Tabel 19 dibawah menunjukkan posisi outstanding SBN dalam kurun waktu 2009-triwulan III 2014. Dalam kurun waktu tersebut, penerbitan SBN mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dari Rp 987,0 triliun pada akhir tahun 2009
Rata-Rata
2009 2010 2011 2012 2013 Sep-14 2009-Sept 14
Total Utang Pemerintah Pusat 1,590.64 1,681.66 1,808.95 1,977.71 2,375.49 2,601.72 10.3 a Pinjaman 611.18 617.26 621.29 616.61 714.44 683.80 2.3
1. Pinjaman Luar Negeri 611.18 616.87 620.28 614.81 712.17 681.26 2.2
Bilateral*) 387.92 380.67 381.66 359.80 383.53 355.76 -1.7
Multilateral**) 202.37 208.28 212.96 230.23 288.29 279.97 6.7
Komersil***) 20.24 27.34 25.15 24.37 40.00 45.27 17.5
Suppliers***) 0.66 0.57 0.50 0.41 0.35 0.26 -17.0
Lain-Lain***) - - - - - -
-2. Pinjaman Dalam Negeri - 0.39 1.01 1.80 2.27 2.54
-b SBN 979.46 1,064.40 1,187.66 1,361.10 1,661.05 1,917.92 14.4
Denominasi Valas 143.15 161.97 195.63 264.91 399.40 450.34 25.8
Denominasi Rupiah 836.31 902.43 992.03 1,096.19 1,261.65 1,467.58 11.9
Outstanding (dalam IDR triliun)
2009 2010 2011 2012 2013 2014
Juni Total Utang Pemerintah Pusat (dalam triliun IDR) 1.590,64 1.681,66 1.808,95 1.975,43 2.375,49 2.507,52 a Pinjaman (dalam triliun IDR) 611,18 617,26 621,29 614,33 714,44 696,35 b SBN (dalam triliun IDR) 979,46 1.064,40 1.187,66 1.361,10 1.661,05 1.811,17
Denominasi Valas 143,15 161,97 195,63 264,91 399,40 409,58
Denominasi Rupiah 836,31 902,43 992,03 1.096,19 1.261,65 1.401,59
Prosentase Pinjaman Terhadap Total Utang 38,4% 36,7% 34,3% 31,1% 30,1% 27,8%
Prosentase SBN Valas Terhadap Total Utang 9,0% 9,6% 10,8% 13,4% 16,8% 16,3%
menjadi Rp 1.917,9 triliun pada triwulan III tahun 2014. Dalam kurun lima tahun terakhir, pasar keuangan domestik menjadi prioritas penerbitan SBN. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan penerbitan SBN di pasar keuangan domestik dari tahun ke tahun. Selama periode tersebut, penerbitan SBN domestik meningkat rata rata sebesar 11,9 persen. Meningkatnya penerbitan SBN tersebut berdampak pada meningkatnya outstanding SBN domestik. Outstanding SBN domestik meningkat dari Rp836,3 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 1.467,6 triliun pada triwulan III tahun 2014.
Tabel 19. Posisi Outstanding Surat Berharga Negara 2009 – Triwulan III Tahun 2014 (Triliun Rupiah)
Sumber: Kementerian Keuangan
Sama halnya dengan SBN domestik, penerbitan SBN valas di pasar internasional juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dalam kurun waktu tahun 2009-triwulan III tahun 2014, penerbitan SBN valas meningkat rata-rata sebesar 25,8 persen. Outstanding SBN valas meningkat dari Rp 150,7 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 450,3 triliun pada triwulan III tahun 2014. Dalam mata uang asing, sampai dengan triwulan III tahun 2014, outstanding SBN valas dalam mata uang USD adalah sebesar USD35,19 miliar dan mata uang Yen Jepang sebesar JPY155,00 miliar dan dalam mata uang euro sebesar EUR1 miliar. Peneribitan SBN dalam mata uang EUR ini dilakukan Pemerintah untuk pertama kalinya pada bulan Juli 2014. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi penerbitan ini, yaitu (i) sebagai
JENIS SBN 31 Des 2009 31 Des 2010 31-Des-11 31-Des-12 31-Des-13 30-Sep-14 I. SBN Rupiah Fixed Rate 353.394 399.724 485.515 576.240 707.391 887.214 ORI 40.149 40.672 31.627 34.153 43.882 43.882 Variable Rate 143.286 142.795 135.063 122.755 122.755 122.755 Zero Coupon 8.686 2.512 2.512 1.263 - -SPN 24.700 29.795 29.900 22.820 34.050 36.100 SBSN 11.869 25.717 38.988 63.035 87.174 109.444 SUP 251.875 248.432 244.636 240.144 234.870 230.600 SBR - - - - - 2.391 SDHI 2.350 12.783 23.783 35.783 31.533 35.197 Total SBN Rupiah 836.309 902.430 992.025 1.096.193 1.261.655 1.467.583 II. SBN Valas INDO 141.032 145.654 169.572 221.927 330.809 356.468 SBSN Valas 6.110 5.844 14.962 25.626 50.584 61.060 RIEURO 15.495 RIJPY 3.570 10.478 11.096 17.355 18.006 17.314 Total SBN Valas 150.712 161.976 195.630 264.907 399.400 450.336 GRAND TOTAL SBN (I+II) 987.021 1.064.406 1.187.655 1.361.100 1.661.055 1.917.919
Asumsi Nilai Tukar (IDR/USD)
Nilai SBN Valas
- INDO (dalam miliar USD) 14,20 16,20 18,70 22,95 27,14 29,19 - SBSN (dalam miliar USD) 0,65 0,65 1,65 2,65 4,15 5,00 - RIEURO (dalam miliar EURO) 1,00 - RIJPY (dalam miliar JPY) 35,00 95,00 95,00 155,00 155,00 155,00
Komposisi
SBN Rupiah (dalam %) 0,85 0,85 0,84 0,81 0,76 0,77 SBN Valas (dalam %) 0,15 0,15 0,16 0,19 0,24 0,23
diversifikasi instrumen dan diversifikasi basis investor, (ii) benchmark yield curve surat utang RI yang baru, dan (iii) pembiayaan tambahan bagi APBN-P 2014.
