• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suplementasi Vitamin D terhadap Sensitivitas Insulin

Dalam dokumen Nutrien Vitamin D dan Mineral Kalsium (Halaman 72-75)

BAB II ASPEK GENETIKA VITAMIN D

3.4. Suplementasi Vitamin D terhadap Sensitivitas Insulin

anak-anak, dengan tujuan mengurangi risiko terjadinya diabetes tipe 1. Peningkatan asupan vitamin D selama masa kehamilan mengurangi perkembangan autoantibodi turunan .

Penelitian di Finlandia yang memberikan 2000 SI vitamin D3 per hari selama tahun pertama kehidupan dan kemudian diikuti selama 31 tahun, risiko diabetes tipe 1 menurun sampai 80% (Risiko Relatif (RR) 0,22; Interval Kepercayaan (IK) 95%, 0,05- 0,89)

Terdapat beberapa penelitian lain yaitu penelitian yang menunjukkan defisiensi vitamin D dapat menyebabkan meningkatnya resistensi insulin, penurunan produksi insulin, dan berhubungan dengan sindroma metabolik. Penelitian tersebut menunjukkan kombinasi asupan kalsium 1200 mg dan vitamin D 800 SI, dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 sebesar 33% (RR 0.67; IK 0,49-0,90) dibandingkan dengan asupan kalsium kurang dari 600 mg dan vitamin D 400 SI.

Penelitian potong lintang yang dilakukan menunjukkan hubungan kadar 25(OH)D dengan sensitivitas insulin, hubungan tersebut dapat terlihat dari tiga faktor yaitu vitamin D yang tersimpan di jaringan lemak, obesitas yang berhubungan dengan defisiensi vitamin D, dan resistensi insulin. Perbedaan jumlah jaringan lemak (adipositas) dikatakan dapat menjadi faktor perancu terhadap hubungan ini

Penelitian uji klinis, dengan memberikan suplementasi vitamin D bentuk kolekalsiferol 700 SI dan kalsium 500 mg selama 3 tahun dan dibandingkan dengan plasebo ternyata menunjukkan perbaikan pada sensitivitas insulin. Penelitian randomized controlled trial (RCT), dengan memberikan suplementasi vitamin D 120.000 SI selama enam minggu menunjukkan peningkatan kadar 25(OH)D serum dan peningkatan sensitivitas insulin, keterbatasan penelitian ini juga menggunakan pengukuran sensitivitas insulin tidak langsung.

Penelitian eksperimental yang dilakukan belum menemukan berapa lama perlakuan atau lamanya pemberian vitamin D untuk memberikan pengaruh pada sensitivitas dan sekresi insulin. Penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan vitamin D dengan sensitivitas insulin yang telah dilakukan juga

belum menemukan dosis terapetik yang tepat untuk suplementasi vitamin D.

Penelitian dengan pemberian vitamin D sebanyak 500 IU (12,5 g) dan kalsium sebanyak 150 mg per hari dalam minuman yoghurt selama 12 minggu, menunjukkan perbaikan pada kadar HbA1C. Peningkatan kadar 25(OH)D dinyatakan dapat memperbaiki sensitivitas insulin sebesar 13,3%. Beberapa parameter lain seperti HOMA-IR dan kadar insulin juga menunjukkan hubungan yang berlawanan dengan perubahan kadar 25(OH)D.

3.5 Vitamin D dan Lemak

Beberapa penyebab yang menyatakan hubungan antara defisiensi vitamin D dan obesitas antara lain aktivitas individu yang jarang terpapar sinar matahari, simpanan vitamin D dalam jaringan lemak, dan penurunan bioavailabilitas produksi endogen vitamin D dalam sirkulasi. Penelitian terdahulu melaporkan adanya hubungan antara rendahnya kadar vitamin D dengan besarnya IMT, hubungan berlawanan antara kadar 25(OH)D serum dengan adipositas terutama lemak viseral dibandingkan lemak subkutan. Penelitian eksperimental tersebut menyatakan bahwa defisiensi vitamin D dapat menyebabkan adipositas yang lebih besar.

Lemak viseral lebih patogenik terjadinya risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, hipertrigliseridemia, penekanan pada glukosa puasa, dan sindroma metabolik. Lemak viseral juga lebih menyebabkan peningkatan sekresi adipokin, mediator homeostasis, fibrinolisis, dan faktor pertumbuhan (growth factor) dibandingkan lemak subkutan .

