• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA SAMBUTAN KEPALA BAPPEDA PROVINSI JAMBI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA SAMBUTAN KEPALA BAPPEDA PROVINSI JAMBI"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

K ATA SAMBUTAN

KEPALA BAPPEDA PROVINSI JAMBI

Puji serta syukur saya

pan-jatkan kehadirat Allah SWT

yang melimpahkan RahmatNya,

atas diterbitkannya buku Jambi

Membangun ini, yang

memberi-kan informasi pembangunan di Provinsi

Jambi dan permasalahan yang dihadapi

serta rekomendasi yang diberikan kepada

stakeholder pembangunan untuk

melang-kah membangun Jambi yang lebih baik.

Membaca buku Jambi Membangun, ini kita

diajak untuk mengulas tentang

pemerin-tahan, penduduk dan ketenaga kerjaan,

perekonomian, sumber daya alam yang

berkelanjutan serta infrastruktur dan

sosial budaya. Ulasan lebih mendalam

pada pemanfaatan sumber daya alam

dalam pembangunan regional yang

meli-puti pembangunan pertanian, serta

pem-bangunan berkelanjutan dalam 4 dimensi

yaitu, dimensi ekonomi, dimensi sosial,

dimensi infrastruktur dan pelayanan

publik serta dimensi teknologi, informasi

dan komunikasi.

Saya berharap buku ini dapat

dimanfaat-kan untuk meningkatdimanfaat-kan wawasan dan

pengetahuan serta memberikan informasi

kepada masyarakat terkait pembangunan

di Provinsi Jambi.

KEPALA BAPPEDA PROVINSI JAMBI

(3)

K ATA SAMBUTAN

KEPALA BPS PROVINSI JAMBI

Publikasi Jambi Membangun

2016 ini merupakan hasil

ker-jasama Bappeda Provinsi

Jambi dengan Badan Pusat

Statsitik Provinsi Jambi.

Dalam publikasi ini tertuang berbagai

macam ulasan informasi pemerintahan,

penduduk , sosial budaya, pendidikan,

sumber daya alam yang berkelanjutan,

infrastruktur dan perekonomian. Selain

itu juga, publikasi ini dilengkapi dengan

hasil indepth study untuk mengkaji

pem-bangunan yang berkelanjutan dalam

ber-bagai dimensi pembangunan.

Walaupun publikasi ini telah disiapkan

dengan sebaik-baiknya namun disadari

masih terdapat kekurangan. Untuk itu

saran maupun kritik sangat kami hargai

demi perbaikan publikasi ini untuk masa

yang akan datang.

Akhirnya kami mengharapkan semoga

publikasi ini bermanfaat bagi semua pihak

terutama bagi pemerintah daerah dalam

menyusun perencanaan pembangunan di

Provinsi Jambi.

KEPALA BPS PROVINSI JAMBI

(4)
(5)

1

SAMBUTAN KEPALA BAPPEDA

2

SAMBUTAN KEPALA BPS

6

SELAYANG PANDANG

8

PEMERINTAHAN

20

PENDUDUK DAN TENAGA KERJA

35

PEREKONOMIAN

41

PEMBANGUNGAN BERELANJUTAN

55

INFRASTRUKTUR

61

SOSIAL BUDAYA

70

HASIL INDEPH STUDY

DAFTAR ISI

(6)
(7)

Membentang dari kaki gunung tertinggi di Sumatera, Gunung Kerinci; menyusuri lembah dan delta di sepanjang daerah aliran sungai terpanjang di Sumatera, Sungai Batanghari beserta anak-anak sungainya yang meliuk-liuk; hingga muar-anya yang berujung di pesisir pantai timur Sumatera, menja-dikan Provinsi Jambi kaya akan

keanekaragaman hayati. Lahan subur vulkanis di belahan barat, dikelilingi kawasan hutan nasi-onal yang menjamin keterse-diaan air. Sementara lahan gambut di pesisir timur meru-pakan lahan pasang surut yang potensial sebagai lumbung pangan.

Provinsi Jambi secara geografis terletak antara 00 45’ sampai 20

SELAYANG

PANDANG

(8)

Kerinci 6,69% Merangin 15,30% Sarolangun 12,33% Batanghari 11,57% Muaro Jambi 10,62% Tanjab Timur 10,86% Tanjab Barat 9,27% Tebo 12,88% Bungo 9,29% Kota Jambi 0,41% Sungai Penuh 0,78%

Gambar 1.1 Persentase Luas Daerah Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2015

45’ Lintang Selatan dan antara 1010 10’ sampai 1040 55’ Bujur Timur. Sebelah utara berba-tasan dengan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, sebelah timur dengan Laut Cina Selatan, sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu. Luas wilayah Provinsi Jambi 53.435 km2 dengan luas

daratan 50.160,05 km2 dan luas perairan sebesar 3.274,95 km2 yang secara administratif terbagi menjadi 9 kabupaten dan 2 kota. Kabupaten Merangin merupakan wilayah adminis-tratif dengan luas wilayah ter-besar, yaitu seluas 7.679 km2 atau 15,31 persen dari total luas wilayah Provinsi Jambi. Jumlah kecamatan dan desa/kelura-han di Provinsi Jambi seban-yak 141 kecamatan, terdiri dari

1.395 desa dan 163 kelurahan, di mana jumlah kecamatan ter-banyak berada di Kabupaten Merangin yaitu 24 kecamatan, sedangkan wilayah dengan jumlah desa/kelurahan terban-yak adalah Kabupaten Kerinci dengan 287 desa/kelurahan.

(9)

Provinsi Jambi terdiri dari 9 kabupaten dan 2 kota, terdapat 141 kecamatan dan 1.395 desa dan 163 kelurahan yang tersebar di 11 kabupaten dan kota berdasarkan data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan

(BPMPP) Provinsi Jambi. Unit pemerintahan terkecil di negara kita adalah desa/kelurahan. Dalam Survei Potensi Desa (PODES) menurut pengerti-annya, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memi-liki batas-batas wilayah dan berwenang untuk mengatur

dan mengurus kepentingan masyarakat setempat ber-dasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam Sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No. 32 Tahun 2004). Kepala desa dipilih secara langsung oleh ORGANISASI

PEMERINTAHAN

P r o v i n s i Jambi terdiri dari 9 kabupaten dan 2 kota, terdapat 141 keca-matan dan 1.395 desa dan 163 kelurahan yang terse-bar di 11 kabupaten dan kota.

PEMERINTAHAN

(10)

No Kabupaten/Kota Kecamatan JumlahDesa Kelurahan [1] [2] [3] [4] [5] 1. Kerinci 16 285 2 2. Merangin 24 202 10 3. Sarolangun 10 149 9 4. Batanghari 8 109 14 5. Muaro Jambi 11 150 5

6. Tanjung Jabung Timur 11 73 20

7. Tanjung Jabung Barat 13 114 20

8. Tebo 12 107 5

9. Bungo 17 141 12

10. Kota Jambi 11 0 62

11. Kota Sungai Penuh 8 65 4

Provinsi Jambi 141 1.395 163

masyarakat di desa tersebut. UU nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menyebutkan beberapa aspek yang harus dipenuhi dalam pembangunan desa antara lain: kebutuhan dasar, pelayanan dasar, lingkungan serta kegiatan pemberdayaan

masyarakat desa. Oleh karena itu berdasarkan data Potensi Desa 2014 disusunlah Angka Indeks Pembanguna Desa (IPD), yang memenuhi beber-apa aspek diantaranya: pelay-anan dasar, kondisi infrastruk-tur, aksesibilitas/transportasi,

pelayanan umum serta peny-elenggaraan pemerintahan. Karena unit analisis adalah desa, maka kelurahan dikecu-alikan dalam penghitungan IPD. Angka IPD berada pada kisaran 0-100, di mana nilai indeks 100 merefleksikan kondisi desa

sangat maju, sebaliknya angka indeks 0 mencerminkan desa yang sangat tertinggal. Tipologi desa berdasarkan angka IPD dibagi menjadi tiga yaitu Desa Tertinggal, Desa Berkembang dan Desa Mandiri. Batasan nilai IPD untuk Desa Tertinggal adalah 50 ke bawah; IPD Desa Berkembang berada dalam kisaran nilai di atas 50 hingga 75; dan IPD Desa Mandiri lebih dari 75. Berdasarkan data tersebut, angka rata-rata Indeks Pembangunan Desa (IPD) di Provinsi Jambi sebesar 59,24. Angka ini berada di atas angka rata-rata nasional sebesar 55,69. Berdasarkan data Podes 2014 terdapat 1.398 desa di Provinsi Jambi, yang dikategorikan sebagai Desa Tertinggal sebanyak 191 desa (atau 13,66 persen); Desa Berkembang sebanyak 1.176 desa (atau 84,12 persen); dan 31 desa (2,22 persen) merupakan Desa Mandiri. Secara rata-rata angka IPD yang tertinggi di

Tabel 2.1. Jumlah Kecamatan dan Desa serta Kelurahan Menurut Kabupaten/KotaTahun 2015

(11)

NO Kabupaten/Kota IPD 2014 Persentase Berdasarkan Klasifikasi Jumlah Desa

Tertinggal Berkembang Mandiri

[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] 1. Kerinci 59,38 7,37 91,93 0,70 285 2. Merangin 57,24 22,44 75,61 1,95 205 3. Sarolangun 56,69 23,49 75,84 0,67 149 4. Batanghari 60,70 6,42 91,74 1,83 109 5. Muaro Jambi 63,90 4,00 90,67 5,33 150 6. Tanjab Timur 59,38 6,85 93,15 0,00 73 7. Tanjab Barat 54,70 31,58 67,54 0,88 114 8. Tebo 59,66 15,89 76,64 7,48 107 9. Bungo 61,00 12,06 85,11 2,84 141 10. Sungai Penuh 60,77 1,54 96,92 1,54 65 Provinsi Jambi 59,24 13,66 84,12 2,22 1.398

Kabupaten Muaro Jambi, yakni sebesar 63,90 dengan jumlah desa sebanyak 150 desa; sedangkan angka rata-rata IPD terendah di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan nilai rata-rata 54,70 terdiri dari 114 desa.

