VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Sumber-Sumber Risiko Pada Usaha Pembesaran Ikan Lele
Lestari, terdapat beberapa risiko produksi yang dapat menghambat jalannya usaha pembesaran ini. Langkah awal dalam menganalisis risiko produksi adalah dengan mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi. Sumber-sumber risiko produksi yang terdapat di CV Jumbo Bintang Lestari dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Sumber-sumber Risiko Produksi di CV Jumbo Bintang Lestari No. Sumber Risiko Probabilitas (%) Dampak (Rp)
1 Kualitas dan pasokan benih 30 40.000.000
2 Mortalitas 25 10.000.000
3 Kualitas pakan 10 30.000.000
4 Penyakit 10 25.000.000
5 Sumber Daya Manusia 30 10.000.000
Rata-rata 21 23.000.000
Sumber : CV Jumbo Bintang Lestari (2010), diolah
1) Kualitas dan Pasokan Benih
Variabel penting dalam usaha pembesaran ikan lele dumbo yaitu benih. Kualitas benih yang baik akan dapat meningkatkan produksi ikan yang dilakukan pada usaha pembesaran dan turut berimplikasi terhadap pendapatan yang diterima oleh perusahaan. Kualitas benih yang baik dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya (morfologi) yaitu memiliki warna yang cerah, ukurannya seragam, tidak cacat, dan bebas dari penyakit. Disamping itu benih yang dipilih sebaiknya yang memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat.
Benih yang digunakan dalam usaha pembesaran ikan lele dumbo di CV Jumbo Bintang Lestari adalah berasal dari petani pembenihan ikan lele yang berada di sekitar tempat budidaya seperti daerah Parung, Ciseeng dan Legok Henang. Selain itu, benih pun didatangkan dari luar Bogor yaitu dari Indramayu. Kualitas benih yang berasal dari petani sekitar budidaya kurang terjaga dengan baik karena teknologi budidaya yang diterapkan masih sederhana. Beberapa kali
ditemukan benih yang cacat, berpenyakit, dan ukurannya kurang seragam. Manajemen yang diterapkan pun masih tradisional baik dari segi manajemen induk, manajemen pakan, maupun manajemen air.
Manajemen induk yang dilakukan di tempat asal benih tidak dikelola dengan baik sehingga menyebabkan pasokan benih bagi usaha pembesaran menjadi terhambat. Hal tersebut dikarenakan jadwal penyuntikan ikan untuk menghasilkan benih ikan tidak dilakukan secara tepat sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan telur pada bulan-bulan tertentu yang akan berimplikasi terhadap keterlambatan pengiriman benih ke tempat pembesaran, dalam hal ini CV Jumbo Bintang Lestari.
Para pemasok benih yang pada umumnya adalah petani belum memiliki pola produksi dan cenderung masih menggunakan sistem budidaya yang tradisional sehingga pasokan benih mengalami keterlambatan pengiriman. Keterlambatan pengiriman benih ini akan menyebabkan kerugian bagi CV Jumbo Bintang Lestari karena masa panen pun akan mengalami keterlambatan sehingga dapat mengecewakan konsumen atau pelanggan perusahaan.
Berdasarkan wawancara dengan pihak perusahaan, persentase kemungkinan terjadinya risiko produksi yang bersumber dari kualitas dan pasokan benih yaitu sebesar 30 persen dengan dampak kerugian yang dapat ditimbulkannya yaitu sebesar Rp 40.000.000,00. Dampak kerugian yang dialami tersebut menurut pihak perusahaan tidak seluruhnya dalam bentuk tunai melainkan bisa berupa perputaran omset yang lambat akibat terjadinya keterlambatan panen. Selain itu, bisa berupa berpindahnya konsumen untuk membeli hasil panen dari CV Jumbo Bintang Lestari ke perusahaan lain karena saat terjadi permintaan, pihak perusahaan tidak bisa memenuhinya karena tidak ada panen saat itu atau mengalami keterlambatan panen dari jadwal akibat pasokan benih yang terlambat saat pengiriman.
2) Mortalitas
Derajat kematian ikan atau mortality rate (MR) merupakan gambaran tingkat kematian ikan yang dipelihara. Dalam penelitian ini, nilai MR diperoleh dari 100 persen dikurangi dengan derajat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) ikan lele yang diproduksi oleh CV Jumbo Bintang Lestari. Semakin tinggi nilai MR
yang diperoleh maka derajat kelangsungan hidup ikan lele akan semakin rendah dan produksi yang dihasilkan pun akan semakin rendah.
