• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teoretis

4. Suriah Spring

Akhir tahun 2010 hingga awal tahun 2011, disaat negara-negara Arab lain dipenuhi dengan pemberontakan, aksi-aksi demo, dan upaya penggulingan rezim berkuasa di negara-negara tersebut, Suriah merupakan negeri yang lebih stabil dibandingkan yang lainnya. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa rezim Asad dan Suriah tidak akan tersapu angin gelombang revolusi Arab Spring.

Rezim Asad membangun pemerintahan dengan menempatkan tentara baik sebagai simbol kekuasaan maupun sebagai suatu alat untuk mengontrol negara.73 Dalam beberapa kesempatan, tentara digunakan untuk menekan atau menghadapi rakyat dengan kekerasan demi mempertahankan stabilitas politik. Rezim ini pun dibangun diatas empat pilar: pertama, kekuasaan di tangan klan al-Asad. Kedua, rezim ini mempersatukan kaum minoritas Alawi. Ketiga, mengontrol seluruh aparatur militer intelijen. Keempat, monopoli partai

Ba‟ath atas sistem politik.

Faktor lain yang dianggap sebagai sistem kekebalan bagi Suriah dari gelombang Arab Spring adalah sikap pemimpinnya yang anti Barat dan

73

62

dukungannya terhadap Palestina. Posisi tersebut dianggap menguntungkan rezim yang berkuasa dan mengukuhkan keyakinan rakyatnya.

Posisi strategis kaum Alawie di Suriah turut menjaga keberlangsungan pemerintahan rezim Asad. Dari 200.000 tentara militer di Suriah, 70 persen merupakan Alawie. Sekitar 80 persen perwira militer Suriah pun Alawie. Dan divisi paling elit di militer Suriah, Garda Republik, dipimpin oleh adik laki-laki Bashar, Maher al-Asad.74Penempatan orang-orang kepercayaan rezim al-Asad juga diperhitungkan dalam menjaga stabilitas rezim. Untuk menghindari pembelotan oleh angkatan udara yang sebagia pilotnya adalah Sunni, orang-orang Alawie ditempatkan di bagian logistik, komunikasi, perawatan pesawat, serta intelijen angkatan udara.

Peristiwa Arab Spring serta kejatuhan para pemimpin negara Timur Tengah berhembus kencang hingga sampai ke rakyat Suriah. Semangat yang ditularkan para aktivis dan demonstran di Tunisia dan Mesir melalui video yang diunggah ke Youtube dan berbagai seruan perlawanan terhadap rezim di media sosial belum mampu menembus kekebalan yang dimiliki rezim al-Asad karena pihak keamanan menekan para aktivis tersebut agar tidak melakukan demonstrasi jika tidak ingin kejadian di Hama pada tahun 1982 terulang.75

Namun, peristiwa penyiksaan terhadap anak-anak sekolah oleh aparat keamanan di kota Deraa, kota kecil di Suriah yang berbatasan dengan Yordania dan 100 kilometer sebelah selatan Damaskus, mengubah stabilitas

74

Kuncahyono, Musim Semi di Suriah : Anak-anak Sekolah Penyulut Revolusi, hal. 85. 75

63

kondisi negara tersebut. Pada 6 Maret 2011 muncul sebuah perlawanan di kota Deraa yang dilakukan oleh para orang tua yang anak-anaknya ditahan oleh polisi setempat karena membuat grafiti di dinding sebuah bangunan dengan tulisan As-Shaab Yoreed Eskaat el Nizam (Rakyat ingin menumbangkan razim).76 Lima belas orang anak sekolah yang dianggap melakukan pembuatan grafiti tersebut ditahan oleh kepolisian setempat.

Anak-anak yang ditahan tersebut disiksa saat berada di dalam penjara. Hal tersebut membuat keluarga dan warga marah sehingga menyulut semangat demonstrasi anti rezim yang awalnya hanya ditujukan kepada Gubernur setempat.

Perilaku membuat grafiti di dinding tersebut oleh anak-anak sekolah usia sekitar 10-15 tahun merupakan perbuatan yang mereka tiru dari televisi yang menyiarkan tentang perilaku serupa yang dilakukan oleh para demonstran di Tahrir Square, Mesir. Namun, aparat keamanan (mukhabarat) setempat menganggap hal ini merupakan pembangkangan terhadap rezim, sehingga mereka merasa perlu menindak tegas aksi tersebut.77 Mereka menganggap, bahwa anak-anak tersebut adalah perpanjangan tangan para demostran dan termasuk ke dalam tindakan subversif78.