Jumlah Desa Tertinggal terban-yak ada di Kabupaten Merangin yaitu sejumlah 46 desa, kemu-dian diikuti oleh Kabupaten Tanjung Jabung Barat sejum-lah 36 desa, serta Kabupaten Sarolangun sejumlah 35 desa.

Sedangkan jumlah Desa Mandiri terbesar ada di Kabupaten Muaro Jambi yakni sebanyak 8 desa. Sebagaimana informasi dalam Tabel 2.2 secara keselu-ruhan dapat dilihat, ada seban-yak 13,66 persen desa-desa

di Provinsi Jambi yang masuk dalam kategori Desa Tertinggal; sedangkan sebanyak 84,12 persen berada dalam kategori Desa Berkembang; dan sisanya 2,22 persen masuk dalam kat-egori Desa Mandiri. Kota Jambi

tidak dimasukkan dalam unit analisis karena tidak ada unit pemerintahan berstatus desa atau bisa dikatakan wilayah administrasi terkecil untuk Kota Jambi adalah kelurahan. Sebagai tambahan informasi,

angka IPD 2014 adalah angka terbaru yang dimiliki BPS meng-ingat sumber data yang digu-nakan adalah data PODES 2014, dan setelah tahun 2014 belum ada lagi data PODES yang dikumpulkan oleh BPS.

Tabel 2.2. Angka Rata-rata Indeks Pembangunan Desa (IPD) Menurut Kabupaten/Kota serta Persentase Desa Menurut Klasifikasi Capaian IPD Tahun 2014

(12)

Pegawai Negeri Sipil adalah aparatur pemerintah yang akan menjalankan tugas dan fungsi pemerintahan sekaligus meru-pakan aset pemerintah. Menurut Undang-undang nomor 5 tahun 2014 penyebutan aparat pemer-intah tidak lagi Pegawai Negeri Sipil melainkan Aparatur Sipil Negara (ASN). Gambar 2.1. memperlihatkan persentase banyaknya PNS di Lingkungan Pemerintahan Provinsi Jambi menurut jenis Kelamin. PNS daerah dalam lingkup wilayah provinsi meliputi Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas, Badan, Kantor, Rumah Sakit, Sekretariat KPU dan Korpri, Satpol PP, Sekretariat KPID serta Inspektorat, secara keseluruhan berjumlah 6.646 orang yang terdiri dari 3.623 orang laki-laki (54,51 persen) dan 3.023 perempuan (45,49

persen). Menurut golongan kepangkatan terbagi menjadi : Golongan I sebanyak 83 orang (atau sebesar 1,25 persen), golongan II sebanyak 1.361 orang (20,48 persen), golon-gan III sebanyak 4.532 orang

3.24 0.47 18.81 7.19 1.02 10.64 2.75 0.03 0.21 0.15 0.29 0.69 5.28 0.71 29.13 8.68 1.02 3.85 1.59 0.11 0.27 2.77 0.21 0.89 0 10 20 30 40 50 Laki-laki Perempuan

(68,19 persen) dan golongan IV sebanyak 670 (10,08 persen). Jika dilihat menurut tingkat pendidikan PNS di lingkungan Pemprov Jambi yang berijazah S3 (Doktor) ada sebanyak 7 orang (0,11 persen), sedangkan yang berijazah S2 (Master) ada sebanyak 585 (8,80 persen),

S1 ada sebanyak 2.904 (43,70 persen), sedang PNS yang memiliki ijazah DI-IV ada seban-yak 866 orang (13,03 persen). PNS yang tidak menamatkan pendidikan tinggi terdiri dari mereka yang berpendidikan

SMA sebanyak 2.032 orang (30,6 persen), SMP sebanyak 153 (2,30 persen) serta SD sebanyak 97 (1,46 persen). APARATUR SIPIL NEGARA

Gambar 2.1. Banyaknya PNS di Lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi Menurut Jenis Kelamin dan Penempatan Tahun 2015

(13)

DPRD merupakan Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang berkedudukan sebagai unsur Lembaga Pemerintahan Daerah. Sebagai Unsur Lembaga Pemerintahan Daerah, DPRD memiliki tang-gung jawab yang sama dengan Pemerintah Daerah dalam rangka menjalankan roda pemerintahan daerah. DPRD

adalah mitra kerja dan memi-liki kedudukan yang sejajar dengan Pemerintah Daerah. Dalam kedudukannya tersebut DPRD dilengkapi tiga fungsi, yaitu: fungsi anggaran, fungsi pengawasan dan fungsi legis-lasi. Peran DPRD dalam men-jalankan fungsi legislasinya bertumpu pada tiga penger-tian, yaitu : Prakarsa pembua-tan undang-undang (legislative

Provinsi/Kabupaten/Kota Jumlah anggota Jumlah ang-gota laki-laki Jumlah ang-gota perem-puan Jumlah total

anggota DPRD perempuanPersentase

(1) (2) (3) (4) (5) Kerinci 34 1 35 2,86 Merangin 35 0 35 0,00 Sarolangun 33 2 35 5,71 Batanghari 29 6 35 17,14 Muaro Jambi 29 6 35 17,14 Tanjab Timur 25 5 30 16,67 Tanjab Barat 30 5 35 14,29 Tebo 29 6 35 17,14 Bungo 29 6 35 17,14 Kota Jambi 40 5 45 11,11

Kota Sungai Penuh 25 0 25 0,00

Provinsi Jambi 48 7 55 12,73

initiation); Pembahasan ran-cangan undang-undang (law making process); serta Persetujuan atas pengesahan rancangan peraturan daerah (law enactment approval). Tanggapan anggota dewan terhadap aspirasi masyara-kat menjadi amat penting guna memformulasikan aspirasi masyarakat dalam bentuk produk hukum.

LEGESLATIF

Tabel 2.3. Jumlah Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota Menurut Jenis Kelamin Tahun 2015

(14)

Jumlah anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota hasil Pemilu Legislatif tahun 2014 yang telah mengalami penye-suaian atau perubahan seb-agaimana Tabel 2.3. Kemajuan demokrasi terlihat pula dengan telah berkembangnya kesada-ran terhadap hak-hak politik dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengam-bilan kebijakan serta peran masyarakat dalam menga-wasi jalannya pemerintahan di daerah. Perkembangan ini tidak terlepas dari perkemban-gan peran partai politik. Dapat

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 5 7 7 5 5 5 4 3 3 3 1 4 1 1 1 Perempuan Laki-laki

dikatakan bahwa peranan partai politik sebagai sarana untuk menghimpun aspirasi, artikulasi dan agregasi kepentingan yang dilakukan kepada masyarakat untuk mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu memberikan pengaruh terhadap kebijakan publik yang dibuat oleh pemer-intah. Selain memiliki fungsi, partai politik juga mempun-yai tujuan, yakni mewujudkan cita-cita bangsa, mengembang-kan kehidupan demokrasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dengan adanya partai politik ini masyarakat Indonesia semakin

mengenal pendidikan politik yang diberikan partai politik kepada masyarakat. Formasi anggota DPRD menurut partai pengusung dalam pemilu legis-latif 2014 sebagaimana Gambar 2.2.

INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) PROVINSI JAMBI

Seiring perkembangan kehidu-pan demokrasi yang semakin positif, permasalahan politik menjadi sesuatu yang dinamis. Kebebasan berserikat dan ber-kumpul, kebebasan beraspirasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan menentukan sikap dalam berpolitik telah dirasakan masyarakat. Membaiknya kehidupan berdemokrasi di antaranya tercermin dari din-amika jumlah partai politik peserta pemilu dan sikap pen-duduk terhadap pemilu. Pada pemilu awal reformasi tahun 1999 secara nasional partai

Gambar 2.2 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Jambi Menurut Partai dan Jenis Kelamin Tahun 2015

(15)

politik peserta pemilu seban-yak 48 partai, pada pemilu 2004 diikuti sebanyak 24 partai politik, kemudian pada tahun 2009 diikuti sebanyak 38 partai politik, dan pemilu 2014 diikuti oleh 12 partai politik. Partisipasi masyarakat dalam Pemilu (Pilkada) telah mem-berikan indikasi kebebasan dalam menentukan sikap. Data voters turnout atau tingkat par-tisipasi masyarakat yang menggunakan hak pilih pada pemilu tahun 2014 tercatat sebesar 77,25 persen, angka

ini menunjukkan peningkatan dibandingkan pada pemilu 2009 yang mencapai 74,57 persen. Jika dibandingkan pada masa Orde Baru partisipasi penduduk dalam pemilu selalu di atas 95 persen. Hal ini mengindikasi-kan adanya dinamika dalam berpolitik terutama di era refor-masi. Dinamika politik sering-kali berimbas pada aspek lain, terutama bidang keamanan. Politik dan keamanan meru-pakan dua hal yang selalu terkait dan saling mempen-garuhi. Adakalanya politik

mempengaruhi keamanan, atau sebaliknya situasi keamanan melahirkan ide-ide kebijakan politik. Angka indeks yang dianggap dapat menggam-barkan keragaman capaian demokrasi antar provinsi di Indonesia adalah Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang dibangun berdasarkanan data empirik untuk menilai kemajuan atau kemunduran demokrasi, selain itu IDI juga menekankan perilaku demokrasi baik dari sisi penyelenggara negara maupun dari sisi masyarakat. Indeks demokrasi memiliki rentang nilai dari 0-100 di mana semakin mendekati angka 100 tingkat pelaksanaan demokrasi dinilai makin baik. Sedangkan batas penilain kinerja demokrasi pada tataran rendah jika nilai indeks berada pada nilai 60 ke bawah, sedang jika nilainya berada pada rentang 60-80 dan