Toleransi maksimal nilai MR yang ditetapkan di CV Jumbo Bintang Lestari yaitu sebesar 25 persen. Penentuan MR yang diterapkan di perusahaan ini didasarkan pada kondisi lapangan yaitu saat dilakukan penebaran benih ikan mengalami stres karena jarak pengangkutan yang jauh, adanya hama dan penyakit yang menyerang, manajemen pemeliharaan serta kondisi keseragaman benih yang tidak seragam memungkinkan terjadinya persaingan makanan dan tempat atau bahkan terjadi kanibalisme. Rata-rata derajat kematian (mortality rate) ikan lele dumbo yang terjadi di CV Jumbo Bintang Lestari selama tahun 2008-2010 dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13. Rata-Rata Derajat Kematian (Mortality Rate) Ikan Lele Dumbo di CV Jumbo Bintang Lestari Tahun 2008-2010
Bulan Mortality Rate (%)
2008 2009 2010 Januari -* 33,46 39,77 Februari -* 26,03 29,54 Maret 34,30 26,69 16,71 April 37,43 27,80 23,02 Mei 33,95 28,07 20,32 Juni 36,12 18,90 29,50 Juli 30,19 22,00 21,80 Agustus 31,94 19,37 16,27 September -* -* 29,67 Oktober 29,63 29,13 37,67 Nopember 30,70 13,78 44,67 Desember 27,10 18,33 -* Keterangan :
*) tidak ada produksi
Sumber : CV Jumbo Bintang Lestari (2010), diolah
Di CV Jumbo Bintang Lestari mortalitas terjadi pada awal budidaya ikan lele yaitu saat benih ditebar ke dalam kolam sampai satu minggu masa pemeliharaan. Ketika awal tebar benih banyak mengalami kematian karena mengalami stres yang disebabkan oleh jarak pengangkutan dan teknik pengangkutan benih yang kurang baik. Benih yang didatangkan dari Indramayu
cenderung mengalami stres yang lebih tinggi ketika ditebar sehingga tingkat kematiannya pun lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena jarak pengangkutan yang cukup jauh sehingga benih mengalami stres selama perjalanan. Berdasarkan wawancara dengan pihak perusahaan, contoh kasus yang pernah terjadi di CV Jumbo Bintang Lestari yaitu tingkat mortalitas ketika penebaran benih hingga 30 persen. Namun, secara keseluruhan proses produksi dari awal tebar hingga panen rata-rata tingkat mortalitas ikan yang dipelihara yaitu 26,98 persen. Angka ini diperoleh dari rata-rata tingkat mortalitas ikan lele dumbo yang terjadi pada tahun 2008-2010.
Kondisi yang terjadi di CV Jumbo Bintang Lestari rata-rata tingkat mortalitas (mortality rate) sebesar 26,98 persen dan hal ini lebih tinggi dari target toleransi yang ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 25 persen sehingga bisa menimbulkan kerugian. Menurut pihak CV Jumbo Bintang Lestari, kemungkinan terjadinya risiko produksi yang disebabkan oleh mortalitas ini yaitu sebesar 25 persen dan dampak kerugian yang ditimbulkannya sebesar Rp 10.000.000,00.
3) Kualitas Pakan
Pakan merupakan komponen pengeluaran terbesar dalam usaha pembesaran ikan lele dumbo secara intensif karena pakan ini bisa mencapai 80 persen dari biaya produksi. Oleh karena itu, pakan yang digunakan harus diperhitungkan mutunya dengan komposisi nutrisi dan jumlah pemakaiannya yang tepat agar mencapai efisiensi yang optimal bagi pertumbuhan lele. Pakan yang digunakan mengandalkan pakan buatan berupa pellet. Di CV Jumbo Bintang Lestari pakan yang digunakan merupakan pakan merek sendiri yaitu JBL yang diproduksi oleh PT Grobest Indomakmur sehingga komposisi nutrisi pakan telah ditetapkan oleh pabrik pakan tersebut.
Kualitas pakan yang baik akan mempercepat pertumbuhan ikan yang dipelihara. Indikator kualitas pakan yang baik dapat dilihat dari nilai FCR (Feed Conversion Rate). Nilai FCR menggambarkan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan yang diproduksi. Semakin tinggi nilai FCR maka akan semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan satu kilogram daging ikan kultur.
