi Dan Metode Penelitian Hukum, (Medan: Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara , 1990), halaman 48.

(47)

Sedangkan alat pengumpulan datanya adalah:

1) Pedoman Wawancara.

Pengumpulan data selain secara pengamatan dapat diperoleh dengan mengadakan wawancara informasi diperoleh langsung dari responden atau informasi dengan cara tatap muka. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan panduan wawancara. Sehingga penelitian ini berusaha menggali informasi dari nara sumber yang berkaitan dengan penelitian ini.

Yang menjadi nara sumber dalam penelitian ini adalah Majelis Pengawas Daerah Kota Medan, notaris di Kota Medan.

2) Studi Kepustakaan

Mengumpulkan data sekunder yang terkait dengan permasalahan yang diajukan dengan cara mempelajari buku-buku, hasil penelitian dan dokumen- dokumen perundang-undangan yang terkait selanjutnya digunakan untuk kerangka teoritis pada penelitian lapangan.

b. Penelitian Lapangan (Field Research).

Studi lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan atau menggali informasi- informasi dan catatan lapangan yang diperlukan untuk menginventarisir hal-hal baru yang terdapat dilapangan yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Meskipun beberapa kajian memberikan bukti bahwasanya variabel kerja seperti kepuasan kerja, komitmen, stres kerja dan persepsi politik

Adapun usaha yang dapat dilakukan dalam menurunkan kadar TSS diantaranya adalah sebagai berikut : Kadar TSS ( Total Suspended Solid ) awal dan penurunannya setelah

Serta semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu sehingga mengantarkan penulis untuk menyelesaikan Skripsi ini.. Penulis

Terbukti dengan munculnya penelitian I Nyoman Kusuma Wardana bertajuk perancangan sistem pakar untuk diagnosa penyakit mulut dan gigi menggunakan bahasa pemrograman CLIPS

Dalam konteks ini al-Nursi (2007) melihat bahawa sakit dapat mengajar erti hidup bermasyarakat dan di samping dapat menghapuskan sifat ego dalam diri seseorang kerana

FE istraživanje tlačnih elemenata izvedenih kutnicima s jednakim krakovima od austenitnog toplo valjanog nehrđajućeg čelika provedeno je na temelju eksperimentalnog nelinearnog

Diantara sebab kesuksesannya adalah; sifat jujur dalam jualbeli, sungguh-sungguh dan jauh dari permainan, menjaga waktu, percaya kepada Allah, percaya

E-modul interaktif berbasis Android yang dikembangkan ini telah divalidasi dan memenuhi kriteria media pembelajaran yang baik dan layak untuk digunakan dalam