BAB I PENDAHULUAN
A. Sanksi Administrasi Secara Umum
2. Sumber-Sumber Administrasi
Sumber hukum administrasi negara merupakan segala sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mengikat dan memaksa. Apabila aturan tersebut dilanggar, maka hal tersebut akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata bagi pelanggarnya. Dan ini juga bisa juga dikatakan sebagai faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap lahirnya hukum, atau faktor yang merupakan sumber kekuatan berlakunya hukum secara formal.Artinya dimana hukum itu dapat dicari atau hakim
40 Ridwan.HR, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, UII Press Indonesia, 2002, Hal 28
dapat menemukan hukum, sehingga dasar putusannya dapat diketahui bahwa suatu peraturan tertentu mempunyai kekuatan mengikat atau berlaku.
Hukum administrasi negara mempunyai dua sumber hukum yaitu:
1. Sumber Hukum Materil
Sumber hukum Materil adalah segala sesuatu atau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi isi hukum.Termasuk di dalamnya faktor historis, faktor sosiologis/antropologis, serta faktor filosofis.41
2. Sumber Hukum Formal
Sumber hukum formal yaitu berbagai bentuk aturan hukum yang ada, fakta ini dinamakan sumber hukum dalam arti formal, karena kita hanya memandang mengenai cara dan bentuk yang melahirkan hukum positif, tanpa mempersoalkan dari mana isi peraturan hukum itu. Sumber hukum formal diartikan juga sebagai tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh kekuatan hukum.adapun sumber hukum formalnya ialah peraturan perundang-undangan, praktek administrasi negara/
hukum tidak tertulis, yurisprudensi, dan doktrin.42
Menurut SF. Marbun dan Moh.Mahfud, doktrin atau pendapat para ahli dapat menjadi sumber hukum formal hukum administrasi negara, dikarenakan pendapat para ahli dapat melahirkan teori-teori dalam lapangan hukum administrasi negarayang kemudian dapat mendorong timbulnya kaidah-kaidah hukum administrasi negara.43 3. Sanksi Administrasi
41 Darda Syahrizal, Op, Cit, Hal 19
42 Ridwan.HR, Op.Cit, Hal 47
43Ibid, Hal 52
Sanksi-sanksi merupakan bagian penutup yang penting dalam hukum, termasuk didalam hukum administrasi.Pada umumnya tidak ada gunanya memasukkan kewajiban-kewajiaban atau larangan-larangan bagi para warga di dalam peraturan perundang-undangan tata usaha negara, manakala aturan tersebut tidak dapat dipaksakan oleh tata usaha negara (dalam hal dimaksud diperlukan).Peran penting pada pemberian sanksi di dalam hukum administrasi memenuhi hukum pidana.Biasanya sistem perizinan menurut perundang-undangan memuat ketentuan penting yang melarang warga bertindak tanpa izin. Namun terhadap tindakan-tindakan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang dapat dikaitkan pada suatu izin, adapun yang termasuk sanksi-sanksi hukum administrasi antara lain :
a. Berstuursdwang (paksaan pemerintah),
b. Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang menguntungkan (izin, pembayaran, subsidi),
c. Pengenaan denda administratif, dan
d. Pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom).44
a) Berstuursdwang (paksaan pemerintah)
Dalam Undang-Undang hukum administrasi Belanda paksaan pemerintah adalah tindakan nyata yang dilakukan oleh organ pemerintah atau atas nama
44 Phillipus M.Hadjon, R.Sri Soemantri Marto soewignjo, dkk, Pengantar Hukum Administrsi Negara (introduction to the Indonesian administrative law), Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 2008, Hal 245
pemerintah untuk memindahkan, mengosongkan, menghalang-halangi, memperbaiki pada keadaan semula apa yang telah dilakukan atau sedang dilakukan bertentangan dengan kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam perundang-undangan.
