KOMPILASI AYAT-AYAT TENTANG JILBAB
D. Surat Al- A’raf Ayat 26
1. Surat Al-A’raf Ayat 26
Artinya: “Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa. Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Surah al-A’raf secara harfiah bermakna tempat-tempat yang tinggi dengan aneka makna yang dapat dikandungnya. Surah ini terdiri dari
206 ayat, keseluruhannya turun di Mekkah sebelum Nabi Muhammad
SAW berhijrah ke Madinah. Surah ini merupakan rincian dari sekian
banyak persoalan yang diuraikan oleh surah al-An’am, khususnya menyangkut kisah beberapa nabi. Di sini diuraikan kisah Nabi Adam
as dan iblis, juga Nabi Nuh, Hud, Luth, Syu’aib, Shaleh, dan Musa as dalam perjuangan mereka menghadapi kaumnya. Uraian tersebut
bertujuan untuk mengingatkan setiap pembangkang bahwa Allah
SWT tidaklah mengutus seorang nabi itu, melainkan ditimpakan
kepada mereka kesempitan dan penderitaan, supaya mereka tunduk
dengan merendahkan diri kepada-Nya. (Shihab, 2012: 405). Diantara
perintah Allah SWT kepada manusia untuk menutup aurat. Perintah
tersebut tertuang dalam ayat 26.
Ayat 26 berpesan kepada putra-putri Nabi Adam as sejak putra
pertama hingga anak terakhir dan keturunannya bahwa Allah SWT
telah menyiapkan bahan pakaian untuk menutupi aurat lahiriah serta
kekurangan-kekurangan batiniah mereka. Bahan itu dapat digunakan
sehari-hari. Allah menyiapkan bulu, yakni bahan-bahan pakaian indah
untuk menghiasi diri dan yang digunakan dalam peristiwa-peristiwa
istimewa. Di samping itu, ada lagi bahan untuk pakaian takwa berupa
tuntunan-tuntunan moral dan agama. Itulah pakaian yang terpenting
dan yang paling baik (Shihab, 2012: 417).
Thahir Ibn ‘Asyur mengomentari ayat ini antara lain bahwa Allah SWT mengilhami Adam as agar menutup auratnya. Ini kemudian
ditiru oleh anak cucunya. Manusia seluruhnya diingatkan tentang
nikmat itu untuk mengingat bahwa itu adalah warisan dari Nabi Adam
as, dan ini akan lebih mendorong mereka untuk bersyukur (Shihab,
2012: 68).
Kata ( سابل ) libaas, adalah segala sesuatu yang dipakai, baik penutup badan, kepala, atau yang dipakai di jari dan lengan, seperti
cincin dan gelang.
Kata ( شير ) riisya, pada mulanya berarti bulu, karena bulu binatang merupakan hiasan dan hingga kini dipakai oleh sementara
orang sebagai hiasan, baik di kepala maupun melilit di leher, kata
tersebut dipahami dalam arti pakaian yang berfungsi sebagai hiasan.
Dari sini dapat dipahami dua fungsi dari sekian banyak fungsi
pakaian. Pertama, sebagai penutup bagian-bagian tubuh yang dinilai
oleh agama dan atau dinilai oleh seseorang atau masyarakat sebagai
buruk bila dilihat. Kemudian fungsi yang kedua, sebagai hiasan yang
menambah keindahan pemakainya. Ini memberi isyarat bahwa agama
memberi peluang yang cukup luas untuk memperindah diri dan
mengekspresikan keindahan (Shihab, 2012: 68).
Firman-Nya: ( ىوقتلا سابل ) libaas at-taqwa, mengisyaratkan pakaian ruhani. Rasulullah SAW melukiskan iman sebagai sesuatu
yang tidak berbusana dan pakaiannya adalah takwa.
Ayat ini menyebut pakaian takwa, yakni pakaian ruhani, setalah
sebelumnya menyebut pakaian jasmani yang menutupi
kekurangan-kekurangan jasmaninya. Pakaian ruhani menutupi hal-hal yang dapat
memalukan dan memperburuk penampilan manusia jika ia terbuka.
