BAB 3. METODE PENELITIAN
4.3 Sunat Perempuan Masa Sekarang dan
Sunat pada anak perempuan dalam suatu keluarga berawal dari orang tua, bisa dari nenek moyang, nenek, ibu, dan akhirnya ke anak, atau bahkan ke cucu, hal ini sangat berkaitan dengan lingkungan dan keyakinan seseorang. “Masyarakat Alas sangat memegang kuat hukum adat dan agama, sehingga tradisi sunat perempuan akan terus berlangsung sampai kapanpun, karena kebiasaan ini tidak akan mudah untuk dihilangkan dengan begitu saja tanpa ada sebab dan akibat dari 64
praktik ini.” Ungkap informan Abdul Manin, merupakan tokoh adat Alas setempat.
Informan yang di wawancarai adalah seorang tokoh adat yang bernama Abdul Manin umur 38 tahun, alamat informan ini di Desa Kisam Kecamatan Lawe Sumur tidak jauh dari tempat tinggal peneliti. Peneliti memberikan pertanyaan kepada informan “Dapatkah bapak cerita kepada saya mengenai sunat perempuan ?” Informasi yang didapat dari informan tersebut dapat disimpulkan bahwa, suku Alas merupakan suku asli Kabupaten Aceh Tenggara, yang mempunyai pemahaman tentang sunat perempuan yaitu, sunat perempuan merupakan hal yang harus dilakukan karena itu ajaran agama dan tradisi yang sejak lama sudah ada. Seperti yang di ungkapkan oleh informan sebagai berikut :
“Senat de bekhu bali hukum ne bage senat anak laki-laki edi wajib, kakhene edi ngo kin hukum adat te dieakhi dan titah pekhintah agame te.
(Sunat perempuan sama hukumnya seperti sunat pada anak laki-laki yaitu wajib, karena itu sudah merupakan hukum adat kita sejak dulu dan perintah agama).”
Masyarakat Alas juga memandang sunat pada perempuan sebagai hal yang sakral dan rahasia. Sunat perempuan merupakan hal yang tabu (Alas : pantang) untuk di bicarakan secara umum, terutama bagi kaum laki-laki. Menurut pengakuan informan, masyarakat Alas sampai saat ini masih mempercayakan praktik ini dilakukan oleh mudim de bekhu, tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti Dokter, Bidan atau Perawat. Menurut informan bahwa, karena mudim de bekhu dipercaya sebagai orang yang taat menjalankan perintah agama, seperti menjalankan ibadah shalat, puasa dan, ditambah dengan kepercayaan bahwa
mudim de bekhu memiliki karismatik dan keahlian tertentu oleh masyarakat Alas. Kepercayaan ini juga didasari dengan keyakinan masyarakat, bahwa hanya seorang mudimde bekhu sajalah yang memiliki kemampuan secara turun-temurun untuk melakukan sunat. Meraka juga meyakini bahwa, hanya mudim de bekhu lah yang “sah” untuk menyunat anak perempuan mereka.
Mengapa perempuan itu harus disunat pak ? Tanya peneliti, informan menceritakan dengan tenang bahwa, asal usul sunat perempuan oleh masyarakat Alas selalu dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim as yang beristri dua yaitu bernama Siti Hajar. Pada saat itu, istri pertama Nabi merayu Siti Hajar untuk melakukan beberapa tindakan, seperti menggunakan kalung, menindik telinga (di pasang anting) serta di sunat alat kelaminnysa. Tindakan ini dimaksudkan agar, Siti Hajar terlihat jelek di mata Nabi Ibrahim as, sehingga istri kedua tersebut dibenci oleh Nabi Ibrahim as. Namun setelah Nabi Ibrahim melihat Siti Hajar, dengan tindakan seperti di atas, maka keadaan bertolak belakang dengan niat istri pertama Nabi. Bahwa Nabi Ibrahim as bukannya benci kepada Siti Hajar melainkan merasa senang dan bahagia, karena Siti Hajar lebih terlihat cantik dan indah di mata suaminya tersebut.
Dari kisah Nabi Ibrahim as ini, masyarakat Alas mengartikan tentang sunat perempuan merupakan sebuah ajaran yang memiliki maksud dan tujuan yang baik dan bermanfaat, karena dikisah Nabi Ibrahim tersebut tergambarkan bahwa, sunat perempuan akan membawa banyak manfaat bagi perempuan itu sendiri dan suaminya kelak setelah dia menikah. Selanjutnya informan 66
menambahkan, selain kisah Nabi di atas, bahwa sunat perempuan merupakan tradisi suku Alas yang memang sudah ada sejak lama. Jadi mau-tidak mau, sunat pada perempuan itu harus tetap di pertahankan untuk menjaga tradisi dan adat.
