• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.1.2 Sumber-Sumber Pendapatan Daerah

Menurut UU No.25 1999 jo No.33 Tahun 2004 tentang perimbangan Keuangan antara Pemerintah pusat dengan Pemerintah Daerah maka Pendapatan daerah terdiri dari :

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD), 2. Dana Perimbangan dan

3. Lain-lain pendapatan.

1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Sumber keuangan yang utama adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD). PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah dari penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan daerah dan lain-lain yang sah.

a. Pajak daerah,

Pajak daerah adalah pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapakan sebagai badan hukum publik dalam rangka membeiayai rumah tangganya. Dengan kata lain pajak daerah adalah pajak yang wewenang pungutannya ada pada daerah dan pembangunan daerah hal ini dikemukakan oleh Yasin. Selain itu Davey (1988:39) mengemukakan pajak daerah yaitu :

1. Pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dengan peraturan daerah sendiri,

2. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan nasional tetapi pendapatan tarifnya dilakukan oleh Pemerintah daerah.

3. Pajak yang dipungut atau ditetapkan oleh Pemeritah daerah

Sedangkan menurut UU No. 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi daerah yang dimaksud dengan pajak daerah adalah Iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksaberdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.

Jenis-jenis pajak daerah dan tarifnya adalah sebagai berikut : 1. Jenis pajak daerah Tingkat I (propinsi) terdiri dari :

a. Pajak Kenderaan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKBKAA) dengan tarif 5%,

b. Bea Balik Nama Kenderaan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB-KAA) dengan tarif 10%

c. Pajak Bahan Bakar Kenderaan Bermotor (PBBKB) dengan tarif 5% d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air

Permukaan (P3ABT dan AP) dengan tarif 20%

Dengan rasa keadilan dan asas pemerataan maka Undang-undang mengatur Bagi Hasil Pajak dan Realokasi Pajak daerah dengan daerah kabupaten/kota. Pajak propinsi yang bersumber dari PKB-KAA dan BBNKB-KAA, P3ABT dan AP sebagian diserahkan kepada kabupaten/kota dengan ketentuan sebagai berikut :

a. minimum 30 % dari penerimaan PKB-KAA dan BBN-KAA, b. minimum 70 % dari penerimaan PBB-KB,

c. minimum 70 % dari penerimaan PBB-KB,

Pengalihan bagian penerimaan pajak daerah propinsi tersebut lebih lanjut diatur dan ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar daerah kabupaten/kota dalam propinsi yang bersangkutan. Sedangkan penggunaan bagian daerah kabupaten/kota diatur dan ditetapkan oleh daerah itu sendiri.

Penerimaan pajak kabupaten juga harus dialokasikan minimum 10 % untuk kepentingan. Pengaturan mengenai alokasi pajak tersebut didasarkan pada aspek pemerataan dan potensi yang dimiliki oleh desa-desa yang bersangkutan. Penerimaan pajak kabupaten/kota tertentu, Gubernur mengambil kebijakan untuk membagikan sebagian hasil penerimaan pajak tersebut kepada kabupaten/kota lainnya.

2. Jenis pajak daerah yang dipungut kabupaten/kota : a. Pajak hotel dan restoran dengan tarif 10 % b. Pajak hiburan dengan tarif 35 %

c. Pajak reklame dengan tarif 25 %

d. Pajak penerangan jalan dengan tarif 10 %

e. Pajak pengambilan dan pengelolaan bahan galian golongan C dengan tarif 20 %

b. Retribusi Daerah

Rochmat Sumitra mengatakan bahwa retribusi adalah pembayaran kepada negara yang dilakukan kepada mereka yang menggunakan jasa-jasa negara, artinya retribusi daerah sebagai pembayaran atas pemakain jasa atau kerena mendapat pekerjaan usaha atau milik daerah bagi yang berkepentingan atau jasa yang diberikan oleh daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu setiap pungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah senantiasa berdasarkan prestasi dan jasa yang diberikan kepada masyarakat, sehingga keluasaan retribusi daerah terletak pada yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Jadi retribusi sangat berhubungan erat dengan jasa layanan yang diberikan pemerintah kepada yang membutuhkan.

Pembayaran retribusi oleh masyarakat menurut Davey adalah :

1. Dasar untuk mengenakan retribusi biasanya harus didasarkan pada total cost dari pada pelayanan-pelayanan yang disediakan

2. Dalam beberapa hal retribusi biasanya harus didasarkan pada kesinambungan harga jasa suatu pelayanan, yaitu atas dasar mencari keuntungan.

