BAB I PENDAHULUAN
C. Sumber Pendidikan Islam
Setiap usaha, kegiatan, dan tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak atau sumber yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia, harus mempunyai landasan kemana semua kegiatan dan semua perumusan tujuan pendidikan Islam itu dihubungkan. Landasan atau sumber tersebut terdiri dari Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang dapat dikembangkan dengan ijtihad, al maslahah mursalah, istihsan, qiyas, dan sebagainya (Daradjat, 2011: 19).
1. Al-Qur‟an
Al-Qur‟an ialah firman Allah berupa wahyu yang disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur‟an terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah
23
keimanan yang disebut aqidah, dan yang berhubungan dengan amal yang disebut syari‟ah (Daradjat, 2011: 19). Penetapan A-Qur‟an sebagai dasar dan sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat-ayat Al-Qur‟an itu sendiri, seperti firman Allah:
بٍَ َٗ
بَْْى َزَّْأ
َلَْٞيَع
َةبَتِنْىا
َّلَِإ
ََِِّٞبُتِى
ٌَُُٖى
ِٛرَّىا
اُ٘فَيَتْخا
ِِٔٞف
ًٙدُٕ َٗ
ًتََْح َز َٗ
ً َْ٘قِى
ٍَُُِْْ٘ؤُٝ
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur‟an) itu melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada
mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman”. (QS An-Nahl (16): 64).
ةبَتِم
ُٓبَْْى َزَّْأ
َلَْٞىِإ
ك َزبَبٍُ
اٗ ُسَّبَّدَِٞى
ِِٔتبَٝآ
َسَّمَرَتَِٞى َٗ
ُ٘ىُٗأ
ِةبَبْىَ ْلْا
“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu
penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat- Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai fikiran”. (QS Sad (38): 29).
Para ulama dalam menetapkan Al-Qur‟an sebagai dasar pemikiran untuk membina sistem pendidikan Islam, memberi penekanan-penekanan tersendiri untuk memperkokoh landasannya. Moh Fadhil seperti yang dikutip oleh Ali Mufron misalnya, menekankan bahwa pada hakikatnya Al-Qur‟an itu merupakan perbendaharaan yang besar untuk kebudayaan manusia, terutama bidang kerohanian. Ia pada umumnya adalah kitab pendidikan masyarakat, moril dan spriritual (Mufron, 2013: 14-15). Nilai esensi dalam Al-Qur‟an selamanya abadi dan selalu relevan, tanpa ada perubahan sama sekali. Perubahan dimungkinkan hanya menyangkut masalah interpretasi mengenai nilai-nilai instrumental dan menyangkut masalah teknik operasional. Pendidikan Islam ideal harus sepenuhnya
24
mengacu pada nilai dasar Al-Qur‟an tanpa sedikitpun menghindarinya, karena Al-Qur‟an di antaranya memuat tentang sejarah pendidikan Islam dan nilai-nilai normatif dalam pendidikan Islam (Umar, 2011: 33). Meskipun zaman terus mengalami perubahan, nilai-nilai dalam Al- Qur‟an akan tetap relevan. Kelengkapan serta kesempurnaan isi dan nilai-nilai Al-Qur‟an menjadikannya sebagai sumber landasan utama pendidikan Islam.
2. As-Sunnah
As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan, ataupun pengakuan Rasulullah SAW. Yang dimaksud dengan pengakuan Rasulullah ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan kejadian atau perbuatan tersebut berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah A-Qur‟an. Seperti Al-Qur‟an, Sunnah juga berisi aqidah dan syari‟ah. Sunnah berisi petunjuk untuk kemashlahatan hidup manusia dalam segala aspeknya, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa (Daradjat, 2011: 21-22). Sunnah menjadi sumber utama dalam kehidupan sehari- hari, termasuk juga dalam pendidikan. Hal ini didasarkan pada firman Allah:
ْدَقَى
َُبَم
ٌُْنَى
ِٜف
ِهُ٘س َز
َِّللَّا
ة َْ٘سُأ
تََْسَح
ََِِْى
َُبَم
ُ٘ج ْسَٝ
ََّللَّا
ًَ َْْ٘ٞىا َٗ
َس ِخ ْٟا
َسَمَذ َٗ
ََّللَّا
ا ًسِٞثَم
“sesungguhnya telah ada pada (diri)Rasulullah itu suri
25
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut nama Allah”. (QS Al-Ahzab (33): 21). Kemudian dalam hadist, Rasulullah bersabda:
ِِِّٔٞبَّ َتَُّْس َٗ ِ ّللَّا َةبَتِم بََِِٖب ٌُْتْنَّسَََتبٍَ ا ُّْ٘ي ِضَت َِْى َِِْٝسٍَْأ ٌُْنِْٞف ُتْمَسَت
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang mana kamu
tidak akan tersesat berpegang padanya, yaitu kitab Allah (Al-
Qur‟an) dan Sunnah Rasulullah”.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, Rasulullah sendiri menjadi pendidik utama. Fenomena ini dapat dilihat dari praktek-praktek edukatif Rasulullah itu sendiri. Pertama, beliau menggunakan rumah al Arqam ibnu Abi al Arqam untuk mendidik dan mengajar. Kedua, beliau memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar baca tulis, dan ketiga, beliau mengirim para sahabat ke daerah-daerah yang baru masuk Islam (Mufron, 2013: 17). Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa Rasulullah sangatlah memperhatikan masalah pendidikan. Sehingga setiap praktek kehidupan yang beliau lakukan tidak lepas dari upaya memberikan pendidikan.
3. Ijtihad
Ijtihad berakar dari kata jahda yang berarti al masyaqqah (yang sulit) dan badzl al wus‟i wa ath-thaqah (pengerahan kesanggupan dan kekuatan). Sa‟id At-Taftani yang dikutip oleh Bukhari Umar memberi arti ijtihad dengan tahmil al-juhdi (membawa ke arah yang membutuhkan kesungguhan), yaitu pengerahan segala kesanggupan dan kekuatan untuk memperoleh apa yang dituju sampai batas puncaknya (Umar, 2011: 45).
26
Secara sederhana ijtihad dapat dipahami dengan sebuah proses berfikir menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan syari‟at Islam untuk menetapkan sesuatu hukum syari‟at Islam dalam hal-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur‟an dan Sunnah. Ijtihad
dalam hal ini dapat meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan, tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur‟an dan Sunnah.
Namun demikian, ijtihad harus mengikuti kaidah-kaidah yang diatur oleh para mujtahid dan tidak boleh bertentangan dengan isi Al- Qur‟an dan Sunnah. Karena itu, ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yang sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah Rasulullah wafat. Ijtihad bidang pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, terasa semakin urgen dan mendesak. Tidak saja di bidang materi atau isi, melainkan juga di bidang sistem dalam artinya yang luas (Daradjat, 2011: 21). Perkembangan dan perubahan zaman menuntut adanya pembaharuan dan inovasi dalam bidang pendidikan. Karena itu, maka ijtihad dalam pendidikan sangat dibutuhkan sebagai landasan dalam membuat inovasi dan pembaharuan, sehingga perkembangan pendidikan di masa yang akan datang tidak lepas dari nilai-nilai Al-Qur‟an dan As Sunnah.