Ada dua istilah dalam paksaan pemerintah yaitu bestuursdwangdan politiedwang. Phillipus M. Hadjon menggunakan istilah bestuursdwang, beliau menggunakan istilah tersebut untuk mengakhiri kesalah pahaman yang dapat ditimbulkan oleh kata “politie” dalam penyebutan politiedwang (paksaan polisi), sedangkan polisi sama sekali tidak terlibat dalam pelaksanaan bestuursdwang. Tetapi A.M. Donner dan C.J.N. Verteden menggukan istilah politiedwang, hanya saja ia mengatakan bahwa sebenarnya penggunaan istilah bestuursdwang lebih baik45
b) Penarikan kembali keputusan (ketetapan) yang menguntungkan (izin, pembayaran, subsidi).
Ketetapan yang menguntungkan (begunstigende beschikking) yaitu ketetapan yang memberikan hak-hak atau memberikan kemungkinan untuk memperoleh sesuatu melalui ketetapan atau ketetapan itu memberikan keringanan beban yang ada atau mungkin ada.Lawan dari ketetapan yang menguntungkan adalah ketetapan yang memberikan beban (belastende beschikking), yaitu meletakkan kewajiban yang sebelumnya tidak ada atau penolakan terhadap permohonan untuk memperoleh keringanan.46
45 Ridwan.HR, Op.Cit, Hal 248-249
46Ibid Hal 254
Terdapat dua hal yang terhadapnya suatu keputusan (ketetapan) yang menguntungkan dapat ditarik kembali sebagai sanksi yaitu:
1. yang berkepentingan tidak memenuhi pembatasan-pembatasan, syarat-syarat atau ketentuan perundang-undangan yang dikaitkan pada izin, subsidi, atau pembayaran.
2. yang berkepentingan pada waktu mengajukan permohonan untuk mendapat izin, subsidi, atau pembayaran telah memberikan data yang sedemikian tidak benar atau tidak lengkap, hingga apabila data tersebut tidak diberikan secara benar atau lengkap maka keputusan akan berlainan (misalnya: penolakan izin, dan sebagainya).47
c) Pengenaan denda administratif
Denda administratif dapat dilihat contohnya misalnya pada denda fiscal yang ditarik oleh inspektur pajak dengan cara meninggikan pembayaran dari ketentuan semula sebagai akibat dari kesalahannya. Menurut P. de Haan, berbeda dengan pengenaan uang paksa administrasi yang ditujukan untuk mendapatkan situasi konkret yang sesuai dengan norma, denda administrasi tidak lebih dari sekedar reaksi terhadap pelanggaran norma, yang ditujukan untuk menambah hukuman yang pasti, terutama denda administrasi yang terdapat pada hukum pajak. Bagaimanapun juga, organ administrasi dapat memberikan hukuman tanpa perantaraan hakim.
Pembuat Undang-Undang dapat memberikan wewenang kepada organ pemerintah untuk menjatuhkan hukuman yang berupa denda terhadap seseorang yang
47 Phillipus M.Hadjon, R.Sri Soemantri Marto Szaoewignjo, dkk, Op. Cit, Hal 258-259
telah melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan.Pemberian wewenang langsung mengenai sanksi punitif ini dapat dilihat dalam peraturan perundang-undangan, biasanya sanksi ini terdapat dalam hukum pajak, jaminan sosial dan hukum kepegawaian.Sehingga dapat disimpulkan bahwa denda administrasi hanya dapat diterapkan atas dasar kekuatan wewenang yang diatur dalam Undang-Undang dalam arti formal.
d) Pengenaan uang paksa oleh pemerintah (dwangsom)
Menurut N.E. Algra dwangsom adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh seseorang sebagai hukuman berdasarkan putusan pengadilan, sepanjang atau sesering ia tidak memenuhi kewajiban pokok yang dibebankan padanya oleh putusan pengadilan.
Pengenaan uang paksa tersebut merupakan alternatif untuk tindakan nyata, yang berarti sebagai sanksi ‘subsidiaire’ dan dianggap sebagai sanksi reparatoir. Persoalan hukum yang di hadapi dalam pengenaan dwangsomsama dengan pelaksanaan paksaan nyata. Dalam kaitannya dengan ketentuan tata usaha negara yang menguntungkan seperti izin, biasanya permohonan izin disyaratkan untuk memberikan uang jaminan.Jika terjadi pelanggaran tidak segera mengakhirinya, maka uang jaminan ini lebih banyak digunakan ketika pelaksanaan bestuursdwang sulit dilakukan.