Keterbukaan aurat jasmani dan ruhani dapat menimbulkan rasa perih
dalam jiwa manusia. Pakaian takwa bila telah dikenakan seseorang
maka “Ma’rifat akan menjadi modal utamanya, pengendalian diri ciri aktivitasnya, kasih asas pergaulannya, kerinduan kepada Ilahi
tunggangannya, zikir pelipur hatinya, keprihatinan adalah temannya,
ilmu senjatanya, sabar busananya, kesadaran akan kelemahan di
harta simpanan dan kekuatannya, kebenaran andalannya, taat
kecintaannya, jihad kesehariannya, dan shalat adalah buah mata
kesayangannya.”
Jika pakaian takwa telah menghiasi jiwa seseorang, akan
terpelihara identitasnya lagi anggun penampilannya. Selalu bersih
walau miskin, hidup sederhana walau kaya, terbuka tangan dan
hatinya. Tidak berjalan membawa fitnah, tidak menghabiskan waktu
dalam permainan, tidak menuntut yang bukan haknya, dan tidak
menahan hak orang lain. Bila beruntung ia bersyukur, bila diuji ia
bersabar, bila berdosa ia istighfar, bila bersalah ia menyesal, dan bila
dimaki ia tersenyum sambil berkata: “Jika makian anda keliru, aku memohon semoga Tuhan mengampunimu dan jika makian anda
benar, aku memohon semoga Allah mengampuniku.” Demikianlah ciri-ciri seseorang yang mengenakan pakaian takwa (Shihab, 2012:
69).
Penutup ayat ini ( نوركذي مهلعل ) la’allahum yadzzakkaruun,
Thabathaba’I memahami penutup ayat ini: Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat sebagai isyarat terhadap fungsi pakaian ruhani dalam menghindarkan manusia dari keperihan dan siksa akibat terbukanya
aurat tersebut, dalam arti bahwa pakaian yang ditemukan manusia
untuk memenuhi kebutuhan menutup auratnya adalah bukti kekuasaan
menyadari bahwa ia juga memiliki aurat batiniyah, yaitu
keburukan-keburukan nafsu, yang buruk pula bila terbuka. Menutupnya
merupakan hal yang sangat penting. Penutup aurat batiniah itulah
pakaian takwa yang diperintahkan Allah dan dijelaskan oleh
Rasul-Nya (Shihab, 2012: 71).
2. Kandungan Isi Surat Al-A’raf Ayat 26
a. Pakaian antara lain berfungsi sebagai penutup bagian-bagian tubuh
yang dinilai oleh agama dan dinilai oleh seseorang atau masyarakat
sebagai buruk bila dilihat, serta sebagai hiasan yang menambah
keindahan pemakainya. Ini memberi isyarat bahwa agama memberi
peluang yang cukup luas untuk memperindah diri dan
mengekspresikan keindahan. Di samping pakaian jasmani, ada juga
pakaian rohani yang dinamakan pakaian takwa dan inilah lebih
penting daripada pakaian jasmani.
b. Menyenangi keindahan, termasuk dalam berpakaian, adalah fitrah
yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, karena itu ia
tidak terlarang. Yang terlarang bila itu dilakukan dengan
berlebihan.
3. Munasabah
Ayat ini dan ayat-ayat berikutnya memberi peringatan dan
tuntunan kepada anak keturunan Adam as. Boleh jadi juga ayat ini dan
ayat-ayat berikutnya, empat ayat yang dimulai dengan panggilan Hai anak-anak Adam, merupakan lanjutan dari uraian ayat lalu yang
menginformasikan tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan
seluruh manusia sehingga dengan demikian ayat ini dan ayat-ayat
berikutnya termasuk apa yang disampaikan Allah melalui Adam as
kepada anak cucunya pada masa awal kehidupan mereka di permukaan
bumi ini. Pesan ayat ini dan ayat berikutnya merupakan penyampaian
Ilahi tentang nikmat-Nya, antara lain ketersediaan pakaian yang dapat
menutup aurat mereka, dan peringatan agar tidak terjerumus dalam
rayuan setan, serta perintah-Nya untuk berhias ketika beribadah kepada
Allah SWT (Shihab, 2012: 67).