Ciri-ciri retribusi yaitu :

1. Retibusi dipungut oleh negara

2. Dalam pungutan terdapat pemaksaan secara ekonomis 3. Adanya kontra prestasi yang secar langsung dapat ditunjuk

4. Retribusi yang dikenakan kepada setiap orang / badan yang menggunakan / mengenyam jasa-jasa yang disediakan oleh negara.

Menurut UU No. 34 Tahun 200 retribusi adalah Pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan kepada oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Yang termasuk golongan dan jenis retribusi daerah adalah : a) Yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah :

1) Retribusi Jasa Umum 2) Retribusi Jasa Usaha 3) Retribusi Perizinan

b) Yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah : retribusi selain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tarif retribusi ditinjau kembali secara berskala dengan mempertimbangkan prinsip dan sasaran penetapan tarif. Hasil penerimaan hasil retribusi tertentu kabupaten, sebagian diperuntukkan kepada desa. Penetapannya diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek keterlibatan desa dalam penyediaan layanan tersebut.

c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

Dalam usaha menggali sumber pendapatan daerah dapat dilakukan dengan berbagai cara, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Salah satu sumber pendapatan asli daerah yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus adalah perusahaan daerah.

Menurut Wayang mengenai perusahaan daerah sebagai berikut : 1. Perusahaan Daerah adalah kesatuan produksi yang bersifat :

a) Memberi jasa

b) Menyelenggarakan pemanfaatan umum c) Memupuk pendapatan

2. Tujuan perusahaan daerah untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan kebutuhan rakyat dengan menggutamakan industrialisasi dan ketentraman serta ketenangan kerja menuju masyarakat yang adil dan makmur.

3. Perusahaan daerah bergerak dalam lapangan yang sesuai dengan urusan rumah tangganya menurut perundang-undangan yang mengatur pokok-pokok pemerintahan daerah.

4. Cabang-cabang produksi yang penting bagi daerah dan mengusai hajat hidup orang banyak di daerah, yang modal untuk seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.

d. Lain-lain PAD yang sah.

Lain-lain PAD yang sah adalah meliputi :

1. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, 2. Jasa giro

3. Pendapatan Bunga

5. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.

2. Dana Perimbangan

Dana Perimbangan adalah dana yang merupakan bagian daerah yang berasal dari dana bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Banguanan, Penerimaan dari sumber daya alam, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Dana Perimbangan tersebut merupakan hasil kebijakan pusat di bidang desentralisasi fiskal (penyerahan hasil-hasil pajak dan pungutan lainnya kepada daerah demi keseimbangan fiskal antara pusat dan daerah. Tujuan Dana Perimbangan/kebijakan fiskal tersebut adalah :

a. Untuk mempercepat pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan anggaran pembangunan yang memadai

b. Untuk mengidentisifkan aktivitas dan kreatifitas perekonomian masyarakat daerah yang berbasis pada potensi yang dimiliki masing-masing daerah. c. Untuk mendukung terwujudnya good governance, tata kelola

pemerintahan yang baik.

d. Untuk mewujudkan penyelenggaraan pemerintah daerah yang demokratis, efektif, dan efesien (Bahrul Elmi;2000:54)

a. Dana Bagi Hasil

Dana bagi hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak adalah terdiri atas :

a. Bagian Daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

Penerimaan negara dari Pajak Bumi dan Bangunan dibagi dengan imbangan 10% untuk pusat dan 90% untuk pemerintah daerah. Bagian pusat 10% dibagikan kepada kabupaten/kota dengan rincian sebagai berikut :

1. 65% dibagikan merata kepada seluruh kabupaten/kota dengan porsi yang sama besar

2. 35 % dibagikan sebagai intensif untuk kabupaten/kota yang realisasi penerimaan tahun sebelumnya berhasil melampaui rencana penerimaan sektor tertentu

Ketentuan lebih lanjut diatur dengan SK Menteri Keuangan. Sedangkan bagian daerah yang 90 % tersebut kemudian dirinci sebagai berikut

1. 16,2 % untuk propinsi yang bersangkutan 2. 64,8 % untuk kabupaten/kota penghasil 3. 9 % biaya pungutan

b. Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Dana Bagi Hasil dari penerimaan BPHTB adalah 20% (dua puluh persen) bagian Pemerintah dari penerimaan BPHTB dibagikan dengan porsi yang

sama besar untuk seluruh kabupaten dan kota. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB dan BPHTB dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan bagian sebesar 80% (delapan puluh persen) untuk daerah dengan rincian sebagai berikut:

1. 16% (enam belas persen) untuk daerah provinsi yang bersangkutan dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah provinsi; dan 2. 64% (enam puluh empat persen) untuk daerah kabupaten dan kota

penghasil dan disalurkan ke Rekening Kas Umum Daerah kabupaten/kota.

c. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.