B. Sanksi Perpajakan
Sanksi dalam perpajakan menjadi penting karena pemerintah Indonesia memilih menerapkan self assessment system dalam pelaksanaan pemungutan pajak.
Berdasarkan sistem ini, wajib pajak diberikan kepercayaan untuk menyetor, dan melaporkan pajaknya sendiri.Untuk dapat menjalankannya dengan baik, maka setiap wajib pajak berhak memerlukan pengetahuan pajak, baik dari segi peraturan maupun teknis administrasinya. Agar pelaksanaannya dapat tertib dan sesuai dengan target yang diharapkan.
Jika kita lihat dari sudut pandang yuridis, pajak mengadung unsur pemaksaan, maksudnya yaitu jika kewajiban perpajakan tidak dilaksanakan, maka konsekuensi hukum yang bisa terjadi, konsekuensi hukum tersebut adalah pengenaan sanksi-sanksi perpajakan. Pada hakikatnya, pengenaan sanksi-sanksi perpajakan diperlakukan untuk menciptakan kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajibannya, sehingga perlu untuk wajib pajak memahami sanksi-sanksi perpajakan sehingga mengetahui konsekuensi hukum dari apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukan.48
Undang-Undang tidak akan berjalan dengan baik bila tidak adanya sanksi yang dapat diterapkan apabila terjadi pelanggaran atas Undang-Undang tersebut. Begitu juga dengan Undang-Undang Pajak tidak akan berjalan dengan baik apabila sanksi tersebut tidak diterapkan dengan baik pula. Seharusnya istilah law enforcemen (penegakan hukum) yang sering diperdengarkan sebaiknya terus dijalankan tanpa melihat siapa orangnya.
48 Diana Sari, Konsep Dasar Perpajakan, Bandung, Refika Aditama, 2013, Hal 269
Ada dua (2) jenis sanksi pajak dalam Undang-Undang Pajak, yang perlu diketahui oleh wajib pajak yaitu :
1. Sanksi Administrasi Perpajakan
Penerapan sanksi administrasi umumnya dikenakan karena wajib pajak melanggar hal-hal yang bersifat administratif yang diatur dalam Undang-Undang pajak.Misalnya saja terlambat membayar pajak sesuai batas waktu yang telah ditentukan, wajib pajak salah dalam melakukan perhitungan jumlah pajak yang masih harus dibayar. Tujuan pemberian sanksi bisa dimaknai sebagai suatu cara menambah penerimaan negara terlebih apabila besaran sanksi yang dikenakan tergolong pada nilai nominal yang cukup besar jumlahnya. PadaPasal 13 ayat (3) Undang-Undang Ketentuan Umum Tatacara Perpajakan berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) atau sebesar 200% (dua ratus persen) yang diatur dalam Pasal 13A UUP.
Selain itu, besaran sanksi berupa denda sebesar 4 (empat) kali dari jumlah yang kurang bayar sebagaimana diatur dalam Pasal 44B Undang-Undang Ketentuan Umum Tatacara Perpajakan seakan menjadi cara pembenar bagi pemerintah untuk mendapatkan uang pajak dari sanksi pajak.Terhadap wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakan dapat dikenakan sanksi, adapun sanksi administrasi pajak dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu:49
a. Sanksi administrasi berupa denda,
49 Wirawan B.IIyas dan Richard Burton, Hukum Pajak (Teori, analisis dan perkembangannya) edisi 6, Jakarta, Salemba Empat, 2013, Hal 65-67
b. Sanksi administrasi berupa bunga, dan c. Sanksi administrasi berupa kenaikan.