Untuk alasan pertama, Euro bonds diharapkan dapat membuka basis investor baru bagi pemerintah untuk menerbitkan surat utang di masa depan. Permintaan atas Euro Bonds sangat tinggi yang menunjukkan bahwa kepercayaan asing terhadap Indonesia makin menigkat. Selain itu ini strategi yang dilakukan pemerintah ketika yield dalam dolar naik, maka pemerintah masuk ke euro dimana yield di euronya mengalami penurunan. Imbal hasil (yield) Eurobond ini juga jauh lebih rendah, sedangkan harganya juga lebih bagus.
Alasan kedua dilakukan bahwa dengan penerbitan Euro Bonds ini, akan diperoleh suatu benchmark yield curve surat utang Indonesia yang baru yang akan menjadi reference bagi para pihak di Indonesia di kemudian hari dalam menerbitkan Euro Bonds. Alasan ketiga tentunya untuk menambah pembiayaan dalam APBNP 2014. Selanjutnya Tabel 20 menunjukkan target dan realisasi penerbitan SBN 2014 (neto) terkait perannya sebagai instrumen utama pembiayaan APBN. Dalam upaya pemenuhan target pembiayaan SBN neto, penerbitan SBN dilakukan secara periodik. Kenaikan penerbitan SBN dalam kurun lima tahun terakhir antara lain ditujukan untuk refinancing. Refinancing tersebut dilakukan melalui penerbitan utang baru yang mempunyai syarat dan kondisi yang lebih baik. Sampai dengan triwulan III tahun 2014, realisasi penerbitan SBN neto mencapai Rp 257,9 triliun atau mencapai 97,35 persen persen dari pagu yang ditetapkan dalam APBN-P 2014.
Tabel 20. Realisasi Penerbitan Surat Berharga Negara sd Triwulan III Tahun 2014 (Neto) (Juta Rupiah)
Sumber : Kementerian Keuangan
Posisi kepemilikan SBN domestik sampai dengan triwulan III tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 21 di bawah ini. Dari sisi kepemilikan SBN domestik, sampai dengan triwulan III tahun 2014, realisasi penerbitan SBN domestik lebih banyak diserap oleh investor nonbank; terutama oleh investor asing, asuransi, reksadana, dan investor lainnya termasuk investor individu. Nilai total SBN domestik yang
Target Nominal Realisasi % Realisasi
sd 30 September 2014
SBN Netto 205,068,831 264,983,700 257,958,361 97.35%
SBN Jatuh Tempo 2014 164,821,745 165,199,045 119,289,856 72.21%
Rencana Buyback 3,000,000 3,000,000 970,968 32.37%
Kebutuhan Penerbitan 2014 (Gross)* 369,890,576 430,182,745 377,248,217 87.69%
SUN 304,702,469 SUN Domestik 236,490,885 - ON 183,200,000 - SPN 38,500,000 - SPNNT 20140303 12,400,000 - SUN RITEL 2,390,885 SUN Valas 68,211,584 SBSN 54,799,345 SBSN Domestik 54,799,345 SBSN Valas
-* Menyesuaikan Realisasi Cash Management dan Debt Switch
Uraian Target
diserap oleh investor nonbank mencapai Rp 778,90 triliun atau 64,94 persen dari total SBN domestik. Sisanya sebanyak 35,06 diserap oleh Investor perbankan sebesar menyerap Rp 420,50 triliun.