Tindakan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan tersebut, mengakibatkan warga masyarakat beserta keluarga melakukan aksi protes

76

Kuncahyono, Musim Semi di Suriah : Anak-anak Sekolah Penyulut Revolusi, hal. 114 77

Kuncahyono, Musim Semi di Suriah : Anak-anak Penyulut Revolusi, 2012, hal. 115. 78

Subversif merujuk kepada salah satu upaya pemberontakan dalam merobohkan struktur kekuasaan termasuk negara. Dalam bahasa Latin berarti, asal, awalnya tersebut berlaku untuk beragam aktivitas sebagai kemenangan secara militer dalam perebutan kekuasaan negara. Diakses melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Subversif

64

yang ditujukan kepada Gubernur kota Deraa, Faisal Khaltoum.

Tanggal 15 Maret 2011 selain di kota Deraa, demonstrasi juga terjadi di kota pantai Banias. Pemicu protesnya adalah pelarangan kepada para guru perempuan untuk menggunakan jilbab model Suriah atau niqab oleh rezim yang berkuasa daerah tersebut.

Protes yang dilancarkan oleh para demostran malah disambut dengan pemukulan dan pembubaran paksa. Aparat keamanan kemudian melanjutkan aksinya dengan menyemprotkan gas air mata, air, dan tembakan ke arah para demonstran hingga menelan korban.

Aksi di atas membuat para demonstran semakin marah dan akhirnya merambah ke kota-kota lainnya seperti Dayar al-Zor, al-Hasaka, dan Hama. Tuntutan yang diajukan para demonstran pun akhirnya beragam, yang pada awalnya hanya sebatas pembebasan kepada anak-anak yang ditahan hingga menjadi penurunan rezim yang berkuasa.

a. Day of Rage

Kemudian, pada hari Jumat, 18 Maret 2011, terjadi demonstrasi di seluruh Suriah dan aksi tersebut diunggah ke media sosial hingga menyebar di seluruh dunia. Melihat begitu banyaknya demonstrasi di wilayah Suriah, pemerintah pusat tidak bisa tinggal diam. Menyebarnya video perlawanan terhadap pemerintah ke seluruh dunia dengan bantuan internet membuat pemerintah pusat mengambil sikap pemadaman aliran listrik dan layanan telepon. Pemerintah, melancarkan serangan kepada para demonstran secara masif.

65

oposisi untuk membantu berjuang bersama menumbangkan rezim yang berkuasa, Bashar Al-Asad. Kemudian seiring berjalannya konflik, banyak free rider79 yang turut memperkeruh suasana di Suriah baik itu di pihak oposisi maupun loyalis pemerintah.

b. Reaksi Internasional

Melihat revolusi yang terjadi di Suriah, pada pertengahan Agustus 2011, Amerika Serikat (AS), Perancis, Inggris, Uni Eropa, dan Kanada menyatakan bahwa rezim Suriah tidak lagi sah. Mereka juga menyerukan kepada Bashar al-Asad agar segera meletakkan jabatannya.

Reaksi internasional berlanjut dengan agenda Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB. Namun, Rusia dan China, dua negara yang tergabung dalam DK PBB menggunakan hak veto mereka agar tidak terjadi campur tangan pihak asing dalam konflik yang terjadi di Suriah. Akibatnya, agenda intervensi asing gagal diterapkan atas Suriah.80

Liga Arab pun turut memberikan perhatian terhadap masalah yang terjadi di Suriah. Organisasi regional Arab ini mengutus para pengamatnya ke Suriah. Mereka menawarkan protocol pengamat Arab yang menjadi bagian dari resolusi Liga Arab. Saat itu, Suriah bersedia menandatangani protocol tersebut. Namun, saat protocol berikutnya menawarkan penyelesaian konflik dengan menyeru agar Bashar al-Asad menyerahkan kekuasaannya, tawaran tersebut pun ditolak.

79

Free Rider merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok atau individu yang memiliki kepentingan tersembunyi dengan mencari keuntungan atas suatu masalah yang sedang terjadi.

80

66

Usaha terakhir dunia Internasional adalah dengan dibentuknya gabungan negara Arab dan Barat. Dalam pertemuan pertama, pihak oposisi pemerintah meminta pihak rezim Bashar al-Asad untuk melakukan genjatan senjata. Pertemuan tersebut juga meminta pihak oposisi untuk meloloskan bantuan dari organisasi kemanusiaan bagi warga sipil yang menjalani penderitaan.