(16)

baik jika nilainya di atas 80. IDI menggunakan alat ukur yang terdiri dari 3 aspek, 8 variabel dan 28 indikator. Tiga aspek utama yang digunakan untuk mengukur kehidupan berde-mokrasi adalah : kebebasan sipil (menilai sejauh mana masyarakat mendapatkan hak-hak sipil seperti berseri-kat, berkumpul, berpendapat, berkeyakinan, serta bebas dari tekanan/diskriminasi); hak-hak politik (melihat akses dalam hak memilih dan dipilih dalam pemilu legislatif serta hak par-tisipasi politik untuk menyu-arakan suara dalam pengam-bilan keputusan dan penga-wasan terkait kebijakan publik); serta lembaga demokrasi (menilai sejauh mana kinerja dari lembaga penyelengga-raan pemilu/KPUD, kinerja lembaga legislatif, kinerja parpol, kinerja pemerintahan

serta kinerja lembaga per-adilan). Penyusunan angka IDI sendiri telah dilaksanakan selama 6 tahun, yaitu sejak tahun 2009 hingga tahun 2015. Dalam rentang waktu terse-but perkembangan IDI Jambi menunjukkan angka yang ber-fluktuasi dari tahun ke tahun. Dalam setahun terakhir, setelah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2014 hingga mencapai (71,15), angka IDI di tahun 2015 menun-jukkan kecenderungan stag-nasi atau turun tipis sebesar 0,47 poin sehingga dihasilkan

angka 70,68 di tahun 2015. Jika dibandingkan dengan angka nasional, angka IDI Provinsi Jambi berada di bawah capaian nasional sebesar 72,82. Angka ini mengindikasikan praktek kehidupan berdemokrasi di Jambi berada pada tataran ‘sedang’. Terkait dengan aspek kebebasan sipil, beberapa indikator yang menunjukkan masih ditemuinya pembatasan/ pelanggaran kebebasan sipil antara lain : masih adanya kasus ancaman kekerasan oleh aparat pemerintah yang meng-hambat kebebasan berkumpul

(17)

dan berserikat (kasus di 2015 terkait kejadian anak punk) serta temuan terkait ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan masyarakat yang menghambat kebebasan ber-pendapat (kasus kejadian menghalangi wartawan dalam peliputan serta kejadian ancaman terhadap pendemo mahasiswa). Terkait hak-hak

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat Kebebasan Berpendapat Kebebasan Berkeyakinan Kebebasan dari Diskriminasi Hak Memilih dan Dipilih Partisipasi Politik dalam

Pengambilan … Pemilu yang Bebas dan

Adil Peran DPRD Peran Partai Politik

Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

Peran Peradilan yang Independen

2014 2015

politik perhatian perlu diarah-kan kepada indikator yang ber-nilai buruk (di bawah 60) di antaranya: tingkat persentase perempuan di DPRD Provinsi

dan Kabupaten/Kota, serta ban-yaknya kejadian demonstrasi/ mogok disertai kekerasan. Sedangkan capaian yang baik pada aspek ini meliputi pen-gaduan masyarakat menge-nai penyelenggaran pemerin-tahan yang mengindikasikan tingginya kesadaran dan peran serta masyarakat dalam proses pembangunan serta indikator

nihilnya kejadian di mana hak memilih dan dipilih masyarakat yang dihambat. Pada aspek lembaga demokrasi terdapat indikator dengan nilai buruk

antara lain persentase jumlah Perda inisiatif DPRD terhadap jumlah total Perda yang dihasil-kan. Jumlah rekomendasi DPRD kepada eksekutif, serta indikator yang baru berupa upaya penyediaan informasi APBD oleh Pemerintah Daerah.

Upaya peningkatan kegiatan ketenteraman dan ketert-iban masyarakat (tramtibmas) telah menghasilkan kondisi yang semakin kondusif dalam menunjang kegiatan pemban-gunan daerah. Namun demikian berbagai gangguan tramtib-mas tramtib-masih juga ditemui dalam berbagai bentuk. Hal ini terli-hat dari perkembangan ber-bagai indikator kriminalitas di Provinsi Jambi. Peningkatan jumlah kriminalitas diikuti pula dengan berkembang-nya kejahatan-kejahatan non

Gambar 2.5. Capaian Angka IDI Menurut Variabel Tahun 2015

(18)

konvensional dan kejahatan-kejahatan konvesional dengan modus baru. Secara kelem-bagaan POLRI merupakan pemegang kewenangan utama dalam upaya peningkatan tram-tibmas, namun seiring dengan otonomi daerah pemerin-tah daerah telah membentuk Kepolisian Pamong Praja pula sebagai organ pengamanan di samping masih kuatnya peran masyarakat dalam ber-bagai bentuk. Terjaminnya keamanan dan adanya rasa aman bagi masyarakat meru-pakan syarat penting bagi ter-laksananya pembangunan daerah di berbagai bidang pem-bangunan. Keamanan dan ket-ertiban diarahkan pada ter-wujudnya kondisi yang aman, tertib dan tenteram, serta tegaknya hukum, terselengg-aranya perlindungan, pengay-oman, dan pelayanan kepada

1,667 1,493 1,554 1,7931,9842,202 1,969 2,426 2,692 2,637 3,586 4,450 6,099 6,510 7,643 10,564 0 1,500 3,000 4,500 6,000 7,500 9,000 10,500

Jumlah Tindak Pidana

masyarakat serta terciptanya situasi yang kondusif bagi pem-bangunan daerah. Data tindak pidana yang terjadi di Provinsi Jambi menunjukkan pening-katan yang terus menerus selama 15 tahun terakhir, seb-agaimana dalam Gambar 2.6. Hal ini memperlihatkan gejala yang cukup mengkhawatirkan di mana setiap tahun jumlah tindak pidana mengalami pen-ingkatan dari 1.667 kejadian pada tahun 2000 meningkat

menjadi 10.564 kejadian pada tahun 2015. Crime rate dapat didefinisikan sebagai resiko penduduk terkena tindak pidana atau kejadian kejahatan per 100.000 penduduk. Dapat dilihat bahwa kejadian keja-hatan yang menimpa masyara-kat setiap tahun semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2000 resiko kejahatan menimpa 66 dari 100.000 penduduk, menin-gkat pesat pada tahun 2015

Gambar 2.6 Jumlah Tindak Pidana yang terjadi di Provinsi Jambi dari Tahun 2000-2015

(19)

menjadi 316 kejadian dari 100.000 penduduk. Jika dilihat dari penyelesaian tindak keja-hatan yang terjadi, ada fluktu-asi capaian pada tiap tahun-nya. Pada tahun 2015 persen-tase penanganan tindak keja-hatan di Provinsi Jambi menca-pai 41,54 persen, sedikit menin-gkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang men-capai 40,47 persen pada tahun

66 58 60 68 75 84 74 91 99 89 123 153 209 201 230 316 67.85 67.98 58.49 59.90 61.7466.30 67.45 69.6670.1367.65 46.99 39.44 55.21 41.58 40.47 41.54 0 10 20 30 40 50 60 70 80 2-2 50 100 150 200 250 300 20 00 20 01 20 02 20 03 20 04 20 05 20 06 20 07 20 08 20 09 20 10 20 11 20 12 20 13 20 14 20 15

Crime rate Penyelesaian tindak kejahatan

2014. Ancaman keamanan juga bisa dilihat dari intensitas tindak kejahatan dalam satuan waktu. Data selang waktu terjadinya kejahatan semakin meningkat dilihat dari singkatnya Crime o’ Clock (selang waktu terjadinya kejahatan) dari setiap 5 jam 15 menit pada tahun 2000 menjadi setiap 49 menit di tahun 2015. Data selang waktu terjadinya tindak kejahatan sebagaimana

dalam Tabel 2.4. Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sumetra, Jambi menempati urutan keempat tertinggi dalam hal kecepatan berlangsungnya kejadian kejahatan. Urutan tingginya intensitas tindak kejahatan tahun 2015 terbe-sar di Provinsi Sumatera Utara dengan selang waktu 14 menit 54 detik, kemudian disusul Provinsi Sumatera Selatan

(20)

Tahun Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau 1 Jambi Sumatera Selatan

Kepulauan Bangka

Belitung 1 Bengkulu Lampung

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 2000 02.02’37’’ 00.33’05’’ 01.57’44’’ 01.55’43’’ - 05.15’17’’ 00.48’52’’ - 9.18’33’’ 01.36’02’’ 2001 02.33’41’’ 00.34’08’’ 01.47’43’’ 01.38’24’’ - 05.52’02’’ 00.51’46’’ - 12.57’30’’ 01.39’49’’ 2002 05.15’06’’ 00.34’53’’ 01.48’28’’ 01.34’20’’ - 05.38’13’’ 00.50’02’’ - 07.29’13’’ 02.39’45’’ 2003 03.12’57’’ 00.29’58’’ 01.29’58’’ 01.14’52’’ - 04.53’08’’ 01.09’45’’ - 07.33’29’’ 02.22’10’’ 2004 04.40’37’’ 00.25’07’’ 01.37’34’’ 01.13’30’’ - 04.24’55’’ 01.11’43’’ - 08.03’58’’ 01.53’40’’ 2005 04.00’59’’ 00.20’55’’ 01.12’58’’ 01.16’40’’ 04.24’55’’ 03.58’41’’ 01.01’15’’ 07.11’31’’ 07.57’49’’ 02.03’35’’ 2006 08.52’48’’ 00.18’54’’ 00.52’48’’ 01.23’24’’ 02.32’24’’ 04.26’24’’ 01.03’00’’ 04.45’00’’ 05.17’24’’ 01.26’24’’ 2007 02.51’36’’ 00.18’21’’ 00.55’19’’ 00.53’48’’ 02.42’00’’ 03.26’30’’ 00.52’43’’ 03.49’48’’ 04.30’00’’ 01.19’48’’ 2008 05.51’36’’ 00.20’04’’ 00.48’46’’ 01.05’24’’ 02.55’12’’ 03.15’00’’ 00.46’52’’ 04.19’48’’ 04.22’12’’ 01.16’12’’ 2009 01.23’24’’ 00.19’45’’ 00.44’21’’ 00.58’36’’ 02.30’00’’ 03.19’12’’ 00.37’05’’ 03.29’24’’ 04.47’24’’ 00.52’46’’ 2010 0.56’51’’ 0.15’49’’ 0.48’34’’ 0.51’53’’ 2.06’56’’ 2.26’34’’ 0.28’44’’ 3.18’56’’ 3.13’27’’ 1.49’12’’ 2011 00.57’40’’ 00.13’58’’ 00.44’56’’ 01.03’09’’ 02.24’16’’ 01.58’06’’ 00.27’09’’ 03.12’23’’ 02.30’15’’ 01.26’50’’ 2012 00.57’07’’ 00.15’48’’ 00.39’01’’ 00.41’56’’ 02.24’57’’ 01.26’10’’ 00.24’26’’ 01.41’08’’ 02.13’17’’ 01.59’55’’ 2013 00.57’26’’ 00.12’54’’ 00.36’41’’ 00.55’55’’ 02.02’51’’ 01.20’44’’ 00.22’58’’ 03.28’59’’ 01.55’30’’ 01.49’13’’ 2014 01.09’26’’ 00.14’42’’ 00.35’08’’ 00.54’30’’ 01.53’26’’ 01.08’46’’ 00.23’08’’ 04.52’39’’ 02.16’37’’ 01.07’46’’ 2015 01.05’18’’ 00.14’54’’ 00.32’17’’ 00.54’46’’ 01.47’26’’ 00.49’45’’ 00.25’32’’ 04.40’19’’ 01.57’46’’ 00.57’01’’

