SUNGAI-SUNGAI BERSEJARAH DI CIREBON
A. Sungai Gangga dan Kerajaan Indraprahasta (DAS Grenjeng)
BAB V
SUNGAI-SUNGAI BERSEJARAH DI
92 | Perubahan Eksistensi Sungai dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Sosial
Melihat lokasi yang diberitakan naskah tersebut, letak Sungai Gangga disekitar Desa Sampiran sebelah utara, berbatasan dengan Grenjeng atau Kalitanjung, sampai ke wilayah Dukuh Semar hingga Kelurahan Drajat, kalau lokasi yang di Sampiran Selatan Sungai Gangga terpecah menjadi Sungai Suba, Sungai Grampak, dan Sungai Cirebon Girang.
Terutama yang tinggal di pinggiran Kota Cirebon. Upacara berlangsung di 3 lokasi yaitu; disekitar Kelurahan Drajat, Dukuh Semar dan Kalitanjung. Masyarakat Cirebon menyebutnya dengan Upacara Ngirab atau Adus Gede (Mandi Besar). Di India upacara tersebut disebut Maha Kumba (Mandi besar).
Seiring dengan perkembangan jaman dan pendangkalan Sungai Gangga upacara tersebut tidak dilaksanakan lagi. Upacara itu dulu dilaksanakan pada hari Rabo terakhir di bulan Safar (Rebo Wekasan), seminggu sebelum datangnya bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam. Nama Indraprahasta masih sering disebut dalam berita keberadaan Tarumanagara. Setelah Maharaja Purnawarman mangkat, penggantinya adalah Raja Wisnuwarman.
Pada pemerintahan Raja Wisnuwarman, Tarumanagara diguncang pemberontakan yang dipimpinCakrawarman,, adik dari Maharaja Purnawarman, paman dari Raja Wisnuwarman. Peristiwa ini diberitakan oleh naskah Pustaka Pararathon I Bhumi Jawadwipa, 1.2, menceritakan bahwa “pada saat itu (Wisnuwarman) memerintah Kerajaan Tarumanagara terjadi huru-hara memasuki Negara, ialah sang Cakrawarman panglima perang, yaitu adik sang Purnawarman, huru-hara tersebut
ditumpas oleh Prabu Wirabanyu, raja dari kerajaan Indraprahasta”.173
Raja Indraprahasta yang disebutkan sudah berganti dari Resi Sentanamurti kepada putranya, Wirabanyu bergelar Prabu Wirabanyu. Diceritakan putri Prabu Wirabanyu, Suklawati Dewi dinikahi Maharaja Wisnuwarman. Keamanan Kerajaan Tarumanagara dipercayakan kepada pasukan dari Indraprahasta. Selama 2 periode pemerintahan, Indraprahasta menempati kedudukan yang penting. Setelah Wisnuwarman mangkat, digantikan putranya, Indrawarman, memerintah kerajaan Tarumanaagara dari 377 saka sampai 437 saka atau 465 M sampai 515 M. Indrawarman masih mengandalkan Pasukan Tempur Indraprahasta.
Untuk memperkuat posisinya sebagai Raja Tarumanagara, Indrawarman mempersunting Dewi Ganggasari, putri Wisnumurti Raja Indraprahasta. Setelah Resi Sentanumurti, Prabu Wirabanyu, dan Prabu Wisnumurti mangkat, nama Indraprahasta tidak pernah muncul dalam catatan apapun, baik naskah lokal maupun sumber berita asing. Kepopuleran Indraprahasta selalu dikaitkan dengan kesucian Sungai Gangganya dan pasukan tempurnya yang bernama Pasukan Kalang atau Pasukan Pedati .
Menurut TD Surjana Pasukan Kalang terdiri dari Pasukan Konvoi Pedati yang dilengkapi persenjataan lengkap. Pedati bisa berfungsi sebagai perisai dari serangan musuh dan mobilisasi pasukan. Keberadaan Indraprahasta hanya ditemukan dalam naskah Seri Wangsakarta, setelah
173 Darsa, U. A., & Ekadjati, E. S. (2006). Gambaran kosmologi Sunda. (Bandung:
Kiblat; 2007), hal.6.
94 | Perubahan Eksistensi Sungai dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Sosial
keruntuhan Tarumanagara, beritanya tidak pernah muncul, bukti-bukti keberadanya sulit ditemukan.
Sejak 1987 M Mandi Suci di Sungai Gangga sudah tidak ada lagi, tetapi Mandi Suci di bulan purnama atau Murnamaan masih tetap dilaksanakan sampai sekarang.
Dahulu Murnamaan dilakukan tanggal 14 tiap bulan, kemudian bergeser setiap Jum’at kliwon, kemungkinan pergeseran terjadi setelah Sunan Gunungjati wafat pada 1568. Tradisi kliwonan berasal dari tradisi Seba Kliwon, upacara Mandi Suci di 7 Sumur di Komplek Astana Nurgiri Ciptarengga dan Astana Amparanjati.
