Kegiatan usaha Bank Mandiri selama tahun 2001 dan 2002 sebagian besar didanai oleh kombinasi penerimaan dari pendapatan bunga atas Obligasi Pemerintah, penjualan Obligasi Pemerintah, dan peningkatan jumlah simpanan. Selain itu, Bank Mandiri telah memanfaatkan pasar uang antarbank, dan pinjaman dari pihak ketiga serta menghimpun dana melalui penerbitan surat hutang. Bank Mandiri juga mempertahankan cadangan likuiditas, yang biasanya berjumlah lebih besar daripada Giro Wajib Minimum Bank Indonesia, untuk mengan-tisipasi penarikan simpanan dalam jumlah besar oleh nasabah.
Bank Mandiri menggunakan sebagian besar dananya untuk pembayaran beban bunga atas dana pihak ketiga dan pinjaman yang diterima, perpanjangan kredit yang diberikan, dan pembayaran kembali pinjaman yang diterima, penempatan pada pasar uang antarbank, dan pembayaran biaya operasional (termasuk biaya gaji dan tunjangan, serta biaya umum dan administrasi).
Bank Mandiri juga menggunakan portofolio Obligasi Pemerintah untuk mendukung likuiditas dan meningkatkan Aktiva produktif melalui collateral fund borrowing, transaksi penjualan dengan janji dibeli kembali serta outright sales. Bank Mandiri telah menjual Obligasi Pemerintah dalam jumlah cukup signifikan kepada bank-bank lain pada tahun 2001. Pada tahun 2002, Bank Mandiri menjual outrightObligasi Pemerintah sebesar Rp1.125 miliar (USD126 juta), menjual Obligasi Pemerintah dengan janji untuk dibeli kembali sebesar Rp980 miliar (USD109 juta) pada tanggal 31 Januari 2004, pembayaran sehubungan dengan pembelian kredit dari BPPN sebesar Rp2.902 miliar (USD324 juta) dan menyerahkan Obligasi Pemerintah sebesar Rp2.520 miliar (USD282 juta) kepada BPPN sehubungan dengan
penyelesaian kredit hapusbuku dibawah Rp5 miliar dan yang dihapusbukukan sebelum merger kepada BPPN.
Arus kas dari dana pihak ketiga juga secara signifikan mempengaruhi posisi likuiditas Bank. Pada tahun 2002, Bank Mandiri memiliki arus kas masuk dari peningkatan jumlah tabungan dan deposito berjangka, meskipun mengalami arus kas keluar dari giro. Sehubungan dengan strategi Bank Mandiri untuk mengurangi kelebihan likuiditasnya dan meningkatkan
funding mix, pada semester kedua tahun 2002, Bank Mandiri menurunkan suku bunga atas deposito berjangka. Hal ini menyebabkan menurunnya deposito berjangka pada akhir tahun 2002. Pada tahun 2001 khususnya kuartal terakhir (dimana terdapat arus kas masuk ke dalam rekening deposito berjangka sebesar Rp18.961 miliar, termasuk simpanan dari Bank lain), Bank Mandiri menerima arus kas masuk ke dalam rekening dana pihak ketiga, khususnya deposito berjangka. Sehingga per 31 Desember 2001 Bank Mandiri mempunyai kelebihan likuiditas yang signifikan yang kemudian ditempatkan pada pasar uang antarbank dan Bank Indonesia. Bank Mandiri yakin arus kas masuk dan keluar yang signifikan dalam akun deposito yang berperan pada volatilitas arus kas Bank terjadi karena kepekaan pasar terhadap suku bunga di
Indonesia, khususnya di antara nasabah dari lembaga dan perusahaan milik Pemerintah (termasuk BUMN) yang merupakan 42,5% dari dana pihak ketiga (tidak termasuk simpanan dari bank lain) per 31 Desember 2002 dan 46,2% per 31 Desember 2001.
Informasi mengenai posisi likuiditas Bank Mandiri per 31 Desember 2001 dan 2002 disajikan dalam tabel berikut:
Catatan:
(1) Aktiva lancar terdiri atas kas, giro pada Bank Indonesia, giro pada bank-bank lain, penempatan pada Bank Indonesia , bank dan lembaga keuangan lain, serta surat-surat berharga (tidak termasuk Obligasi Pemerintah) dalam portofolio diperdagangkan dan tersedia untuk dijual.
(2) Simpanan tidak termasuk simpanan dari bank lain.