dengan intensitas kejahatan setiap 25 menit 32 detik. Provinsi Sumatera Barat memiliki inten-sitas kejahatan setiap 32 menit dan 17 detik, baru kemudian Provinsi Jambi yang memiliki selang waktu terjadinya keja-hatan setiap 49 menit dan 45 detik. Pembangunan keamanan dan ketertiban masyarakat dilakukan melalui penataan sistem keamanan yang handal,

peningkatan kualitas aparat keamanan dan peningkatan par-tisipasi masyarakat. Penataan sistem keamanan dan keter-tiban dilakukan dalam rangka membangun sistem keamanan terpadu yang berbasis masyara-kat dengan membangun koor-dinasi dan kerjasama secara sinergis antara masyarakat, satuan linmas, polisi pamong praja, dan kepolisian sebagai

inti. Peningkatan kualitas aparat keamanan dan ketert-iban dilakukan melalui pening-katan kemampuan profesional dan pemantapan kualitas moral dan etika, serta peningkatan budaya disiplin.

(21)

Penduduk merupakan modal dasar dalam pembangunan suatu negara, tetapi di sisi lain penduduk juga dapat menjadi suatu beban bagi negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Pertambahan jumlah

penduduk yang tidak terkend-ali akan menyebabkan berb-agai masalah yang dapat meng-hambat pembangunan nasi-onal. Laju pertumbuhan pen-duduk yang tinggi dikhawatir-kan adikhawatir-kan dapat menyebabdikhawatir-kan

kesenjangan di dalam masyara-kat. Masalah-masalah lain juga akan muncul terutama yang menyangkut tentang penyedi-aan berbagai kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan, termasuk di dalamnya P e n d u d u k

merupakan modal dasar dalam pembangunan suatu negara, tetapi di sisi lain penduduk juga dapat menjadi suatu beban bagi negara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

PENDUDUK DAN

KE TENAGAKERJAAN

PROVINSI JAMBI

(22)

Tabel 3.1. Indikator Kependudukan Provinsi Jambi, 2011-2015

Sumber : Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, BPS

kemakmuran suatu negara. Apabila suatu negara memi-liki pendapatan yang relatif kecil, sementara negara terse-but mempunyai jumlah pen-duduk yang banyak, akan mengakibatkan pendapatan per kapita di negara terse-but rendah. Pendapatan per kapita yang rendah dapat menunjukkan rendahnya taraf kehidupan ekonomi masyara-kat. Peningkatan jumlah pen-duduk juga menyebabkan masalah kebutuhan pemuki-man dan sarana-sarana umum

yang semakin lama semakin meningkat sehingga kebutu-han lakebutu-han untuk pemukiman dan pembangunan sarana umum akan semakin bertam-bah pula. Kebutuhan lahan yang semakin bertambah ten-tunya dapat menyebabkan banyak lahan pertanian yang dialih fungsikan, misalnya untuk tempat tinggal, pembangunan pabrik Bertambahnya jumlah penduduk yang tidak terkend-ali akan berdampak pada per-masalahan penyediaan kebu-tuhan masyarakat dalam hal

Indikator Demografi 2011 2012 2013 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6)

Jumlah Penduduk 3.167.578 3.227.096 3.286.070 3.344.421 3.402.052 Laki-Laki 1.616.688 1.647.019 1.677.052 1.706.746 1.736.049 Perempuan 1.550.890 1.580.077 1.609.018 1.637.675 1.666.003 Laju Pertumbuhan Penduduk Eksponensial (persen/

tahun) - 1,86 1,81 1,76 1,71 Rasio Jenis Kelamin 104,24 104,24 104,23 104,22 104,20 Kepadatan Penduduk (orang/km2) 63,15 64,34 65,51 66,67 67,82 Komposisi Penduduk (persen)

0-14 tahun 29,77 29,38 28,99 28,60 28,21 15-64 tahun 66,68 67,01 67,32 67,62 67,90 65 + tahun 3,55 3,61 3,69 3,78 3,89 Angka Beban Tanggungan (Persen) 49,96 49,23 48,54 47,89 47,28

pendidikan dan kesehatan yang baik dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Ketidakseimbangan antara pertambahan penduduk dan peningkatan produksi pangan akan memengaruhi kualitas hidup manusia. Apabila suatu negara mempunyai jumlah pen-duduk yang sangat besar, maka akan memberikan dampak pada usaha-usaha peningka-tan kualitas hidup manusia. Pertambahan penduduk yang tinggi juga dapat mengham-bat upaya untuk meningkatkan

(23)

Jumlah, Laju Pertumbuhan Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin

pangan, sandang, dan papan serta kualitas pendidikan, kes-ehatan dan penyediaan lapan-gan pekerjaan.

Gambar 3.1. Piramida Penduduk Provinsi Jambi, 2015

Selanjutnya, berdasarkan data BPS dalam Proyeksi Penduduk Provinsi Jambi 2010-2035, jumlah penduduk Provinsi Jambi selama kurun waktu 5 tahun terakhir menun-jukkan semakin bertambah.

Pada tahun 2011 jumlah pen-duduk Provinsi Jambi men-capai 3.167.578 orang dan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2015 menjadi 3.402.052 orang. Hal ini juga dapat dilihat dari laju pertumbu-han penduduk yang menunjuk-kan angka yang positif meski-pun mengalami kecenderun-gan laju pertumbuhan yang menurun yaitu dari 1,86 persen pada tahun 2012 menjadi 1,71

persen pada tahun 2015 (Tabel 3.1). Meningkatnya jumlah pen-duduk tentunya akan berdam-pak pada munculnya perma-salahan dalam hal kependudu-kan. Semakin banyak jumlah penduduk, maka dalam penen-tuan kebijakan semakin banyak yang perlu dipertimbangkan dalam hal penyediaan berbagai sarana dan prasarana atau fasil-itas-fasilitas umum agar kese-jahteraan penduduk terjamin.

(24)

Dari sisi komposisi penduduk terlihat bahwa jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) menunjukkan adanya pening-katan setiap tahun, semen-tara itu jumlah penduduk tidak produktif yaitu penduduk usia 0-14 tahun cenderung men-galami penurunan. Pada tahun 2011, komposisi penduduk usia 15-64 tahun sebesar 66,68 persen menjadi 67,90 persen pada tahun 2015, sementara itu komposisi penduduk usia 0-14 tahun menurun dari 29,77 persen menjadi 28,21 persen. Namun sebaliknya yang terjadi pada usia 65 tahun ke atas men-galami peningkatan dari 3,55 persen menjadi 3,89 persen. Hal tersebut menyebabkan angka beban ketergantungan penduduk Provinsi Jambi terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Tercatat pada tahun

2011 angka beban ketergantun-gan penduduk sebesar 49,96 menurun menjadi 48,54 pada tahun 2013 dan terus menurun hingga 2015 menjadi 47,28. Angka beban ketergantun-gan pada tahun 2015 sebesar 47,28 berarti setiap 100 pen-duduk produktif menanggung 47 penduduk tidak produktif yang terdiri dari anak-anak dan lansia. Menurunnya angka beban ketergantungan juga dapat menggambarkan bahwa jumlah penduduk produktif yang semakin meningkat ter-hadap jumlah penduduk yang tidak produktif. Jika kecender-ungan penurunan angka beban ketergantungan terus berlang-sung, maka diharapkan Provinsi Jambi akan segera menca-pai fase ketika rasio ketergan-tungan mencapai titik teren-dah (windows of opportunity).

Angka beban ketergantungan juga dapat menunjukkan tanda-tanda adanya bonus demo-grafi yaitu angka ketergantun-gan di bawah 50 yang berarti bahwa satu orang penduduk tidak produktif ditanggung oleh 1-2 orang penduduk produktif. Dari data tersebut jelas bahwa Provinsi Jambi telah memasuki fase bonus demografi. Seperti diketahui bahwa bonus demo-grafi terjadi apabila mayori-tas penduduk Provinsi Jambi adalah usia angkatan kerja 15-64 tahun, di mana penduduk pada kelompok ini menjadi potensial bagi Provinsi Jambi untuk menjadi negara maju apabila sumber daya manu-sianya berkualitas. Sebaliknya, akan menjadi bumerang jika kualitas sumber daya manusia penduduk produktif itu rendah.

(25)

Tabel 3.2. Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan dan Daerah TempatTtinggal, 2014 dan 2015

Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara dan untuk itu setiap warga negara tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, daerah dari mana asal seseorang, agama, dan gender, berhak untuk memperoleh Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

2014 2015 2014 2015 2014 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Tidak/Belum Pernah Sekolah 1,97 1,87 4,64 4,76 3,82 3,87

Belum Tamat SD/MI 7,83 8,01 16,09 15,72 13,55 13,34

SD/MI 16,43 17,31 32,54 33,44 27,58 28,47

SMP/MTs 20,45 22,50 23,23 22,91 22,38 22,78

SMA/SMK/MA 39,55 35,19 19,67 18,06 25,79 23,34

Diploma/S1/S2/S3 13,77 15,12 3,83 5,11 6,89 8,19

pendidikan yang bermutu dan berkualitas sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Oleh karena itu, pemerintah harus terus berupaya melak-sanakan program pemerataan akses pendidikan kepada

seluruh masyarakat dengan disertai peningkatan mutu pen-didikan, sehingga dapat men-jadikan warga negara memi-liki kecakapan hidup dan ket-erampilan yang baik dan men-dorong terwujudnya pemban-gunan manusia seutuhnya. Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari keahlian/

keterampilan serta ilmu penge-tahuan yang dimilikinya, yang dapat digambarkan dari tingkat pendidikan yang ditamatkan-nya. Seseorang yang menamat-kan pendidimenamat-kannya hingga jenjang pendidikan yang tinggi Sumber : Susenas 2014-2015, diolah

dapat mempunyai pengetahuan yang luas serta keterampilan/ keahlian yang tinggi. Dengan semakin meningkatnya keter-ampilan/keahlian akan semakin mudah mendapatkan kesempa-tan untuk bekerja.

Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan yang telah ditamat-kan, secara umum persentase

penduduk dengan tingkat pen-didikan SMP/sederajat mengal-ami peningkatan bila dibanding-kan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 22,38 persen pada tahun 2014 menjadi sebesar 22,78 persen. Untuk jenjang

(26)

Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan

Laki-laki + Perem-puan

2014 2015 2014 2015 2014 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Tidak/Belum Pernah Sekolah 1,76 2,05 5,97 5,77 3,82 3,87

Belum Tamat SD/MI 12,08 12,10 15,08 14,64 13,55 13,34

SD/MI 27,72 27,80 27,44 29,17 27,58 28,47

SMP/MTs 23,23 24,07 21,48 21,43 22,38 22,78

SMA/SMK/MA 28,68 25,78 22,77 20,79 25,79 23,34

Diploma/S1/S2/S3 6,53 8,19 7,27 8,20 6,89 8,19

Tabel 3.3. Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2014 dan 2015

Sumber : Susenas 2014-2015, diolah pendidikan yang lebih tinggi lagi, tingkat pendidikan yang mengalami peningkatan yaitu jenjang pendidikan Diploma/S1/ S2/S3. Namun ternyata persen-tase penduduk yang tidak/ belum pernah sekolah men-galami peningkatan juga, hal yang sebenarnya diharapakan

persentasenya terus menurun. Berarti harus ada upaya lebih untuk memberikan akses pen-didikan kepada masyarakat dan tentunya juga ada pem-berian pemahaman bahwa sekolah itu sangat penting, kadang ada penduduk yang

sebenarnya secara akses pen-didikan mudah, namun kurang memahami pentingnya sekolah. Kemudian menurunnya persen-tase penduduk yang berpendidi-kan SMA/SMK/MA bisa diambil positifnya, yaitu ada kemung-kinan yang sebelumnya masih kuliah dan sekarang sudah

lulus kuliah, hal ini bisa dilihat dari persentase penduduk yang berpendidikan diploma/s1/s2/s3 mengalami peningkatan dari 6,89 persen (2014) menjadi 8,19 persen pada tahun 2015. Dengan demikian persen-tase penduduk dengan tingkat

pendidikan tinggi (diploma/ sarjana) terus mengalami pen-ingkatan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan di bidang pendidikan sudah menunjukkan hasil yang baik dan perlu terus ditingkatkan. Selain itu, keber-hasilan tersebut juga mencer-minkan bahwa masyarakat

mulai menyadari bahwa pendi-dikan itu sangat penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Bila dilihat ber-dasarkan daerah tempat tinggal, penduduk di perkotaan mem-punyai tingkat pendidikan yang lebih baik daripada penduduk

(27)

di perdesaan. Persentase penduduk perkotaan dengan tingkat pendidikan SMA ke atas pada setiap jenjang pendidi-kan selalu lebih tinggi diband-ingkan dengan di perdesaan. Namun, persentase penduduk dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah (SD, belum tamat SD, dan tidak/belum pernah sekolah) lebih tinggi di perde-saan daripada di perkotaan. Penduduk di perdesaan yang belum menamatkan pendi-dikan/tidak memiliki ijasah sekitar 20,48 persen, sedang-kan di perkotaan hanya sekitar 9,88 persen. Baik di perdesaan maupun di perkotaan, penduduk yang menuntaskan pendidikan hingga tingkat SMP mencapai lebih dari 20 persen, harapan ke depannya adalah persentase ini menurun dengan dibarengi peningkatan persentase pen-duduk yang berpendidikan SMA

ke atas sehingga keberhasilan program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun dapat tercapai.

Berdasarkan jenis kelamin, tingkat pendidikan penduduk laki-laki lebih baik dari perem-puan. Penduduk laki-laki dengan tingkat pendidikan SMP ke atas mencapai 58,04 persen, sedangkan penduduk perem-puan hanya sebesar 50,42 persen. Kondisi sebaliknya terjadi pada tingkat pendidi-kan SD/belum tamat SD/tidak bersekolah. Penduduk laki-laki dengan tingkat pendidikan belum tamat SD/tidak berseko-lah justru lebih rendah daripada perempuan (22,38 persen ber-banding 27,65 persen). Hal ini bisa dipahami karena batasan umurnya adalah penduduk berusia 15 tahun ke atas, artinya termasuk penduduk perempuan yang memang pada tahun 80-an atau 90-an banyak yang tidak

bersekolah dibandingkan laki-laki. Faktor sosial budaya yang mengatakan bahwa perempuan harus tinggal di rumah berim-bas pada persentase penduduk perempuan yang pendidikan rendah lebih tinggi dibanding-kan laki-laki. Namun ada berita baiknya, sekarang persentase perempuan yang menamatkan pendidikan diploma/sarjana lebih tinggi daripada laki-laki, yaitu 8,20 persen (perempuan) berbanding 8,19 persen (laki-laki). Artinya secara kualitas, perempuan sudah siap ber-saing di pasar kerja dengan kemampuan yang dimilikinya. Angkatan Kerja

Berbagai permasalahan di bidang ketenagakerjaan harus terus menjadi perha-tian pemerintah agar dapat cepat diantisipasi dan disele-saikan. Permasalahan terse-but antara lain tingginya tingkat

(28)

Daerah Tempat Tinggal

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Tingkat Pengangguran Terbuka 2014

(Feb) 2014 (Agt) (Feb)2015 2015 (Agt) (Feb)2014 2014 (Agt) (Feb)2015 2015 (Agt)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

Perkotaan 67,28 64,73 64,66 64,56 2,94 7,99 3,76 6,16

Perdesaan 66,16 65,97 72,55 66,89 2,30 3,80 2,28 3,51

Perkotaan+Perdesaan 66,51 65,59 69,92 66,14 2,50 5,08 2,73 4,34

Tabel 3.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Jambi, 2014-2014 (Persen)

Sumber : Sakernas 2014-2015, diolah pengangguran, rendahnya per-luasan kesempatan kerja yang terbuka, rendahnya kompetensi dan produktivitas tenaga kerja, dan sebagainya. Kondisi terse-but merupakan tantangan yang harus diselesaikan dalam pem-bangunan pada tingkat nasi-onal maupun daerah. Sebagai bagian dari pembangunan nasional dan daerah, bidang ketenagakerjaan merupakan bagian dari upaya pengemban-gan sumberdaya manusia yang memegang peranan penting dalam mewujudkan pemban-gunan manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya. Oleh

karena itu, pembangunan di bidang ketenagakerjaan diarah-kan untuk memberidiarah-kan kontri-busi nyata dan terukur dalam rangka peningkatan kesejahter-aan tenaga kerja. Tingkat par-tisipasi angkatan kerja (TPAK) merupakan indikator ketenagak-erjaan yang penting untuk men-ganalisa dan mengukur capaian hasil pembangunan. Selain itu TPAK juga merupakan indika-tor yang digunakan untuk men-gukur besarnya jumlah angka-tan kerja, yang merupakan rasio antara jumlah angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja (usia produktif 15 tahun

ke atas). TPAK pada kondisi bulan Agustus 2015 di daerah perkotaan mengalami penu-runan sebesar 0,17 persen jika dibandingkan dengan kondisi yang sama tahun sebelum-nya yaitu bulan Agustus 2014, sedangkan di daerah perde-saan mengalami peningka-tan sebesar 0,92 persen. TPAK Provinsi Jambi secara umum mengalami peningka-tan sebesar 0,55 persen, yaitu dari 65,59 persen pada Agustus 2014 menjadi 66,14 persen pada Agustus 2015. Peningkatan TPAK ini merupakan indi-kasi naiknya kecenderungan

(29)

Tingkat Pengangguran dan Tingkat Pendidikan

penduduk ekonomi aktif untuk mencari atau melakukan keg-iatan ekonomi. Bila dilihat ber-dasarkan tempat tinggal, TPAK (Agustus 2015) di daerah perkotaan lebih rendah diband-ingkan perdesaan, masing-masing sebesar 64,56 persen dan 66,89 persen. Sementara pada Februari 2015 TPAK Provinsi Jambi naik menjadi 69,59 persen dari 66,51 persen pada Februari 2014.

Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

2014 2015 2014 2015 2014 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) <= SD 3,39 2,68 1,59 1,18 1,89 1,46 SMP 7,06 3,97 4,41 2,40 5,10 2,83 SMA Umum 10,24 7,58 7,12 8,16 8,47 7,91 SMA Kejuruan 12,51 9,72 10,80 15,55 11,72 12,44 Diploma I/II/III 9,33 6,25 2,90 4,01 6,20 5,10 Universitas 8,55 9,44 10,36 5,64 9,24 7,73 Total 7,99 6,16 3,80 3,51 5,08 4,34 SMA + 10,25 8,43 8,06 8,62 9,15 8,53

Tabel 3.5. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Tingkat Pendidikan, Provinsi Jambi 2014-2015 (Persen)

Sumber : Sakernas 2014-2015, diolah

Harapan setiap individu adalah mudah mendapatkan pekerjaan layak, sesuai dengan keahlian yang dimiliki dan sesuai dengan tingkat pendidikan yang dita-matkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan berdampak pada makin tinggi harapan dan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Namun karena keterbatasan lapangan kerja yang tersedia bagi mereka yang yang mempu-nyai ijazah tinggi menyebabkan

mereka tidak terserap pada lapangan kerja tersebut. Tidak sedikit juga dari mereka yang merupakan lulusan pendidi-kan tinggi enggan menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian dan jenjang pendidikan yang telah ditamat-kan, sehingga sebagian dari mereka banyak yang menjadi pengangguran.

