untuk memperoleh kajian lebih
dalam tentang tema khusus yang
diangkat.Menuju Pembangunan
Berkelanjutan menjadi tema yang
dipilih dalam penulisan perdana
publikasi ini.
Survei Indepth study men-cakup seluruh kabupaten dan kota dalam wilayah Provinsi Jambi. Beberapa instansi dan stakeholder terkait yang dijadikan narasum-ber/responden survei dimak-sud antara lain adalah: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), DPPKAD, Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD).
PENDAPATAN ASLI
DAERAH DAN PRIORITAS PEMBANGUAN
01
Pendapatan aslidaerah (PAD) kabu-paten/kota di Provinsi Jambi masih relatif kecil dan sangat bergantung pada alokasi dana
pemerintah pusat. Pajak dan retribusi daerah merupakan komponen yang mendominasi sumber penerimaan PAD.
02
P e n g e n t a s a nkemiskinan menjadi prioritas utama sebagian besar pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Mengurangi pengangguran dan upaya mencapai nilai ideal Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga menjadi pilihan prioritas pembangunan di beberapa wilayah lainnya.
03
K e t i m p a n g a npendapatan meru-pakan masalah yang ding-gap paling sulit untuk diatasi oleh pemerintahan daerah.
INDEPTH
STUDY
Pengentasan kemiskinan juga dianggap sebagai hal yang cukup sulit untuk dicapai walau-pun berbagai program pemban-gunan yang mendukung upaya tersebut telah diprioritaskan. PEMBANGUNAN REGIONAL
01
Daya beli sebagianbesar masyara-kat sangat dipengaruhi stabili-tas harga komodistabili-tas unggulan Isu penting pembangunan
regional setidaknya dapat dikelompokkan kedalam 4 (empat) bahasan pokok. Dimensi pertama pembangu-nan regional adalah dimensi ekonomi yang meliputi daya beli masyarakat, pendapatan perkapita, urbanisasi, pekerja sektor informal, upah minimum regional, kemampuan keuan-gan daerah serta masalah per-ekonomian regional lainnya. Sosial merupakan dimensi kedua yang mengiringi dimensi ekonomi. Dimensi sosial antara lain meliputi tingkat pendidikan, kondisi kesehatan masyarakat,
tingkat kriminalitas dan berb-agai parameter kependudu-kan lainnya. Dimensi infra-struktur dan pelayanan publik dalam pembangunan regional mencakup ketersediaan fasili-tas pendidikan, fasilifasili-tas kese-hatan, elektrifikasi, fasilitas per-bankan, sarana transportasi, saluran irigasi serta fasilitas publik untuk sarana produksi lainnya. Teknologi informasi dan komunikasi adalah dimensi lain yang menjadi isu penting pem-bangunan regional. Dimensi ini terdiri dari luasan jangkauan siaran tv/radio, akses internet, coverage jaringan seluler, minat baca masyarakat dan peman-faatan teknologi tepat guna. DIMENSI EKONOMI
pertanian terutama subsektor perkebunan (karet dan kelapa sawit).
02
Kinerjapereko-nomian beberapa wilayah mengalami ketergan-tungan pada sektor pertamban-gan terutama minyak dan gas.
03
L u a s a n l a h a ngambut pada seba-gian wilayah memerlukan teknik khusus dalam pengelolaannya sebagai lahan pertanian.
04
Alih fungsi lahanyang terjadi adalah peralihan lahan pertanian tana-man pangan menjadi lahan per-tanian lainnya. Ancaman terh-adap ketahanan pangan lokal memunculkan gagasan pem-buatan peraturan daerah ten-tang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan telah dilakukan oleh beberapa wilayah. Petani meminta jami-nan kepastian pasar produksi
dari produk-produk pertanian lokal. Sebuah gerakan kecin-taan pada produk pangan lokal mengharuskan apara-tur sipil negara (ASN) untuk lebih memilih produk lokal seb-agai bahan kebutuhan pangan sehari-hari.