Para peziarah memulai upacara Murnamaan setelah memasuki senja, sekitar pukul 07.00 sampai larut malam,mengenakan kain serba putih, selesai dipakai dibuang. Bukti-bukti berkaitan “Wong Kalang” atau Orang-orang Kalang adalah Pedati Gede, tradisi kendaraan sebelum kedatangan Islam. Ki Gede Pekalangan adalah orang yang merawat sisa-sisa warisan Wong Kalang. Orang-orang Pekalangan adalah keturunan Pasukan Kalang jaman Kerajaan Indraprahasta.
Situs Pedati Gede bisa kita saksikan di Kampung Pekalangan sampai sekarang. Keberadaan situs raja-raja yang memerintah Indraprahasta sampai sekarang belum ditemukan, baik kuburan ataupun candi. Menurut PRBN, 1,2: Agama yang dianut oleh raja-raja Indraprahasta adalah Hindu sekte Waisnawa, adatnya adalah melarung jenazah yang meninggal dunia. Kemungkinan raja-raja Indraprahasta yang meninggal jenazahnya dilarung atau dikremasi sehingga tidak ada kuburan ataupun candi.
Bukti-bukti lain yang berkaitan erat dengan kerajaan Indraprahasta adalah Arca Wisnu di komplek Gua
Sunyaragi, menurut masyarakat setempat sudah ada sejak dulu. Mengapa arca ini ditemukan di Gua Sunyaragi? Tidak ada penjelasan yang valid. Komplek Gua Sunyaragi, adalah gua buatan manusia yang berada ditengah danau buatan.
Pembuatannya dirintis oleh Pangeran Angkawijaya atau Pangeran Losari pada 1570 M.
Alasan pembuatan Gua Sunyaragi untuk tempat berkholwat, pengganti Pesantren Gunung Sembung yang telah berubah fungsi menjadi makam raja-raja. Terutama setelah Sunan Gunungjati wafat, pesantren di Gunung Sembung berubah nama menjadi Astana Nurgiri Ciptarengga. Sunyaragi terletak ditengah danau buatan, dikelilingi air yang dipasok dari Sungai Gangga melalui saluran dari Kampung Kandang Perahu menuju danau,sebelumnya air ditampung di Situ Gangga. Mungkin pada waktu penggalian danau tersebut Pangeran Losari menemukan arca Wisnu, kemudian diletakan di Gua Sunyaragi.
Asumsi kedua: diketemukan oleh Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon, Raja Giyanti yang membangun komplek Gua Sunyaragi dengan fasilitas lengkap dan megah, menyempurnakan dengan infrastruktur pengadaan saluran air dengan sirkulasi yang baik, fasilitas pendingin disetiap ruangan gua dengan sirkulasi air yang dialirkan disetiap cela-cela gua. Membangun kolam pemandian dan taman yang mengelilingi seluruh bagian komplek gua sunyaragi.
Asumsi ketiga: pada 1753 M Sultan Tajul Asyikin Amirsena Zaenudin, Sultan Sepuh IV juga memperbaiki Gua Sunyaragi, namun pada 1773 sang Sultan keburu mangkat, pembangunan dilanjutkan oleh putranya, Pangeran Amir
96 | Perubahan Eksistensi Sungai dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Sosial
Shidik, membuat ruang bawah tanah yang luas, cukup untuk latihan perang, kedalamannya hampir mencapai 6 meter, diduga berada sebelah utara kolam, mungkin pada saat penggalian arca Wisnu tersebut ditemukan.
Pangeran Amir Shidik atau dikenal dengan nama Sultan Sepuh Muhammad Shofiudin akhirnya terusir dari benteng pertahanannya ketika Gua Sunyaragi dihancurkan oleh serangan Belanda. Pada 1780 M, Gua Sunyaragi menjadi puing-puing bangunan yang sepi, kemudian direhab oleh pemerintah RI pada 1980. Menurut informasi penduduk setempat arca Wisnu dari dulu tidak pernah berpindah, selalu diberi sesajen ketika mau melaksanakan hajatan.
Kalau Arca Wisnu tersebut berasal dari sisa-sisa peninggalan Kerajaan Indraprahasta, maka apa yang diberitakan oleh Pangeran Wangsakerta dalam PRBN, 1,2 benar adanya, bahwa agama yang dianut oleh masyarakat Cirebon pada masa kerajaan Indraprahasta adalah Hindu Sekte Waisnawa. Selain arca Wisnu,disekitar bunderan Dewandaru Keraton Kasepuhan dipajang Arca Nandi, pemuja Batara Syiwa adalah corak keagamaan masyarakat Cirebon sebelum Islam.