Revolusi Suriah tidak hanya mempermasalahkan sikap otoriter Bashar al-Asad, permusuhan antara Sunni dan Syi‟ah, tapi juga keadaan yang diperumit

dengan dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah. Pertengahan Agustus 2013 merupakan puncak isu penggunaan senjata kimia di Suriah. Saat terjadi pertempuran di pinggir kota Damaskus, lebih dari 400 orang tewas, yang dilaporkan akibat senjata kimia berupa gas sarin, mustard, dan VX. Selain ratusan orang tewas, ribuan orang juga terkena dampak gas beracun tersebut.81

Terkait dengan penggunaan senjata kimia, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, mencanangkan akan segera melakukan agresi militer ke Suriah. Namun, niatan tersebut seperti dikaji ulang oleh Barack Obama. Ia meyakini bahwa intervensi militer Amerika Serikat ke Suriah tergantung pada persetujuan kongres.82

Tidak hanya Amerika Serikat yang ingin ambil andil dalam konflik di Suriah, Inggris juga mengusulkan sebuah draft resolusi untuk memperoleh persetujuan serangan militer ke Suriah dari DK PBB, namun upaya tersebut pun gagal.

81“Serangan Senjata Kimia Pemerintah Suriah,” artikel diakses pada 18 Mei 2015 dari http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/08/130821_suriah_kimia

82

67

Sampai saat ini, Revolusi Suriah masih terus bergejolak. Jika dibandingkan dengan negara Arab lain, Revolusi Suriah terbilang sangat lama.

c. Oposisi Pemerintah pada Suriah Spring

Kelompok oposisi telah hadir jauh sebelum terjadinya Suriah Spring. 1. Free Syirian Army (FSA) adalah salah satu oposisi yang berperang

melawan pemerintah Suriah. Kelompok ini dipimpin oleh adik dari Hafiz al-Asad, Rif‟ad al-Asad, yang pada masa pemerintahan Hafiz al-Asad juga sempat melakukan kudeta namun gagal. Kelompok ini mendeklarasikan diri sebagai oposisi melawan pemerintah pada Juli 2011.83

2. Ikhwanul Muslimin yang sudah memberontak pada akhir 1970 dan awal 1980an. Keberadaan dan keanggotaan kelompok tersebut sudah dilarang oleh pemerintah Suriah terutama sejak tragedi Hama pada Februari 1982. Kelompok tersebut dipimpin oleh Ali Sadreddine al-Bayanouni.

3. Fron Penyelamatan Nasional (National Salvation Front/NSF) yang sebagian anggotanya juga merupakan anggota kelompok Ikhwanul Muslimin. Kelompok ini dipimpin oleh mantan wakil presiden Abdul Halim Khaddam.

4. National Democratic Gathering (NDG) yang ikut memimpin demonstrasi tahun 1970an. Kemudian para ketua kelompok tersebut dijadikan tahanan politik (tapol) saat Hafiz al-Asad masih menjabat sebagai presiden, dan kembali lagi memimpin aksi massa pada pergolakan Suriah tahun 2011.

83Philip Gamaghelyan, “A Caution against Framing Syria as an Assad – Opposition Dichotomy” (2013): hal. 104.

68

Kelompok tersebut merupakan koalisi politik sekular yang dibentuk pada akhir tahun 1979 oleh lima partai berhaluan nasionalis dan kiri ilegal yaitu, Uni Sosialis Arab Democratik, Partai Rakyat Demokratik Suriah, Gerakan Sosialis Arab, Partai Revolusioner Buru Partai Sosialis Arab Ba‟ath

Demokratik, dan Partai Aksi Komunis.

5. Jabhah al-Nusrah. Kelompok ini disebut sebagai kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Kelompok ini ingin mendirikan Khilafah Islam setelah tumbangnya Bashar al-Asad.

70 BAB IV

Analisa Konflik Suriah

Pemberontakan di suatu negara dapat dijelaskan dengan menguji siapa yang memilliki atau tidak memiliki kemauan untuk memberontak melawan kelompok yang berkuasa. Begitupun di Suriah, pemberontakan dapat dikaji melalui seberapa besar kemauan oposisi rezim Al-Asad untuk turun tangan melawan rezim yang sedang berkuasa tersebut.

Arab spring yang melanda negara-negara Timur Tengah telah memberikan dampak yang luar biasa bagi keadaan sosial maupun politik bagi Suriah. Kondisi saat pemerintah tidak lagi mendapatkan kedaulatan dari rakyatnya karena ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah akibat terjadinya korupsi, kesewenangan dalam menegakkan peraturan, dan tingginya kesenjangan sosial, telah mendorong rakyat untuk berusaha menggulingkan pemerintahan yang ada dan menggantinya dengan yang baru, ternyata tidak serta membuat Suriah kembali ke kondisi normal. Gelombang yang dimulai pada Desember 2010 di negara Tunisia dan kemudian menjalar ke negara-negara Timur Tengah lainnya termasuk Suriah, merupakan hasil dari sebuah proses panjang atas kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya.

Pada bab ini akan dijelaskan dinamika konflik Suriah dan rentetan faktor pemicu terjadinya Suriah Spring.

71

Dalam dokumen Konflik Suriah pada saat Arab spring 2010 (Halaman 72-82)

Dokumen terkait