05
Arus urbanisasimenuju kawasan perkotaan sebagai pusat per-tumbuhan mulai membebani pemerintahan kota dan mem-bawa masalah sosial lainnya seperti kemiskinan, pengang-guran dan kriminalitas. Lahan kawasan taman nasional men-jadi daerah tujuan eksodus sebagianbesar penduduk dari provinsi disekitar kawasan juga menimbulkan masalah tersendiri.
06
Diversifikasi produkindustri membutuh-kan pelatihan khusus untuk menginisiasi variasi penciptaan
produk seiring tema ekonomi kreatif yang diusung pemer-intah. Tuntutan atas sebuah skema lunak pemberian modal usaha patut direalisasikan untuk menstimulus inovasi dan kreatifitas para pelaku usaha. Program revitalisasi perke-bunan bisa menjadi refer-ensi skema permodalan yang diharapkan.
07
Tenaga kerja yangt e r s e d i a t i d a k mampu diserap oleh pasar kerja karena ketidaksesuaian (link and match) antara kual-ifikasi pendidikan dengan keahlian yang dibutuhkan. Pekerja sektor informal seb-agai alternatif jenis pekerjaan yang dipilih masyarakat meru-pakan masalah lain diwilayah perkotaan dan sebagian wilayah yangkurang mampu menyerap tenaga kerja. Migrasi tenaga kerja keluar negeri terus terjadi
dengan peningkatan yang sig-nifikan, sehingga kantor per-wakilan imigrasi pun harus dit-ambah untuk melayani kepent-ingan tersebut.
DIMENSI SOSIAL
01
Kualitas lulusansekolah menengah relatif masih rendah, kualifi-kasi tenaga pendidik sangat menentukan.
02
Perilaku dan gayahidup sehat belum membudaya. Tenaga parame-dis masih kurang memadai.
03
Migrasi pendudukusia sekolah menuju daerah urban yang memiliki fasilitas pendidikan berkualitas lebih baik. Penguatan kelem-bagaan untuk menjamin kes-etaraan mutu pendidikan antar wilayah diharapkan mampu mengatasi masalah migrasi penduduk usia sekolah.
04
Migrasi penduduk usia sekolah menuju daerah urban yang memiliki fasilitas pendidikan berkualitas lebih baik. Penguatan kelem-bagaan untuk menjamin kes-etaraan mutu pendidikan antar wilayah diharapkan mampu mengatasi masalah migrasi penduduk usia sekolah.05
K e k h a w a t i r a nwilayah perbatasan dan perlintasan menjadi pintu masuk peredaran narkoba, antara lain disikapi dengan pembentukan tempat pengad-uan narkoba tingkat kecamatan.
06
Masih munculbeber-apa kasus sengketa lahan masyarakat dengan peru-sahaan perkebunan.
07
Menikmati fasilitaspendidikan dengan kualitas yang baik sangat berhubungan erat dengan
biaya yang harus dikeluarkan. Persaingan antara sekolah negeri dan swasta lebih terli-hat di perkotaan. Pemerintah daerah membuat kebijakan sekolah bebas pungutan dan bantuan beasiswa miskin untuk menciptakan kesetaraan menikmati fasilitas pendidikan berkualitas.
08
Meningkatkan waktupelayanan beber-apa unit Puskesmas menjadi 24 jam setiap hari merupakan salah satu program optimal-isasi pelayanan fasilitas kese-hatan bagi masyarakat. Kualitas layanan terus ditingkatkan sesuai standar layanan yang terakreditasi.
09
Meningkatkan waktupelayanan beber-apa unit Puskesmas menjadi 24 jam setiap hari merupakan salah satu program optimalisasi
pelayanan fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Kualitas layanan terus ditingkatkan sesuai standar layanan yang terakreditasi.
10
Hasil pemetaanter-hadap keberadaan fasilitas pendidikan dan kes-ehatan memperlihatkan belum meratanya sebaran fasilitas tersebut.
11
Unit sekolah dibawahbinaan departemen agama memberikan perleng-kapan sekolah secara gratis, menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk bersekolah pada fasilitas tersebut.