Penelitian lain menemukan adanya penurunan jaringan lemak viseral pada pemberian suplementasi vitamin D-kalsium sebesar 13% selama 16 minggu. Penurunan ini menunjukkan bahwa suplementasi tersebut dapat mengurangi kemungkinan terjadinya sindroma metabolik, karena lemak intraabdomen berhubungan langsung dengan peningkatan trigliserida, rendahnya HDL, hipertensi, dan intoleransi glukosa. Kekurangan dari penelitian tersebut adalah tidak memisahkan antara suplementasi vitamin D dan kalsium, diketahui bahwa kadar 25(OH)D yang rendah berhubungan independen dengan massa lemak dan

peningkatan IMT. Penelitian ini juga hanya dilakukan pada etnis wanita kulit putih saja sehingga sulit untuk mengeneralisasikan hasil penelitian tersebut.

Berbagai penelitian yang ada sudah melihat pengaruh vitamin D tetapi masih mempertanyakan peranan vitamin D tersebut. Berikut adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan vitamin D

Kadar lemak tubuh tinggi yang termasuk dalam definisi dari obesitas ternyata dapat menurunkan bioavailabilitas vitamin D. Vitamin D termasuk larut lemak yang disimpan dalam lemak tubuh, bentuk kolekalsiferol yang diproduksi di kulit atau dikonsumsi dari bahan makanan sumber akan disimpan di dalam lemak tubuh. Simpanan ini akan digunakan saat musim dingin atau paparan sinar matahari yang sedikit sehingga kebutuhan akan vitamin D akan tercukupi. Bentuk kolekalsiferol akan tersebar di dalam sel lemak justru membuatnya lebih sulit untuk dilepaskan ke sirkulasi. Pada obesitas, peningkatan kadar vitamin D dalam darah hanya sebesar 50% dibandingkan dengan orang yang bertubuh normal.

Bentuk simpanan vitamin D yang berada dalam lemak tubuh dapat menurunkan bioavailabilitas produksi vitamin D endogen dalam sirkulasi. Rendahnya kadar vitamin D dalam sirkulasi juga berhubungan dengan resistensi insulin tetapi tidak berhubungan dengan obesitas berdasarkan IMT. Kaitan vitamin D berkaitan dengan jenis atau karakteristik dari kadar lemak subkutan dan viseral. Disebutkan juga bahwa resistensi insulin yang terjadi lebih berhubungan dengan komposisi lemak dibandingkan dengan IMT.

Lemak yang berkaitan dengan rendahnya kadar 25(OH)D adalah jaringan lemak viseral, walaupun jaringan lemak subkutan juga berkorelasi dengan vitamin D sirkulasi. Jaringan lemak viseral tidak hanya terjadi pada kategori IMT tinggi tetapi juga pada IMT rendah, sedangkan pada jaringan lemak subkutan, yang berkorelasi dengan kadar 25(OH)D adalah IMT rendah.

Mekanisme yang terjadi selain berkurangnya bioavailabilitas vitamin D yang terperangkap dalam sel adiposit, juga dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang obes yang kurang paparan sinar matahari, rendahnya aktivitas fisik, cara berpakaian yang membatasi sintesis vitamin D di kulit.

Mekanisme yang berlawanan menunjukkan jika terjadi defisiensi vitamin D, akan menyebabkan meningkatnya adipositas atau penumpukan sel lemak. Mekanisme ini melalui jalur rendahnya kadar vitamin D yang menyebabkan peningkatan kadar hormon paratiroid, yang akan memicu masuknya kalsium ke dalam sel lemak dan meningkatkan proses lipogenesis.

Bentuk 1,25(OH)D akan memodulasi adipogenesis melalui inhibisi jalur reseptor vitamin D yang termasuk komponen molekuler penting proses adipogenesis seperti peroxisome proliferator-activated receptor- (PPAR-). Akibat dari proses tersebut, rendahnya simpanan vitaminD akan menyebabkan differensiasi preadiposit menjadi adiposit yang berlebihan. Proses ini merupakan aksi balik dari rendahnya vitamin D terhadap terjadinya penumpukan lemak, namun terdapat aspek lain selain mekanisme diatas yang dapat menyebabkan rendahnya kadar vitamin D. Penelitian-penelitian berkembang dan mengaitkan rendahnya kadar vitamin D dengan mutasi gen yang terlibat dalam regulasi vitamin D dalam tubuh.

Dalam dokumen Nutrien Vitamin D dan Mineral Kalsium (Halaman 72-75)

Dokumen terkait