Pakan yang digunakan harus mempunyai nilai konversi rendah yaitu sama atau kurang dari satu. Sedangkan jika nilai konversi pakannya tinggi, maka kualitas pakannya kurang baik atau jumlah pakan yang diberikan tidak efektif untuk pertumbuhan bobot ikan. Nilai FCR selama tahun 2010 Di CV Jumbo Bintang Lestari nilai FCR tidak selalu tetap (fluktuasi), hal ini dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Nilai FCR (Feed Conversion Rate) di CV Jumbo Bintang Lestari Pada Tahun 2010
Bulan* Total Pakan (kg) FCR
Januari 2.475 2,30 Februari 3.308 2,10 Maret 1.825 0,90 April 3.111 1,80 Mei 3.747 2,00 Juni 2.636 1,70 Juli 2.939 1,50 Keterangan :
*) Data terakhir yang tersedia di lapangan saat penelitian Sumber : CV Jumbo Bintang Lestari (2010)
Nilai FCR diperoleh dari pembagian antara total jumlah pakan yang dihabiskan dengan total berat ikan lele panen yang dikurangi dengan total berat ikan lele yang ditebar. Berdasarkan tabel dari dilihat bahwa kisaran FCR yaitu 0,90 sampai dengan 2,30. Adapun standar FCR yang digunakan di CV Jumbo Bintang Lestari yaitu 1. Artinya, untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan kultur maka pakan yang dibutuhkan adalah sebanyak 1 kilogram sehingga dapat dikatakan kualitas pakan telah sesuai dengan harapan perusahaan. Nilai FCR paling tinggi yaitu pada bulan Januari sebesar 2,3 sehingga rasio jumlah pakan yang dibutuhkan pun lebih besar.
Nilai FCR yang melebihi nilai standar yang terjadi di CV Jumbo Bintang Lestari ini bisa diakibatkan karena manajemen penyimpanan pakan yang kurang terkontrol dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi ruang penyimpanan pakan yang tidak memiliki ventilasi sehingga ruangan menjadi lembab. Kelembaban pakan tersebut akan menyebabkan pertumbuhan jamur pada bahan
pakan lele tersebut. Selain itu susunan pakan pun tidak menggunakan alas sehingga dapat menyebabkan kualitas pakan menurun.
Tingkat kemungkinan terjadinya risiko produksi yang disebabkan karena kualitas pakan menurut perusahaan yaitu sebesar 10 persen dengan dampak kerugian yang dapat ditimbulkannya yaitu sebesar Rp 30.000.000,00. Walaupun persentase kemungkinan terjadinya risiko akibat dari kualitas pakan ini hanya sebesar 10 persen, tetapi mengakibatkan dampak yang cukup besar. Hal ini dikarenakan pakan tersebut merupakan komponen yang penting dalam kegiatan produksi, selain merupakan faktor utama pendukung pertumbuhan ikan lele, pakan ini juga merupakan salah satu faktor produksi yang banyak membutuhkan biaya produksi.
4) Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ikan lele dumbodi CV Jumbo Bintang Lestari yaitu penyakit bintik putih (white spot), penyakit sirip merah, dan penyakit kuning. Penyakit bintik putih disebabkan karena kuaitas air yang kurang mendukung, suhu air yang dingin serta kepadatan ikan yang tinggi. Ciri-ciri ikan yang terinfeksi penyakit ini yaitu timbulnya bintik-bintik putih pada permukaan tubuh dan insang ikan, warna tubuh pucat, ikan sering berkumpul di pintu masuk air, dan terlihat megap-megap. Pada kondisi demikian tingkat kematian ikan akan tinggi karena mengalami gangguan penyerapan oksigen. Penularan penyakit ini dapat dikategorikan cukup cepat karena menular melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi. Penyakit sirip merah disebabkan oleh virus Channel Catfish Virus (CCV) dengan ciri-ciri ikan berenang berputar-putar, sering menggantung secara vertial di permukaan air, lemah, dan timbulnya pendarahan pada sirip dan perut.
Adanya penyakit yang sering menyerang ikan lele ini menyebabkan fluktuasi derajat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) selama tahun 2008- 2010. Rata-rata derajat kelangsungan hidup ikan lele di CV Jumbo Bintang Lestari selama tahun 2008-2010 dapat dilihat pada Tabel 6.
Tingkat kelangsungan hidup tertinggi adalah 86,22 persen yaitu pada Bulan November 2009, sedangkan tingkat kelangsungan hidup terendah adalah 62,57
persen yaitu pada Bulan April 2008. Persentase kemungkinan terjadinya risiko yang disebabkan oleh penyakit yaitu sebesar 10 persen dengan dampak kerugian yang ditimbulkannya sebesar Rp 25.000.000,00.
Persentase kemungkinan terjadinya risiko akibat penyakit ini walaupun hanya 10 persen kemungkinannya namun berdampak cukup besar. Hal ini dikarenakan faktor penyakit merupakan salah satu faktor penentu terhadap hasil panen. Jika banyak ikan yang terserang penyakit maka akan menurunkan hasil panen karena penyakit yang menyerang ini apabila dibiarkan akan menimbulkan kematian terhadap ikan.