Dari tabel 21 dapat dilihat juga bahwa kepemilikan SBN domestik oleh investor nonbank dalam kurun waktu 2009- triwulan III tahun 2014 meningkat rata-rata sebesar 20,6 persen. Peningkatan ini jauh lebih besar dibanding peningkatan kepemilikan SBN domestik oleh investor perbankan yang hanya meningkat rata-rata 10,6 persen dari Rp 254,36 triliun di akhir tahun 2009 menjadi Rp 420,50 triliun pada triwulan III tahun 2014.
Kenaikan kepemilikan SBN domestik oleh investor nonbank tersebut paling banyak disumbang oleh kepemilikan investor asing yang meningkat rata-rata sebesar 37,3 persen dalam kurun waktu tahun 2009-triwulan III tahun 2014. Besarnya kepemilikan asing mengindikasikan bahwa investor asing memiliki kepercayaan terhadap kondisi fundamental perekonomian di dalam negeri. Namun demikian, besarnya kepemilikan asing terhadap SBN tersebut perlu diwaspadai karena sangat rentan terhadap risiko terjadinya sudden reversal yang dapat berdampak sistemik terhadap perekonomian secara nasional. Untuk mengantisipasi terjadinya resiko tersebut, berbagai kebijakan dilakukan pemerintah, antara lain dengan melakukan penyempurnaan terhadap protokol manajemen krisis (crisis management protocol/CMP) di pasar SBN dan mempersiapkan skema mekanisme stabilisasi pasar SBN melalui Bond Stabilisation Framework (BSF).
Tabel 21. Posisi Kepemilikan SBN Domestik per 31 Triwulan III Tahun 2014 (Triliun Rupiah)
Sumber : Kementerian Keuangan
Pinjaman
Pembiayaan utang melalui pinjaman terdiri dari pinjaman luar negeri dan pinjaman dalam negeri. Sedangkan pinjaman luar negeri meliputi pinjaman program dan pinjaman proyek. Tabel 22 menunjukkan realisasi pembiayaan utang melalui pinjaman pada tahun 2009-triwulan III tahun 2014. Sampai dengan bulan triwulan
2009 2010 2011 2012 2013 Sept 2014 Rata-Rata Persentase Kepemilikan Bank 254.36 217.27 265.03 299.66 335.43 420.50 10.6 35.06%
Bank BUMN Rekap 144.19 131.72 148.64 147.52
Bank Swasta Rekap 59.98 54.93 67.33 81.58
Bank Non Rekap 42.40 26.26 42.84 62.07
BPD Rekap 6.02 1.41 4.32 3.67 Bank Syariah 1.77 2.95 1.90 4.83 Institusi Pemerintah 22.50 17.42 7.84 3.07 44.44 - -100.0 0.00% Non Banks 304.89 406.52 450.75 517.53 615.38 778.90 20.6 64.94% Reksadana 45.22 51.16 47.22 43.19 42.50 46.11 0.4 3.84% Asuransi 72.58 79.30 93.09 83.42 129.55 154.09 16.2 12.85% Asing 108.00 195.76 222.86 270.52 323.83 447.37 32.9 37.30% Dana Pensiun 37.50 36.75 34.39 56.46 39.47 42.63 2.6 3.55% Sekuritas 0.46 0.13 0.14 0.30 0.88 0.99 16.6 0.08% Individu 32.48 28.88 2.41% Lain lain 41.12 43.43 53.05 64.64 46.68 58.83 7.4 4.90% Total 581.75 641.21 723.62 820.26 995.25 1,199.40 1.08 1.00
III tahun 2014, realisasi pinjaman luar negeri bruto mencapai Rp 25,25 triliun atau 46,6 persen dari target yang ditetapkan di dalam APBN-P 2014. Realisasi pinjaman luar negeri tersebut meliputi penarikan pinjaman proyek yang mencapai Rp 20,86 triliun atau sebesar 56,0 persen dari pagu APBN-P 2014 dan pinjaman program sebesar Rp 4,39 trilun atau sebesar 26,0 persen dari pagu APBN-P 2014. Sedangkan realisasi pinjaman dalam negeri mencapai Rp 0,33 triliun atau sebesar 13,7 persen dari pagu APBN-P 2014.
Tabel 22. Realisasi Pembiayaan Utang Melalui Pinjaman 2009 sampai Triwulan III Tahun 2014 (Triliun Rupiah)
Sumber: Kementerian Keuangan
PINJAMAN 58.66 55.19 34.37 31.95 55.90 56.55 25.58 45.2%
Pinjaman Luar Negeri 58.66 54.79 33.75 31.02 55.28 54.13 25.25 46.6%
- Pinjaman Program 28.94 28.97 15.27 14.98 18.43 16.90 4.39 26.0%
- Pinjaman Proyek 29.72 25.82 18.48 16.05 36.85 37.23 20.86 56.0%
Pinjaman Dalam Negeri 0.00 0.40 0.62 0.93 0.62 2.42 0.33 13.7% JENIS PEMBIAYAAN UTANG Real 2009 Real 2010 Real 2011 APBN-P
2014
Real Sept
2014 %