31 Desember
2001 2002 2002
(Dalam miliar Rupiah , kecuali dalam persentase) (USD juta)
Aktiva Lancar (1) 48.395 28.350 3.198 Obligasi Pemerintah yang dimiliki untuk diperdagangkan
dan tersedia untuk dijual 39.185 40.875 4.567 Rasio kredit terhadap simpanan (2) 25,4% 35,5%
Aktiva lancar sebagai persentase dari jumlah aktiva 18,5% 11,4% Aktiva lancar terhadap simpanan (2) 25,4% 15,5%
Laporan Tahunan Ringkas PT Bank Mandiri (Persero) Tahun 2002 99 Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Pada tahun 2002 arus kas masuk bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp7.699 miliar (USD860 juta) dihasilkan terutama dari pendapatan bunga sebesar Rp32.496 miliar (USD3.631 juta), di mana Obligasi Pemerintah menyumbangkan sebesar Rp22.268 miliar (USD2.488 juta). Arus kas masuk bersih juga dipengaruhi oleh penurunan penempatan pada Bank lain sebesar Rp20.706 miliar (USD2.314 juta) dan peningkatan tabungan sebesar Rp7.621 miliar (USD852 juta), yang diimbangi dengan arus kas keluar dari beban bunga sebesar Rp25.337 miliar (USD2.831 juta), dan pemberian kredit sebesar Rp16.938 miliar (USD1.893 juta) serta penurunan giro dan deposito berjangka masing-masing sebesar Rp4.971 miliar (USD555 juta) dan Rp5.816 miliar (USD650 juta).
Arus kas masuk bersih dari aktivitas operasi pada tahun 2001 sebesar Rp14.042 miliar terutama disebabkan oleh penerimaan pendapatan bunga sebesar Rp31.377 miliar, di mana Obligasi Pemerintah meliputi Rp23.027 miliar, dan kenaikan simpanan sebesar Rp32.881 miliar, dimana sebesar Rp23.809 miliar berasal dari deposito berjangka. Kenaikan jumlah tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan arus kas masuk pada kuartal terakhir tahun 2001, dimana Bank Mandiri menerima simpanan sebanyak Rp18.961 miliar (termasuk simpanan dari bank lain), yang merupakan 79,8% dari peningkatan pada tahun tersebut. Kenaikan yang besar ini diakibatkan oleh program pemasaran Bank Mandiri yang bertujuan untuk menarik dana pihak ketiga dan penawaran tingkat suku bunga yang bersaing untuk produk dana pihak ketiga. Kenaikan tersebut diimbangi dengan arus kas keluar untuk pembayaran beban bunga sebesar Rp24.633 miliar, peningkatan pemberian kredit sebesar Rp14.504 miliar dan penempatan pada bank lain sebesar Rp24.382 miliar.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Arus kas keluar dari aktivitas investasi pada tahun 2002 adalah sebesar Rp738 miliar (USD82 juta) terutama berkaitan dengan peningkatan surat-surat berharga yang dikategorikan sebagai dimiliki hingga jatuh tempo (terdiri dari surat-surat berharga yang diterbitkan oleh korporasi) sebesar Rp673 miliar (USD75 juta). Di samping itu, arus kas keluar bersih dipengaruhi oleh pembelian aktiva tetap sebesar Rp347 miliar (USD39 juta). Pada tahun 2002, Bank Mandiri menjual Obligasi Pemerintah yang telah dibeli pada tahun 2001 sebesar Rp305 miliar (USD34 juta).
Arus kas keluar bersih dari aktivitas investasi pada tahun 2001 sebesar Rp1.349 miliar terutama disebabkan oleh pembelian aktiva tetap dan perlengkapan sebesar Rp755 miliar, pembelian surat-surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali sejumlah Rp305 miliar, dan sebagian besar merupakan peningkatan surat-surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo sebesar Rp269 miliar, sebagian besar SBI dari Bank Indonesia.
Sejalan dengan jatuh temponya obligasi lindung nilai, laporan arus kas telah mencer-minkan penerimaan kas dari Pemerintah atas penebusan dari Obligasi Pemerintah lindung nilai dan pembayaran kepada Pemerintah untuk penggantian Obligasi Pemerintah.
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pada tahun 2002 kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp6.773 miliar (USD757 juta) yang di antaranya digunakan untuk melunasi FRN (floating rate notes) dan FRCD (floating rate certificates of deposit) yang diterbitkan Bank Mandiri yaitu sebesar USD364 juta, termasuk di dalamnya adalah pelunasan lebih awal dari beberapa FRN yaitu sebesar USD293 juta serta pembayaran dividen sebesar Rp1.373 miliar (USD153 juta).
Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan tahun 2001 sebesar Rp14.826 miliar sebagian dipergunakan untuk melunasi pinjaman dari bank lain yaitu sebesar Rp10.685 miliar, melunasi FRN yang diterbitkan oleh Bank Mandiri sebesar USD184.5 juta, termasuk didalamnya pelunasan lebih awal yaitu sebesar USD158,5 juta dan untuk pembayaran dividen sebesar Rp1.011 miliar.
Belanja Modal
Belanja Modal konsolidasi untuk dua tahun terakhir adalah sebagai berikut:
Bank Mandiri menganggarkan belanja modal sekitar Rp966,6 miliar (USD108 juta) pada tahun 2003. Pada tahun 2003, Bank Mandiri menganggarkan sekitar Rp101 miliar (USD11 juta) untuk perluasan jaringan cabang dan renovasi, Rp722 miliar untuk teknologi informasi (termasuk ATM) dan Rp144 miliar untuk lain-lain seperti peralatan kantor. Per tanggal 31 Desember 2002 Bank Mandiri telah melakukan komitmen sejumlah Rp568miliar (USD63 juta), yang ditujukan terutama untuk pengadaan teknologi informasi.