Penerimaan Pajak Penghasilan pasal 25 dan 29 wajib pajak pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21 dirinci sebagai berikut :

1 Bagian pusat adalah 80 % 2 Bagian daerah adalah 20 %

a) Untuk kabupaten/kota 20 % b) Untuk propinsi 40 %

d. Dana Bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari :

1. Kehutanan

Penerimaan Kehutanan yang berasal dari penerimaan Iuran Hak Pengusahaan Hutan (IHPH) dan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan dibagi dengan

imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.

Penerimaan Kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi dibagi dengan imbangan sebesar 60% (enam puluh persen) untuk Pemerintah dan 40% (empat puluh persen) untuk Daerah.

2. Pertambangan umum

Penerimaan Pertambangan Umum yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan, dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.

3. Perikanan

Penerimaan Perikanan yang diterima secara nasional dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk seluruh kabupaten/kota.

4. Pertambangan minyak bumi

Penerimaan Pertambangan Minyak Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:

1. 84,5% (delapan puluh empat setengah persen) untuk Pemerintah; dan

5. Penerimaan panas bumi

Penerimaan Pertambangan Gas Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dibagi dengan imbangan:

1. 69,5% (enam puluh sembilan setengah persen) untuk Pemerintah; dan

2. 30,5% (tiga puluh setengah persen) untuk Daerah. 6. Pertambagan Panas Bumi

Pertambangan Panas Bumi yang dihasilkan dari wilayah Daerah yang bersangkutan yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak, dibagi dengan imbangan 20% (dua puluh persen) untuk Pemerintah dan 80% (delapan puluh persen) untuk Daerah.

b. Dana Alokasi Umum

Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN. (2) DAU untuk suatu Daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar.Celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.

untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Setiap kebutuhan pendanaan diukur secara berturut-turut dengan jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia.Kapasitas fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan Daerah yang berasal dari PAD dan Dana Bagi Hasil. Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah provinsi. Bobot daerah provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah provinsi.

DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah kabupaten/kota dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah kabupaten/ kota. Bobot daerah kabupaten/kota merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah kabupaten/kota. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar.Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU.

dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah merumuskan formula dan penghitungan DAU yaitu dengan memperhatikan pertimbangan dewan yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. Hasil penghitungan DAU per provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Penyaluran DAU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu perdua belas) dari DAU Daerah yang bersangkutan. Penyaluran DAU dilaksanakan sebelum bulan bersangkutan.Ketentuan lebih lanjut mengenai DAU diatur dalam Peraturan Pemerintah.

c. Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana alokasi khusus merupakan dana yang berasal dari APBN, yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan khusus, yang meliputi: kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus DAU seperti kebutuhan di kawasan transmigrasi, investasi baru, pembangunan jalan di kawasan terpencil dan lain sebagainya, dan kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional, termasuk di dalamnya adalah kegiatan penghijauan dan reboisasi.

Selain DAU dan DAK, bentuk lain hubungan keuangan pemerintah pusat dan daerah adalah dekonsentrasi dan tugas perbantuan. Jika dana perimbangan bisa diartikan sebagai block grand atau transfer dari pemerintah pusat ke daerah, pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan masih diatur oleh

pemerintah pusat. Bentuk hubungan ini dapat dikatakan seperti join venture antara pemerintah pusat dan daerah. Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di provinsi sebagai tuntutan otonomi daerah. Karena tugas tersebut sebenarnya adalah tugas pemerintah pusat, maka pelimpahan wewenang disertai dengan pembiayaan yang berasal dari APBN. Sementara hubungan tugas perbantuan sebenarnya mirip dengan dekonsentrasi hanya sasarannya adalah pemerintah daerah dan desa serta sifatnya bukan pelimpahan wewenang tetapi penugasan (Sidik, 2002).

3. Lain-lain Pendapatan

Lain-lain pendapatn terdiri atas pendapatan hibah dan pendapatan dana darurat. Pendapatan hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat. Hibah kepada daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah. Hibah dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dan pemberi hibah serta digunakan sesuai dengan perjanjian yang dibuat. Tata cara pemberian, penerimaan dan penggunaan hibah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri diatur dengan peraturan pemerintah.

Dana darurat yang dialokasikan berasal dari APBN untuk keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangioleh daerah dengan menggunakan sumber APBD. Pemerintah dapat mengalokasikan dana darurat pada daerah jika dinyatakan mengalami krisis solvabilitas. Daerah yang dinyatakan mengalami krisis

serta berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

Dokumen terkait