Adapun pengertian sanksi administrasi adalah sanksi yang dikenakan apabila wajib pajak melakukan pelanggaran administratif dalam perpajakan misalnya saja keterlambatan penyampaian surat pemberitahuan menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Nomor 28 tahun 2007 dan sekarang telah berubah menjadi Nomor 16 Tahun 2009. Sanksi Administrasi terdiri atas 3 (tiga) macam yaitu:
a. Sanksi Administrasi Berupa Denda
Sanksi denda adalah jenis sanksi yang paling banyak ditemukan dalam Undang-Undang Perpajakan.Terkait besarannya denda dapat ditetapkan sebesar jumlah tertentu, persentase dari jumlah tertentu, atau suatu angka perkalian dari jumlah tertentu. Pada sejumlah pelanggaran, sanksi denda ini akan ditambah dengan sanksi pidana, pelanggaran yang juga dikenai sanksi pidana ini adalah pelanggaran yang sifatnya alpa atau disengaja.
b. Sanksi Administrasi Berupa Bunga
Sanksi admistrasi berupa bunga dikenakan atas pelanggaran yang menyebabkan utang pajak menjadi lebih besar, jumlah bunga dihitung berdasarkan persentase tertentu dari suatu jumlah, mulai dari saat bunga itu menjadi hak/kewajiaban sampai dengan saat diterima dibayarkan.
Terdapat beberapa perbedaan dalam menghitung bunga utang biasa dengan bunga utang pajak.penghitungan bunga utang pada umumnya menerapkan bunga
majemuk (bunga berbunga), sementara sanksi bunga dalam ketentuan pajak tidak dihitung berdasarkan bunga majemuk. Besarnya bunga akan dihitung secara tetap dari pokok pajak yang tidak/kurang bayar. Tetapi, dalam hal wajib pajak hanya membayar sebagian atau tidak membayar sanksi bunga yang terdapat dalam surat ketetapan pajak yang telah diterbitkan, maka sanksi bunga tersebut dapat ditagih kembali dengan disertai bunga lagi.
Perbedaan yang lain dengan bunga utang pada umumnya adalah sanksi bunga dalam ketentuan perpajakan pada dasarnya dihitung 1 (satu) bulan penuh. Dengan kata lain, bagian dari bulan dihitung 1(satu) bulan penuh atau tidak dihitung secara harian.
Sanksi administrasi berupa bunga tergolong sebagai sanksi yang lebih berat jika dibandingkan dengan denda, sanksi bunga diatur dalam berbagai pasal terkait dengan persoalan kesalahan yang dilakukan wajib pajak terdapat pada pasal :
1. Pasal 8 ayat (2) dan (2a) 2. Pasal 9 ayat (2a) dan (2b) 3. Pasal 13 ayat (2) dan (5) 4. Pasal 14 ayat (3), (4) dan (5) 5. Pasal 15 ayat (4)
6. Pasal 19 ayat (2) dan (3)
c. Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan
Sanksi administrasi berupa kenaikan merupakan sanksi administrasi dengan memberika sejumlah kenaikan pada besaran pajak yang harus dibayar.Jika dihitung
secara nominal sanksi kenaikan merupakan sanksi administrasi yang paling berat dari pada sanksi denda Maupin sanksi bunga. Sanksi kenaikan diatur dalam beberapa ketentuan yaitu sebagai berikut :
1. Pasal 8 ayat (5)
2. Pasal 13 ayat (3) huruf a, b dan c 3. Pasal 13A
4. Pasal 15 ayat (2)
5. Pasal 17C ayat (5) dan Pasal 17D ayat (5) 2. Sanksi Pidana Perpajakan
Sanksi pidana pada umumnya diterapkan kepada wajib pajak yang melanggar ketentuan yang di kualifikasikan sebagai tindak pidana pajak.Sanksi pidana tersebut diterapkan dikarenakan karena adanya unsur kealpaan atau disebut juga dengan unsur kesengajaan yang dapat menimbulkan kerugian bagi pendapatan negara.
Penegakan hukum pidana atau sanksi pidana ada 2 (dua) jenis yaitu : Sanksi pidana dan denda, dan
a. Sanksi pidana atau denda
Wajib pajak (WP), yang karena kealpaan tidak menyampaikan SPTPD atau mengisinya dengan tidak benar/lengkap atau melampirkan keterangan tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan lebih kurang satu (1) tahun atau denda lebih kurang dua (2) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang terbayar. Jika wajib pajak dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisinya dengan tidak benar/lengkap atau melampirkan keterangan
tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan kurang lebih 2 (dua) tahun atau denda kurang lebih 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Adanya pelanggaran terhadap kewajiban pembayaran pajak yang dilakukan oleh wajib pajak, sepanjang menyangkut tindak pidana dibidang perpajakan, dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yang berbunyi:
Adapun bunyi dari Pasal 38 yaitu:
Setiap orang yang karena kealpaannya:
a. Tidak menyampaikan surat pemberitahuan, atau
b. Menyampaikan Surat pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar, dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.