12
Fasilitas pendidikantinggi masih terasa sangat kurang bagi masyarakat yang jauh dari ibukota provinsi, demikian pula halnya dengan pendidikan menengah kejuruan terutama terkait dengan tenaga
DIMENSI INFRASTRUKTUR DAN PELAYANAN PUBLIK
01
Pembiayaan untukpembangunan infra-struktur yang tersedia didae-rah kurang memadai dan harus dicukupi melalui bantuan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Bantuan pihak swasta lewat program CSR dalam pembangunan infrastruktur mulai dirasakan.
02
Tingkatelektrifi-kasi sebagian besar wilayah memang sudah hampir mencapai seratus persen, namun daya listrik yang disal-urkan terkadang masih belum mampu mengatasi beban puncak pemakaian. Hal ini sangat mengganggu produk-tifitas unit-unit produksi yang menggunakan energi listrik. infrastruktur mulai dirasakan.
03
Topografi wilayahmenyulitkan pem-bangunan infrastruktur, sehingga fasilitas kesehatan dan pendidikan menjadi tidak tersebar merata. Sebagian fisik bangunan bahkan masih merupakan bangunan semi per-manen dan perlu revitalisasi, termasuk modernisasi fasilitas penunjang lainnya. Integrasi fasilitas dari jenjang terendah (PAUD) sampai jenjang pen-didikan tinggi perlu dibangun untuk menjamin keberlanjutan pendidikan.
04
Pertumbuhanpen-duduk perkotaan yang disebabkan arus urban-isasi membuat tingkat kebutu-han akan fasilitas semakin sulit terpenuhi.
05
Fasilitas standarpelayanan kese-hatan yang semakin modern
menuntut keahlian khusus para-medis dan operator peralatan canggih. Kapasitas kamar per-awatan pasien masih belum mencukupi.
06
Interkoneksi saluranlistrik antar daerah membuat sebagian wilayah sangat bergantung pada daerah sumber pembangkit lis-trik. Koordinasi antar provinsi dalam pengelolaan daerah aliran sungai sebagai sumber irigasi perlu juga ditingkatkan.
07
Penggunaanjarin-gan listrik melalui saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) masih belum bisa diterima oleh sebagian masyarakat yang khawatir ter-hadap dampaknya. Tuntutan ganti rugi yang terlalu tinggi tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah, sehingga meng-hambat kelangsungan proyek pendidik.
tersebut.
08
Inventarisasi asetpemerintah menjadi dasar penting perencanaan pembangunan infrastruktur baru maupun perawatan infra-struktur yang telah tersedia.
09
Sebagian besarinfrastruktur jalan antar kecamatan masih kurang memadai untuk dijadikan seb-agai akses distribusi barang dari sentra produksi ke daerah pemasaran.
DIMENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
01
Kondisi geografisdan topografi wilayah yang sangat beragam mengaki-batkan masih banyaknya blind spot dan jangkauan (coverage) yang rendah jaringan komuni-kasi seluler. Sebagian masyara-kat bahkan masih harus meng-gunakan antena parabola untuk menangkap siaran televisi
karena tidak adanya stasiun relayed, baik televisi swasta dan atau milik pemerintah.
02
Rendahnya minatbaca masyarakat menghambat proses adopsi teknologi, termasuk upaya menyesuaikan proses terse-but dengan kultur budaya masyarakat.
UPAYA MENGURANGI KETERGANTUNGAN
TERHADAP SUMBER DAYA ALAM
01
Hilirisasi sektorindustri diharapkan bisa menjadi solusi mengatasi ketergantungan perekonomian dan mampu menyerap tenaga kerja.
02
Peningkatanpemeri-maan pajak/retribusi daerah masih bisa diupayakan melalui perbaikan data dan inventarisasi wajib pajak serta sistem informasi yang online dan terintegrasi, sehingga tingkat kebocoran dapat diminimalisir.
03
Penertiban usahapertambangan emas tanpa izin (PETI) harus melibat-kan berbagai pihak terkait, tidak hanya berupaya menghentikan usaha melainkan juga mencip-takan alternatif pekerjaan