Seperti yang dikatakan informan sebagai berikut :
“Sunat perempuan dikerjakan pasti memiliki maksud yang baik, karena itu merupakan titah perintah orang sebelum kita. Darimana asal-usul sunat perempuan dan bagaimana hukumnya jangan kita debatkan dan dipertentangkan, karena hanya merusak adat dan keyakinan kita.”
Informan juga menegaskan yaitu, tokoh agama beserta tokoh adat Alas tetap akan mempertahankan tradisi sunat perempuan ini sampai kapanpun, walaupun pemerintah dan WHO tidak setuju dengan praktik ini. Hal ini dapat saja terjadi, karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap generasi yang akan datang. Seperti adanya berita di TV dan surat kabar belakangan ini yang membicarakan pro dan kontra tentang sunat perempuan. Dari informasi media tersebut dikabarkan bahwa, Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan LSM pemerhati perempuan dan anak mengatakan bahwa, sunat perempuan dapat merusak alat kelamin perempuan dan melanggar HAM, sehingga praktik ini harus dihentikan bagi negara-negara yang melakukannya.
Namun sampai saat ini, sunat perempuan terus dilakukan di Indonesia termasuk oleh masyarakat Alas, dengan alasan kepercayaan agamaa dan adat yang tidak mudah untuk dihapuskan. Walaupun demikian, informan menjelaskan bahwa tata cara adat untuk sunat perempuan ini telah ditinggalkan, seperti, (Alas :
sukuran. Dulunya tuan rumah mempersiapkan pulut kuning (Alas : puket mekuning) dan ayam panggang, untuk di berikan ke mudim de bekhu sebagai rasa sukur dan tanda terima kasih, namun sekarang banyak warga hanya memberikan uang dan sarung kepada mudim tersebut. Karena bagi masyarakat Alas, pulut kuning bermakna sebagai tanda meminta do’a kepada orang yang diberikan, dan ayam panggang sebagai rasa sukur terhadap nikmat yang telah didapatkan.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan informan perempuan yang belum menikah, nama samaran Yanti Desky umur 16 tahun, dan Yanti mengaku bahwa dia sudah di sunat. Informan ini mengatakan bahwa, dia tidak merasa menyesal atau marah kepada orang tuanya karena dia sudah di sunat, hal ini didasari karena faktor orang tua, adat istiadat dan agama yang masih kuat melekat di keluarga dan lingkungannya. Dalam hal ini, informan menjelaskan bahwa sunat yang dilakukan pada waktu balita itu, tidak ada hal yang mengganjal pada alat kelaminnya dan tidak akan merusak kemaluannya.
Informan juga mengatakan bahwa, mereka akan tetap melakukan sunat pada anak perempuannya, karena orang tua, nenek dan masyarakat sekitar menyarankan dan mengajarkan hal tersebut. Karena bila ada orang tua yang tidak menyunat anak perempuannya, pasti akan dimarahi oleh orang tertua di desa ataupun neneknya sendiri. Seperti yang katakan informan :
“Senat untuk anak bekhu e, go kin lot die akhi, jadi kae si ajakhken kalak metue hakhus kite pertahanken. Ulang gak kite beneken, anak kami pe pagi pasti kami senati, kakhene edi mbelin gunene sebagai tande kite kalak Islam dan mengikuti sunah Rasul. (Sunat anak perempuan itu, sudah ada dari dulu, jadi apa yang diajarkan oleh pendahulu kita harus kita
pertahankan. Jangan sampai itu kita hilangkan, dan anak kami pasti akan kami sunat, karena itu besar manfaatnya sebagai tandanya kita umat Islam dan mengikuti sunnah Rasul).”
Yanti juga mengaku bahwa, kami tidak akan melakukan sunat jika, orang tua kami, tokoh adat dan tokoh agama setuju untuk tidak dilakukan. Informan menambahkan, apabila nantinya terjadi sesuatu yang membahayakan sehingga dapat mencederai kami dan anak perempuan kami, maka sunat itu tidak perlu lagi kami dilakukan. Menurut informan, mereka tidak perlu tau mengapa dan untuk apa dilakukan sunat perempuan, karena sepengetahuan mereka sunat perempuan itu merupakan tradisi dan perintah agama, dan tidak penting bagaimana manfaat ataupun tujuan pelaksanaannya, yang terpenting kita menjalankan apa yang telah diwariskan oleh orang sebelum kita.