Bunyi Pasal 39 ayat (1, 2 dan 3) yaitu:
(1) Setiap orang yang dengan sengaja:
a. Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;
b. Menyalah gunakan atau menggunakan tanpa hak nomor pokok wajib pajak atau pengukuhan wajib pengusaha kena pajak;
c. Tidak menyampaikan surat pemberitahuan;
d. Menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap;
e. Menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 29;
f. Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya;
g. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan atau dokumen lain;
h. Tidak menyimpan buku, catatan atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat (11); atau
i. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau di pungut.
Sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang atau tidak atau kurang dibayar.
(2) Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambahkan satu kali menjadi 2(dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana dibidang perpajakan sebelum lewat satu tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dilakukan.
(3) Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalagunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Penguasa kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, atau menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf d, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan yang paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan.
Terhadap wajib pajak yang dikenakan sanksi pajak baik itu sanksi administrasi maupun sanksi pidana, tentu akan mejadi beban. Oleh sebab itu wajib pajak perlu
mengetahui dan memahami berbagai macam sanksi yang diatur didalam perundang-undangan pajak agar terhindar dari beban tambahan tersebut.Pemberian sanksi tersebut dalam Undang-Undang Pajak pada dasarnya bertujuan untuk terciptanya tertib administrasi di bidang perpajakan dan untuk menigkatkan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban-kewajiban perpajakannya.
Kealpaan yang dimaksud pada Pasal 38 adalah tidak sengaja, lalai, tidak hati-hati dan tidak memperdulikan kewajibannya, sehingga perbuatannya tersebut mengakibatkan kerugian bagi negara. Perbuatan sebagai akibat kealpaan dalam ilmu hukum dikategorikan sebagai pelanggaran. Apabila dilakukan dengan sengaja, maka perbuatan itu akan dikategorikan sebagai kejahatan.Sedangkan tindak pidana diatas, tentunya berkaitan dengan berat ringannya ancaman pidana kedua perbuatan tersebut.Ancaman hukuman atas perbuatan yang bersifat kealpaan lebih ringan dibandingkan dengan perbuatan yang bersifat unsur kesengajaan.50
C. Sanksi Administrasi Berupa Denda terhadap PPAT
Sanksi administrasi berupa denda tergolong sanksi yang masih dapat dipenuhipelaksanaannya karena hanya mengenakan sanksi sejumlah uang kepada Wajib Pajak yang tidak patuh dalam pelaksanaan administrasi perpajakan.
Besar kecilnya sanksi administrasi ini sangat bervariasi dan tergantung pada tingkat kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban formalnya dalam
50 Gunadi, Jhon L,dkk, Perpajakan Edisi Revisi 2001 Buku 1 (Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Materai (BM), Jakarta, Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia, 1999, Hal 70
menyampaikan surat pemberitahuan. Ada beberapa ketentuan tentang sanksi denda hal ini terdapat pada Undang-Undang ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Nomor 28 Tahun 2007 dan telah berganti menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 yaitu:51
1. Pasal 7 ayat (1)
Ketentuan ini mengatur pengenaan sanksi denda sebesar Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) apabila wajib pajak tidak menyampaikan surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai; sebesar Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah) apabila wajib pajak tidak menyampaikan surat pemberitahuan masa lainnya dan surat pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib pajak orang pribadi; sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) apabila wajib pajak tidak menyampaikan surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak badan.