Penyakit yang menyerang ikan ini akan timbul jika terjadi ketidakseimbangan antara kondisi ikan, lingkungan dan patogen. Ikan yang kondisi tubuhnya buruk kemungkinan besar akan terserang penyakit. Namun jika kondisi tubuh ikan baik, maka sangat kecil kemungkinan terserang penyakit. Kondisi ikan yang buruk ini bisa disebabkan oleh perubahan lingkungan secara mendadak atau karena kondisi fisik ikan yang luka atau terjadi pendarahan pada tubuh ikan.
5) Cuaca
Faktor cuaca merupakan faktor yang cukup berpengaruh dan merupakan salah satu sumber risiko produksi pada pembesaran ikan lele dumbo di CV Jumbo Bintang Lestari. Kondisi cuaca ini akan sangat berpengaruh terhadap suhu air yang merupakan media utama ikan untuk melangsungkan hidupnya. Suhu air yang cocok untuk budidaya ikan lele ini adalah sekitar 27 oC. Jika suhu air terlalu dingin maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan lele. Sedangkan jika terjadi suhu yang terlalu panas lele mudah stres yang bisa mengakibatkan kematian terutama saat terjadinya fluktuasi cuaca secara ekstrim.
Fluktuasi cuaca yang tinggi dapat menyebabkan penurunan dan kenaikan suhu air secara ekstrim, sehingga ikan menjadi stres dan penyakit mudah menyerang. Apabila terjadi musim pancaroba dengan curah hujan dan panas yang tinggi maka ikan lele mudah stres karena kesulitan menyesuaikan dengan perubahan suhu yang ekstrim dan tiba-tiba dalam waktu yang singkat. Akibatnya, ikan menjadi kurang nafsu makan dan cenderung berkumpul di dasar kolam.Di
CV Jumbo Bintang Lestari pengukuran suhu dan pH air dilakukan ketika musim hujan dan pancaroba tiba. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer, sedangkan pH air dengan menggunakan pH meter. Pengukuran suhu dan pH air pada kolam budidaya di CV Jumbo Bintang Lestari dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Pengukuran Suhu dan pH Air di CV Jumbo Bintang Lestari Tahun 2009-2010
Bulan Suhu (
o
C) pH
Minggu 1 Minggu 3 Minggu 1 Minggu 3 Oktober 2009 25 28 6,5 6,5 Januari 2010 26 30 6,5 7,0 Februari 2010 25 29 6,0 6,5 Sumber : CV Jumbo Bintang Lestari (2010)
Pengukuran suhu dan pH yang dilakukan adalah pada bulan Oktober 2009, Januari 2010, dan Februari 2010. Hal tersebut karena pada bulan-bulan tersebut merupakan musim hujan dengan intensitas yang cukup tinggi yang terjadi di lokasi budidaya. Berdasarkan hasil pengukuran suhu yang diperoleh, perubahan suhu yang terjadi yaitu antara 3o sampai 4oC. Perubahan suhu yang demikian ekstrim akan mempengaruhi kondisi ikan yang dibudidayakan sehingga dapat menyebabkan kematian. Akan tetapi keadaan cuaca ini tidak bisa dihindari karena merupakan faktor alam namun dapat diminimalisir dengan penangan manajemen yang tepat.
6) Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam kegiatan produksi di perusahaan, karena sumber daya manusia ini dapat menentukan jalan atau tidaknya proses produksi. Sumber daya manusia yang berkualitas dan ditunjang dengan manjemen yang baik maka perusahaan bisa meraih keberhasilan. Sebaliknya jika sumber daya manusia tersebut kurang atau bahkan tidak berkualitas maka akan menimbulkan risiko dengan dampak perusahaan akan mengalami kerugian.
Sumber risiko yang disebabkan oleh sumber daya manusia yang ada di CV Jumbo Bintang Lestari ini erat kaitannya dengan kinerja karyawan. Karyawan
yang bekerja di CV Jumbo Bintang Lestari sebagian besar berasal dari penduduk sekitar tempat budidaya. Rata-rata tingkat pendidikan karyawan bagian produksi adalah lulusan SD. Kelalaian yang sering dilakukan oleh bagian produksi yaitu keterlambatan dalam pemberian pakan. Ikan lele merupakan ikan yang memiliki sifat kanibalisme sehingga apabila telat dalam pemberian pakan maka ikan lele akan memangsa sesamanya. Selain itu, pada beberapa kejadian pernah ditemukan tindakan pencurian ikan baik yang dilakukan oleh karyawan perusahaan maupun oleh orang dari luar perusahaan. Pencurian ikan ini dilakukan tidak sekaligus pada satu waktu tetapi pada beberapa waktu dengan perkiraan jumlah yang diambil sedikit demi sedikit, dengan probabilitas sebesar 30 persen dan dampak kerugian yang ditimbulkannya yaitu sebesar Rp 10.000.000,00.