T i n g k a t p e n g a n g g u r a n terbuka pada Agustus 2015 di perkotaan terlihat lebih tinggi jika dibandingkan di daerah

(30)

perdesaan yaitu sebesar 6,16 persen berbanding 3,51 persen. Lebih tingginya TPT di daerah perkotaan menunjukkan bahwa lapangan kerja yang tersedia di perkotaan belum mampu menyerap jumlah tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Hal ini terkait dengan jumlah lapangan kerja yang terbatas dan adanya kecenderungan penyerapan tenaga kerja dengan keahlian khusus. Tingginya pengang-guran di perkotaan juga dise-babkan urbanisasi yang terjadi sehingga banyak angkatan kerja yang tadinya berada di perdesaan yang pindah ke wilayah perkotaan. Sementara sebagian besar tenaga kerja di perdesaan terserap di sektor pertanian, yang memberikan kesempatan kerja lebih luas karena tidak perlu mempunyai keahlian khusus.

Secara umum terjadi penurunan

angka TPT menurut pendidikan SMA ke atas dari 9,15 persen pada Agustus 2014 menjadi 8,53 persen pada Agustus 2015. Penurunan TPT pada pendi-dikan SMA ini terjadi hanya di daerah perkotaan, semen-tara untuk di daerah perde-saan justru mengalami pening-katan dari 8,06 persen menjadi 8,62 persen (2015). Penurunan angka TPT di daerah perkotaan ini menunjukkan bahwa ket-ersediaan lapangan kerja di daerah perkotaan lebih baik. Namun pemerintah masih harus mendorong penciptaan lapan-gan kerja baru karena masih banyak setengah penganggu-ran yang masih bekerja paruh waktu. Kondisi mereka rentan jika terjadi guncangan ekonomi, bisa terdorong ke kategori pen-gangguran terbuka.

Untuk daerah perkotaan penu-runan TPT terjadi hampir pada

semua jenjang pendidikan, kecuali TPT pada penduduk yang berpendidikan universi-tas/sarjana yang mengalami kenaikan. Hal ini dapat diar-tikan bahwa lapangan kerja untuk mereka yang sarjana semakin sedikit bila diband-ingkan dengan penduduk yang berpendidikan di bawahnya. Bila dilihat berdasarkan jenjang pendidikan yang ditamatkan, TPT penduduk dengan pen-didikan SMK lebih besar dari-pada penduduk dengan tingkat pendidikan di atasnya. Pada tahun 2015 TPT penduduk yang berpendidikan SMK mengal-ami penurunan sebesar 2,79 persen dari tahun sebelumnya, yakni 12,51 persen menjadi 9,72 persen. Begitu juga TPT penduduk dengan pendidi-kan Diploma/Akademi men-galami penurunan sebesar 3,07 persen, dari 9,33 persen

(31)

menjadi 6,25 persen. Namun justru TPT penduduk yang berpendidikan sarjana men-galami kenaikan. Ini menun-jukkan bahwa lulusan SMK dan diploma mulai terserap di pasar kerja atau bisa jadi peru-sahan lebih memilih lulusan SMK dan Diploma dibanding-kan lulusan sarjana, hal ini bisa dipahami karena lulusan SMK atau diploma biasanya mempu-nyai keahlian teknis dan upah yang lebih murah dibanding-kan dengan yang berpendidi-kan sarjana.

Untuk daerah perdesaan ternyata angka TPT untuk mereka yang berpendidikan SMP ke bawah mengalami penurunan, dengan kata lain tenaga mereka yang berpen-didikan dasar (SMP ke bawah) masih diperlukan oleh lapan-gan kerja di daerah perde-saan. Bahkan untuk TPT yang

berpendidikan sarjana mengal-ami penurunan sangat siginifi-kasn dari 10,36 persen menjadi 5,64 persen (2015), hal ini bisa dimaknai bahwa penduduk yang berpendidikan tinggi tersebut mulai menerima apapun peker-jaan yang ada, artinya mereka tidak terlalu memilih apakah pekerjaan tersebut sesuai atau tidak dengan dengan latar belakang jurusan pendidikan mereka.

Penyerapan tenaga kerja yang berpendidikan SMA/SMK dan diploma di perdesaan men-galami penurunan, hal ini bisa dilihat dari meningkatnya TPT penduduk yang berpendidikan tersebut. TPT penduduk yang berpendidikan SMA naik 1,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya, begitu juga yang berpendidikan diploma naik 1,11 persen, bahkan untuk pen-duduk yang lulusan SMK naik

4,75 persen. Hal ini diharapkan menjadi catatan bagi pemerin-tah daerah untuk dapat menin-gkatkan serta membuka lapan-gan kerja bagi kelompok terse-but. Dengan pembukaan lapan-gan kerja baru bagi mereka di daerahnya sendiri akan menu-runkan angka urbanisasi dan diharapkan dapat turut serta dalam pembangunan di dae-rahnya masing-masing. Sedangkan untuk penduduk dengan tingkat pendidikan diploma yang belum terserap di pasar kerja diharapkan dapat berpartisipasi dengan berwi-rausaha sehingga dapat turut serta membangun daerahnya. Peran pemerintah daerah dalam hal ini adalah dengan mendorong dan memberi insen-tif bagi mereka yang berinisi-atif untuk membuka peluang berwirausaha.

(32)

Distribusi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha pada publikasi ini dibagi menjadi 3 sektor lapangan usaha yaitu Pertanian (per-tanian, kehutanan, perbu-ruan, dan perikanan), indus-tri (pertambangan dan peng-galian, industri pengolahan, listrik, gas, dan air serta bangu-nan/konstruksi), dan jasa-jasa (perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel, ang-kutan, pergudangan, komuni-kasi, asuransi, usaha perse-waan bangunan, tanah, dan jasa perusahaan, serta jasa kemasyarakatan).

Kelompok Usaha

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

2013 2014 2015 2013 2014 2015 2013 2014 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Pertanian (A) 15,08 14,61 16,75 68,57 63,95 68,87 52,37 49,38 52,86

Industri (M) 15,02 14,70 14,84 8,05 8,35 7,95 10,16 10,23 10,07

Jasa-Jasa (S) 69,90 70,69 68,41 23,38 27,69 23,18 37,47 40,40 37,07

Tabel 3.6. Persentase Penduduk 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja Menurut Kelompok Lapangan Usaha, Provinsi Jambi 2013-2015

Sumber : Sakernas 2014-2015, diolah

Lapangan Usaha Berdasarkan Sakernas Agustus

2015, secara umum persen-tase penduduk yang bekerja pada sektor industri mengal-ami penurunan sebesar 0,16 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu dari 10,23 persen pada tahun 2014 menjadi 10,07 persen pada tahun 2015. Penurunan terjadi di daerah perdesaan yang mencapai 0,40 persen, dari 8,35 persen di tahun sebe-lumnya menjadi 7,95 persen di tahun 2015. Sebaliknya untuk di perkotaan mengalami pening-katan sebesar 0,14, dari 14,70 persen di tahun 2014 menjadi 14,84 persen pada tahun

2015. Kondisi yang hampir sama terjadi pada sektor jasa yang mengalami penurunan sebesar 3,33 persen, dari 40,40 persen di tahun 2014 menjadi 37,07 persen di tahun 2015. Penurunan di sektor jasa terjadi karena adanya penurunan pen-duduk yang bekerja di sektor jasa baik di daerah perkotaan maupun perdesaan yang mas-ing-masing turun sebesar 2,28 persen dan 4,52 persen.

Berbeda halnya yang terjadi pada sektor pertanian, pen-duduk yang bekerja di sektor ini secara umum naik dari 49,38 persen di tahun 2014 menjadi 52,86 persen di tahun 2015.

(33)

Status Pekerjaan Peningkatan terbesar terjadi di

daerah perdesaan yang menin-gkat dari 63,95 persen di tahun 2014 menjadi 68,87 persen di tahun 2015. Sedangkan di perkotaan meningkat dari 14,61 persen di tahun 2014 menjadi 16,75 persen di tahun 2015. Bila dilihat menurut daerah tempat tinggal, sektor perta-nian masih menjadi lapangan usaha yang mampu menyerap tenaga kerja lebih besar di daerah perdesaan, sedan-gkan sektor jasa-jasa lebih banyak menyerap tenaga kerja di daerah perkotaan. Hal ini terkait dengan luasnya areal pertanian yang tersedia di perdesaan, sementara lahan di perkotaan yang relatif lebih sempit sehingga penduduk bekerja lebih banyak di luar sektor pertanian. Pada tahun 2015 di daerah perdesaan sektor pertanian menyerap

68,87 persen, terjadi kenaikan dibandingkan tahun sebelum-nya. Sedangkan sektor indus-tri dan jasa di daerah perdesaan hanya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 7,95 persen dan 23,18 persen, di mana terjadi penurunan dari tahun sebelum-nya. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2015 di daerah perdesaan terjadi pergeseran komposisi tenaga kerja dari sektor industri dan jasa yang kembali berpindah ke sektor pertanian.

Sementara itu, sebanyak 68,41 persen penduduk yang bekerja di daerah perkotaan bekerja di sektor jasa-jasa yang mengal-ami penurunan sebesar 2,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini merupakan pergeseran kompo-sisi tenaga kerja yang berpin-dah dari sektor jasa ke sektor pertanian dan sektor industri.

Sektor jasa-jasa yang mampu menyerap tenaga kerja paling besar di daerah perkotaan menunjukkan bahwa sektor ini memang menjadi andalan bagi penduduk perkotaan sebagai sumber penghasilan.

Pada tahun 2015 jumlah pen-duduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan masih lebih besar dibandingkan status pekerjaan yang lain. Penduduk yang bekerja sebagai buruh/ karyawan adalah sebesar 37,40 persen atau mengalami pening-katan sebanyak 4,12 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan juga terjadi pada pekerja yang ber-status pekerja bebas yang meningkat sebesar 1,76 persen; dari 6,66 persen di tahun 2014 menjadi 8,41 persen di tahun 2015. Sedangkan jumlah pekerja keluarga menurun dari

(34)

Kelompok Usaha Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan 2013 2014 2015 2013 2014 2015 2013 2014 2015

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Berusaha sendiri 18,76 19,92 17,76 26,01 22,10 22,33 23,82 21,46 20,93

Berusaha dibantu pekerja tak dibayar 8,71 10,95 9,60 16,87 20,46 16,58 14,39 17,65 14,44 Berusaha dibantu pekerja dibayar 4,90 4,99 4,84 4,11 3,80 3,55 4,35 4,15 3,95

Buruh/Karyawan 52,24 44,72 50,38 30,56 28,49 31,65 37,13 33,29 37,40

Pekerja Bebas 7,49 8,23 8,11 6,36 6,00 8,55 6,70 6,66 8,41

Pekerja Keluarga 7,89 11,18 9,31 16,09 19,15 17,34 13,61 16,80 14,87

Tabel 3.7. Persentase Penduduk Berumur 15 tahun ke atas yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan, Provinsi Jambi 2013-2015

Sumber : Sakernas 2014-2015, diolah

16,80 persen di tahun 2014 menjadi 14,87 persen di tahun 2015. Penurunan juga terjadi pada penduduk yang berusaha baik berusaha sendiri maupun yang yang dibantu buruh. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan status pekerjaan dari pekerja keluarga menjadi menjadi buruh/karyawan atau pekerja bebas.