2. Pasal 25 ayat (9)
Ketentuan ini mengatur pengenaan denda sebesar 50% (lima puluh persen) dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian. Denda dihitunga dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
3. Pasal 27 ayat (5d)
Ketentuan ini mengatur tentang pengenaan denda sebesar 100% (seratus persen) dalam hal permohonan banding wajib pajak ditolak atau dikabulkan
51 Wirawan B.IIyas dan Richard Burton, Op. Cit, Hal 66-68
sebagian.Denda dihitung dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
4. Pasal 38
Dalam hal ini mengatur pengenaan denda paling sedikit 1 (satu) kali dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar.Denda ini dikenakan apabila wajib pajak melakukan tindak pidana pajak karena kealpaannya.
5. Pasal 39 ayat (1)
Dalam hal ini mengatur pengenaan denda paling sedikit 2 (dua) kali dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar. Denda ini dikenakan apabila wajib pajak (WP) melakukan tindak pidana pajak karena kesengajaannya.Sanksi denda ini merupakan akumulasi dengan sanksi pidana berupa penjara.
6. Pasal 39A
Ketentuan ini mengatur tentang pengenaan denda paling sedikit 2 (dua) kali paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar. Denda ini dikenakan apabila wajib pajak sengaja menerbitkan atau menggunakan faktur pajak, yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya dan juga belum dikukuhkan sebagai penguasa kena pajak.
7. Pasal 41A, 41B dan 41C
Dalam Pasal 41A : “ketentuan ini mengatur pengenaan denda paling banyak Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) apabila seseorang dengan sengaja tidak
memberi keterangan atau bukti, atau member keterangan atau bukti yang tidak benar.
Sanksi denda ini dibarengi dengan pidana kurungan paling lama satu (1) tahun”.
Dalam Pasal 41B : “ketentuan ini mengatur pengenaan denda paling banyak Rp 75.000.000,- (tujuh puluh lima juta rupiah) apabila seseorang dengan sengaja meghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan. Sanksi denda ini bersamaan dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun”.
Dalam Pasal 41C ; “ketentuan ini mengatur pengenaan denda paling banyak Rp 1 milyar,- (satu milyar rupiah) apabila seseorang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban, memberikan data sebagaimana diatur dalam Pasal 35A ayat (1) Undang-Undang KUP. Sanksi denda ini bersamaan dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun”.
8. Pasal 44B
Ketentuan ini mengatur pengenaan denda 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan. Sanksi ini dikenakan apabila terhadap wajib pajak akan dihentikan proses penyidikan tindak pidana dibidang perpajakannya.
R. Santoso Brotodiharjo menyatakan bahwa hukum pajak termasuk hukum publik. Hukum pablik merupakan dari tata tertib hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dengan warganya. Hukum publik memuat cara-cara untuk mengatur pemerintahan. Menurutnya yang termasuk hukum publik antara lain hukum tata negara, hukum pidana, hukum administratif, sedangkan hukum pajak merupakan bagian dari hukum administratif meski demikian tidak berarti bahwa hukum pajak
berdiri sendiri terlepas dari hukum pajak lainnya (seperti hukum pidana dan perdata).
Hukum pajak berkaitan erat dengan hukum perdata. Hukum perdata merupakan bagian dari keseluruhan hukum yang mengatur hubungan antara orang-orang pribadi.
Kebanyakan hukum pajak mencari dasar kemungkinan pemungutannya atas kejadian-kejadian, keadaan-keadaan dan perbuatan hukum yang mencakup dalam lingkungan perdata, seperti pendapatan, kekayaan, perjanjian penyerahan, pemindahan hak warisan dan seterusnya. Adanya kaitan antara hukum pajak dengan hukum perdata ditunjukkan dengan banyaknya istilah-istilah hukum perdata yang digunakan dalam perundang-undangan perpajakan. Hukum pajak juga mempunyai pengaruh yang
Kebanyakan hukum pajak mencari dasar kemungkinan pemungutannya atas kejadian-kejadian, keadaan-keadaan dan perbuatan hukum yang mencakup dalam lingkungan perdata, seperti pendapatan, kekayaan, perjanjian penyerahan, pemindahan hak warisan dan seterusnya. Adanya kaitan antara hukum pajak dengan hukum perdata ditunjukkan dengan banyaknya istilah-istilah hukum perdata yang digunakan dalam perundang-undangan perpajakan. Hukum pajak juga mempunyai pengaruh yang