Meningkatnya jumlah pekerja yang berusaha sendiri terjadi di wilayah perdesaan, yakni ber-tambah sebesar 0,23 persen dibanding tahun sebelumnya, dari 22,10 persen di tahun 2014

menjadi 22,33 persen di tahun 2015. Peningkatan juga terjadi pada penduduk dengan status pekerjaan buruh/karyawan yang meningkat dari 28,49 persen di tahun 2014 menjadi 31,65 persen di tahun 2015. Peningkatan jumlah pekerja berstatus berusaha sendiri dan buruh/karyawan di daerah perdesaan tahun 2014 pada tahun sebelumnya berasal dari penduduk yang berstatus sebagai pekerja bebas dan berusaha dibantu buruh.

Sementara itu di perkotaan, pada tahun 2015 penduduk

bekerja sebagai buruh/kary-awan masih menjadi yang terbesar dengan persentase sebesar 50,38 persen, atau meningkat sebesar 5,66 persen dibandingkan tahun sebelum-nya dan menjadi satu-satusebelum-nya status tenga kerja yang men-galami peningkatan. Hal ini menggambarkan bahwa ada pergeseran status pekerjaan dari status berusaha, pekerja bebas dan pekerja keluarga di wilayah perkotaan yang sebagian besar beralih status pekerjaan menjadi buruh/kary-awan. Hal ini sebenarnya cukup

(35)

memprihatinkan karena diharapkan banyak bermunculan pengusaha baru artinya penduduk yang berusaha dibantu buruh, sehingga akan menciptakan lapangan kerja baru dan mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja.

(36)

PERTUMBUHAN EKONOMI 5 persen per tahun kecuali pada periode 1997-2000 akibat krisis ekonomi global. Bahkan selama periode setelahnya (pasca krisis) pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi hampir selalu

lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Perlambatan ekonomi baru mulai terlihat dalam 2 tahun terakhir, namun demikian laju pertumbuhan ekonomi masih bernilai positif.

PEREKONOMIAN

PROVINSI JAMBI

J a m b i s e b a g a i salah satu daerah otonom provinsi di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1957 berupaya menyesuai-kan pola pembangunan ekonomi seiring dengan pola kebijakan pembangu-nan nasional. Kinerja per-ekonomian Provinsi Jambi pun terus mengalami per-tumbuhan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata laju pertum-buhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi sejak tahun 1970 tergolong tinggi dalam kisaran di atas

(37)

Gambar 4.1. PDRB Provinsi Jambi 2010-2015 (juta rupiah)

Gambar 4.2. Laju Pertumbuhan PDRB Triwulanan Provinsi Jambi 2011-2016 (year on year)

Nominal PDRB Provinsi Jambi tahun 2015 atas dasar harga berlaku mencapai Rp.155,11 triliun. Jika dinilai atas dasar harga konstan (2010=100), b e s a r a n n y a m e n c a p a i Rp.125,04 triliun. Kinerja per-ekonomian mengalami pertum-buhan rata-rata di atas 6 persen pertahun sejak tahun 2010 dimana nominal PDRB pada tahun dasarsebesar Rp.90,62 triliun.

Sampai dengan triwulan kedua tahun 2016 pereko-nomian masih menunjukkan kinerja positif. Jika dibanding-kan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya, laju pertum-buhan year on year (yoy) men-capai 3,57 persen atau tumbuh sebesar 1,77 persen dibanding-kan triwulan pertama (q to q).

(38)

Sampai dengan triwulan kedua tahun 2016 pereko-nomian masih menunjukkan kinerja positif. Jika dibanding-kan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya, laju pertum-buhan year on year (yoy) men-capai 3,57 persen atau tumbuh sebesar 1,77 persen dibanding-kan triwulan pertama (q to q). PDRB triwulan-II tahun 2016 atas dasar harga berlaku men-capai Rp.42,20 triliun, menin-gkat dibanding triwulan sebel-umnya yang bernilai Rp.40,52 triliun. Nominal tersebut tera-kumulasi menjadi nilai PDRB semester pertama tahun 2016 yaitu sebesar Rp.82,71 triliun. Jika dinilai atas dasar harga konstan tahun 2010, nilai PDRB sampai dengan semes-ter pertama sudah mencapai Rp.64,13 triliun.

Gambar 4.3. Laju Pertumbuhan PDRB Triwulanan Provinsi Jambi 2011-2016 (quarterly to quarterly)

Gambar 4.4. PDRB Triwulanan Provinsi Jambi 2010-2016 (juta rupiah)

(39)

STRUKTUR PEREKONOMIAN

Struktur perekonomian Provinsi Jambi mengalami transformasi perubahan yang terlihat dari menurunnya peranan (share) sektor primer dan kecend-erungan (trend) meningkat-nya peranan sektor sekunder maupun sektor tersier.

Pertanian masih mempunyai peranan penting dalam per-ekonomian Provinsi Jambi baik dalam pembentukan PDRB maupun dalam hal penyer-apan tenaga kerja. Selama kurun waktu 45 tahun terakhir peranan sektor pertanian terus menurun dari kisaran 55 persen hingga akhirnya kurang dari 30 persen. Namun demikian, kon-tribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB Provinsi Jambi masih menempati porsi terbesar di antara semua sektor perekonomian.

Gambar 4.5. Transformasi Struktur Perekonomian Provinsi Jambi 1969-2015

(40)

Gambar 4.4. PDRB Triwulanan Provinsi Jambi 2010-2016 (juta rupiah) Kabupaten Tanjung Jabung

Barat memberi kontribusi terbe-sar dalam pembentukan PDRB Provinsi Jambi yang mencapai Rp.29,45 triliun(19,02 %). Andil terkecil disumbangkan oleh Kota Sungai Penuh dengan nilai sebesar Rp.4,98 triliun(3,22 %).

PENDAPATAN PER KAPITA

PDRB perkapita sebagai proxy dari pendapatan perkapita memberikan gambaran distri-busi pendapatan masyarakat, walaupun batasan region dari nominal PDRB belum mem-perhitungkan kepemilikan fak-tor-faktor produksi yang mem-bentuk nilai tambah bruto. Ketergantungan yang relatif besar terhadap sumberdaya alam tak terbarukan (un-renew-able natural resources) teru-tama minyak dan gas bumi ter-lihat dari perbedaan signifikan antara besaran nilai perkap-ita dengan atau tanpa mem-perhitungkan minyak dan gas.

(41)

Ketergantungan terhadap minyak dan gas semakin ter-lihat ketika dirinci menurut wilayah region yang lebih kecil. Tanjung Jabung Barat memi-liki PDRB perkapita tertinggi dengan nilai Rp.94,73 juta, sementara nilai yang terendah adalah Kabupaten Merangin sebesar Rp.28,75 juta perkap-ita pertahun.

Nilai PDRB perkapita tanpa minyak dan gas yang tertinggi dimiliki oleh Kota Sungai Penuh dengan nilai Rp.57,21 juta, sementara Tanjung Jabung Barat memiliki nilai sebesar Rp.49,83 juta pertahun.

Gambar 4.9.PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota Se-Provinsi Jambi 2015

Gambar 4.10. PDRB Per Kapita (Tanpa Migas) Kabupaten/Kota Se-Provinsi Jambi 2015

Pendapatan perkapita Provinsi Jambi tahun 2015 tercatat senilai Rp.45,59 juta, namun jika tanpa memperhitungkan minyak dan gas maka nilainya adalah sebesar Rp.37,25 juta perkapita pertahun.

(42)

PERTANIAN TANAMAN PANGAN

Sedangkan untuk subsek-tor tanaman bahan makanan sendiri kontribusinya terhadap PDRB Provinsi Jambi tahun 2015 sebesar 5,99persen. Hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) memperlihatkan

bahwa usaha di sektor perta-nian melibatkan 431.589rumah tangga di Provinsi Jambi. Itu artinya jika diasumsikan setiap rumah tangga beranggotakan empat orang, lebih dari 1,7 jutapenduduk Provinsi Jambi

PEMBANGUNAN

BERKELANJUTAN

PROVINSI JAMBI

Sektor perta-nian memiliki peran yang sangat penting dalam pem-bangunan nasional, teru-tama terkait upaya pemer-intah dalam memacu per-tumbuhan ekonomi nasi-onal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sektor pertanian masih menjadi salah satu “leading sector” dalam perekono-mian nasional. Demikian jugadi Provinsi Jambi sektor pertanian sangat berpengaruh dalam pem-bentukan PDRB, dimana kontribusinya dalam pem-bentukan PDRB Provinsi Jambi tahun 2015 sebesar 28,25 persen dari total PDRB Provinsi Jambi.

(43)

yang secara struktural men-gandalkan ekonomi usaha tani sebagai sumber penghasilan mereka.

Seiring waktu, sebagaimana merupakan keniscayaan dalam pembangunan ekonomi suatu negara agraris seperti Indonesia, transformasi struktur ekonomi nasional tentu lambat laun bakal menggerus peran penting sektor pertanian, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun kontribusinya terhadap PDB.Namun patut dicatat, ada satu peran sektor pertanian yang tak bisadigan-tikan oleh sektor lain (hingga kapan pun, semaju apa pun perekonomian) yakni sebagai penyedia bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan pen-duduk negeri ini. Pangan adalah persoalan hidup-mati suatu bangsa. Karena itu, rezim pemerintahan boleh berganti,

tapi soal pangan selamanya akan menjadi agenda prioritas dalam pembangunan nasional. Seperti diketahui, pemerintah saat ini dengan visi Nawacita-nya, telah menjadikan swasem-bada pangan sebagai salah satu agenda utama pembangunan nasional dalam lima tahun men-datang. Bahkanswasembada pangan berkelanjutan untuk padi, jagung, dan kedelai harus dicapai dalam 3 tahun mendatang.

Pada tahun 2015, sejumlah program pemerintah dilak-sanakan, seperti pengemban-gan jarinpengemban-gan irigasi tersier; optimalisasi lahan; GP-PTT (gerakan penerapan pen-gelolaan tanaman terpadu) untuk tanaman padi, jagung dan kedelai; optimalisasi PAT (perluasan area tanam) untuk tanaman kedelai dan jagung; penyediaan bantuan benih dan

pupuk; dan penyediaan bantuan alat mesin pertanian (traktor dan harvester). Program-program penting di subsek-tor lain pun telah pula dilaku-kanagar ketahanan pangan semakin kuat secara nasional maupun daerah, tidak terkecu-ali di Provinsi Jambi.

Bahan pangan, dalam hal ini beras merupakan salah satu sumber pangan utama bagi masyarakat. Untuk itu, penan-ganannya memerlukan peren-canaan yang terpadu dan ter-koordinasi oleh seluruh sektor yang terkait. Pengelolaan yang terpadu dan terkoordinasi sangat penting untuk menja-min ketersediaan pangan yang mudah didapat serta terjangkau oleh daya beli seluruh lapisan masyarakat. Hal ini merupakan perwujudan kewaspadaan dan ketahanan pangan.

(44)

Gambar5.1 Perkembangan Produksi, Luas Panen dan Luas Tanam Padi, 2010-2015

Padi/beras merupakan komod-itas pangan yang amat strate-gis baik bagi Indonesia. Peran penting beras melebihi bahan pokok lainnya, seperti gandum, jagung, singkong dan kentang, karena sekitar 95 persen pen-duduk Indonesia masih men-gandalkan beras sebagai komo-ditas pangan utama. Kebutuhan beras di Indonesia terus men-galami peningkatan seiring ber-tambahnya jumlah penduduk dan peningkatan konsumsib-eras perkapita per tahun.Dalam kondisi demikian ketersedi-aan beras menjadi suatu hal yang penting, sehingga tidak ada kelangkaan beras. Pada tingkat yang diinginkan akan tercapai harga beras yang layak dan mampu dijangkau oleh masyarakat dan mengun-tungkan para petani sebagai produsen.

P A D I Kondisi luas tanam, luas panen,

luas rusak/puso, produktivi-tas dan produksi tanaman pangan masih dipengaruhi oleh kondisi alam. Pengaruh kondisi alam pada tahun 2015 terjadi

kemarau panjang sebagaimana tahun 2012, ditambah adanya kebakaran hutan yang menye-babkan kabut asap. Sehingga pada tahun 2015 lahan per-tanian banyak yang mengal-ami kekeringan, mengakibat-kan terjadi penundaan tanam bahkan banyak laporan yang menyatakan terjadi lahan yang rusak/puso.

Dari total luas panen padi, luas panen padi sawah merupakan luas padi terluas yaitu sebesar 102.207 hektar (83,63 persen) dan luas panen padi ladang sebesar 20.007 hektar (16,37

persen). Pada tahun 2015 luas panen padi sawah turun 19,09 persen dan luas panen padi ladang turun 17,56 persen. Kabupaten/kota yang mempun-yai produksi padi terbesar pada tahun 2015 adalah Kabupaten Kerinci, yaitu sebesar 138.631 ton GKG. Urutan kedua adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 75.109 ton

(45)

Gambar 5.2. Produksi Padi Sawah dan Padi LadangMenurut Kabupaten/Kota Tahun 2015 (Ton)

GKG, disusul Kabupaten Merangin sebesar 55.527 ton GKG. Oleh karena itu, ke tiga kabupaten ini pada tahun 2015 menjadi sentra produksi beras di Provinsi Jambi.Sedangkan kabupaten/kota yang mempu-nyai produksi padi terendah adalah Kota Jambi sebesar

1.873 ton GKG. Sebagaimana terlihat pada gambar 5.2.

Pada tahun 2015 produksi padi terbesar terjadi pada periode Januari – April yaitu sebesar 233.159 ton GKG. Jika dilihat dari jenis padi, maka produksi padi sawah ter-besar terjadi di periode Januari

- April, yaitu sebesar 188.405 ton GKG.Sedangkan produksi padi ladang terbesar terjadi di periode Januari – April, yaitu sebesar 44.753 ton GKG. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, produksi padi Provinsi Jambi tahun 2014 cenderung sama dibandingkan tahun 2013,

(46)

meningkat sebesar 0,03 persen atau sebesar 187 ton GKG, namun kemudian pada tahun 2015 terjadi kemarau panjang mengakibatkan produksi pad-imenurun sebanyak 123.235 ton GKG (-18,54 persen). Penurunan produksi terjadi karena adanya penurunan luas panen sebesar 23.776 hektar (-16,29 persen) dan

produktivitas menurun sebesar 1,23 kuintal/hektar (2,69 persen). Penurunan produksi padi tahun 2015 sebanyak 123.235 ton GKG (-18,54 persen) terjadi pada subround Januari-April, dan subround September-Desember mas-ing-masing sebesar 64.262 ton (-21,61 persen) dan 97.959 ton (-46,06persen), sementara

untuk subround Mei-Agustus mengalami kenaikan sebesar 38.987 ton (25,21 persen) dibandingkan dengan produksi pada subround yang sama tahun 2014 (year-on-year). Pola panen padi pada sub-round Januari –April tahun 2016 relatif sama dengan pola panen tahun 2014, puncak panen sub-round Januari-April terjadi pada

Uraian 2013 2014 2015

Perkembangan

2013−2014 2014−2015

Absolut % Absolut %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1. Luas Panen (ha)

- Januari−April 57.971 68.424 57.022 10.453 18,03 -11.402 -16,66 - Mei−Agustus 49.031 33.236 42.237 -15.795 -32,21 9.001 27,08 - September−Desember 46.241 44.330 22.955 -1.911 -4,13 -21.375 -48,22 - Januari−Desember 153.243 145.990 122.214 -7.253 -4,73 -23.776 -16,29 2. Produktivitas (ku/ha) - Januari−April 40,36 43,47 40,89 3,10 7,69 -2,58 -5,93 - Mei−Agustus 45,48 46,52 45,84 1,05 2,30 -0,68 -1,47 - September−Desember 44,89 47,98 49,98 3,09 6,88 2,00 4,17 - Januari−Desember 43,36 45,53 44,31 2,17 5,00 -1,23 -2,69 3. Produksi (ton) - Januari−April 233.997 297.421 233.159 63.423 27,10 -64.262 -21,61 - Mei−Agustus 222.969 154.620 193.606 -68.350 -30,65 38.987 25,21 - September−Desember 207.567 212.681 114.721 5.114 2,46 -97.959 -46,06 - Januari−Desember 664.533 664.721 541.486 187 0,03 -123.235 -18,54

Tabel 5.1. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi PadiMenurut Subround, 2013-2015

(47)

bulan April. Dimungkinkan pen-garuh kemarau menyebabkan adanya penundaan tanam pada subround sebelumnya, yang berimbas pada bergesernya waktu panen. Sedangkan pola panen padi pada subround Januari –April tahun 2015 relatif sama dengan pola panen tahun 2013, puncak panen subround Januari-April terjadi pada bulan Maret, sebagaimana terjadi pada waktu normal.

Pola panen padi antar sub-round pada tahun 2015, lihat bahwa luas panen ter-besar terjadi pada subround I (Januari-April), disusul sub-round II (Mei-Agustus) dan luas panen terkecil subround III (September-Desember). Standing Crop (luas tanaman akhir bulan) pada akhir april 2015 lebih besar dibandingkan 2014 pada periode yang sama, sehingga luas panen subround

II 2015 menjadi lebih besar dibandingkan subround II tahun 2014, sedangkan Standing Crop (luas tanaman akhir bulan) pada akhir Agustus 2015 lebih kecil dibandingkan 2014 pada periode yang sama. Penurunan luas panen subround III 2015, salah satunya disebabkan penurunan luas tanam akibat pengaruh cuaca kemarau 2015. Melihat perkembangan pola panen 2016, terjadi peningkatan

Gambar

Tabel 2.1. Jumlah Kecamatan dan Desa serta Kelurahan  Menurut Kabupaten/KotaTahun 2015
Tabel 2.2. Angka Rata-rata Indeks Pembangunan Desa (IPD) Menurut Kabupaten/Kota serta Persentase  Desa Menurut Klasifikasi Capaian IPD Tahun 2014
Gambar 2.1. Banyaknya PNS di Lingkungan Pemerintah Provinsi  Jambi Menurut Jenis Kelamin dan Penempatan Tahun 2015
Tabel 2.3. Jumlah Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota Menurut  Jenis Kelamin Tahun 2015
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian tentang “Pengembangan Karakter Religius Siswa Melalui Kegiatan Ektrakulikuler Muhadhoroh di Pondok Modern MTs Darul Hikmah Tawangsari Tulungagung”

• Potongan program tersebut meminta masukan dari user untuk memasukkan bilangan, kemudian program menyimpan masukan bilangan tersebut ke variabel Array valueArray..

lembaran lepas yang diselenggarakan dengan cara disebarkan, diberikan, atau dapat diminta dengan ketentuan tidak untuk ditempel, dilekatkan, dipasang, digantung

Pada sektor rumah tangga mengalami peningkatan pertumbuhan energi listrik dengan persentase pertumbuhan rata-rata mencapai 1,736 % pertahunnya hingga 10 tahun

Dengan pendekatan ini, komitmen dapat dilihat dari tiga komponen yaitu identifikasi (sikap yang menunjukkan seseorang tahu dan menerima nilai-nilai), keterlibatan (perilaku

Pada Rencana Kegiatan Harian (RKH) dari pertemuan pertama, kedua dan ketiga dengan tema binatang mengalami kemajuan yang pesat. Dengan demikian maka dapat ditarik

[r]

Hasil penelitian Penguatan Pendidikan Karakter terdapat empat poin, yaitu: (1) Kurikulum yang digunakan MIN 2 Tangerang Selatan adalah Kurikulum 2013 dan Kurikulum khusus MIN